Summary...
Merah berarti gairah.
Bisa berarti keberanian.
Bisa juga kebahagiaan atau sukacita.
Warna merah adalah simbol warna cinta.
Tapi merah juga bisa diartikan marah dan dendam.
Darah pun berwarna merah.
Berawal dari novel karangan Jiraiya yang berjudul Akai, Tuhan mempertemukan Naruto dengan Hinata. Dari novel itulah, benih-benih cinta tumbuh.
(Oke, intinya aku gak bisa bikin summary )
Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Merah karya R-daisy.
Warning : AU, Typos, Gaje, Abal, tulisan italic untuk dunia novel dll
Di dedikasi untuk event Hinata bazar.
Musim gugur sudah menunjukkan daun merahnya di sepanjang jalan. Naruto menghela napas menatap ke luar jendela. Ini hari yang terlalu indah. Bagaikan menyongsong musim semi jantungnya berdetak lebih dari biasanya. Tepatnya ini karena teringat wajah Hinata.
Seraya mengembangkan senyumannya, ia berjalan menuju ruang perpustakaan. Ia berniat mengembalikan novel itu padanya. Tapi, saat di sana Hinata tidak berada di tempatnya.
Naruto bertanya-tanya. Beberapa hari ini ia jarang sekali melihat Hinata ketika berada di sekolah; tak ada lagi makan siang buatannya yang super enak atau bertemu-sapa saat dikoridor sekolah.
Seharian ini juga tak melihat wajahnya. Pagi tadi juga ia tak menemukan Hinata di kelasnya, tapi temannya bilang kalau Hinata masuk hari ini. Walaupun demikian ia masih bisa sering chat lewat line atau pun telepon.
Hanya saja ada yang kurang. Ia jadi merasa lapar kalau tak bertemu langsung dengan gadis itu. Entah kenapa, karena hal ini Naruto jadi direngkuh oleh rasa penasaran atau pun khawatir.
Sambil menggenggam novel akai yang telah dihabiskan semalam, Naruto mencoba mencarinya ke atap sekolah. Lalu kala di perjalanan ia malah melihat Hinata yang keluar dari ruang kesehatan.
"Oiii Hinata!" Panggil Naruto yang mendapat perhatian.
"Oh, Naruto-kun selamat... Siang?" Sapa Hinata.
"Hm, siang Hinata."
Naruto jeda sebentar karena menyadari wajah Hinata pucat, "Kau... baik-baik saja?"
Hinata merapihkan poninya, "Sekarang sudah baikan, tapi kurasa aku akan pulang."
"Eh? Apa kau akan pulang sendiri? Atau kau mau ku antar?"
Naruto tambah khawatir, firasatnya mengatakan kalau Hinata tidak sedang baik-baik saja.
"T-terimakasih atas perhatianmu, tapi—"
Perkataan Hinata tiba-tiba terpotong.
"Kami sangat tersanjung atas kebaikanmu Uzumaki Naruto..."
Naruto dan Hinata melirik ke sumber suara dan ternyata itu Hyuuga Neji —sepupu Hinata. Ia tengah bersedekap dada seraya menatap tajam Naruto.
"Tapi itu tak perlu."
Pemuda berambut panjang itu kemudian memberikan tas milik Hinata kepada ke pemiliknya, dan tidak mengurangi sikap tak sukanya pada Naruto.
"Neji-nii, terimakasih."
Naruto sontak menggaruk kepalanya; bingung akan sikap Neji yang tak ramah itu.
Sementara itu, Hinata hanya mendesah. Ini pasti karena gosip itu. Gosip dimana dirinya yang berpacaran dengan Naruto. Dan ini sudah seminggu lebih sejak rumor itu bertebaran.
Beberapa hari yang lalu juga, Hinata harus kena interogasi serta ceramah dari ayahnya. Sang ayah tercinta hanya ingin dirinya fokus belajar dan meniti karir dulu baru mencari kekasih. Ia yakin sepupunya yang menceritakan hal ini.
Hinata tak menyangka, Neji kali ini termakan dengan mudah atas gosip itu. Padahal Hinata hanya berteman biasa dengan Naruto. Tetapi, ia tak bisa menampik rasa sukanya pada pemuda itu.
Naruto adalah pemuda yang baik. Ia sangat suka saat pemuda itu tersenyum lebar. Atau mengucapkan kata-kata spontan yang polos tanpa rasa takut. Lalu warna matanya yang seperti samudra itu sangat indah. Dan jangan lupa, baginya Naruto punya wajah yang jauh tampan dari siswa populer di sekolah ini.
Dibandingkan dengan dirinya yang intovert Naruto punya dunia yang berbanding terbalik dengannya. Ia bahkan mampu membuat semua mata tertuju padanya. Sungguh cerah dan mencolok.
Yah, namanya jatuh cinta. Segala yang berhubungan dengan si 'dia' akan terlihat sangat indah.
"Ayo, Hinata kita pulang."
Sebelum benar-benar pergi, Hinata sejenak menoleh ke arah Naruto. Sekilas pemuda itu terlihat murung. Atau ini hanya perasaannya saja.
"Baik, Neji-nii."
Dengan senyuman dan melambaikan tangan, Hinata pamit dari Naruto, "Sampai nanti, Naruto-kun."
Naruto terdiam menatap. Hinata telah mengekori sepupunya. Tiba-tiba ia jadi tak bersemangat. Ia pun teringat adegan dimana Hinata-hime berpisah dengan Naruto.
Sungguh menyedihkan.
Tetapi, saat diujung menuju tangga, Naruto melihat gestur tangan Hinata yang membentuk isyarat telepon, baterai di dalam dirinya seolah terisi penuh.
Naruto menyengir lebar dan tangannya membentuk gestur yang sama dengan gadis itu.
Lalu dengan bersemangat ia berteriak, "Ya, sampai nanti Hinata!"
Namun, ada satu yang dilupakannya, novel ditangannya seakan bukanlah apa-apa dengan perasaan orang yang tengah kasmaran.
Naruto terbangun dari tidurnya lalu menyadari ia terbangun di gua tempatnya meneduh sebelum insiden penyerangan. Ia meraba tubuhnya yang terbalut perban dan rasa perih pada punggungnya membuatnya teringat akan hal Hinata-hime.
"Hinata..." Lirihnya yang memanggil sedih.
Naruto menatap keluar. Melihat hari menunjukkan terangnya itu tandanya hari mulai siang. Bayangan akan hal itu masih berputar layaknya rekaman.
Hinata-hime telah jauh dari genggamannya. Tapi cepat atau lambat ia akan meraihnya. Karena ia adalah belahan jiwanya. Cintanya.
"Syukurlah kau sudah bangun Naruto."
Pikiran Naruto seakan terpotong. Seseorang telah memblok cahaya yang masuk ke dalam gua. Safirnya sontak melebar seolah melihat hantu.
"...Kakashi-sensei?"
Jiwanya bergetar. Pria yang di anggap sebagai fitur kakaknya, gurunya, pengganti almarhum kakeknya. Pria yang menemukan dirinya yang yatim piatu di tengah dinginnya salju.
"Kau-" masih hidup?
"Yo, Naruto! Sudah lama tak bertemu."
Saat itulah air matanya mengalir.
"Hei, sejak kapan kau jadi sentimental begini?" Pria itu tersenyum seraya mendekat.
Naruto menghapus air matanya. Ia merasa bersyukur. Kakashi muncul dalam keadaan utuh kecuali sebelah matanya yang terkena sayatan pedang.
"Darimana Sensei selama ini?"
Naruto bertanya dengan menggebu-gebu. Pria itu duduk di sampingnya, ia pun mulai bercerita sejak insiden itu.
Setelah peristiwa itu Kakashi berhasil kabur. Butuh waktu untuk mengobati lukanya yang parah. Saat kembali ke tempat lokasi dimana mereka di serang, ia tak menemukan mayat tuannya. Dan kala melihat tempat pembakaran mayat, ia bisa menyimpulkan kalau mereka semua di kremasi.
Ia kemudian mengira bahwa Naruto akan membawa kembali Hinata-hime ke istana makanya Kakashi mencoba kembali ke istana setelah seminggu lebih. Kala sampai di sana ia malah dikejutkan dengan kabar bahwa adanya pemberontakan terhadap Shogun yang dilakukan tuannya.
Semua sisa keluarga klan di eksekusi serta ada yang diburu. Bahkan para prajurit yang tersisa yang menolak bergabung dengan tuan mereka yang baru maka turut di hukum mati. Rakyat juga dipaksa untuk mendukung mereka.
"Jadi maksud Sensei, pembantaian itu juga ulahnya."
"Ya, itu benar. Buktinya adalah lencana yang kucuri dari salah satu golongan mereka."
Naruto memegang lencana unik yang mengambarkan tiga titik berbentuk kecebong yang melingkar.
"Sepertinya ia tak lupa dimana ia dipermalukan tuan di depan rakyat dan mengusirnya dengan hina. Selama ia pergi ternyata ia kabur ke pusat ibukota dan selama 5 tahun itulah ia berhasil menjadi kepercayaan Tuan Shogun lalu menghasutnya."
Tentu saja hal itu akan terjadi mengingat betapa tinggi egonya dulu. Kalau saja 5 tahun lalu dia tidak melakukan pelecehan terhadap Hinata-hime mungkin ia masih berada di istana. Dan almarhum tuannya tak akan mati dalam kehinaan ini.
"Lalu bagaimana dengan Hinata-hime?" Melihat Naruto yang terluka parah bisa dipastikan kalau ia telah melakukan pertarungan, sungguh Kakashi penasaran.
"Hinata-hime, ia selalu bersamaku."
"Ah, syukurlah..." Syukurlah dia masih punya tuan untuk mengabdi. Jika Hinata-hime tidak ada maka ia akan memutuskan menjadi ronin yang diburu seumur hidupnya.
Tapi dimana dia?
"Tapi..." Naruto melihat kedua telapak tangannya yang begitu kasar itu.
Tangan yang selalu menggenggam Hinata-hime dalam dekapannya tiap malam. Ia mengepalkan tangannya erat-erat. Ia tak bisa melepaskannya, apalagi dengan pria macam Yakushi Kabuto.
Kakashi meneguk ludahnya, wajah serius Naruto bukanlah pertanda baik, "Tapi apa?"
"Mereka telah membawanya."
"Apa?!"
Tetapi kala Naruto mau bangkit, Kakashi menghentikannya, "Hei, kau mau kemana? Lukamu akan melebar."
"Aku tak peduli sebelum aku membawa kembali Hinata-hime ke sisiku lagi."
"Naruto, apa yang kau bicarakan...?" Kakashi memegang erat-erat pundak Naruto dan melototinya, "Kau ingat siapa dirimu! Bagaimana bisa orang sepertimu berkata egois? Hinata-hime adalah tuan kita sekarang, dan kita hanya pelayannya."
Seraya menunduk Naruto perlahan menyingkirkan tangan Kakashi. Lalu dia menatap balik pria itu dengan sengit seolah mampu membelah lautan.
"Aku tau itu Kakashi!" Ujar Naruto menggeram di setiap kata-katanya,
"Tapi, aku tak bisa membiarkan Hinata-hime hidup bersama pria itu!"
"Ya, aku pun juga sama. Kita bisa menyelamatkannya setelah lukamu sembuh."
Kakashi mencoba menenangkan pria di depannya. Namun Naruto malah terkekeh sinis.
"Jangan bercanda Kakashi-sensei. Jika itu terjadi maka Hinata-hime akan keburu nikah dengan pria brengsek itu." Naruto memasang lengan kimono-nya, "Dan Hinata tak mungkin menikahinya..."
Kedua alis Kakashi lantas menekuk tajam. Kali ini Naruto menyebut langsung nama sang putri. Pria itu mengangkat dagunya, menatap Kakashi dengan tatapan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Percaya diri.
Entah kenapa Naruto terlihat begitu kuat. Dan safirnya terlihat membara.
Kakashi tercenung.
"Kenapa?" Kakashi bertanya lirih. Ada yang terjadi di antara mereka yang tak bisa di acuhkan.
"Karena Hinata-hime telah menjadi istriku."
Setelah mengatakan itu Naruto pergi meninggalkan Kakashi yang terdiam. Ia mendesah. Seharusnya ia telah menebak ini. Tak disangka Naruto berani mengambil resiko ini. Resiko yang akan membuat nyawa mereka melayang.
"Hahhh... Dasar anak muda!" Kakashi menggelengkan kepala.
Dan ia pun mulai menyusul Naruto yang telah berjalan menuju arah istana.
Butuh beberapa hari dengan naik kuda untuk sampai ke tempat tujuan. Untungnya tempat pelaksanaan pernikahan tak di adakan di istana melainkan di rumah peristirahatan tempat biasa almarhum tuannya mengadakan pertemuan dengan para Daimyō lainnya.
Naruto dan sudah di sana bersama Kakashi lantas mencari tempat dimana Hinata-hime di sembunyikan. Mereka sebisa mungkin tak ingin mencari keributan atau menumpahkan darah.
Suasana sudah larut begitu mereka sampai. Keamanan yang di pasang begitu ketat membuat mereka punya kesulitan. Tapi, Naruto merasa bersyukur karena Kakashi bersamanya. Pria itu tahu tempat-tempat dimana tempat pengintaian yang bagus.
Naruto mengeratkan ujung pedangnya. Safirnya menatap tajam di sebuah ruangan yang tampak ramai. Mereka mendengar suara petikan musik serta para geisha yang tengah menari. Ia menduga mereka tengah mengadakan pesta sebelum hari pernikahan esok paginya.
Kemudian mereka bergerak perlahan. Mencoba tidak membuat tanah yang terinjak berbunyi. Mereka mencari di setiap tempat yang jauh dari keramaian. Hingga mereka sampai di ruang yang paling ujung, sebuah ruangan dengan penerangan lilin yang menyala serta pengawalan, mereka menduga di sana Hinata-hime di sembunyikan.
Naruto mencoba memutar ke sisi ruangan. Ia cukup beruntung jendela itu sedikit terbuka. Dan melempar beberapa kali batu kerikil ke dalamnya.
Sampai orang di dalam melongokkan kepalanya keluar jendela, Naruto mendesah lega. Sesuai dugaannya Hinata-hime yang berada di dalamnya. Dia pun menunjukkan dirinya.
"Naruto-kun..." Panggil lirih Hinata-hime yang senang bukan main.
"Ssshhh." Naruto menaruh telunjuknya di depan bibir,
Dengan gerakan bibir tanpa suara, ia menambahkan, "Cobalah untuk keluar! Aku akan mengecoh mereka."
Hinata-hime lantas mengangguk. Ia kemudian mempersiapkan apapun yang ada ke dalam kimono besarnya. Seperti beberapa makanan ringan serta tak lupa pisau yang disembunyikan kedalam obi-nya.
Di sisi lain, Naruto sontak kembali ke tempat Kakashi. Pria itu tengah mempersiapkan jarum yang dibaluri oleh racun lalu memasukkan jarum itu kedalam bambu kecil. Seperti yang diketahui Naruto, Sensei-nya selain handal dengan ilmu pedang namun ia juga mempelajari beberapa teknik ninja.
"Apa kalian sudah siap?"
Naruto mengangguk. Sejurus itulah Kakashi menembak jarum itu ke arah leher salah satu pengawal hingga terjatuh. Seketika itu pengawal lainnya pun panik dan berteriak. Ia mengambil pentungan yang digunakan untuk memberitahu adanya bahaya.
"Siapa di sana?"
Kakashi bersiap melancarkan tembakan jarum yang kedua. Namun pentungan itu telah berbunyi. Naruto sontak mulai panik. Sang putri tiba-tiba keluar dari kamarnya.
"Hinata-hime kau tak boleh keluar!"
Sang pengawal mulai lengah, ia melepaskan pentungannya, dan saat itulah pengawal terjatuh. Kakashi telah menembakkan jarumnya.
Naruto dengan cepat berlari menghampiri sang putri dan membawanya pergi. Tetapi keadaan semakin ramai. Suara peringatan itu terdengar oleh para penghuni. Kepanikan pun melanda.
Di saat itu Naruto, Hinata-hime serta Kakashi tak membuang waktu. Kuda mereka yang mereka sembunyikan sudah menanti. Malam itu dengan keramaian mereka bertiga berhasil meninggalkan rumah peristirahatan itu.
Berlari. Dan terus berlari tanpa henti.
Kabuto sontak meradang karena kehilangan pengantinnya. Dia menugaskan seluruh pengawal mencari para penyusup yang berhasil membawa Hinata-hime. Namun, tak berhasil. Mereka telah kabur. Dan Kabuto tak bisa meraihnya seumur hidupnya.
Di akhir kisah, Kabuto telah mendapatkan apa yang telah ia perbuat. Ia tak berumur panjang. Kekuasaan hanya bertahan selama 2 tahun. Ia mati dengan sadis karena penghianat.
Di akhir kisah juga, Naruto dan Hinata berhasil melarikan diri ke negara Ming lalu tinggal di sana. Mereka hidup dalam pelariannya selama bertahun-tahun.
Sementara Kakashi, ia dilepaskan paksa oleh Hinata-hime dari tanggung jawabnya yang menjadikan dirinya seorang ronin. Mereka telah berpisah saat ditengah jalan menuju negara Ming. Pria itu dikabarkan hidup sendirian seumur hidupnya.
Kemarahan dan dendam yang tak terbalaskan, lalu hari-hari dalam pelarian terus mereka jalankan. Tetapi mereka tidak sedikitpun takut. Asalkan mereka terus bersama, itu pun sudah cukup.
Hingga sepuluh tahun kemudian, sang Shogun meninggal dunia. Ia lalu di ganti oleh keturunannya, sampai dua tahun lebih status kejahatan klan Hinata-hime telah dihapuskan. Itu semua berkat Kakashi yang selama bertahun-tahun membersihkan nama tuannya yang telah meninggal.
Naruto dan Hinata-hime akhirnya bisa kembali ke negaranya. Meskipun Hinata-hime bukanlah seorang bangsawan lagi, mendapat pengampunan saja sudah cukup. Saat kembali, mereka telah mengandeng dua orang anak yang sehat. Dan hidup dengan bahagia.
Selamanya.
Sudah hampir seminggu Naruto tak bertemu Hinata. Teman sekelasnya bilang bahwa Hinata kena gejala tipes yang membuatnya khawatir. Untuk itulah dengan petunjuk alamat dari temannya Naruto nekat mendatanginya.
Sesampainya di sana, Naruto terkejut dengan luasnya kediaman Hyuuga yang bergaya tradisional itu. Begitu memencet bel, yang datang menyapanya adalah Neji.
Pemuda yang lebih tua itu tetap saja bermuka masam ketika melihatnya. Tetapi bukan Naruto namanya jika menganggap hal itu adalah remihan kudapan.
Ia pun digiring Neji ke ruang tamu. Setelah menunggu justru yang muncul pria tua yang memperkenalkan dirinya sebagai ayah Hinata —Hyuuga Hiashi-. Keterkejutan tak pelak mengetuknya.
Padahal Naruto ingin menemui Hinata saja sekaligus mengembalikan novel. Sedangkan alasan sebenarnya, ia merindukan gadis itu. Selama Hinata sakit, mereka tak pernah saling menghubungi.
"Siapa namamu, Nak?"
Naruto yang tampak gugup berusaha duduk tegak dibawah tatapan tajam sang tuan rumah.
"Uzumaki Naruto."
"Ah, jadi kau yang namanya Naruto. Jadi untuk apa kau kemari?"
"Sebenarnya saya ingin menemui Hinata," Naruto meneguk ludahnya canggung, "Ingin mengembalikan ini."
Hiashi seketika terpaku. Itu buku kenangan mendiang istrinya.
"Kenapa kau memegang buku itu?"
"Aku meminjamkannya, Otou-san."
Hinata yang datang menginterupsi membuat Naruto bernapas lega. Gadis itu kemudian duduk di sebelahnya yang membuat Naruto mendapat serangan tatapan tajam lagi.
"Ini Naruto-kun yang kuceritakan, Otou-san."
Eh? Naruto sontak menatap Hinata dengan tanda tanya besar.
Hiashi bersedekap, menatap Naruto yang teliti.
"Kalian tak berpacaran, kan?"
"Tidak, Jii-san!?"
"Tidak Otou-san..."
Ujar mereka bersamaan.
Naruto semakin kebingungan. Kenapa tiba-tiba menyinggung soal pacaran? Apa jangan-jangan ini adalah peringatan?
Lalu desahan Hinata menarik perhatiannya.
"Sudahlah Otou-san, bukankah kita sudah membahasnya. Aku dan Naruto-kun hanya berteman biasa."
"Itu benar Jii-san! Kami hanya berteman."
Entah kenapa setelah mengatakannya Naruto merasa sedih?
"Hm, baguslah... Kalian ini masih pelajar tugas kalian adalah belajar."
"Baik, Jii-san!"
Hinata mengintip Naruto dari balik ekor matanya. Tersenyum melas, ia merasa kasihan melihat betapa gugupnya Naruto berhadapan dengan ayahnya.
"Apa kau menyukai putriku?"
"Otou-san!"
"Eh? Maaf maksud Jii-san?"
Lagi-lagi pertanyaan anti-mainstream ayahnya keluar. Hinata sontak merona malu sedangkan Naruto menggaruk pipinya yang tak gatal. Kurasa otaknya masih belum mencerna dengan baik.
"Aku tak suka mengulang perkataanku Anak muda."
Naruto meneguk ludahnya canggung. Keringat pun mengalir, padahal ini bukan musim panas. Ia merasa ditodong pistol yang seakan berbicara kau akan mati jika bergerak sedikit.
"Apa kau menyukainya atau tidak?"
Suara lantang Hiashi seakan membuat jantung Hinata dan Naruto melompat keluar.
"Otou-san, sudahlah!" Hinata berteriak malu.
"A-Aku suka!" Naruto juga sontak berteriak.
"Eh?"
Hiashi memberikan sengatan pada tatapannya, namun kali ini Naruto mampu menghadapinya. Hinata sontak menatap kedua orang tersebut secara bergantian. Mereka seolah tengah berduel satu lawan satu di medan pertempuran.
Namun perhatian utamanya adalah pengungkapan Naruto yang diluar dugaannya. Naruto punya perasaan yang sama dengannya. Naruto menyukainya.
"Aku sekarang mengerti maksud Jii-san. Tapi, meskipun Jii-san mencoba menghentikannya... Aku tak akan membiarkannya."
Naruto memegang dadanya yang berdegup kencang. Apalagi saat ini Hinata telah bersamanya. Menatapnya penuh.
"Aku tahu perasaan ini masih mentah... Aku tak tahu sampai kapan perasaan ini terus berjalan. Tapi, aku tak pernah main-main Jii-san!"
Kala Naruto mengucapkan kata 'tak main-main' ia sempat memandang wajah Hinata yang khawatir padanya.
"Naruto-kun..."
"Kau cukup berani juga, Anak muda."
"Bagaimana denganmu, Putriku?"
Hinata yang sedari tadi hanya melihat Naruto kini mengalihkan pandangannya. Sambil menundukkan kepalanya, ia menyisir anak poninya ke belakang telinga dengan pipi yang merona.
"Diammu menandakan iya."
Hinata tersenyum malu-malu sedangkan Naruto kemudian mengulirkan matanya terhadap Hinata. Saat mereka bertemu pandang saat itulah jantungnya berdegup lebih cepat.
Apa ini yang namanya jatuh cinta?
"Mari kita lihat seberapa lama kalian saling menyukai."
Apa ini pertaruhan?
Naruto dan Hinata memandang Hiashi dengan gugup.
"Jika kalian mampu mempertahankan perasaan itu sampai upacara kedewasaan nanti, baru kuijinkan kalian berpacaran."
"Eh?"
Itu kan masih lama?
Seusai memberi dinding penghalang itu Hiashi kemudian meninggalkan mereka berdua. Menciptakan kebingungan.
"Maafkan Otou-san... Naruto-kun. Beliau orang baik kok."
Naruto menggeleng, "Tidak, aku tak keberatan. Aku mengerti kok. Jika aku punya seorang putri mungkin aku akan melakukan hal yang sama."
Kemudian mereka saling menundukkan pandangan. Merona malu karena teringat akan pengakuan tadi.
"Jadi..." Naruto menggosok lehernya canggung, "Kau menyukaiku, Hinata."
Hinata menatap safirnya dengan bergetar,
"Iya, Naruto-kun... Suka."
Bagaikan diterpa angin sejuk dari barat, Naruto sangat senang saat tahu perasaan mereka saling bertautan. Ia sungguh bersyukur.
"Terimakasih, Hinata." Naruto terkekeh malu yang membuat Hinata tersenyum.
"Ini aku ingin mengembalikannya," ujarnya yang menunjukkan novel itu.
"Terimakasih ya."
"Naruto-kun sudah selesai membacanya?"
"Hm."
Mereka sejenak bertatapan. Saling menyelami satu sama lain. Lalu tersenyum. Novel yang dipegang pun tak pernah lepas. Seolah dunia hanya milik mereka berdua.
"Ehem "
Tiba-tiba suara dehem Neji sontak mengalih perhatian mereka.
"Kalau sudah selesai segeralah pulang. Hinata masih butuh banyak istirahat." Neji memperingati.
Hinata mendesah. Neji ternyata masih bersikap dingin meskipun ayahnya telah membuka diri. Sedangkan Naruto yang merasa di usir hanya bermuka masam.
Naruto harus waspada. Mungkin kedepannya pemuda itu yang akan merusak kesenangannya bersama Hinata.
Dasar sepupu yang overprotektif.
"Baiklah, aku sudah selesai." Ujar Naruto yang sedikit kesal.
Naruto pun pamit yang di antar oleh Hinata dan Neji sampai ke depan gerbang.
Ternyata setelah mengetahui perasaan satu sama lain, mereka merasa sedikit lega. Perasaan yang baru dimulai ini mungkin masih terasa kecil. Tapi mereka yakin jika saling mengenal lebih dalam serta menjalankan hidup dengan baik membuat perasaan cinta ini semakin kuat.
Seperti halnya warna merah pada novel itu. Cinta mereka tak akan memudar.
THE END.
Note :
Alhamdulillah akhirnya tamat juga guys...
Maaf ya klo fiksi kali ini kurang dapat feel-nya. Dengan kesibukanku di dunia nyata serta kapalku yang mulai oleng karena abang-abang dari pemutih yang hot hot itu muncul lagi guys sehingga membuatku malas meneruskan fiksi ini heheheh XD
Btw, terimakasih udah ngefav, ngefollow serta review kalian ya aku sungguh terharu. :')
Selalu jaga kesehatan, dan jangan lupa bersyukur.
Salam manis,
R-daisy.
