Hai minna'san!

Tadaima~

Makasih yang udah nungguin. Aku juga lagi semangat banget buat nulis, hihi. Semoga kalian suka.

Shokugeki no Souma milik Yuuto Tsukuda, Shun Saeki. Saya cuma pinjam karakternya.

Saa, oagariyo!


Souma baru saja bertemu dengan Erina, dan sekarang berjalan di tengah malam yang dingin menuju asramanya.

Souma berjalan sambil menatap bulan yang bersinar terang di atas. Tangannya dimasukkan ke sakunya.

Dan tiba-tiba dia melihat Suzuki-sensei di dekat sana. Entah apa yang sedang dia lakukan.

Souma mengabaikannya dan terus berjalan, sedikit mempercepat langkahnya.

"Souma-kun, apa kau masih marah soal ciuman itu?" Asahi berkata sambil berjalan menyusul Souma.

"Dia secepat itu memanggilku dengan nama kecilku?"

"Aku tidak punya waktu untuk mengobrol sekarang, Suzuki-sensei." Souma terus berjalan dan tidak menoleh sedikitpun, dia benar-benar mempercepat langkahnya.

"Tunggu-"

Asahi maju lalu tanpa peringatan memegang tangan Souma dan menariknya ke samping di bawah pepohonan.

"Ap- jangan memegangiku seperti ini! Apa sensei berniat menciumku lagi!?" Souma berkata dengan marah saat dirinya dipojokkan ke pohon.

"Ayolah, Souma-kun. Kenapa kau sangat marah? Aku hanya menempelkan bibirku pada bibirmu, itu saja." Kata Asahi, tidak ada rasa bersalah sedikitpun.

Souma menautkan alisnya dan mendelik pada pria yang lebih tinggi. "Itu saja katamu!? Kau tiba-tiba mendatangiku dan menciumku, memangnya kau siapa!? Jangan sembarangan mencium orang! Apalagi itu adalah ciuman pertamaku!" Souma meraung sambil berusaha melepaskan tangannya.

Asahi mengedipkan matanya dan sedikit melonggarkan genggamannya.

"Itu ciuman pertamamu? Aku minta maaf...," Asahi terlihat sedikit menyesal "Tapi aku juga merasa senang karena aku yang mengambil keperawanan bibirmu." Oke, penyesalannya benar-benar hilang dan sudah digantikan dengan ekspresi puas.

"Haah!?! Senang!?"

"Dan aku tidak mencium orang secara acak, aku menciumu karena ada alasannya," Asahi mendekatkan wajahnya ke wajah Souma. "Bibirmu sangat manis." Asahi berbisik.

Urat imajiner muncul di wajah Souma. "Itu tidak bisa dijadikan sebagai alasan! Kau tidak bisa mencium orang begitu saja! Jika alasanmu seperti itu maka artinya kau akan mencium siapa saja yang memiliki bibir yang manis seperti yang kau bilang."

"Tenang saja, bibir manis itu hanya dimiliki olehmu seorang kok." Asahi berkata dengan senyum tersungging di wajahnya.

Souma menahan rasa kesalnya. "Terserahlah. Aku harus pergi, jadi lepaskan tanganku." Souma menunggu Asahi melepaskannya.

Namun Asahi tak kunjung melepaskan tangannya.

"Sensei, apa Anda mendengarku? aku harus pergi. Lepaskan aku." Souma berkata lagi.

"Hmmm, kau sangat manis ya..." Asahi malah bergumam sendiri sambil mengamati Souma.

"Suzuki-sensei, apa yang Anda lakukan ini sangat tidak pantas. Anda bisa terkena sanksi karena telah melecehkan anak dibawah umur." Souma menatap sensei nya.

Sepuluh detik hening.

Akhirnya Asahi melepaskan tangannya dan mundur.

"Aku bisa mengantarmu kembali ke asrama. Sudah sangat gelap bukan?" kata Asahi.

"Tidak perlu repot-repot, sensei. Aku akan baik-baik saja pulang sendiri." Souma memperbaiki posisi jaketnya yang agak miring.

"Ah, tapi-"

"Terima kasih tawarannya, sensei!" tiba-tiba saja Souma sudah berlari pergi.

Asahi menghela nafas melihat Souma semakin menjauh.

Dia teringat saat dia melihat Souma sedang bersenda gurau dengan Erina di balkon beberapa jam yang lalu. Tatapannya gelap. Dia merasa kesal.

"Dia sepertinya dekat dengan gadis itu. Tch, jangan sampai dia jadi hambatan ku."

Asahi berjalan pergi dengan wajah tak senang.

.

.

.

.

.


Hmm, selesai juga. Bab ini pendek ya, hehe. Tapi di bab selanjutnya bakalan panjang kok, jadi tunggu aja.

Makasih yang udah baca dan review. Semoga kalian menikmati ceritanya. Mohon review ya.

Sampai jumpa di bab selanjutnya.

Osomatsu!