Previous chapter

"Aku tidak akan sudi kalau Souma menikah dengannya."

"Aku akan mengalahkan anak berhargamu itu dan menjadikannya milikku."

"Kau takkan bisa membahagiakan Yukihira."

"Pastikan kau menepati janjimu."

"Dengan ini aku tidak perlu menjadi pengantinmu, kan?"

"Tapi aku yakin kau akan menemukannya."

"Itulah kenapa aku sangat menyukaimu."

"Yah, itu artinya kali ini adalah pertandingan untuk memenangkan hatinya."


"Cita rasaku... dan masakanku sendiri, ya?"

Asahi berjalan keluar tanpa menyadari kehadiran orang lain di dekatnya.

"Kau pasti akan menemukan sesuatu yang kau cari itu." Asahi berhenti saat Joichirou mengeluarkan suaranya.

Joichirou tersenyum padanya. "Selain itu, Asahi. Apapun kata orang lain, aku tetap ayahmu dalam memasak." Dia berkata dengan tulus, mengharapkan jawaban yang mengejek atau semacamnya dari Asahi, namun.

"Tidak."

"Huh?" Joichirou yang bersandar dengan tangannya yang disilangkan menatapnya bingung.

Asahi menghela nafas dan alisnya berkerut serius yang main-main. "Aku masih belum bisa menganggapmu sebagai Ayahku. Tidak sampai aku menikahi Souma."

Urat muncul di wajah Joichirou, menandakan bahwa dia sama sekali tidak senang. "Masih saja soal itu!? Jika kau macam-macam, aku tidak akan menahan diri lagi!" Joichirou menggeram padanya sambil berusaha menahan tangannya yang sudah gatal sekali untuk menghantamnya.

Sementara Asahi hanya tersenyum tanpa dosa. "Sampai jumpa, calon ayah mertua." Dia melambaikan tangannya dan berjalan pergi meninggalkan Joichirou yang masih sangat geram.

"Asahi-sama!" Terdengar suara Sarge memanggil dari belakang.

"Aku juga keluar dari Noir." Kata Asahi yang menghentikan langkahnya namun tidak menoleh ke belakang.

"Beginilah akibatnya bersikap seperti bos jahat."

"Kalian bebas mau berbuat apa."

Sarge sedikit terkejut mendengar itu. "Tidak- tapi maksudku, apa Anda tidak ingin menonton pertandingan final calon pengantin Anda?" Katanya, sangat tidak terduga bagi mantan pemimpin Noir.

Semburat merah tipis menghiasi pipinya. "Tentu saja aku akan melihatnya! seperti yang kubilang aku akan menjadikannya pasangan hidupku. Aku hanya akan pergi sebentar." Kata Asahi yang sedikit tersipu.

"Asahi-sama..."

"Kalau begitu, kami akan mengikuti Anda! ke mana pun itu!" Sarge bersama dua anggota lain di belakangnya memutuskan.

Asahi mengangkat alisnya dan menghela nafas. "Kalian aneh sekali, ya."

"Tak ada untungnya mengikutiku, lho." Katanya saat dia mulai berjalan lagi dan diikuti para pengikutnya.

Sementara itu, Kuga dan Eishi menatap mereka yang berjalan pergi dari atas.

"Tsukassan lagi apes banget, ya." Kata Kuga. "Bisa-bisanya rekan jejakmu tercoreng kelompok seperti itu."

Tsukasa yang masih tersenyum simpul berkata. "Tidak, aku justru bersyukur."

"Mereka mengajariku sesuatu yang tak kumiliki."

"Kalau mereka memang koki sejati, pastinya kekalahan ini akan menjadi batu loncatan mereka untuk menuju tujuan yang baru." Ada kelegaan tersendiri di matanya saat mengatakannya.

Eishi menatap kepalan tangannya. "Aku juga harus berusaha lebih keras."

"Untuk Rindou, dan juga demi Yukihira."

Kuga hanya tersenyum mendengar itu. "Iya iya, kita semua harus berusaha lebih keras."


Akhirnya pertandingan final antara Souma dan Erina terjadi. Souma yang melihat Erina memasak dengan bersedih mendorongnya agar memasak seperti dulu lagi dengan masakannya. Tentu saja penelanjangan terjadi, baik ibu ataupun anak sama-sama terkesan dengan rasa masakannya.

Souma mengeluarkan kata-kata yang membuat Erina terpancing dan tertantang untuk membuat hidangan yang lebih baik darinya.

Hanya ada sedikit selisih nilai masakannya, namun Souma memenangkan selera lidah dewa Bookmaster.

"Yukihira-kun menang!!!!"

Sorakan gembira kembali terdengar saat Yukihira Souma memenangkan kompetisi BLUE yang sekarang memegang piala di tangannya, dan Erina yang menggerutu kesal karena menjadi juara kedua.

Tapi walau begitu, Souma menyerahkan posisi chef Bookmaster kepada Erina yang menurutnya lebih cocok. Erina seharusnya tidak terlalu terkejut karena Souma memang selalu seperti itu, tapi dia senang karena bisa memasak untuk sang ibu.

Erina yang merasa bahwa hubungannya dengan ibunya sudah lebih baik, berterimakasih pada Souma. Ya, pada akhirnya dia tidak akan bisa sampai di sini jika bukan karena Yukihira Souma. Dia memasak dengan sepenuh hati karena Souma, dia bisa memasak dengan bahagia karena Souma.

Erina tersenyum tulus. "Terima kasih, Yukihira-kun."

Souma mengangkat alisnya. "Ah? apa ini? seperti bukan dirimu saja." Katanya sambil menggoda.

Dan tentu saja Erina yang tsundere itu memerah. "A-apasih!"

Souma dengan teman-teman asrama lainnya tertawa renyah.

Erina tersenyum melihatnya. "Dasar..."

"Kuharap kau tidak memusuhiku setelah ini." Souma terkekeh.

"Hah? kupikir Nakiri sudah memusuhimu sejak dulu deh." Ucap Aioki dengan nada heran.

Itu membuat Souma kembali tertawa lepas. "Ahahahaha! kau benar juga!"

Erina bingung dengan itu "A-"

Dia berdehem sebelum berkata. "Mungkin aku kalah darimu hari ini! tapi jangan pikir aku akan kalah lagi saat tanding denganmu! dengar ya, aku belum mengakui masakanmu sedikitpun-"

"Eh? benarkah? tapi Erinacchi terlihat sangat menikmatinya." Kata Yoshino yang membuat Erina kembali tersipu.

"Bu-bukan begitu!"

Tapi Erina melanjutkan.

"Pokoknya, aku tidak mungkin bisa menganggapmu musuh ataupun memusuhimu setelah apa yang kau lakukan sampai saat ini, setelah kau membantuku selama ini. Tapi persaingan kita belum berakhir lho." Katanya dengan seringai khasnya.

Souma mengangkat alis lalu tersenyum. "Jadi sekarang kita adalah rival, ya?"

"Itu terdengar lebih baik!" Megumi menepuk tangannya.

"Hei, Yukihira, meskipun Nakiri sudah menjadi rival mu juga, jangan lupa persaingan kita yang masih belum selesai lho!" Ucap Takumi.

Souma tertawa. "Tidak akan. Tapi yang jelas aku tidak akan kalah darimu."

Takumi mendengus dengan seringai bangga di wajahnya. "Heh, seperti aku akan kalah saja."

Mereka melanjutkan candaan mereka sementara Joichirou menatap dari kejauhan dengan senyum lega dan bangga di wajahnya.


Asahi menonton.

Mulai dari saat dia memasak, sampai dia yang memegang piala di atas panggung.

Dia mendengar bahwa Souma menyerahkan posisi sebagai chef Bookmaster kepada Erina. Dia dan tiga rekannya yang lain tercengang dengan itu.

Namun seharusnya Asahi tidak terkejut. Dari awal Souma memang orang yang luar biasa.

Sifat itulah yang membuatnya jatuh cinta. Asahi tersenyum kecil. "Dia benar-benar menang." Ucapnya pelan.

Sarge ikut tersenyum.

"Asahi-sama, apakah Anda tidak akan menemuinya?" Tanyanya.

"Dia masih bersama teman-temannya. Aku tidak mau menganggu." Katanya yang masih menatap Souma yang tertawa bersama teman-temannya.

"Aku ingin melihatnya tertawa dari dekat."


"Yukihira!" Eishi memanggil.

Souma mendongak dan melihat dua kakak kelasnya berjalan menghampirinya. "Oh, Tsukasa-senpai, Kuga-senpai."

Kuga mengguncang tubuhnya dengan semangat. "Kau benar-benar menang, Yukihira-chin!! mari kita merayakannya!!!" Dan memeluknya erat.

"Oh, itu ide yang bagus. Di asrama?" Tiba-tiba saja Isshiki muncul entah dari mana.

"Itu akan menyenangkan, Isshiki-senpai." Souma tersenyum saat Kuga melepaskan pelukan beruangnya.

"Selamat ya, Souma-kun. Kau benar-benar menjuarai kompetisi ini." Ucap Isshiki memberi apresiasi pada adik kelasnya.

"Ahaha... itu juga jika bukan karena kalian semua, aku tidak akan sampai sini." Kata Souma sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Jangan merendah, Yukihira-chin!" Kata Kuga yang masih merangkulnya.

"Mari bergabung dengan yang lainnya di luar." Isshiki menggedikan kepalanya.

"Ayo, Yukihira-chin!"

"Duluan saja, aku akan menyusul setelah membereskan barang-barangku." Kata Souma sambil mengangkat tangannya.

"Baiklah. Jangan terlalu lama ya!"

Souma memberi acungan jempol saat Kuga dan Isshiki berjalan pergi.

Namun Eishi masih di sana.

Souma menatapnya.

"Tsukasa-senpai tidak ikut yang lain?"

Eishi tetap diam di tempatnya. Melangkah sedikit untuk mengurangi jarak.

"Yukihira." Tiba-tiba Eishi memanggil.

"Hm?" Souma memiringkan kepalanya.

Eishi mengangkat bibirnya menjadi senyuman dan berkata dengan lembut sambil menatap adiknya kelasnya.

"Selamat atas kemenanganmu."

Itu terdengar sangat tulus

Souma diam sesaat sebelum membalas dengan senyum lembut dan mata emasnya yang bersinar "Terima kasih."

Eishi hampir tersipu melihatnya. Dia merasa lebih gugup dari biasanya sekarang. Dan tanpa pikir panjang dia memanggil namanya lagi.

"Yukihira"

"?" Souma kembali menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya.

Eishi membuka-tutup mulutnya dengan ragu. "Apa kau..." Tentu saja dia berpikir untuk mengajaknya keluar- atau itu 'kencan' yang biasa orang-orang sebut. Namun itu masih sangat terlalu cepat. Dia harus melangkah selangkah demi selangkah. Pelan tapi pasti.

"Jangan melakukan hal bodoh, Eishi."

Eishi menarik napas panjang namun tenang. "Kapan-kapan makan bareng yuk. Walaupun kita sudah beberapa kali bertanding dan latihan bersama, tapi diluar memasak kelihatannya masih belum apa-apa, aku juga ingin lebih mengenal adik kelasku. Rindou juga sepertinya rindu denganmu." Eishi menelan ludah dengan lega sekaligus tidak nyaman.

Souma berkedip, lalu tersenyum lagi "Tentu."

"Itu pasti akan menyenangkan. Walaupun aku bertaruh pasti hampir seluruh obrolan hanya tentang memasak." Kata Souma sambil tertawa kecil.

Eishi menatap pada Souma yang masih tertawa.

Dia terlihat sangat manis. Tidak heran jika banyak gadis yang naksir padanya.

Eishi terus memandanginya tanpa sadar sampai akhirnya Souma membawanya kembali ke kenyataan.

Eishi dan Souma sedang berjalan untuk menemui yang lain saat tiba-tiba Eishi berhenti dan bilang bahwa dia lupa mengabari Rindou yang secara tegas menyuruhnya untuk selalu mengabarinya tepat waktu jika ada kabar baru, Eishi tidak sengaja meninggalkan ponselnya di suatu tempat dan terpaksa pergi untuk mengambilnya.

Eishi meminta maaf karena tidak bisa pergi bersamanya dan memintanya untuk pergi duluan daripada yang lain menunggu.

"Hati-hati di jalan."

Souma melambaikan tangannya sebelum melanjutkan perjalanannya.

Baru sampai di depan gerbang asrama Bintang Kutub, sebuah suara memanggil namanya.

"Souma-kun." Dia kenal suara itu.

Dia berbalik dan benar saja. "Asahi-san..."

Di sana, di depannya berdiri Saiba Asahi. Dia terlihat senang, namun ada kesedihan di matanya. Dia tetap tersenyum pada Souma.

"Selamat atas kemenanganmu. Aku juga belum minta maaf soal apa yang kukatakan waktu itu." Katanya, yang sekarang senyumnya mulai memudar.

"Setelah aku tau betapa berharganya tempat itu bagimu, dan semua kenangan yang ada dengan keluargamu, dan kebersamaan dengan teman-temanmu... Sepertinya aku sudah sangat keterlaluan, ya?" Raut wajahnya kini sepenuhnya berubah menjadi penyesalan.

Souma diam di tempatnya.

Asahi mengepalkan tangannya. "Aku benar-benar sudah berhasil menjadi orang brengsek. Aah... sekarang bahkan aku tidak yakin masih punya peluang untuk mendekatinya." Dia tidak benar-benar menatap ke arah lawan bicaranya sekarang.

"Itu benar." Suara Souma terdengar tajam dan dingin.

"Kau memang benar-benar keterlaluan." Souma sendiri juga tidak menatapnya langsung.

"Sangat sangat saangat keterlaluan." Nadanya yang dingin dan tegas tidak berubah sedikitpun.

Asahi mengerutkan alisnya dalam kemarahan pada dirinya sendiri.

"Aku bahkan tidak tau atas dasar apa kau mengatakan hal seperti itu. Walaupun aku tau tujuanmu adalah untuk memprovokasi ku, tapi aku tidak percaya kau benar-benar mengatakan hal yang jahat sekali, mulutmu memang pedas ya. Dan aku benci orang-orang yang sok tau."

Asahi menggigit bibirnya dan matanya menatap ke bawah. Kepalan tangannya gemetar di sisinya.

"Walaupun aku benar-benar membenci hal itu, tapi aku tidak bisa terus membenci seseorang seperti itu, kan?." Kata-katanya menyadarkan Asahi dari pikiran keputusasaannya.

Souma menarik napas lalu melanjutkan. "Dan sepertinya kau sudah bukan orang keterlaluan itu lagi. Aku tidak punya alasan untuk tidak memaafkan orang yang kehilangan arah dan sekarang hanya ingin menemukan tujuan barunya."

Mata Asahi membelak dalam keterkejutan. Kini Asahi mendongak dan menatap tidak percaya pada rambut merah. "Padahal ada banyak sekali alasan untuk tidak memaafkan ku yang bajingan ini, tapi... kau malah mengatakan hal seperti itu. Sial, kau tidak pernah berhenti membuatku kagum, dan sekarang aku tidak bisa menyangkal perasaanku lagi."

Asahi tidak bisa menahan senyum. "Kau sangat lucu ya." Asahi berkata lembut.

Souma melirik Asahi dan cemberut. "Apa sih..."

"Teman-temanmu sudah menunggu."

"Aku berharap aku juga bisa bergabung, tapi sepertinya sekarang sangat tidak mungkin. Soalnya mereka benar-benar tidak suka padaku sih." Katanya sambil menatap asrama yang menyala dan suara-suara berisik dari dalam.

Souma sedikit mengerutkan keningnya. Dia merasa agak tidak enak. Tapi dia yakin yang lain sudah menunggunya daritadi. "Aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan itu sekarang. Aku harus pergi."

Asahi menyunggingkan senyum khasnya lagi. "Ini bukan perpisahan, jadi aku tidak akan mengucapkan 'selamat tinggal'."

Souma mengangkat alisnya dan berhenti saat dia baru saja masuk melewati gerbang.

"Hanya ada sampai jumpa."

Souma sweatdrop. "Sepertinya orang ini akan lebih sering menemui ku, ya?" Dia menghela napas dalam kekalahan lalu masuk.

Meninggalkan Asahi berdiri di sana.

Tangannya dimasukkan ke sakunya saat dia menatap ke langit.

"Sial... andai saja aku bisa bergabung dan merayakan kemenangannya..."

Dia menutup matanya dan menghembuskan nafas pelan.

"Aku benar-benar ingin..."

"Ini adalah hukuman. Pasrah saja lah."


Saat Souma membuka pintunya dan masuk, dia disambut dengan pelukan kencang.

"Yukihira!! kau ini kemana saja?!?!" Yoshino berteriak saat dia menggosok-gosokkan kepalanya ke pipi Souma.

"Uh... aku-"

"Kami pikir seseorang menculikmu atau bagaimana, kami sudah menunggu hampir 2 jam!" Ucap Takumi yang mencak-mencak sambil menginjak-injakkan kakinya ke lantai.

Souma terkejut dengan gagasan tentang seseorang menculiknya. Dia baru saja akan menjawab saat seseorang menginterupsinya lagi.

"Syukurlah kau baik-baik saja, Souma-kun. Kami benar-benar khawatir." Ucap Megumi dengan air mata yang sudah terbentuk di sudut matanya.

"Dan juga, di mana Tsukassan? kenapa dia tidak bersamamu?" Kata Kuga yang menggunakan nada tidak senangnya.

"Tsukasa-senpai menyuruhku pergi duluan karena dia harus mengabari Kobayashi-senpai." Ucap Souma yang akhirnya bisa bernapas dengan lega setelah Yoshino melepaskannya.

"Seharusnya kau menjelaskan ini, tapi sekarang adalah waktunya untuk perayaan, jadi kita kesampingkan itu sekarang." Ucap Isshiki yang hanya memakai celemeknya seperti biasa.

Souma tersenyum dan dirinya kembali ingat bahwa dia baru saja menang di BLUE, bahkan mengalahkan Erina.

"Yeahh!!! waktunya pesta!!!" Yoshino memimpin jalan ke ruang makan.

Souma baru berjalan beberapa langkah dan dia ditarik ke samping dengan pelan oleh ayahnya.

"Kau bertemu dengannya?" Joichirou bertanya dengan khawatir namun serius.

Souma tahu bahwa ayahnya mencemaskan dirinya, dan mungkin... berusaha menjauhkan dirinya dari Asahi?

"Yah..., dia hanya-" Souma baru menjawab saat dia dipanggil oleh kawan-kawannya untuk segera bergabung.

Souma dengan ragu berjalan pergi untuk bergabung dengan temannya dalam perayaan. Tapi tidak sebelum dia menjawab dengan jelas.

"Dia hanya memberi ucapan selamat." Souma tersenyum pada ayahnya dan pergi.

Joichirou mengerutkan keningnya. Dia tidak tau mau bagaimana jika Asahi masih mencoba mendekati anak kesayangannya.

"Ayah! apa yang kau lakukan di situ!?" Suara ceria putranya menghangatkannya.

"Ayo, Joichirou-san! Bergabunglah!"

Joichirou mendengus sebelum berjalan menuju tempat mereka berkumpul.

"Aku hampir lupa kalau kau punya banyak teman yang peduli padamu. Seharusnya aku tidak terlalu khawatir."

"Hari ini aku tidak akan membuatkan apa-apa lho!" Kata Joichirou.

"Oh, ayolah. Apa ayah tidak mau memasak setidaknya sedikit di hari di mana anaknya menang?" Souma yang duduk di kursi menyilangkan tangannya dengan cemberut dan memasang ekspresi kecewa yang main-main.

Souma sebenernya ingin dan mau memasak untuk yang lain. Tapi staminanya benar-benar sudah terkuras untuk pertandingan sebelumnya.

"Dia seperti siap pingsan kapan saja. Dengan pertandingan berturut-turut seperti itu tentu saja sangat melelahkan." Ucap Hayama menatap Souma yang duduk di kursinya, mencoba terlihat seperti biasanya namun kelelahannya tetap terlihat dengan jelas.

Nikumi menatap Souma khawatir.

"Kalau begitu, karena teman-teman asrama Bintang Kutub kami sudah memasak tadi, sekarang kami anggota Sepuluh Dewan Elit lainnya yang akan memasak untuk Kursi Pertama yang sudah berjuang sejauh ini." Kata Alice dengan senyumnya.

"Tunggu saja, kami akan menghidangkan masakan terbaik kami hingga membuatmu takjub dengan rasanya." Ucap Takumi yang selalu kompetetif.

Souma terkekeh mendengarnya. "Kalau begitu, mohon bantuannya."

Joichirou mengangkat bahunya "Aku hanya bercanda kok. Aku akan memasak. Dan mungkin aku akan tidak sengaja menyelipkan 'hidangan spesialku' ke dalam makananmu." Katanya.

Souma memutar matanya dan memberi jawaban sederhana, tidak memiliki energi lebih untuk memberi respon yang lain. "Ya ya, aku sangat menantikannya."

"Dan kurasa, kau sudah pantas untuk mengambil alih Yukihira Diner sekarang." Joichirou berkata tanpa menatapnya.

Souma menatap diam pada ayahnya, berharap dia tidak salah dengar.


Akhirnya update...

Saya tidak ingin memberi alasan lain yang berbelit-belit mengapa terlambat update.

Saya harap kalian menyukai chapter ini.

Saya tidak bisa menjanjikan akan update secepatnya, tapi bulan depan saya pasti akan update:D

Dan tentu saja akan lebih cepat jika ada banyak review dari kalian para pembaca.

Osomatsu!