Pada awal nya, planet itu hanya berupa tanah gersang dengan suhu tidak menentu. Sangat panas pada siang hari dan begitu dingin ketika matahari meninggalkan penampakan di bagian lain planet. Itu terlihat seperti butiran pasir, hanya ukuran yang mampu membuktikan jika tempat itu merupakan planet tidak layak huni.
Di setiap mata memandang, hanya ada dataran gersang tanpa kehidupan apapun bahkan untuk makhluk hidup terkecil sekalipun. Di dalam hening, tiba tiba sesuatu bergerak, itu berupa cahaya amat terang hingga menyebar ke seluruh penjuru planet.
Tempat sedari awal tanpa harapan kini berubah, cahaya itu terlihat seperti harapan satu satunya planet itu. Cahaya semakin terang, tumbuhan tumbuh sangat cepat, air bocor menguap hingga beberapa menit berselang, bagian paling cekung planet itu berubah menjadi lautan, lapisan ozon membungkus planet sepenuhnya dan suhu kini berlahan normal.
Berawal dari planet coklat memprihatinkan, hanya sekejam mata, segala hal berubah, kini planet biru hijau mengambil bentuk revolusi baru. Segala sesuatunya menjadi ter-realisasi. Kemudian, seakan itu hanya awal, suara baru, suara seorang laki laki adalah suara pertama yang mampu planet itu keluarkan.
Cahaya kini meredup, berpusat pada satu titik yang membentuk tubuh manusia. Rambut pirang runcing, mata biru laut yang menatap sekeliling nya teduh, ketika cahaya sepenuhnya pudar, penampilannya semakin jelas. Dia adalah seorang pria 25 tahunan, pada awal nya tanpa emosi, tetapi senyuman kecil datang ketika meledakan energi hangat dari tubuh nya.
"Creation of all Things Technique!"
Mewujudkan fantasy menjadi nyata, hewan hewan kecil bermunculan, ikan ikan berenang gembira, siulan siulan merdu burung menenangkan hatinya, mereka adalah makhluk pertama yang ia ciptakan namun itu belum sepenuhnya.
Dia adalah perwujudan suci, keberadaan sebagai eksistensi tertinggi memungkinan untuk melakukan segala hal, maka dari itu, menggunakan niat baik dan energi sucinya, satu jenis makhluk kembali ia ciptakan. 7 makhluk bersayap putih terbentuk, ia membagikan energi sucinya secara merata tanpa pilih kasih.
Pada awalnya ke 7 sosok malaikat itu berkedip bingung, mereka berlutut, ketika tatapan mereka jatuh pada sosok nya, satu kata pertama membuatnya tersenyum. "Ayah!" Malaikat sangat identik pada kebaikan dan hal positif, mereka tercipta oleh seluruh niat baik nya, berkah suci nya dan menjadi satu satu karya paling sempurna baginya.
Kemudian senyum itu menjadi garis lurus, ingatan pahit masa lalu, sebelum dirinya menjadi eksistensi tertinggi, dendam, amarah, rasa sakit berkumpul dalam satu energi kehidupan. Dasar dasar itu berupa kejahatan masa lalu nya, 7 dosa dosa manusia. Itu lah bagaimana ia menciptakan Iblis di suatu tempat dunia ini.
"Naruto, aku telah selesai untuk tugas ku." Naruto memandang sosok besar di dalam pikirannya sedih, putus asa. Sosok besar itu menyeringai meski berlahan keberadaan nya terhapus, "Jangan memasang wajah itu, bodoh! Itu sama sekali tidak pantas untuk mu." Naruto sepenuhnya paham, ia memaksakan dirinya untuk tersenyum meski rasanya sangat sakit.
"Aku tahu— Arigatou Kurama!" Naruto tersenyum, tetapi tidak dengan air matanya. Dadanya merasa sesak, ia kehilangan segala hal, kini satu satunya teman yang Naruto akui sebagai keluarga nya ikut dalam bagian hal yang hilang dari nya.
"Sama sama, bocah. Aku pergi dan ingat, jangan cepat cepat menyusul kami, jalan mu masih sangat panjang, kuatkan hatimu! Mulai saat ini, segala nya akan berjalan lebih sulit." Untuk terakhir kalinya, Kurama menatap Naruto dalam perasaan rumit dan menghilang seakan semua tidak pernah ada.
"Iya aku tahu dasar cerewet."
Dan pencipta segalanya berakhir kecuali satu hal. Tempat terindah di seluruh dunia, akan menjadi rumah baru baginya. Surga!.
...
...
...
Disclaimer : Masashi Kishimoto & Ichie Ishibumi
...
...
...
"Kerja bagus, Naruto." Pria itu tersenyum kecil. Menerima bahan mentah hasil tulisan pada editornya setelah sesi pemeriksaan selesai. "Fantasy identik pada perkenalan tokoh utama, tujuan, halangan dan tercapainya tujuan tokoh utama namun dengan World building cukup berbeda, aku yakin ini akan meledak di pasaran."
"Sejujurnya itu adalah ide awal mendiang ayah baptisku, dia menyelesaikan novelnya namun tidak laku di pasaran. Untuk menghormati jasanya, aku berusaha menyempurnakan menggunakan versiku." Penjelasan Naruto tak pelak membuat editornya tersenyum simpati, "Ahh aku turut berbela sungkawa pada mendiang ayah baptis mu, Naruto. Aku yakin dia yang menginspirasi mu menjadi penulis." Naruto cukup tersenyum. Itu tidak sepenuhnya benar, tidak terpikir oleh nya, Naruto akan berakhir menjadi seorang penulis sejak muda.
"Terima kasih, dan bisakah kita menggunakan nama samaran untuk bagian penulis?" Editornya mengernyitkan alis heran, "Yeah itu bisa saja. Ku pikir untuk novel tema normal kita bisa menggunakan nama mu." Secara umum, Naruto menulis beberapa tema Novel, salah satu nya adalah Novel dewasa dan itu mengharuskan Naruto menggunakan nama samaran. Editornya pernah sesekali membahas itu, namun jawaban itu membuat tawa editornya pecah. 'Yeah um, istriku sangat benci orang mesum, aku tidak mau membayangkan reaksinya mengetahui suamunya adalah penulis Novel dewasa.'
"Jadi, atas nama siapa untuk buku ini?"
Naruto tidak langsung menjawab, ia membayangkan rupa Ayah baptisnya, menggali ingatan lama dan menemukan rupa sangat ia rindukan, "Jiraiya!"
...
Mengeluarkan sekaleng kopi dari mesin minuman. Beberapa tengguk di butuh kan Naruto untuk menghabiskan kopinya. Pria itu mendesah lega, deadline penulisan Novel 'The Tale of Uzumaki Naruto' beberapa kali membuat nya frustasi. Naruto sepenuh nya menghafal setiap halaman dari novel lama itu, melakukan remake hingga ia merasa itu akan menarik minat para penikmat Novel fantasy.
Naruto tidak perlu khawatir oleh nama. Lagipula hanya orang konyol memberikan nama anak mereka perkedel ikan, itupun Naruto tidak terlalu terkenal. Ia selalu menggunakan banyak nama samaran berbeda untuk setiap karya nya. Ia berharap kehidupan normal nya berjalan lebih lama.
Naruto bukan penulis terbilang sangat sukses. Pendapatan nya biasa biasa saja, tidak buruk namun lumayan. Naruto hanya merasa menulis lebih banyak memberikan arti dalam kehidupan nya, itu tidak lebih dari sekedar hobi. Hobinya membagi pengalaman hidup pada banyak orang sangatlah berharga dan harta bukan prioritas utama nya.
Hari hampir berakhir dan berganti hari baru. Tengah malam membuat suasana menjadi sangat tenang meskipun kesan seram masih ada. Naruto hanya berjalan tenang, pada siang hari, trotoran jalan utama kota Kuoh akan menjadi lautan manusia, namun kini hanya ada Naruto tanpa siapapun. Itu adalah hari normalnya sebagai seorang penulis, mencari inspirasi hingga waktupun di lupakan.
Pada musim panas, suhu relatif lebih dingin pada malam hari. Hanya berbalut kaos dan kemeja kotak kotak, celana jeans, dingin sama sekali tidak menusuk kulit sama seperti hal nya manusia normal, namun Naruto tidak sepenuhnya normal. Pria itu bersenandung mengurangi bosan yang melanda, hanya beberapa blok dan Naruto akan tiba di rumahnya.
Ketika pikirannya penuh rencana apa yang akan ia lakukan setibanya di rumah. Langkah Naruto terhenti, garis pandangannya menangkap sosok familiar yang kini tengah duduk termenung, matanya yang kosong menatap jalanan tanpa arti.
Rambut merah menjuntai indah, tubuh proposal sebagai seorang gadis barat memberikan kesan Ojou-sama untuk nya. Naruto setuju jika penampilan gadis ini tidak normal, gadis itu hanya menggunakan gaun one piece tipis dan tentu tidak baik untuk tubuh nya. Pria manapun tentu menengguk ludah mereka melihat beberapa bagian intim tembus pandang oleh tipisnya kain, namun tidak untuk Naruto.
Senyum Naruto memudar ketika ia menyadari betapa kacau penampilannya. Pada situasi normal, tidak dapat di pungkiri Naruto lebih memilih tertawa betapa lucu wajahnya, make up luntur oleh air mata. Hanya dengan melihat pun Naruto tahu jika gadis itu tidak baik baik saja.
"Rias ada apa—" Naruto segera menutup mulut nya. Momen singkat, Rias memangkas jarak hingga Naruto mampu melihat lebih jelas keadaanya saat ini. Naruto tersenyum teduh, ia meletakan tangannya pada pundak Rias, berusaha menenangkan gadis itu. Tidak perlu dipungkiri, hanya ada keputusasaan pada iris hijau nya. Selama Naruto mengenal Rias, Naruto hanya sekali melihat Rias berada di titik terendah dan itu sekarang.
Tubuh nya bergetar, air mata kembali merembes keluar, isakan yang memilukan hanya terserap oleh malam. Tanpa peduli apapun, Naruto menerima tubuh nya di dorong oleh pelukan. Rias melingkarkan tangannya, membenamkan kepalanya di dada Naruto, tangisannya semakin keras tanpa Naruto tahu apa yang menyebabkan itu.
"Hiks* Naruto." Tanpa ada maksud tersembunyi, tangannya menelusuri punggung gadis itu, lalu berpindah mengelus penuh kasih sayang surai merah gadis di pelukannya. Ini bukan waktu untuk mengatakan 'apa yang telah terjadi?' karena satu satunya hal yang Rias butuhkan sandaran untuk menumpahkan segala bebannya.
Tubuh mereka tidak terpaut oleh jarak, dengan posesif Naruto berusaha mengusir dingin, memeluknya lebih erat, memberikan kenyamanan pada gadis tengah jatuh itu. Hanya ada tangisan Rias, kehangatan Naruto, dan rasa syukur betapa Rias menyadari dia tidak lagi sendiri.
Sekarang, Rias sama sekali tidak peduli pada rasa malu. Fakta bahwa ia jatuh pada pelukan pria yang tidak ia ketahui, hanya karena mengenal dan merasa Rias selamanya aman berada di bawah perlindungan Naruto, Rias sepenuhnya memahami kata 'mengenal' tidak ada artinya lagi sekarang.
Ketika menyadari Rias berdiri tanpa tenaga, Naruto tahu jika gadis itu tidak memiliki kesadaran lagi. Ia merengkuh tubuhnya, menggendong nya gaya pengantin, tercetak jelas wajah sendu, lelah, sedih menjadi satu. Terlihat memprihatinkan. Senyum tulus mengembang di hatinya, ia hanya memiliki niat membantu.
"Begitukah? Masalah keluarga pelik." Bagi Naruto, mengintip sedikit ingatan seseorang adalah hal sepele. Naruto tidak meminta Rias bercerita mengingat kondisi gadis itu tidak memungkinkan, namun itu bukan berarti Naruto hanya akan diam menunggu. Naruto merasa ia harus sedikit membantu, tidak perlu hingga berurusan terlalu dalam, namun cukup bagi Rias mengurus sisa nya.
Dalam sekejap saja, keberadaan kedua nya menghilang.
...
...
...
Rias mengerjapkan mata menyesuaikan kadar cahaya yang masuk. Begitu Rias sepenuhnya sadar, Rias menyadari ia terbangun di tempat sama sekali tidak familiar. Niatnya untuk segera bangun ia urungkan, tiba tiba ingatan mengenai masalah antara Rias dan keluarga timbul tanpa izin, hal itu membuat Rias kembali merasakan sakitnya.
Rias ingin kembali memejamkan mata, berharap jika kehidupan bawah mimpi jauh lebih baik, namun suara baru mengingatkan nya pada seseorang dan ingatan baru tentang apa yang terjadi sebelum ia kehilangan kesadaran memaksa Rias membuka mata selebar piring makan. Pria itu, satu satunya tempat sandaran Rias ketika ia terjatuh duduk di samping ranjang dengan senyum yang tiba tiba menghangatkan hatinya.
"Sudah baikan?"
"Naruto?" Bukan menjawab, Rias justru datang pada pertanyaan yang bersifat memastikan. Naruto tidak menurunkan sedikitpun senyumannya, "Ku rasa sudah. Dan tenang aku tidak melakukan hal tidak mengenakan apapun padamu, kau berada di Apartemen kerja ku saat ini." Itu hanya untuk memastikan jika andai saja Rias berpikir Naruto mengambil kesempatan dalam kesempitan. Namun hal itu tidak benar, karena senyum lega Rias membuktikan jika gagasannya salah.
"Aku lega jika itu adalah kau, Naruto." Dengan senyuman, laki laki manapun akan mengambil kesimpulan berbeda dari makna sesungguh nya, tetapi Naruto tetaplah Naruto. "Tidak apa apa, aku senang membantu." Bagi Rias, satu satunya hal paling menenangkan hatinya di tengah pelik masalahnya adalah senyum sejuk Naruto. Tidak pernah sedetikpun Rias berpikir ada senyum lebih indah dari itu.
Di saat Rias sangat putus asa terhadap masalahnya. Entah mengapa, ia berpikir hanya ada satu tempat di mana Rias bisa menumpahkan seluruh kesah nya, sosok telah ia kenal cukup lama, Rias tidak akan ragu kehadiran Naruto menjadi kakak kedua bagi Rias. Kehangatan Naruto selalu menenangkannya, hanya di dekat Naruto, Rias merasa menjadi gadis biasa, bukan pewaris dari keluarga Gremory yang sempurna.
Aneh, Rias hanya mengenal Naruto beberapa tahun, tetapi ia tidak menyangkal aura Naruto memberikan rasa perlindungan bagi siapapun termasuk Rias, yang notabene merupakan Iblis, yang sejatinya pengaruh buruk Manusia.
Senyum Rias berlahan luntur, wajahnya kini di liputi gelisah, tentu Naruto menyadari perubahan ekspresi itu. "Aku telah memasak beberapa sarapan. Ku rasa kau menghabiskan seluruh energi mu untuk menangis, ayo ikut aku." Indikasi Naruto jelas mencoba membujuk Rias, setidaknya satu suapan meski Naruto tahu dalam keadaan seperti ini, tidak mungkin ada selera untuk makan.
Rias memandang Naruto seolah olah pria itu melakukan tindakan tidak terduga. "Kau tidak ingin aku bercerita?" Kegelisahan Rias itu jelas. Ia gelisah untuk menceritakan masalah nya pada orang lain, termasuk Naruto. Umumnya, seseorang pasti akan mencoba menanyakan apa yang menyebabkan Rias seperti ini, namun Naruto tidak, itu terlihat seperti Naruto hanya tulus membantu Rias di saat gadis itu terluka secara fisik. Naruto tidak memaksakan kehendak apapun.
"Bercerita adalah hak mu, Rias. Aku tidak memiliki tempat untuk mendengarnya." Kata Naruto, "kecuali kau mempercayaiku."
Rias mengigit bibirnya, hatinya bimbang antara ingin bercerita atau tidak. Di satu sisi hatinya, Rias merasa ia perlu bercerita, berharap dengan begitu gelisah di hatinya sirna. Namun di satu sisi lain, Rias tidak ingin jika Naruto terlibat oleh masalahnya setelah ia bercerita. Rias hanya tahu Naruto baik, terlalu baik malah, tetapi seseorang seperti Naruto cenderung ingin terlihat dalam masalah orang lain meski tujuannya jelas membantu, Rias tidak ingin merepotkan Naruto lebih dari itu.
Namun jauh di dalam lubuk hatinya terdalam. Rias sangat mempercayai Naruto, maka ia pun bercerita.
Semua berawal dari masalah perjodohan sepihak. Segala hal telah Rias lakukan untuk terlepas dari perjodohan itu, namun semua berakhir tidak berguna. Perjodohan itu lebih rumit dari jenis perjodohan apapun, melibatkan dua keluarga besar yang terikat oleh tradisi kuno.
Puncak dari perjodohan itu adalah usaha terakhir Rias namun berakhir kegagalan. Rias sepenuhnya pasrah menerima pernikahan paling tidak ia inginkan itu dan pada hari pernikahan tiba, Rias bercerita jika satu temannya berusaha membebaskan Rias dari ikatan itu dalam duel satu lawan satu. Tentu saja Rias sangat terharu oleh kegigihan temannya.
Namun mimpi buruk tiba. Itu adalah puncaknya, alasan mengapa Rias memilih kabur, meninggalkan segalanya, keputusasaan terbesar yang ia alami semasa hidup nya. Teman Rias, terbaring sekarat dalam duel, Rias merasa itu adalah salahnya, andai sejak awal Rias menerima perjodohan itu dengan tangan terbuka, teman temannya tidak akan terluka.
Bahkan setelah cerita berakhir, Rias masih menyalahkan dirinya.
Naruto membiarkan Rias mengeluarkan bebannya tanpa satu kalipun menyela. Dan lihatlah kini gadis itu mulai tenang. Naruto berdiri, mengusap kepala merah gadis itu, menyalurkan lagi kehangatan yang menenangkan. Bohong Rias tidak menikmati perlakukan Naruto, Rias merasa sangat nyaman hingga rasanya tidak ingin berhenti.
"Sekarang, apa rencana mu?" Pertanyaan Naruto telak membuat Rias muram, "Aku— tidak yakin!"
"Rias, coba kau pikirkan segala hal berharga selain keluarga mu, apapun itu." Rias termenung. Terserah seberapa keras berusaha Rias berpikir, jawabannya kosong. "Kau tidak mengetahui jawabannya karena kau telah memiliki jawabanmu sendiri, bukan?" Rias menatap Naruto bingung, sejujurnya Rias berharap sebuah nasihat yang memaksa Rias untuk percaya pada keluarganya. Namun Naruto berbeda, pria itu justru memberikan kebebasan bagi Rias memilih.
"Seburuk apapun keluarga mu, mereka adalah tempat untuk mu pulang." Naruto tidak mengeluarkan nasehat lain, menurut Naruto, itu tidak berguna, Naruto yakin Rias pintar, gadis itu akan menyadari betapa penting keputusannya.
Naruto menyerahkan sebuah kunci, meski bingung Rias tetap menerima itu. Naruto tersenyum lebih hangat, "Tidurlah lagi, Rias. Setelah kau bangun, cobalah berpikir lebih jernih, keputusanmu adalah hak mu, aku tidak akan melarang apapun keingianmu. Aku janji, kau tidak akan menyesal mengikuti kata hati mu." Dengan Naruto meletakan dua jarinya pada dahi Rias. Kesadaran gadis itu memudar, tidak ada kesempatan bagi Rias untuk melawan karena detik berikutnya, ia terjatuh, menyerah pada kantuk nya.
Setelah membaringkan Rias. Naruto melambaikan tangannya dan sebuah selubung tipis membungkus seluruh bagian Apartemen. Lambaian tangan berikutnya, pakaian Rias berubah, sebuah gaun terusan berenda mewah menggantikan dress one piece berbahan tipis, dan lambaian tangan terakhir memperbaiki ekspresi gelisah gadis Gremory. Rias tertidur damai seperti tidak pernah terjadi apapun sebelumnya.
Naruto tersenyum lagi dan menghilang. Bantuannya untuk Rias selesai, itu akan sangat berguna dan tinggal bagaimana Rias menyelesaikan masalah nya sendiri.
"Selamat menikmati waktu tidur mu, Putri tidur."
...
...
...
"Aku pulang!" Senyum Naruto berlahan luntur, ia mengerutkan alisnya heran tidak mendengar sambutan apapun. Ketika pintu telah ia buka, Naruto hanya menemukan istrinya duduk di ruang tamu, beberapa majalah tergeletak berantakan dan matanya terlalu fokus pada majalah di tangannya.
Tidak butuh waktu lama bagi Naruto menangkap judul semua majalah itu. Semua berbeda sampul namun memiliki satu judul kurang lebih sama, bertambahlah keheranan Naruto. Istrinya sangat fokus hingga dititik melupakan segala hal, wajah serius nya pada jejeran tulisan tulisan menambah poin kecantikan baru, sesekali wanita yang telah ia nikahi beberapa tahun itu menyelipkan rambut ke belakang telinga.
Istrinya adalah seorang wanita 25 tahunan, memiliki fitur wajah wanita Eropa yang Naruto akui sebagai wanita tercantik di dunia setelah ibunya. Rambut panjang bergelombang sepunggung berwarna kuning pucat yang akrab di kenal sebagai warna gading, matanya yang berwarna emas berkilau setiap kali menemukan hal menarik.
Menggunakan pakaian rumahan berupa dress tidur selutut berwarna hitam berenda pada bagian ujung dress, itu memberitahu kan semua orang bahwa Istrinya bukan seorang wanita karier. Wanita itu hanya bekerja mengurus rumah, mengindikasikan sebagai seorang istri muda biasa.
Naruto hanya terkekeh lucu melihat setiap kali perubahan ekspresi istrinya. Berkerut ketika tidak memahami sesuatu dari isi majalah, berbinar senang menemukan apa yang ia cari dari membaca majalah, bahkan kini rona merah samar membuat Naruto spontan tercengang, demi janggut marlin, Istri nya sama sekali tidak pernah menunjukan ekspresi itu padanya.
Program kehamilan.
Dua kata menggunakan huruf kapital yang tertera di bagian atas sampul. Itu jelas menegaskan apa yang saat ini Istrinya pelajari. Fakta itu saja membuat Naruto gelagapan. Jadi demi meluruskan pikirannya, ia memutuskan mendekat, bahkan setelah ia berdiri di samping wanita itu, Istrinya belum menunjukan indikasi apapun, jelas belum menyadari kehadirannya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Ahhhh—" Itu reflek terkejut istrinya. Naruto bisa melihat berapa terkejutnya wanita itu, mata emas bersinar melototinya sembari berusaha menyembunyikan semua yang ia baca di balik punggung. Wanita itu berdiri, "A-A-Apa yang kamu lihat?" Itu saja cukup memberitahukan Naruto jika Istrinya tidak ingin dia tahu, maka pilihan Naruto adalah pura pura tidak tahu.
"Apa dengan aku mengatakan tidak lihat kamu akan percaya." Setiap kata katanya keluar hati hati, namun itu justru membuat Istrinya menatap horor, tidak lupa rona merah di pipi hingga ke telinga. "Artinya kamu lihat!" Naruto mendadak menjadi gugup oleh tatapan dan tuduhan istrinya, tetapi memang sedari dulu meski ia berusaha berbohong, kata katanya cukup terus terang.
Lagipula itu tidak sepenuhnya salah Naruto. Ia begitu tercengang Istrinya berbeda dari biasanya. Naruto bahkan hampir tidak bisa melihat sisi tenang wanita itu. Bertahun tahun Naruto mengenal istrinya, hanya hari ini ia melihat sisi lain wanita itu, tidak ada wajah tenang, justru sekarang terlihat seperti seorang wanita normal pada umum nya.
Berharap ia mendapatkan sebuah omelan atau minimal ia harus tidur di sofa, itu tidak pernah terjadi karena wajah Istrinya jelas memiliki suatu keinginan darinya. Naruto berkata dengan lembut, "Sayang, katakan apapun, selama itu masih di dalam kemampuan ku." Tangannya mengusap lembut rambut halus Istrinya.
Antara rasa malu dan gelisah langsung menghilang mendengar ucapan Naruto yang terdengar seperti sebuah janji. Pertama, wanita itu bangkit, menatap mata Naruto penuh harap. Tinggi mereka terpaut cukup jauh, tinggi Istrinya hanya setinggi leher Naruto namun mudah saja bagi Naruto mencoba menerawang mata indah Istrinya.
"Sayang kita telah menikah cukup lama, bukan?" Wanita itu berkata pelan pelan, Naruto mengangguk mencoba tersenyum, "biar ku ingat, itu sudah sangat lama, dan pernah kah aku bilang cinta ku padamu tidak berkurang oleh waktu? Justru semakin bertambah setiap harinya."
Senyum Istrinya merekah, kini ia semakin yakin untuk mengatakannya. "Tidak sedetikpun aku meragukan perasaan mu, sayang." Kemudian senyum itu berlalih menjadi senyum sendu, "tetapi tidakah menurutmu kau merasa kurang oleh segala hal yang ku berikan?"
"Mengapa kamu merasa aku akan meminta lebih banyak hal darimu? Aku cukup puas oleh keadaan kita saat ini, ada dirimu di sisi ku, ini adalah hal paling sempurna dalam kehidupanku." Naruto berusaha meyakinkan Istrinya jika prasangka buruk itu tidak benar, namun meski Naruto berkata penuh keyakinan, wajah Istrinya tidak berubah. "Tetapi aku tidak merasa seperti itu! Aku hanya ingin memberikan mu lebih sebagai balasan betapa aku sangat di cintai oleh mu."
"Sayang, tolong jangan jadikan itu sebagai beban pikiranmu. Jika ada hal lebih yang aku ingin dari dirimu, itu hanya karena kamu harus berada di sisi ku. Sekarang mengerti? Jadi ku mohon hilangkan pikiran bahwa keberadaan mu tidak cukup bagi ku." Itu bahkan masih kurang, entah mengapa Naruto jadi khawatir melihat istrinya mengigit bibir seolah olah menahan sesuatu, tetapi itu tidak berlangsung lama karena wajah tegas Istrinya menegaskan hal lain. "Itu tidak cukup!"
"Baiklah, jika kamu berpendapat begitu, apa yang sekarang ingin kamu lakukan?" Wanita itu mengalihkan pandangan sesaat seperti mengumpulkan keberanian. Di pandanglah wajah Naruto, matanya berkobar oleh keinginan kuat, "Naruto aku ingin memiliki anak denganmu!"
Naruto terbelalak penuh rasa terkejut. Permintaan itu menjawab mengapa majalah majalah itu ada, namun Naruto sama sekali tidak menduga kata kata itu terucap penuh tekad dari mulut Istrinya. Selama ini, Naruto tidak pernah memaksa atau sedikitnya membicarakan masalah anak sejak awal, ia bersabar hanya karena ia ingin wanita paling ia cinta itu memiliki keinginan sendiri.
Bertahun tahun bersama, tidak sedikitpun Naruto berharap Istrinya mengatakan keinginannya sendiri. Naruto sudah cukup puas dengan keadaan mereka, namun keberadaan seorang anak tentu saja akan melengkapi tempat kosong keluarga ini, Namun ada hal lain mengapa Naruto tidak berharap banyak memiliki seorang anak.
"Sayang, kita tahu kemungkinannya, bukan?"
"Aku tidak peduli." Melihat Istrinya tidak nyaman dengan topik lain, Naruto memilih bungkam. "Aku yakin keberadaan kita cukup untuk menjaga anak anak kita. Kita cukup percaya bahwa putra putri kita tidak akan pernah menjadi bencana."
"Tolong, selama ini aku tidak pernah meminta apapun darimu, ini adalah permintaan ku sekali seumur hidup." Seketika Naruto tertegun, Istrinya tidak pernah memohon sangat seperti ini, itu adalah pertama kali dan membawa desiran aneh di hatinya, Naruto sama bukan orang yang memahami seni mengatakan 'tidak' untuk orang orang ia sayangi sejak dulu.
Dengan begitu, Naruto tersenyum. Kecupan pelan di dahi Istrinya membawa keyakinan baru untuk Naruto. "Maka penyesalan tidak akan berguna setelah ini. Mari kita hadapi kemungkinan itu bersama." Dan ledakan kebahagiaan. Naruto menerima pelukan istrinya dengan senang hati, ia tidak bisa memperkirakan sebesar apa itu, namun Naruto yakin kebahagiaan Istrinya tidak terhingga oleh apapun. Naruto turut ikut merasa senang.
"Hihi~ sayang, haruskah aku mengatakan kamu adalah suami terbaik di dunia?" Wanita itu tidak melepaskan pelukannya, tetapi ia masih bisa mendongkak, menatap wajah penuh cinta suaminya. Naruto tertawa, memamerkan gigi gigi putih nya, "Itu adalah pernyataan yang meremehkan, sayang. Aku adalah suami terbaik di alam semesta."
"Cukup adil." Mengangguk setuju, Naruto menerima pelukan Istrinya lebih lama. Ia menunggu Istrinya melepaskan pelukan itu kemudian membahas apa yang harus mereka lakukan selanjutnya, cukup lama, namun sesi pelukan berakhir. Mereka beradu pandang sesaat, wanita itu mengetahui jika Naruto juga ingin mengatakan sesuatu.
"Nah karena kamu sudah tenang. Mari berbicara." Naruto menggiring istrinya untuk duduk sofa, kedua berhadapan, wanita itu sangat sabar menunggu Naruto berbicara. "Kamu adalah Dewi para Naga, energi mu adalah yang terbesar dari semua energi ilahi yang ada dan aku, yeah kamu tahu banyak tentang ku bukan? Jadi—" Naruto tidak melanjutkan, bibirnya di bungkam oleh telunjuk istrinya. Wanita itu tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, ia jelas tahu arah pembicaraan itu dan dia tidak suka.
"Naruto, aku tidak mau." Naruto terdiam, dan wanita itu masih menunjukan senyumnya, "Aku ingin memiliki anak dengan cara tradisional." Itu lebih mengejutkan lagi.
"Maaf?"
"Aku tahu proses pencampuran dua energi eksistensi adalah proses tercepat untuk memiliki anak, namun aku tidak mau. Aku ingin menikmati banyak waktu berharga dalam prosesnya, 9 bulan itu waktu relatif lama untuk membangun cinta dan kasih sayang pada anak kita, aku hanya ingin memberikan cinta ku pada-nya sebagai seorang ibu, bukan sebagai Dewi Naga." Mau tidak mau, Naruto tersenyum bangga melihat tekad istrinya. Itu tidak pernah terjadi, pencampuran dua energi eksistensi biasa terjadi didalam proses pembuatan anak para Dewa Dewi, bahkan cara tradisional para Dewa untuk memiliki anak sangat singkat. Jarang Dewi memiliki keinginan mengandung anak selayaknya Manusia.
Itu saja sudah membuktikan betapa seriusnya keinginan Istrinya.
Wanita itu memekik tertahan, tangannya mencengkram punggung Naruto sementara satu tangan lain ia kalungkan pada leher suaminya. Tiba tiba, ia merasa seluruh darah mengalir naik ke wajah, parah cantik wanita itu memerah, matanya memelototi wajah Naruto. Seringai usil Naruto jelas sesuatu dan itu tidak baik, wanita itu menjadi panik ketika ia menyadari kemana Naruto membawanya.
"N-Naruto tunggu tunggu, aku mengatakan ingin tapi bukan berarti sekarang!" Sementara tubuh nya meronta ronta, usaha itu tidak membuahkan hasil apapun karena kuatnya otot otot pria itu. "Aku tidak mendengarmu, sayang~"
"T-Tunggu, jangan bagian itu— Naruto! Kamu mesum!— Tidak, jangan juga yang itu— Kyaaaaaaa!"
Satu lambaian tangan Naruto, menutup seluruh pintu rumah nya, mengusir semua gangguan yang masuk, bahkan membuat mereka, 'polos'.
TBC...
Thehehe~
