I'm sorry, but I love you
Naruto Namikaze x Hinata Hyuga
M
Naruto@Masashi Kishimoto
Tidak ada yang tahu seperti apa takdir yang sudah di gariskan oleh Tuhan, begitu pula Hinata yang masih tidak mengerti mengapa di beri cobaan seberat ini oleh Tuhan. Mulai dari kekasihnya yang berselingkuh, keluarganya yang bangkrut, ia yang harus mengambil cuti program profesi kedokteran, juga ia yang saat ini mati-matian bekerja paruh waktu agar bisa melunasi hutang orang tuanya.
Semuanya beruntun seperti tanpa jeda, membuat perempuan itu sering bertanya-tanya sebenarnya dosa apa yang pernah ia perbuat hingga hidupnya berubah menjadi sangat menyedihkan seperti sekarang ini.
Hinata berjalan gontai menuju perpustakaan, disela-sela bekerja paruh waktu ia tetap menyempatkan diri untuk membaca jurnal dan buku-buku kedokteran. Meski tidak tahu kapan ia bisa melanjutkan program profesi kedokterannya, namun ia tak mau menyerah begitu saja dan menelantarkan ilmu yang susah payah sudah ia dapatkan.
Buku tebal yang berisikan ilmu penyakit dalam sudah bertengger manis dihadapan Hinata, ia mencari halaman terakhir yang kemarin sempat ia baca, namun sebelum ia menemukan halaman yang ia cari konsentrasinya sudah terpecah terlebih dahulu. Ingatannya melayang kebeberapa hari lalu saat mendapat tawaran dari Naruto.
Pagi itu setelah menyelsaikan ritual makan pagi, Naruto menawarkan diri untuk mengantarkan Hinata pulang sampai ke apartemennya.
Bukan hanya mengantar, bahkan lelaki itu sampai mengikuti Hinata masuk kedalam apartemen sempit yang Hinata tinggali.
Flashback.
Naruto ikut turun dari Aventador berwaran orange yang ia kemudikan saat mengantar Hinata pulang, banyak hal yang mengganggu pikirannya, salah satunya adalah memikirkan ditempat seperti apa Hinata tinggal.
Awalnya ia sangat kaget melihat ruangan sempit yang bahkan lebih sempit dari pada closet di apartemennya, namun ia buru-buru mengendalikan dirinya, tak ingin Hinata mengetahui apa yang ia pikirkan mengenai tempat tinggal perempuan bermarga Hyuga itu.
"Kau tinggal sendirian ?" Tanya Naruto begitu menyadari hanya ada satu kamar di apartemen Hinata.
"Iya." Jawab Hinata sambil melepaskan hoddie yang lelaki itu pinjamkan padanya. "Orang tua ku tinggal di Iwagakure."
Naruto terdiam, mengamati sudut demi sudut ruangan yang seumur hidupnya baru kali ini ia pijaki. Ia tak pernah menyangka bahwa di kota metropolitan seperti Konoha masih ada apartemen seperti ini.
"Aku tahu apa yang ada di pikiran Namikaze- san." Hinata mengulurkan satu kaleng kopi dingin kepada Naruto. "Jangan terlalu heran, di Konoha masih ada tempat seperti ini."
Naruto menerima kopi yang Hinata berikan dengan perasaan sedikit bersalah, ia benar-benar tak bermaksud membuat perempuan itu merasa rendah diri.
"Kau cenayang ?" Tanya Naruto mencoba mencarikan suasana.
"Kau.." Balas Hinata membuat Naruto menoleh ke arah perempuan itu. "Wajah mu sangat bisa terbaca."
"Maaf." Ucap Naruto dengan tulus.
Ia tak berharap Hinata akan menghadiahinya dengan sebuah senyuman. "Jangan terlalu kaku, ini bukan hal yang menyedihkan."
"Malah ini lebih baik, dari pada harus tidur di emperan toko." Lanjut Hinata.
"Pindah saja ke apartemen ku." Ucap Naruto, membuat Hinata menghentikan gerakan nya.
Perempuan itu menatap Naruto penuh tanda tanya. Tidak yakin, dan merasa apa yang dikatakan oleh lelaki itu hanyalah candaan.
"Aku serius Hinata." Lanjut Naruto, lelaki itu terdengar sangat percaya diri dan sangat yakin dengan ucapannya sendiri. "Aku bahkan tidak pernah seserius ini sebelumnya. Kau tinggal saja di Apartemen ku, lagi pula aku jarang sekali berada disana."
"Maaf Namikaze- san, tapi aku hanya menjual keperawanan ku, aku tidak berniat untuk mengikat hidup ku dengan lelaki yang bahkan tidak aku kenal sebelum nya." Balas Hinata.
Dari awal Hinata menemui Naruto memang hanya untuk satu tujuan, yaitu menjual keperawanannya. Tidak pernah ada niat lain karena yang perempua itu butuhkan hanyalah uang dari Naruto, ia bahkan tak pernah—sekali pun—membayangkan lelaki itu akan mengunjungi rumahnya seperti ini.
Hinata tidak pernah menampik kenyataan bahwa Naruto adalah lelaki yang tampan, ia bahkan sempat tergoda dengan pesona yang lelaki itu miliki. Tidak sampai disitu, Hinata juga mengakui bahwa Naruto adalah pencium yang handal, namun ia sama sekali tidak tertarik untuk mengikat hidup nya dengan lelaki itu.
Naruto menatap Hinata heran, ada sedikit bagian dari dirinya yang terluka saat mendengar ucapan perempuan itu. Ia adalah lelaki yang dalam hidupnya hampir tidak pernah mendapatkan penolakan, apapun yang ia inginkan pasti akan ia dapatkan, namun dengan Hinata sepertinya ia harus rela jika mengorbankan sedikit harga dirinya.
Dari awal ia sudah menduga, bahwa perempuan yang tengah menatapnya ini adalah lawan yang tangguh, jika salah langkah justru ia yang akan kalah.
"Kau salah mengartikan ajakan ku Hinata- chan." Lagi-lagi Naruto membuat Hinata merona hanya karena suffix yang lelaki itu berikan. "Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk mengikat hidup mu kepada ku."
"Lalu kenapa kau meminta ku untuk tinggal di tempat mu ?" Balas Hinata bertanya. "Apa Namikaze- san tidak pernah berpikir bahwa itu sangat aneh, mengizinkan orang yang bahkan tidak kau kenal untuk tinggal di apartemen mewah mu."
Naruto memiringkan tubuhnya, membuat Hinata terpojok di atas sofa minimalis yang keduanya duduki. "Aku tidak pernah berpikir itu aneh, lagi pula aku tidak bisa bercinta di sembarang tempat."
Hinata terdiam, ia terlalu gugup karena posisi nya yang sangat dekat dengan Naruto. Kata-kata yang sudah ia siapkan untuk mendebat lelaki itu satu persatu berhamburan tak bisa diselamatkan. Otaknya terasa kosong saat lagi-lagi Naruto memagut bibirnya.
Ciuman Naruto benar-benar lembut dan tak banyak menuntut. Meski Hinata masih perawan, namun ia sudah beberapa kali berkencan, jadi membalas ciuman Naruto bukan hal yang sulit bagi Hinata, terlebih apa yang dilakukan Naruto memang sedikit membangkitkan hasrat perempuan itu.
Lenguhan lolos dari Naruto saat Hinata dengan sengaja menggigit bibir lelaki itu, membuat Hinata yang mendengarnya menyunggingkan senyum saat lelaki itu melepas pagutan bibir mereka.
"Bermain kasar hm.. ?" Masih dalam jarak yang sangat dekat Naruto bertanya pada Hinata, mencoba menggoda perempuan yang malah menyunggingkan senyum, seolah sedang menantang Naruto.
Hinata tak menjawab pertanyaan Naruto, namun tatapan mata keduanya yang saling mengunci seolah menjadi izin untuk Naruto, untuk kembali melanjutkan permainannya.
Benar saja, Naruto langsung mendapat sambutan dari Hinata saat lelaki itu kembali menyatukan bibir untuk saling berbagi saliva, ciuman lembut berubah menjadi lumatan yang saling menuntut. Hinata mengalungkan tangannya pada leher Naruto, sesekali meragut rambut lelaki itu membuat ciuman keduanya semakin dalam.
"nnghhh..."
Hinata melenguh saat tangan Naruto mulai menggerayangi tubuhnya, lalu tiba-tiba bayangan rentenir penagih hutang itu muncul dalam otaknya, membuat ia reflek mendorong pundak Naruto.
"Kenapa ?" Naruto melepas pagutannya. "Apa aku menyakiti mu ?"
Ia menatap Hinata yang terlihat pasrah di bawah tubuhnya, sungguh benar-benar pemandangan yang sangat menggoda.
"Berikan uang itu, dan aku akan melayani mu." Ucap Hinata membuat Naruto memundurkan badannya.
Sial—batin Naruto frustasi—perempuan di sebelahnya ini benar-benar keras kepala, dan juga sangat pintar merusak suasana.
Hinata membenarkan duduknya, ia menyalahkan dirinya sendiri, kenapa bayangan rentenir itu justru muncul disaat seperti ini. Ada sedikit rasa bersalah saat irisnya menangkap pergerakan tangan Naruto yang tengah mengusap wajah, ia tahu pasti lelaki itu sedang dilanda rasa frustasi, rasa yang sama, seperti yang sedang ia rasakan.
"Pindahlah ke apartemen ku." Ujar Naruto. "Aku memberi mu waktu dua hari untuk membereskan semua barang-barang mu."
"Apa aku harus mengulangi perkataan ku sebelum nya ?" Balas Hinata bertanya, ia mulai jengah dengan permintaan Naruto yang memintanya untuk tinggal di apartemen milik lelaki itu. "Aku hanya menjual keperawanan ku Namikaze- san, bukan Hidup ku."
"Aku tidak menerima penolakan mu Hinata." Naruto menekan perkataan nya, ia benar-benar sebal dengan sikap egois Hinata, tidak bisakah perempuan itu hanya menuruti perkataannya saja. "Bahkan aku tidak akan pernah berpikir untuk mengikat atau bahkan membeli hidup mu."
"Tapi kau meminta ku untuk tinggal di apartemen mu." Hinata masih mendebat Naruto, ia benar-benar tak setuju dengan gagasan yang lelaki itu berikan.
Naruto menghela nafas kasar, ia menatap iris Hinata dengan lembut. "Sepertinya aku sudah pernah mengatakan pada mu bahwa aku tidak menetap disana, kau bahkan sudah melihat seperti apa kosong nya ruangan sebesar itu."
Hinata terdiam, pikiran nya kembali ke kejadian semalam saat lelaki itu hanya memberi nya segelas air mineral, dan juga pagi tadi saat Naruto mengatakan bahwa ia tinggal bersama kedua orangtua nya, lalu ia membalas tatapan Naruto, ia perhatikan dengan seksama wajah tampan Naruto, sepertinya lelaki itu memang tak sedang membohonginya.
"Dengar.." Naruto melanjutkan ucapannya. "Aku akan memberikan uang yang kau butuhkan, lunasi semua hutang orang tua mu, lanjutkan pendidikan mu, dan tinggal lah di apartemen ku."
"Kau bahkan belum meniduri ku." Balas Hinata membuat Naruto memutar bola matanya.
"Bagaimana aku meniduri mu jika kau saja menolak ku." Naruto meneguk kopi yang tadi sempat ia abaikan, sebelum melanjutkan ucapannya. "Percayalah, aku tidak akan mengikat hidup mu, atau menuntut mu untuk segera melepas keperawanan mu untuk ku."
Rasa bersalah kembali menerpa Hinata, pikirannya sempat tersesat begitu jauh hingga menganggap gagasan yang Naruto berikan adalah bentuk dari manipulasi lelaki itu untuk menguasai hidupnya. Dalam hati Hinata tertawa miris, ia menertawakan dirinya sendiri yang terlampau percaya diri.
"Lalu apa yang harus aku lakukan ?" Tanya Hinata, suaranya terdengar pasrah.
"Kau hanya harus tinggal di apartemen ku, dan perlakukan tempat itu selayaknya rumah mu." Jawab Naruto.
"Bagaimana dengan Namikaze- san ?" Tanya Hinata lagi.
"Seperti sebelum nya, aku akan menginap disana jika sedang malas pulang kerumah." Naruto menyenderakan tubuhnya pada sofa, iris birunya menatap langit-langit apartemen Hinata. "Kau tidak perlu khawatir, masing-masing dari kita memiliki privasi yang tidak bisa di langgar satu sama lain."
Flashback end.
Dan ini adalah harinya, hari dimana Hinata akan pindah ke apartemen lelaki yang bahkan tidak pernah Hinata kenal sebelum nya.
Bahkan masih ada rasa aneh yang masih belum bisa diterima oleh Hinata meskipun Naruto sudah menjelaskan semuanya, mengingat ini adalah kali pertama Hinata tinggal bersama dengan seorang lelaki yang tidak memiliki ikatan apapun dengan nya.
Hinata menghela nafas kasar, setumpuk buku yang ia ambil untuk dibaca nyatanya malah terabaikan oleh pikiran yang seharusnya tak perlu ia risaukan lagi.
Mungkin ia memang masih belum mengenal Naruto, ia bahkan tidak tahu seperti apa lelaki itu, namun ia mencoba untuk percaya pada lelaki itu.
Rules yang harus Hinata pegang dan ingat selama tinggal dengan Naruto hanya satu, yaitu untuk bersikap seprofesional mungkin. Ia tak boleh melibatkan perasaan, meskipun ia tahu lelaki itu sangat pintar membuat nya palpitasi jantung.
