Hai hai!
I'm back!!
Kangen kah?
/iya kangen, kangen sama ffn nya :')
Saya minta maaf sebesar-besarnya karena lama nggak update. Hontou ni gomenasai.
Semoga chapter ini bisa memaafkan kesalahan Sere.
Shokugeki no Souma milik Yuuto Tsukuda, Shun Saeki. Saya cuma pinjam karakternya.
Oagariyo!
.
.
.
Souma pulang ke Sumiredoori.
Dia punya banyak pikiran di kepalanya. Mulai dari kompetisi BLUE, sensei nya yang menyamar, ayahnya yang telah kalah. Itu semua cukup membebani pikirannya. Dia stress. Stress atas apa yang telah terjadi akhir-akhir ini, sejak Suzuki-sensei muncul dan mengambil keperawanan bibirnya. Dia syok. Gurunya tiba-tiba mendatanginya dan menciumnya, ya, dan lagi dia sesama jenis. Souma pikir dia hanya main-main, sampai ia menyadari betapa sering sensei nya menyentuhnya lebih dari yang sewajarnya dan setelah ciuman yang dalam sore hari itu, sepertinya dia benar-benar terobsesi padanya.
Dia tidak tau apakah harus menceritakan hal ini pada seseorang atau tidak. Dan setelah dia pikir-pikir ayahnya mungkin perlu tau soal first kissnya- "Eh tidak, seperti dia akan peduli saja."
"Jendelanya kubuka saja deh." Souma membuka jendelanya dan membiarkan udara segar masuk, dia menikmatinya. Angin sepoi-sepoi menyibakkan rambutnya dan ikat kepalanya terbang mengikuti arah angin. Souma mengamati kain putih yang bergerak-gerak lalu teringat sosok ibunya. Souma berbalik dan menatap ke arah foto keluarganya yang diletakkan di meja.
Souma tersenyum lembut "Aku pulang."
"Tapi, apa yang sedang dilakukan Ayah sih, ya?" Souma mengeluarkan ponselnya dan menuju ke nomor Ayahnya.
"Paling dia takkan mengangkatnya, tapi..." Souma menekan tombol panggil lalu mengangkat ponselnya ke telinganya dan menunggu sebentar hanya untuk mendengar dering dari bawah. Souma menengok keluar dan melihat Ayahnya yang berdiri di depan rumah, juga sedang menatapnya.
Souma terkejut melihat ayahnya ada di sana "Ayah!"
Joichirou juga terkejut melihat anaknya di rumah namun menjawab dengan santai "Ya ampun, ternyata kau pulang, Souma."
"Kenapa Ayah di sini?"
"Ayah punya kerjaan di dekat sini." "Oh iya, Gin memberitahu ayah kalau kau berpartisipasi dalam BLUE, ya?" Joichirou berkata lalu menambahkan dengan nada meledek "Jangan ketakutan dan akhirnya kabur sepertiku lho."
(Souma ini gimana sih tiba-tiba udah nyundul Joichirou yang ada di bawah? lompat dari lantai dua apa gimana?? pokoknya gitu lah ya, ngikut aja sama yang di animenya.)
"Aku tidak akan kabur!" Souma berkata dengan marah.
Mereka masuk dan Souma menceritakan soal Asahi dan duel mereka pada ayahnya.
"Jadi si Asahi itu berhasil menyusup ke Totsuki, ya? lalu kau kalah."
"Begitulah." Souma yang duduk bersila sambil menyilangkan tangannya menjawab "Dia juga bilang kalau dia berhasil mengalahkanmu."
"Ya, itu memang benar." Joichirou sedikit menarik bibirnya ke atas sebelum menatap Souma dengan serius. "Sepertinya aku melibatkanmu dalam masalah lagi, ya."
"Gara-gara Ayah?" Souma menatap ayahnya bingung "Apa maksudmu?"
"Dia..., Saiba Asahi..." "...adalah satu-satunya yang pernah kuangkat menjadi muridku." "Pertama kali kami bertemu itu sepuluh tahun yang lalu. Saat itu ayah sering bepergian ke Amerika. Suatu hari, aku diminta membantu acara amal teman amerika ku." "Aku diminta membuatkan makanan untuk anak-anak di panti asuhan. Di sanalah aku bertemu dengannya." "Dia selalu bilang kalau masakanku itu lezat, dan setiap kali aku berkunjung ke sana, dia pasti akan membantuku di dapur." "Aku tak bisa mengabaikannya. Soalnya dia mengingatkanku pada junior-juniorku di Asrama Bintang Polar yang kutinggalkan. Akhirnya aku jadi mengurusnya." "Aku mengajaknya ke berbagai tempat dan mengajarinya cara menilai masakan, dan cara memasak juga." "Dia juga memiliki bakat. Setelah itu dia serius ingin menjadi koki, dan mulai bekerja di salah satu restoran yang ada di kota." "Pada saat itu juga dia ingin memakai nama 'Saiba'. Aku sih tak mempermasalahkannya. Soalnya dia murid yang hebat."
"Tapi aku lalu meninggalkannya." kalimat itu sukses membuat Souma terkejut dan bingung.
"Eh, kenapa?" tanyanya.
Joichirou menyeringai lalu mengelus-elus kepalanya.
"Apa sih! Jangan mengelus-elus kepalaku saat aku sedang bertanya padamu!" Souma kesal karena ayahnya terus mengelus-elus kepalanya.
Joichirou menarik tangannya setelah puas mengelus kepalanya lalu dia menjawab. "Karena sudah kuputuskan." Souma menatap ayahnya "Karena aku punya rumah, aku tak boleh berkeliaran terus, dan ingin membuka kedai Yukihira juga"
Souma diam untuk beberapa saat "Kejadiannya saat aku masih kecil ya?" "Itu artinya, pas waktu itu, ya..." bayangan ibunya muncul di pikirannya.
"Karena itulah, aku tak bertemu dengannya lumayan lama." kata Joichirou memecahkan lamunan Souma.
"Tapi tempo hari dia tiba-tiba muncul." Joichirou melanjutkan "Di New York. Dan dia menantangku dalam memasak. Dengan taruhannya adalah pisau ku."
"Yah, mungkin patut disyukuri juga kau kalah darinya. Kalau kau menang, aku jadi kelihatan lemah." kata Joichirou yang sepertinya ingin meringankan suasana. "Jangan malah senang dengan kekalahan anakmu, ayah sialan!" oke, siapa yang tidak akan kesal dengan komentar itu.
hanya tersenyum bodoh setelah mendapatkan sundulan yang kedua kalinya dalam hari itu dari Souma.
"Dia pasti ingin membalasku karena sudah meninggalkannya. Pasti karena itu juga dia menantangmu." Joichirou menatap kebawah lalu berkata dengan menyesal "Maaf ya, Souma. Karena masa laluku, kau jadi terlibat masalah lagi..."
"Bicara apa kau ini, Ayah?" Souma memotongnya sebelum ayahnya bisa melanjutkan "Aku mengerti kalau dia itu anak didikmu, tapi dia menantangku dan aku kalah darinya." Souma menatap ke mata Ayahnya "Karena itulah, tak ada hubungannya lagi denganmu. Ini adalah masalahku." "Selanjutnya pasti aku akan menang!" Souma berkata dengan penuh keyakinan.
Joichirou tersenyum melihat tekad di mata putra semata wayangnya.
Mereka diam untuk beberapa saat.
Souma terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu. Dia ingin mengatakan sesuatu. Ayahnya mungkin tidak akan peduli soal ini tapi... dia ingin memberitahunya tentang ciuman pertamanya. Lagipula sudah lama sejak mereka membahas hal selain tentang memasak.
"Ayah, apa kau tau?" Souma memulai sambil menggaruk pipinya. Dia menatap kebawah sebelum melanjutkan. Ayahnya menatapnya, menunggunya. "Aku- um... aku, ciuman pertamaku... itu sudah terjadi." dia tidak tau kenapa bahkan dia mengatakan ini. "Dia pasti hanya akan mengejekku." Souma tidak mendapatkan respon apapun dan tidak ada dari mereka yang bersuara, jadi dia mendongak untuk melihat ayahnya.
Ayahnya sudah tidak menatapnya lagi, namun dia tetap diam. "Ayah...?"
"Siapa yang mengambilnya?" akhirnya Joichirou bersuara. Suaranya yang dalam sedikit membuat Souma merinding.
"Yah, aku tidak tau Ayah akan menanyakan ini tapi, ini hal privasi dan sebagainya, kau tau." Souma sedikit meringis.
Secara tiba-tiba Joichirou memegangi kedua bahunya dan menatap lurus ke mata putranya "Beritahukan sekarang. Siapa yang mengambil ciuman pertamamu?" nadanya menuntut dan seperti sedang menahan emosi yang lebih besar meluap.
Ya, ini hal yang tidak diketahui Souma, kalau ternyata ayahnya sangat peduli pada hal seperti itu.
"Siapa yang berani menciumnya?? dia masih kecil, masih terlalu muda dan polos untuk menjalin hubungan romantis. Aku tidak masalah jika dia menyukai seorang gadis, tapi aku tidak menyukai ide berciuman. Tidak bisakah aku memutar ulang waktu dan mencegah ciuman pertamanya terjadi secepat ini? Dia tidak diizinkan untuk menjalani hubungan romantis saat masih semuda ini, dia akan mengalami patah hati, lalu terpuruk, dan dia akan berhenti memasak, dia akan menghancurkan dirinya sendiri!" itu yang ada dipikiran Joichirou saat ini.
"Itu..." Souma memandang ke arah lain "Itu... Suzuki-sensei..." Souma berkata dengan ragu-ragu dan berusaha menghindari mata ayahnya.
Joichirou membeku di tempatnya. Tapi otaknya berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Empat detik.
"APA!?!?!?!!" Joichirou berteriak, masih memegangi Souma yang meringis mendengar teriakan itu.
"Bagaimana dia bisa menciumu!?! apa dia melakukan apa-apa selain itu padamu?? kenapa kau membiarkan dia menciumu?? WHY THE FUCK HE KISSED YOU!!?!!" Joichirou meledak, emosinya tumpah.
Sekarang Souma tau itu bukan ide bagus untuk mengatakannya pada ayahnya. Tapi dia juga merasa ayahnya juga perlu tau soal ini.
"Kenapa?? kenapa Asahi mencium Souma!? apa dia ingin membalaskan dendam dengan cara ini?? apa dia ingin menjadikan Souma sebagai pelampiasan dendam??! AKU TIDAK BISA MEMBIARKAN ITU TERJADI."
"Aku tidak tau. Dia tiba-tiba datang, lalu dia menciumku, aku terkejut, aku tidak menyangka dia akan melakukan itu, jadi aku tidak bisa mencegahnya." Souma berkata, dia benar-benar bingung. Yah, Souma tidak bisa menyalahkan ayahnya, seorang laki-laki baru saja mencium putranya, dan lagi orang itu adalah muridnya yang baru saja mengalahkannya.
"Dia tidak melakukan apa-apa lagi padamu kan?" Joichirou sudah lebih tenang.
Souma menggelengkan kepalanya.
"Oh iya, Ayah, ayo kita bertanding memasak. Ayah pasti punya banyak waktu luang 'kan?" Souma mengalihkan topik dan ingin meredakan suasana yang tegang itu.
Joichirou melepaskan putranya lalu menghela nafas "Iya."
"Kalau begitu, akan ku siapkan dapurnya." Souma berkata saat dia berdiri.
Joichirou menatap punggungnya saat Souma keluar dari kamarnya. Joichirou menatap foto mereka yang diambil saat hari orang tua. "Aku membiarkan Souma kehilangan ciuman pertamanya sebelum waktunya. Maafkan aku, Tamako."
.
.
.
.
"Benarkah?" "Aku memang tidak tau siapa organisasi Noir itu, tapi Suzuki-sensei juga akan ikut dalam kompetisi BLUE?"
"Suzuki-sensei yang kau bilang itu mungkin adalah Asahi. Gin yang bilang padaku, jadi kurasa itu benar."
Mendengar itu Souma menjadi semakin bersemangat. "Jadi aku hanya perlu juara kompetesi BLUE!" "Aku tidak peduli dia Saiba Asahi ataupun Suzuki-sensei. Aku akan balas dendam di BLUE, mengalahkan Nakiri, lalu menjuarai kompetisi itu dan berdiri di puncak!" "Ini seperti menjatuhkan tiga burung dengan sekali lempar batu!"
"Souma..."
"?" Souma menatap ayahnya.
"Sebelumnya aku tidak pernah mengatakan hal ini padamu, tapi akan kukatakan sekarang, rahasia menjadi koki yang hebat."
"Rahasianya adalah agar kau bisa bertemu dengan seseorang dimana kau akan mendedikasikan semua masakanmu padanya."
Souma terdiam dan memikirkan kata-katanya. "Kepada siapa aku... mendedikasikan masakanku?"
.
.
.
.
.
Itu hampir tengah malam, namun Souma masih terjaga di kamarnya.
Dia duduk di tempat tidurnya, memikirkan tentang Noir yang disebut-sebut ayahnya tadi.
"Noir... sebenarnya siapa mereka?"
Souma dikejutkan dengan suara jendela yang tiba-tiba dibuka dan langsung berdiri. Beberapa orang dengan pakaian aneh masuk ke kamarnya. Saat ini Souma terlalu terkejut untuk melakukan sesuatu.
"Apa yang sebenarnya ingin kau ketahui tentang kami?" Salah satu orang yang berdiri paling depan berbicara.
"Aku bisa langsung mengatakannya padamu lho."
Souma membelakkan matanya "Suara ini tidak asing..."
"Jangan-jangan kalian..."
"Ya, kami adalah Noir."
Souma mundur selangkah saat orang itu maju. "Berhenti sekarang atau kau akan tau akibatnya." Souma mendesis.
Orang itu berhenti melangkah "Jangan khawatir, aku ke sini bukan untuk menyakitimu...," orang itu menarik kain yang menutupi wajahnya, mengungkapkan identitasnya. "...Yukihira Souma."
"Suzuki-sensei..."
"Aku datang ke sini untuk minta tolong padamu, my prince." "Kalau kami ikut dalam kompetisi memasak ini dan aku yang menjadi pemenangnya, berjanjilah kalau kau akan menikah denganku."
Souma menatapnya tajam "Apakah yang kau maksud dengan kompetisi memasak itu BLUE?" Souma berkata dengan tenang.
"Yah, awalnya aku ingin membuatmu bertekuk lutut padaku dengan cara yang lebih sederhana, tapi setelah kompetisi kemarin, aku merasa cara itu tidak akan berhasil." "Kurasa menyelesaikan hal ini dengan memasak akan jadi jauh lebih cepat."
Souma mengerutkan keningnya saat Asahi terus melanjutkan.
"Setelah mencari tau tentang kehidupanmu sehari-hari dan mengamati tempat ini, aku merasa... sia-sia saja bagi orang sepertimu terkurung dalam tempat seperti ini. Tempat makan seperti ini tidak layak untukmu."
Souma menggertakkan giginya dalam upaya menahan emosi.
"Kemampuanmu akan menjadi sia-sia, kau tidak akan berkembang di sini. Orang legendaris yang disebut 'Asura' itu ternyata tidak sehebat yang aku kira. Dan teman-temanmu di Tootsuki yang kemampuannya tidak seberapa. Meskipun mereka menghadapi kami di BLUE, mereka tidak akan bisa menang melawan kami. Nee, Souma-kun, daripada tinggal bersama orang-orang itu, kau pasti akan lebih bahagia jika bersamaku. Jadi..."
Oke, sudah cukup. Kesabarannya telah habis.
"Baiklah! kuterima tantanganmu!" "Setelah berani-beraninya menghina Yukihira dan teman-temanku, aku akan benar-benar mengalahkanmu dengan masakanku." Souma menggeram dengan marah. "Dengan masakanku, akan kubuat kau menyesal karena sudah menghina Yukihira!" Souma berkata dengan berapi-api dan penuh tekad.
Asahi menyeringai mendengar itu. Salah satu orang di belakangnya membawakan sebuah hidangan yang masih ditutupi dan memberikannya pada Asahi.
Asahi membuka penutupnya dan membiarkan ledakan aroma keluar.
Souma membelakkan matanya saat mencium aromanya.
"Aroma yang nikmat sekali!" "Masakan ini dieksekusi dengan sempurna, aku jadi tidak bisa bergerak..." "Jadi sehebat inikah kekuatan Noir...?" Souma hampir jatuh dan berpegangan pada meja.
"Aku akan mengalahkanmu dalam BLUE dan menjadi juara. Di sanalah kita akan saling mengucapkan sumpah. Dikelilingi banyak saksi!" seringainya mulai melebar "Kuliner dari dunia akan jatuh dalam genggamanku!" mata Asahi yang sedingin es bertemu dengan mata merkuri yang menyala-nyala "Begitu pula dengan restoran Yukihira dan Akademi Tootsuki." "Kedengarannya bagus, 'kan?"
Souma menyipitkan matanya.
"Kalau begitu, my prince..." Asahi berbalik saat orang-orang di belakangnya mulai keluar. "Sampai jumpa di BLUE." orang-orang lainnya membiarkan jubah hitamnya membutakan Souma saat dia melompat keluar.
Souma melihat ke jendelanya yang terbuka. Dia berdiri dengan benar dan menatap langit malam.
"Aku pasti akan meraih puncak!"
•
•
•
•
Yeah done.
Akhirnya aku update chapter baru. Maaf ya minna, aku bener-bener sibuk dan juga bingung. Semoga bulan depan aku bisa update lebih teratur dan lebih sering lagi.
Ngga tau sih, harusnya april ga sibuk-sibuk amat. Tapi apalah daya aku jadi wakil ketua OSIS, KEBANYAKAN TUGAS.
Huaa, tapi gapapa lah, harus disyukuri yekan :D
REVIEW. AKU BUTUH REVIEW
Tunggu chapter selanjutnya ya!
Jaa~
