disclaimer : Boboiboy Galaxy (c) Monsta Studio

remake from my renjun's fanfiction on wp

"OUR LITTLE YAYA"

genre : family, friendship, comedy, science fiction and little bit romance

warn : OOC! TYPO AND OTHERS!


Keesokan harinya, para Boboiboy bersaudara pergi ke kedai Tok Aba untuk ikut membantu di sana. Mumpung masih dalam masa libur sekolah, ketujuh remaja itu mengisi waktu luang dengan menjadi pelayan. Meskipun sekarang kegiatan mereka bertambah. Yaitu harus menjadi pengasuh bagi Yaya kecil.

"Gegem! Gegem!"

"Ada apa?" Gempa menunduk, melihat dengan tatapan lembut pada anak kecil dalam gendongan. "Yaya ingin sesuatu?"

"Mau tidur."

"Ya udah, Yaya tidur saja."

Yaya mengangguk. Gadis itu mengenakan pakaian serba merah muda lembut. Begitu kontras dengan ekspresi ceria di wajah manisnya. Gempa hampir saja tidak tahan untuk mengecup pipi gempal itu. Beruntunglah ada Halilintar di sebelahnya yang dengan sigap memukul belakang kepalanya.

Plak!

"Aduh!" Gempa meringis. "Kok aku dipukul sih, Kak?" tanyanya sebal.

Halilintar melirik datar. "Kondisikan pikiranmu agar nggak melakukan tindakan asusila pada anak di bawah umur. Mana dia adalah orang yang kita kenal," ujarnya.

Setelah bilang begitu, Halilintar berjalan lebih dulu dengan aura suram menguar di sekitarnya. Meninggalkan Gempa yang menatap cengo. Sedangkan Yaya, gadis kecil itu memasang wajah polosnya. Dia bersikap seolah tidak tahu apapun.

"Maksud kak Hali apaan deh? Siapa juga yang mau melakukan tindakan asusila." Gempa menekuk alisnya sebal. Ia kembali menaruh atensinya pada gadis kecil dalam pangkuannya. Tampaknya Yaya sama sekali tidak mendengarkan pembicaraan singkat barusan. Syukurlah.

"Gem, aku pesan satu ice chocolate."

"ASTAGA!" Gempa terperanjat kaget. Dengan cepat dia menoleh ke belakang. "KAK KAIZO!!"

"Kenapa?"

"Ada apaan, Gem? Kamu kok berteriak terus?" Taufan datang menghampiri bersama lima saudara lainnya di belakang. Keningnya sedikit mengerut saat melihat sosok lelaki tinggi di sebelah Gempa. "Loh? Ada Kak Kaizo toh."

Kaizo mengangguk singkat, lalu melirik kembali pada buntalan yang entah sejak kapan ada dalam pangkuan Gempa. Baru saja tangannya terulur untuk menyentuh buntalan tersebut, Gempa dan yang lainnya berseru keras. Hal itu tentu saja menimbulkan tanya dalam benak Kaizo.

"JANGAN SENTUH!" seru mereka bertujuh.

"Kenapa? Memangnya itu apaan dibalik buntalan besar itu?" tanya Kaizo penasaran sambil menunjuk buntalan tersebut.

"O-oh ini, anu ... Itu selimut dan bantal kesayangannya Ice, Kak," jawab Taufan gugup.

Kegugupannya meningkat ketika tatapan Kaizo menyiratkan kecurigaan. Akan tetapi, ternyata dewi fortuna masih berpihak pada mereka ketika Kaizo mengangguk paham.

"Oh, ya sudah," ujarnya. "Ice chocolate-ku mana, Gem?" Kaizo menoleh kembali pada Gempa dan menagih pesanannya.

"Eh? Bentar, Kak!" Lelaki bermata aurum itupun menyerahkan buntalan dalam pangkuannya pada Ice kemudian berlari menuju kedai.

Tak berapa lama pesanan Kaizo jadi. Gempa memberikan minuman tersebut yang diterima dengan senang hati oleh Kaizo. Setelah itu, lelaki yang merupakan guru muda di sekolah para Boboiboy bersaudara pamitan.

"Huh ... beruntunglah Kak Kaizo nggak terlalu banyak bertanya," kata Balze lega.

Gempa mengangguk setuju. "Jujur saja, tadi benar-benar awkward. Jantungku berdebar sekali," cetusnya sambil menyentuh dadanya.

"Sudahlah, sekarang kita harus bagaimana?" tanya Ice saat semuanya kembali normal.

Yaya kecil mengucek matanya beberapa kali, lalu memerhatikan tempat di mana dia berada.

"Hoam, ini ada di mana?" tanyanya polos setrlah menguap.

Ice tersentak, lalu menunduk. "Hah? Kamu mengatakan sesuatu?"

Yaya mendongak dengan bibir mengerucut. Kesal karena pertanyaannya tak di dengarkan.

"Ini ada dimana?!"

Sontak saja pekikan tersebut membuat ketujuh bersaudara membulatkan mata dengan kaget. Mereka serentak menyuruh Yaya untuk tidak berteriak karena akan menarik perhatian yang lain. Terlebih suaranya yang berubah menjadi anak kecil.

"Ssshh ... Yaya, jangan berisik ya? Nanti kita mendapat masalah," pinta Blaze dengan nada lembutnya.

Renjun mengerjapkan matanya kemudian memiringkan kepala ke kanan. "Memangnya akan dapat masalah apa? Karena aku mengecil" tanyanya polos.

"Eung ... "

Seketika Blaze tidak tahu harus menjawab apa. Pertanyaan Yaya membuatnya kehilangan kata. Dia hanya meringis seraya menggaruk kepalanya.

Ice merotasikan matanya malas, lalu menunduk. "Yaya," panggilnya.

"Kenapa, Ais?" Mata Yaya tampak berkilau dengan sorot polos.

"Jangan berisik ya? Agar kita tidak ketahuan oleh yang lain."

"Memangnya kenapa jangan berisik?" Yaya semakin tidak paham.

Mungkin karena efek tubuhnya yang menyusut, daya ingatnya ikut menurun. Makanya, dia jadi bingung seperti ini.

"Supaya yang lainnya tidak tahu kalau kau berubah menjadi anak kecil," katanya.

"Siapa yang menjadi anak kecil?"

Degh!

Kesekian kalinya, ketujuh bersaudara itu mematung dengan mata melotot kaget karena suara yang mengintrupsi tersebut. Namun, berbeda dengan yang pertama, suara orang tersebut jelas seorang perempuan. Dan mereka sangat mengenalnya.

Dengan gerakan yang pelan, mereka bertujuh berbalik ke belakang. Betapa terkejutnya mereka ketika menemukan tiga sosok yang kini berdiri dengan kedua tangan bersidekap di depan dada. Sebelah alisnya naik dengan pandangan heran. Sedangkan dua lainnya memasang ekspresi bingung.

"Ying, Fang dan Gopal," ucap Gempa dengan senyum meringis.

"Kalian sedang apa? Dan apa maksudnya yang menjadi anak kecil tadi?" tanya Ying sekaligus mengomel.

"Eh? Bukan apa-apa," ucap mereka bersamaan.

Ying menatap tujuh bersaudara itu dengan intens. Matanya menyipit ketika merasa ada sesuatu yang janggal. Kemudian dia sadar kalau ada satu orang lainnya tidak hadir. Biasanya orang itu akan standby lebih dulu dikarenakan jarak rumahnya dengan Boboiboy bersaudara sangat dekat. Namun tampaknya orang itu belum kelihatan.

Fang yang sedari tadi diam berkedip beberapa kali dengan ekspresi bingungnya. Ia sama dengan Ying, merasakan adanya ketidakberesan.

Sepertinya ada yang tidak beres, pikirnya.

Thorn yang merasa risih karena terus di perhatikan menegur temannya itu. "Kamu ngapain, Fang?"

"Sebentar, ini aku yang salah atau memang ada yang kurang satu? Oh iya, di mana Yaya? Biasanya dia sudah duluan berkumpul dengan kalian," katanya setelah menyadari kalau Yaya tidak ada.

Para Boboiboy bersaudara saling berpandangan. Mereka saling melempar isyarat agar memberi penjelasan kepada Fang tentang yang sebenarnya.

Dan semua itu tak luput dari pandangan tajam Ying.

"Kenapa nggak kalian dijawab?"

"Anu ... itu ... bagaimana ya ..." Gempa tampaknya kebingungan mencari pemilihan kata yang akan membuat ketiga temannya mengerti.

Akan tetapi, belum sempat Gempa menlanjutkan kalimatnya ketika sebuah kepala mungil melongokan diri dari dalam buntalan kain yang oleh Ice.

"Ying," panggilnya dengan suara khas anak kecil.

Ketiga teman mereka tersentak. Ying menurunkan pandangannya pada buntalan yang di bawa Ice dengan kepala anak kecil berkerudung merah muda yang tengah menatap polos ke arahnya. "Anak siapa yang kalian bawa?"

"Eung ... dia Yaya, Ying," jawab Solar pelan diimbuhi dengan senyum bodoh. Tak mengacuhkan raut bingung member yang disegani tersebut.

Pikiran sang ketiga orang itu sedang mencerna apa yang dikatakan oleh Solar.

Satu detik ...

Dua detik ...

Tiga detik ...

Empat de--

Ying dan Fang membolakan matanya ketika berhasil memahami apa yang dikatakan oleh Solar.

"APA?!"

Bruk!

Gopal lebih dulu tumbang. Sejak awal dia sudah dibuat bungkam karena keadaan yang tidak dimengerti olehnya sama sekali. Dan perkataan Solar semakin membuatnya hilang kesadaran.

"Yah ... Gopal pingsan," gumam Boboiboy bersaudara ketika melihat Gopal yang ambruk.

•••••

"Gopal ..."

"Gopal ..."

"Gopal ... ayo cepat bangun atau aku meminta Blaze menduduki mukamu ..."

Perlahan Gopal membuka matanya, lalu mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang diterima. Tak lama, dia melihat bayangan anak kecil yang duduk di sebelahnya. Lama-kelamaan, bayangan tersebut semakin jelas dan memperlihatkan sosok anak kecil berkepala merah muda sedang menatap polos padanya.

"Gopal sudah bangun," ujar Yaya senang.

Gopal perlahan mendudukan dirinya dengan tangan kanan yang memegangi kepalanya yang pusing.

"Uh ... aku ada di mana?" tanyanya sambil sesekali meringis.

"Di ruang tamu rumah Tok Aba," jawab Gempa sambil menegak teh hangatnya, lalu menaruhnya kembali. Tangannya terulur ke arah Yaya yang duduk di sebelah Gopal. "Aya, sini, aku yang menggendongmu."

Yaya menengok dan menerima uluran tersebut. Kini dia berpindah duduk menjadi dipangkuan Gempa. Membuat yang lainnya menatap iri.

Mereka juga ingin menggendongnya.

Gopal menoleh ke arah Gempa yang tampak biasa saja ketika menggendong anak kecil yang disebut Yaya itu. Jujur saja, Gopal masih dibuat kebingungan dengan perkataan Boboiboy bersaudara sebelum dia pingsan.

"Fang," panggilnya pada lelaki berambut raven yang ada di sisi kirinya.

"Apa?"

"Apa kamu nggak terkejut dengan perubahan Yaya?"

Fang menoleh pada Gopal yang menatap tanya padanya. Dia mendengkus pelan.

"Kamu tanya apa aku terkejut atau nggak? Jawabannya iya, aku terkejut. Bukan aku saja, tapi kami semua. Fakta bahwa Yaya berubah menjadi anak kecil saja merupakan hal yang mustahil terjadi."

Fang menjeda kalimatnya untuk menarik napas sejenak.

"Namun, mereka menjelaskan penyebab kenapa bisa terjadi hal tersebut, akhirnya kami paham. Solar sedang berusaha mengembangkan penawarnya. Dan untuk saat ini mau tidak mau mereka akan merawat Yaya sampai penawarnya jadi," tuturnya. "Selain itu, aku agak kasihan dengan Solar dan saudaranya karena kena omel Ying."

Fang menunjuk Ying yang sedang mengomeli Solar. Gadis itu bahkan tak segan memukul kepala bungsu Boboiboy bersaudara. Pun dengan yang lainnya, bahkan Gempa yang memangku Yaya. Pokoknya tak ada satupun yang terlewat dari pukulan maut gadis Tiongkok itu. Fang meringis sesekali. Dia sudah sering menjadi samsak hidup Ying kalau gadis itu marah. Sehingga cukup merasa iba pada Boboiboy bersaudara.

Gopal menautkan alisnya. "Memang penyebabnya apa?"

"Dia tidak sengaja mengonsumsi cairan hasil percobaan Solar yang mengubahnya menjadi anak kecil," jawab Fang santai.

"Astaga.." Gopal mengurut pelipisnya. "Kecerobohan Solar lebih para dariku."

"Syukurlah kalau kamu sadar sering berbuat ceroboh," sahut Halilintar yang tiba-tiba saja sudah ada di sofa single. Tangannya mengelus bagian kepala yang menjadi sasaran pukulan Ying. "Ck, tenaga anak itu sama buasnya dengan Yaya."

"Hati-hati dengan ucapanmu. Kena pukul lagi tahu rasa," celetuk Fang.

Halilintar tak menanggapi. Dia memilih mengambil Yaya dalam pangkuan Gempa dan memeluknya dengan lembut, berusaha agar tak menyakiti gadis kecil itu. Tidak perduli dengan tatapan protes dari adiknya itu.

"Kak!" Gempa protes

"Diamlah."

Ying berjalan menghampiri dan duduk di sebelah Fang. Hadis itu menatap sahabat baiknya yang kini telah menjadi seorang anak kecil. Meskipun tampak sangat menggemaskan, tetapi dia masih sedikit sedikit syok karena perubahan ini.

"Solar harus bertanggung jawab," ujarnya tegas.

"Oi! Oi! Ucapanmu seakan aku sudah berbuat hal yang tidak baik dengan Yaya!" Solar berseru cepat. Ia merasakan tatapan tak bersahabat dari keenam saudaranya.

Ayolah, dia masih ingin hidup dengan tenang.

Ying merotasikan matanya malas. "Maksudku buat penawarnya dengan baik. Kalau tidak aku akan memutilasimu nanti."

Solar begidik. Ying terlalu sadis kalau memberi ancaman.

"Ying!"

Ying menoleh pada Yaya yang barusan memanggilnya. Anak kecil itu tengah memasang cengirannya dan memperlihatkan jajaran gigi mungil dengan mata menyipit.

"Kenapa, sayang?"

"Ying cocok disamping Fang."

Bruk!

"FANG!"

Setelah Gopal pingsan karena tahu temannya menjadi kecil, kini giliran Fang yang tumbang. Lelaki berkacamata itu sudah tak sadarkan diri di sebelah Ying yang panik. Beberapa kali menepuk pipi Fang agar lelaki itu terbangun.

"Fang, bangun! Oi, landak ungu!"

"Bukan salah Aya ya," ujar Yaya tak merasa bersalah.

Dasar anak kecil.

••••••

to be continued

hehehe maafkan aku dengan typo yang bertebaran

btw, beberapa kata atau kalimat rancu di fic ini karena aku kurang teliti pas nge revisinya hehehe

makasih buat koreksinya ya!! aku bakalan lebih teliti lagi!!

see you in next part!!

with luv, Aprilia Hidayatul