disclaimer : Boboiboy Galaxy (c) Monsta Studio
remake from my renjun's fanfiction on wp
"OUR LITTLE YAYA"
genre : family, friendship, science fiction and little bit romance
warn: OOC! Elementals!Siblings, Litte!Yaya
Taufan berjongkok di bawah sofa sambil memerhatikan gadis kecil berkerudung yang berdiri dengan wajah polos itu. Satu tangan kecil miliknya sibuk memainkan rambut kain muda yang tampak seperti gula kapas. Mungkin, kalau bisa dimakan, sudah habis saking enaknya.
Itu hanya bayangan Taufan ketika melihat betapa menggemaskannya Yaya kecil.
Gempa memijit pelipisnya, pusing. "Kenapa bisa ada kejadian yang begini?"
"Jangan bertanya pada Atok. Tanyakan saja ada bocah yang duduk lesu di sebelah Halilintar itu. Karena hasil percobaannya telah mengubah Yaya jadi anak kecil," ujar Tok Aba sambil berusaha untuk sambil memangku Yaya yang kini berusaha menghindar dari cubitan Taufan.
"Jangan sentuh," larangnya.
Tapi, namanya juga Taufan, dia tidak akan berhenti. Justru semakin menjadi ketika menggoda Yaya. Ia melakukan itu bersama Blaze dan Thorn yang juga ikut gemas.
"Ih!! Jangan sentuh pipi Aya!"
"Astaga, kau semakin menggemaskan saja, Yaya."
"Pipinya begitu kenyal seperti mochi."
"Bisakah aku menggigit pipi itu sekali saja? Aku mohon!"
"Jangan!"
Yaya segera berlari ke arah Gempa dengan kaki kecilnya. Kemudian dia berusaha menaiki sofa dan berhambur ke pangkuan Gempa. Menenggelamkan wajahnya di dada lelaki itu.
Jiwa seorang ayah tiba-tiba muncul pada diri Gempa. Dia mengelus kepala Yaya kecil dengan lembut agar kembali tenang.
"Sssst, jangan menangis lagi ya? Aya, kan hebat," katanya lembut.
"Hiks ... kenapa kau berbicara seperti itu pada Aya? Hiks... Aya seumuran dengan kalian.."
Yaya mengatakannya sambil terisak.
Memang benar kalau mereka seumuran. Tetapi, tidak mungkin juga mereka memperlakukan Yaya seperti biasanya.
"Aya, kan sedang menangis. Masa aku harus bicara dengan tegas? Tidak etis sama sekali jadinya," ujar Gempa menatap manik cokelat madu yang tampak berkilau itu.
"Oh iya ya."
Yaya menganggukan kepalanya beberapa kali. Pipi dan dagunya bergerak imut. Terlihat seperti agar-agar karena bergoyang.
Taufan duduk di sebelah Gempa. Pandangannya ditunjukan pada Yaya dengan sorot sebal.
"Kenapa kau tenang sekali ketika dipangku Gempa, padahal menolak aku gendong?" protesnya merasa tak adil.
Yaya meliriknya dengan pipi gembil yang memerah, "Kau menyebalkan," katanya polos.
"Aku—what?" Taufan terkejut. "Aku menyebalkan? Dari mananya?"
Tuk!
"Bercerminlah, Boboiboy Taufan. Apa yang dikatakan oleh Yaya itu memang benar," cetus Halilintar dingin setelah melempari kepala Taufan dengan kulit kacang.
"Aku tidak begitu ya." Taufan mengerucutkan bibirnya kesal.
Blaze memerhatikan buntalan menggemaskan dalam pangkuan Gempa itu. Sekarang diamenonton televisi di temani Thorn yang duduk pada sandaran kursi.
"Omong-omong, apa kita akan memberi tahu soal ini pada orang tua Yaya?" tanya Halilintar.
Tok Aba menghela napas berat. "Tidak bisa. Saat ini kedua orang tua Yaya sedang berada di kampung halaman ibu Yaya yang sedang sakit. Kita tidak bisa membuat mereka cemas karena perubahan ini," ujar beliau sambil melirik gadis kecil dipangkuan Gempa.
Seketika hatinya menghangat. Entah kenapa bayangan kalau salah satu dari cucunya menikah dengan Yaya, mungkin rupa anak itu akan sangat mirip dengan Yaya dalam versi ini.
Tok Aba segera mengenyahkan pikiran sembarangan barusan.
Kening Ice berkerut. "Lalu kita harus bagaimana?"
"Atok meminta pada kalian semua untuk mengasuh Yaya selama Solar membuatkan obat penawar," cetus Tok Aba mutlak.
"Atok, yang benar saja! Kami mana punya pengalaman mengurus anak?" seru Blaze mewakili saudaranya yang lain.
"Atok tidak mau tahu. Pokoknya ini tanggung jawab kalian semua, terutama Halilintar sebagai yang tertua dan Solar dalang utama karena kecerobahannya."
Para Boboiboy bersaudara tidak mampu mendebat sang kakek lagi. Kalau Tok Aba sudah bilang demikian, maka mereka hanya bisa menuruti. Terlebih untuk Halilintar dan Solar.
Puk!
"Haiz, apalagi ini?"
"Kalian berdua jadi keliatan lucu," kekeh Yaya saat melihat Halilintar dan Solar tampak begitu frustrasi.
"Astaga bocah."
••••
Tak memerlukan waktu lama, para Boboiboy bersaudara tiba di kamar bernuansa kelabu dengan dekorasi antariksa sebagai hiasan langit-langitnya. Meskipun melalui perdebatan alot tentang di mana Yaya akan tidur, pada akhirnya kamar Halilintar menjadi opsi terakhir. Taufan dan Blaze sempat protes, tetapi tidak diperdulikan oleh Halilintar. Lelaki bermanik delima itu sudah membawa Yaya ke kamarnya.
Dan sekarang, dia kembali dibuat bingung. Ada perasaan ragu untuk masuk ke dalam hatinya mengingat kalau gadis kecil yang duduk di atas kasurnya itu sudah dewasa aslinya. Halilintar tidak pernah membiarkan siapapun masuk ke dalam kamarnya (abaikan tentang trio pembuat masalah) apalagi gadis.
Ini pertama kali dalam hidupnya membiarkan Yaya masuk bahkan akan tidur di kamarnya.
Sebuah pencapaian luar biasa. Berikan tepuk tangan untuk Halilintar.
"Hali, kenapa Aya di sini?" tanya Yaya polos.
"Tidur di sini."
"Hm?" Yaya memiringkan kepalanya tidak paham dengan ucapan Halilintar.
Seakan tahu akan hal itu, Halilintar segera merubah kalimatnya agar muda dipahami oleh gadis kecil itu. Karena bagaimana pun juga pikiran gadis kecil itu ikut berubah.
"Aya tidur di sini denganku," ucapnya pelan.
Yaya mengangguk antusias. "HOREE!"
Sedangkan Halilintar, lelaki itu menatap Yaya dengan perasaan gemas hingga tanpa sadar mengulurkan tangan untuk mencubit pipi tumpah Yaya.
"Kenapa Hali cubit Aya?"
"Tidak ada." Halilintar ikut naik ke atas tempat tidur dan menarik Yaya agar berbaring. "Sekarang tidur."
"Uhm!"
Dan keduanya mulai jatuh ke dalam dunia mimpi. Halilintar tampak menaruh satu tangannya sebagai bantalan untuk Yaya dan satunya lagi menepuk di atas tubuh kecil itu. Seperti tengah memeluk.
••••
"Kak Hali benar-benar memanfaatkan kesempatan."
"Ingin rasanya aku menjambak rambut Kak Hali, tapi masih sayang nyawa."
"Hoam... besok kita eksekusi saja kak Hali. Dia sudah mencuri start."
"Aku setuju denganmu, Ice."
"Kalian, bisakah hentikan rapat sabotase untuk kak Hali? Aku yakin kita semua akan mendapatkan bagian juga," lerai Gempa tersenyum canggung. Namun kalau dilihat lebih jelas lagi, tangan kanannya terkepal di belakang punggung sampai terlihat urat menonjol karena menahan emosi.
Sedangkan Solar, lelaki itu terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara membuat cairan penawar supaya Yaya kembali normal. Tentu saja dengan di bawah pengawasan Tok Aba.
Nasib... Nasib...
••••
to be continued
part ini agak pendek ya? dan tentu saja berbeda
see you in next part!
with luv, Aprilia Hidayatul
