I'm sorry, but I love you
Naruto Namikaze x Hinata Hyuga
M
Naruto@Masashi Kishimoto
Konoha Club International Party Bar
Hinata menatap logo KC dan mengeja tulisan dibawahnya dengan seksama. Tempat yang selama ini menjadi sumber mata pencahariannya, tempat yang sudah menjadi rumah keduanya, di tempat ini pula ia bertemu dengan Konan—perempuan yang mengenalkannya dengan Naruto—tanpa perempuan itu sepertinya ia harus menunggu beberapa puluh tahun lagi untuk melunasi semua hutang kedua orang tuanya.
Sekarang ia sudah membayar hutang orang tua nya, dan ia sudah mendapat tempat tinggal yang lebih layak dari tempat tinggal nya yang lama. Jika bukan karena Naruto yang sampai saat ini masih belum menidurinya, Hinata pasti akan lebih memilih untuk resign dan melanjutkan hidupnya di Iwagakure bersama kedua orangtua nya.
Rasa enggan lagi-lagi menyerang Hinata, membuat langkah nya terasa berat. Namun keputusannya sudah bulat, bagaimana pun kesempatan emas seperti ini tidak akan pernah terjadi sebanyak dua kali dalam hidup nya.
"Maaf kan saya Yuhi- san." Ucap Hinata saat mengangsurkan surat pengunduran diri pada Kurenai—manager kepegawaian di KC.
"Kau yakin ?" Tanya Kurenai yang memang mengetahui kondiri Hinata. "Bagaimana hutang kedua orang tua mu ?."
"Aku sudah mendapatkan pekerjaan lain." Jawab Hinata, ia merasa tidak enak hati saat menatap Kurenai, perempuan itu sangat berjasa dalam hidupnya.
"Baiklah kalau begitu, semoga pekerjaan mu lebih baik dan kau bisa menghasilkan uang lebih banyak." Kurenai tersenyum tulus pada Hinata. "Kau besok bisa mengambil gaji terakhir mu."
"Terimakasih Yuhi- san, anda sudah memberi saya pekerjaan."
Hinata melakukan Ojigi sebagai tanda terimakasih dan permohonan maaf kepada orang yang sudah banyak membantu nya itu. Mungkin tanpa bantuan perempuan itu saat ini Hinata sudah menjadi budak dari rentenir yang terus menerus memeras keluarga nya.
"Sekali lagi terimakasih Yuhi- san untuk bantuan anda selama ini, anda sangat berjasa dalam kehidupan saya." Sekali lagi Hinata menundukkan tubuhnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan Kurenai yang masih tersenyum dengan tulus ke pada Hinata.
Sementara itu di museum seni Konoha dua sejoli melangkahkan kaki secara berbarengan, berjalan santai sambil memperhatikan makna serta keindahan dari sebuah lukisan.
"Kau hanya membuang waktu dengan melakukan trik seperti ini kepada ku." Ucap Naruto kepada wanita yang berada disebelah nya.
"Jika aku tahu pria itu adalah diri mu, aku tidak akan pernah menyetujui kencan buta ini." Jawab perempuan yang terlihat sangat angkuh itu.
Naruto tersenyum, ia jelas tahu siapa Koyuki Kazahana perempuan yang sudah dua kali melakukan trik licik untuk bisa "berkencan" dengannya. Sama-sama dari kalangan super tycon rasanya sangat mustahil jika perempuan itu tidak mengetahui siapa pasangan kencan butanya kali ini.
"Kali ini siapa yang kau libatkan ?" Naruto melirik Koyuki yang masih terlihat angkuh. "Ku tebak kali ini kau memberikan hadiah kuda pada kakek ku."
"Kau terlalu percaya diri Namikaze- san." Ucap Koyuki.
"Bukankah dari awal memang kau yang menginginkan untuk berkencan dengan ku ?" Naruto menatap lama sebuah lukisan abstrak di hadapannya.
Kali ini Naruto menatap Koyuki sebelum melanjutkan perkataan nya. "Hanya ada dua perempuan didunia ini yang tidak aku kencani, pertama perempuan miskin, yang kedua perempuan yang sangat aku hormati."
"Jika kau tetap memilih untuk berkencan dengan ku, maka kau harus masuk kriteria perempuan yang ketiga."
Koyuki menoleh mendapati Naruto yang masih menatapnya. Suasana terasa tegang meski belum ada kata yang terucap dari Naruto.
Melihat tatapan mata lelaki itu saja Koyuki seolah dipaksa untuk menyadari bahwa apapun yang akan keluar dari mulut Naruto adalah sesuatu yang akan berdampak pada dirinya.
"Perempuan yang bisa ku tiduri kap..."
Plak..
Belum selesai Naruto menyelsaikan ucapannya, sebuah tamparan sudah bersarang dipipinya.
"Kau brengsek !" Ucap Koyuki sebelum meninggalkan Naruto. " Kami-sama menyaksikan apa yang kau perbuat pada ku, tanpa aku membalas perbuatan mu kau akan segera mendapat balasannya."
Naruro terdiam beberapa detik sebelum mengangkat bahunya acuh, ia tidak percaya karma. Lagi pula apa yang ia lakukan juga karena ia masih memperdulikan kehormatan keluarga Kazahana sebagai perdana menteri negara.
"Dalam tiga jam, ku beri kau waktu tiga jam untuk memindahkan lukisan karya Sai kedalam apartemen ku." Ucap Naruto pada lelaki yang berda di seberang telfon.
"Merepotkan." Jawab lelaki dibalik telfon sebelum memutuskan sambungan.
Mata Naruto kembali menatap lukisan karya Sai, entah kenapa ada bagian dari lukisan itu yang menggambarkan sosok perempuan yang akhir-akhir ini cukup mengganggu atensinya. Lavender, kuat dan lembut dalam waktu yang bersamaan.
Naruto Namikaze : Aku akan menjemput mu.
Hinata mengehela nafas saat membaca pesan dari Naruto—majikan nya yang sekarang—ia bahkan tidak tau kenapa lelaki itu mau repot-repot menjemputnya.
Hinata Hyuga : Aku masih menyelsaikan urusan ku di KC
Naruto bahkan tidak peduli dimana Hinata berada, bahkan jika perempuan itu berada di planet lain, ia akan membeli pesawat ruang angkasa hanya untuk menjemputnya.
Naruto Namikaze : On my way. Mobil merah dalam basement vvip.
Terserah kau sajalah—batin Hinata sambil membersihkan loker dari barang-barang miliknya. Ia sengaja tidak membalas pesan dari Naruto, karena percuma saja toh ia tidak bisa menolak permintaan lelaki itu.
"Kau benar-benar akan meniggalkan tempat ini ya ?" Suara Ten Ten membuat Hinata menolehkan kepalanya ke arah perempuan bercepol dua itu. "Apa ini karena lelaki itu ?"
"Lelaki ?" Hinata mengerutkan kening nya, ia tidak tahu lelaki mana yang dimaksud Ten Ten. Bahkan tidak ada yang mengetahui tentang hubungan nya dengan Naruto selain Konan, kecuali perempuan itu menyebarkan nya pada lingkungan karywan KC. Tapi Hinata tahu Konan tidak akan melakukannya.
"Kemarin ada lelaki yang mengaku sebagai tunangan mu." Ucap Ten Ten membuat Hinata terkekeh.
"Mana mungkin." Ucap Hinata masih terkekeh. "Lagipula untuk apa aku bekerja seperti ini jika sudah memiliki tunangan."
Ten Ten mengangkat bahunya, ia setuju dengan ucapan Hinata. Namun kedatangan lelaki itu, dan apa yang lelaki itu katakan saat mencari Hinata sangat meyakinkan sampai Ten Ten pun sempat mempercayai perkataan sang lelaki bahwa Hinata adalah tunangan nya.
"Kau tidak penasaran ?" Tanya Ten Ten pada Hinata yang hampir merampungkan pekerjaannya. "Padahal lelaki itu sangat tampan."
"Definisi tampan versi mu itu sangat kacau." Ucap Hinata sambil mengkat box berisi barang-barangnya. "Rock Lee saja kau bilang tampan."
Hinata terkekeh membuat Ten Ten mendengus sebal. Padahal lelaki itu benar-benar tampan, sangat berbeda dengan Rock Lee atau Kiba.
"Ayo aku bantu." Ucap Ten Ten. Mencoba mengambil box dari tangan Hinata.
"Tidak perlu." Balas Hinata sambil tersenyum, selain karena ia tidak ingin merepotkan Ten Ten, ia juga tidak mau orang lain tahu keberadaan Naruto dalam hidupnya.
"Ayo lah." Ten Ten mengiba dengan wajah memelasnya. "Terakhir kali sebelum kau meninggalkan tempat ini."
"Aku benar-benar bisa melakukannya sendiri, kau lebih baik bersiap." Ucap Hinata mencoba menolak permintaan Ten Ten secara halus.
"Ya sudahlah." Ten Ten akhirnya menyerah. "Hiduplah dengan baik Hinata, jangan memporsir tubuh mu terlalu berlebihan, kau tau kemana jika membutuhkan tempat bercerita."
Tak kuasa, Hinata meletakkan box nya dan menghadiahi Ten Ten dengan sebuah pelukan. Meskipun Hinata tak pernah menceritakan keadaan keluarganya pada Ten Ten, tapi perempuan itu adalah orang yang selalu ada disaat Hinata membutuhkan bahu untuk bersandar. Bahkan sampai saat ini perempuan yang sangat fasih berbahasa mandarin itu tidak pernah memaksa Hinata untuk menceritakan masalah yang sedang di hadapi. Ten Ten ada tanpa mencampuri kehidupan Hinata, kehadiran nya adalah sebuah anugerah bagi Hinata.
Tanpa permisi air mata menyeruak keluar, ia pasti akan merindukan kehadiran Ten Ten dalam hari-harinya.
"Jangan pernah berpikir menggati nomor ponsel mu." Ucap Hinata sebelum melepas pelukannya pada Ten Ten.
"Aku selalu ada disini." Balas Ten Ten membuat Hinata sekali lagi memeluk nya.
"Sampai jumpa." Ucap Hinata melepas pelukannya. "Aku pasti akan menghubungi mu."
Keluar dari ruang karyawan, Hinata pun akhirnya benar-benar berpisah dengan Ten Ten. Kakinya terus melangkah menuju basement dimana disana sudah terparkir sebuah mobil sport berwarna merah.
Dibalik kemudi dengan samar Hinata melihat senyuman Naruto. Hinata tidak tahu dengan pasti namun lagi-lagi ia mengalami palpitasi jantung bahkan saat sedang tidak berdekatan dengan Naruto.
Sebelum masuk kedalam mobil Hinata mencoba menenangkan dirinya, ia tidak mau terlihat konyol di hadapan "majikan" nya itu. Selain itu Hinata juga mengingatkan dirinya sendiri agar tetap profesional, ia boleh terpesona dengan Naruto—lagi pula mana ada perempuan normal dan dewasa yang tidak terpesona dengan kesempurnaan yang melekat pada lelaki itu—namun satu yang pasti, ia tak boleh melibatkan perasaannya dalan pekerjaannya yang sekarang.
Karena hubungannya dengan Naruto hanya sebatas pembantu dan majikan.
Maaf kalau tidak sesuai ekspektasi pembaca, dan jika masih banyak typo.
Terimakasih untuk yang masih setia dengan cerita ini, review kalian menambah semangat penulis xoxo
