Suasana di desa Federasi Jura Tempest hari ini sangat ramai. Orang-orang sangat sibuk dengan keseharian mereka masing-masing termasuk pemuda surai kuning yang tampak sibuk membuat pesanan pelanggan.

"Naruto-sama, Miso Ramen dengan ekstra Menma!"

"Naruto-sama, Ramen biasa satu!"

"Oke!" Ekspresi senang terpasang jelas di wajah Naruto sebab hari ini banyak pelanggan datang ke kedainya. Ia tidak kewalahan karena ia mempekerjakan beberapa Hobgoblin di sini.

"Ini pesanannya, Haruna." ucapnya memberikan dua mangkuk ramen panas kepada pelayan Hobgoblin bernama Haruna tersebut.

"Baik, Naruto-sama." Haruna mengangguk sembari menerimanya dan pergi untuk mengantar ramen. Naruto melihatnya sebentar sebelum kembali ke tempatnya.

"Yo! Sepertinya kau sangat sibuk, Naruto!"

Senyuman tipis tercipta di wajah Naruto saat kedainya di datangi oleh pemimpin Federasi Jura Tempest, yaitu Rimuru Tempest dengan bentuk slimenya yang di pangku oleh asistennya yang seorang wanita surai ungu muda panjang, Shion.

"Konnichiwa, Naruto-sama." sapa Shion sedikit membungkuk sebentar.

Naruto menangguk pelan "Konnichiwa, Shion." Balasnya singkat sebelum melihat ke arah Rimuru. "Begitulah. Tapi ini tidak sebanding denganmu yang sibuk sebagai pemimpin sekaligus salah satu Raja Iblis."

Rimuru mendengus mendengar candaan Naruto. Ia berubah menjadi bentuk wanita atau pria?-- Entahlah yang penting bentuk manusia dengan rambut biru muda, dan duduk di dekat Naruto di ikuti oleh Shion "Aku tidak ingin mendengar itu dari Raja Iblis pertama di dunia yang menyamar sebagai koki dan tidak pernah mengikuti Walpurgis."

Bukannya tersinggung dengan sindiran Raja Iblis baru itu, justru Naruto menampilkan seringai tipisnya membenarkan kalau itu benar adanya. "Guy yang menceritakannya huh? itu membosankan tahu. Hanya saling duduk dan mengobrol secara serius, tidak ada asyik-asyiknya. Yah meski awalnya aku yang pertama kali membuat acara itu" ujar Naruto ringan sembari membuat ramen tanpa melihat Rimuru dan Shion yang saat ini Sweatdrop. Mereka berfikir kalau Naruto itu sebelas duabelas dengan gadis naga loli alias Milim.

"Ini dia, dua Ramen spesial khusus untuk kalian."

Rimuru dan Shion memandang Ramen panas yang menggugah selera dengan Topping kue ikan berbentuk Rimuru dalam bentuk Slime. Reaksi mereka berbeda jauh.

Shion yang berbinar-binar melihat topping yang persis dengan idolanya, sementara Rimuru hanya meringis.

"Itadakimasu..." ucap mereka berdua bersamaan dan memakannya dengan khidmat.

Naruto memutuskan untuk meninggalkan mereka untuk mengerjakan pekerjaannya yang lain.

"Naruto."

"Ada apa, Rimuru?"

"Hari ini ada yang ingin menemuimu."

"Siapa?" tanya Naruto tanpa memandang Rimuru karena berfokus ke pekerjaannya tidak menyadari kalau suasana berubah mencekam sebab ada seseorang di depan pintu kedai.

"Na~ ru~ to~ kun~, Akhirnya ketemu~"

Naruto tiba-tiba menegang mendengar suara yang sangat ingin ia hindari. Keringat mengucur deras di dahinya. Dengan patah-patah, ia menengok ke arah pintu dimana seorang gadis berambut silver kebiruan, iris mata yang berbeda warna dimana sebelah kanan berwarna merah dan kirinya berwarna biru menatap tajam kepadanya. Gadis itu memakai gaun ghotic berwarna hitam dan di kepalanya terpasang tali bando yang warnanya sama dengan baju yang di kenakan. Apakah gadis itu yang di maksud!?

Naruto melirik diam-diam ke arah Rimuru yang juga meliriknya dengan setetes keringat di pipinya.

"Oi, Rimuru. Kenapa dia tahu aku di sini!?"

"Err... Bagaimana mengatakannya ya? Tanyakan saja pada Veldora dan Milim."

Sontak saja ekspresi Naruto langsung horor setelah mendengar penjelasan singkat dari Rimuru lewat sihir telepati. Dua naga sialan itu! Beraninya mereka membocorkannya kepada dia! Awas saja nanti, ia akan membuat perhitungan kepada mereka!

Gadis yang di depan pintu kedai itu berjalan mendekati tempat Naruto berada tanpa menurunkan auranya sehingga para pelanggan Hobgoblin di sana ketakutan. Tidak hanya para pelanggan, para karyawan Naruto juga merasa takut membuat kegiatan mereka terhenti.

Naruto yang melihat keadaan sekitarnya seperti itu, mau tidak mau ia harus menghentikan gadis ini. Ia keluar dari tempat nya dan menghampiri gadis tersebut. "Hei, bisa kau turunkan auramu? kau membuat orang-orang takut."

Gyut

"Aduh-duh. Kenapa kau menjewerku, Lumi-chan?" tanya Naruto sambil meringis menahan sakit karena telinganya di jewer oleh gadis yang bernama Luminus Valentine, salah satu Raja Iblis yang sepadan dengan Guy dan Milim.

Bukannya mengendur, malah Luminus memperkuat tarikannya pada telinga Naruto membuat pemuda itu mengeluh kesakitan. "Kau bilang kenapa? Harusnya kau itu mengurus wilayahmu sendiri, bukannya menyamar di tempat orang lain." ujar Luminus memandang dingin Naruto sebab ia sangat kesal pada pria ini. Bagaimana tidak, saat dia tinggal di sini dengan tenangnya, dirinya sangat kewalahan karena harus mengawasi wilayah kekuasaannya dan wilayah dia yang jauh lebih besar dari miliknya sendiri.

"Ta-tapi-"

"Tak ada tapi-tapian. Ayo pulang!"

Sayangnya alibi Naruto terputus sebab Luminus langsung memegang kerah baju belakang Naruto dan menyeretnya ingin keluar dari kedai ini. Melihat kelakuan dari pasangan sejoli ini yang menarik perhatian, semua orang di sana langsung Sweatdrop termasuk Rimuru, Shion bahkan rombongan majin yang baru datang seperti Benimaru dan Souei karena merasakan aura yang tidak enak tadi.

"Tu-tunggu, Lumi-chan. Kalau aku tidak ada, bagaimana dengan kedaiku?" Naruto mencoba memberi alasan yang masuk akal kepada gadis vampir tersebut.

Luminus tiba-tiba berhenti membuat wajah Naruto ceria karena gadis itu mendengarkan perkataannya. Tapi itu tidak berlangsung lama karena di tangan kanan Luminus terdapat sihir penghancur yang cukup besar sehingga Naruto pucat pasi.

"Ku hancurkan saja." balas Luminus datar yang sengaja membesarkan energi sihirnya sehingga orang-orang di sekitar langsung panik. Rombongan Benimaru dan Shion kecuali Rimuru bersiaga dengan kemungkinan yang terburuk walau mereka tahu tidak akan bisa menang.

"A-ah, tenang saja, Naruto. Aku akan menyuruh Shuna untuk mengelola kedai mu untuk sementara." Pada akhirnya, Rimuru mendekati dan melerai mereka berdua. Ia memberikan solusi yang menurutnya terbaik, soalnya ia bisa merasakan sihir itu cukup untuk meratakan setengah desanya dan itu membuat ia was-was.

Wajah Naruto cerah seolah Rimuru adalah penyelamatnya membuat yang di tatapnya Sweatdrop.

Luminus melirik orang yang belum lama ini di akui sebagai raja iblis baru. "Maou Rimuru Tempest, aku serahkan semuanya padamu." Ia menghilangkan sihir di tangannya membuat semua yang menyaksikan menghela nafas lega.

Meski dari ucapan Luminus terkesan cuek, tapi Rimuru bisa memahami kalau dia sangat terbantu dengan solusinya. Ia mengangguk pelan sebagai jawabannya. Tapi lagi dan lagi ia Sweatdrop saat Naruto memberikan jempol sambil memasang cengiran kepadanya, padahal keadaannya dia sedang di seret. 'Mungkin Naruto sudah pasrah.' batinnya sambil tersenyum kaku.

Benimaru, Souei, Hakkurou dan rombongan bawahan Rimuru menyingkir dari pintu untuk memberikan jalan keluar kepada kedua orang itu.

Saat mereka sudah berada di jalan utama, Luminus mengaktifkan sihir teleportasi yang sangat mencuri perhatian para penduduk Tempest yaitu berbentuk pintu ganda yang terbuka secara pelan.

"Oh, Luminus kah? Kau menjemput Naruto?"

"Eh~ Jangan dulu, Valentine. Aku mau makan ramen buatan Naruto."

Saat yang lain fokus ke arah sihir teleportasi, tiba-tiba datanglah Veldora dan Milim yang menatap bingung kedua pasangan itu.

Entah secara kebetulan atau tidak, Luminus dan Naruto bersama-sama memandang tajam membuat kedua naga itu berjengit kaget. Tak hanya itu, Naruto menunjuk ke arah Veldora dan Milim lalu membuat kode jempol seperti mengiris lehernya sendiri.

Sontak Veldora dan Milim menelan ludahnya takut dan memegang leher masing-masing. Mereka terus seperti itu sampai Luminus dan Naruto hilang di telan sihir mereka sehingga paman dan keponakan itu menghela nafas lega.

"Apa-apaan mereka? sampai memandang kita seperti itu."

Veldora menggerutu karena bingung dengan sikap pasangan suami-istri tersebut.

"Benar. Mereka menyebalkan sekali." Milimpun ikutan kesal sembari melipat tangannya di bawah dadanya yang rata.

"Bukankah kalian sendiri yang membocorkannya saat Walpurgis?."

Rimuru keluar dari kedai menatap aneh Veldora dan Milim yang berfikir sesaat atas perkataan Rimuru sebelum wajah mereka pucat pasi karena menyadari telah memberitahukan hal yang membuat seluruh dunia heboh.

""UWWAAA!!!!""

Pria surai kuning dan gadis cilik surai pink berteriak-teriak panik bukan main. Mereka bisa membayangkan kalau Naruto yang mewakili Luminus memberikan hukuman yang sadis untuk mereka berdua.

Seluruh penduduk disana termasuk Rimuru Sweatdrop berjamaah karena naga penghancur dan naga badai itu berteriak gak jelas. Rimuru mendongak menatap langit biru yang cerah membayangkan kejadian apa yang menanti di depan sembari bergumam.

"Dua Raja Iblis yang telah menikah ya... Aku ingin tahu seperti apa anak mereka nanti."


Entah pengen nulis aja begini pas liat Tensura.

Gw bikin Twoshot aja sih. soalnya juga lagi mikir2 alur fanfic lain.

Dah gitu aja sih. See You Next Time

-Minggu, 28 Agustus 2022-