Hai minna'san!
Tadaima~
Yahh...aku baru aja rewatch SnS S5 buat cari referensi, jadi imajinasinya masih fresh. Alurnya bakal ngikutin animenya, cuman ya... diganti gitu. Yah, pokoknya biar kalian ngga terlalu bingung.
Semoga kalian suka.
Shokugeki no Souma milik Yuuto Tsukuda, Shun Saeki. Saya cuma pinjam karakternya.
Oagariyo!
Beberapa hari setelah babak penyisihan untuk siapa yang akan masuk ke kompetisi BLUE selesai, Souma dan Megumi berjalan berdampingan di lorong, dengan Megumi yang masih tercengang dan gugup karena dia mendapat ranking pertama dalam penyisihan. Souma juga berusaha membuatnya lebih santai daripada harus gugup setiap saat.
Mereka berhenti saat mendengar suara tertawa dari dalam kelas. Souma dan Megumi sama-sama menengok untuk melihat apa yang terjadi.
Yah, dari yang terlihat, Asahi atau Suzuki-sensei sedang bercanda dengan anak-anak kelas satu sambil memakan beberapa jajanan.
Souma yang melihatnya membuat dirinya teringat kembali dengan insiden 'ciuman' beberapa hari yang lalu, wajahnya berubah masam dan langsung memalingkan pandangannya kembali ke jalan sambil melangkahkan kakinya untuk beranjak pergi.
Namun, Asahi telah melihatnya dan langsung berdiri dan memanggilnya sebelum dia bisa melakukan langkah ke-tiganya.
"Wah, ada Souma-kun. Dan juga Tadokoro-san, ya?" Asahi berkata dengan senyum di wajahnya.
Souma terpaksa berhenti dan menoleh. Dia masih punya sopan santun untuk tidak mengabaikan seseorang yang menyapanya apalagi itu adalah sensei nya sendiri.
"Suzuki-sensei, apa yang sedang Anda lakukan di liburan musim semi ini?" tanya Megumi dengan sopan. Sementara Souma masih diam saja tapi sudah kembali berdiri di samping Megumi.
"Yah, selama ini aku pergi ke luar negeri, jadi untuk menebus kekosongan jam mengajarku, aku membuka kelas tambahan." Asahi menjawab.
"O-oh..."
"Yang lebih penting...-" Asahi mengulurkan tangannya dan menggenggam pergelangan tangan Souma. "Deja vu!" Souma membatin dengan panik dan waspada kalau-kalau sensei nya akan menyerangnya lagi. Megumi menatap mereka dengan canggung.
"-... aku bisa bertemu denganmu lagi secepat ini, Yukihira Souma." Asahi berkata dengan suara rendahnya, senyumnya juga masih ada di wajahnya. Megumi gemetar di tempatnya saat menonton kedua pria di depannya sedang saling tatap. Asahi menatap Souma langsung ke matanya dengan- apa itu? keinginan? nafsu? hasrat? apapun itu, tapi Asahi menatapnya dengan penuh semangat di matanya. Sementara Souma menatapnya dengan tatapan acuh tak acuh dan kesal karena tangannya yang lagi-lagi dipegang sembarangan olehnya.
"Bagaimana kalau kau juga ikut Souma-kun, Tadokoro-san juga. kau mungkin bisa memberikan semacam saran pada adik kelasmu. Mungkin cerita di balik Shokugeki Resimen?" kata Asahi.
"Aku ingin mendengarnya!" Para anak-anak kelas satu terlihat bersemangat untuk mendengarkan cerita dari Sang Kursi Pertama Sepuluh Dewan Elit.
"Ya... baiklah jika kalian memang ingin..." Souma sedikit mendelik padanya lalu menatap tangannya dalam isyarat agar Asahi melepaskan tangannya. Asahi melepaskannya perlahan seakan dia tidak ingin tangan Souma keluar dari genggamannya secepat itu.
"Masuklah dan ceritakan pada kami, Kursi Pertama." Asahi memberi jalan. "Tadokoro-san juga, silahkan."
"Ah, b-baik"
"H-hebat!"
"Yukihira-senpai memang sangat hebat!"
"Sasuga Yukihira-senpai!"
Para anak-anak kelas satu memuji Souma setelah dia menceritakan Shokugeki Resimen saat melawan Central.
Souma membalas pujian mereka dengan senyum. "Yah. Kalian juga terus belajar dan berusaha ya, asah terus kemampuan kalian."
"Baik!" mereka semua menjawab dengan serempak.
Megumi ikut tersenyum senang karena Souma dapat menginspirasi anak-anak kelas satu yang sekarang berjalan keluar dari ruangan.
"Mendapat dukungan langsung dari Yukihira-senpai membuatku merinding sangking senangnya~!" seorang murid perempuan berkata dengan senang pada temannya.
"Benar! Yukihira-senpai memang yang terbaik!" murid yang lainnya.
Asahi melirik mereka dengan tatapan dingin, lalu mengabaikan mereka setelah mereka benar-benar pergi.
"Souma-kun, sepertinya kau berhasil memotivasi mereka." kata Asahi setelah keheningan beberapa saat.
Souma mengusap belakang kepalanya yang tidak gatal "Yah, sebentar lagi Seleksi Musim Gugur. Aku tidak ingin mereka gagal hanya karena mereka terlalu lalai karena tidak pernah mengasah kemampuan mereka."
"Kau memang orang yang menarik ya, Souma-kun." Asahi berkata sambil berdiri dari duduknya.
"Mumpung kita ada di sini, bagaimana kalau kita bertanding Shokugeki, Souma-kun?" matanya menatap iris amber Souma.
"Shokugeki? tapi untuk mengadakan Shokugeki, Anda harus meminta izin dari pihak administrator dan juga pengamat terlebih dahulu. Kita tidak bisa melakukannya begitu saja." Megumi berkata dengan panik.
"Begitu ya, kalau begitu anggap saja ini sebagai kompetisi kecil-kecilan." Asahi kembali pada Souma.
"Apa kau keberatan? tapi, yah, aku menginginkan sesuatu untuk dipertaruhkan." Asahi menipiskan jarak diantara mereka dan mendekatkan wajahnya ke telinga Souma. "Jika aku menang, aku menginginkan bibirmu." Asahi berbisik dengan suara dalam. Souma sedikit berjengit namun dalam sekejap menenangkan dirinya dan menatap Asahi dengan tajam.
"E-eeeh..." Megumi tidak tahu apa yang Asahi inginkan jika dia menang namun tampaknya Souma kesal.
"Baiklah. Sebagai gantinya, jika aku menang kau harus memberitahu rahasia mu." Souma menyipitkan matanya. "Kau tentu bukan 'sensei' biasa kan. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan Anda."
"Ya, bagaimana ya. Semua orang mempunyai rahasia." "Tapi aku setuju. Jika kau menang, aku akan memberitahu rahasiaku." Asahi tersenyum puas.
"Baiklah. Mari kita mulai." Souma melepaskan ikat kepalanya dari tangannya.
"Jurinya adalah Tadokoro-san. Mohon bantuannya ya."
"Eeh... saya?"
"Kau menempati posisi pertama di babak penyisihan kompetisi BLUE, sudah sepantasnya menjadi juri. Ya 'kan?" Asahi berkata dengan enteng pada megumi yang panik.
"E-eh."
"Tolong ya, Tadokoro."
"B-baik."
Dan yang memenangkannya adalah... Asahi.
Wajah Souma gelap dan matanya membelak dengan tatapannya terpaku pada lantai. Dia sudah mencicipi masakan Asahi, mereka berada di level yang jauh berbeda. Dia syok karena dia telah kalah yang artinya bibirnya akan diperkosa lagi oleh Asahi. Namun tidak hanya karena hal itu. Yang membuatnya sangat terganggu adalah pisau yang digunakan Asahi, pisau itu, Souma merasa sangat familiar dengan pisau itu. Pisau itu...milik Ayahnya bukan?
"Yah, kelihatannya aku yang menang ya, Souma-kun." Asahi berkata sambil menyimpan pisau yang telah dipakainya kembali ke tempat.
"Pisau itu..."
"?" Asahi berhenti dan menoleh pada Souma yang menatapnya tajam.
"Pisau itu. Darimana kau mendapatkannya?!"
Megumi terkejut dengan ledakan Souma yang tiba-tiba dan dia tetap diam sampai dia merasa perlu melakukan sesuatu.
Asahi terkejut mengapa Souma merasa seperti itu setelah melihat pisaunya.
Dia menampilkan senyum sombongnya lagi.
"Oh, ini aku dapatkan setelah memenangkan duel memasak dengan Joichirou." Asahi menjawab dengan enteng. "Dan juga. Biar kuberitahu satu rahasiaku. Sebenarnya Suzuki adalah nama palsu. Namaku Asahi. Saiba Asahi." Senyumnya semakin lebar.
Sementara Souma membeku. "Ayah telah dikalahkan olehnya? Ayah telah kalah...?" "Tidak mungkin... Kenapa Ayah bisa kalah semudah itu?!" "Dan juga... Namanya Saiba Asahi? Saiba? apakah..."
"Saiba? Saiba itu 'kan... namanya Joichirou-san." Megumi membeku.
Souma mengepalkan tangannya, dia merasa sangat marah dan frustasi. Dia maju dan memegang bahu pria yang lebih tinggi.
Asahi terkejut melihat amarah dan tekad di mata Souma.
"Lawan aku...sekali lagi!"
Megumi dan Asahi sama-sama terkejut, namun tidak lebih terkejut daripada saat melihat Souma yang tiba-tiba pingsan di depan mereka.
"So-So-Souma-kun!" Megumi maju dan mencoba membangunkan Souma dengan panik. "Souma-kun!" Megumi gemetaran, takut jika apa-apa terjadi pada sahabatnya.
Asahi juga tidak diam saja melihat pemuda yang dicintainya tergeletak di lantai. "Apa dia kelelahan?" tanyanya pada Megumi yang masih panik.
"S-spertinya begitu."
Asahi terlihat memikirkan sesuatu namun menepisnya setelah melihat Megumi mencoba mengangkat Souma.
"Biar aku saja yang membawanya." Asahi mengambil Souma dari Megumi dan menyandarkannya ke tubuhnya sebelum dia berdiri.
"Ah, tapi...-"
"Tidak apa-apa. Kau pasti akan kesulitan membawanya bukan? dan juga aku adalah sensei nya, yah setidaknya. Kau bisa kembali duluan." Asahi berkata saat dia mengangkat Souma dengan bridal style.
Megumi terlihat sedikit ragu dan ingin memprotesnya.
"Aku akan menjaganya, tenang saja." Asahi mencoba meyakinkan gadis di depannya yang menatap sahabatnya dengan cemas.
"B-baiklah. Terima kasih." Megumi menunduk dan keluar dari ruangan, meninggalkan Asahi hanya dengan Souma.
Asahi menghela nafas.
"Duh, kau ini curang sekali ya. Padahal aku sudah sangat ingin merasakan bibirmu lagi tapi kau malah pingsan. Tidak akan seru jika menciumu dengan keadaanmu yang tidak sadar." Asahi menggerutu dan dia berjalan keluar sambil menggendong Souma.
...
Asahi berjalan di lorong yang sepi sore itu. Cahaya oranye dari matahari yang mulai tenggelam menerpa wajah Souma. Asahi mengamati wajahnya, bibirnya yang merah ceri terlihat sangat lembut, pipinya yang chubby, hidung melengkung sempurna, bekas luka di alis kirinya, dia penasaran darimana dia mendapatkan luka itu. Dan rambut merahnya yang jatuh ke samping sedikit menutupi sisi kiri wajahnya. Ya tuhan, dia ingin memiliki semua itu untuk dirinya sendiri.
Pertama kali dia mengetahui fakta bahwa Souma adalah putra dari mentor dan juga figur Ayah baginya. Itu sangat mengejutkannya. Awalnya dia memang iri karena Joichirou lebih memilih Souma dan meninggalkannya, namun sekarang dia sangat tertarik padanya.
"Aku memang menganggapnya sebagai seorang Ayah, tapi aku sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya apalagi Souma. Jadi itu bukanlah masalah."
Sejak dia memutuskan untuk menjadikan Souma seseorang untuk 'mendedikasikan semua masakannya padanya' dia terus mengawasinya dari jauh.
Mengingat bahwa Saiba Joichirou adalah koki yang sering berkelana membuatnya semakin kesal, karena dia tau dia pasti tidak menghabiskan banyak waktu dengan anak darah dagingnya sendiri dan sering meninggalkan Souma. Ayah macam apa dia itu.
Ekspresi kesal terlihat jelas di wajahnya.
.
.
.
.
"Nghh..." Souma sedikit menggeliat dan matanya perlahan terbuka. Dia mengedipkan matanya beberapa kali. Lalu dia merasa seperti sedang dibawa oleh sesuatu yang bergerak. Apa yang- Souma terkejut saat melihat Asahi sedang menatapnya, yang sekarang menggendongnya.
"Kau sudah bangun, sweetie prince." Asahi tersenyum padanya.
Kenapa? kenapa Asahi membawanya? oh, dia ingat, dia pingsan karena kelelahan.
Souma mengerutkan alisnya. "Kenapa kau membawaku?" Souma bertanya dengan waspada.
"Kau pingsan, tentu saja aku tidak akan membiarkan Tadokoro-san kesulitan membawamu yang tak sadarkan diri kembali ke asrama." Asahi menjawab, tidak mengalihkan pandangannya dari Souma.
"Aku bisa jalan sendiri, tidak perlu repot-repot membawaku." Souma mencoba turun dari gendongan Asahi namun Asahi tidak mengijinkannya dan menahannya.
"Tubuhmu masih lelah, kau bisa saja pingsan di perjalanan." Asahi mendekatkan wajahnya ke wajah Souma. "Dan lagi, aku belum mengambil hadiah atas kemenanganku." Asahi berkata dengan suaranya yang dalam.
Souma menjauhkan wajahnya sejauh mungkin. Dia tidak ingin diciumnya lagi. Souma memang bukan tipe orang yang akan menarik kata-katanya namun dia tidak suka dengan ide itu.
"Hei. Aku ingin mengambil hadiahku sekarang." Asahi menurunkannya dan mendorongnya ke tembok. Tidak memberi Souma kesempatan untuk melawan, dia langsung menabrakkan bibirnya ke bibir yang lain.
"Hmmhh!" Souma menggeliat mencoba mendorong Asahi menjauh namun Asahi memegangi tangan kanannya di sampingnya, dan dikarenakan tubuh Souma yang masih agak lemas, dia tidak bisa melakukan perlawanan lebih, bahkan tangannya yang bebas hanya bisa melakukan dorongan yang lemah.
Asahi menarik pinggang Souma selagi dia memperdalam ciumannya. Lidahnya masuk dengan mudah dan mulai menjelajahi mulut Souma. "Hnnghh..." Souma sendiri hanya melakukan dorongan yang sia-sia, tidak bisa melakukan apa-apa saat bibirnya dilumat oleh Asahi. Dia tidak mengerti seperti apa itu ciuman, dia tidak mengerti kenapa Asahi menyapu seluruh giginya dengan lidahnya. Dia tidak pernah tau ciuman itu seperti ini, dia berpikir ini lebih seperti Asahi hendak memakannya daripada mencium.
"Hnghhh!" Souma mulai menggunakan tenaganya lebih banyak untuk mendorong Asahi saat dia mulai kehabisan oksigen.
"Berhen- hnnhh!"
Asahi menarik diri dan melihat karya yang telah dibuatnya. Souma terengah-engah bersandar pada dinding di belakangnya, wajahnya berkeringat, matanya hampir tertutup, dan air liur yang membasahi bibirnya. Itu membuatnya ingin melakukan sesuatu yang lebih, namun dia menahan diri. "Masih belum waktunya."
"Kenapa..." Souma menatap Asahi dengan tajam sebelum dia merasa energinya semakin terkuras dan Asahi yang menyadarinya langsung maju mendekap tubuhnya sebelum terjatuh ke lantai.
"Rasanya sangat enak." Itu yang Asahi katakan sebelum dia kembali menggendong Souma dan membawanya ke asramanya.
Yah, teman-temannya panik dan khawatir saat melihat keadaan Souma yang tidak sadar dan Asahi bilang bahwa Souma kelelahan. Megumi juga menjelaskan apa yang terjadi, dan Asahi pergi setelah membaringkan Souma di tempat tidurnya.
"Aku harus memikirkan rencana selanjutnya."
Fiuh, selesai juga bab yang panjang ini. Bosenin apa engga? semoga sih kalian menikmatinya.
Makasih banyak buat yang udah baca dan review. Aku jadi makin semangat update kalo ada yang review, so, tinggalkan review ya.
Sampai jumpa di bab selanjutnya.
Osomatsu!
