I'm sorry, but I love you
Naruto Namikaze x Hinata Hyuga
T
Naruto@Masashi Kishimoto
Hinata menatap langit kamar sambil merenungi nasib nya. Ia seorang perempuan dari keluarga baik-baik dengan sangat sadar menjual keperawanannya pada lelaki yang bahkan tidak ia kenal sama sekali.
Apa sebutan pelacur juga akan di sematkan pada Hinata, meskipun perempuan itu sudah berjanji bahwa tidak akan ada lain kali lagi. Iya, setelah Hinata mendapatkan uang yang ia inginkan ia benar-benar akan berhenti melakukan nya, atau dengan kata lain perempuan itu hanya akan melakukannya sekali, dengan lelaki yang berani membayar keperawanannya dengan mahal.
Harusnya ia senang dengan tawaran yang Naruto berikan, namun entah kenapa hal itu justru terasa sangat melukai harga dirinya. Ia bukan pengemis yang meminta di beri uang tapi tidak memberikan timbal balik apapun, maka dengan tekad yang kuat Hinata memutuskan sesuatu yang akan ia diskusikan dengan lelaki itu.
Pagi harinya, Hinata bangun dengan kepala yang pusing, ia baru sadar jika semalaman ia tidur tanpa selimut padahal air conditioner di kamar yang Hinata tempati terasa begitu dingin. Meski begitu ia buru-buru bangun dan membersihkan tubuhnya—meski tanpa mengganti pakaian nya—dengan cara mandi, mungkin sekalian me time batin Hinata saat matanya menemukan bathtube di dalam kamar mandi.
Naruto sudah duduk di pantri saat Hinata keluar dari kamar nya, ia benar-benar menghabiskan banyak waktu untuk berendam.
"Selamat pagi." Ucap Hinata.
Membuat Naruto menoleh kearah nya, memperlihatkan mata biru lelaki itu. Tanpa sadar membuat Hinata meneguk lidahnya, terlebih saat mengingat kejadian semalam.
"Duduklah." Balas Naruto saat mendengar sapaan Hinata.
Hinata mendekati lelaki yang pakaiannya sangat kontras dengan lelaki yang semalam ia lihat. Pagi ini Naruto hanya mengenakan t-shirt dan celana pendek berwarna khaki. Ia terlihat santai saat meneguk cairan hitam dari cangkir yang berada di depan nya.
"Apa tidur mu nyenyak ?" Tanya Naruto saat Hinata mengambil duduk di sebelah lelaki itu.
"Cukup nyenyak." Jawab Hinata singkat.
Naruto menggeser roti bakar ke arah Hinata. "Aku hanya punya ini, makanlah."
Hinata menatap Naruto tak percaya, setelah semalam lelaki itu mengatakan tak mempunyai minuman selain air mineral dan bir, sekarang lelaki itu mengatakan hanya memiliki roti bakar. Hinata bertanya-tanya untuk apa fungsi dari kulkas besar yang terlihat mahal di dapur apartemen ini ? apa tidak ada apapun yang bisa lelaki itu simpan di dalam kulkas.
"Aku hanya terlalu malas berbelanja." Ucap Naruto yang terdengar seperti bisa membaca pikiran Hinata. "Lagipula tempat ini sangat jarang aku tempati."
Hinata mengangguk sambil memakan roti bakar yang lelaki itu suguhkan. "Lalu dimana Namikaze-san tinggal ?"
Hinata merutuki dirinya, pertanyaan yang ia berikan pada Naruto benar-benar bukan sesuatu yang pantas ia pertanyakan.
"Di rumah orang tua ku." Meski begitu Naruto tetap menjawab pertanyaan Hinata.
"Apa kau sudah memikirkan apa yang semalam aku katakan ?" Lanjut Naruto bertanya.
Hinata terdiam beberapa saat, otak nya kembali berputar ke kejadian semalam, tepatnya sebelum ia mengistirahatkan tubuhnya. Ya, ini adalah saat yang tepat untuk mengatakan apa yang semalam sudah ia pikirkan matang-matang. Tentang tawaran yang Naruto usulkan.
"Sudah." Jawab Hinata singkat.
"Apa kau tidak berubah pikiran ?" Tanya Naruto, lelaki itu menghela nafas berat sebelum melanjutkan perkataan nya. "Maksud ku apa kau akan tetap menjual tubuh mu kepada ku ?"
"Iya." Jawab Hinata tegas. "Tapi terserah pada Namikaze-san akan memperlakukan ku seperti apa."
"Maksud mu ?" Naruto menoleh ke arah Hinata, dan mendapati wajah Hinata yang tertunduk lesu.
"Aku membutuhkan uang itu, dan satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah menjual keperawanan ku."
Naruto hampir tersedak mendengar ucapan Hinata, ternyata perempuan itu masih kukuh pada keinginannya—batin Naruto—yang sejujurnya terdengar gila bahkan di telinga lelaki seperti Naruto.
"Jika Namikaze-san tak menginginkan tubuh ku, maka pekerjakan aku sebagai apapun yang kau mau, asal kau berikan uang dua ratus juta itu kepada ku." Lanjut Hinata. Kali ini suaranya terdengar mantap dan sangat yakin.
"Apa kau sudah menyelsaikan skripsi mu ?" Tanya Naruto begitu Hinata menghentikan perkataan nya.
"Aku bahkan sudah mendapatkan sarjana kedokteran ku, aku hanya tinggal mengambil program profesi ku jika saja masalah ini tidak terjadi kepada keluarga ku." Jawab Hinata.
Ada rasa sendu disana, dan Naruto bisa merasakannya. Ia tahu dan sangat tahu perempuan yang sedang duduk di sebelahnya ini bukanlah perempuan dari keluarga biasa. Hyuga itu keluarga terpandang di Konoha, namun seperti yang terjadi pada Hinata, perpecahan di dalam tubuh keluarga itu membuat keadaan berubah. Mereka berusaha menjatuhkan satu sama lain, karena menjadi pimpinan tertinggi keluarga Hyuga sama dengan sebuah kejayaan.
"Apa Namikaze- san benar-benar tak menginginkan tubuh ku ?" Lanjut Hinata bertanya.
Bagaimanapun juga ia butuh kejelasan, karena niat awalnya menemui lelaki itu adalah untuk menjual keperawanannya.
"Aku tidak pernah mengatakan aku tak menginginkan tubuh mu." Lanjut Naruto, kali ini lelaki itu menatap Hinata dengan intens, ia edarkan iris birunya dan berhenti tepat pada dada Hinata. "Kau sangat menggoda Hinata, dan aku akan dengan senang hati melucuti pakaian mu sekarang juga."
Hinata tersipu semburat merah mampir bertengger di atas pipi mulusnya, membuat Naruto tersenyum simpul. Hinata buru-buru mengalihkan pandangan nya, ia tidak mau Naruto mengetahi bahwa ada rasa nervous saat iris mereka bertemu pandang, meski hal yang Hinata lakukan sangat sia-sia karena lelaki itu dengan cepat menahan dagu Hinata agar tetap menghadap ke arah nya.
"Ap..a ?" Tanya Hinata terbata, ada banyak hal yang berkecamuk di pikirannya salah satunya adalah bayangan saat Naruto yang tengah menciumnya.
"Lanjutkan pendidikan mu." Ucap Naruto, ia mengelus dagu Hinata dengan ibu jarinya.
"Tapi..."
Cup.
Sebuah kecupan mendarat di bibir Hinata tepat sebelum perempuan itu menyelsaikan ucapan nya, membuat ia kehilangan kata-katanya, ia malah terpesona dengan wajah lelaki yang tengah menatap matanya.
"Jangan membantah ku." Ucap Naruto masih dengan jarak yang sangat dekat dengan Hinata, membuat perempuan itu dengan mudah menghidu wangi cytrus dari tubuh Naruto.
"Aku tetap akan membayar mu." Lanjut Naruto membut Hinata menahan nafasnya, ia hanya tak ingin terlalu lama menghidu wangi memabukkan yang menguar dari tubuh Naruto.
"Tapi bagaimana dengan..."
Cup.
Naruto kembali memberikan kecupan pada Hinata, seolah ia tak mengizinkan perempuan itu mencela perkataan nya.
"Jangan khawatir, akan ku pastikan akulah lelaki pertama yang akan meniduri mu." Ucap Naruto membuat Hinata memalingkan wajah, ia mencoba menutupi rasa malu yang ia rasakan karena mendengar perkataan Naruto.
Sementara Naruto sudah kembali memakan kudapan nya, Hinata malah sibuk menenangkan detak jantung nya yang entah kenapa setiap mendengar suara lelaki itu berdetak lebih cepat dari pada biasanya.
Hinata pernah beberapa kali menjalin asmara dengan lelaki namun ia bahkan tak pernah merasakan sensasi aneh seperti saat bersama dengan Naruto, ia mencoba berpikir rasional tentang desiran yang Naruto timbulkan, mungkin salah satunya adalah faktor usia, lelaki itu lahir beberapa tahun sebelum dirinya, pasti Naruto juga sudah sangat berpengalaman dalam menggoda perempuan.
Ck. Hinata berdecak dalam hati, ia tak boleh masuk kedalam pesona Naruto. Ia harus profesional, dan kembali ke tujuan utamanya ; menjual keperawanan.
