"Mmmm..."
Seorang anak kecil berusia 5 tahun bergumam pelan di ruang tamu rumahnya. Ia kelihatan seperti bingung akan sesuatu. Bagaimana tidak, Anak kecil mana yang tidak bingung kalau ia membaca sebuah lembar kertas yang berisi kumpulan simbol-simbol rumit yang harusnya untuk di baca orang dewasa?
Mungkin... anak ini penasaran? kalau iya, berarti anak ini melakukannya hal yang tidak biasa dari bocah seumurannya.
"Ara~ ternyata catatan musiknya ada di sini."
Seorang wanita bersurai hijau kebiruan muncul di depan anak itu yang melihat ke arahnya dan mulai berdiri. Wanita itu kemudian berlutut menyamai tinggi bocah kecil yang ternyata anaknya.
"Kaa-chan dari tadi mencari ini loh. Kenapa Naru-chan mengambilnya?" tanya lanjut dari wanita itu.
Naru-chan atau Naruto menunjukkan kertas yang ia pegang, seolah ingin memberikannya kepada ibunya. "Gomen, Kaa-san. Naru mengambilnya karena penasaran, habisnya Kaa-san selalu membuat ini." Matanya mulai berkaca-kaca ingin menangis. Ia merasa k
alau ibunya marah karena mengambil benda miliknya.
Miku tersenyum lembut, ia mengelus pelan surai hijau milik Naruto kecil. Ia tidak akan marah kepada anaknya yang ingin tahu kegiatannya. "Jangan menangis Naru-chan. Kaa-chan gak marah kok. Lain kali, jangan mengambil sesuatu milik orang lain tanpa izin ya?" Meskipun Miku tidak keberatan apa yang di lakukan oleh Naruto, ia tetap menasihatinya agar tidak mengulangi perbuatannya.
Senyuman khas anak kecil merekah di wajah imut Naruto. "Iya." ucapnya mengangguk semangat.
""TADAIMA!!""
Dari pintu masuk rumah, terlihat dua anak perempuan kembar yang sama-sama berambut hijau mint bersama dengan seorang pria dewasa.
""Okaeri..""
Miku terlihat menghampiri suaminya. "Apa Haru-kun lelah jalan-jalan sama Sayo-chan dan Hina-chan?"
Haru, suami dari Miku menggeleng pelan, ia bahkan tersenyum kecil. "Tidak, bahkan aku senang mengajak mereka." Ia mengambil sesuatu di dalam paperbag. "Kalian berdua, bacalah itu bersama dengan Naruto." ujar Haru sembari memberikan sebuah buku yang di terima oleh Sayo.
"Um."
"Ha'i~"
Bocah kembar itu kemudian pergi ke arah Naruto, adik mereka yang sedang duduk. Pasangan suami-istri tersebut tidak bisa menahan senyuman mereka melihat anak-anak mereka sangat akrab.
"Sayo-chan mirip denganmu."
Haru melirik ke arah Miku, ia menaikkan alisnya saat istrinya menilai sifatnya dengan Sayo "Hina juga mirip denganmu" balasnya membuat Miku tersenyum geli.
"Dan Naru-chan perpaduan kita berdua." Haru setuju dengan perkataan itu. Putranya memiliki sifat-sifat dari mereka berdua.
"Mau kopi?"
"Boleh."
Haru dan Miku berjalan meninggalkan anak-anak mereka di ruang tamu menuju ke dapur. Sudah lama tidak bermesraan akibat kesibukan pekerjaan mereka masing-masing. Lagipula mereka yakin kalau Sayo, Hina dan Naruto akan baik-baik saja walau di tinggal.
.
"Lihat! Papa membelikan ini!" seru Sayo sembari menunjukkan buku bersampul merah muda kepada Naruto yang berbinar-binar.
Tapi buku itu langsung berpindah tangan ke Hina membuat Sayo terkejut. "Naru-chan, ayo baca buku ini denganku!"
"Kembalikan! Aku yang akan membacanya bersama Naru!" Sayo mencoba mengambil kembali buku tersebut, namun Hina berusaha mempertahankannya.
"Tidak! Biar aku!"
"Aku!"
"Aku!"
"Onee-chan." Perebutan buku oleh Sayo dan Hina berhenti saat Naruto memanggil keduanya. "Bagaimana kalau kita membaca bersama?" ajak Naruto dengan senyum khas anak kecilnya membuat kedua bocah kembar itu tersenyum senang.
""Um!""
Dan sekarang mereka bertiga duduk bersamaan dimana Sayo berada di sebelah kiri, Hina di kanan, dan terakhir Naruto di tengah-tengah mereka.
Menurutmu gadis itu terbuat dari apa?
Gula dan rempah-rempah
Dan banyak hal-hal lainnya.
"Souka, jadi anak gadis itu adalah gula, rempah-rempah, dan sesuatu yang indah." Naruto berseri-seri setelah membaca buku tersebut. Apakah itu menakjubkan?
"Naru-chan, mau mencobanya?"
Naruto melihat ke arah Hina, ia memiringkan kepalanya saat mendengar itu sebelum mengangguk pelan.
"Jaa..." Hina memegang kedua sisi pipi Naruto dengan tangannya. Sayo diam saja melihat apa yang ingin di lakukan oleh adik kembarnya, tapi di raut wajahnya terlihat tidak suka.
Cup
"A-!?"
Tanpa di duga, Hina memajukan wajahnya dengan cepat dan menempelkan bibirnya ke bibir Naruto. Sontak saja Sayo langsung shock karena Hina melakukan ciuman kepada Naruto.
Ngomong-ngomong, darimana mereka tahu kegiatan orang dewasa itu ya? padahal masih anak-anak lho.
"A-apa yang kau lakukan, Hina!?"
Hina melepaskan ciumannya dengan Naruto dan menatap Sayo yang terkejut sembari menunjuknya "Aku sering melihat Tou-chan dan Kaa-chan melakukan ini, jadi kupikir ini caranya." Ia melihat kembali ke arah Naruto "Bagaimana rasanya?" tanyanya berharap. Itu adalah ciuman pertamanya.
Naruto terdiam sesaat, ia masih merasakan benda lunak yang baru saja di mulutnya. "Um. Rasanya manis kok. Aku suka." jawab Naruto polos sambil mengangguk.
Tentu saja Hina senang bukan main sebab Naruto menyukainya. Tetapi Sayo merasa cemburu melihatnya.
"Naru..."
"Apa Sa-hmpph!" Baru saja ia melihat kakak pertamanya, mulutnya langsung di bungkam oleh Sayo dengan bibirnya. Dengan kata lain, Sayo menirukan apa yang di perbuat oleh Hina barusan. Hina sendiri tentu saja terkejut dan mulai kesal terhadap Sayo, itu bisa di lihat ia mengembungkan pipinya.
"Punyaku juga manis, kan?" tanya Sayo setelah melepaskan ciuman mereka. Naruto mengangguk pelan sebelum ia di cium kembali oleh Hina.
"Punyaku lebih manis kan?"
Merasa tidak mau kalah, Sayo mencium lagi Naruto.
"Tidak, punyaku!"
Cup
Hina lagi.
"Punyaku!"
Cup
Sayo lagi.
"Punyaku!"
Cup
Cup
Cup
Cup
"HHHUUWWAA!!!"
"Naru!"
"Naru-chan!"
Merasa tidak tahan apa yang di rasakannya, Naruto pun menangis sejadi-jadinya dan akhirnya Sayo dan Hina berhenti melakukan itu dan mencoba menenangkannya.
Mendengar tangisan anak mereka, Haru dan Miku kembali ke ruang tamu. "Ada apa?" tanya Miku khawatir. Naruto yang melihat ibunya langsung berlari ke arah ibunya.
"Hiks, Kaa-san."
Miku berlutut menyamai tinggi anak laki-lakinya "Kenapa Naru-chan menangis?" tanya Miku lembut sembari mengusap rambutnya. Jarang sekali anak bungsunya ini menangis. Tentu saja sebagai ibu ia merasa cemas kalau ada apa-apa.
"Hiks..."
Naruto menceritakan semua tentang kejadian barusan tanpa terlewat satu kata pun. Setelah Naruto bercerita, Miku langsung memarahi dan menasihati Sayo dan Hina yang berSeiza, tentu saja Miku yang menyuruhnya, sementara gantian Haru yang menenangkan Naruto.
'Astaga, darimana mereka tahu tentang ciuman?' batin Haru geleng-geleng kepala. Tidak lama, wajahnya jadi gugup saat Miku menatap dirinya dengan tajam.
"Err... Sayang."
"Haru-kun, Seiza!!"
"Hah?"
Pada akhirnya, Haru pun ikutan Seiza mengikuti Sayo dan Hina. Selama satu jam, Miku terus berbicara tentang tata krama dan sebagainya, tidak jarang memarahi Haru karena suaminya yang meminta bermesraan tanpa melihat keadaan yang akibatnya anak kembar perempuan mereka jadi menirukannya.
Lalu dimana Naruto? Yah setelah menangis, bocah itu sedang menonton TV tanpa memperdulikan ayah dan kakaknya sedang tersiksa.
