Summary...
Merah berarti gairah.
Bisa berarti keberanian.
Bisa juga kebahagiaan atau sukacita.
Warna merah adalah simbol warna cinta.
Tapi merah juga bisa diartikan marah dan dendam.
Darah pun berwarna merah.
Berawal dari novel karangan Jiraiya yang berjudul Akai, Tuhan mempertemukan Naruto dengan Hinata. Dari novel itulah, benih-benih cinta tumbuh.
(Oke, intinya aku gak bisa bikin summary )
Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Merah karya R-daisy.
Warning : AU, Typos, Gaje, Abal, tulisan italic untuk dunia novel dll
Di dedikasi untuk event Hinata bazar.
Di sebuah goa yang sangat kecil di tengah hutan ini, ada dua orang insan tengah bersembunyi dari pengejaran. Mereka bersandar pada dinding goa. Napas mereka tersengal, dan kaki yang lemas karena terus berlari.Mereka tak tahu apa yang terjadi. Jika ini murni perampokan maka penjahat itu tak akan mengejar sampai seperti ini. Ini hari terburuk bagi mereka.Naruto menatap sang putri yang duduk disampingnya. Ada perasaan sedih ketika melihatnya seperti ini. Wanita itu meringkuk sambil menyembunyikan wajah dukanya.Mereka masih terdiam —tak bergerak- hingga matahari tergelincir. Berkecamuk dengan hati dan pikiran mereka. Menyalahkan diri sendiri.
Bel sekolah berbunyi dengan kencang, para siswa kemudian masuk ke kelasnya masing-masing. Di sisi lain ada Naruto yang berdiri di depan gerbang karena pagar telah tertutup.
Tak lama sosok lain muncul. Hal yang membingungkannya adalah sosok Hyuuga Hinata yang muncul.
"...Hinata?"
Sama hal dengannya, keringat yang mengalir di wajahnya tampak jelas gadis itu habis berlari. Ia tersenyum ke arahnya.
"Pagi, Naruto-kun." Sapa Hinata yang kemudian melihat ke dalam gerbang.
"Pagi." Sapa balik yang Naruto yang turut mengikuti arah tatapan Hinata,
"Sepertinya Ibiki-sensei tidak ada di sini?" Lanjut Naruto yang menyuarakan isi kepala Hinata,
Pemuda itu kembali menatap Hinata yang terlihat lemas —pucat- itu. Tidak seperti dirinya, Naruto bisa menyimpulkan bahwa ini kali pertama Hinata terlambat masuk sekolah.
"Seperti begitu...?"
Hinata menunduk sedih lalu mendesah. Naruto terdiam seraya menyilang tangannya ke belakang kepala. Lalu safirnya bergulir menatap intens gadis sebelahnya dari ekor matanya.
Hari ini ada yang berbeda padanya. Hinata telah mengepang rambutnya dengan pita warna salem. Baru kali ini dia sadar, ketika Hinata menundukkan matanya ia bisa melihat betapa lebatnya bulu mata itu. Lalu bibir yang merah ranum itu terbuka seakan mengundangnya.
Kini Hinata menangkap basah tatapannya, Naruto masih terpaku.
Safir Naruto seperti melihat sinar rembulan di malam hari. Bersinar terang dan tampak sangat dekat. Jika ia digambarkan seperti siang hari yang menyilaukan maka Hinata adalah malam yang cerah.
Ya, Tuhan... Kenapa ia baru menyadari gadis secantik ini di sekolah?
"Naruto-kun..." Lirih Hinata yang tidak terdengar.
"Cantik." Gumam Naruto tanpa sadar.
Manik perak Hinata melebar. Safir Naruto tampak berkaca-kaca —mengagumi.
Seolah semilir angin musim semi yang menerpa mereka di musim gugur ini, mereka saling bertatapan. Pemandangan dunia di sekitarnya kemudian seakan memudar menjadi tinggal mereka berdua. Di tambah darah yang berdesir serta degup jantung yang bersuara nyaring. Mereka tenggelam di dunia yang mereka ciptakan sendiri.
Naruto menyunggingkan senyumnya tanpa sadar. Entah kenapa ada perasaan ingin menyentuh hatinya?
"Ehem."
Suara dehem seseorang menginterupsi, sejurus itulah mereka terkaget menuju ke sumbernya.
Itu Ibiki-sensei yang ditunggu.
"Sekolah adalah tempat menimba ilmu, kalian setuju kan anak-anak?"
Naruto terkekeh hambar seraya menggosok kepalanya, sedangkan Hinata menunduk merona malu.
"Sepertinya hari ini aku mendapatkan pelanggan baru?"
"Maaf Sensei..." Cicit Hinata yang di ikuti Naruto,
"Maaf Sensei, aku tak mengulanginya lagi!"
"Kau selalu bilang hal yang sama, Naruto."
Naruto menunduk lemas. Suara Ibiki nyatanya mampu membuat kedua kaki mereka menjadi jeli.
"Sebaiknya apa yang akan kulakukan pada kalian bertiga?"
Eh, bertiga?
Sontak Naruto dan Hinata menengok ke arah suara pemuda yang tengah menguap. Ia berdiri di tengah-tengah mereka dengan wajah bosannya.
Shikamaru? Sejak kapan dia datang?
Asal saja mereka tahu, Shikamaru sudah menyaksikan mereka dari semenjak mereka datang.
Dan pemuda pemalas itu menangkap sesuatu yang menarik di wajah mengantuknya.
Waktu berjalan tanpa mereka ketahui. Mereka bahkan lupa hari atau pun waktu. Di kedalaman hutan yang tak ramah, mereka mencoba bertahan hidup.
Mungkin bagi Naruto itu tidak sulit baginya, tidak dengan Hinata-hime yang terbiasa hidup yang berkecukupan. Namun, setidaknya ia bersyukur wanita itu tidak pilih-pilih soal makanan. Mulai dari makanan tak lazim seperti ular sampai kelinci liar. Dengan musim dingin ini sangat susah mencari makanan.
Yang jadi masalah utamanya adalah psikologi Hinata-hime pasca kematian sang Daimyō. Yang mampu mengoyak hati terdalam dari Hinata-hime. Senyum saja enggan apalagi berbicara. Tiap malam ia akan terbangun dari mimpi buruknya. Mimpi buruk tentang kematian ayahnya.
Naruto mengerti kepedihannya, hanya saja kesedihan itu membawa kelukaan baginya. Saat ini ia hanya bisa bersabar menghadapinya. Dan sebisa mungkin memberikan kenyamanan untuk sang putri. Seandainya dia bukan orang biasa, mungkin Hinata-hime tak akan mengalami hal ini.
"Hime, kita keluar dari sini."
Suara lembut Naruto sampai ke telinga wanita itu. Sorot rembulan yang menghilang kosong itu menatapnya. Baru kali inilah wanita itu memandanginya kembali setelah kejadian itu. Ia pun mengangguk.
Naruto lantas tersenyum. Kesabarannya terbayarkan perlahan. Yang terpenting sekarang, dia harus mencari tempat yang aman. Mereka tak bisa selamanya bersembunyi di tempat kelam ini.
Kala matahari terbangun dari peraduannya, mereka memulai perjalanan. Tujuan utama mereka adalah Istana Shogun, untuk meminta tempat berlindung. Berita pembantaian tuannya pasti sudah terdengar sampai ke penjuru negeri.
"Nah, dengan begini Hime-sama tak akan kedinginan." Ujar Naruto setelah mengikat tali.
Dia mencoba tersenyum. Ekspresi datar sang putri sungguh menyakitkan hati. Menatap mata perak yang kini terlihat hidup itu.
Kini pakaian sang putri telah berganti dengan pakaian yang sama dengannya —pakaian para rakyat jelata- agar tak menarik perhatian. Pakaian itu memang tak setebal kimono yang dipakai oleh kalangan atas, tetapi dengan tambahan pelindung dari jerami cukup menghangatkan tubuh mereka.
"Ayo kita jalan, Hime!" Serunya.
Naruto kemudian memakai topi yang terbuat dari rotan. Safirnya lalu mengkilat setajam mata elang itu menghadapi jalanan tanpa rasa takut.
Bagaikan musafir, kini mereka berjalan kaki.
Untuk sampai ke istana milik Shogun butuh beberapa bulan untuk sampai di sana. Salju pun mulai mencair, jalan menjadi sedikit licin. Perjalanan mereka tak semudah yang di bayangkan.
Ada saja hambatan yang menghalanginya. Cuaca ekstrim, diserang perampok hingga menghadapi binatang buas. Justru yang paling berat adalah ketika mereka tak punya sedikit koin di kantong mereka. Sungguh hari yang berat bagi pemula seperti mereka.
Namun semua itu ada hikmahnya.
Naruto jadi semakin ahli dengan pedangnya. Ia bersyukur dulu belajar dasar-dasar memegang pedang kayu dari Kakashi. Ia pun bertanya-tanya bagaimana tentang keadaan pria itu?
Apakah dia masih hidup?
Sedangkan Hinata-hime adalah orang yang paling ahli soal berburu. Dia telah ahli dengan panahnya. Bahkan dia bisa menyembelih sendiri hasil buruannya.
Ya, ada satu yang tak berubah. Wanita itu masih tak bisa menggunakan suaranya. Itu seakan terkunci di dalam dirinya.
Walaupun demikian, Hinata-hime sudah mulai tersenyum. Perkembangan itu cukup bagi Naruto untuk tetap bersemangat melindunginya.
"Anak muda saatnya makan!" Teriak wanita tua yang membawa makanan bersama Hinata-hime.
Kini Naruto tengah menyediakan jasa tenaganya untuk memperoleh beberapa koin dengan memotong kayu. Atau terkadang dia membantu para nelayan dan petani. Biasanya dia membantunya cuma-cuma jika yang ditemuinya adalah para lansia, hanya saja terkadang ia menginginkan upah untuk biaya perjalanan mereka.
"Baik, Nek!" Sahutnya yang menyeka keringatnya.
Sekarang sudah memasuki musim semi, dan tanah pun mulai menghijau. Mereka telah melakukan perjalanan jauh dan setengah perjalanan lagi akan sampai ke istana Shogun.
"Nah, silahkan dinikmati makanan sederhana ini bersama suamimu." Imbuhnya yang terbisik pada Hinata-hime.
Mendengar ini pipi Hinata-hime sontak merona. Ia langsung memberikan senyuman sebagai tanda terima kasih.
Dan ketika Naruto sudah berada di dekatnya, Hinata-hime mengelap dahi pria itu. Mereka sejenak saling bertatapan seraya tersenyum. Naruto sungguh bersyukur sang putri sudah kembali ceria. Hingga deheman sang pemilik rumah mengudara, mereka pun mulai makan.
Naruto menelungkupkan wajahnya di atas meja. Sekarang jam istirahat telah tiba. Efek lelah karena hukuman tadi pagi belum reda. Ibiki-sensei telah mengerjainya habis-habisan hari ini. Sudah di suruh menyikat toilet anak laki-laki, dia juga di suruh mengangkat banyak barang ke dalam gudang.
Sementara Shikamaru dan Hinata sehabis membakar sampah mereka langsung di suruh masuk.
Lalu saat ditengah jalan menuju kelas, ia malah ketemu Gai-sensei yang mengajaknya ke gudang olahraga untuk membantunya merapihkan bola basket. Dan begitu di kelas dia justru harus berhadapan dengan Anko-sensei yang sedang marah-marah tak jelas.
Itu sungguh melelahkan, gerutu Naruto yang memijit bahunya.
Tak lama ia mengeluarkan buku novel itu dari kolong meja. Semalam ia telah sampai pada Hinata-hime yang dibawa oleh sekelompok orang. Naruto sendiri terjatuh karena sebilah pedang saat ingin menyelamatkan sang putri.
Kalau diingat-ingat adegan pertarungan itu membuat perut Naruto menjadi ngilu. Dia sudah memastikan kalau novel itu tak memiliki rating dewasa. Tetapi kenapa rasanya berbeda saat membaca manga. Bahasa yang dituangkan kakek dalam tulisannya terasa begitu nyata baginya.
Naruto mengetuk mejanya. Sebenarnya selama membaca novel tersebut ia selalu membayangkan Naruto tokoh dalam novel itu adalah dirinya. Sedangkan ia juga membayangkan sosok Hinata-hime adalah Hinata.
Ngomong-ngomong soal Hinata, mereka berjanji hari ini akan makan di atas atap. Kemarin mereka telah bertukar nomor. Tapi, lewat pesan line tadi Hinata harus menghadap Kurenai-sensei dulu sebelum makan bersama dengannya.
Senyuman di bibir Naruto sontak merekah. Semalam mereka telah mengobrol banyak masalah cerita novel. Gadis itu juga menawarkan akan meminjam novel misteri yang bagus untuknya.
Kalau dipikir-pikir, Hinata gadis yang menyenangkan. Suara lembutnya kala berbicara langsung atau di telepon sungguh membuatnya memasang telinga lebar-lebar.
Seraya menekukkan alisnya dengan serius, Naruto sontak membuka lembaran novel tersebut. Penasaran kemana sekelompok penyerang itu membawa Hinata-hime.
"Dia pun mulai meremasnya dengan kencang."
Safir Naruto melebar. Buku yang di pegang terlepas dari tangan. Suara lantang itu bukan miliknya melainkan milik Kiba yang berdiri di belakangnya. Yang kalimatnya membuat satu kelas salah paham olehnya.
"TAK ADA ADEGAN SEPERTI ITU!"
"TAK ADA ADEGAN SEPERTI ITU!!"
Dan yang berteriak juga bukan milik Naruto seorang, di depan pintu ada Hinata yang turut berteriak disaat bersamaan dengannya.
Seketika satu kelas serentak terdiam. Mereka menatap Hinata dan Naruto secara bergantian. Ada rasa penasaran dan bingung yang bercampur aduk.
Pipi Hinata sontak merona malu. Sedangkan Naruto lantas merebut novel itu dari Kiba. Ia kemudian memberikan jari tengahnya pada Kiba dan berlari menuju Hinata.
"O-Oiii, Naruto!"
Dalam sekejap kelas berubah seperti pasar. Naruto yang meninggalkan kelas sambil mengandeng tangan Hinata telah menciptakan kehebohan besar.
Hari itu mulailah berseliweran gosip bahwa sang pemuda urakan dari Tokyo berhubungan dengan sang gadis teladan nomor satu di sekolah.
Gerimis hujan turun menghentikan perjalanan mereka. Mereka berdiam diri di kuil yang terbengkalai. Ada hal genting yang membuat mereka harus cepat-cepat keluar dari desa. Wajah mereka telah terpajang di papan pengumuman sebagai buronan.
Setelah dua bulan sejak insiden penyerangan itu baik dirinya dan Hinata-hime justru di tetapkan sebagai buronan. Mereka bahkan baru tahu beberapa hari ini.
Tuannya yang telah meninggal —sang Daimyō- justru dituduh telah memberontak kepada Shogun di negeri ini. Dan para prajurit Shogun telah dikerahkan ke penjuru negeri untuk memburu mereka hidup ataupun mati.
Karena inilah tujuan utama mereka jadi berubah haluan. Tak ada tempat lagi bagi mereka. Negeri Ming mungkin tempat pelarian terbaik saat ini, meskipun tempat itu lebih berbahaya dari negeri ini.
Sedangkan kini posisi tuannya telah di ganti oleh Daimyō yang baru. Namun yang paling mencengangkan adalah, Daimyō baru tersebut justru anak asuh yang dibesarkan oleh tuannya, Yakushi Kabuto. Tentu hal ini mengundang tanda tanya yang besar.
Lalu pikiran yang melayang ke hari itu terganggu. Ada sesuatu yang mendekati. Seperti suara rombongan kuda. Naruto dan Hinata-hime sontak bersembunyi ke dalam loteng kuil.
Jantung mereka berdebar. Mengintip di balik lubang, beberapa orang masuk ke dalam kuil. Mata mereka melebar, melihat warna bajunya yang hitam itu mengingatkannya akan warna baju orang-orang saat insiden itu.
Dan saat sekelompok itu tak menemukan apa yang dicari, mereka pergi meninggal jejak kotor pada lantai. Naruto dan Hinata-hime sontak keluar dari persembunyiannya.
"Kita harus pergi, Hime-sama!" Ujarnya yang menangkap pinggang wanita itu setelah melompat turun.
Mereka tetap keluar saat tetesan hujan mengalir dengan deras. Berjalan di bawah hujan tentulah tak mudah. Mereka mengambil jalan yang tidak biasa dilewati oleh penunggang kuda ataupun orang desa. Serta berlawanan arah dari para gerombolan tadi.
Sambil berjalan tergesa-gesa mereka memasuki hutan yang jalannya agak curam serta licin. Sesekali mereka harus terjatuh yang menyebabkan pakaian mereka kotor dan lebih basah.
Hingga mereka berada di ujung dari hutan bambu, mereka menemukan gua yang bersembunyi dari balik air terjun. Melihat ke sekelilingnya, memastikan tak ada orang selain mereka. Sampai mereka tak menemukan jejak apapun, mereka memutuskan untuk berteduh.
Naruto mendesah. Hujan telah berhenti, dan malam pun telah tiba. Setelah mengganti pakaian, mereka duduk menghangatkan diri di depan perapian. Mereka beruntung menemukan beberapa kayu di dalam gua, walaupun kebanyakan dari kayu itu lembab. Sepertinya gua ini biasa dijadikan tempat berteduh bagi orang-orang seperti mereka.
Naruto menatap wanita di depannya dengan iba. Hinata-hime tampak sangat lelah setelah perjalanan hari ini. Selama ini ia juga tak mengeluhkan apapun. Tersenyum dan selalu tersenyum.
Pria itu kemudian beranjak dari tempatnya dan duduk di samping sang putri.
Sejenak mereka saling bertatapan. Hinata-hime lantas tersenyum yang senyumnya sampai ke maniknya. Kilauan di mata perak itu tak pernah pudar setiap kali menatapnya.
Naruto mengelus pipi yang kini agak tirus itu. Membelainya dengan kelembutan seolah itu adalah guci mahal. Lalu menyatukan kening mereka seraya menutupi mata.
Deruan napas mereka yang teratur dan kehangatan yang mengalir pada kulit tangan mereka yang saling menempel itu memberikan energi positif. Ujung hidung mereka saling bergesekan memberikan sengatan lain.
Hinata-hime lantas terkikik geli dan Naruto tersenyum kala mendengarnya.
Kelelahan pada perjalanan tadi seolah tak ada apa-apanya. Dengan kontak fisik seperti ini atau suara tawa sudah membuatnya hidup. Asalkan mereka terus bersama tak ada duka atau sakit yang tak bisa di atasi.
SREK!
Naruto dan Hinata-hime sontak bangkit dari tempatnya.
"Ketemu!"
Manik safir dan perak itu melebar. Kelompok yang mereka anggap telah menjauh dari mereka kini justru mampu menemukan mereka. Naruto sontak mengambil pedangnya. Mereka terjepit.
"Sial!" Umpat Naruto.
"Serahkan Hinata-hime kepada kami!"
"Siapa kalian?" Teriak Naruto yang menggenggam erat pedangnya, kemudian safirnya bergulir pada api yang masih menyala.
Di belakangnya Hinata-hime mulai memegang busur panahnya bersiap-siap untuk memanah.
"Kami di utus Tuan Kabuto untuk membawa Hinata-hime hidup-hidup. Tuan menginginkan Hime untuk menjadi istri."
Kabuto! Desis Naruto. Dasar tak tahu berterima kasih.
"Bagaimana kalau aku tak menyerahkannya?"
"Terpaksa kami akan membunuhmu! Serang dia!!"
Sejurus itu Naruto memukul-melempar kuat kayu yang berapi itu ke arah mereka dengan pedangnya.
ZRAKK!!
"ARGHH!! Brengsek!"
Satu kayu mengenai mata salah satu dari mereka sedangkan yang lainnya panik karena bajunya terbakar. Hinata-hime sontak melepaskan panah. Dan panah itu mengenai tubuh salah satu orang dari kelompok mereka yang baru datang menyusul.
ZREK!
"Ugh!"
"Ayo Hime!" Seru Naruto yang menarik tangan Hinata-hime, lalu menjadikan pedangnya sebagai tameng.
Dengan cepat mereka menabrak beberapa orang untuk keluar dari gua. Berlari dengan susah payah. Terengah-engah.
Beberapa dari kelompok mereka juga telah menyadari. Jumlah mereka tentu lebih banyak. Percuma melawan, tak ada jalan lain selain berlari.
Namun tenaga Hinata-hime telah di ambang batas. Mereka hampir terkejar. Genggaman tangan itu akhirnya terlepas, wanita itu terjatuh lalu terguling.
"Hime!"
Naruto berusaha menyusul di jalanan yang menurun itu. Tetapi, usaha itu terhalang. Di depannya kemudian muncul salah satu dari utusan itu dan langsung mengayunkan pedang. Naruto sontak menghindar.
Konsentrasi Naruto lalu terpecah. Hinata-hime mengerang kesakitan sebab menabrak batang pohon bambu. Karena kelengahan itu jugalah, sebilah pedang berhasil melukai lengan Naruto.
"Kugh!"
"Na-Naruto-kun!!" Hinata-hime kini sudah terbangun, hanya saja kedua tangannya sudah dipegang oleh sang utusan.
"Hime!"
Tetapi, Naruto tidak terdiam menyerah. Suara Hinata-hime memberinya kekuatan. Suara yang sudah lama tak ia dengar. Suara yang didambakannya.
Dengan tangannya yang lainnya, ia mengeluarkan pedang dari sarungnya. Lalu memberi perlawanan sengit. Berlari menuju Hinata-hime yang ditarik oleh mereka.
Sementara ditarik, Hinata-hime tak serta-merta pasrah diri. Dia mencoba melawan sebisanya. Sampai akhirnya ia bisa menggigit orang itu dan kabur darinya
"Naruto-kun!"
Namun kebebasan itu tidak bertahan lama, ia kembali tertangkap. Orang itu memukul leher sang putri hingga tak sadarkan diri. Sontak hal ini membuat Naruto menjadi jengah.
Sang putri kini dibawa pergi. Naruto merasa tubuhnya melemas, tenaganya terkuras.
"HIME!"
Sang putri semakin jauh dari pandangan. Naruto berlari mengejar seraya memberi perlawanan. Sayangnya, usahanya sia-sia. Perlawanan membawanya pada titik terlemah
ZRASSHH!!
Dan pada akhirnya punggungnya terkena tebasan. Naruto langsung terjatuh. Ia meringis kesakitan. Menatap kepergian Hinata-hime dengan penuh rasa kesal atas kelemahannya.
Kelompok penjahat itu berangsur meninggalkannya. Membawa sang putri menjauh darinya. Kesadarannya sontak perlahan menghilang, hingga tertutupnya mata, dunianya menjadi gelap gulita.
TBC.
