I'm sorry, but I love you
Naruto Namikaze x Hinata Hyuga
T
Naruto@Masashi Kishimoto
Naruto menatap pantulan tubuh nya dari dalam cermin, ia bukan seorang narsistik namun ia jelas paham setiap kelebihan yang Tuhan anugerahkan kepada nya.
Tubuh tinggi dan tegap, wajah tampan, kepintaran, dan juga kekayaan, ia sudah memiliki semuanya. Hidupnya benar-benar sudah sempurna dan tanpa celah.
Ia sudah terbiasa menarik atensi kaum hawa, dan ia tak pernah menyianyiakan hal itu. Perempuan yang ia inginkan akan selalu ia dapatkan, mulai dari model internasional, artis, hingga sosialita Jepang.
Sudah tak bisa terhitung lagi berapa perempuan yang dengan cuma-cuma memberikan tubuhnya untuk Naruto tiduri, namun tidak ada satupun dari mereka yang berhasil menarik Naruto untuk menjalin sebuah ikatan. Lelaki itu terlalu sulit untuk ditaklukan.
Namun tidak dengan perempuan itu, perempuan yang baru saja ia temui beberapa hari lalu. Perempuan yang Naruto ketahui bermarga Hyuga itu adalah jenis perempuan yang tidak pernah ia temui sebelumnya.
Gesture perempuan pemilik wangi lavender itu memikat pandangannya saat pertama kali berjumpa. Tubuh yang sintal, tatapan mata yang teduh namun terkesan menantang, juga di tambah dengan bibir tipis yang sangat menggoda.
Awalnya ia berpikiran perempuan bernama Hinata itu sama saja dengan kebanyak perempuan yang datang membawa trik kotor yang sudah sangat ia hapal—menyerahkan tubuhnya untuk bisa mengikat hidupnya—namun ternyata perempuan itu sungguh sangat berbeda.
Disaat perempuan lain memuja dirinya, berharap bisa tinggal satu atap dengan nya, Hinata justru kebalikannya, perempuan itu dengan terang-terangan menolak ajakan nya untuk tinggal bersama. Bukan hanya itu ia juga harus beradu argumen terlebih dahulu sebelum benar-benar bisa meyakinkan Hinata agar mau menempati condominiumnya.
Naruto tersenyum mengingat pertemuan pertamanya dengan Hinata, bahkan tanpa mencobanya ia tahu jika perkataan perempuan itu adalah sebuah kebenara ; bahwa perempuan itu masih perawan.
Tidak Naruto pungkiri Hinata memang pencium yang andal, perempuan itu bisa menyeimbangkan permainan nya, meski pada akhirnya gerakan tubuh perempuan itu terasa sangat canggung. Dan sialnya, setiap ia ingin menginfansi lebih atas tubuh Hinata, ada perasaan aneh yang menyelimuti hatinya bahwa ia harus bermain secara seimbang, ia tak boleh tergesa-gesa dan harus membuat perempuan itu merasa nyaman—hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya pada perempuan lain.
Bvlgari Magsonic Sonnerie Tourbillon sudah melingkar di pergelangan Naruto, semakin menyempurnakan penampilan lelaki yang masih menatap bayangan tubuhnya dalam cermin. Lagi, ia menarik bibirnya menjadi sebuah senyum begitu mengingat hari ini adalah hari yang ia janjikan untuk menjemput Hinata.
Naruto turun ke lantai satu mansion keluarga Namikaze, disana sudah duduk lelaki yang sangat ia hormati, begitu juga dengan perempuan yang sangat ia cintai, menunggunya untuk bergabung di meja makan.
"Seperti biasa, kau selalu terlihat tampan." Ujar Kushina begitu Naruto mendekat ke arah meja makan.
Senyuman Khusina selalu seperti biasa bisa menebar kehangatan dalam rumah mewah yang Naruto tempati. Ia tersenyum tulus membalas senyuman perempuan yang telah melahirkannya itu.
"Bagaimana pekerjaan mu ?" Tanya Minato, lelaki itu terlihat santai di balik jas yang membalut tubuhnya.
"Tidak ada masalah." Jawab Naruto percaya diri.
"Kau tetap harus berhati-hati dengan Orochimaru." Ucap Minato "Ia masih berambisi menggeser posisi mu untuk Kabuto."
"Ayah tenang saja, semua akan baik-baik saja." Naruto terdengar percaya diri. "Kabuto tidak akan bisa menggeser posisi ku."
"Ini ruang makan, bukan ruang rapat." Ketus Kuahina, membuat dua orang lelaki yang terlihat sangat mirip itu menghadiahinya sebuah senyuman.
Makan pagi di mansion Namikaze memang selalu menyenangkan, kenatal akan suasana kekeluargaan, dan juga penuh kehangatan, berbeda dengan Hinata yang mesti menghabiskan ritual makan paginya seorang diri.
Lagi-lagi pikirannya melayang, membayangkan masa bahagianya di rumah keluarga Hyuga. Hinata merindukan ibu nya yang selalu membuatkan sarapan, ia juga merindukan sang ayah selalu mengajaknya berdiskusi sesaat setelah makan.
Betapa ia sangat merindukan keluarganya, merindukan kehangatan yang sudah lama tidak pernah ia rasakan. Ia ingin bertemu dengan kedua orang tuanya, ia ingin menghabiskan waktu bersama ibunya seperti yang dulu sering ia lakukan.
Hinata mencoba tegar, ia mengusap air mata yang keluar tanpa permisi. Semenyedihkan apapun hidupnya ia harus tetap menghadapi semuanya, atau ia tak akan pernah bertemu kedua orang tuanya lagi.
Tidak ada lagi alasan untuk bersedih, satu langkah lagi ia akan mendapatkan uang untuk melunasi hutang orang tuanya. Biarlah ia kehilangan mahkota yang selama ini ia jaga, asalkan pada akhinya ia bisa berkumpul dengan keluarganya, kembali menghabiskan waktu bersama ayah dan ibunya.
Naruto Namikaze : Bersiaplah, siang nanti aku akan menjemput mu
Hinata menghela nafas, ia lupa jika hari ini ia akan pindah ke apartemen lelaki yang baru beberapa hari ia kenal itu. Rasa enggan masih mendominasi perasaan nya, meninggalkan tempat yang dua tahun terakhir ini menjadi tempatnya melepas lelah bukalah hal yang mudah, terlebih masih ada pertanyaan yang terus berkecamuk dalam pikirannya, tentang apakah keputusannya untuk menerima tawaran Naruto sudah benar.
Hinata Hyuga : Iya.
Naruto tersenyum begitu melihat sebuah pesan dari Hinata. Bukan kata-kata sepesial, hanya tiga huruf dalam satu kata. Singkat, padat dan jelas seperti yang sudah Naruto prediksi seperti sebelumnya.
Tidak ada niat untuk membalas pesan dari Hinata, Naruto melajukan audynya ke Konoha Hospital—salah satu rumah sakit swasta terbaik di Jepang—ia berniat menemui sahabatnya yang menjadi dokter di rumah sakit itu.
Hari ini ia sengaja mengosongkan jadwal nya, beberapa rapat dengan mitra kerja ia serahkan pada Shikamaru—asisten pribadinya.
"Selamat pagi tuan.." Ucap penjaga keamanan Konoha Hospital saat mobil Naruto memasuki area rumah sakit yang sangat megah itu.
Naruto hanya menganggukkan kepalanya singkat, keangkuhan yang ia miliki memang seolah sudah menjadi hal yang lumrah bagi karyawan di semua perusahaan yang bernaung dibawah bendera Namikaze dan Uzumaki.
Audy hitam berhenti tepat di depan lobby utama Konoha Hospital, Naruto memberikan kunci mobilnya kepada parkir valet sebelum melangkahkan kakinya semakin jauh memasuki rumah sakit yang sangat megah ini.
Orang-orang menundukkan kepalanya saat berpapasan dengan Naruto, namun seperti biasa Naruto tidak mengindahkan perlakuan mereka.
Kakinya terus bergerak sampai netranya menangkap sososk seorang perempuan dengan suarai merah muda. Ia mendekat ke arah Sakura—nama perempuan itu—yang masih belum menyadari kehadirannya.
"Sangat sibuk hm ?" Tanya Naruto membuat Sakura terlonajak.
Perempuan itu sedang meneliti catatan pasien jantung yang baru saja masuk kedalam ruang perawatan, namun sepertinya kegiatannya akan terganggu karena kehadiran Naruto.
"Kau masih ingat punya rumah sakit ini ?" Balas Sakura, membuat Naruto terkekeh.
Beberapa suster dan dokter yang kebetulan lewat di antara mereka berdua menatap iri kepada Sakura, bagaimana tidak, perempuan itu bahkan bisa berbicara dengan santai dengan pewaris tunggal keluarga Namikaze dan Uzumaki itu.
"Aku merindukan mu." Ucap Naruto, membuat Sakura mendecih, ia sudah sangat hapal tabiat lelaki yang tengah tersenyum dengan sangat manis dihadapan nya ini.
"Tidak usah berbasa-basi." Balas Sakura. "Lebih baik kau langsung bertemu dengan Tsunade- sama."
Naruto menatap Sakura bosan, bisa-bisanya perempuan itu menyuruh nya untuk bertemu dengan satu-satunya orang yang ingin ia hindari.
"Aku membutuhkan bantuan mu." Ucap Naruto.
"Kau masih membutuhkan bantuan orang lain ?" Kekeh Sakura.
"Ayolah.." Wajah Naruto menghiba, hanya pada Sakura saja ia bisa menunjukkan wajah memelas itu.
"Di ruangan ku atau kafetaria ?" Tanya Sakura.
"Terserah kau saja." Jawab Naruto membuat Sakura menunjukkan senyum licik nya.
"Kafetaria saja, kebetulan aku belum sarapan." Ucap Sakura.
Mereka pun menuju kafetaria rumah sakit Konoha Hospital yang sudah terkenal karena kenyamanan, keberisihan dan rasa makanannya yang sangat enak.
"Ku rasa dokter itu selalu menjaga apa yang mereka makan." Ucap Naruto saat makanan yang sakura pesan sudah datang.
"Aku hanya manusia biasa." Ucap sakura sambil mengambil sandwich yang ia pesan. "Kau tau, makanan sehat itu makanan yang mengandung nutrisi yang dibutuhkan tubuh."
"Dan nutrisi yang dibutuhkan setiap orang itu berbeda, jadi jangan membandingakan makanan ku dengan apa yang kekasih mu makan." Lanjut Sakura.
"Aku tidak memiliki kekasih." Sanggah Naruto.
"Lalu untuk apa kau ada disini jika bukan karena seorang perempuan ?" Cecar Sakura membuat Naruto salah tingkah.
"Karena aku membutuhkan bantuan mu." Jawab Naruto.
Sakura menatap Naruto heran, ini adalah kali pertama sahabatnya itu terlihat sangat serius.
"Ada seorang perempuan yang membuat ku iba." Sakura tersedak makanannya saat mendengar ucapan Naruto.
"Aku serius." Lanjut Naruto. "Dia seorang sarjana kedokteran, dia membutuhkan rumah sakit untuk melanjutkan program profesinya, dan ya.. dia miskin."
"Apa sekarang kau berkencan dengan perempuan miskin ?" Tanya Sakura sambil terkekeh. Perempuan itu jelas sangat tau seperti apa selera perempuan seorang Namikaze Naruto.
"Aku hanya iba, hidupnya benar-benar sangat menyedihkan." Jawab Naruto mencoba meyakinkan Sakura, atau perempuan itu akan terus mengolok diri nya.
"Aku sangat ingin membantu mu, tapi kau tau sendiri kan Rumah sakit punya mu ini hanya bekerja sama dengan Konoha University." Sakura menatap Naruto dengan serius.
Naruto memutar bola matanya bosan, dia tidak tahu jika peraturan Rumah Sakit milik nenek nya ini begitu rumit. Lebih dari itu, ia menajadi frustasi karena tidak tahu apa Universitas Hinata.
"Ngomong-ngomong, dari mana kau mengenal perempuan itu ?" Tanya Sakura penasaran.
"Bukan urusan mu." Jawab Naruto yang langsung di hadiahi kekehan Sakura.
Sakura tahu jika ada sesuatu yang berbeda dengan perempuan yang bisa membuat sahabat nya merasa iba itu. Bahkan ia baru pernah melihat seorang Naruto begitu peduli pada orang lain selain orang terdekatnya.
Bagi Sakura, Naruto adalah lelaki yang sangat rumit dan juga pemilih. Bahkan ia pun sangat tahu seperti apa tipe perempuan yang akan Naruto kencani meskipun hanya kencan satu malam.
Naruto tidak menyukai wanita miskin, itu juga salah satu alasan pria itu menolak cintanya beberapa tahun yang lalu. Dan itu terbukti sampai sekarang, tidak ada satupun perempuan miskin yang berkeliaran di kehidupan lelaki itu. Sakura tersenyum singkat mengingat bahwa sejauh ini satu-satunya perempuan miskin yang berhasil masuk kedalam kehidupan seorang Naruto adalah dirinya.
Bukan karena lelaki itu mencintai nya, tapi kerana Naruto sudah menganggapnya seperti seorang saudara perempuan.
Mengingat itu semua, membuat lagi-lagi seutas senyum tulus timbul di atas bibir Sakura, ia turut berbahagia meski Naruto belum secara langsung memberi tahu nya tentang perempuan itu, karena bagi Sakura ini sudah begitu lama dari terakhir kalinya ia melihat Naruto menjadi lelaki yang hangat seperti sekarang ini.
