Sheeeeshhh... I'm back!
Do you miss me?
Ah, terserahlah. Silahkan baca saja. Mungkin bab ini sedikit lebih panjang dari biasanya. Tapi saya harap kalian tidak keberatan.
Dan juga, Selamat ulang tahun untuk Saiba Asahi!! August 2nd
Saa, oagariyo!
"Oh, jadi Asahi-san adalah anak Nakamura-san?" Ucap Souma yang sedang memotong stroberi menjadi dua bagian.
"Begitulah."
"Berarti dia kakaknya Nakiri, ya?" Souma bergumam saat dia menata toping Crêpe nya.
"Souma" Joichirou duduk menonton putranya yang masih sibuk menghias.
"Kau mau pulang? Yang kukatakan itu serius lho." Ayahnya menawarkan. Setelah pesta itu, entah kenapa Souma menjadi agak lebih pendiam.
"Entahlah. Anehnya aku masih belum merasa cukup, bahkan setelah kejuaraan BLUE. Aku masih belum pantas menempati posisi kepala koki Yukihira." Souma menjawab tanpa menoleh sedikitpun.
Joichirou menghela nafas. Berpikir bahwa putranya terlalu keras pada dirinya sendiri. "Tidak. Kau membuatku bangga, aku mengakuimu dan kemampuanmu sudah cukup untuk—"
"Pokoknya aku akan memulai dari awal lagi." Tapi Souma terlalu keras kepala.
Joichirou berdiri dan bersandar pada kursi, menatap anaknya. "Kau benar-benar tidak mendengarkan ku ya?"
"Aku akan memperluas wawasan ku. Tootsuki memang tempat yang sangat luar biasa, tapi ruang lingkup ku tidak hanya sebatas Tootsuki." Souma selesai dengan toping Crêpe nya dan meletakkan satu piring lainnya ke meja yang dimaksudkan untuk ayahnya.
Joichirou mulai khawatir ke mana arah percakapan tersebut.
"Sepertinya aku harus pergi ke luar negeri atau semacamnya—"
Nah.
"Tidak." Dengan tegas Joichirou menolak ide tersebut.
"Huh?" Souma yang baru saja duduk dan akan memakan crêpe nya berhenti.
Joichirou mengusap wajahnya lelah. "Kau pikir berapa umur mu?"
Souma mengerutkan keningnya dan berusaha membela diri. "Aku bisa jaga diri...—"
"Kau hanya 16." Fakta.
"Aku sudah 16." Bandel kan?
Joichirou memutar matanya. "Masih di bawah umur untuk berkeliling dunia sendirian." Memang terkadang menyenangkan baginya berhadapan dengan Souma yang keras kepala, namun tidak, dalam hal yang serius.
Souma menautkan alisnya kesal. "Tapi ayah...!"
"Mana mungkin aku membiarkan mu sendirian di luar jangkauan ku dengan Asahi yang bisa muncul kapan saja..." Joichirou bergumam pelan.
"Hah?" Souma memandang ayahnya heran saat dia bergumam.
Joichirou mengangkat bahunya. "Kau tidak tau betapa berbahayanya di luar sana."
"..." Souma berusaha menyangkal namun dia hanya membuka mulutnya tanpa sepatah katapun keluar. Dia tau apa yang ayahnya katakan ada benarnya.
"Bagaimana jika terjadi apa-apa?"
Bahunya turun, agak mengerucutkan bibirnya.
Joichirou menepuk punggungnya melihat Souma yang sedikit murung. "Ayolah, aku akan mengajarimu banyak hal. Semua yang telah kupelajari dari banyak negara yang telah ku kunjungi." Katanya, mencoba membujuknya.
"Baiklah." Souma kembali ke crêpe nya dan dan memakannya dengan 'setengah hati'
"Sepertinya kau sedang mudah kesal. Bad mood?" Ujar Joichirou.
"Apa sih!" Merasa kesal karena diledek terus, Souma mengambil kembali crêpe yang seharusnya untuk ayahnya.
Dengan berat hati Joichirou membiarkannya. Di situ dia berpikir Souma seperti seorang perempuan yang kalau sedang kesal pasti makan banyak.
Joichirou hanya menatap Souma yang menyantap crêpe nya yang belum sempat ia cicipi.
-
-
-
-
"Apa? Souma-kun tidak ada di sini?"
"Jangan bohong padaku."
"A-aku tidak berbohong kok! sungguh!" Sotsuda menjawab dengan panik saat Asahi menatapnya dengan penuh intimidasi padanya.
Asahi mempercayainya dan membiarkannya pergi, lebih tepatnya menyuruhnya hilang dari pandangannya.
"Dia pulang, ya?" Asahi bersandar pada dinding sambil menyilangkan tangannya.
"Mau apa kau?" Tiba-tiba saja Erina muncul di sebelahnya dan membuat Asahi hampir melompat karena terkejut.
"Oh, Erina. Jangan mengagetkanku begitu dong." Asahi kembali santai saat melihat itu hanyalah adiknya.
Erina menatap serius padanya. "Apa yang kau rencanakan? Jangan ganggu Yukihira-kun."
"Aku hanya ingin menyapa." Asahi menjawab dengan setengah tersenyum. Lalu sebuah kesimpulan muncul di kepalanya.
"Ah, jangan-jangan kau juga suka padanya ya?"
Kalimat itu tentu saja berhasil membuat Erina yang tsun-tsun itu merah padam di seluruh wajahnya.
"Hah!? apa yang—!"
"Maaf, tapi kau harus mundur, Erina. Souma-kun akan menjadi milikku." Asahi dengan sombong menyatakan.
Erina pulih dari rasa malunya dan kembali ke dirinya yang biasa. Tangannya mengepal kuat menahan amarah. "Bodoh! jangan macam-macam padanya, jangan dekati dia!"
Asahi membuat ekspresi 'lah ngatur' padanya "Apaan sih? Ayah saja keliatannya setuju-setuju saja."
"Aku akan melamarnya. Ayah pasti merestui. Tapi bagaimana dengan ibu ya..." Asahi membuat pose berpikir saat dia mulai bergumam soal desain, tema, dan altar untuk pernikahannya.
"Tidak! kau tidak boleh melamarnya! Lagipula dia itu bahkan masih belum lulus SMA! dia masih ilegal." Erina menegaskan hal tersebut.
"Untuk saat ini hanya bertunangan. Kami akan menikah saat dia sudah cukup umur." Pria yang satu ini suka sekali menjawab.
"Agghhhh kenapa pula harus aku yang menghentikan kelakuan bodohnya?!!" Sang adik sudah lelah dengan kakaknya. "Cukup dengan omong kosong mu!!" Tanpa sepenuhnya sadar, tangannya melayang ke atas lalu mendarat di wajah sengak Asahi.
plakk!
"Nice slap! Erina!" Alice bertepuk tangan. Ternyata sedari tadi Alice menonton mereka.
Souma sedang belajar di kamarnya saat handphonenya berdering. Panggilan dari nomor tidak dikenal. "Hm? siapa ini?"
Namun tetap diangkat.
"Halo?"
"Halo, Souma-kun." Nyaris saja Souma menjatuhkan handphonenya.
"Ap– Asahi-san!?" Heran. Bagaimana dia bisa mendapatkan nomornya– walaupun baginya pasti sangat mudah. Souma pikir dia akhirnya bisa tenang kembali ke rumahnya, tapi nyatanya sang pencipta berkata lain.
"Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau tidak bilang bilang saat mau pulang?"
"Memangnya aku harus?"
"Karena aku sudah punya nomor mu, besok kita keluar ya?"
Terkejut dengan ajakan tiba-tiba, Souma spontan menjawab. "Tidak."
"Aku akan menjemputmu."
Maksa banget.
"Oh, dan jangan lupa simpan nomor ku ini."
"Kau ini orangnya suka sekali memaksa ya."
"Besok siap-siap saja, aku akan beritahu jam nya."
"Menjauh darinya."
"Sial. Jantungku hampir lepas." Kaget, saat sedang bercakap-cakap manis dengan sang pujaan hati, mertua malah ikut serta– dibaca: menengahi.
"Tidak Asahi-san, aku menolak. Selamat tinggal."
"Tunggu—"
Souma menghela nafas panjang. "Dia tidak akan berhenti ya?" Kasihan sekali nasib anak ini.
Sang ayah mengambil handphonenya. "Blokir nomornya."
.
.
.
.
.
Seorang gadis dengan rambut coklat pendek berdiri di depan restoran Yukihira. Tangannya dengan gugup menggenggam roknya. "Pe-permisi..." Bahkan suaranya pun pelan sekali.
"Akhirnya aku bisa melihat Yukihira-kun untuk beberapa waktu kedepan. Kuharap Yukihira-kun lebih sering pulang." Gadis itu berseri-seri untuk sesaat. Yup, Kurase Mayumi.
"Oi, Mayu, masuk sajalah. Pintunya juga dibuka." Sahabatnya menyenggol lengannya. Koganei Aki.
"A– umm..." Mayumi terlihat bingung dan ragu.
"Permisi." Suara lain terdengar. Dari seorang pria yang berdiri di sebelah mereka.
"Eh?" Mayumi dan Aki sontak menoleh pada orang tersebut.
Aki mengamati orang itu dengan tatapan kritis dan bertanya-tanya. "Anda siapa?"
"Aku ingin bertemu Souma-kun." Asahi hanya menjawab seolah itu bukan apa-apa.
Apa yang terpikir oleh Mayumi dan Aki saat itu adalah "Dia kenalan Yukihira dari Tootsuki?"
"Ah, Kurase, Koganei, Apa kalian sudah menunggu lama—" Souma secara otomatis berhenti saat melihat Asahi berdiri di depan restorannya.
Asahi memberinya senyum sapaan. Lalu beralih pada dua gadis di sana. "Ngomong-ngomong siapa kalian berdua?"
"Aku teman smp nya dan dia pacarnya." Dengan entengnya Aki berujar.
Sukses membuat Asahi membeku.
"Waa?! ehh! ah... uh... aku– eehh..." Mayumi bingung harus menanggapi bagaimana. Memang itu bukan kenyataannya, namun sebagian besar dari dirinya sangat senang.
Asahi menatap Souma yang sama sekali tidak mempedulikan atau mendengarkan percakapan mereka dan sibuk mempersilahkan pelanggan yang baru datang untuk masuk.
"Dia tidak membantahnya?! apa itu artinya benar?!" Harapannya hancur seketika. Tapi tidak, dia mengumpulkan kembali semua serpihan harapannya dan menyusunnya seperti semula. Selama janur kuning belum melengkung, masih bisa ditikung. Atau begitulah istilahnya.
Souma membiarkan Mayumi dan Aki masuk, lalu melirik Asahi. "Aku tidak menyangka kau benar-benar datang." Souma berlalu. Asahi baru saja akan mengikutinya dan–
"Ternyata kau masih berani datang, ya?" Joichirou berkata dengan nada mengancam, dengan sebuah pisau di tangannya. Pisau dapur. PISAU!!!
Asahi tertawa canggung. "... Aku kemari untuk makan."
.
.
Ya. Tentu saja Asahi makan. Sambil menonton kedekatan Mayumi dengan Souma.
"Sial... mereka sangat dekat ya." Asahi membatin dengan iri, walaupun pikirannya sejak tadi juga bersuara "ah masa sih."
"Kau masih di sini?" Souma berkata saat dia berjalan ke arah Asahi yang duduk di depan dapur. Souma mengambil piring-piring yang kotor dan membawanya untuk dicuci.
Asahi mengusap rambutnya saat dia menghela nafas. "Sudah kubilang aku akan mengajakmu jalan-jalan..."
"Pulang saja, Asahi-san." "Eh, sekarang kan sudah menjadi Nakiri ya. Kalau begitu Nakiri-san saja."
"Padahal aku lebih suka kau memanggilku dengan nama kecilku." Batinnya dengan wajah kecewa.
"Ya, benar. Dan kau juga akan menjadi Nakiri." Ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Tidak."
[Landline phone ringing]
Souma pergi meninggalkan Asahi dan mengangkat telepon.
"Kediaman Yukihira di sini."
Souma melakukan percakapan sebentar sebelum teleponnya ditutup dan kembali ke dapur.
"Nakiri menyuruhmu kembali." Katanya.
"Erina?" Asahi bertanya dengan penasaran.
"Ya."
Lalu menopang wajahnya dengan tangannya dan membuat ekspresi bosan. "Tidak ah. Aku masih betah."
Souma mengabaikan sikapnya.
"Souma, tolong beli beberapa barang ini di minimarket." Ayahnya memberinya selembar kertas untuk hal-hal yang perlu dibeli.
Asahi tiba-tiba mendapat kembali semangatnya. "Kesempatan emas."
"Baiklah. Aku akan ganti baju dulu." Souma melepaskan celemek dan ikat kepalanya lalu naik ke atas.
Aki yang mendengar itu langsung berdiri dan memanggilnya dari tangga. "Yukihira, kau mau keluar? kami ikut ya–"
Asahi menghentikannya sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya. "Gadis-gadis di sini saja. Nikmati saja makanan kalian atau kalian bisa membantu mengantarkan pesanan jika kalian mau, Souma-kun pasti akan senang dengan itu."
Aki menatap pada Mayumi. Dan gadis itu mengangguk. "Kita membantu di sini saja." Aki mengalah dan ikut dengan kemauan Mayumi
Saat Souma turun dan menyelipkan kertasnya ke dalam saku, Asahi langsung berjalan mendekat.
"Aku temani ya?" Tawarnya
Souma menatapnya dengan ekspresi bosan dan heran. "Hah? kenapa?"
Joichirou melongok saat mendengar percakapan mereka. "Jika kau macam-macam padanya, aku tidak akan diam saja." Kata Joichirou yang sedang mengasah pisaunya. Seram.
"Baik, ayah mertua." Asahi cepat-cepat keluar dari restoran sebelum mendapat amukan dari Joichirou.
"Jangan lupa bawa ponselmu. Kalau ada apa-apa langsung telpon saja." Joichirou mengingatkan pada anaknya.
Souma selesai membeli semua yang diperlukan. Untung saja Asahi tidak melakukan yang aneh-aneh selama mereka di minimarket.
Mereka berdua berjalan berdampingan dengan tenang tanpa ada yang berbicara. Sampai Asahi memecahkan keheningan di antara mereka.
"Jadi, dia bukan pacarmu?" Ucapnya.
Souma menatapnya bingung, tidak mengerti siapa yang dimaksud dengan 'dia'
"Gadis rambut coklat itu." Sebenarnya Asahi takut dengan jawabannya.
"Oh, Kurase? Tidak, kami tidak berpacaran. Dia sahabatku. Memangnya kata siapa?" Souma balik bertanya dengan datar.
"Sepertinya dia benar-benar tidak menyimak percakapan sebelumnya." Kelegaan dan kegembiraan hampir meluap, namun Asahi mempertahankan image nya. Walaupun senyumnya menjadi semakin lebar dan berseri-seri.
"Bukan kata siapa-siapa. Hanya kesimpulan, kelihatannya kalian sangat dekat."
"Oh, begitu." Souma tidak berkata apa-apa lagi dan hanya melihat ke depan.
Sepertinya Asahi kelewat lega, karena dia secara tiba-tiba menarik Souma ke tempat yang sepi di belakang sebuah gedung.
"Apa yang kau lakukan!" Souma mencoba melepas tangannya walaupun sia-sia. "Sudah kuduga tidak akan baik-baik saja jika bersamanya."
Mereka berhenti dan Asahi memojokkan Souma ke dinding. "Bolehkan aku menciumu sedikit saja?" Asahi berkata tanpa dosa.
"Tidak." Souma mendesis tajam. Menyipitkan matanya.
Asahi malah bergerak mendekat. "Nakiri-san." Souma memperingatkan.
"Kau tau, aku lebih suka kau memanggilku seperti sebelumnya daripada 'Nakiri'. Aku akan melepaskanmu jika kau memanggilku begitu." Ucapnya.
Itu konyol, tapi Souma menyetujuinya. "Baiklah, Asahi-san." Souma mengucapkannya dengan sinis.
Asahi tersenyum puas dan melepaskan tangannya, membiarkanmu pergi.
Namun saat Souma akan berjalan pergi, kakinya tersandung kaki milik yang lain dan menjatuhkan mereka berdua.
Asahi telentang di lantai dan Souma ada di atasnya. Sikutnya sempat menopangnya sebelum bisa benar-benar jatuh di atas Asahi. Tidak, ini bukan posisi 'ambigu' seperti yang kalian bayangkan. Hanya posisi canggung biasa.
"Apa lihat-lihat?" Souma berkata dengan nada sedikit kesal. Kenapa juga dia harus terjebak dalam situasi seperti ini.
"Habisnya cuma ada wajahmu yang bisa kulihat sekarang." Asahi menjawab dengan seringai khasnya. Duh, sepertinya dia sangat senang sekarang.
"Kecelakaan kadang bisa sangat menyenangkan."
Souma mencoba bangkit namun Asahi menariknya dan membuatnya jatuh ke atas tubuhnya. Souma menautkan alisnya. "Kau ini apa-apaan sih... lepaskan."
Wajah mereka hanya berjarak 2 inci. Bibirnya mulai terbuka saat ia mulai mencondongkan kepalanya. Souma sadar apa yang sedang Asahi coba lakukan dan langsung menutup bibir yang hendak menciumnya dengan tangannya. "Hentikan." Souma melepaskan tangan Asahi darinya dan berdiri untuk membereskan belanjaan yang agak berantakan.
Setelah selesai, Souma memunggunginya. "Jangan ikuti aku. Pulang saja, Nakiri sudah berkali-kali mengirim pesan padaku."
Asahi yang baru saja berdiri mengusap bajunya yang sedikit kotor. "Aku akan menyudahi pertemuan kita hari ini setelah aku mengantarmu sampai kamar."
Yang dibalas dengan ekspresi jijik dan heran.
"Yasudah, kalau begitu sampai depan rumah saja." Senyumnya tidak hilang sama sekali.
Souma membiarkannya dan melangkahkan kakinya pergi.
Asahi mengikuti di belakangnya."Sensasi tangannya di bibirku sangat menyenangkan!" "Rasa iri ku sudah terbayarkan."
Fufufufu
Maafkan jika ada kesalahan dalam penulisan.
Silahkan beri tanggapan dan pendapat (jika ada)
Saya mohon untuk dukungan dan review nya. Terima kasih banyak telah mengikuti sampai bab ini. Saya harap kalian suka.
See you next time!
Osomatsu!
