Summary...

Merah berarti gairah.

Bisa berarti keberanian.

Bisa juga kebahagiaan atau sukacita.

Warna merah adalah simbol warna cinta.

Tapi merah juga bisa diartikan marah dan dendam.

Darah pun berwarna merah.

Berawal dari novel karangan Jiraiya yang berjudul Akai, Tuhan mempertemukan Naruto dengan Hinata. Dari novel itulah, benih-benih cinta tumbuh.

(Oke, intinya aku gak bisa bikin summary )


Disclaimer : Masashi Kishimoto.

Merah karya R-daisy.

Warning : AU, Typos, Gaje, Abal, tulisan italic untuk dunia novel dll

Di dedikasi untuk event Hinata bazar.


Hari mulai gelap saat Hinata pulang ke rumahnya. Dia berjalan lunglai dan putus asa karena novel miliknya telah Hilang. Dengan panik ia sudah mencarinya hampir di seluruh ruangan perpustakaan, dan nihil adalah hasil yang di dapatkannya.

Hinata bukan pemilik asli novel itu, almarhum ibunyalah yang memberikan itu padanya. Almarhum sang ibu telah meninggal satu tahun yang lalu, dan dia memberikan buku itu padanya.

Saat seusia Hinata, buku itu almarhum dapatkan hasil jerih payahnya. Walaupun kekayaan klan mereka di peroleh secara turun-menurun tapi hal itu tak membuat mereka sombong ataupun manja.

Dan novel itu adalah novel kesayangan ibunya. Namanya bahkan terinspirasi dari nama wanita utama novel itu. Ibunya sangat menyukainya.

Mendesah sedih. Benda pemberian terakhir sang ibu kini hilang entah kemana. Kesedihannya makin bertambah saat tahu sang ayah tidak berada di rumah. Adik dan kakak sepupunya juga masih diluar. Di rumah yang luas ini dia hanya ditemani para pelayan.

"Aku harus mencarinya lagi besok."

Hinata lelah.

Dia merindukan pelukan ibunya.


Naruto pergi ke sekolah lebih awal kali ini. Di kelas yang masih sepi dia menduduki kursinya yang terletak paling belakang di dekat jendela.

Meletakkan tas selempangnya di atas meja, lalu mengeluarkan novel yang sudah ia baca beberapa lembar semalam. Dia sudah membaca sampai tahap dimana sang Daimyō memergoki Naruto dan Hinata-hime berduaan di malam hari.

Setelah ungkapan cinta Hinata-hime, Naruto tak langsung menjawab, mereka juga tak bertemu selama beberapa hari. Karena sebentar lagi akan ada hari perayaan ulang tahun sang putri, dalam seminggu penghuni istana sibuk mempersiapkan. Termasuk juga Naruto.

Penduduk di sekitar istana juga menyambut dengan gembira, pasalnya untuk kali ulang tahun Hinata-hime dirayakan bersama rakyat jelata.

Saat adegan Hinata-hime memeluk erat Naruto saat itulah sang kakek memergokinya.

Kakek bilang novel yang ia baca itu adalah novel yang tak laku dipasaran. Ia bersyukur novel itu tak adegan mesum yang ia duga. Dan benar saja namanya terinspirasi dari dari tokoh novel tersebut.

Saat ditanya alasannya, sang kakek hanya bilang kalau ayahnya sangat menyukai karakter Naruto. Apalagi ini novel romansa pertama yang dibuat Kakeknya. Penasaran pun tak pelak menghantuinya sejak semalam.

Namun, sebelum meneruskanya kembali suara pintu yang bergeser membuatnya menilikkan penyebabnya.

"Tumben kau datang pagi, Dobe..."

Itu Uchiha Sasuke, siswa populer sekaligus wakil OSIS.

'Tumben juga dia menyapanya duluan.'

Naruto tak menggubris dan hal itu membuat pemuda yang duduk di depannya menatap heran. Ditambah Naruto yang tengah membaca buku di pagi hari adalah hal teraneh yang pernah ada.

Bagaikan lalat yang mencoba menyentuh makanan, Sasuke mencoba kembali mengusiknya.

"Apa yang kau baca?"

Naruto meliriknya sebentar, lalu mendesah. Dia sedang tak ingin di ganggu.

Lagian tumben juga dia penasaran.

"Novel." Ujar Naruto ogah-ogahan.

Sasuke menekukkan sebelah alisnya. Pemuda itu mencoba mengintip isi buku, namun dengan sigap Naruto menutupnya.

"Bisakah kau tak mengganggu seperti lalat Teme?"

Sasuke mendengus, "Lihat siapa yang berbicara... Kayak yang gak pernah saja."

"Itu kan kemarin... Sekarang ya sekarang."

"Jadi kau mau bikin perhitungan!"

"Ayo, siapa takut!

Oniks dan Safir pun saling melempar tatapan sengit. Jika saja ini anime maka penonton akan melihat sengatan listrik dari pergulatan mata mereka.

Pletak!

"Berhenti kalian berdua! Pagi-pagi sudah ribut. Tidak baik, bikin rejeki kalian kabur."

Kali ini Haruno Sakura-lah yang datang. Dan tanpa sadar kelas mulai sedikit ramai.

"Aduuuh!" Naruto memegang kepalanya —meringis. "Kenapa kau hanya memukulku, Sakura-chan? Jahatnya..."

"Itu karena suaramu yang paling nyaring, Naruto."

Naruto merungut, dan menatap tajam Sasuke yang bersedekap, "Tak adil."

"Makanya jangan ribut!"

Meskipun Naruto mengenalnya sejak kecil dan kini bertetanggaan karena tinggal bersama sang kakek, gadis itu selalu saja membela Sasuke.

"Lebih baik aku keluar saja."

"Eh, kau mau kemana Naruto? Naruto!"

Seusai mengabaikan teriakan Sakura, Naruto keluar dari kelas, sekaligus berniat bolos mata pelajarannya Anko-sensei. Dia menggosok telinganya yang panas. Padahal dulu Sakura manis sekali, tapi sekarang gadis itu sering sekali berteriak ataupun menjewer telinganya.

Naruto akan meralat yang menjadikan Sakura sebagai salah satu tipe istri idaman.

Kala hendak menuruni tangga dia berpapasan dengan gadis perpustakaan.

"Pagi Naruto-kun!" Sapanya yang tersenyum.

"Pagi Hinata!" Sapa balik Naruto yang jadi teringat nama tokoh wanita utama dari novel.

"Kau mau kemana? Bukankah bentar lagi jam masuk?"

Naruto menggaruk kepalanya. Berat mengatakan ingin bolos di depan Hyuuga Hinata yang terkenal sebagai anak teladan.

Ya, Naruto kenal nama Hyuuga Hinata atau Hyuuga Neji. Dia mendengarnya dari Kiba. Hanya saja baru kali ini dia bertemu langsung secara fisik. Mereka sangat terkenal di sekolah. Neji dengan prestasi juara olimpiadenya dan Hinata yang mampu mempertahankan titel penghargaan murid teladannya selama dua tahun.

Klan mereka juga terkenal sebagai tuan tanah pulau ini, tapi itu dulu.

"Naruto-kun...?"

Sungguh dia tidak suka pelajaran sejarah, dan dia sangat penasaran dengan kelanjutan novel itu.

"Hinata... Bisakah kau membantuku? Untuk terakhir kali ini saja, aku ingin bolos."

"A-Apa?"

Hinata mengedipkan matanya bingung.

Lalu perhatiannya teralihkan kala kedua telapak tangan Naruto membentuk pose memohon, di tengah antara kedua tangan itu terselip sebuah buku yang ia kenal. Mata peraknya sontak melebar.

Mungkinkah itu novel miliknya?

"Jadi jangan bilang siapa-siapa ya! Aku janji saat tertangkap nanti, aku tak menyebut namamu."

Hinata gelagapan. Apa maksudnya?

"Buku itu..."

"Ah, kau tau buku ini?"

Hinata sontak mengangguk kaku. Peraknya bahkan tak lepas dari buku bersampul merah marun itu.

"Apa ceritanya bagus?"

Hinata kembali mengangguk. Kemudian stiker mawar merah yang ditempel di sudut sampul menjadi bukti sah kalau itu benar-benar miliknya.

"B-buku itu..."

"Kalau begitu aku harus menyelesaikannya, serius aku penasaran."

Bel sekolah lantas berbunyi. Kedua orang itu mulai panik. Tiba-tiba seseorang dari teman sekelas Hinata memergoki.

"Gawat aku harus pergi sebelum ketemu Anko-sensei!"

"Kebetulan Hinata-chan ada di sini, ayo ke perpustakaan! Kurenai-sensei menunggu kita."

"A-Apa?"

Hinata mulai bingung. Naruto menepuk pundaknya sambil mengerlingkan mata, sedangkan teman sekelasnya mengandeng lengannya.

"Sudah dulu ya! Aku pergi dulu!"

"Tu-tunggu dulu Naruto-kun. Bu-buku itu..."

"Terimakasih ya Hinata, aku tak akan melupakanmu."

Hinata mencoba menghentikan, namun Naruto sudah melaju menuruni tangga dengan cepat.

"Naruto-kun!"

Dia kalah cepat.

"Hinata-chan?"

"Haa, baiklah."


"Hinata-hime!"

Sontak Naruto dan Hinata-hime menjaga jarak. Mereka panik. Sang Daimyō telah datang bersama rombongannya.

"Apa pantas rakyat jelata sepertimu bertemu dengan keluarga bangsawan malam-malam seperti ini tanpa ijin? Sungguh lancang!"

Naruto lantas langsung bersujud.

"Otou-sama! Ini—"

Sang Daimyō segera mengangkat tangannya menghentikan sang putri berbicara.

"Maafkan kelancangan hamba, Tuan. Hamba pantas dihukum."

"Naruto-kun!"

Hinata-hime menatap lurus ayahandanya. Mengiba. Berharap sang ayah tidak mencambuk Naruto seperti yang sudah-sudah.

"Lalu... Hinata-hime, apa pantas seorang putri keluar diam-diam hanya ingin bertemu seorang yang bukan keluargamu?"

Kali ini Hinata-hime yang bersujud di depan ayahnya, mengundang panik orang-orang disekitarnya. Sementara sang Daimyō semakin murka melihat putrinya membela Naruto. Pria yang bahkan statusnya hanya rakyat biasanya.

"Hinata-hime!?"

"Hime-sama!"

"Otou-sama, ini semua salah saya. Saya yang memintanya bertemu... Jadi, jangan hukum Naruto-kun! Saya mohon belas kasihnya."

"Hinata-hime!" Bohong! teriak Naruto di dalam hati. Safirnya melirik sang putri dengan tatapan nanar.

Di kolam ikan koi yang letaknya tak jauh dari paviliun istana, mereka hanya kebetulan bertemu. Pelukan sepihak dari sang putri tadi murni hanya spontanitasnya saja. Mereka sudah beberapa hari tak bersua, dan rasa rindu pun sontak menyongsong kesempatan itu.

"Hime, siapa yang memerintahmu untuk bicara? Dan sikap macam apa ini!? Sejak kapan kau jadi membangkang seperti ini?!"

Dinginnya suara sang Daimyō telah menusuk masuk ke tulang sumsum mereka. Salju tiba-tiba turun dan suasana semakin memanas. Saling bergulat batin. Lalu menjadikan jalan diam untuk tidak memantik api kemarahan yang lebih besar.

"Kalian berdua akan mendapatkan hukuman karena melampaui batas."

Sang Daimyō kemudian memanggil pengurus istana, membisikkan sesuatu. Selama itulah baik Naruto dan Hinata-hime tak berani mengangkat kepala mereka. Seolah mereka menyambut hukuman itu adalah sahabatnya.

Dan saat pengurus istana bicara mewakili sang Daimyō, mereka menahan napas.

"Hinata-hime akan menjalankan hukuman di kamarnya, dengan tidak diberikan makanan atau minuman. Jika ada ketahuan membantu, maka hukuman penjara dan denda akan menanti."

"Dan hukuman sang pria, dia akan menerima 100 x cambukan dan tidak diberi makan ataupun minuman selama sehari. Jika ada yang ketahuan membantunya, maka ia akan mendapatkan hukuman yang sama."

Dan setelah mengumumkan itu sang Daimyō lantas pergi. Sang putri pun juga dibawa paksa oleh para dayang berpisah dari Naruto yang juga turut di seret oleh para pengawal ke dalam penjara.

Malam itu salju turun lagi. Jika semua orang-orang pada umumnya beristirahat tidak dengan Naruto dan Hinata-hime. Mulai malam yang dingin itu, mereka menjalankan hukuman mereka.

Teriakan ringisan kesakitan terdengar jelas di dalam penjara yang gelap. Suara burung hantu pun turut meramaikan. Membawa kesan menakutkan bagi mereka yang lewat.

Di sisi lainnya, sang putri menangis pilu. Menyesalkan perbuatannya tadi. Khilaf adalah bagian lain dari manusia. Dia hanya manusia yang tengah jatuh cinta dan menyalurkan rasa rindunya. Tidak ia sangka kebahagiaan harus dibayarnya dengan harga yang sangat mahal.

Semenjak hukuman tersebut sang putri jatuh sakit. Dia masih demam sampai sehari lagi perayaan ulang tahunnya.

Sementara Naruto, dia tak bisa terbangun karena cambukan di punggungnya. Dia juga dilarang masuk kerja sampai perayaan ulang sang putri selesai. Dia juga tidak diperbolehkan menghadiri pesta bersama rakyat tersebut.

Dan setibanya perayaan itu, Naruto mendapatkan kabar yang membuatnya dunianya runtuh. Sang putri akan dinikahkan oleh ayahnya dengan seorang bangsawan.

Dunia kejam yang biasa digelutinya ternyata telah membuatnya jatuh. Dia sadar satu-satunya sumber cahaya kehidupannya suatu saat akan pergi dari sisinya. Mencampakkannya dan menguburnya hidup-hidup.

Meskipun sekuat apapun cinta mereka, sekencang apapun tali yang mereka ikat, status akan selalu menjadi penghalang besar dalam hubungan mereka.

Jika saja hidup bisa memilih, Naruto lebih memilih dilahirkan sebagai kucing peliharaan sang putri saja, agar senantiasa berada di sisinya.


Saat Hinata mencari dimana Naruto bersembunyi, jam istirahat telah tiba. Dengan membawa beberapa botol minuman dan sekotak bento, dia mencari di tempat biasa Naruto terlihat olehnya.

Mulai dari lapangan sekolah sampai di sudut kebun sekolah Hinata susuri. Sampai ia naik ke atas gedung sekolah, ia menemukan Naruto telah tertidur dengan mata yang tertutup oleh lengannya.

Mendesah lega. Perhatiannya pun lalu tertuju pada novel yang masih di pegang pemuda itu. Rasa tak tega untuk membangunkan pun muncul.

"Naruto-kun."

Hinata menepuk pelan pundak Naruto.

"Bentar Kek, 5 menit lagi..." Gumamnya yang membalikkan badan ke arah Hinata seraya mengelap liurnya yang keluar.

Gadis itu sontak berjongkok, berusaha membangunkan Naruto sepelan mungkin.

"Naruto-kun jam istirahat bentar lagi selesai. Kau tak ingin makan siang?"

"Makan siang? Ramen?"

Seketika itu safir Naruto terbuka. Dia langsung terbangun dari pembaringannya.

Hati Hinata yang melihatnya lantas tergelitik, dia tak menyangka cara termudah membangunkan Naruto adalah dengan makanan.

"Hinata-hime?"

Hime?

Hinata mengedipkan matanya bingung, sementara Naruto mengucek matanya memastikan penglihatannya.

"Ah, m-maksudku... Hinata?" Justru dia yang berbalik tanya, keheranan.

'Kenapa dia di sini?'

Tiba-tiba perut Naruto berbunyi, memanggil empunya untuk segera diisi. Naruto merona malu. Pipinya yang tak gatal itu digaruknya.

"Aku tak punya ramen... Kau mau makan bento-ku?"

Hinata kemudian duduk di sebelah pemuda itu yang berkesiap menatapnya. Saat dia membuka kotak bento itu, harum makanan langsung menguar membuat bunyi perut Naruto semakin kencang.

"Hehehe..." Naruto tertawa malu, "Maafkan perutku yang kurang ajar ini."

Hinata terkikik lirih.

"Kelihatannya enak?"

Naruto hampir saja meneguk ludahnya, air liur hampir keluar saat melihat makanan yang tertata rapih itu. Biarpun lauknya terlihat sederhana, namun potongan dadar gulung, tomat ceri segar, dan sepotong tahu putih yang di goreng itu terlihat sangat lezat.

Senyuman terbentuk dari bibir gadis itu, safir Naruto tak bisa lepas dari bento miliknya.

"Makanlah!" Ujar Hinata yang menyodorkan sumpit.

"Untukku?"

Hinata mengangguk seraya memberikan bento itu.

"Terimakasih, Hinata kau baik sekali."

Naruto menyengir lebar, pipi Hinata lantas merona. Tak lama bagi kotak bento jatuh ke tangan Naruto. Pemuda itu dengan senang hati menerimanya.

Sebelum makan Naruto sejenak memanjatkan doa. Dalam hati dia bersyukur kepada Tuhan bahwa telah mengirimkan Hinata padanya. Ternyata Tuhan itu Maha adil terhadapnya yang sering berbuat kenakalan ini.

Alih-alih menyumpitkan sepotong telur dadar, safirnya kemudian menyadari sesuatu. Gadis perpustakaan itu hanya memegang sebotol air mineral.

"Hinata, apa kau sudah makan?"

Hinata terperanjat lalu hanya tersenyum saja, "Makan saja Naruto-kun, aku sedang diet." Bohongnya.

Padahal saat berangkat sekolah Hinata tak sempat makan karena hampir kesiangan. Untungnya, adiknya yang manis membuatkan satu bento untuknya.

Sedangkan Naruto yang mendengar kata diet langsung berubah masam. Dia pun teringat Sakura dan Ino. Disusul perut Hinata yang berbunyi, pemuda itu lantas meletakkan kembali kotak itu.

"Tidak baik membuat perut kosong, kalau sudah saatnya makan kita harus makan! Jangan takut menjadi gendut!"

"A-ah itu..." Hinata panik. Bukan itu...

"Kalau tak ada laki-laki yang mengencanimu karena gendut, tenang saja Hinata... Aku yang akan menikahimu!" Naruto berseru semangat seraya mengunyah tomat ceri.

Kelopak mata Hinata berkedip-kedip, tak lupa pipinya turut merona. Dia tak menyangka Uzumaki Naruto orang yang blak-blakkan dalam hal ini juga. Atau bisa saja Naruto adalah pemuda yang polos.

Apalagi saat mengatakannya, safir itu memancarkan sinar yang membuat Hinata terpukau. Layaknya mengarungi laut di samudra luas yang terlihat berkilau, Hinata merasa seperti di dunia lain.

"Aku juga tak kalah tampan dari Sasuke-teme!"

Hinata memegang dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang. Pemuda itu memang tak menatapnya intens seperti tadi, namun Hinata tak bisa mengelak kalau Naruto terlihat lebih tampan jika dilihat dari dekat.

"Ya, kan?"

"Eh?!"

Kali ini wajah pemuda itu lebih mendekat dari sebelumnya. Hinata sontak menahan napas, dan darahnya berdesir. Gadis itu yakin kini wajahnya sudah sepenuhnya memerah bak tomat.

Seperti tersudut, tanpa sadar Hinata mengangguk canggung. Naruto tersenyum puas. Setelah itu tangan Naruto beranjak mengambil tutup kotak makan itu. Dia mengambil separuh nasi dan beberapa telur dadar ke atasnya.

"Nah, dengan begini adil kan... Mari makan!"

Hinata menggunakan sumpitnya dan Naruto makan dengan tangannya. Setelah itu mereka makan dalam diam.

Sementara itu tak lama setelah selesai makan, langit menurunkan hujannya. Bel masuk pun tak ayal berbunyi. Para siswa pun kembali ke kelasnya termasuk Hinata dan Naruto. Dan berkat kotak bento itu pun Hinata jadi lupa tujuan utamanya.


Note:

Keringat dingin. Serius aku deg-degan apakah ini akan selesai sampai tepat waktu.

Terimakasih atas waktu dan reviewnya yak! Aku gak nyangka bakal ada yang review, soalnya Ffn sekarang gak kayak dulu hehehe...

Sudah dulu ya. Have a nice day.

Jaga kesehatan dan jangan lupa untuk bersyukur!

Salam hangat,

R-daisy