Summary...

Merah berarti gairah.

Bisa berarti keberanian.

Bisa juga kebahagiaan atau sukacita.

Warna merah adalah simbol warna cinta.

Tapi merah juga bisa diartikan marah dan dendam.

Darah pun berwarna merah.

Berawal dari novel karangan Jiraiya yang berjudul Akai, Tuhan mempertemukan Naruto dengan Hinata. Dari novel itulah, benih-benih cinta tumbuh.

(Oke, intinya aku gak bisa bikin summary )


Disclaimer : Masashi Kishimoto.

Merah karya R-daisy.

Warning : AU, Typos, Gaje, Abal, tulisan italic untuk dunia novel dll

Di dedikasi untuk event Hinata bazar.


Di akhir musim panas, Tuhan memerintahkan langit menghujani sang bumi dengan airnya. Dalam seketika air itu membasahi sebagian tanah, anak-anak manusia sontak berlari mencari perlindungan, tidak termasuk segelintir orang yang tengah di dalam ruangan termasuk Uzumaki Naruto.

Pemuda itu sebenarnya bukan penduduk asli desa ini. Dia dipanggil anak Tokyo karena berasal dari sana. Sang ayah tahun ini ditugaskan di luar negeri, dan ibunya turut ikut sehingga dia dititipkan di sini, di pulau terpencil ini bersama kakeknya. Makanya, untuk sementara dia bersekolah di sini sampai orang tuanya pulang.

Di pulau yang jauh dari Tokyo ini, dia tak menemukan apapun selain sawah, hutan, dan pegunungan. Ini bukan pertama kali baginya, waktu kecil dia pernah liburan bersama orangtuanya selama seminggu. Jadi wajar dia masih ingat beberapa tempat yang di kunjunginya. Termasuk berteman dengan anak-anak setempat yakni Kiba dan gengnya.

Naruto mendesah, rintik air yang jatuh dari langit itu tak akan reda dalam waktu dekat. Dia menyesal tak membawa payung. Mereka bilang hujan itu berkah, tapi dia tidak menyukainya. Hujan membuatnya terperangkap, dan gelap awan serta suara hujan itu membuatnya ngantuk. Apalagi dia harus terjebak di perpustakaan sekolah, yang gedungnya terpisah. Dia sungguh bosan.

Melihat jam di ponselnya, bertanya-tanya kemana ketua OSIS itu pergi. Mereka sebenarnya habis menyelesaikan festival musim panas, Naruto yang hanya siswa biasa malah turut di seret dalam tugas OSIS dengan membantu mereka menaruh barang-barang ke dalam gudang yang dekat dengan perpustakaan ini. Padahal jika dihitung dia baru sebulan masuk sekolah.

Tapi, itu tak masalah baginya. Toh, menolong bukanlah hal yang buruk.

Karena bosan, kini kakinya bergerak malas menuju rak-rak buku. Di antara banyak buku, Naruto memilih menuju rak sejarah.

Ujung jarinya kemudian menelusuri buku-buku itu tanpa ada niat mengambilnya. Lalu manik safir itu menemukan hal yang tak biasa. Di ujung rak, dia mendapati warna sampul yang lebih mencolok. Warna merah marunnya seakan memanggil perhatiannya.

Naruto lamat-lamat menatapnya. Seperti dosa yang tak ingin di ketahui, buku itu terselip terlalu dalam dan hampir tertutup oleh buku yang lebih besar darinya.

Kemudian Naruto menoleh ke sekitarnya, tak ada seorang pun di sini, dan kesunyiannya pun hampir menyamai pemakaman. Dengan perlahan Naruto menarik buku itu dari tempatnya.

Akai karya Jiraiya.

"Hah, ini novel Kakek!?"

Seketika Naruto menutup mulutnya yang menggema itu, dia teringat kalau dirinya masih di perpustakaan. Lalu kemudian memaku perhatiannya kembali pada buku itu. Naruto bergidik ngeri. Kakeknya terkenal sebagai penulis novel dewasa, dan Naruto sangsi kalau judul novel itu juga menceritakan hal-hal yang berbau nakal.

"Apa ini novel mesum juga?"

Bisa-bisanya juga ada novel yang nyasar ke rak buku sejarah?! Naruto membatin.

Tangannya lantas membolak-balik. Dan membaca sinopsisnya. Keningnya sontak menekuk dalam. Tak pernah ia sangka, nama tokoh itu memiliki nama yang sama dengan dirinya. Kalau dilihat sinopsisnya, isi novel itu menceritakan tentang hidup seorang pria miskin yang mencintai seorang wanita putri dari seorang Daimyō.

Sebenarnya, Naruto bukan tipe orang memegang buku kemana-mana. Dia hanya tak begitu suka membaca. Terutama buku pelajaran, terlalu memusingkan baginya. Melihat tulisan banyak saja enggan apalagi membacanya, yang ada baru membaca beberapa paragraf saja dia langsung tertidur. Beda halnya dengan komik majalah Shounen yang dibelinya tiap minggu.

Walaupun antara komik dan buku pelajaran itu beda, itu masih lumayan daripada tak membaca buku sama sekali.

Naruto kemudian bersandar pada tembok di sampingnya. Menatap intens buku itu. Bila diperhatikan, buku itu terlihat usang, dan warna kertas yang menguning itu buktinya.

Di lubuk hatinya yang terdalam rasa penasaran itu muncul. Nama sang tokoh adalah perhatian utamanya. Tapi dia ragu kalau yang dibacanya adalah novel erotis. Bagaimana kalau tiba-tiba ada orang yang mempergokinya membaca buku mesum itu? Bisa-bisa dia diledek satu sekolah.

Tapi, rasa ragunya telah dikalahkan oleh penasarannya. Yang penting dia tak membaca ini di tempat ramai.

Naruto bertanya-tanya, bagaimana bisa sang kakek memberi nama tokoh itu sama dengan namanya? Atau saat memberi namanya ayahnya terinspirasi dari tokoh novel sang kakek?

Ini mengusiknya. Dan tanpa aba-aba, Naruto mulai membacanya.


Salju tahun ini turun lebih cepat dari biasanya. Naruto mengeratkan kimono-nya lebih erat, dan menyeret kan kakinya dengan tergesa-gesa. Dia sudah telat, dia pasti kena marah lagi.

Dengan salju yang tebal ini sulit baginya untuk melangkah. Pekerjaan sebagai penjaga kuda membuatnya harus datang lebih awal. Ketika sampai di istana Daimyō tempat ia bekerja, di depan gerbang Kakashi tengah menunggu dengan wajah tak biasa. Dia salah satu

"Naruto, kau lama sekali..."

"Ada Kakashi-sensei?" Sungguh Naruto penasaran.

"Hime-sama menunggumu dari tadi."

Safir Naruto sontak terbelalak, "Dimana?"

"Ya di kandanglah... Emang dimana lagi!?"

Astaga!

Dengan secepat yang ia bisa, Naruto berjalan menuju ke tempat biasa kerja Sesampainya ia, Naruto yang terengah-engah menatap sang putri Daimyō. Asap yang keluar dari mulutnya begitu kentara.

Ia belum berani mendekati karena detak jantung memompa begitu cepat. Sang putri datang tanpa para dayangnya. Naruto memegang dadanya. Debaran jantung ini bukan hanya karena tadi tapi debaran ini juga karena terkesima dengan kecantikan sang putri pagi ini.

Kimono merah. Warna yang jarang ia pakai kecuali hari-hari besar. Dan ia baru ingat sebentar lagi adalah hari kelahirannya.

Berdiri sambil berbicara dengan kuda putih kesayangannya. Kulitnya yang begitu bening itu dan mata yang mempunyai bulu mata lebat itu membuatnya seperti boneka. Pipinya yang senantiasa merona itu bagaikan buah persik yang telah ranum. Sang putri begitu cantik.

Naruto meneguk ludahnya. Kini sang putri menyadari keberadaannya. Lalu dengan kikuknya Naruto menghampirinya.

"Hinata-hime, maaf membuat anda menunggu."

Wanita yang dipanggil Hinata tersenyum. Diam-diam Hinata sebenarnya tahu kedatangannya, tapi hanya saja dia ingin menikmati tatapan mendamba itu.

"Naruto-kun."

Naruto menundukkan kepala —segan. Sesering apapun sang putri memanggilnya seperti itu, Naruto tetap saja tak terbiasa. Selama apapun mereka saling mengenal satu sama lain, hubungan mereka selalu terbentur oleh tingkatan status. Si rakyat jelata dan si bangsawan

"Aku mau berkuda hari ini... Bisakah kau mempersiapkannya?"

Naruto sontak melihat sekitarnya, tidak ada apapun selain sang putri dan dirinya.

"Sendirian?" Naruto menggaruk pipinya yang tak gatal.

Sang putri kembali tersenyum seraya mengangguk.

"Tentu saja kau ikut Naruto-kun. Otou-sama lagi pergi keluar, aku bosan jadi aku ingin jalan-jalan sebentar.

Lagi-lagi, kebiasaan nakal sang putri keluar. Ingin keluar diam-diam.

"T-tapi Hinata-hime—"

"Tenang saja, kita tak akan ketahuan."

Sang putri pun melewatinya, harum semerbak bunga lavender tercium olehnya. Naruto membeku.

"Aku menunggu di tempat biasa ya..."

Dan dia pun tergoda.

Sampai satu jam berlalu, di tempat perjanjian Naruto menemukan sang putri telah terlebih dahulu datang. Dia berdiri di bawah oak yang tertutupi oleh salju. Dengan warna kimono yang lebih gelap, wanita itu tetap anggun.

Seperti biasa, Naruto akan berdiam diri menatapnya. Debaran jantung yang tak normal itu selalu mengatakan bahwa sang putri adalah belahan jiwanya.

"Maaf membuat anda menunggu, Hime-sama."

Sang putri hanya tersenyum. Yang senyumnya menjalar sampai ke matanya, senyuman kesukaannya.

Susah payah Naruto menuntun kedua kuda itu. Sang putri lantas berlari menyambut, lalu memeluk kudanya untuk mencari kehangatan. Dan memandangi Naruto dengan menularkan penuh kehangatan.

Mereka berdua menaiki kudanya masing-masing. Jika kuda sang putri putih langit, maka miliknya coklat gelap seperti bumi.

"Ayo kita balapan!" Ajak sang putri yang mengitarinya —menantangnya-, "Jika salah satu dari kita ada yang berhasil sampai pohon itu lebih dulu, maka dialah pemenangnya."

Putri itu menunjukkan pohon yang jaraknya hampir 2 Km itu. Dengan tanah yang luas lapang itu, sungguh mudah bagi sang kuda berlari bebas. Naruto menyeringai, dia suka tantangan.

Meskipun dia tak pandai memegang pedang, namun kalau soal balapan kuda ialah jawaranya. Kakashi-sensei sang senior bahkan telah dikalahkannya beberapa kali.

Oke, siapa takut!

"Lalu apa imbalannya?" Tanyanya.

"Naruto-kun, maunya apa?"

Naruto memainkan dagunya, tengah berpikir keras.

"Bagaimana kalau Hinata-sama mentraktirku makan ramen selama seminggu?"

Sang putri mengangguk tanda setuju, "Tak masalah."

"Lalu Hinata-sama?"

Kali ini sang putri tersenyum menggodanya, Naruto pun seketika mulai goyah.

"Dalam hitungan mundur..."

"A-Apa?"

"Tiga..."

Sang putri mengambil ancang-ancang.

"Eh?! Tunggu Hime-sama!"

Naruto turut pula mengambil ancang-ancang.

"Dua..."

Mata mereka yang setajam mata elang itu menatap garis finish.

"Satu!"

"Hiyaak!"

Kuda mereka mulai berpacu.

Di bawah langit yang cerah, mereka menerjang sang angin. Kecepatannya bahkan tak bisa diperkirakan, melesat tanpa rasa takut.

Burung bangau terbang menjelajah, mereka bersukacita.

Tawa menggema, seolah mereka orang yang paling bahagia. Mereka saling adu kecepatan. Terkadang sang putri yang unggul terkadang pula Naruto. Tak ada niatan untuk mengalah.

Naruto tersenyum, dia memelankan kudanya. Kini sang putri berlari di depannya. Safirnya memandangi punggung kecil wanita itu. Mendamba.

Seperti api, cintanya terhadap wanita itu tiap hari kian membara. Bahkan gunung Fuji kalah besar dari cintanya.

Sang putri kini menoleh ke arahnya, dia tersenyum. Sungguh gelayaran. Nalurinya berkata untuk segera menyusulnya. Meskipun cinta itu tak nampak dan bersuara, namun getaran itu sungguhlah nyata.

"Naruto-kun..."

Panggilan lembut itu menggema. Kuda berpacu dengan kencang. Posisi mereka kini sejajar. Saling melempar senyuman, mengagumi satu sama lain.

Naruto menunjukkan kelebihannya. Seakan batinnya mampu menyatu dengan kuda, dia melepaskan tali kendalinya lalu merentangkan kedua tangannya lebar.

Menutup matanya sebentar, membaca arah angin. Dan saat terbuka, telinganya mendengar tawa sang putri yang terdengar seperti lonceng baginya.

Wanita itu kembali mengunggulinya. Tanpa terasa pohon itu terlihat di depan mata. Sang putri telah menang dan Naruto hanya terdiam membatu.

Sang putri meneriakkan kata-kata yang membuatnya berada di dalam mimpi.

"Aku mencintaimu, Naruto-kun."

Sang putri yang hidup dalam sangkar itu tak tahu dunia tak seindah yang ia kira. Kisah cinta antara rakyat jelata dan sang putri tak akan berjalan dengan baik, ia tahu itu.

Seandainya tak ada status yang menghalanginya, maka sang putri telah menjadi miliknya dulu.

Seandainya dunia ini miliknya, maka sang putri akan ia genggam erat.

Senyuman itu...

Tawa itu...

Hanya untuknya seorang.


"Yang disana... Mohon maaf untuk tidak duduk di lantai."

Hampir saja jantung Naruto lompat keluar karena peringatan itu. Pemuda itu sontak berdiri, dan menyembunyikan buku itu.

"Ah, maaf maaf."

Naruto salah tingkah. Di depannya telah berdiri seorang gadis yang tengah membawa troli buku. Dia menatap gadis itu seksama.

Rambut biru gelap dan segi wajah yang lembut, lalu bagian yang paling mencuri perhatian adalah warna matanya yang berwarna perak itu mengingatkan pada seseorang.

Sang gadis berdehem, pipinya memerah.

"Kau Uzumaki Naruto dari kelas 8-9 itu, kan?"

Naruto mengangguk, dan dia sedikit takjub karena biasanya orang-orang mengenalinya sebagai anak Tokyo.

"Ternyata aku cukup terkenal ya hahaha..."

Gadis itu tersenyum. Naruto menggaruk kepalanya canggung.

"Jam perpustakaan sudah tutup beberapa menit yang lalu."

"Apa?"

"Kalau Naruto-kun ingin meminjam buku sebaiknya datang lagi besok."

"Oh, baiklah aku mengerti."

Naruto tersenyum canggung. Baru pertama kali ini dia merasa bersalah karena melanggar aturan, biasanya dia aman-aman saja kalau datang telat ataupun bolos mata pelajarannya para sensei.

Lalu tiba-tiba ia pun tersadar akan Shikamaru yang ditunggunya sedari tadi.

"Tapi, apa kau lihat ketua OSIS?"

Gadis itu mengangguk, "Tadi dia hanya lewat kok."

Kedua alis Naruto lantas menekuk, padahal dia sudah mengirim pesan bahwa ia sedang berteduh di perpustakaan.

"Kau tau dia pergi kemana?"

"Sepertinya ke ruang kesenian..."

"Ah, terimakasih —Em... Maaf siapa namamu?"

"Hyuuga Hinata dari kelas 8-7."

"Hn, Hinata ya. Terimakasih banyak Hinata" Ujarnya yang menampilkan senyuman tiga jari yang membuat Hinata membeku.

Tak mau berlama-lama, Naruto pun lantas beranjak pergi. Sambil merutuki kebodohannya, dia mengejar Shikamaru. Karena terlalu terburu-buru, ia bahkan lupa meletakkan novel itu kembali ke tempatnya. Sehingga sang empunya novel kebingungan mencarinya.

Dan pemilik novel yang disangka novel mesum itu tak lain dan tak bukan adalah gadis yang bernama Hyuuga Hinata.

"Dimana novelku?"


Note:

Assalamualaikum...

Halo semuanya.

Bagi yang belum kenal, aku Risu tapi bisa panggil Daisy sih.

Aku memang tak begitu dikenal karena emang jarang nongkrong banget di wattpad, padahal aku udah lumayan lama di sini hehehe. Dan fiksi Naruhina ini bukan pertama kalinya bagiku, jika ada yang masih ingat fiksiku yang judulnya Flower Flower itu tandanya kamu orang hebat yang bisa tau semua fiksiku, padahal tu fiksi gak terlalu terkenal lmao

Sebenarnya aku ikut bazar ini karena di ajak, dan terimakasih buat Nao (aku gak tau penname dia di wattpad taunya ffn) yang suka beberapa kali mengajak saya ikut event, termasuk festival kali ini.

Semoga kalian suka yak!

Have a nice day.

Jaga kesehatan dan jangan lupa bersyukur.

Salam manis,

R-daisy.