Summary...
Merah berarti gairah.
Bisa berarti keberanian.
Bisa juga kebahagiaan atau sukacita.
Warna merah adalah simbol warna cinta.
Tapi merah juga bisa diartikan marah dan dendam.
Darah pun berwarna merah.
Berawal dari novel karangan Jiraiya yang berjudul Akai, Tuhan mempertemukan Naruto dengan Hinata. Dari novel itulah, benih-benih cinta tumbuh.
(Oke, intinya aku gak bisa bikin summary )
Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Merah karya R-daisy.
Warning : AU, Typos, Gaje, Abal, tulisan italic untuk dunia novel dll
Di dedikasi untuk event Hinata bazar.
Di pagi yang bersalju, di bawah pohon Naruto menatap langit. Cuaca yang gelap seirama dengan hatinya yang gundah. Safirnya meredup seolah hilang harapan untuk hidup. Hari silih berganti. Kemudian ia tergopoh-gopoh menuntun kuda untuk balik ke tempatnya.
Semenjak pengumuman pernikahan, suasana istana lebih sibuk dari biasanya. Naruto memandangi kamar sang putri dari jarak jauh. Ia berharap bisa melihat sosok meskipun hanya sebentar saja.
Jika sang putri menikah nanti, maka ia tak akan bertemu lagi. Untung saja, dia belum mengungkapkan rasa cinta pada Hinata-hime, kalau iya, maka perpisahan pun semakin berat.
"Jangan mengkhayal terlalu tinggi, makanya sekarang kau jadi sakit begini..."
Naruto mendesah, sementara sore telah menyongsongnya. Perkataan temannya memang tak salah.
"Ada apa?" Tanya Naruto, pria yang mempunyai tato di pipinya tersebut tak akan muncul di depannya jika tak ada urusan.
"Kakashi-sensei mencarimu."
Setelah mendengar kabar itu Naruto segera menghadap. Ia menemukan pria yang lebih tua 12 tahun darinya itu tengah membaca sebuah buku.
"Tuan Daimyō ingin kau turut serta mengantar sang putri saat pindah."
Bagaikan jantung yang terkena serangan panah, dadanya berdenyut perih. Ia tahu masa ini akan tiba.
Namun yang kejamnya, sudah tertikam pisau, sang Daimyō malah menyuruh melompat ke dalam lautan api.
Hari ini Hinata tersenyum lebih cerah dari biasanya. Pasalnya pagi-pagi dia sudah menyiapkan 2 kotak bento di tangannya. Sekarang pun jam istirahat telah tiba. Dan dengan jantung yang berdebar-debar, dia berjalan menuju ke kelas 8-9.
Kala kepalanya melongok ke dalam kelas, ia sudah di sambut oleh gadis berwarna permen karet tersebut.
"Ada apa Hinata? Tumben ke sini?"
Dengan merona malu Hinata memeluk kotak bento-nya, "Apa Naruto-kun ada?"
Sakura tak mungkin tidak terkejut, hanya saja tidak tampak di wajahnya. Dia tak menyangka gadis berdarah biru itu mencari seorang Naruto yang urakan. Di tambah apa yang dipegangnya itu.
Apa itu kotak bento?
Ada apa ini?
Apakah ada hal yang terlewat olehnya?
Kening Sakura sontak menekuk prihatin, "Sayang sekali dia baru saja keluar."
"Oh... Baiklah. Terimakasih ya Sakura."
Kemudian Hinata pun meninggalkan langsung Sakura yang dipenuhi rasa penasaran. Tanpa perlu mencarinya ke seluruh lingkungan, Hinata hanya bertaruh kalau sekarang ini Naruto pasti ada di atas gedung. Dan benar saja, setelah beberapa menit sampai, Hinata menemukan Naruto masih membaca novel.
Ya, novel yang ia lupakan kemarin. Harta berharga miliknya. Ia harus memintanya kembali.
Hinata tersenyum seraya memunculkan sosoknya di depan Naruto.
"Hinata...?"
Sungguh terkejutlah Naruto saat gadis itu datang lagi padanya. Dari kemarin sebenarnya ia penasaran apa yang membuat gadis itu menemuinya lagi, padahal mereka tak punya alasan untuk saling berinteraksi.
Lalu gadis itu menunjukkan kotak makanan itu, "Kau sudah makan, Naruto-kun?"
Dan saat itulah Naruto mulai goyah. Rasa lapar telah mengalahkannya.
Hari pernikahan akhirnya tiba. Semua persiapan telah terpenuhi. Langit pagi hari itu begitu mendung seakan tidak menyambutnya.
Naruto dengan perbekalan cukup berbaris di belakang. Menatap sendu pada jalanan yang akan mereka lalui. Kereta kuda di depannya begitu indah. Di dominasi cat warna merah itu sungguh mencolok.
Tak lama Hinata-hime muncul dengan balutan kimono mewahnya. Berwarna merah muda yang dihiasi benang emas yang melukiskan bunga sakura.
Naruto menahan napas. Ia menahan detak jantung di dadanya berdegup lebih kencang. Meskipun setebal apapun riasan di wajahnya, wanita itu tampak seperti bidadari yang turun dari khayangan. Namun seri wajahnya tidak ikut menyertainya kini.
Kala sang Daimyō menampakkan hidungnya, maka rombongan perjalanan dimulai. Mereka harus menempuh beberapa hari untuk sampai ke istana sang calon.
Di dalam kereta kuda yang nyaman itu, di sisi lain Hinata-hime mencoba menahan tangis agar riasannya tak berantakan. Hiasan di kepalanya baru di pakai sebentar sudah membuat kepalanya pusing.
Diluar sana sang pujaan hati turut mengantarnya. Dia sangat terkejut saat melihatnya tadi. Pria itu terlihat sedikit kurus sama hal dengan dirinya. Tak menyangka ayahnya melakukan ini padanya. Padahal dia sudah menuruti kemauannya.
Sebagai seorang putri di suatu wilayah, Hinata-hime melakukan ini demi rakyatnya. Ia tahu kalau dia tidak boleh bermimpi hidup bebas layaknya merpati. Ia harus bersiap mengorbankan asanya, cintanya dan masa depannya.
Seandainya panen musim lalu tidak gagal, maka dia tak akan menikah terburu-buru seperti ini.
Perjalanan di musim dingin tak semudah dengan perjalanan di musim yang lain. Dengan hujan salju yang turun secara berturut-turut, maka perjalanan yang ditargetkan menjadi makin sulit.
Kini mereka sudah seminggu dari setengah perjalanan. Sekarang mereka tengah beristirahat karena badai salju belum reda. Naruto berkumpul bersama rekan-rekannya di sebuah tempat yang di sewakan. Di depan arang api kompor mereka menghangatkan diri.
Di tengah-tengah badai berangsur menghilang, tiba-tiba Naruto mendengar suatu keributan. Lalu di susul suara-suara pertarungan. Naruto lantas mengintip dari lubang kayu. Safirnya melebar, tebakannya benar.
Kini diluar sedang ada pertarungan. Sekelompok penyusup tiba-tiba datang menyerang. Para samurai yang bertugas melindungi para keluarga Daimyō tengah menghalau agar tak ada yang menembus mereka. Tetapi, jumlah mereka kalah banyak.
Siapa mereka?
Darimana mereka berasal?
Apa ini perampokan?
Hinata-hime? Bagaimana dengan Hinata-hime?
Naruto dan orang-orang seruangannya pada dasarnya bukanlah samurai, sikap panik adalah hal yang normal, sedangkan tak ada satu pun dari mereka yang memegang senjata.
Pedang beradu dengan pedang. Perlawanan begitu sengit. Ada beberapa yang telah tumbang. Ini lebih buruk dari yang dia duga.
"Bersiaplah semuanya, pegang apa yang ada!" Seru Naruto yang mencoba tenang.
Tak lama pertahanan samurai melemah. Korban jatuh bergelimpangan. Hingga para penyusup itu sampai ke tempatnya, Naruto memegang batang sapu di dekatnya. Ia bersandar pada pintu.
Dan kala pintu terbuka, yang muncul adalah sosok Kakashi.
"Naruto! Cepat kau pergi lindungi Hime!"
Setelah itu para samurai mulai bermunculan di depannya, di saat itulah Naruto berkesempatan kabur dengan dilindungi oleh Kakashi. Ketika ia sudah sampai tempat para keluarga bangsawan, bisa dilihat para penyusup itu telah menjangkaunya. Bahkan para klan keluarga turut ke medan pertarungan.
Pertarungan sengit tak terelakkan. Naruto mengikuti Kakashi dari belakang. Mereka berlari berputar, hingga ia bisa melihat sang Daimyō dan Hinata-hime menunggu dengan para samurai yang tersisa.
Safir dan perak saling bertemu pandang. Ada perasaan lega hinggap di hati mereka.
"Kakashi darimana saja kau?" Tegur sang Daimyō yang menatap tajam Naruto lalu Kakashi yang berlutut kepadanya.
"Maafkan Hamba Tuan, hanya Naruto yang tahu wilayah ini, jadi aku datang menjemputnya."
Sang Daimyō kembali menatap Naruto yang menundukkan kepalanya. Ia kemudian menatap putrinya yang tak mau melepaskan tatapannya dari pria itu.
Ia meringis.
Ia tak tahu hal ini akan terjadi. Dan melihat putrinya harus menderita seperti ini, ia menyesal. Ia tak mau sesuatu terjadi pada putrinya. Ia ingin putrinya bahagia. Tapi ia harus mengukuhkan diri, bahwa ia lakukan ini demi rakyatnya, demi masa depan klannya.
'Maafkan aku... Maafkan aku rakyatku.'
"Anak muda kau pimpin jalan!" Titahnya yang mendapat anggukan cepat dari Naruto.
Tanpa melihat kebelakang mereka memasuki hutan. Di dalam hutan mereka berlari dan terus berlari. Beberapa orang penyusup sudah berlari mengejar ke dalam hutan.
Naruto memimpin jalan dimana hutan tempat dulu dibesarkan oleh almarhum kakeknya. Sambil berwaspada berkeliling melihat sekitarnya, ia memikirkan jalan terbaik.
Di belakangnya para pembunuh itu telah menyusul. Mereka terkepung. Melihat jumlah penjahat yang menyusul lebih banyak dari samurai yang tersisa, sungguh berat sebelah. Itu artinya banyak korban yang jatuh dari pihak mereka.
Sang Daimyō telah mengeluarkan pedangnya bersiap bertahan melindungi putrinya. Mereka membentuk posisi lingkaran dengan Hinata-hime sebagai pusatnya.
Sedangkan Naruto mengambil batang kayu untuk pertahanan. Ia turut melindungi sang putri yang panik.
"Lindungi Hinata-hime!" Seru sang Daimyō yang memerintahkan para samurainya.
Trang!
Satu pedang telah terangkat beradu. Di susul dengan yang lainnya. Mereka mulai saling membenturkan pedang mereka.
Tak! Tak!
Trang!
Selama itulah suara aduan pedang meramaikan hutan yang selalu sepi itu.
Ngiiiiit Trang!
Zrrrt tak!
Sementara itu, Naruto yang selalu berada di sisi Hinata-hime beberapa kali melancar serangan. Menghalau para pembunuh itu mendekat, ia lakukan apapun yang ia bisa. Termasuk menendang perut salah satu dari mereka.
Duk!
Bruk!
Naruto kemudian merasakan bahunya diremas, Hinata-hime mulai khawatir. Para samurai tampak mulai lelah dan ayahnya adalah yang paling di khawatirkannya, pria itu tetap bertarung meskipun kondisi tubuhnya tidak sehat.
"Naruto-kun..." Lirih Hinata-hime,
"Tenang saja Hime." Naruto mencoba menenangkan, ia merasakan ketakutan wanita itu.
Seraya melancarkan serangan pertahanan diri, ia melihat ke sekelilingnya. Kakashi tampak kerepotan dan senantiasa selalu berada di sisi sang Daimyō.
"Semua akan baik-baik saja, tetaplah dibelakangku." Imbuhnya yang berjalan mundur.
Zrash!
"Arghh!"
"OTOU-SAMA!"
"TUAN!"
Sebilah pedang berhasil menebas dada sang pemimpin wilayah utara itu. Ia meringis kesakitan, ternyata tebasan mampu membuat tubuhnya mengeluarkan banyak darah.
Tubuh yang lemas itu terjatuh. Sang Daimyō akhirnya tumbang.
"Otou-sama tidak!"
Hinata-hime berlari menyambut, diikuti Naruto yang berteriak memanggilnya.
"Otou-sama..." Panggil sang putri yang menitikkan air matanya. Ia memangku kepala ayahnya, mengusap wajahnya yang berkeriput. Rasa sesal sontak memeluknya.
"Otou-sama." Panggil sang putri sekali lagi, memanggil kesadaran sang Daimyō.
Di belakangnya Kakashi bergulat pedang. Dia menghalau sebisanya. Sesekali dia menengok ke tuannya, lalu menatap rekan-rekannya yang lain. Kini hanya ada tiga orang termasuk dirinya yang masih bertahan.
"Sial!" rutuknya.
"Hime!" Naruto berlutut di sampingnya, memegang bahu wanita itu. Keningnya mengernyit sakit melihat sang Daimyō tampak tak berdaya.
Hinata-hime tak mempedulikan panggilan Naruto, ia terus menangis. Darah pria itu sudah keluar banyak. Kimono gelapnya telah basah oleh darah. Napasnya tersengal seolah nyawanya sudah sampai di kerongkongan. Sepertinya pria itu tak terselamatkan.
Di sela-sela itu sang Daimyō mengangkat tangannya, meraih pipi sang putri yang telah basah oleh air mata, "Hime, pergilah..."
Hinata-hime menggeleng seraya memeluk ayahnya, "Tidak Otou-sama, bagaimana aku tega...?"
"Carilah kebahagiaanmu sendiri, maafkan Otou-sama."
Hinata menggigit bibirnya, sementara mereka masih berada di keadaan genting. Tak lama sang Daimyō merasakan tatapannya mulai kabur, dia tidak merasakan tubuhnya miliknya lagi. Namun ia menyadari pemuda yang berada di sebelah putrinya.
Pria biasa yang dicintai putrinya.
Sang Daimyō lantas memanggil Naruto, membisikkan sesuatu padanya.
"Bawalah dia pergi, jagalah dia seumur hidupmu... Ini permintaan terakhirku sebagai seorang ayah."
"Tuan..."
Tangan sang Daimyō dengan isyarat meminta tangan Naruto lalu putrinya, dan menyatukannya seolah telah memberikan sinyal.
"Otou-sama..."
Hinata dan Naruto menatap iba pada sang Daimyō. Napas pria itu mulai melemah.
"Putri kebanggaanku... Kesayanganku... tetaplah hidup."
Hinata menutup mulut, mengunci suara tangisannya agar tak pecah. Naruto mengepalkan tangannya. Lalu memegang bahu Hinata-hime. Mereka saling bertatap sebentar. Kesedihan terlukis jelas di mata perak itu.
"Cepat kalian pergi! Aku tak bisa menahan mereka terlalu lama." Teriak Kakashi.
Trang!
"Ayo pergi, Hime!" Seru Naruto yang menarik pergelangan tangan sang putri.
Perasaan enggan tak pelak dirasakannya. Hinata-hime menggeleng keras. Namun pada akhirnya dia pasrah saat tangan kokoh Naruto menariknya, meninggalkan tubuh sang Daimyō yang mulai mendingin.
Kini tinggallah Kakashi dan seorang anak buahnya yang masih bertahan. Jumlah musuh juga turut berkurang. Tetapi, bukan berarti mereka bisa lepas.
Tanpa menatap ke belakang, berangsur mereka berlari. Sesekali Hinata-hime menatap kembali. Menjauh. Semakin menjauhkan diri. Di sela pemandangan itu, tangan Hinata-hime seakan ingin meraih tubuh itu.
Lalu mereka semakin masuk ke dalam hutan. Ke dalam hutan yang menyediakan kegelapan. Hutan dimana para keluarga membuang anggota keluarga yang telah lemah.
"Eh, jadi ini milikmu?"
Hinata mengangguk antusias. Setelah kenyang, ia langsung menunjukkan niatnya.
"Maaf, serius aku gak tau."
Naruto panik. Ia memang tahu kalau novel itu bukan milik perpustakaan sekolah. Ia juga berniat mengembalikan buku novel itu setelah selesai membacanya.
"Gak apa-apa, Naruto-kun. Aku juga yang ceroboh."
Hinata meremas tangannya, "Sebenarnya itu bukan milikku, tapi pemberian almarhum ibuku. Bagiku novel ini adalah harta karunku."
Naruto terenyuh, "Maaf, sungguh aku minta maaf."
Ia merasa tak enak hati. Suatu yang wajar jika Hinata mencarinya setengah mati. Dan ia seenaknya meminjamnya tanpa minta ijin terlebih dulu, dan membuat Hinata panik.
Hinata tersenyum. Baginya yang penting novel itu tidak hilang. Apa yang dikatakan Hinata kepada ibunya di akhirat kelak, jika ia tak mampu menjaga apa yang dipercayakan padanya?
"Sungguh gak apa-apa, Naruto-kun. Yang penting buku itu tidak hilang. Aku justru senang kalau novel itu dibaca."
Naruto sontak menggaruk kepalanya seraya terkekeh.
"Jadi, apa boleh aku meminjamnya?"
"Tentu."
Kemudian mereka menatap buku bersampul merah itu. Tersenyum.
"Ngomong-ngomong, Naruto-kun kau sudah baca sampai mana?"
Naruto menekukkan wajahnya dengan serius, lalu mengelus dagunya, "Sampai Naruto dan Hinata-hime masuk ke dalam hutan."
Ada perasaan kaku di lidahnya ketika menyebut namanya sendiri.
"Oh.. berarti mau menuju klimaks ya."
"Sepertinya begitu." Ujar Naruto yang kemudian melihat sisa bacaannya lebih tipis dibandingkan yang sudah dibacanya.
"Tapi, bukankah ini lucu kalau nama kita menjadi tokoh utama dalam novel?"
Hinata mengulum senyuman, "Sebenarnya ibuku mengambil nama tokoh novel itu saat menamaiku dulu."
"Eh, benarkah?"
Saat mengatakan hal itu Naruto sontak memajukan wajahnya. Sementara Hinata yang terkejut akan hal itu, lantas memundurkan wajahnya. Karena begitu dekatnya, ia bisa merasakan napas pemuda itu. Dan bola matanya yang seperti warna lautan itu terlalu memukau.
Hinata merasa wajahnya memanas.
"Ayahku juga sama!"
Naruto kemudian terkekeh. Ini benar-benar sesuatu yang ajaib baginya.
"Ibuku bilang kalau penulisnya terinspirasi dari cerita klan keluarga kami."
"Apa ini kisah nyata?" Naruto tak mendengar hal ini dari kakeknya, ia bahkan tak mengatakan apapun selain penamaan dirinya.
"Hanya sebagian... Mungkin bagian kenapa klan kami pernah menjadi Daimyō di pulau ini?" Hinata mengidikkan bahu, "Selebihnya murni fiksi."
"Oh..." Naruto mengangguk.
Dia menatap lama buku itu. Ia seperti melihat keajaiban. Lalu tak lama bel masuk berbunyi. Saat itulah tanpa diketahui mereka benang takdir yang terikat di antara mereka telah menyala.
TBC.
