"Ayah aku mohon, ampuni Lucifer!" Dengan linangan air mata, karya terindah surga berlutut, meremas pelan tangan ayah nya berharap jika usaha sederhana itu merubah keputusan ayah mereka mengenai kesalahan kakak nya. Dari banyak Malaikat, hanya dia satu satunya memiliki keberanian membuka mulut, memohon untuk ampunan atas kesalahan yang tidak pernah ia perbuat.

Sebagai ayah dari para Malaikat, dia memiliki aura yang menenangkan. Namun, kilatan marah di mata biru ayah nya membuat Gabriel ketakutan. Gadis itu menikmati belaian lembut pada rambut pirang emas nya, senyum sang ayah tidak membuat keadaan lebih baik. Selama hidupnya, Gabriel tidak pernah mengerti betapa menyeramkan kilatan itu, cukup membuat siapapun meringkuk dalam ketakutan.

Meski begitu, senyuman nya menjadi garis lurus ketika pandangannya jatuh pada seorang pria, dia adalah sumber dari kemarahannya. Di saat semua Malaikat berlutut, Malaikat satu ini justru memberikan sebuah tatapan yang menyuarakan sebagai tantangan.

Enam pasang sayap merpati di punggung berkedip, Lucifer sepenuhnya paham ia tidak akan lagi sama setelah menentang keyakinan Ayah nya. Namun dia memiliki keyakinan untuk dirinya sendiri, meski ia sadar jika keyakinan itu membuat Ayah nya tidak senang.

"Ayah ketahuilah meskipun aku menentang keputusan mu, aku hanya diam. Tetapi membuat pandangan ku berbeda karena hal rendah, itu hal lain." Saudara sudara nya menatap Lucifer tidak percaya, mereka hanya tahu Lucifer memiliki harga diri untuk kebanggaan nya, namun menentang Ayah mereka tidak pernah ada di dalam benak setiap Malaikat.

"Aku menciptakan anak anak ku dalam bentuk sebaik baiknya. Aku tidak pernah memperlakukan kalian berbeda karena bagiku kalian sama." Dewa dari kitab Bible menatap Lucifer, masih dengan pandangan sama, "Aku memberikan anak anak ku kebebasan menentukan jalan mereka, aku mengajarkan kalian segala bentuk kebajikan, bahkan aku memberikan hak bagi kalian menjadi apapun."

Tidak ada suara balasan, bahkan dari Lucifer sekalipun. Mereka tidak akan pernah menyangkal fakta itu. Sejak awal penciptaan, mereka belajar tentang moral, menyayangi antar keluarga, membuat aturan bagi siapapun tanpa terkecuali melewati garis. Hingga bermilenium tahun, Surga menjadi rumah bagi mereka, di sini segala bentuk pengajaran berguna, mereka hidup dalam bentuk keluarga besar.

"Tetapi bersujud kepada Manusia itu tidak masuk akal, Ayah. Malaikat memiliki alasan bagus untuk menolak itu, kita memiliki kebanggaan! Manusia hanya mampu merusak alam, gagasan bahwa Ayah menciptakan Manusia sama sekali tidak ku mengerti." Butuh keberanian lebih bagi Lucifer menatap langsung Ayah nya. Selama ini, mereka hidup dalam kebahagiaan tidak terkira, tidak ada kejahatan, itu benar benar memberikan gambaran sebagai definisi perdamaian abadi hingga kemudian Dewa kitab Bible datang dengan gagasan lain mengenai penciptaan Manusia.

Banyak dari para Malaikat merenungkan itu. Namun, Dewa pencipta segala kehidupan awal memiliki pendapat lain, "Itu karena kau tidak berusaha mengerti, Lucifer anak ku. Hanya karena kau adalah anak pertama ku, bukan berarti kau berbeda. Kita sudah berbicara tentang kesetaraan, bukan?" Suaranya mungkin tenang, namun lebih dalam ditemukan kekecewaan dan lebih jauh ada rasa marah. Kemudian, Dewa dari Kitab Bible mendesah pelan, mata birunya lebih dingin dari musim dingin manapun membekukan semua Malaikat dalam keheningan, Gabriel yang pertama kali menyadari berusaha menahan nafas.

Marah dan Kekecewaan menumpuk menjadi energi negatif, itu berputar putar pada pria yang di ketahui bernama Lucifer, mengangkat nya setinggi beberapa kaki dan merubah penampilannya dalam beberapa detik. "Aku kecewa, tapi itu adalah keyakinan mu. Teruslah hidup pada kepercayaan mu, Lucifer. Aku menutup segala pintu masuk untuk mu, Surga selamanya menolak keberadaan mu." Itu adalah puncaknya. Kesombongan Lucifer berasal dari keyakinan, itu telah menumpuk bermelinia tahun dan kesombongan itu seperti menyamai Iblis. Tidak ada kesempatan kali ini.

"T-T-Tunggu Ayah! Kau tidak bisa melakukan ini." Panik adalah yang paling mungkin. Kekuatan suci selama ini ia banggakan sepenuhnya lenyap, tidak ada lagi 6 pasang sayap Malaikat, hanya ada 6 pasang sayap kelelawar dan semua Malaikat tahu itu adalah identitas iblis. Energi suci Surga yang meluap luap biasa memancarkan kehangatan, kini menjadi mimpi buruk Lucifer.

"Kehendakku adalah mutlak." Dalam jentikan jari, Lucifer berteriak, tidak ada satupun Malaikat memiliki keberanian menolong, mereka terpaku di tempat, menatap perubahan mengerikan pria yang dulunya adalah Malaikat tertinggi. "Kau adalah anak ku, selamanya akan terus begitu meski tidak lagi sama. Teruslah hidup sebagai bintang fajar, Satan Lucifer."

"TIDAAAKK!" Untuk terakhir kalinya, Lucifer memelototi Ayah nya penuh kebencian. Lalu hilang, tidak perlu di katakan lagi, secara resmi dia adalah pemimpin Iblis saat ini.

Beberapa detik, amarah nya menghilang. Dia tersenyum pada Gabriel, wanita tercantik Surga itu masih berlutut di samping tahtanya, memberikan kenyamanan pada belaian di rambutnya. Secepat kilat, ia memotong keinginan Gabriel untuk berbicara, "Tidak Gabriel sayang, aturan ada karena suatu alasan. Aturan tetap aturan, tidak peduli siapapun mereka, ada batas penting mengapa batas itu tidak untuk dilewati." Tangannya telaten menghapus jejak air mata Gabriel, dia paham perasaan Malaikat itu, rasa cinta pada keluarga nya merupakan satu satunya alasan mengapa gadis itu bersikap tidak rasional.

Gabriel menatap mata biru yang mirip seperti miliknya dari sang Ayah, dia lembut, dan Gabriel menurut, ia memejamkan matanya, menikmati belaian di mahkota emas nya, kemudian tertidur dipangkuan Dewa pencipta awal kehidupan. Dewa berambut emas itu tersenyum, membiarkan anak nya bersikap manja, dia paham Gabriel butuh itu untuk memenangkan hatinya.

Kini ia beralih pada sisa Malaikat tertinggi, "Michael, Uriel, Raphael, Azazel, Kokabiel, Belial." Setiap nama disebut memandang Ayah mereka, jelas jejak keterkejutan masih membengkak, "Aku mempercayakan tugas menjaga surga pada kalian, Anak anak ku." Sekilas itu hanya perintah normal, mereka dengan senang hati menyanggupi itu. Namun hal tidak pernah mereka ketahui adalah, Ayah dari para Malaikat itu memegang suatu julukan sebagai makhluk paling tidak terduga di dunia.

Ketika ruang tahta telah kosong dari sebagian besar individu. Dewa itu menghela nafas panjang, tatapan lembut nya sesekali teralihkan oleh Gabriel, beberapa kali menggeliat menyamankan kepala di paha Ayahnya, hal itu cukup membuatnya tertawa geli, ia tahu jika belaian pada mahkota pirang putrinya berhenti, Gabriel mampu terjaga kapan saja.

Melihat betapa damai wajah putrinya, jauh di dalam hati, ia merasa tidak yakin jika andai suatu hari ia menghilang. Namun dia sepenuhnya paham, jika semua akan berjalan baik baik saja tanpa dirinya. Maka sistempun diperbarui, sistem di mana Manusia dan Surga terhubung, itu memberikan keuntungan untuk kedua pihak tanpa membutuhkan poros tetap dalam sistem nya, dengan begitu ia akan tenang setelah tujuannya tercapai.

Dan setelah ribuan tahun sistem diperbarui. Malaikat dan Manusia saling terhubung, sisi negatif nya terasa setelah satu demi satu anak anak nya jatuh. Meski ia telah menduga jika hawa nafsu Manusia mempengaruhi Malaikat, ia tetap membiarkan semua berjalan sesuai alur yang ia ciptakan. Maka, setelah ribuan tahun berikut nya, Ras baru berdiri, mengambil bagian dalam keseimbangan dunia, dan sekejap saja, Kerajaan yang ia ciptakan terbagi dalam tiga Fraksi.

Dalam satu Kerajaan, hanya butuh satu pemimpin, satu Raja, dan satu dominasi. Ketidakpuasan oleh rasa ketidakadilan dari pihak yang rugi membawa mereka ke dalam keyakinan baru. Itu bukan hanya tentang mereka yang mendominasi wilayah, tetapi juga kebencian dari masa lalu. Perasaan yang menumpuk dalam beberapa ribu tahun tidak mungkin lagi mampu terbendung, semua pihak ada di jalan kebenaran menurut ideologi mereka, dan seperti layaknya air dalam bendungan, ketika yang menahan itu hancur, bencana adalah kemungkinan terdekat.

Ia hanya menonton dari balik tahta emas nya, kehancuran dari perbuatan mereka yang tak puas, tanpa berpikir untuk menjadi penengah, namun bukan dalam arti ia akan seterusnya diam, maka kehendak baru diumumkan. Untuk menyelamatkan 1000 nyawa, membunuh 100 nyawa adalah hal murah, banyak pihak di rugikan karena konflik berkepanjangan dan untuk pertama kalinya, Malaikat dalam jumlah tidak terhitung turun bukan sebagai penengah, tapi algojo lembut demi menyelamatkan jutaan nyawa lain korban konflik.

Kemudian, Great War pun pecah.

...

...

...

Disclaimer : Masashi Kishimoto & Ichie Ishibumi

...

...

...

Ketika Rias membuka mata, lingkungan asing adalah hal pertama ia dapati. Begitu Rias menyadari perubahan pada dirinya, paras cantiknya memerah. Ingatan terakhir adalah Naruto, pria itu menolongnya, membawa ketempat dia bisa beristirahat, dan kini suasana hatinya jauh lebih baik, ia melupakan insiden Riser, keluarga nya, bahkan dengan berani menganggap Naruto lebih penting dari semua itu.

Rias tahu Naruto adalah sosok kakak idaman, pria itu mendengarkan seluruh permasalahan Rias tanpa menyela, itu berbeda dari ketika dia mencoba mencurahkan hatinya kepada para sahabatnya. Banyak dari mereka berusaha meluruskan pikiran Rias meski dengan cara lebih keras, terkadang bahkan mencoba membuat Rias menyadari jika saran saran itu adalah yang terbaik tanpa memikirkan perasaannya.

Tetapi Naruto tidak demikian, Naruto memberikan jalan, kemudian membiarkannya menentukan jalan itu sendiri.

Rias termenung di tempat tidur nya. Rias, coba kau pikirkan segala hal berharga selain keluarga apapun itu. Rias secara naluriah menciptakan suara khayalan di kepalanya, sebuah suara maskulin selama ini selalu saja menenangkan hatinya. Tanpa ia sadari, senyum mengembang di wajahnya. Ia mampu berpikir lebih rasional, tidak peduli bagaimana Rias berpikir, mencari tahu hal lebih berharga dari keluarga? Otaknya berjalan seperti autopilot dan tanpa ragu mengatakan TIDAK ADA!.

Selama ini Rias tidak menyadari seberapa penting keluarga nya, Rias hanya berpikir hidup mandiri, jauh dari keluarga membuatnya merasa itu adalah pilihan terbaik. Tentu, menjadi pewaris pillar Gremory memaksa Rias menjaga sikap nya, terlebih dengan Rias jauh dari lingkungan keluarga, itu memberikan banyak waktu untuk belajar, seolah olah Rias tidak perlu keberadaan keluarga nya.

Dan tanpa Rias sadari, ketergantungan nya pada keluarga jauh lebih mengikat dari ketika Rias berada dalam lingkungan Gremory. Naruto benar, dia telah mengetahui jawaban dari pertanyaan itu namun ia memiliki alasan tidak bagus untuk mengakuinya. Itu karena sejak awal, Rias menyalahkan keluarganya sejak melemparkan Rias dalam urusan politik. Kemudian ia sadar, itu dilakukan demi masa depannya.

Rias menunduk lebih dalam, seburuk apapun perlakuan keluarga nya, mereka adalah tempat Rias untuk pulang. Menjadi seorang pewaris sebuah keluarga besar, Rias memahami kehidupannya tidak akan sama jika ia memikirkan hidup normal seperti hal nya para gadis, sejak awal hidupnya telah terencana, Rias tidak memiliki hak untuk mengubah nya setelah ia tahu jika rencana itu adalah masa depan keluarga dan sejenisnya menjadi lebih baik.

Itu masa depan Iblis bukan dirinya. Rias tidak memiliki hak untuk menolak, ia hanya memiliki pilihan terima atau membuatnya jika Rias memiliki sesuatu lebih menjanjikan dari rencana keluarganya. Rias bukan Sona, ia tidak jenius, ia masih hijau, sulit untuk menentukan jalannya sendiri dan Rias bangun dari hidup penuh delusi. Rias bukan apa apa tanpa keluarga di belakang nya.

Andai saja baik Rias ataupun keluarganya bisa saling memahami. Hal yang membuat Rias jatuh seperti sekarang tidak akan pernah ada, keduanya berusaha menyelesaikan permasalahan dengan dua jalan berbeda, berbentrokan, dan jelas hasilpun berbeda. Itu adalah kesalahan yang baru saja Rias sadari.

Rias ingin memperbaiki itu, maka ia pun bangkit. Tidak ada omong kosong tentang keputusasaan, hanya ada kilatan penuh tekad untuk memperbaiki masalahnya. Ia perlu berdiskusi bersama eluarga Gremory, dengan keyakinan bahwa kali ini ia tidak akan gagal.

Rias pun menghilang, senyumannya adalah bentuk optimisme tanpa celah.

...

...

...

Hanya beberapa detik Rias menampakan dirinya, Rias mendapati dirinya terbungkus lembut oleh lengan sangat ia kenali. Tanpa memberikan waktu untuknya terkejut, ia menikmati usapan halus Ibunya, membenamkan kepala pada belahan leher wanita Gremory lebih tua, Rias hanya mendapati sang Ibu menangis sesegukan tanpa Rias mengerti mengapa itu terjadi.

"O-Okaa-sama?" Kata katanya penuh keraguan, ia merasa jika perlakukan Ibunya sangat asing. Seperti Rias telah menghilang berpuluh puluh tahun, ia merasakan pelukan penuh kerinduan sang Ibu, Venelana Gremory hanya telus memeluk, menyebut nama nya di sela tangis yang mengiris hati seperti jika ia melepas pelukan itu, Rias bisa menghilang kapanpun.

Ketika Rias menjatuhkan pandangannya pada sisa keluarga Gremory. Ia hanya menemukan pandangan penuh kejutan dari mereka, seluruh bidaknya bahkan terlihat lebih suram, ia bahkan melihat Akeno nampak berbeda, tidak ada wajah menggoda, hanya ada banyak jejak air mata, itu adalah kondisi yang sama ketika Rias menemukan Akeno sesaat ibunya meninggal.

Kemudian matanya bergulir sedikit dan menemukan jantung nya berdetak 100 mil perjam, matanya melebar penuh rasa tidak percaya. Hyodou Issei, Pion nya yang hari kemarin sekarat, sekarang tampak sangat sehat seperti tidak pernah terjadi apapun. "I-Issei?" Hatinya semakin tidak menentu, ia merasa keanehan yang tidak wajar pada kondisi yang asing baginya. Perlakuan keluarga berbeda, itu terlihat seperti Rias berada di dalam garis waktu berbeda, di mana sebuah teori yang hanya Rias pahami sebagai Pararel Universe.

Setelah ia terbebas dari pelukan yang enggan dilepaskan, suara lain datang, itu dari Zeoticus Gremory, Pria itu memeluk anak nya sejenak, memberikan tatapan sedih yang tidak Rias mengerti. "Segalanya mulai saat ini tidak penting karena kau baik baik saja Rias. Aku senang." Pria itu tersenyum hangat, bertambahlah keterkejutan Rias, Ayah nya tampak berbeda.

"Ibu tidak menyangka jika perjodohan itu adalah hal terakhir dari keinginanmu, sayang. Ibu minta maaf tidak mendukung ketika kamu berada di titik terendah mu." Venelana tersenyum lebih sendu, ia mengalungkan tangan pada pundak gadis itu, memberikan Rias lebih banyak kehangatan baru. "Ibu hanya ingin Rias bahagia dengan masa depan pasti, namun Ibu menyadari jika bukan masa depan itu membuat mu bahagia, sayang. Kini kamu bebas menentukan masa depan mu sendiri." Jika dalam situasi lebih normal, Rias tidak akan ragu akan memekik senang karena itu adalah impiannya.

"Otou-sama?" Zeoticus mengangguk penuh keyakinan, "Tidak apa apa, Rias. Properti mudah di cari, namun kebahagiaan mu adalah hal lain. Kami sepakat bahwa segala keputusan mu adalah hak paten, kerugian kita tidak sebanding dengan keberadaan mu." Itu lebih mengejutkan, ketika kata kata itu datang dari seorang kepala Pillar yang identik pada kegilaan properti.

"Tolong jelaskan apa yang terjadi? Mengapa semua berubah? Aku kembali karena aku ingin berdiskusi mengenai perjodohan ini." Ruangan jatuh pada keheningan, kebingungan Rias naik dua kali lipat saat matanya bertemu pada tatapan heran Ayah nya. Sang ibu bahkan menatapnya antara terkejut dan tidak paham untuk apa Rias mengatakan itu. "Otou-sama, Okaa-sama, semuanya?" Tuntutan itu ada untuk semua individu di ruangan ini. Para bidaknya tidak membuka suara, merasa jika mereka tidak memiliki hak untuk itu.

Maka Zeoticus pun maju. Mengenggam pundak kiri putrinya penuh kelembutan, sementara Istrinya berusaha memberikan kehangatan lebih. "Selama dua minggu, kita benar benar tidak bisa menemukan keberadaan mu di seluruh belahan dunia manapun, Rias. Itu terjadi seperti—" Pria itu tidak langsung memberikan semua jawabannya, terasa kata kata lanjutan sangat pahit di ujung lidahnya. "—Kau terbunuh." Rias tercekat, menelan ludah nya, itu menjelaskan setiap ekspresi dari keluarga nya, seperti melihat seorang baru saja bangkit dari kubur.

Tapi, Tunggu— 2 minggu? Itu terasa seperti sehari baginya. Bagi Rias, ia hanya menunggu Naruto, beberapa jam kemudian terbangun dalam hangat dan kenyamanan perlakuan Naruto, pelukan pria itu masih membekas dari dalam dirinya yang aneh, sangat memikat lalu kembali menyerah oleh domain dewa manapun yang bertanggung jawab oleh dunia mimpi.

"Tetapi itu tidak lagi penting—" Gelombang kehangatan menghantam tubuh nya. Tidak ada Ayah yang serius, bahkan pelukan sang Ibu jarang ia dapati setelah beranjak dewasa. Rias melupakan semua kemungkinan dari benak nya, Ayah benar, itu tidak lagi penting. "—Aku tidak peduli apa yang tengah terjadi. Fakta bahwa kau hidup jauh lebih penting dari apapun." Gadis Gremory lebih muda tersenyum lembut, ia tidak lagi memikirkan fenomena aneh pada dirinya, Rias hanya tahu, jika semua telah baik baik.

Venelana menyumbangkan senyum nya, membawa suasana baru di dalam keheningan itu. Mulai saat ini, dan selamanya, ia tidak akan pernah mengabaikan keinginan putri nya lagi, berusaha menjadi seorang Ibu, bukan istri Kepala Pillar, sepenuhnya seorang ibu yang peduli pada anak anaknya dengan melupakan semua gelar yang ada. "Selamat datang kembali, Rias."

Tidak ada suara untuk balasan, Rias terlalu terpaku dalam suasana yang tiba tiba. Ia melangkah, terbebas dalam pelukan dua sisi dan berdiri berhadapan dengan seluruh anggota keluarga kebangsawanannya, gadis itu merentangkan tangan, sebuah senyum lebar menyadarkan teman temannya, "Aku pulang."

"BUCHOU!" Hanya pelukan yang saat ini bisa meruntuhkan keheningan. Mereka menumpuk dalam satu lingkaran kecil, sebuah pelukan keluarga menyebarkan banyak kehangatan baru jauh di dalam hatinya. "Aku berjanji tidak akan pernah melupakan budak budak manis ku lagi, aku menyayangi kalian."

"Kami lebih dari menyayangi mu, Buchou!" Itu meledak dalam suka cita. Rias menikmati semua cerita singkat mengenai apa yang terjadi ketika dia menghilang. Ada banyak hal, namun yang pasti itu adalah cerita menggembirakan. Semua jatuh pada senyuman, sekarang atau ia harap selamanya, tidak ada satupun dari mereka menghilang, Rias meyakinkan dirinya sendiri.

Aku janji, kau tidak akan menyesal mengikuti kata hatimu, Rias.

Sebuah senyum lebih tulus melintasi garis bibirnya, "Naruto, terima kasih." Dengan merasakan kehilangan, seseorang akan menyadari betapa keluarga lebih berarti dari apapun.

...

...

...

Gabriel menatap lurus pintu berlapis emas, matanya lembab, jejak air mata membuatnya tampak tidak baik. Kesedihan itu telah membuatnya menderita dalam ribuan tahun, rasanya menyesakan. Gabriel selalu menjadi panutan sempurna bagi semua anak buah nya, Malaikat itu diyakini sebagai karya Tuhan terindah namun apa penting nya itu? Di saat saat menyesakan dada, Gabriel berlutut, tangisan memilukan pecah, membuat Surga tingkat ke tujuh tidak lagi hening. Itu bukan pertama kali namun tidak seorang pun menjatuhkan kepedulian mereka.

Gabriel hanya terisak, air mata membasahi dress tempurnya, rambut pirang keemasan menjuntai lantai dengan indahnya, ia tidak peduli tentang menjaga sikap, hanya saat saat seperti ini, Gabriel bisa melupakan kesedihannya, menangis, dan berteriak meratapi ketidakadilan dunia pada nya.

Mengapa?

Mengapa dari sekian banyak kemungkinan tidak terbatas Gabriel harus menorehkan luka pada hatinya sendiri, luka tidak pernah sembuh oleh ramuan manapun.

Mengingat banyak hal, Gabriel meremas dadanya lebih kuat, rasanya sangat sakit, hingga mata biasanya penuh kelembutan menjadi kabur, itu bukan karena air mata, namun sakit di hati mempengaruhi fisiknya. Gadis itu hanya merasa tidak memiliki energi tersisa di dalam setiap inci sendinya, namun ia tetap memaksakan diri berjalan pelan, membuka pintu dan aroma sangat ia rindukan memeluknya dalam imajinasi lebih nyata.

Kemudian, Gabriel memaksakan senyumannya. "Aku datang lagi, Ayah."

Gabriel tertawa gembira, berlari penuh semangat, lalu mendapati dirinya tenggelam dalam pelukan penuh kasih sayang, ia duduk di lengan Ayahnya tanpa peduli perbedaan tinggi badan mereka yang sama. Ia bercerita tentang segala hal menyenangkan, sesekali cemberut ketika sang Ayah mengatakan betapa kekanak kanakan nya Gabriel sebagai salah satu Malaikat tertinggi. Sebelum Gabriel menarik diri, kecupan di pipi dan pelukan di leher mengakhiri sesi bermain tak gendong Ayah dan Anak itu.

"Ayah tahukah kamu... *hiks aku sangat merindukanmu." Itu adalah pernyatan sepenuh hati. Gabriel menarik dirinya dari khayalan yang sepenuhnya adalah ingatan masa lalu, ketika setiap harinya ia hidup dalam segala kehangatan sang Ayah.

Tidak peduli seberapa banyak Gabriel membuang air matanya, Ayah tidak akan kembali, itu adanya tindakan yang sepenuhnya sia sia, Namun Gabriel tahu. Hanya dengan menangis, Gabriel bisa menumpahkan seluruh rasa rindunya, terus berlalu hingga ribuan tahun lamanya. Fakta bahwa sang Ayah telah tiada, menurunkan iman nya lebih rendah.

Berlahan, Gabriel menurunkan tubuh nya dengan lembut, duduk di bagian sisi ranjang megah Ayah nya. Satu ingatan manis menerobos masuk tanpa bisa di cegah. Ini adalah ranjang yang sama di mana sang Ayah memeluk tubuh nya posesif, menenangkan Gabriel ketika bermimpi buruk, dan mengizinkan nya tidur di kamar Ayahnya hanya satu malam. Ayah tidak pernah merasa keberatan ketika Gabriel menyusup memasuki kamar nya.

Sembari menenangkan hatinya, Gabriel menatap lukisan besar dengan kerinduan, ia selalu merasa tenang ketika menatap lukisan sang Ayah, satu satunya lukisan Dewa penciptaan awal kehidupan di dunia. Sebuah ciri ciri fisik mengapa Gabriel memiliki rambut pirang cantiknya, itu di warisi oleh rambut pirang Ayahnya.

Rambut pirang, senyum yang membuat Gabriel merasa aman, tiga goresan tipis yang menyerupai kumis rubah, dan tentu Gabriel tidak akan pernah ragu, Ayahnya adalah pria tertampan di alam semesta. Meski hanya dalam lukisan, aura otoritas sebagai Dewa tertinggi tidak diragukan. Hanya itu, yang membuat Gabriel merasa, Ayahnya masih hidup.

Detik berganti menit, kemudian satu jam hanya keheningan di dalam kamar itu.

Gabriel meringkuk, memeluk tubuhnya, lalu ia tertidur. Tidur dalam keadaan menangis yang tidak seharusnya bagi seorang Great of Seraph, Gabriel.

...

...

...

...

"Naruto~" Menanggapi gerangan istrinya. Ia tersenyum teduh. Memberikan seluruh cintanya, berusaha memberikan kehangatan dari setiap sentuhannya. Emas dan biru bertemu, saling menganggumi keindahan masing masing lalu cinta yang murni meledak dalam tautan lembut. Saling melilit, dan setiap detik momen itu menumbuhkan getaran di dalam diri mereka.

Sejujurnya Naruto tidak yakin, pengalaman adalah guru terbaik, namun tanpa pengalaman apapun, Naruto membimbing istrinya dalam gairah yang harus ia akui adalah hal baru. Naruto merenggut, menerima serangan Istrinya, menukar saliva kedua dan menikmati pentas melodi kecapan dan gerangan wanita di bawahnya.

Ketika menit berlalu, mereka menyadari kebutuhan hidup mereka. Mengambil banyak oksigen dalam persiapan serangan lebih lanjut. Naruto menyeringai, menikmati remang remang merah di pipi Istrinya. "Aku mencintaimu, Naruto." Aneh, dari banyak hal, Istrinya hanya memilih kata sederhana itu namun memiliki efek mendesir di hatinya.

"Mencintaimu juga, Eve." Tanpa ada keraguan, Eve menurunkan wajahnya, membanting bibir ke bibir suaminya. Menarik leher pirang kesayangan nya demi mendapatkan kesenangan lebih. Ciuman itu adalah pertama baginya, memberikan ciuman yang mengklaim bahwa Naruto adalah miliknya, andai satu kemungkinan seorang wanita berusaha membuat kesempatan di antara hubungan mereka, Eve akan membunuh nya.

Naruto adalah Miliknya!

Ia tidak akan pernah berbagi pada Jalang manapun.

Di dalam kehidupan abadinya, Eve benar benar baru menyadari sisi lain dari dalam dirinya.

"Naruto itu geli." Namun Eve tidak menolak. Bagaimana serangan datang memberikan banyak bercak merah aneh di leher hingga sedikit ke atas dadanya. Lagi lagi ia mengeluarkan pekikan aneh, meremas kepala pria pirang kesayangannya sebagai pelampiasan. Untuk satu alasan, Eve melebarkan matanya, merasakan getaran geli dan hanya menemukan suaminya berusaha mendominasi dadanya.

Naruto adalah cintanya. Selama ini, Naruto hanya akan menjadi Naruto tidak peduli bagaimana Eve tidak berperan menjadi istri yang sesungguhnya. Selama hidup abadinya, Naruto selalu memberikan apapun keinginan nya bahkan jika Eve tidak membalas apapun. Ketika pemikiran itu datang, ia hanya menemukan besarnya rasa bersalah meski ia sepenuhnya paham Naruto tak akan pernah suka Eve menyalahkan dirinya.

Eve tersenyum cantik, menatap mata indah pria kesayangannya, dan berjanji semua tidak lagi sama. "Ku mohon, sentuh aku." Hanya itu yang bisa ia berikan atas segala kebahagiaan tidak terbatas. Ia memberikan tubuhnya, tidak seorang pun pria di dunia memiliki kesempatan memandang keindahannya, memberikan segala hal yang ia miliki hanya untuk Naruto, masa depan nya adalah Naruto.

"Eve jika itu adalah keinginan mu, pernah aku mengatakan aku tidak akan menahan diri?" Si pirang selesai dalam kecupan kupu kupu. Eve menggeliat, menyadari posisinya. Dalam jentikan jari, keduanya berakhir polos. Ia menikmati bagaimana Naruto memperlakukan dirinya sangat baik, menggerang dalam kenikmatan baru, jengkel bahwa Naruto senang bermain main tanpa ada yang perlu di akhiri.

"Berhentilah menggoda ku, Naruto." Hanya menemukan bahwa sesuatu mengalir di antara pahanya. Ia bernafas lebih banyak usaha, memberikan lebih banyak ruang untuk mendukung upaya Naruto memberikan hal nikmat lain. Ia tersenyum, menanggapi tatapan penuh pertanyaan suaminya lalu mengangguk, memberikan dorongan bahwa ia lebih dari siap.

"Ah—" Itu hanya sedetik Eve ingin berteriak, kemudian mendapati suaranya hilang dalam bibir lembut suaminya. Menarik rambut pirang kesayangannya, mencoba melawan permainan dan menyerah dalam dominasi lidah Naruto yang justru memberikan banyak dorongan kekuatan si Pirang.

Eve tersentak, sesuatu yang besar berusaha mendorong daerah di mana kebanggaan nya sebagai seorang gadis berada dan ketika senjata biologis suaminya menyentuh akhir pertahanan perisai yang menjelaskan ia masih seorang gadis, Eve menutup mata, membanting bibirnya ke bibir Naruto lebih dalam dan pertahanan itu ditembus.

Kini sepenuhnya ia telah menjadi wanita.

Rasa sakit yang aneh ia nantikan terpenuhi. Ia merasakan sensasi sama sekali baru dalam ribuan tahun hidupnya, ketika Naruto merenggut kegadisannya. Naruto bergerak, mendorong nya untuk mendesah, menerima euforia baru dalam kehangatan, gelombang kenikmatan dalam banyak hal mengosongkan kepalanya.

Ketika Naruto terus mengulangi gerakan yang sama dengan menusuknya, Eve tidak merasa itu menyakitinya, justru lebih ke sensasi di mana mulutnya auto pilot membuat suara suara cabul. Menggerang, Eve terus mengeluarkan sisi lain yang tidak pernah dia miliki dan itu karena sensasi menyenangkan jika perlakuan lembut Naruto adalah indikasi.

"Eve bolehkah?"

"Jangan ragu, Naruto."

Lalu, kenikmatan itu menemukan titik puncaknya.


Chapter 3 dalam 3 hari


Preview

"Tenang... "

"Aku hanya datang dengan penawaran. Ku rasa kalian akan tertarik."

"Penawaran macam apa yang datang dari Dewa terbesar saat ini?"

"Apa itu kau memohon atas nyawamu dan menyerahkan wilayah mu untuk tanah pertarungan dua Surgawi?"

"Dengar, aku mengembangkan sebuah sistem di mana Manusia dan Malaikat saling terhubung. Tidak perlu di pertanyakan ada banyak keinginan Manusia beserta potensi tidak terbatas yang tidak Malaikat miliki. Setelah segalanya berubah, itu tidak ada artinya, Manusia hanya akan bergantung pada diri mereka sendiri, menjadi ternak para Makhluk Supranatural kemudian menciptakan ketidakadilan terbesar dalam sejarah."

"Itu tidak di ragukan."

"Dan apa yang berubah?"

"Itu bukan tempat dirimu untuk tahu, Ddraig."

"Tch masih merasa sombong."

"Langsung saja pada intinya Dewa lemah dan biarkan aku mencabik cabik tubuh mu, berbanggalah menjadi camilan siang Naga Surgawi terkuat."

"Lalu, menggunakan sistem awal, aku menghubungkan sistem dan sebuah perangkat kecil di mana secara random ku berikan pada Manusia beruntung. Sacred Gear, sistem hanya memberikan artefak suci itu pada Manusia di pengaruhi oleh potensi tak terbatas, berlahan, Manusia mampu sejajar atau bahkan lebih tinggi dari kalian para Supranatural. Maka dengan begitu, bagianku selesai."

"Aku sama sekali tidak melihat hal menarik. Itu tampak membosankan, Manusia berjalan sejajar dengan makhluk supranatural adalah satu hal, tapi mengungguli Ras Naga adalah delusi."

"Naga memiliki kebanggan, Dewa kecil. Tidak mungkin kau menempatkan kami di tingkat yang sama seperti anak anak lemah mu. Naga hanya tunduk pada Naga lebih kuat."

"Kami dengarkan... "

"Naga hanya dapat dikalahkan oleh Naga lain, itu kemungkinan terbesar. Manusia menjadi Naga hampir tidak ada, maka aku membuat trobosan baru, di mana suatu saat itu mempengaruhi puncak rantai kekuatan."

"Ku berikan kalian dua pilihan, izinkan aku menyegel jiwa mu ke dalam Sacred Gear atau mati dengan cara paling memalukan."