.

.

.

ATTACK ON TITAN © HAJIME ISAYAMA

A Fanfiction by Racci-sora

"INSECURITIES"

Seberapa layak kita berdampingan bersama?

Background: AoT Manga Chapter 107; AoT Final Season Anime Episode 10
.

.

.


Ada hal-hal yang lucu bagi seorang Mikasa Ackerman. Itu adalah ketika ia memikirkan bagaimana matahari harus terbenam untuk dapat melihat rembulan. Atau bagaimana manusia perlu jatuh sebelum bisa berjalan. Atau bagaimana makhluk hidup harus saling membunuh untuk dapat bertahan. Yang lebih mengerikan adalah bagaimana manusia harus saling makan-memakan untuk mewariskan suatu kutukan.

Mikasa menyadari, semua perumpamaan yang ia sebutkan persisnya yang terakhir, itu adalah kenyataan. Di sampingnya ia melihat Eren Jaeger menggebrak meja, tangannya terkepal menekan.

Lelaki itu bangkit dari kursinya dan berkata jelas, "Jika dinding akan dihancurkan, dan semuanya akan diinjak-injak pada akhirnya..." Eren tampak menggantungkan kalimatnya dengan nada pelan.

"Jika Anda mengatakan bahwa kelangsungan hidup kita bergantung pada hal-hal ini, dan kemudian seseorang dibesarkan seperti ternak untuk menghasilkan anak sampai mereka mati, aku tidak mungkin akan dapat menerima rencana Zeke Jaeger." Lanjutnya lagi.

Mikasa terdiam, mengamati lelaki itu dalam-dalam. Ekor matanya beralih melihat ke sudut lain dari ruangan. Sembari kepalanya menyusun suatu anggapan, ia bertanya-tanya apakah barusan itu suara hatinya yang berdentam?

Karena, lucunya lagi, mengapa menyesakkan? Bukankah tadi saja hatinya baru berdebar bahagia? Mengingat sebelum pertemuan dengan Azumabito ini dimulai, Eren benar-benar membuatnya kelabakan. Ia tak menyangka lelaki itu akan mengingat tato—yang memang pernah ia perlihatkan sewaktu kecil kepada lelaki itu—di pergelangan tangannya.

Dan dengan itu, Mikasa secara ajaib berubah menjadi kandidat tuan putri—Hizuru's hope, the descendent of Nation's Lost Lord—seperti yang dikatakan oleh Kiyomi Azumabito. Suatu fakta yang aneh, karena bagi Mikasa ini adalah hal yang lucu. Hey, kau tiba-tiba menjadi tuan putri setelah apa yang sudah terjadi? Bagaimana dengan kedua klannya yang dipersekusi? Orang tuanya yang meninggal dunia? Baik sebagai Ackerman maupun keturunan Azumabito, Mikasa tidak pernah merasa spesial dari awal. Ia selalu dikatakan spesial setelah mengalami hal-hal yang buruk. Dan ini terjadi lagi. Namun anehnya Mikasa merasa...

Insecure.

Insecurity.

Insecurities.


Bagi Eren Jaeger, kehidupannya sudah seperti komedi. Ia tidak tahu haruskah tertawa ataupun biasa saja karena sudah sangat alami. Ia sudah terbiasa dengan segala sesuatu yang berjalan layaknya menyelesaikan puzzle—teka-teki. Kehidupannya tidak pernah lengkap bahkan barang sehari.

Namun ia ingin menyelesaikan sesuatu. Menjaga sesuatu yang selalu sempurna, indah namun mendebarkan, menyenangkan juga menyakitkan. Melirik dari sudut matanya, Eren bisa melihat Mikasa Ackerman yang duduk di sampingnya, terdiam membatu. Eren tahu gadis itu berusaha memperhatikan, namun detik berikutnya ia akan melamun, begitu mudah ketahuan.

"Mikasa, kamu melamun." Bisik Eren.

Eren menahan pintu untuknya, mempersilakan gadis itu berjalan terlebih dahulu setelah mereka pamit untuk undur diri dari pertemuan itu. Tampaknya masih banyak masalah politik yang akan dibahas dan mereka tidak diharuskan lagi untuk ikut. Eren memperhatikan Mikasa—sebenarnya, selalu. Gadis itu tampak berbeda dan Eren mengambil inisiatif untuk pamit, mengajak Mikasa tentu saja untuk ikut.

Dan lihatlah raut bingung yang ditampilkan oleh gadis itu. Menggemaskan. Tunggu. Kosakata yang menggelikan. Membuat Eren tanpa sadar makin terpaku. Dalam diam, mereka hanya bertatap-tatapan.

"Kenapa senyum-senyum begitu?" Perkataan Mikasa menyadarkan Eren, oh apakah ia baru saja tersenyum? Seperti orang bodoh?

Dan Mikasa benar-benar ingin tahu alasannya. Alasan-alasan kecil seperti mengapa Eren tersenyum, mengapa Eren kesal, mengapa Eren tertawa atau mengapa Eren marah. Lelaki itu tidak menjawab, hanya terus menatap, dan senyum sialan itu belum hilang dari wajahnya. Jantung Mikasa berdegup, akhir-akhir ini jarang sekali seorang Eren Jaeger tersenyum, oleh karena itu Mikasa yakin pipinya memerah.

"Mikasa." Eren menyebut namanya.

Namun gadis itu masih membatu dengan wajah sudah merah seperti kepiting rebus. Eren tergoda untuk menjahilinya. Ingin sekali dirinya menanyakan status. Sesuatu seperti sebenarnya kita ini apa?

Maksud Eren, bukankah mereka sudah terlalu sering merona untuk satu sama lain? Eren bukanlah orang bodoh yang tidak menyadari hal semacam ini. Masalahnya adalah Mikasa. Ya, gadis bodoh itu. Walau gadis itu terlihat selalu memedulikannya, Mikasa selalu memperlakukannya seperti seorang anak atau saudara.

Dan Eren tidak pernah suka.

Eren tahu begitu saja, bahwa suatu hari ia akan tertolak. Oleh suatu alasan, yah mungkin seperti keluarga—hal yang sangat Mikasa. Tapi walau Eren sangat ingin tahu mengapa mereka tidak bisa berdampingan, ia hanya menyimpan kemungkinan-kemungkinan itu di dalam benak. Apakah Mikasa tidak suka? Apakah ia hanya merasakan suatu perasaan sepihak?

Atau benarkah ini semua hanya takdir yang kejam.

"Eren." Giliran Mikasa menyebut namanya.

Aduh kacau. Eren tidak bisa lagi memikirkan ritme pada tiap kalimatnya untuk mendeskripsikan bagaimana perasaannya sekarang.

Oh Tuhan, sekarang Eren yang dibuat berdebar. Gadis itu sedikit mendongak menatapnya. Hal yang sangat disukai oleh Eren baru-baru ini. Fakta bahwa ia lebih tinggi dari gadis itu sekarang membuat Mikasa terlihat kecil. Padahal Mikasa bukanlah gadis yang pendek. Ia yang tertinggi di antara gadis-gadis seangkatan mereka. Tidak hanya itu, ia juga gadis yang paling kuat, paling pintar, paling baik hati, paling keren, paling cantik, paling menawan, paling—ah sudahlah. Ia adalah yang terbaik, dan Eren sudah setengah mati mempertahankan kewarasannya saat ini untuk tidak memeluk atau mencium gadis itu.

Terlebih setelah Eren Jaeger—dari semua orang, paling insecure jika dibandingkan dengan gadis itu—kini tumbuh sekian sentimeter lebih tinggi dari Mikasa Ackerman.

Benar, tak ada yang lebih menyenangkan bagi Eren selain bisa menjadi lebih—apapun itu—dari Mikasa.

Sumber insecurity-nya, namun juga sumber kebahagiannya. Mikasa Ackerman. Hal-hal kecil pada awalnya, menjadi hal yang besar dan rumit pada akhirnya. Mengesalkan. Hal sesimpel mengapa ia tidak lebih tinggi dari Mikasa. Mengapa ia tidak sekuat Mikasa. Mengapa ia tidak bisa lagi menjadi orang yang menyelamatkan Mikasa. Banyak mengapa lainnya, bahkan untuk hal-hal seperti mengapa gadis itu begitu cantik hingga laki-laki lain selalu berhenti untuk meliriknya. Mengapa gadis itu begitu baik kepada semua orang dan tidak hanya pada dirinya.

Gila, Eren sejatinya adalah seorang pencemburu buta. Ia bisa membunuh untuk seorang Mikasa, dan itu telah dilakukannya. Oh Tuhan, mengapa siiiih, ia jatuh cinta pada Mikasa?

Eren tidak sadar telah melangkah mendekat, meletakkan telapak tangannya di pipi kanan Mikasa. Merasakan tekstur luka pada pipi atas gadis itu, yang disebabkan oleh dirinya. Sebuah tanda bahwa ia tidak lebih baik dari Mikasa. Ia pernah tidak melindungi gadis itu dengan baik, ibunya pasti kecewa. Dan hal itu membuat hatinya sakit terasa.

Mikasa, dengan mengejutkan menutup mata dan menyandarkan pipinya pada tangan besar lelaki itu. Seolah meminta lebih. Beruntung mereka tidak ada satu orang pun di koridor ini, ia ingin merasakan tangan Eren lebih lama mengelus pipi. Sudah begitu lama Eren tidak menyentuhnya—tentu saja bukan dalam maksud yang kotor—seperti ini.

Oh, mereka berdua benar-benar orang bodoh yang saling berdebar untuk satu sama lainnya.

"Maaf."

"Untuk apa?"

"Untuk bekas luka ini."

Mikasa membuka matanya, mendapati Eren menatapnya sembari mengelus bekas luka itu. Apakah orang yang berada di depan Mikasa saat ini adalah Eren Jaeger? Yang selalu marah-marah dulu? Yang berkata bahwa ia bukanlah anak atau saudara Mikasa dulu? Benar ini Eren Jaeger?

"Kupikir untuk membocorkan tatoku kepada Azumabito." Mikasa mencoba mengalihkan topik dengan canggung karena tiba-tiba jantungnya berdebar keras sekali dan ia takut Eren akan mendengarnya mengingat jarak mereka cukup dekat saat ini.

Eren tertawa, "Bukankah kamu yang membocorkan kepada ibu bahwa aku ingin masuk Survey Corps terlebih dahulu?"

Ah, iya. Eren benar. Mengapa lelaki itu masih mengingatnya? Mikasa jadi malu dan gadis itu kelabakan panik.

Eren terkekeh lagi, "Mikasa selalu lucu kalau panik." Katanya.

Mikasa berdehem dan menegakkan kepalanya, mengambil tangan Eren yang menyentuh pipinya dan menggenggamnya dengan kedua tangan erat-erat.

"Apakah terjadi sesuatu yang baik? Eren terlihat dalam mood yang bagus."

"Mhm." Lelaki itu mengangguk.

"Karena tidak lama lagi Mikasa akan menjadi tuan putri Hizuru." Tambahnya.

Dan Mikasa terkesiap. Hal yang menjadi pikirannya sejak berjumpa dengan Azumabito tadi. Bagaimana mungkin itu adalah hal yang baik.

"Aku tidak cocok untuk peran seperti itu." Mikasa berkata pelan, sambil menurunkan tangan Eren dan melepaskannya.

"Kenapa tidak?"

"Karena aku tidak cantik seperti tuan putri di buku dongeng."

Mikasa hanya berkata asal, dan tentu saja itu alasan paling jelas. Tuan putri biasanya cantik, mulus, anggun, memiliki rambut panjang, pakaian yang bagus dan selalu membuat orang lain berdebar-debar. Namun, demi Tuhan! Eren ingin marah. Bisa-bisanya gadis ini mengatakan hal begitu. Ia jelas-jelas sempurna dan Eren bisa menulis buku tentang betapa mengagumkannya Mikasa Ackerman. Tapi Eren mengurungkan kekesalannya melihat Mikasa yang terbenam dalam pikirannya sendiri hanya beberapa detik setelah mengatakan hal itu, membuat Eren sadar. Gadis ini, seserius itu.

"Apakah tuan putri harus cantik?" Eren akhirnya bertanya.

Mikasa mengetukkan jarinya pada dagu dan bersedekap. Menampilkan pose berpikir. Eren begitu terhibur melihat gadis ini hari ini. Ia cukup senang, entah karena hari ini ia hanya berduaan dengan gadis itu—Oh, maaf Armin. Tapi Eren yakin sahabat *blonde* mereka itu tengah mengunjungi putri tidurnya di daerah Military Police—atau entah karena apa.

"Harus seperti Historia." Kata Mikasa, kembali menyadarkan Eren, masih sambil berpikir. "Atau mungkin Shasha, dia bisa menjadi tuan putri."

Dan Eren benar-benar tertawa. Mikasa menatapnya heran. Apakah ia mengatakan sesuatu yang lucu? Benar kan? Historia adalah ratu dan Shasha juga cantik terlihat seperti tuan putri.

"Bukankah dulu Mikasa suka dongeng tuan putri? Kenapa sekarang tidak mau?"

"Entahlah, aku merasa sangat berbeda dengan tuan putri di buku dongeng. Selain itu, aku tidak ingin menjadi tuan putri Hizuru. Tempat itu sangat jauh. Aku ingin di dekat Eren."

Keheningan hadir diantara keduanya.

"Mikasa bisa hidup bahagia jika ikut ke Hizuru." Ucap Eren bersungguh-sungguh, membuat Mikasa membulatkan mata tidak percaya atas apa yang didengarnya.

"Tidak!" Kata gadis itu terlalu cepat.

"Mikasa, aku tidak akan hidup lama."

"Tidak."

"Mikasa bisa menikah dan hidup lama jika—"

"TIDAK."

Dan dengan itu, Mikasa berbalik, memunggungi dan berjalan meninggalkan Eren dengan setumpuk perasaan bersalah. Eren langsung menyesal mengatakan hal yang membuat gadis itu berkaca-kaca. Tapi ia tidak berbohong, yang ia katakan benar. Ia tidak akan hidup lama.

Mikasa merasakan tangan Eren di pergelangan tangannya, menahan langkahnya lebih jauh. Eren akan mengutuk hal ini seumur hidup, tapi ia tak tahan untuk tidak melakukannya. Ia ingin sekali memeluk Mikasa, demi apapun.

Dan itulah yang dilakukan Eren, dengan sekali sentakan, ia membuat Mikasa berbalik kembali, merangkul gadis itu dalam sebuah pelukan erat. Sang gadis terkejut bukan main, merasakan kekuatan Eren yang menariknya dan sekarang ia tengah berada dalam pelukan lelaki itu. Keduanya terbius dengan wangi satu sama lain yang sangat mereka kenal dan diam-diam sama-sama disukai ini. Mikasa yang tadinya mulai meneteskan air mata tanpa suara tiba-tiba mematung. Di lain sisi, Eren bisa merasakan bahunya basah. Hati Eren mencelos dibuatnya.

Tapi mengapa gadis ini manangis? Eren ingin tahu, sampai matipun, ia ingin tahu. Apakah Mikasa tidak ingin dia mati karena mereka adalah keluarga? Ataukah Eren bisa sedikit berharap?

"Aku tidak bisa menjadi tuan putri karena ingin melindungi Eren." Gadis itu berucap di balik bahu Eren.

"Aku tidak bisa menjadi cantik karena ingin melindungi Eren." Katanya lagi.

"Aku harus kuat." Gumamnya.

Dan Eren benar-benar kesal kepada takdir. Mengapa harus Mikasa yang bersusah payah melindunginya? Ia juga telah melakukan yg terbaik. Ia berlatih, melakukan semuanya untuk menjadi kuat dan bisa melindungi Mikasa serta teman-temannya yang lain. Bisakah gadis itu hanya diam disitu? Mikasa adalah orang yang paling tidak perlu melakukan apa-apa karena Eren tidak akan pernah mengizinkannya berada dalam bahaya. Tidak sampai waktunya habis.

"Mikasa selalu cantik." Eren tak sadar mengucapkannya.

Membuat jantungnya berdegup makin keras begitu sadar bahwa pikirannya telah bersuara. Oh tidak. Tidak disaat dirinya tengah memeluk Mikasa.

Gadis itu membatu dalam pelukan Eren dan bohong kalau keduanya tidak mendengar debar jantung mereka yang berlomba-lomba. Mikasa ingin meloloskan diri dari pelukan lelaki itu tapi ia terlalu malu. Begitupun dengan Eren yang hanya ingin pergi, tidak mampu menatap Mikasa lagi.

Lama mereka terdiam dalam situasi yang canggung dan bodoh itu.

"Eren selalu melindungiku." Akhirnya Mikasa memecah keheningan.

Eren terkejut, berpikir apakah mungkin Mikasa membaca pikirannya? Berbohong untuk menghibur insecurity-nya? Namun Mikasa sama sekali tak berbohong. Gadis itu benar-benar dilindungi dan diselamatkan oleh sang lelaki.

"Eren tidak perlu bilang, tapi aku selalu tau apapun yang Eren lakukan adalah untuk melindungiku. Oleh karena itu, aku tidak perlu ke Hizuru. Aku hanya perlu di samping Eren." Katanya, disambut keheningan sesaat.

"Biarkan aku selalu di samping Eren, dalam segala hal." Tambahnya lagi.

Oh Tidak. Eren keduluan lagi.

Ia yang seharusnya meminta gadis itu untuk selalu di sampingnya, bukan sebaliknya. Ingin sekali rasanya untuk berkata 'iya' namun bukankah semuanya akan berantakan jika begitu? Bukankah mereka harus menyelamatkan Eldia dan mengakhiri kutukan titan? Demi apapun, Eren Jaeger tidak bisa fokus saat ini. Selain insecurity-nya, Mikasa Ackerman juga adalah kekuatan dan kelemahan terbesarnya. Dan Eren sangat menyadari itu. Tapi tidak ketika Mikasa mengatakan hal yang benar-benar, sangat, amat tidak mungkin terjadi bagi mereka berdua, apalagi di dalam pelukannya.

Berdampingan bersama. Berada di sisi satu sama lain.

Adalah hal paling mustahil yang akan terjadi di masa depan. Dan Eren sudah tahu itu. Oleh karena itu ia harus menekan dirinya lebih keras. Harus ada yang menjadi orang jahat antara mereka berdua, dan sudah pasti itu adalah dirinya. Eren Jaeger.

Gadis itu menarik diri sedikit, ingin melihat wajah lelaki yang tengah memeluknya. Ingin meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja dan kuat untuk berada di samping sang pemilik attack titan. Ia bisa mendampingi Eren dengan baik. Ia bisa menanggung beban yang sama.

"Apapun yang Eren lakukan, aku akan ada untuk Eren. Aku akan mendukung Eren menghentikan kutukan ini. Aku akan menghentikan Eren jika melakukan hal yang salah, bahkan jika memang begitu, aku akan berbagi beban dosa yang sama dengan Eren."

Oh. Tidak... Apa yang diucapkannya...

Lihat Mikasa, ia tidak tahu betapa berbahaya ucapan dirinya. Hanya dengan kata-kata ini, Eren bisa saja mengabaikan dunia.

Eren menatap iris abu-abu gelap milik gadis itu. Mata cantik dan meneduhkan yang selalu dilihat Eren hampir selama separuh hidupnya itu terasa begitu indah bahkan bercahaya. Mata itu tak pernah berbohong ketika menatapnya. Eren masih ingat betapa hatinya berdebar dan kekuatannya terisi penuh kembali ketika yang dilakukan Mikasa hanya berterima kasih kepadanya, pada saat dirinya benar-benar tidak memiliki motivasi lagi untuk hidup setelah melihat Hannes mati di depan mata mereka. Eren tidak pernah melupakan gambar Mikasa saat itu di dalam otaknya. Mikasanya selalu cantik dan sempurna.

Jika Mikasa mencintainya, ia adalah lelaki paling beruntung di dunia.

Namun bagi Mikasa sendiri, ia selalu melihat punggung lelaki itu. Eren selalu diambil darinya, lalu ia akan selalu berusaha untuk mendapatkan lelaki itu kembali. Kali ini, untuk kali ini saja ia tidak ingin melihat punggung Eren, bolehkah ia menjadi egois seperti itu? Ia hanya ingin menatap iris dark emerald itu lebih lama dari biasanya, lebih lama lagi. Ia ingin Eren tau kalau dirinya selalu siap melakukan apapun itu. Sederhana karena Eren adalah rumahnya, keluarganya, tak berlebihan jika ia mengatakan bahwa Eren adalah hidupnya, dimulai dari ketika lelaki itu membawanya pulang. Benar, ia merasa bisa hidup lagi.

Mikasa memiliki insecurities. Tentang bagaimana seiring mereka tumbuh, Eren terlihat makin tidak menyukainya. Mikasa tidak bisa membiarkan Eren sendirian, dari kecil ia sudah bertekad akan begabung dengan Survey Corps jika Eren memang ingin bergabung. Lalu sekarang disinilah mereka berdua. Menjadi anggota Survey Corps, dengan label Ackerman, membuat Mikasa bahkan tidak bisa bersantai. Beban yang ditanggungnya demi masa depan umat manusia tidak sebesar beban Eren—attack titan, juga founding titan, namun ia tetap tidak sempat berdandan, melakukan hal lain untuk menjadi cantik seperti yang dilakukan gadis normal untuk menunjukkan bahwa mereka jatuh cinta.

Oh. Benar.

Mikasa Ackerman jatuh cinta kepada Eren Jaeger.

Sama seperti Eren Jaeger jatuh cinta kepada Mikasa Ackerman.

Namun Mikasa tidak pernah yakin bahwa Eren merasakan hal yang sama. Hal itu yang mendorongnya untuk terus berlindung dibalik kata-kata keluarga. Mikasa tidak pernah tahu bahwa Eren juga merasakan insecurities yang sama. Tentang bagaimana Mikasa tidak pernah menganggapnya sebagai seorang pria, walau untuk alasan tertentu Eren bersyukur. Hal itu tidak akan membuat Mikasa terlalu tersakiti ketika ia mati dan dikubur.

Tapi bukan itu masalah utamanya. Keduanya tetap merasa insecure pada banyak hal dan perasaan masing-masing, walau sudah banyak tanda yang dapat dipetik tentang perasaan mereka satu sama lain. Eren tahu, ia harus berkorban banyak untuk Mikasa dan teman-temannya jika ia benar-benar menyayangi mereka. Termasuk perasaannya dan mungkin ia harus menyakiti Mikasa.

Namun dengan perkataan Mikasa—berbagi beban dosa yang sama—membuat Eren goyah. Sekali lagi, ia bisa benar-benar mengabaikan dunia hanya karena Mikasa.

Satu hal yang pasti saat ini, satu-satunya dosa yang harus Eren bagi dengan Mikasa adalah ketika lelaki itu entah sadar atau tidak mulai menurunkan pandangannya pada bibir sang gadis. Perlahan menutup mata dan mendekatkan wajahnya sampai kedua bibir mereka menyatu dalam satu sentuhan lalu pagutan lembut yang berbalas, mengabaikan apapun yang terjadi dan akan terjadi. Tidak ada penolakan, Mikasa mengalungkan lengannya pada leher sang lelaki, bergantung seolah itu adalah hidupnya. Eren dapat merasakan air mata bergulir jatuh dari mata gadis itu—gadisnya, membasahi pipi mereka yang bersentuhan seperti ini untuk pertama kalinya. Yah, mereka sama-sama tahu, air mata kebahagiaan tidak akan menyakiti siapapun.

Dengan itu, keduanya menyampaikan perasaan masing-masing, menyelesaikan segala kesalahpahaman, memberikan jawaban atas pertanyaan yang tidak sempat terucap, dan menghapus segala insecurities yang tidak diperlukan.

Karena mereka hanya memiliki perasaan yang sama.

All good, untuk saat ini.

Hanya saja ke depannya, Eren Jaeger tidak tahu lagi jalan mana yang harus ia pilih.


Hal-hal lucu bagi seorang Mikasa Ackerman. Itu adalah ketika ia memikirkan bagaimana matahari harus terbenam untuk dapat melihat rembulan. Atau bagaimana manusia perlu jatuh sebelum bisa berjalan. Atau bagaimana makhluk hidup harus saling membunuh untuk dapat bertahan. Yang lebih mengerikan adalah bagaimana manusia harus saling makan-memakan untuk mewariskan suatu kutukan.

Semua hanya siklus, memang mengerikan. Ia kemudian berpikir kembali, bagaimana seseorang harus mencintai untuk merasa kehilangan. Bagaimana seseorang harus merasa insecure, tidak percaya diri untuk kemudian merasa mendingan. Seperti mereka berdua, yang sama-sama merasa tidak cukup baik untuk satu sama lain. Sama-sama merasa tidak mungkin. Ragu walau ingin.

Eren Jaeger tahu suatu hari ia akan meninggalkan Mikasa Ackerman, satu-satunya keegoisan yang ingin dipertahankannya. Dan Mikasa Ackerman tahu suatu hari ia akan kehilangan Eren Jaeger, cinta pertamanya.

Bagaimanapun, mereka selalu sadar bahwa kisah mereka tidak akan pernah berhasil, selamanya. Kisah mereka adalah perasaan yang tidak membutuhkan insecurities dan dapat berbagi beban yang sama. Perasaan yang terlalu kuat, hingga dunia merasa terancam dan harus merenggutnya. Perasaan yang tidak egois, yang dengannya bisa menyelamatkan semesta. Perasaan yang mampu mengalah demi berakhirnya kutukan pada Eldia.


.

.

.

—END


Notes: Hello, it's Racci! Perjalanan yang panjang yah, AoT-fans! Manga sudah berakhir, sekarang, tarik napas... anime juga akan segera berakhir :")
Anyway, fic perdanaku di fandom Attack on Titan. Eremika disini, cuma sebuah headcanon dari salah satu scene dan chapter yang aku sukai. Ya, hari itu ketika Mikasa diperkenalkan kepada perwakilan Hizuru. She's such a princess, isn't she? Tuan putri yang cantik, kuat dan baik hati—Mikasa Ackerman! Yes! I know, you guys love her too, so does Eren Jaeger (ya gak sieeee?) Lol, kiddo XD

Non-beta-ed. Ga di-beta alias ini beneran cuma prompt tahun lalu yang disimpan di suatu draft dan keinginan buat ngupload disini is spontaneous! Jadi, maaf banget atas typo(s) dan inkonsistensinya yah. Harap maklum huhuhu.
And guys, please if you don't like this ship, just don't read and throw a tantrum. It's a harmless AU.
But still, thank you for reading.

my fellow Eremikas, where are you?

.

.

Racci-sora