[Disclaimer Masashi Kishimoto, A Fanfiction Sasuhina: Fail]
"Tidak tahu diri ya, dia bukannya anak dari koruptor itu?"
Mereka membicarakan suatu hal tanpa mau mencari tahu kebenaran yang terselip di dalamnya. Mempercayai omongan-omongan sampah yang bukan berasal dari sumbernya. Mereka berkerumun, membentuk sebuah lingkarang kecil lalu saling berbisik, memandang rendah tanpa berniat menyapa. Seolah, apa yang terdengar di telinga mereka adalah kenyataannya.
Hinata menggunakan jaket tebal polos berwarna biru gelap, rambutnya tergerai berantakan disertai rok sekolah yang belum sempat ia ganti. Matanya menyorot lurus, memasukkan kedua tangan di dalam saku.
"Masih berani keluar dengan wajah begitu. Amit-amit jangan sampai anakku seperti dia."
"Keluarganya bahkan tidak mampu membayar hutang bank. Lagipula sudah tahu melarat masih saja meminta pinjaman." Suara itu terdengar blak-blakan, terdengar jelas tanpa rasa bersalah. Selanjutnya, tersimpan di memori hingga mengiris hati Hinata pelan-pelan--hei Hinata manusia juga! Memangnya Hinata meminta dilahirkan dengan penuh penderitaan? Bibinya di luar kota sana, sama sekali tidak mau menganggap gadis berketurunan Hyuuga itu sebagai bagian dari keluarga. Menutup mata dan telinga melihat keadaan Hinata yang seharusnya dirinya tampung. Ayah Hinata dihukum mati oleh negara, Hinata diasingkan dan tak pernah dianggap sebagai bagian dari penduduk kota.
Memasuki kawasan pasar, gadis beriris bulan itu menggunakan topi, menutupi sebagian wajahnya dan melangkah mendekati kerumunan.
Saat di sekolah Hinata diajari untuk saling membantu terhadap sesama, saling menolong tanpa pamrih juga saling memberi tanpa meminta imbalan. Tapi, bagaimana jika Hinata tidak mempedulikan ajaran itu? Manusia hidup untuk saling menguntungkan. Saling membantu agar suatu hari nanti mendapatkan balasan. Kenyataan yang menampar Hinata begitu keras. Hingga Hinata sadar, bahwa kehidupan yang sedang dirinya jalani ini benar-benar memuakkan.
Satu dompet berhasil tangannya raih dari tas berkilau yang digunakan wanita bertubuh lemak itu. Iris Hinata menggelap, tangannya mencengkeram kuat dompet si wanita tersebut lalu membenarkan posisi topi agar wajahnya tidak terlihat jelas.
"Sebentar, dompetku ada di--oh Tuhan! NONA ITU MENCURI DOMPETKU!"
Iris Hinata membulat. Kakinya segera berlari membelah jalan. Rambutnya tertiup angin segar, gadis itu mengumpat kecil. Orang-orang mengejarnya, berteriak menyuruh Hinata untuk berhenti. Napas si gadis Hyugga tersengal, Hinata menarik napas dan menghembuskannya cepat.
Dia belum makan dengan benar, terakhir kali Hinata mencuri roti di kantin juga mengambil beberapa lembar uang dari temannya. Sekarang ia hanya ingin bertahan hidup dengan mudah. Hinata menguatkan genggaman dalam dompet tersebut. Tubuh gadis itu seketika oleng, tersandung, kehilangan keseimbangan lalu berakhir jatuh menubruk seseorang. Kedua tangan Hinata gemetar, dahinya berkerut lalu bergerak untuk bersembunyi di belakang mobil buru-buru.
Seseorang yang ditubruk Hinata, terdiam. Melihat situasi, kemudian melipat tangan. Irisnya yang hitam bergulir melirik sekumpulan orang yang berlari dan bertanya padanya tentang keberadaan gadis bertopi yang barusan menabraknya itu.
Sasuke menjawab lempeng. "Dia ke sana," dustanya meyakinkan. Dengan mudah, orang-orang mengikuti ucapan Sasuke yang berbohong.
Hinata menghembuskan napas, napasnya tersengal, menghampiri lelaki asing itu murka, tangan Hinata menyerahkan beberapa lembar uang ke hadapan Sasuke. Lelaki berambut hitam menyorot bingung.
"Untukmu, karena telah berbohong."
Lelaki terbalut jas hitam, Hinata memperkirakan bahwa Sasuke adalah salah satu yang bekerja dibidang perusahaan. Mungkin umurnya sekitar dua atau tiga tahun lebih tua dari Hinata yang masih sekolah.
"Tidak."
"Kamu ingin aku bayar berapa?" Hinata keras kepala, ia membuka dompet yang berhasil ia curi lalu mengambil beberapa lembar. "Manusia pasti meminta balasan. Kamu ingin aku bayar berapa!" Suara Hinata meninggi, menatap lurus Sasuke yang lebih di atasnya. Sasuke tidak mengeluarkan suara. Ekspresinya masih tidak tergambar jelas, datar tanpa bentuk.
"Aku tidak membutuhkannya."
Hinata tertawa pahit, melirik tajam, sembari mengepal tangan mendidih. "Sombong. Kamu sombong sekali, karena memiliki banyak uang, kamu jadi tidak merasakan betapa sulitnya orang miskin bertahan hidup!" Jeda sebentar, Hinata menarik napas. "Sialan, kenapa harus aku yang terus merasakan penderitaan!" jerit Hinata memaki.
Gadis berambut indigo itu meremas jaketnya sendiri berang, menatap Sasuke dengan air mata berlinang. "Brengsek! Hidup benar-benar tidak adil!" Dadanya bergejolak, terasa panas akibat ucapan-ucapan tetangga yang menyakiti relung hatinya, membekas kemudian tidak bisa hilang. Terngiang tanpa henti, merusak kepercayaan diri Hinata sedikit demi sedikit.
"Aku menyesal. Aku menyesal." Hinata berbisik parau, setelahnya terisak. "Kenapa Ayah tidak mengajakku saat ajal menjemput dirinya?" tanyanya pada diri sendiri, sembari menggigit bibir. Tubuhnya bergetar hebat.
Ini adalah awal kesalahan. Seharusnya Hinata tidak perlu bertemu Sasuke, dan mengeluarkan pelampiasan kemarahannya pada lelaki itu. Takdir melilit mereka, membawa mereka pada takdir yang sesungguhnya. Dari awal, Hinata memang bodoh. Gadis itu tidak tahu bahwa Sasuke adalah kunci dari dunia Hinata yang baru. Dunia yang nanti akan disesali Hinata.
"Ikut aku." Sasuke menarik tangan Hinata, membawa gadis berambut indigo itu masuk ke dalam mobilnya. Iris Hinata membulat sempurna.
*
"Okaa-san! Tadi, Hinata jatuh. Sakit..."
Hikari menghampiri anak semata wayangnya dengan senyum manis. Berjongkok, menyamai tinggi tubuh Hinata yang kecil. Maklum, Hinata baru memasuki umur lima tahun dengan tinggi badan yang mungil.
Wanita berwajah mirip Hinata versi dewasa itu, mengelap air mata Hinata lalu meniup luka di lengan Hinata pelan. "Fuh, rasa sakit. Menjauhlah dari anakku!" Mendengar hal itu, Hinata terkikik bahagia. Senang sekali rasanya ketika Hikari menyuruh rasa sakit pergi darinya.
Hikari tertawa, mengecup pipi kemerahan Hinata gemas. "Masih sakit?"
Hinata menggeleng polos, sedetik setelahnya mengangguk lagi. "Masih sakit, Okaa-san. Sakitnya tidak mau pergi."
Hikari tertawa, kini mencubit pipi Hinata yang kenyal. "Nanti kalau Hinata sudah besar. Hinata sendiri yang harus mengusir rasa sakitnya, paham?"
Hinata mengerjap, tersadar oleh lamunannya ketika Sasuke mengguncang tubuhnya. Lelaki itu membawa setumpuk buku pengetahuan dan pakaian baru. Memberinya pada Hinata tanpa ekspresi wajah.
"Kamu harus banyak membaca buku, dan berusahalah mencari uang sebanyak yang kamu mau tanpa melakukan kejahatan." Sasuke menatap Hinata tepat di iris Hinata yang berwarna keunguan. "Setelah mendapat banyak uang, kamu boleh berbalas budi padaku."
Sasuke menarik napas dengan tenang. "Bukan dengan mencuri."
*
Hinata mengetahui namanya, identitasnya, dan pekerjaannya. Sering kali gadis itu berkunjung ke dalam perpustakaan Sasuke yang seluas perpustakaan umum. Hinata menyukai buku-buku yang menceritakan tentang bagian-bagian tubuh manusia juga beberapa hal-hal yang berkaitan tentang kehidupan manusia.
Hinata tidak sanggup membayar bulanan di sekolahnya, jadi gadis beriris bulan itu membolos dan lebih memilih mengunjungi perpustakaan Sasuke juga bekerja sampingan menjadi pelayan supermarket. Sasuke yang memberinya pekerjaan, meminta Hinata membalas kebaikannya dengan cara yang benar. Yaitu, bekerja keras.
Sedikit demi sedikit, Hinata mencicil hutangnya pada bank sehingga mulai berkuranglah masalah gadis itu.
Hinata menghampiri Sasuke yang berada di kursi yang disediakan supermarket, membawa sebotol air mineral dan jus tomat instan.
"Sasuke. Apa kamu memiliki keinginan?" tanya Hinata memecahkan keheningan. Gadis itu dapat melihat Sasuke yang seolah berpikir untuk menjawabnya. Hinata menunggu sembari meneguk air mineralnya.
"Ya."
Kedua mata Hinata berbinar antusias. "Ah, sungguh? Apa?"
Sasuke menyorot Hinata lurus. "Melihatmu menjadi dokter spesialis bedah."
Iris Hinata melebar, pipinya memerah. Bagaimana mungkin Sasuke mengetahui keinginannya? Apa selama Hinata membaca buku, Sasuke selalu memperhatikan bacaannya? Hinata bergerak gelagapan, tingkahnya gugup. "Ka-kamu... bagaimana kamu tahu?!"
Sasuke mengangkat bahu tak acuh.
"Ka-katakan padaku! Ka-ka-kamu selalu melihat buku-buku yang sudah kubaca ya? Mengaku saja!" Protes Hinata jengkel. Padahal Hinata berniat mengorek informasi tentang Sasuke Uchiha, lalu mengapa malah gadis itu yang ketahuan memiliki impian?! Gawat... berdekatan dengan Sasuke sungguh tidak baik bagi kondisi tubuhnya!
*
"Hinata."
Siang terik yang semakin memancarkan panasnya membuat dahi Hinata berkerut sekaligus berkeringat, menoleh menatap Sasuke yang memberinya topi sehingga dahi gadis itu sudah tidak terlalu berkerut kepanasan.
"Apa?"
Mereka berjalan beriringan, Sasuke menggunakan hoddie menutupi kepalanya. Memasukkan kedua tangan di dalam saku jaket. "Apa di lingkunganmu, masih ada orang yang membicarakanmu?" tanya Sasuke yang dibalas gelengan Hinata. Kedua mata Hinata berbinar, senyumnya mengembang. "Kupikir mereka sudah tidak membicarakanku lagi secara terang-terangan."
Sasuke menyunggingkan senyum tipis, tertular oleh senyum Hinata yang baik-baik saja. "Kamu boleh tinggal di tempatku, Hinata."
Hinata menggeleng, langkahnya terhenti, wajah Hinata tersirami terik matahari. "Tidak. Aku cukup mandiri, Sasuke," ujarnya bersungguh-sungguh, kemudian, cengirannya melebar. Sasuke mengangguk, mengelap bulir-bulir berjatuhan di pelipis Hinata pelan. "Kamu tidak mau melanjutkan sekolah?"
Hinata melotot, seperti tersengat ribuan volt listrik, wajahnya memanas. Iris Hinata bergerak gelisah menghindari tatapan Sasuke yang lekat. Bisa-bisa, Hinata lumer di tempat. Hinata menelan ludah berusaha tetap fokus. "A-a... s-s-sepertinya tidak."
Sasuke mencengkeram bahu Hinata kuat, posisi mereka berhadapan, Sasuke menyorot Hinata lurus. "Kenapa?"
Ah... mata itu... Hinata menggigit bibir. Sasuke itu seperti magnet. Ia menarik Hinata, membuat mereka begitu amat dekat, hingga Hinata tak bisa berpaling selain tertarik oleh ujung kutubnya.
Tertarik dengan begituerat.
Bagaimana jika pada akhirnya, Hinata yang terlalu jatuh dan menggantungkan diri pada Sasuke, si magnet? Jika hal itu terjadi, maka, ketika Sasuke melepasnya, Hinata takkan mau melakukan hal tersebut.
Hinata membalas parau. "Aku belum membayar bulanan sekolah, Sasuke..." Jeda sebentar, Hinata melirik Sasuke pahit. "Santai saja, aku sudah tidak memiliki keinginan untuk melanjutkan sekolah." Selanjutnya Hinata tersenyum lebar.
*
Rintikkan hujan menjatuhkan isinya untuk membasahi bumi. Aroma rerumputan beserta jalanan yang basah memenuhi indera penciuman Hinata. Gadis itu menggosok-gosok telapak tangannya, duduk di luar supermarket sembari melihat titik-titik di udara. Hinata sudah selesai dalam pekerjaannya di supermarket, berniat untuk pulang. Namun, hujan tiba-tiba datang.
"Hinata, kamu tidak mau menunggu di dalam?"
Hinata menoleh, menatap Tenten dengan tersenyum sopan. "Aku senang di sini."
Dan ya, di sinilah Hinata duduk menatap hamparan jalanan yang terbasahi hujan dengan kendaraan yang berlalu-lalang melihat beberapa orang yang berteduh menghidari hujan yang akan membasahi tubuh mereka.
Hinata menengadah melihat Sasuke yang membelakangi cahaya, napasnya tersendat saat lelaki itu menunduk dan mengikatkan tali sepatunya yang terlepas ikatan. Jantung gadis itu mulai berdetak tidak sesuai irama semestinya. Selalu saja, Sasuke melakukan hal-hal di luar dugaannya. Hinata menahan napas.
"Sepatu kamu sudah jelek." Sasuke berujar, memasang dengan mantap tali sepatu Hinata kemudian mendongak. "Mau aku belikan?"
Hinata menggeleng tersenyum, ada yang mengkhawatirkan dirinya hingga sedalam ini. Hinata menggigit bibir ketika merasakan pelupuk matanya penuh oleh air mata menggenang. Sasuke hadir sebagai penutup luka dalam hatinya, mengajari Hinata bertahan hidup dan melimpahkan kasih sayang pada Hinata yang sudah lama tak mengenal kata kebahagiaan.
Bagaimana mungkin, Hinata tidak merasa bersyukur?
"Kenapa menangis? Kamu kedinginan?"
Hinata terisak lalu memeluk Sasuke erat. Tangisannya mengalun menyamai suara tetesan hujan tiap kali jatuh menghantam tanah. Cengkaraman Hinata menguat. "Aku mencintaimu, Sasuke. Terima kasih sudah datang untuk mengulurkan tangan saat itu." Tubuh Sasuke terpaku tidak bergerak, pupilnya membesar.
Dunia Hinata telah berubah, terganti oleh nama Sasuke yang berada dalam hatinya. Sasukenya, hidupnya, tempat bersandarnya untuk pulang.
Hinata tersenyum lebar, membawa bekal yang sudah ia buatkan khusus untuk Sasuke. Wajahnya berseri mencoba resep baru yang pernah ia pelajari dari salah satu buku perpustakaan lelaki itu. Mengetuk pintu, Hinata mengedarkan pandangan. Menunggu hingga Sasuke membukakan pintu untuknya. Beberapa menit menunggu, tak kunjung ada jawaban. Hinata mencoba memutar knop pintu, hingga pintu terbuka lebar oleh tangannya.
Hinata mengangkat bahu tidak peduli. Sasuke pasti sedang berada di kamar dan sedang mendengarkan earphone--seperti biasa, tentu saja, Sasuke tidak akan mendengar ketukan Hinata. Gadis berambut indigo itu berlarian kecil, tidak sabar menanti ekspresi terkejut Sasuke yang melihat bekal buatan dirinya yang sengaja didesain sedemikian rupa imutnya. Hinata tersenyum membayangi wajah Sasuke yang tiba-tiba muncul dalam benaknya. Wajah gadis itu memerah merona.
"Sasuke! Aku sudah mempelajari resep baru. Aku membawa bekal untukmu!" teriak Hinata antusias, sampai--matanya membulat dengan tangan bergetar. Sasuke membelakangi Hinata, berciuman dengan gadis berambut merah muda yang terlihat sangat mewah dibandingkan Hinata.
Sakura menoleh, menyadari keberadaan Hinata lalu mendorong bahu Sasuke dengan senyum tidak enak. Hinata mengusap air matanya kasar. Sakura, wanita pemilik iris hijau, kulit putih bersih yang manis. Mempunyai rambut pendek yang diwarnai merah muda. Namun, terlihat cocok untuknya. Tingginya serasi dengan Sasuke, juga iris mata yang menyorot lembut.
Bekal yang sudah ia persiapkan, Hinata cengkeram kuat. Napasnya beradu kacau. Tubuhnya bergerak kikuk. Sasuke menatap Hinata, memeluk Sakura erat di hadapan gadis beriris bulan itu. Hinata menorehkan senyum pedih.
Kenapa...
"Hinata, ada apa?" tanya Sasuke tanpa melepaskan pelukannya. Sakura tersenyum sopan.
Kenapa, ketika Hinata baru saja mendapatkan kebahagiaannya...
"A-Ano ... ti-tidak ada apa-apa. Aku ha-hanya tidak sengaja melihat. O-Oh aku harus ke pe-perpustakaan!" jawab Hinata dengan kosa kata tidak beraturan. Matanya menyorot terluka. Air matanya menggenang.
Kenapa semua menjadi hancur begini?
"Ehm... hei, siapa namamu, gadis manis?"
Suaranya bahkan terdengar halus dan lembut. Kalau memang ini mimpi buruk. Bolehkah Hinata bangun dari mimpinya? Hatinya tertusuk ribuan jarum berkarat. Kedua tungkai kaki gadis itu bahkan terasa tidak dapat menopang tubuhnya sendiri. Pandangan Hinata memburam oleh air mata. "Hina... Hinata... H-Hinata Hyuuga."
Sakura tersenyum lebar, kedua matanya menyorot khawatir, "Apa kamu baik-baik saja? Aku--"
"Tunangan. Dia calon isteriku, Sakura Uchiha." Sasuke menyela ucapan Sakura, menatap Hinata dingin tanpa mempedulikan betapa kata-katanya membuat luka Hinata tertaburi garam.
Dua tetesan air mata Hinata jatuh. Dunia Hinata hancur tak berbekas. Berkeping-keping seperti serpihan kaca. Sasuke masih dalam posisinya, memeluk Sakura erat membiarkan wajah Hinata yang berantakan oleh air mata dan rambut menempel di pipi.
Seharusnya waktu itu Hinata tidak perlu bertemu Sasuke dan mengeluarkan pelampiasan kemarahannya pada lelaki itu. Membuat Hinata memiliki rasa pada lelaki yang salah.
Dari awal, Hinata memang bodoh. Dunia yang ia yakini terasa berwarna dan baru, dalam sekejap runtuh akibat satu kalimat Sasuke yang menyatakan Sakura adalah tunangan lelaki itu. Hinata memang terlalu percaya diri. Merasa Sasuke memiliki rasa yang sama dan malah menyatakan ketertarikannya pada lelaki itu di depan supermarket, disaksikan oleh ribuan rintikkan hujan.
Hinata menutup bibirnya dengan punggung tangan, tersenyum perih. "A-aku tahu Sasuke, ma-ma-maaf aku pe-permisi dulu sudah mengganggu kalian."
Selanjutnya semua terlihat abu-abu lagi.
*
"Okaa-san, Hinata sakit," lirih Hinata terisak, meremas ujung kaosnya dengan air mata mengalir tiada henti. Jantungnya berdentum mengerikan berakibat pada pernapasannya yang sesak. Langit sudah berwarna gelap, dipenuhi oleh jutaan bintang dan satu rembulan yang menyinari bumi, memberi kesan pada Hinata bahwa langit pun tidak mempedulikan kesedihan yang dialami gadis indigo itu.
Hinata harusnya tidak memberikan harapan besar pada Sasuke sebab memberinya kasih sayang yang berbeda. Karena, dari awal lelaki itu pasti tidak pernah menganggap Hinata sebagai seorang wanita sesungguhnya. "Okaa-san, ini lebih sakit dibanding lengan Hinata yang terluka waktu itu." Hinata sesegukan, memukul dada kirinya mencoba meredahkan kesakitan setiap kali jantungnya memompa darah. "Sakit," bisik Hinata untuk kesekian kalinya.
Pada akhirnya pun, Hinata hidup dalam kesakitan yang mengelilinginya tanpa ada yang namanya kebahagiaan. Semenyedihkan itu dirinya.
*
"Sangat disayangkan, kamu yakin ingin mengundurkan diri?" Temari menghela napas. "Baiklah, aku tidak bisa memaksa. Jaga dirimu baik-baik Hinata. Ini gajimu bulan ini." Hinata tersenyum, menerima apa yang diberikan Temari dengan senang. Setidaknya uang gajinya bisa Hinata gunakan untuk menutupi kehidupannya dalam beberapa hari.
"Hinata."
Hinata menoleh, tidak mengenali laki-laki berambut pirang yang memanggil namanya itu dengan wajah serius.
"Siapa?"
Naruto menarik tangan Hinata, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang ditutupi dengan ketegasan di bola mata birunya. "Maafkan aku bersikap tidak sopan, namaku Naruto. Sasuke sudah menceritakan semuanya tentangmu. Jadi, ikut aku sebentar. Akan aku ceritakan rahasia Sasuke Uchiha padamu."
Hinata mengerjap tidak mengerti, mengikuti langkah Naruto yang terkesan buru-buru. Naruto membawa Hinata ke dalam mobilnya, melaju dengan cepat menuju rumah sakit.
*
Hinata meremas rambutnya terisak, matanya memerah, bercucuran air mata yang jatuh berkali-kali.
"Bohong."
Sasuke yang seputih mayat, tersenyum tipis, mengusap air mata Hinata pelan-pelan. Bibirnya yang pucat mencium pelipis Hinata lembut, melirik Hinata dengan sorot hangat.
"Kamu bohong." Hinata sesegukan, suaranya terdengar serak dan parau. "Kamu bohong, Sasuke..."
"Sasuke memiliki tumor ganas di dalam otaknya, Hinata." Naruto membuka suara, menyetir mobilnya menuju kawasan pertigaan.
"Apa?"
"Dia sangat mencintaimu, melebihi nyawanya sendiri."
Sasuke menyelipkan rambut indigo Hinata ke belakang telinga, menatap gadis itu tanpa berkedip. "Sudah, jangan menangis terus."
Hinata memejamkan mata erat, napasnya terdengar putus-putus. "Habisnya kamu bohong! Aku pikir kamu benar sudah bertunangan, ternyata Sakura adalah dokter yang merawatmu."
"Sasuke bersikeras untuk tidak melakukan operasi, Hinata. Dan kamu tahu apa jawabannya?"
Hinata menggeleng dengan air mata menggunung.
"Katanya, dia ingin lebih lama bersamamu, lagi pula operasi tidak akan membantu banyak. Waktunya memang sudah tidak lama lagi. Dia benar-benar mencintaimu, Hinata."
Sasuke tertawa, mengelap air mata Hinata perlahan. "Maaf... aku khawatir kamu tidak bisa menerima aku yang berpenyakitan."
Hinata menahan napas. Matanya berkaca-kaca. "Jangan cium wanita lain lagi selain aku!"
Sasuke menyorot lurus, seandainya saja, seandainya saja Sasuke bertemu Hinata lebih cepat, lelaki itu pasti bisa menikmati momen kebersamaan mereka lebih lama. Sasuke menatap Hinata penuh cinta. "Hm. Aku juga tidak mencium Sakura, saat itu, Hinata."
Hinata mengusap air matanya, "Awas ya kalau bohong lagi."
Sasuke mengangguk, menikmati usapan halus yang diberikan Hinata pada rambutnya yang lepek.
"Sasuke, aku mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu." Hinata terisak, Sasuke memeluknya erat. Iris hitam Sasuke bergulir menatap Naruto dengan tatapan terima kasih. Setidaknya, Hinata memberi Sasuke kekuatan baru untuk menghadapi penyakit mematikannya. Dari pertama kali menjumpai Hinata, Sasuke sudah merasa perasaan yang aneh. Gadisnya yang terlihat menangis menahan semua penderitaan yang dibebankan punggungnya. Gadis yang pertama kali membuat Sasuke merasa bahagia sekaligus takut--takut akan kehilangan gadis kuat semacam Hinata Hyuuga.
"Sasuke, dulu waktu aku bilang kamu sombong itu... tidak sungguhan," lirih Hinata berbisik. "Pemikiranku salah, kamu bahkan lebih menderita daripada aku bukan?"
Sasuke mengecup dahi Hinata berkali-kali, beralih merambat mengecup rambut Hinata, membiarkan tusukan-tusukkan helaian rambut gadis itu terasa di bibirnya. "Apa pun yang terjadi kamu harus selalu tersenyum, Hinata. Mimpimu harus kamu raih." Sasuke menempelkan kening mereka. "Ngomong-ngomong tentang mimpi. Kamu tidak perlu membolos sekolah lagi, aku sudah membiayai semuanya, hutangmu, SPPmu, dan kuliahmu nanti."
Air mata Hinata kembali berjatuhan, gadis itu terisak merasa tubuh Sasuke yang terasa kurus dan tidak terlihat bugar. Kenapa di saat-saat terakhir, Sasuke masih saja memikirkannya? Hinata sesegukkan. Air mata berderai di wajahnya. "A-aku... mencintaimu, Sasuke-kun. Kamu kurus sekali, Sasuke. Terima kasih sudah mempedulikan mimpiku."
Sasuke memalingkan pandangan terlihat jengkel, "Jadi kalau tubuhku kurus dan tidak berotot lagi, kelihatan jelek?"
Hinata tertawa, "Kamu ini, masih saja bercanda."
"Aku serius, apa aku terlihat jelek, Hinata?"
"Astaga, Sasuke, yang benar saja!"
"Hinata, jawab aku. Aku atau Naruto yang lebih tampan?!" Sasuke melotot, menyorot dengan tajam iris bulan Hinata meminta kejujuran. Hinata menghela napas pasrah. "Kamu! Kamu yang lebih segalanya! Puas?"
Sasuke terkekeh, memeluk Hinata kuat. Kedua iris hitamnya memanas, berembun saat merasa bahwa momen ini akan ia ingat sepanjang ingatannya. Telapak tangan lelaki itu merambat, menangkup kedua rahang Hinata hingga mempertemukan dua bibir mereka. Air mata Sasuke menetes. Kenapa Hinata terasa manis sekali? Ciumannya mendalam, kepala Sasuke terasa berputar-putar, aliran darahnya terasa terhenti pelan-pelan. Jantung lelaki itu berdetak terlalu lambat. Saraf-sarafnya seolah berhenti bekerja, otot-otonya melemah. Kalaupun Tuhan ingin mengambil nyawanya sekarang. Lelaki itu tidak menyesalinya, karena Sasuke bersyukur bisa bertemu pada gadis terhebat yang membuatnya merasa kebahagiaan tak berujung.
Hinatanya yang hanya miliknya.
Napas Sasuke terasa tidak normal, dada lelaki itu naik turun. Keringat dingin mengalir deras, Sasuke merasa tubuhnya sedang berada di kutub terdingin. Otaknya nyeri luar biasa, menggrogotinya hingga titik paling menyakitkan yang pernah Sasuke rasakan. Jantung Sasuke berhenti bedetak, tiap detakkannya terasa berharga, ciuman mereka terlepas, Sasuke jatuh tak sadarkan diri dengan kedua mata tertutup sempurna.
Kedua mata Hinata terbelalak.
"Sa-Sasuke... bangun, jangan bercanda." Hinata tertawa, air mata berjatuhan tiada henti. Tangannya tanpa berhenti mengguncang tubuh Sasuke tremor. "Sa-Sasuke, kumohon." Hinata menelan ludah. "Sasuke, Sa-Sasu a-aku tidak suka bercandamu."
Tak ada pergerakan, Hinata menggigit bibir, menjambak rambutnya frustasi, beberapa helai rambutnya terlepas. "K-Kamu tahu aku sa-sangat mencintaimu, bangun ya? Kumohon!" Air mata Hinata mengalir membasahi wajah Sasuke yang pucat tak bernyawa.
"SASUKE BANGUN! KAMU TIDAK BOLEH MENINGGALKAN AKU!" jerit Hinata histeris. Dokter dan beberapa perawat menghampiri Sasuke. Dokter memeriksa keadaan lelaki Uchiha itu mencoba melihat kesadaranya.
Hinata berteriak melengking, tangisannya terdengar membuat bising. Naruto menghampiri, dan menenangkannya. Mikoto pingsan di tempat dengan Fugaku yang ikut menahan kesedihannya.
TAMAT
By: pangeranaikun
