Semalam Penuh Taufan

BoBoiBoy © Monsta

A TauHali fanfiction by akaori.

"Ini adalah kisah keluarga kecil Taufan dan Halilintar bersama anak-anak mereka, Angin dan Petir. Mohon jangan dipikir terlalu berat sebab tujuan tulisan ini adalah untuk menyembuhkan para hati yang lelah. Selamat membaca."


.

.

.

.

.

.

Normalnya, Halilintar tidak akan ragu melempar piring di tangan ke arah pelaku yang tanpa peduli perasaan mengangkat tubuhnya dari lantai.

Ajaib; belum ada piring pecah sore itu padahal kesabaran Halilintar sedang di ujung tanduk. Begini, ya, tanpa siapapun mengingatkan, Halilintar sadar bahwa perkembangannya terhambat sejak masa SMA.

Terhambat, loh. Jangan sampai salah menyebutnya sebagai "pendek" atau detik berikutnya badanmu bisa-bisa gosong tersambar petir. Omong-omong soal Petir, putra sulungnya itu juga sempat memohon dibelikan susu formula biar tingginya tak terhambat macam papanya.

"Turunkan aku atau kepalamu jadi wadah ampas makanan selanjutnya."

"Kak Hali, jangan galak-galak, dong! Aku sedang butuh dorongan, nih~"

"Mau dorongan? Ke Spanyol sana, banyak banteng liar buat uji coba badanmu jadi bahan latihan matador."

"Galakkk!"

"Taufan." Urat-urat kening Halilintar mulai bermunculan dan siap meletus kapan saja. "Kau merengek sekali lagi, cincin tunangan kita kuloakkan."

Tep, telapak kaki Halilintar kembali mencium lantai. Mulut kekasihnya yang mangap setengah berhenti mengeluarkan kata-kata manja, membuat pemuda petir itu akhirnya bisa menarik napas lega.

"Paaa! Yang ini gimana ngerjainnya~?" Sahut suara Angin bergema dari kamarnya sampai dapur.

Sang papa menoleh ke arah datang suara kemudian beralih pada tunangannya yang masih bengong. "Daripada kurang kerjaan, bantu anak-anak kerjain PR, sana. Aku masih sibuk cuci piring."

"Eh, tapi aku sedang gak enak—"

"Ah, iya, kudengar ada kenalanku yang sedang cari cincin nikah masih kondisi bagus."

Tangannya dengan cekatan mengusap sisa piring makan dengan sabun sampai tak sempat menoleh untuk melihat reaksi apa yang kekasihnya buat. Hanya helaan napasnya yang tersamarkan dentingan alat makan menjadi pertanda bahwa si tiang berjalan sudah angkat kaki dari ruang makan sekaligus dapur.

"Sini, Angin! Ayah bantu kerjain~" Hal yang selanjutnya terdengar adalah krasak-krusuk dari kamar si kembar. Mungkin mereka tengah memindahkan posisi barang di kamar supaya lantai muat diduduki satu orang dewasa.

Jurus ampuh Halilintar kalau Taufan sedang merengek tidak jelas; ancam dia kalau cincin tunangan mereka bakal dilelang ke orang lain. Taufan akan kicep dan memberi jarak yang cukup agar Halilintar bisa menghirup angin segar tanpa suara tingginya yang memenuhi rongga telinga.

Huh, zaman mereka sekolah, bocah itu masih punya respek yang cukup terhadapnya sebagai yang lebih tua. Misalnya, saat naik sepeda bersama, ia akan memedal sekuat tenaga karena panik kakinya disundul sembarangan oleh Halilintar di sadel belakang. Atau saat Taufan ketiduran saat belajar di perpustakaan, Halilintar akan men-summon jaring setrum entah dari mana untuk membangunkannya.

Tunggu, itu semua pakai kekerasan, dong.

Bukan rahasia lagi kalau kekerasan adalah bahasa cinta Halilintar. Benar, galak begini, ia hanya tak ingin kekasihnya terlalu bergantung padanya apalagi saat usia mereka telah masuk kategori dewasa. Terlebih lagi saat keduanya sudah punya momongan yang perlu didikan yang baik. Dengan kata lain; kalau sampai Angin dan Petir jadi anak manja gara-gara ayah mereka, Halilintar akan angkat kaki dari rumah sambil bawa anak-anak dan tak kembali lagi.

"Yok, mari kita kelarin pertanyaan selanjutnya~"

Ditolak kekasih sendiri untuk tebar sayang membuat hati Taufan teremas bagai ampas tahu. Maunya mesra-mesraan begini malah ditendang dari tempatnya.

Jujur, Taufan sendiri tak sekeras itu kalau Halilintar telah mengeluarkan desis peringatan. Yang ada, ia bisa kena sembur bisanya kalau makin mendekat. Bayangan dirinya berpelukan mesra di atas sofa bersama sang kekasih setelah seharian panjang bekerja harus tersisihkan.

Sayup-sayup terdengar penjelasan Taufan mengenai penjumlahan dasar yang dijawab oleh Angin dengan antusias. Lambat laun, Petir mulai terlibat dalam kuis kecil-kecilan di kamar. Entah Taufan menyadarinya atau tidak, kuis berbasis pelajaran hitung-hitungan mulai bergeser topik ….

"Yah, kenapa dulu Ayah sama Papa cerai?"

"Cerai itu buat yang udah nikah. Mungkin maksudmu putus."

"Kalian belajar kata itu dari mana …."

Jangan salahkan Taufan kalau tentang ini. Sejauh yang ia tahu, si kembar, terlebih lagi Petir, sudah hafal kata-kata bertema dewasa (seperti pajak atau saham) sejak sebelum mereka menjadi akrab. Mereka mengaku sudah mendapat paparan sinetron sejak dini. Sebagai lelaki yang baru belajar menjadi ayah belum ada sekian tahun, Taufan tak bisa memutuskan apakah pembelajaran dini ini termasuk hal yang baik atau buruk.

Bukan pertama kalinya pertanyaan ini dilontarkan jiwa penasaran si kecil. Di setiap kesempatan itu pula jawaban dari Taufan bervariasi. Entah karena mereka benar-benar suka menanyakan perihal masa pacaran orangtua mereka atau benar-benar lupa jawabannya.

Taufan bersedekap. Memorinya kembali berputar pada hari-hari di mana ia masih mengenakan seragam putih-abu-abu. "Hmm, waktu itu kami sibuk menyiapkan ujian makanya kami memutuskan buat fokus ke kehidupan masing-masing."

"Ujian, tuh, susah? Uuh, Angin gak mau sekolah …," decak Angin, beringsut mundur mendengar kata sakral itu.

"Jangan berkecil hati begitu. Kalian masih punya banyak kesempatan buat belajar biar jadi pintar! Jangan kayak Ayah yang belajar pakai SKS …." Kalimat terakhir diucapkan pelan. Tiap kali mengingatnya, Taufan selalu berharap agar Angin dan Petir kelak tak mengikuti jalan yang sama dengannya.

Walau terdengar seperti jawaban yang tak niat, pemuda itu tak pernah sepenuhnya berbohong. Tiap ada kebenaran, di sana ada kebohongan yang menyeimbanginya.

Waktu telah lama menyapu jejak yang pernah terukir pada perjalanan masa mudanya, tetapi hari itu akan selalu teringat jelas dalam benak ayah berputra dua itu. Cukup lama sampai Taufan tak lagi menyambut kenangan lama bersama kekasihnya dengan alis yang mengkerut, melainkan dengan sebuah senyuman tipis.

Beberapa soal kembali dilalui dengan mudah. Pelajaran hitung-hitungan, ilmu yang dulu sering jadi masalah baginya. Namun, tiap kali Taufan yang masih SMA menghadapi kesulitan, si pemuda petir yang kemudian menjadi kekasihnya beberapa tahun silam selalu bersedia membantu melewatinya.

"Ayah enggak coba ikut Papa?" Angin mengangkat kepalanya yang lelah menunduk. Tatapan membuat sang ayah tak bisa mengelak dari pertanyaan yang keluar.

"Hmm, ikut, ya?" Taufan mendesis sembari mengalihkan pandangan ke luar kamar, tepatnya ke ruangan sang bos rumah tangga diduga tengah berkutat selepas acara cuci piringnya. "Ayah sudah minta ikut sama Kak Hali tapi dia melarang. Ayah enggak boleh ikut."

"Cup, cup, kasian Ayah."

Si bungsu bangkit dari duduknya untuk memeluk sang ayah. Tingginya yang belum seberapa setidaknya cukup untuk menepuk kepala Taufan. Yang dipeluk kesengsem seakan melayang ke udara

"Kenapa, ya …."

Keduanya menoleh pada suara Petir yang habis menyapu butir kotoran penghapus.

"Kenapa waktu itu kita gak tinggal sama Ayah juga? Kan, seru kalau Ayah bisa bantuin PR, terus Papa ngurus kerjaan," celetuk Petir, masih tak mengalihkan fokusnya pada kertas buku.

Senyum di bibir Taufan menipis. Indahnya jadi anak-anak yang tak membingungkan masalah selain PR.

Pemuda itu mendongak dengan lengan menjadi tumpuan badan. Netra birunya mengarah pada hiasan kamar yang anak-anak buat untuk sebuah acara sosial. Wujudnya adalah binatang-binatang dari kertas lipat.

Di kamar lama Angin dan Petir pasti juga banyak karya-karya warna-warni itu yang Halilintar bantu untuk menghias.

"Iya, ya, pasti seru kalau Ayah bisa bantuin PR. Mungkin Ayah gak diajak karena Kak Hali khawatir Ayah nyebarin alergi ke anak-anak kesayangannya—"

"Papa juga sayang Ayah, kok!"

"Eh?"

Sanggahan jenaka Taufan dipotong oleh Angin yang menggeleng kencang. Bibirnya yang manyun kembali semula menjadi senyum.

"Waktu itu Angin pernah tanya kalau Papa sayang Ayah enggak. Katanya iya!"

"Iyakah?" Alis Taufan terangkat.

"Iya, dong! Ya, kan, Petir?"

"Hm-hm, kau yang maksa nanya, kan."

"Emangnya kenapa kalau iya?"

Taufan tak bisa menahan senyum. Dengan sekali tarik ia menangkup kedua putranya yang memberi reaksi bertolak belakang. Angin terkikik sedangkan Petir berusaha melepaskan pelukan, menyembunyikan semburat tipis di pipi.

"Ah~ kalian ini emang anak-anak Ayah yang paling manis~!"

"Taufan, jangan ngelawak terus. PR-nya kapan selesai?" Seruan Halilintar dari seberang mengingatkan, seolah PR yang tengah mereka kerjakan adalah PR Taufan.

"Ah? Eh, iya! Duh, Ayah jadi lupa mau ngajarin kalian, kan!"

"Haa, kena marah," cibir Petir.

Tak termakan godaan Petir untuk adu mulut, Taufan melanjutkan pengerjaan PR matematika hingga tuntas. Di penghujung belajar malam, ia mengoreksi hasil kerja Angin dan Petir sebelum mengangguk pertanda pekerjaan rumah keduanya sudah terjawab sempurna.

"Yeeeey! PR kelar!" sahut Angin yang melompat dari duduknya.

"Um. Aku mau nonton Adada!" Petir menanggapi, lebih dulu mengambil langkah ke ruang tengah untuk menonton serial animasi favoritnya.

Saat kedua kepala bulat itu mulai fokus pada aksi si pahlawan garang, Adada, Taufan menghela napas lega. Matanya mengekor gerakan tangan yang mengayun di balik pintu kamarnya yang setengah terbuka. Sang empu kamar selain dirinya memang tengah berkutat di sana dengan pekerjaannya.

"Kak Hali~" Taufan menyembulkan kepala dari bingkai pintu dengan bunga-bunga pink di sekitar udara. "Sekarang boleh—"

"Gak. Aku lagi ada panggilan sama teman kerjaku. Mending kau nonton dulu sama anak-anak."

"Eeh~?!"

Gagal. Rencana keduanya untuk merayu Halilintar gagal. Padahal ia sudah mewanti-wanti agar bisa ngobrol santai dengan sang kekasih selepas membantu anak-anak mengerjakan tugas rumah. Yang ada, ia tersaingi sama kolega pacarnya sendiri.

Kehadiran sosok tinggi menjulang yang menubrukkan tubuh dengan lesu ke sofa ruang tengah mengundang tanda tanya dua penonton kecil.

"Yah, gak ke kamar?" Angin mengusap kening sang ayah, barangkali ia demam.

"... Ayah nonton Adada juga boleh?"

"Boleh!"

Jam dinding berputar dan lambat-laun acara animasi di TV digantikan dengan acara berita dan sinetron yang Taufan putuskan tak boleh banyak-banyak dikonsumsi. Belum ada jam sembilan malam, si kembar sudah angguk-angguk di sofa, saling bersandar.

Taufan menepuk pundak keduanya sebelum benar-benar terlelap. "Angin, Petir, kita sikat gigi dulu, ya?"

Sudah menjadi kebiasaan keluarga kecil itu untuk cuci muka dan sikat gigi sebelum tidur. Sejak kecil, si kembar memang sudah terbiasa melaksanakan ritual kecil mereka sehingga tak ada yang namanya rengekan kalau disuruh angkat pantat ke kamar mandi.

Mulut segar, suasana kamar pun jadi adem. Waktunya bekerja buat sebuah kasur empuk yang dipakai si kembar tidur. Taufan hendak menutup pintu selepas mematikan lampu sebelum Angin melambai kecil sehingga ia terpanggil ke sisi kasur tempatnya tidur.

"Yah, makasih, ya, udah bantu ngerjain PR." Angin tertawa kecil di bawah selimut dinosaurus.

Taufan berkedip sekali. "Kenapa tiba-tiba?"

"Ehehe, soalnya Angin sayang Ayah." Sekilas, wajah bulat itu bersembunyi di balik selimut lalu kembali timbul dengan mata berbinar-binar. "Besok ajarin lagi, ya!"

Taufan menghela napas, sudut bibirnya terangkat. Tatapan polos Angin membuatnya tak tahan untuk mengusap kepala berhelai cokelat itu dan membisikkan ucapan lembut sebelum tidur.

"Petir bilang dia juga sayang!"

"Aku gak bilang apa-apa!"

Seperti dugaan, Petir tak seekspresif Angin kalau tentang menunjukkan rasa sayangnya. Bukan menjadi alasan untuk tak memberinya kecupan di kening yang lambat laun menjadi kebiasaan yang mereka tunggu-tunggu ketika malam.

"Mimpi indah, anak-anak Ayah."

Tepat dengan ditutupnya pintu, ayah muda itu menyadari bahwa rumah sudah sepenuhnya sepi, setidaknya di bagian ruang tengah. Penghuni selain dirinya telah mengambil tempat di kamar masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh dari kegiatan mereka dalam sehari.

Pikiran itu membuatnya lagi-lagi menghela napas—kali ini panjang dan berat. Kakinya melangkah pasrah menuju pintu kamar sendiri yang mana tadi jadi daerah kekuasaan Halilintar yang hukumnya haram untuk dipijaki. Ia pasti antara masih sibuk atau sudah terlelap duluan sehabis menyelesaikan pekerjaan.

Pintu terbuka, berderit pelan, dan itu cukup untuk membuat kelopak mata Taufan terangkat penuh. Halilintar masih di ranjang, memainkan ponselnya di dekat lampu tidur yang temaram. Mata mereka bertemu seusai pintu yang lirih berderit berhenti terdengar.

"Kak Hali sudah selesai?"

Bukannya membalas dengan jawaban, Halilintar justru memberi pertanyaan lain, "Angin sama Petir sudah tidur?"

Taufan mengangguk.

Layar yang menyorotkan cahaya putih-biru dinonaktifkan, diletakkan di atas nakas. Halilintar merosot turun untuk menyibak selimut, menepuk singkat sisi ranjang di sampingnya. Mata datarnya menatap Taufan.

"Sini, katanya kau mau dorongan."

Bagai kembang api bersinar di langit, manik safir Taufan berbinar, nyaris menyaingi cahaya lampu tidur. Tubuh jangkungnya yang lebih besar daripada Halilintar meluncur ke sisi ranjang yang ditunjuk lalu merengkuh tubuh yang lebih kecil dengan seluruh kuasa.

Halilintar harus menepuk punggung pemuda itu ketika ia mendusel ke ceruk lehernya dengan membabi buta. Energinya yang biasanya kuat mengangkat dua karung beras sekalipun akan kalah kalau diterjang tanpa peringatan oleh bocah besar ini.

"Oi, kau ini anak anjing, apa?"

Jitakan di kening tak membuat pelukannya longgar sedikitpun. Yang ada, si biru malah cengar-cengir cerah menyaingi bintang-bintang di langit. Wajahnya ditenggelamkan di dada Halilintar yang kancing paling atasnya terbuka.

"Aku capek di tempat kerja tadi. Bosku ngasih kerjaan baru yang merepotkan sedangkan Blaze gak berhenti menuhin telingaku dengan protesnya ke si pacar!" Suara Taufan teredam di sana. Ah, betapa empuknya.

Halilintar mengangguk, tak begitu menyimak begitu tiba di bagian perihal Blaze. Yang jelas, ia akhirnya mendapatkan pencerahan mengapa Taufan bersikeras mau minta dorongannya tadi. Tak jarang, ia akan memarahinya karena suka mengomel di depannya. Setidaknya, untuk kali ini, Halilintar membolehkan pemuda itu mengeluh pasal harinya yang melelahkan.

"Tapi kau berhasil menyelesaikan semuanya, kan? Pintar." Suara serak Halilintar yang mengalun pelan terdengar merambat melalui tubuh mereka yang menyatu.

Dua helai cokelat yang berbeda saling menyentuh, dengan Halilintar yang merebahkan dagunya pada puncak kepala Taufan. Pemuda itu bergumam, menyesapi tiap kehangatan yang kekasihnya berikan dari ujung jarinya.

Jemari yang kokoh menjadi gemulai saat ia bertemu kepala itu, mengusapnya dari puncak ke pangkal. Kebiasaannya tiap kali Taufan berhasil menyelesaikan sebuah tugas atau tantangan. Tak pernah berubah sejak zaman sekolah dulu. Bukan hanya karena rasa bangga, tetapi juga kelembutan surai gelapnya yang memberikan sensasi melayang saat Halilintar menyentuhnya.

Sosok yang lebih tinggi mengangkat kepalanya, membuat bibirnya bersentuhan langsung dengan dada Halilintar yang terekspos melalui celah piyama. Awalnya, itu hanyalah sebuah kecupan ringan yang hanya melibatkan sepasang bibir yang bertaut. Menit selanjutnya, lidah yang terselubung menggerakkan tubuhnya untuk menjajah kulit mulus yang hanya boleh ia yang sentuh.

"Ah, Taufan …."

Jari yang lebih tua menekuk seiring dengan jemari panjang kekasihnya yang berhias cincin janji mereka menyelip melalui kain marun. Tak mencoba menepisnya, posisi Halilintar yang tadinya memeluk berubah menjadi yang menerima. Napasnya bertambah cepat, secepat Taufan menggerakkan posisi ciumannya ke titik-titik manis yang berdenyut, mendambakan sentuhan yang sama.

Bibir itu naik, membuat hangat yang dimilikinya menjalar ke permukaan kulit yang memerah. Mengambil jeda ketika ia menggapai rahang itu, menunggu pemiliknya menolehkan kepala ke arahnya. Taufan tak menyia-nyiakan waktu lagi untuk memagut bibir tipis yang tak pernah puas ia sentuh dengan bibirnya.

Tangan Halilintar meremas kantong piyama kekasihnya ketika lidah mulai ikut campur dalam sentuhan yang memperparah merah wajahnya. Setitik air mata menggenang di pelupuk, mengundang senyum Taufan yang belum berniat mengakhiri permainan mereka di atas ranjang.

"Taufan, kau masih kerja besok …."

Taufan menunduk, hidungnya bersinggungan dengan telinga yang ia bisikkan, "Kak Hali, aku masuk siang."

Satu kalimat itu cukup untuk menebar panas di wajah Halilintar ke seluruh tubuhnya. Ada desiran tak kasat mata yang membuat tubuh mungilnya berdenyut di bawah kungkungan sosok pemuda yang masih saja membuat kakinya lemas bahkan setelah sekian tahun mereka tak bertemu. Hingga akhirnya ia jatuh ke dalam pelukannya lagi, kali ini, dan seterusnya.

"Lakukan … sesukamu."


.

.

.

.

.

.

Keluarga TauHali di tulisan ini diambil dari sebuah roleplay yang saya mainkan dengan partner saya, kARImu. Orang yang sama yang memberi saran judul untuk tulisan ini. Saya berharap tulisan ringan ini bisa menyembuhkan hati Anda yang sedang kelelahan.

Saya akan sangat menghargai jika pembaca berkenan membagi pendapat pembaca mengenai tulisan saya. Bisa melalui kotak komentar atau langsung mention ke Twitter saya (a_kao_ri). Terima kasih telah membaca dan sampai jumpa di chapter berikutnya.

【】Kaori