I'm sorry, but I love you

Naruto Namikaze x Hinata Hyuga

M

Naruto@Masashi Kishimoto

Hinata kembali menapakkan kaki di tempat yang beberapa hari lalu ia datangi dengan segala nyali yang ia miliki, pun masih dengan lelaki yang sama yang sempat ia temui.

Naruto menatap Hinata lembut saat lelaki itu berhasil menempatkan koper yang perempuan itu bawa kedalam sebuah kamar yang sudah ia persiapkan sebelumnya.

"Sekarang kamar ini menjadi milik mu." Ucap Naruto

"Terimakasih." Jawab Hinata singkat, ia masih tidak tahu harus bersikap seperti apa saat ini.

Ia merasa bersyukur bisa tinggal di tempat yang sangat layak dan nyaman ini, namun disisi lain ada bagian dari dirinya yang masih belum bisa menerima keputusan untuk tinggal di apartemen milik Naruto.

"Duduklah, banyak hal yang ingin aku bicarakan dengan mu." Lanjut Naruto sebelum menjatuhkan pantatnya di atas sofa.

Hinata mengikuti apa yang dilakukan oleh Naruto, duduk di sofa tepat di seberang lelaki yang terlihat jauh lebih tampan dari saat terakhir kali mereka bertemu.

Naruto meletakkan selembar kertas diatas meja, mengangsurkannya kearah Hinata.

"Sekarang uang ini menjadi milik mu." Ucap Naruto.

Hinata mengambil kertas yang ternyata sebuah cek itu, ditelitinya huruf demi huruf, angka demi angka yang tertera didalamnya.

"Kau bisa melunasi semua hutang orangtua mu." Lanjut Naruto masih sambil menatap Hinata. "Berhentilah bekerja dan lanjutkan program profesi mu."

Netranya kembali bertemu dengan iris biru Naruto, ia tidak suka saat ada orang yang mengurusi hidupnya, terlebih Naruto hanyalah orang asing yang baru beberapa hari ia kenal.

Mungkin terdengar egois, dan juga tidak tahu diri namun itulah kenyataannya. Hinata tidak suka Naruto terlalu ikut campur dalam kehidupan nya.

"Jangan berpikir terlalu jauh." Hinata belum sempat mengutarakan apa yang ada dipikirannya saat Naruto melanjutkan kata-katanya. Lelaki itu seperti bisa mengetahui apa yang ada didalam otak Hinata.

"Aku tidak bermaksud ikut campur atau masuk kedalam kehidupan mu, ini adalah solusi yang paling mudah yang bisa aku pikirkan untuk kebaikan mu."

"Aku tidak mengerti apa yang Namikaze-san katakan." Balas Hinata.

"Pertama jangan panggil aku Namikaze-san, kau hanya perlu memanggil nama ku saja." Naruto menatap Hinata sebelum melanjutkan perkataan nya. "Kau bisa berhenti dari Konoha Club dan bekerja pada ku, aku akan membayar mu dua kali lipat dari KC."

Kini giliran Hinata yang menatap Naruto, membuat netra keduanya bertemu. Lagi-lagi ada perasaan aneh yang menerpa Hinata, ia mulai merasakan desiran aneh dalam dadanya tiap kali bertemu pandang dengan Naruto.

Keindahan iris lelaki berkulit tan itu sangat mempesona sampai-sampai ia tak bisa melepaskan pandangan begitu saja. Hinata terpaku, ia tersihir dan tak bisa berpaling dari tatapan yang memabukkan itu.

"Terpesona hm ?' Hinata Kaget, ia buru-buru mengendalikan tubuhnya. Sementara Naruto, lelaki itu tersenyum miring saat menyadari Hinata tak bisa memalingkan tatapan dari matanya.

"Maaf." Ucap Hinata lirih, ia tidak bisa mengatakannya secara langsung bahwa ia memang tengah terpesona pada lelaki yang berada di hadapannya itu.

"Pikirkanlah baik-baik tawaran ku, kau hanya perlu berhenti bekerja, melanjutkan pendidikan mu, dan bekerja pada ku."

"Apa kau bisa memberi tahu ku tentang pekerjaan itu ?" Tanya Hinata ragu, pikirannya berkecamuk takut-takut Naruto akan memintanya untuk melakukan hubungan seksual setiap hari.

Hinata menggelengkan kepalanya, mencoba menghalau segala bentuk pikiran kotor yang terus berseliweran dalam otaknya.

Naruto tersenyum, ia bisa menebak apa yang tengah Hinata pikirkan. Perempuan itu sangat lucu—batinnya—bahkan hanya dengan hal sederhana, ia bisa menemukan hiburan dari tingkah Hinata.

"Jadilah pembantu ku."

"Apa !" Suara Hinata naik satu oktav mendengar perkataan Naruto.


Maaf ya untuk readers update-nya lama, dan juga tidak panjang...

Tinggalkan review dan masukan untuk cerita ini, terimakasih...