Hiruk pikuk jalan kota tidak membuat sang adam terdistraksi. Ia melajukan kendaraan roda dua miliknya, membelah keramaian demi menghampiri seseorang yang telah lama dinanti. Motor hitam besar tersebut berada di kecepatan hampir 100 kilometer perdetik membuat beberapa orang memandangnya ngeri. Tatkala lampu lalu lintas hijau belum berubah warna membuatnya semakin memacu, tapi tak tahu apa yang telah terjadi, satu kedipan tercipta dan semuanya gelap seketika.
Lelaki berambut abu kebiruan tersebut jatuh dari motor, terseret cukup jauh dengan helm yang masih terpasang. Terdengar pekikan kaum hawa yang mendominasi, orang-orang ramai menghampiri guna membantu anak muda yang tak sadarkan diri tersebut. Jejak darah muncul di titik-titik tubuh sang adam, seseorang menelpon ambulans dan di saat yang sama polisi langsung bergerak cepat mengamankan lokasi kejadian.
Gavin berhenti di tengah jalan saat melihat kemacetan. Mobilnya tak dapat bergerak sama sekali, padahal ia sedang buru-buru untuk melakukan pertemuan. Dalam hati meringis, sementara Eliーrekannya-memukul setir karena dia sudah begitu laju membawa kendaraannya.
"Macet apa sih?" Ia menggerutu, Gavin pun tak bisa menjawab karena tak tahu apa yang terjadi. Eli yang dirundung penasaran pun keluar dari mobil, melihat ambulans dari belakang mobilnya melaju membuatnya paham akan situasi. "Kecelakaan," ujarnya sembari meletakkan kedua tangan di pinggir atap mobil, merendahkan tubuh guna bertatapan dengan Komandannya yang berada di dalam. "Kita tunggu saja oke? Kayaknya gak lama lagi bakal beres."
Lelaki beriris merkuri itu mengangguk. Beruntung kecelakaan yang menjadi penyebab kemacetan cepat teratasi. Namun, kenapa perasaannya tiba-tiba menjadi kalut?
"Hei, kau lihat apa dengan apa kecelakaan itu?"
"Hm, kurang jelas," Eli menjawab. Mau tak mau ia sedikit melangkah ke depan agar bisa melihat lokasi, tapi baru saja lima langkah sebelum berada tepat di tempat kecelakaan, dahinya mengernyit tatkala mengenali kendaraan yang rusak dan tergeletak di jalan raya. Buru-buru ia berlari dan membuka pintu mobilnya, wajahnya pun terlihat panik saat bertatapan dengan Gavin.
"Gav, motor adikmu platnya 5114 W bukan?"
"Iya," jawabnya. Mendengar pertanyaan itu membuat Gavin curiga. "Ada apa?"
"Aku melihat motor itu dan kondisinya rusak parah … walau belum sampai hancur."
"Kau yakin?"
Eli mengangguk. "Motor hitam yang sama dengan punyamu bukan? Aku tidak mungkin tidak tahu kendaraan kalian."
Rasa percaya Gavin pada Eli membuatnya gelisah tak karuan. Ia khawatir jika memang adiknya terlibat dalam kecelakaan ini. Dering dan getar pada ponsel pun membuyarkan fokus, lantas ia merogoh benda elektronik tersebut dan melihat nama pemanggilnya di layar. Saat tahu siapa yang menghubunginya-seorang rekan sesama polisi-membuatnya menggigit bibir.
"Halo?"
"Gavin, ini aku," ucap seseorang di seberang sana. "Aku tak perlu berbicara banyak, karena aku akan memberitahumuー"
Terjadi jeda dari sang penelpon membuat Gavin tak sabar. "Apa?!"
"Adikmu-dia ditabrak mobil."
.
.
Are We Strangers?
First Chapter - That Day
Mr. Love: Queen's Choice (c) Elex, Paper Games
OC, Story (c) smallsinnamonroll
Fanfiksi ini dibuat untuk hiburan semata tanpa mendapat royalti apapun.
.
.
Tanpa menunggu mobil benar-benar berhenti sempurna di depan UGD Rumah Sakit, Gavin langsung membuka pintu dan melompat keluar-hal tersebut membuat Eli spontan berseru, tetapi ia tak peduli dengan seruan rekannya. Ia berlari masuk dan menyusuri Ruang Unit Gawat Darurat. Pada tirai ketiga, ia mendapati orang-orang berpakaian putih masuk ke dalam membuatnya spontan menyibak tirai dan mendapati lelaki berambut abu kebiruan tak sadarkan diri dengan penuh luka di tubuhnya. Ia tak bisa berkata-kata saat infus terpasang di tangan sang adik, begitu pula sungkup oksigen yang menutup mulut dan hidung lelaki itu.
"Apa anda keluarganya?" Seorang perawat bertanya saat menyadari keberadaan Gavin.
Lelaki itu mengangguk. "Saya kakaknya."
"Setelah ini ada yang harus dibicarakan dengan dokter. Harap menunggu di luar."
Gavin tak merespon setelah perawat tersebut berbicara. Ia menutup tirai kembali dalam diam, memutuskan untuk duduk di kursi tunggu dan menarik lalu menghembuskan napas panjang. Eli yang sudah memarkirkan mobilnya pun menghampiri.
"Gimana?"
Pemilik rambut cokelat itu menggeleng pelan dan menumpu kepalanya diantara kedua paha. Eli melihat rekannya tertekan pun tak memutuskan untuk memberi pertanyaan lebih. Ia duduk di sisi Gavin, menemani sang lelaki.
"Aku tahu ini tidak terlalu penting, tapi pertemuannya sudah kuundur sampai semua urusan adikmu selesai."
"Ah, terima kasih," jawabnya. Suara Gavin terdengar berat seakan putus asa, terlebih melihat kondisi adiknya yang menambah beban pikirannya.
"Adik imut itu sudah tahu?"
"Melanie?" Gavin bertanya, menegakkan tubuhnya dan menatap Eli bingung.
"Ya iya, memangnya Shaw punya pacar lagi selain si imut itu?"
Terdengar helaan napas gusar tercipta dari sang lelaki. "Aku baru ingat, dia ingin menemui Melanie setelah tugas ke luar kota."
"Hm~ paham paham. Berarti dia begitu ngebetnya mau ketemu si imut ya?" Eli merespon diiringi anggukkan. "Tidak ada yang tahu kalau semua ini terjadi."
"Bisakah kau tidak memanggilnya 'si imut'?" tanya Gavin, terdengar tak terima.
"O~ke," Lelaki itu menjawab pasrah. "Bahkan kakak iparnya saja posesif," gumamnya, yang jelas sekali terdengar oleh Gavin tetapi lelaki itu tak peduli.
Teringat akan sesuatu membuatnya mengeluarkan ponsel pintar dan menghubungi seseorang. Ponselnya ditempel ke telinga, disambut dengan nada sambung yang mengartikan bahwa hubungan suara akan sampai pada penerimanya.
Di lain sisi, Melanie baru saja menyelesaikan kelasnya. Ia menyandarkan kanvas berukuran sedang di dinding, memotret lukisan bunga Chinese Trumpet ciptaannya sebelum meninggalkan ruangan. Setelahnya ia pun keluar, menahan senyum karena lukisan tersebut mengingatkannya pada seseorang.
Ruang obrolan terbuka, didapati pesan terakhirnya pada sang lelaki semakin membuat senyumnya merekah. Tadinya ia ingin mengirim foto lukisannya, tapi Melanie mengurungkan niat dan memutuskan untuk menunjukkan fotonya saja saat mereka bertemu.
[Aku otw ke kampus.]
[Kujemput, tunggu aku]
[I miss you.]
[Okay~]
[Hati-hati!]
[(love sticker)]
[Miss you too~!]
Sudah hampir dua minggu mereka tak bertemu karena kekasihnya ditugaskan ke luar kota. Tadinya lelaki itu mau pulang pergi demi menemui Melanie, tetapi sang gadis melarang karena selain memakan biaya, tentu saja berbahaya. Ia tak mau kejadian tidak diinginkan terjadi pada sang lelaki.
Ponselnya yang tiba-tiba berdering membuat Melanie tersentak. Ia sudah merasa bahagia saat mendapat telepon, tetapi saat melihat siapa yang menghubunginya membuat dahi Melanie mengernyit.
"Nii?" Lantas ia menjawab telepon sembari melangkah di koridor yang sepi. "Halo?"
"Halo, Melanie-"
Gavin menahan napas sejenak. Mendengar suara sang gadis sudah cukup membuat dadanya nyeri. Ia tak mau perempuan itu khawatir, tapi di satu sisi Melanie harus dan berhak mengetahui kondisi adiknya saat ini.
"Gavin-nii, ada apa?"
"Tentang Shaw."
"Hm, iya?" Melanie bertanya, menunggu lelaki itu berbicara. "Apa Shaw masih di rumah? Yah, aku tidak heran sih kalau dia lelet."
"Tidak, dia sudah di jalan."
"Oke … lalu?"
"Diaー" Sejenak lelaki itu menahan napas, melirik pada tirai krim yang masih tertutup. Sementara hubungan telepon belum terputus, ia belum melanjutkan pembicaraannya.
"Ada apa?"
"Shaw-dia … kecelakaan."
.
.
.
Rasa kalut menyelimuti, bahkan tangis semakin jadi. Melanie tak kuasa menahan sedih terlebih saat kakinya memijak ke pintu UGD. Ia berlari masuk dan matanya langsung menangkap figur Gavin di ruang tunggu, membuatnya mempercepat langkah menghampiri sang lelaki. Gavin yang melihat gadis itu pun lantas berdiri dari kursi dan menenangkan Melanie.
"Shaw! Dimana dia?!" Ia bertanya diiringi tangis. "Gavin-nii, Shaw dimana?!"
"Melanie, kau harus tenang dulu."
"Gak, gak bisa!" tolaknya. "Aku harus ketemu dia!"
Saat melihat tirai yang tertutup membuatnya berlari ke tempat tersebut. Belum sempat ia menyibaknya, seorang perawat membuka tirai dan Melanie dapat melihat kekasihnya terbaring tak sadarkan diri. Tangisnya pun semakin jadi, bahkan ia menghempas tangan Gavin yang berusaha untuk menahannya.
"Siapa keluarganya?"
"Saya, dok." Gavin menjawab, tetapi Eli dengan cepat menyentuh bahu sang lelaki.
"Biar aku saja," jawabnya. "Kau urus dulu adik-adikmu."
Lelaki itu tak berucap, melihat Eli yang mengikuti langkah sang dokter lalu kembali terpaku pada adiknya. Ia berdiri di sisi Shaw, menatap Melanie sendu terlebih saat melihatnya menangis sejadi-jadinya sembari menggenggam tangan sang adik.
"Kenapa bisa begini sih…?" Melanie bertanya di sela tangis. "Shaw, please, kau merindukanku 'kan? Buka matamu."
Mendengar ucapan Melanie membuat dada Gavin terasa sesak. Ia saja belum sempat menemui Shaw setelah lelaki itu kembali karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. Tangannya pun spontan mengelus mahkota abu kebiruan sang lelaki, menatap figur tersebut iba. Ia tak bisa banyak bicara, tapi di dalam lubuk hatinya ia terluka saat melihat adiknya.
Kepala Melanie terasa berat, dadanya begitu sempit, bahkan tenggorokkannya mulai terasa sakit. Cairan bening terus mengalir, tangannya pun tak lepas menggenggam tangan sang lelaki yang terkulai lemah. Ia rindu, benar-benar merindukan lelakinya. Namun, kenapa rasa rindunya diuap seperti ini dengan menambah rasa sakit yang bahkan dirinya belum siap?
