Jemari lentiknya bersatu, mengepal didalam doa. Bibir tipisnya mengalun banyak semoga, meminta banyak hal dan salah satunya adalah nama itu. Nama yang tidak mungkin, namun senantiasa dia doakan kebahagiaannya. Matanya masih terpejam erat, dia begitu tenggelam dalam alunan doa-doa.
"Mendoakannya lagi?" suara itu, Ren begitu hafal siapa pemiliknya. Tidak perlu membuka mata, aroma mentimun yang menguar sudah menambah keyakinan Ren tentang orang yang kini duduk di sampingnya. "Tidak satu haripun terlewatkan olehmu untuk mendoakan dia. Tidak lelah?" Ren membuka mata setelah menggumam aamiin disesi doanya kali ini.
Menghela nafas dan kemudian menatap lurus pada setangkup mawar yang menghias altar. "Dia"nya suka mawar, seperti Ren yang mencintai gerbera. "Aku rasa tidak masalah, bukan?" Kini pemuda dengan surai kecoklatan yang duduk di samping Ren yang menghela nafasnya cukup panjang. Tidak ada yang salah memang. Mendoakan orang? Memang apa masalahnya? Justru itu baik, bukan? Tapi, apakah segala semoga Ren berbalas? Itu yang sedikit mengganjal hati Yasodana, orang yang duduk di samping Ren sedari tadi.
Jayendra tahu, tidak ada yang mudah untuk Jen sejauh ini. Tapi dia bisa apa? Hanya memberikan pelukan pada sang saudara kembar saat tangisnya mulai terasa menyesakan. Tidak ada yang mau berteman dengan perpisahan. Jayendra tidak, terlebih Jen. Tapi tidak ada yang bisa menolak sebuah perpisahan. Entah karna manusia atau karna Tuhan, perpisahan akan selalu ada untuk semua manusia.
"Kita pulang?" Jen hanya menghela nafas. Meski terasa mengawang, segala yang menyangkut nama itu begitu terasa menyesakan untuk Jen. Beribu kali mencoba mengikhlaskan, tidak pernah Jen bertemu dengan kata itu pada akhirnya. Tubuh tegap Jen dibawanya bangkit, menyusul sang adik yang terlebih dahulu melangkah keluar.
"Akh. Maaf~" Jen kembali mengambil nafas, kemudian mengulas senyum tulus sebelum menekuk lutut dan mensejajarkan tubuh tinggi miliknya dengan gadis kecil ber-rok tutu yang tak sengaja menabrak Jen.
"Tak apa. Lain kali hati-hati ya?" Gadis itu mengangguk, kemudian menyerahkan setangkai tulip dari beberapa tulip yang dibawanya pada Jen. Meski sedikit bingung Jen tetap menerima dengan seulas senyum. Hatinya menghangat entah untuk alasan apa, tapi dia menyukainya. Menyukai hangat yang menjalar dan memenuhi relung hatinya. Sudah sangat lama, bukan? Gumamnya dalam hati.
"Untuk kekasihmu?" Jen mendongak hanya untuk menemukan sepasang manik sejernih embun. Dari penampilannya, Jen bisa menebak bahwa orang itu adalah pekerja di toko bunga tempatnya singgah, atau bisa jadi si pemilik toko bunga yang merangkap caffe di lantai atas. Anggukan Jen berikan sebagai jawaban atas pertanyaan orang itu.
"Aku tidak begitu tau soal bunga, tapi aku rasa tulip bisa menjadi pilihan yang baik. Mawar juga tidak buruk, tapi gerbera akan terasa sempurna" Jen mengalihkan kembali atensinya pada bunga-bunga yang tersusun rapi. Sejujurnya, perhatian Jen sudah begitu banyak tersita pada lily putih di sudut sana.
"Jika aku memilih lily, apa itu tidak bagus?" Ren tersenyum kemudian menghampiri tempat lily tersusun rapi. Ada tiga warna lily disana dan Ren tahu yang menjadi perhatian pelanggannya kali ini adalah lily putih. Karna memang lebih banyak orang mencintai lily putih daripada warna lainnya.
"Katanya, lily putih diartikan sebagai kemurnian, kesucian, dan ketulusan. Aku rasa itu cukup indah jika diberikan pada kekasihmu" Tidak ada sahutan. Ren lebih memilih untuk memilah beberapa lily kemudian membawanya ke meja tempatnya merangkai bunga. Sedangkan Jen masih saja mengatupkan bibir, memilih menikmati aroma toko yang menyenangkan karna dipenuhi bunga segar, sembari menunggu orang yang melayani tadi selesai merangkai bunga miliknya.
Ren tekun merangkai baby breath. Yasodana kemarin memintanya merangkai beberapa baby breath untuk caffe-nya. Netra beningnya begitu intens menatapi setiap tangkai baby breath yang cukup berserakan di meja. Hingga suara lonceng mengalihkan atensinya. Ada sedikit tegang yang Ren rasakan saat dia tahu siapa yang memasuki toko bunga kecil miliknya.
Toko bunga itu tidak begitu luas. Tidak akan sulit untuknya mengawasi pengunjung yang datang. Sekalipun padat pengunjung, Ren masih bisa melihat ujung dari tokonya. Ren mematung di tempatnya, namun maniknya terus mengikuti gerakan orang yang kini tengah berdiri di depan banyaknya bunga anyelir. Setelah mengambil nafas, Ren memberanikan diri untuk turun dari kursinya, melangkah mendekat dan menyapa seramah yang dia mampu. Jujur, saraf otaknya belum cukup sadar untuk mengembalikan kewarasan miliknya.
"Untuk kekasihmu?" Manik itu menatap tepat pada manik Ren. Ada debaran yang tidak Ren duga akan datang separah dan seribut itu. Tidak ada jawaban, hanya sebuah anggukan singkat. Berupaya sehalus mungkin, Ren meraup kembali oksigen sebanyak yang dia bisa. Menetralkan degub jantung yang sungguh tidak bersahabat padanya kali ini.
"Aku tidak begitu tau soal bunga, tapi aku rasa tulip bisa menjadi pilihan yang baik. Mawar juga tidak buruk, tapi gerbera akan terasa sempurna" Seperti dirimu Lanjut Ren dalam hati. Ren dapat melihat manik itu menatapi bunga-bunga yang baru saja disebutkannya. Mungkin tengah menimbang mana yang paling baik dari tiga pilihan yang Ren berikan.
"Jika aku memilih lily, apa itu tidak bagus?" Beruntung kewarasan Ren telah cukup sempurna kembali. Hingga dia bisa mengontrol diri untuk tidak terjatuh pada lantai atau justru menarik tubuh di hadapannya dalam dekapan. Seulas senyum Ren berikan, sembari menghampiri lily yang dia susun sedikit ke sudut. Berjongkok di depan lily putih yang masih cukup segar, mengingat bunga itu sampai di tokonya beberapa jam yang lalu.
"Katanya, lily putih diartikan sebagai kemurnian, kesucian, dan ketulusan. Aku rasa itu cukup indah jika diberikan pada kekasihmu" Ren sungguh menahan suaranya untuk terdengar normal. Pun tengah menahan mati-matian air matanya untuk tidak turun. Ada sesak di dadanya. Begitu banyak rasa yang bercampur, hingga Ren sendiri bingung mana yang lebih menggambarkan dirinya saat itu.
Jayendra meneguk kasar ludahnya. Ada gumpalan yang seolah menyumbat kerongkongannya. Ada benda berat yang terasa menghimpit dadanya. Terlebih saat melihat Jen menunduk di depan pohon ek. Menyatukan kedua tangannya dan merapatkan netra. Apa yang dilihat Jayendra saat ini lebih menyesakan, jika Jayendra boleh berkata jujur. Lebih menyakitkan dari saat Jen menangis hingga sesak dalam dekapannya ketika sepotong ingatan masa lalu datang menghampiri Jen.
"Kali ini lily. Aku harap kamu suka" Jen meletakan rangkaian lily yang dibawa tepat disebelah rangkaian daisy yang mulai mengering. Menjadi rutin untuk seorang Jen pada setiap dua puluh tiga, membawa serangkai bunga yang berbeda, menunduk, memejam, dan merapal doa. Termenung cukup lama di depan pohon ek yang belum genap berusia tiga. "Aku tidak membelinya di toko biasa. Dan itu justru membuat aku terasa begitu dekat denganmu. Apa kau akan segera menjemputku?" Lagi-lagi Jayendra tersekat. Bukan perihal kalimat terakhir Jen, tapi…… Aku terasa begitu dekat denganmu sungguh kalimat itu berputar memusingkan dalam kepala Jayendra.
"Lupakan. Aku harus menjaga si manja Jay. Jadi jangan jemput aku begitu cepat. Mengerti?" Jeda yang cukup lama membuat angin terasa bersuara lebih keras dari biasanya. Jen menatap ke langit, begitu bersih tak ada gumpalan awan. Hari ini cerah, namun tidak terik. "Gerbera" mengucapnya, Jen teringat pada sosok florist yang kini dia tau bernama Ren. Hanya Ren yang tertulis pada kartu namanya. Tidak ada kelanjutan, entah namanya memang hanya Ren atau sengaja dibuat demikian agar orang lebih mudah mengingatnya.
Memejam, Jen dapat dengan jelas mengingat segala gerak dan gerik Ren. Dimulai saat Ren menyapa, memberikannya pilihan, memilah lily untuknya dan kemudian merangkai hingga begitu cantik untuk Jen bawa ke pusara. Bahkan Jen masih jelas mengingat, bagaimana Ren tersenyum sembari menyodorkan kartu nama. Jen tidak bodoh dan cukup peka untuk bisa membaca bahwa Ren menekan banyak hal saat bertemu dengannya. Senyumnya begitu tulus, namun menyimpan banyak rahasia. Sorot matanya begitu... familiar, untuk Jen yang baru kali pertama bertemu dengannya.
"Lily? Kenapa lily?" Jayendra mengaburkan segala bayangan Jen tentang Ren. Ada sesak yang menjalar, entah untuk alasan apa. Dengan sedikit terpaksa Jen membuka mata, hanya untuk mendapati Jayendra yang telah duduk di sampingnya. Menyodorkan sekaleng minuman bersoda seperti biasa.
"Aku rasa dia begitu murni. Kata si florist, lily melambangkan kemurnian. Aku rasa itu cocok untuknya" Jayendra mengangguk, kembali menengok pada lily yang tadi Jen bawa. Dia memang begitu murni. Seperti dirimu dan kisah kalian Jayendra lebih memilih membenarkan ucapan Jen dalam hati.
"Kita tidak dapat menyalahkan apapun dan siapapun" Yasodana berucap setelah hening yang cukup menyesakan melingkupi dirinya dan seseorang di sampingnya. Tidak ada jawaban dan Yasodana kembali menambahkan "Tidak pada cinta dan tidak pada ketetapan Tuhan yang akan meletakan hati siapa pada siapa" Ada hela nafas dari orang di samping Yasodana.
"Sejauh apapun aku membawanya pergi, dunia ini terasa menyempit dan mereka akan kembali bertemu. Entah dengan cara bagaimana" Hening kemudian kembali menyapa. Hingga matahari sampai pada peraduan, tidak ada suara yang tercipta diantara keduanya. Yasodana pun tidak akan memaksa seorang Jayendra Agha Maespati untuk bercerita apapun. Yasodana tahu, beban Jayendra mungkin lebih berat darinya. Banyak jika yang mungkin berputar di kepala seorang Jayendra.
"Maaf. Apa kita pernah kenal sebelumnya?" Ren mengangkat pandangannya dari gerbera yang tengah dia rangkai. Menatap manik seindah gugus bimasakti yang selalu berhasil meluluhkannya. Ren hanya menggeleng, menekan sesuatu yang menyekat tenggorokannya. Menjulurkan tangan dengan seulas senyum menghiasi wajah manisnya.
"Belum. Kenalkan aku Reandra Juna" Ada hangat yang menjalar di hati Jen. Ada air mata yang entah untuk apa membasahi pipi tirusnya secara tiba-tiba. Ada senyum yang terasa begitu Jen rindukan. "Gerbera-mu telah selesai. Biarkan kebahagiaan menjadi kompasmu, Jainendra Agya"
Dan seharusnya kamu adalah gerbera-nya, Ren. Kompas bahagianya. Seharusnya. - Jayendra Agha
