"Naruto, ini waktunya~"
"Aku tahu."
"Ufufu~ aku menunggumu, Sayang~"
Pertama kalinya dalam beberapa jam, Naruto membuka matanya, menunjukan warna biru cerah yang menghanyutkan. Ia menopang kepala dengan tangannya, duduk di singasana emas tanpa cacat dan jubah kebesaran nya sebagai Dewa tertinggi. Aura dominasi meneriaki siapapun untuk tunduk, bukan dalam ketakutan, tetapi harapan untuk hidup mereka lebih baik.
Tuhan, tolong jangan ambil dia dariku. Aku sangat mencintainya.
Terima kasih atas segala hal baik hari ini, Tuhan.
Ini adalah langkah awal mencapai cita-cita ku, semoga segalanya berjalan lancar, Amin.
Banyak suara baru berdengung di kepalanya. Sistem otomatis bekerja setiap kali suara datang. Banyak harapan, ungkapan terima kasih, lebih banyak kata kata positif, doa dan semua itu mengalir setiap inci tubuh nya, memberinya banyak kesucian dan memperkuat kekuatannya. Itu adalah kekuatan harapan.
Naruto tersenyum kecil, sangat lembut, merasakan setiap kehangatan baru membanjiri tubuhnya. Di bumi, terjadi banyak bencana alam tidak masuk akal, populasi Manusia menurun dan kehancuran baru semakin merusak alam. Ia tahu, itu harus segera di akhiri, bagaimana pun prosesnya, maka dia pun bangkit, melangkah anggun dan jelas hanya satu tujuannya.
Cahaya menerangi Istananya yang kosong, hampir seperti cahaya itu menembus melewati apa yang ada di atas Surga ke tujuh. Naruto bergerak, langkahnya pelan namun berisi kepastian dan ketika tubuhnya menyerap keseluruhan cahaya, penampilannya berubah total. Tidak ada jubah kebanggaannya sebagai Dewa, hanya jubah sederhana berwarna putih dengan jilatan api merah di ujung nya, itu menutupi seluruh pakaiannya.
Naruto benar benar nampak seperti Makhluk fana, hanya cahaya dari tubuhnya yang masih lebih dari cukup menunjukan eksistensi nya sebagai Dewa tertinggi Mitologi ini. Ketika ia membuka pintu, Naruto pindah, meninggalkan Surga yang sepenuhnya telah kosong oleh para penjaganya.
.
Bertahun tahun dalam peperangan, itu nampak terasa selamanya bagi setiap peserta. Ketika genderang perang berbunyi, tidak ada pilihan mundur, mereka tahu resiko nya, dengan mengabaikan jika jaminan selamat hampir 0 persen, mereka maju, keluar dalam potensi terbaik, adrenalin terpacu dan menghilangkan ketakutan yang tidak penting.
Pembantai, kehancuran, penderitaan, tiga kata terdekat mendefinisikan perang yang menghancurkan tanpa pandang bulu. Jabatan seseorang tidak penting, kau hanya perlu kuat untuk menunjukan dominasi mu sebagai seorang prajurit barisan terdepan dan kini, strategi tidak lagi utama, siapapun lebih kuat maka kemenangan jauh lebih dekat.
Itu adalah ujung peperangan.
Tidak terhitung korban dari ketiga pihak, ribuan? Puluhan ribu? Atau bahkan jutaan? Tidak ada yang tahu karena jumlah tidak lagi penting. Lupakan emosi dan bunuh siapapun musuh di dekat mereka.
Seluruh kekuatan berkumpul dalam satu tempat, menghapus banyak gunung dan ribuan hektare hutan menjadi tanah tandus. Iblis, Malaikat jatuh, Malaikat masing masing bentrok, hasil pasti dari perang itu belum seluruhnya terlihat karena semua nya seimbang. Malaikat menyerang, Iblis membalas dan Malaikat jatuh mengikuti dalam hujan Light Spears dan Demonic dan hasilnya, ribuan nyawa selanjutnya di korbankan.
Setiap detik dan menit beribu ribu nyawa selesai oleh kekuatan para petinggi mereka. Itu hanya sebagian kecil karena, jauh di cakrawala, pertempuran lebih menjanjikan kiamat mengancam kepunahan tiga Fraksi.
Great Red, Ouroboros, Trihexa666 dan bermil-mil di sisi lain Ddraig Albion masih sibuk dalam amukan mereka. Pertempuran mereka membuat perang tiga Fraksi terlihat seperti pertikaian anak anak.
Maka dengan itu menjelaskan, hanya dalam beberapa jam, mereka harus rela di musnahkan oleh kekuatan Naga yang mendominasi rantai puncak makanan dan ketika hari berganti, Malaikat jatuh, Iblis, Malaikat hanya ada di bagian terkecil buku sejarah. Kepunahan adalah hal pasti.
Itu menimbulkan ketakutan lain, bahkan untuk seorang Michael sekalipun.
Mereka bertarung setelah bertahun tahun, tidak ada keuntungan, justru kerugiannya nyata.
Petinggi lain setuju pada gagasan itu. Tetapi mereka tidak memiliki hak untuk merubah. Setidaknya belum, hingga harapan datang. Seluruh medan perang jatuh dalam diam, hening, serentak menghentikan festival penuh kehancuran itu, hanya para Naga yang benar benar tidak terpengaruh oleh apapun dan terus menikmati kerusakan yang mereka perbuat.
Cahaya datang, tentram bagi Malaikat dan Malaikat jatuh, namun menindas bagi Iblis. Terangnya cahaya, memaksa siapapun menghalangi pandangan mereka semua, menutup kemungkinan terjadinya kebutaan bahkan merasa jika cahaya menerangi seluruh dunia. Itu menyusut seperti tidak pernah ada, berdiri di barisan puluhan ribu Malaikat tersisa, Naruto melayang rendah, aura dominasi yang membuat siapapun bersujud, dominasi yang bahkan membuat pemimpin manapun lari dengan celana dalam mereka.
"Ayah!" Di awali oleh berlututnya keempat Great of Seraph, puluhan ribu Malaikat lain mengikuti. Jauh di seberang, pihak lain, Malaikat Jatuh berlutut. Bagaimanapun bentuk mereka saat ini, mereka adalah anak anak nya dan tentu, Iblis menolak tunduk meski mereka memahami fakta pemimpin sesungguhnya menjatuhkan tangan.
Michael pertama kali membuka suara, nada nya menunjukan betapa kecewa Michael pada dirinya, "Jika Ayah memilih untuk turun, itu berarti tugasku sepenuhnya gagal, mohon ampuni anakmu yang rendah ini, Ayah." Naruto dengan sederhana mengangkat tangannya, indikasi untuk anak anaknya mengangkat wajah.
"Michael, mengapa kamu berpikir jika itu adalah satu satu nya hal yang ku pikirkan?" Semua tercekat, kata kata balasan tersangkut di ujung lidah sangat Great Seraph. "Itu hanya sebuah perintah, anakku. Kau tidak memiliki kuasa untuk memanipulasi kemungkinan, tidak ada yang benar benar tahu pasti masa depan."
"Tapi Ayah—"
"Tidak apa apa... " Naruto menenangkan, senyumnya efektif menenangkan Malaikat manapun. "Kegagalan memang bukan pilihan, namun itu bukan dalam arti sebuah akhir, Michael. Ini adalah pertama kalinya bagimu, kau memimpin kaum kita dengan sangat baik, lihat lah sekelilingmu."
Benar, semua Malaikat di bawah kepemimpinan nya menaruh kepercayaan pada dirinya. Mereka tersenyum, mensyukuri atas keselamatan mereka. Michael lebih tertegun mendapati anggukan dan senyum dari saudara saudari Seraphnya. Itu adalah sensasi baru bagi Michael selama beribu tahun, ia akhirnya mengerti apa yang ingin Ayahnya tunjukan.
"Mengerti? Itu adalah satu pencapaian mu, Michael. Mereka menaruh harapan di pundak mu sebagai pemimpin, tidak ada apapun lebih berarti dari sebuah kepercayaan dan di masa depan, kaum kita tidak hanya melihat mu sebagai komandan perang, namun sesuatu lebih." Entah mengapa, Michael merasakan kejanggalan dari kata itu, namun segera menghapus di benaknya, menikmati pujian sang Ayah.
Kini harapan menghentikan perang terwujud, Naruto tersenyum menyadari banyak dari mereka menaruh harapan, ketika matanya beralih di mana titik tengah peperangan, senyum memudar, tubuh nya tenang namun sensornya mengunci beberapa individu. Itu akarnya.
Menghela nafas pelan, Naruto maju selangkah. Atmosfer familiar memeluknya.
Ah nostalgia...
"Sekarang mundur, Michael dan kalian semua. Ah ah! Tidak ada penolakan Gabriel sayang~, kalian telah bekerja sangat baik, orang baik pantas untuk istirahat dan tidak ada kesempatan itu bagi mereka yang jahat." Naruto menolog, tanpa memberikan kesempatan Gabriel menolak.
Dengan pandangan kekhawatiran, Gabriel mendekati Ayah nya, menggenggam tangan Dewa itu cemas. "T-Tapi Ayah! Perang ini berbahaya, kita bisa bertarung bersama—" Terpaksa Gabriel memotong kata katanya, menyadari bagian tubuh lembut dan basah Ayahnya menyatu dengan mahkota pirang gadis Malaikat itu. Naruto memeluk dan ciuman kasih sayang menyusul, sepenuhnya meredam kekhawatiran yang tidak perlu.
Setiap detik momen itu, Gabriel sangat menikmatinya. Meremas jubah Ayahnya, meredam rasa cemas yang aneh membuatnya tidak nyaman. Begitu Naruto menarik diri, Gabriel melukis ekspresi kecewa di wajahnya, namun Naruto tersenyum. Mungkin, untuk terakhir kali, dia mengacak acak rambut indah anaknya.
Dan untuk terakhir kalinya juga hari itu, tatapan Naruto dan Michael bertemu. "Pastikan adikmu selalu aman, Michael." Naruto menutup pertemuan secara sepihak. Michael tidak menjawab dengan kata kata, hanya anggukan kecil dan membawa adiknya menjauh, malaikat lain mengikuti komandan mereka ke tempat di manapun mereka untuk pertama kalinya melihat Dewa dalam kitab Bible bertarung.
Langkahnya sangat pasti, dia tertawa kecil menyadari Gebriel pergi dengan tatapan sedihnya. Sedari awal, hanya Gabriel secara terang terangan menunjukan emosi pada nya, gadis itu benar benar menempati posisi anak yang tidak pernah ia rasakan dengan banyak keinginan dan tingkah laku membuat Naruto merasa menjadi Ayah seorang gadis manusia, bukan Malaikat.
Ya sudahlah...
Lagipula sejak awal... Ia hanya menikmati momen singkat itu.
Dan Naruto bergerak. Momen satu detik itu terjadi tanpa transisi. Tidak ada yang benar benar menyadari bahwa Naruto mengeluarkan satu kebolehannya, mencengkram tenggorokan Lucifer, dan Raja Iblis itu berakhir dalam kawah kecil dari tubuhnya. Pandangan Lucifer hanya sedetik menunjukan kebingungan, begitu ia sadar bahwa harga dirinya sebagai Raja Iblis baru saja direndahkan.
"Halo anak nakal~ merindukanku?" Naruto datang dengan seringai rubah, mendorong tubuhnya lebih, kondisi Lucifer semakin dipertanyakan sebagai Iblis terkuat. "Jangan bergerak anak nakal, kau hanya memperburuk keadaan mu, kau tahu." Itu bukan pemberitahuan, itu adalah ancaman dan Lucifer benar benar tidak berkutik. Tubuhnya ajaib mati rasa.
"Gggrr~ Ayah!" Hanya kata itu yang terucap lancar terlepas bagaimana kondisinya saat ini. "Kau tidak akan pernah bisa membunuhku." Lucifer mengucapkan itu dengan susah payah. Ia bahkan tidak belajar tentang membaca situasinya.
"Mengapa?" Naruto bertanya heran, hingga menemukan alasan di baliknya. "Ohhh~ itu membanggakan. Kau bertambah kuat, itu bagus itu bagus." Ia sepenuhnya mengabaikan geraman rendah Lucifer, mencoba menarik banyak kekuatan mentah untuk menggertaknya, namun pernahkan Lucifer merenungkan ancaman Naruto sebelumnya?
"Tapi tidak cukup kuat... "Cengkaraman nya makin kuat, tidak terpengaruh oleh kekuatan mentah Lucifer, kekuatan di mana membuat Malaikat tingkat menengah lari dengan harga dirinya. "... Setidaknya untuk bertahan dengan ini."
"Arrggh... "
Sesaat Lucifer menegang, matanya memutih dan apa yang terjadi selanjutnya membuat medan perang penuh tatapan tak percaya. Seperti bukan apa apa, Naruto menarik jiwa sang Raja Iblis dan membuangnya. Melihat situasinya, jelas hanya satu hal yang terpikirkan oleh semua orang, beberapa saat berlalu, pemikiran itu menunjukan kebenarannya. Tubuh Bintang Fajar pecah menjadi abu.
Lucifer yang malang.
Ia terbunuh hanya dengan sedikit usaha Naruto. Apa yang ia kumpulkan untuk menyerang surga tidak berarti apa apa. Hanya asumsi, tapi Lucifer benar benar meremehkan Ayahnya hanya karena Naruto duduk sepanjang tahun tidak melakukan apa apa. Itu pemikiran kuno, tetapi tidak salah. Sejak awal Lucifer memiliki kepercayaan berlebihan pada apa yang ia yakini.
Tidak ada yang benar benar senang mengetahui seorang pemimpin mati, tetapi, juga tidak ada yang benar benar berani menuntut kematian pemimpin mereka kecuali tiga individu. Menggeram marah, dan dengan semua yang mereka miliki, ketiganya bergerak, membawa kekuatan dahsyat di setiap serangan. Demonic penghancur mampu meratakan gunung, Tsunami setinggi ratusan meter dan ribuan balok balok demonic, semua serangan hanya di tunjukan kepadanya.
Seakan hati tak puas. Tiga pemimpin Iblis tersisa menjatuhkan lebih banyak hal tidak masuk akal hanya untuk menjatuhkan satu individu, namun semua mengetahui, individu ini berdiri dengan bangga sebagai Existence tertinggi.
Tidak ada yang benar benar tahu Naruto. Hanya merentangkan tangannya, semua serangan di patahkan. Itu adalah serangan yang sama membunuh ribuan Malaikat dan Malaikat jatuh hanya sekali serang namun makhluk ini, menentang ketidak masuk akalan semua pihak.
Tidak satupun serangan menyentuh kulitnya, sebuah perisai maha kuasa tidak akan pernah membiarkan tuannya terluka, lalu Naruto mulai dengan gerakan pertama. Tongkat hitam tercipta, dan dengan kecepatan sama ia membunuh Lucifer, ia pindah ke sisi seorang wanita yang ia yakini sebagai Leviathan saat ini. Naruto menyeringai jahil, merasakan ketegangan wanita itu.
"Brengsek!?" Leviathan tidak akan pernah menyadari kesalahannya nya, ia menggunakan tongkat sihir untuk memblokir jalur hantaman tongkat hitam, itu hancur seperti tak pernah ada sebelumnya. Leviathan hanya butuh sekejap untuk terkejut. Wanita itu menyilangkan tangannya, mencoba keberuntungan nya menahan arah ayunan tongkat hitam itu.
Leviathan tidak menyadari bahwa itu merupakan kesalahan lain bahkan setelah menambahkan banyak demonic, itu tidak ada harganya lagi. Ada alasan mengapa senjata Dewa ada di tingkat yang sama sekali berbeda, dan Leviathan harus merasa bangga menjadi korban pertama senjata itu. Begitu tongkat dan kulit bersentuhan, semua hilang, hanya jeritan menyakitkan menggema di medan perang.
"Tanganku!—" Tak ada kesempatan Leviathan merasakan rasa sakitnya.
"Gedoudama... Menghancurkan segala hal." Satu lagi ayunan dan kepala Leviathan asli hancur, tanpa darah, itu benar benar hancur ke tingkat nano. Satu lagi Raja Iblis selesai, Naruto bergerak tanpa suara, meningkatkan kecepatan yang sudah gila, membawa teror bagi siapapun korban berikutnya kemudian semua orang merasakan apa itu dominasi seorang Dewa.
Itu adalah cahaya yang padat. Memiliki putaran tak konsisten, bahkan Beelzebub tertegun pada keindahan bola di tangan musuh nya tanpa tahu itu adalah kematiannya. Naruto memutar tubuhnya di atas sosok Beelzebub, mengoyak 6 pasang sayap Iblis, menghancurkan setiap tulang dan kulit Beelzebub, mengebornya hingga ia tidak lagi mendengar teriakan tersiksa satu lagi Raja Iblis selesai di tangannya.
Satu lagi individu bodoh. Penuh dengan amarah yang meluap luap, meledakan energi Iblis nya tanpa peduli jika itu membunuh rekan rekannya di belakang, lalu melesat dalam kecepatan tinggi, mengepalkan tangannya sekuat yang ia bisa berniat menghancurkan Naruto dalam sekali pukulan yang menghancurkan.
Tetapi pada kenyataanya. Itu hanya sepotong kue bagi Naruto.
Tongkat Gedoudama lenyap, Naruto menanti kedatangan Beelzebub yang sangat singkat itu. Di saat saat semua individu menahan nafas, Naruto menarik energinya, lusinan rantai bercahaya emas menyeruak keluar dari punggung, mematuhi perintah tuan nya. Tanpa bergerak, Naruto menghentikan tubuh Asmodeus hanya beberapa inci pukulan penuh kekuatan menghancurkan wajahnya.
"Bajingan! Bajingan! Dasar kau monster... " Menyadari bawah itu adalah ajal nya, dia meraung. Setidaknya Asmodeus telah mengatakan apa yang ingin ia keluarkan. Kekuatannya melemah, sakitnya tak tertahankan mengetahui fakta bahwa lusinan rantai emas menusuk setiap anggota tubuhnya. Hanya sedikit ia berusaha bergerak, rasa sakit meningkat beberapa kali lipat.
Menanggapi ocehan Asmodeus, Naruto meletakan tangan tepat di kepala Iblis itu, menarik jiwa kotornya seperti ia lakukan pada Lucifer. "Di saat saat terakhir pun, hanya itu kata kata mu? Ironis." Hanya debu yang tersisa dari tubuh Raja Iblis terakhir. Naruto menghilangkan rantai nya, menunjukan Indikasi bahwa pertarungan selesai, ia memandang puluhan ribu Iblis tersisa dari atas bahunya, hanya sekilas tanpa memiliki niat lebih.
Tidak ada yang benar benar bodoh di antara para Iblis memiliki pikiran sehat. Itu adalah kesempatan terakhir atau kepunahan. Maka dengan itu, pihak Iblis mundur, sejauh yang mereka pikirkan untuk tidak memicu serangan. Mereka enggan, harga diri di hancurkan dalam momen tak sampai satu menit itu namun mereka sadar bahwa kesempatan tidak berpihak.
Satu fraksi selesai.
"Hm 30 detik? Aku benar benar tumpul, bukan?" Ia bergumam pada dirinya sendiri.
Naruto berjalan, matanya menajam pada dua sosok besar, putih merah memuntahkan banyak kekuatan penghancur yang tidak ia sukai. Mereka berada di ketinggian 100 meter, cukup baginya merasakan dua kekuatan yang mendominasi puncak rantai makanan dan sayang, Naruto tidak dalam bagian rantai itu.
Sekejap ia menghilang, muncul beberapa meter di atas pertempuran dua Naga Surgawi, sebuah energi terbentuk di tangannya. Itu memiliki warna hitam, berukuran tidak lebih besar dari bola sepak dengan cincin memutarinya. Tanpa berpikir apapun lagi, bola itu pindah, meledak di antara dua Naga Surgawi, menciptakan ledakan nuklir, cukup membuat gelombang yang berlahan menciptakan badai besar.
Ada banyak suara panik, dan terakhir yang ia ketahui. Seluruh Fraksi telah menyingkir sejauh mungkin dari medan perang. Itu bagus untuknya. Namun, serangan itu hanya berfungsi sebagai pengalih perhatian bagi dua Naga terkuat di kelasnya dan kemudian, seperti sepotong kue, badai menghilang hanya untuk Ddraig menyapu ekor besarnya.
"Grr~ Dewa kecil."
"Terlibat ditengah pertempuran rival abadi artinya adalah mati."
Naruto menurunkan ketinggiannya. Menatap mata penuh niat membunuh dua Naga Surgawi tanpa menjadi gila, seperti hanya menatap dua kadal raksasa yang sayang itu di sadari oleh Ddraig dan Albion. "Tatapan itu benar benar membuatku direndahkan." Ddraig secara alami menaikan kekuatan mentahnya menjadi dua kali lipat setiap 10 detik, efek samping nya membuat alam tak nyaman, bumi bergetar seperti membalikan Underworld hanya perkara sederhana bagi Naga itu.
"Aku rasa pertarungan kita harus tertunda. Dewa kecil ini perlu penjelasan di mana tempatnya." Nada penuh arogansi dibarengi oleh kekuatan meledak ledak. Merah putih mendominasi udara, namun Naruto hanya mengangkat tangannya sederhana, menggumankan beberapa suku kata, dunia putih arogansi dua Naga Surgawi runtuh dan menjelaskan di mana tempat kedua makhluk bodoh itu berdiri.
Shinra Tensei!
Kekuatan mentah Ddraig dan Albion dalam sekejap mata musnah beserta tubuh dua Naga itu terbenam di dalam kawah puluhan meter. Jelas, geraman tidak percaya dan tak terima reaksi wajar dua Naga Surgawi. Naruto mendekat, "Tenang... " Tidak ada kekuatan apapun yang ia keluarkan, "Aku hanya datang dengan penawaran. Ku rasa kalian akan tertarik." Berhadapan langsung dua Naga Surgawi terkuat semestinya adalah bunuh diri, namun Naruto, hanya sedikit kekuatan cukup menundukan dominasi sang Naga.
Ddraig pertama kali datang, "Penawaran macam apa yang datang dari Dewa terbesar saat ini?" Albion secara mengejutkan bergabung, "Apa itu kau memohon atas nyawamu dan menyerahkan wilayah mu untuk tanah pertarungan dua Surgawi?" Naruto mengabaikan pernyataan remeh si putih. Ia tidak memiliki banyak waktu bahkan hanya sekedar basa basi.
"Dengar, aku mengembangkan sebuah sistem di mana Manusia dan Malaikat saling terhubung. Tidak perlu di pertanyakan ada banyak keinginan Manusia beserta potensi tidak terbatas yang tidak Malaikat miliki. Setelah segalanya berubah, itu tidak ada artinya, Manusia hanya akan bergantung pada diri mereka sendiri, menjadi ternak para Makhluk Supranatural kemudian menciptakan ketidakadilan terbesar dalam sejarah." Naruto menunggu reaksi Merah dan Putih dan itu tidak terduga.
"Itu tidak di ragukan." Ddraig membenarkan, "Dan apa yang berubah?"
"Itu bukan tempat dirimu untuk tahu, Ddraig." Naga itu menggeram, "Tch masih merasa sombong."
"Langsung saja pada intinya Dewa lemah dan biarkan aku mencabik cabik tubuh mu, berbanggalah menjadi camilan siang Naga Surgawi terkuat." Naruto melirik Albion sekilas, tidak tertarik meladeni omong kosong si Putih.
"Lalu, menggunakan sistem awal, aku menghubungkan sistem dan sebuah perangkat kecil di mana secara random ku berikan pada Manusia beruntung. Sacred Gear, sistem hanya memberikan artefak suci itu pada Manusia di pengaruhi oleh potensi tak terbatas, berlahan, Manusia mampu sejajar atau bahkan lebih tinggi dari kalian para Supranatural. Maka dengan begitu, bagianku selesai." Ddraig dan Albion sama sekali tidak terkesan, Naruto dapat melihat itu dari kilauan cahaya di mata kedua Naga.
Ddraig angkat bicara, "Aku sama sekali tidak melihat hal menarik. Itu tampak membosankan, Manusia berjalan sejajar dengan makhluk supranatural adalah satu hal, tapi mengungguli Ras Naga adalah delusi." Meski mereka adalah rival abadi, Albion secara total mendukung itu. "Naga memiliki kebanggan, Dewa kecil. Tidak mungkin kau menempatkan kami di tingkat yang sama seperti anak anak lemah mu. Naga hanya tunduk pada Naga lebih kuat."
Naruto tampak tidak terkesan pada gagasan itu, "Karena itulah penawaran ini ada." Ddraig dan Albion saling pandang. "Kami dengarkan... "
"Naga hanya dapat dikalahkan oleh Naga lain, itu kemungkinan terbesar. Manusia menjadi Naga hampir tidak ada, maka aku membuat trobosan baru, di mana suatu saat itu mempengaruhi puncak rantai kekuatan." Ia menjeda, menunggu reaksi dua Naga Surgawi. Masih tidak menarik apapun. "Ku berikan kalian dua pilihan, izinkan aku menyegel jiwa mu ke dalam Sacred Gear atau mati dengan cara paling memalukan."
Bunyi klik menggema internal di kepala dua Naga Surgawi. Menggeram pada amarah yang memuncak, dalam kehidupan abadi mereka, tidak ada yang benar benar menerima direndahkan dengan cara paling rendah. Si merah meraung, "Terlepas dari apapun nilainya, kedua pilihan hanya memiliki satu akhir. Aku kecewa, kau membuang banyak waktu untuk nyawamu."
Tatapan Naruto lebih gelap, "Kalian telah mengacau di wilayahku, merusak dan menghancurkan apapun itu. Kematian adalah ganti rugi sepadan." Setiap katanya penuh racun. Tidak terpengaruh oleh kekuatan penuh dua Naga Surgawi di waktu yang sama. Ketika ia melihat Ddraig dan Albion siap dalam semburan api yang menghancurkan, itu cukup membuat seluruh medan perang dalam lautan api. Naruto mengangkat satu tangan.
"Ketahuilah level mu, cacing bodoh."
"Persetan... " Lautan api menerangi penuh kawah besar itu. Dua serangan tingkat Surgawi siap dalam jalurnya. Ddraig Albion meraung, panas api terasa puluhan mil jauh nya dan tentu, tidak sedetikpun Naruto berpikir membiarkan serangan itu lewat. Setiap saat, serangan berlipat ganda semakin kuat, dinding tidak kasat mata menjadikan serangan itu senjata makan tuan, melahap Ddraig dan Albion yang fantasis tidak terpengaruh.
Untuk saat saat menegangkan yang terasa selamanya.
Serangan berhenti. Ddraig Albion bergumam bingung. Begitu menyadari sesuatu, kedua Naga Surgawi jatuh dalam kepanikan. Mereka berusaha bergerak, membagi apa yang tidak akan mereka mengerti namun hanya detik yang bertambah, mereka tidak menemukan penyebab keanehan pada tubuh mereka, seperti, udara dari setiap sisi menekan tubuh keduanya. Albion hanya mampu membagi kekuatan, bukan alam.
"Sekarang lebih baik." Naruto turun. Seperti momen antara majikan dan dua ekor anjing rumahan. Pria itu memaksa dua eksistensi kuat berlutut di kakinya. "Kalian benar benar perlu menyadari betapa tidak bijak kalian memilih." Dua orb melayang di kedua sisinya. Baik Ddraig dan Albion tidak akan suka pada detik detik berikutnya. Tidak ada suara, Naruto tidak mengizinkan mereka untuk itu.
"Nah kalian Rival abadi. Aku tidak memiliki niat menghentikan itu. Jiwa kalian bebas menentukan apakah perseteruan itu perlu berlanjut hingga akhir atau bahkan memilih jalan sama sekali berbeda." Tanpa menunggu persetujuan apapun. Tangan energi memanjang, memasuki dua tubuh Surgawi, tidak ada perlawanan, ia menariknya. Jiwa Albion Ddraig hidup abadi di dalam Sacred Gear, konsep kematian sepenuhnya ia hilangkan, hanya ada kelahiran kembali di saat saat mereka menghilang, itu terus berlangsung hingga selamanya.
Di detik detik terakhir kematian Ddraig dan Albion. Naruto menggabungkan orb yang merupakan inti Sacred Gear dan jiwa Naga Surgawi lalu mengikat nya dalam sistem Surga. Naruto terbang menjauh ke permukaan tanah, dengan ia menepuk tangannya, tanah bergeser mengubur jasad Ddraig Albion.
Ia tidak cukup, ratusan simbol terlukis, terserap oleh tanah dan menyegel nya. Naruto tidak akan mengizinkan siapapun menggunakan tubuh Naga tingkat Surgawi apapun motifnya. Kekuatan besar selalu menarik bencana, baik di masa lalu atau jauh ke masa depan terlepas dari sisa terkecil sumbernya.
.
.
.
Senyum cerah bersinar dan kecemasan sirna. Gabriel tersenyum penuh syukur, Ayah baik baik saja, itu lebih dari apa yang ia harapkan. Ayahnya menyelesaikan tugas di mana mereka tidak bisa hanya dengan sedikit usaha. Dapat Gabriel pastikan jika perang telah berakhir, sorak sorak para saudara saudari nya menjadikan euforia pecah, banyak rasa syukur dan terima kasih baru datang.
Namun itu hanya sementara
Setidaknya bagi Gabriel...
Melihat tujuan pandangan Ayahnya. Kekhawatiran baru meresap ke dalam hati. Jantung nya berpacu ratusan mil perjam dan tanpa ia sadari, kakinya melangkah secara autopilot. Itu menyadarkan Malaikat lebih tua akan sesuatu dan ledakan energi suci menyadarkan semua orang.
Energi suci meledak, hangat bagi Malaikat namun membakar Iblis lebih lemah. Menarik semua pihak dan Naruto melesat lurus ke udara, kekuatan mentah menyusul dalam gelombang kehangatan lain ke cakrawala.
"Tidak tidak tidak kumohon Ayah jangan!—" Gabriel mermonolog panik.
"Gabriel tahan!" Keindahan nyata Surga menepis tangan kakaknya, berlari di mana jejak Ayahnya tertinggal. Ia merasakan sesak di dadanya, Gabriel akui dia tidak suka jalan berpikir sang Ayah. Ketakukan akan sesuatu memenuhi matanya.
Naruto tiba di antara benturan Great red dan Ophis. Merentangkan tangan, gelombang ilahi mementalkan dua Naga terkuat tanpa halangan, kemudian, sesuatu merobek ruang, udara terbelah, kekosongan penuh warna terkuak dari balik robekan langit. Great red dan Ophis lenyap tertelan, Naruto menutup nya, menyegel Dimension Gap, tidak mengizinkan siapapun keluar atau masuk ke dalam Dimension Gap, setidaknya dalam beberapa ratus tahun.
Cakrawala penuh akan kekuatan mentah. Alam merespon kekuatan itu dengan banyak bencana tidak normal, energi suci terbesar dalam sejarah dunia Supranatural mendominasi. Tidak pernah dalam kehidupan abadinya Trihexa merasa tertantang oleh sesuatu yang bukan Naga, maka, kekuatan mentah beserta niat membunuh bocor di cakrawala.
Kedua nya terpisah oleh jarak beberapa ratus meter, perbedaan layaknya semut dan gajah tidak mengubah pandangan apapun bahwa kekuatan keduanya setara, saling menunjukan dominasi dan Naruto pertama kali bergerak dalam pilar cahaya, Trihexa merespon. Hanya beberapa detik tubuh mereka terpisah oleh jarak, beberapa detik selanjutnya semua hanya tersisa ledakan super dahsyat, cahaya terang membutakan semua pihak tentang suatu hal di dalam nya.
Hanya saja.
Tidak segalanya memiliki pikiran waras tentang ledakan itu.
Gabriel, dengan putus asa mencoba terbang, menggapai Ayahnya. Gadis itu menyadari, setelah semua hal kegilaan berakhir, apa yang ia dapati adalah tidak ada lagi kasih sayang, pelukan selamat pagi, dan bermanja manja di pundak sang Ayah. Tidak ada lagi tempat Gabriel menumpahkan seluruh cinta nya. Tidak! Ia bergegas membuang pemikiran itu, hanya dengan memikirkan kemungkinan terburuk, jantungnya berlari ribuan mil dan sesak di dada adalah indikasi nya.
"Ayah kumohon jangan." Frustasi memenuhi matanya. Tidak peduli seberapa keras Gabriel memohon, Ayahnya tidak bergeming dalam ledakan dua kekuatan bertentangan. Ia tidak mengerti mengapa ia begitu khawatir, namun intuisi seorang anak memperingati nya tentang banyak hal penting dan semua tidak pernah ia sukai.
Jika Ayahnya pergi, Gabriel hanya perlu ikut.
Namun kenyataan membangunkannya. Ledakan lain menyusul, ia terhempas seperti bulu merpati, sebuah gelombang melarangnya mendekat. Ia panik, hanya menemukan dirinya jatuh dalam pelukan Michael, bergumam tidak jelas dan usaha lain sepenuhnya sia sia. Michael tetap menjaga adiknya seperti titah sang Ayah.
"Tidak tidak tidak tidak tidak, Ayah!." Michael hanya menggelengkan kepalanya muram. Adiknya memberontak dalam pelukannya. "Ayah... "
Lalu, cahaya pecah, lebih terang dari apapun, menyelimuti seluruh dataran Underworld dari ujung ke ujung, lalu kenyataan baru menampar semua pihak. Michael menangis dalam diam, sementara Gabriel, binar hangat di matanya menghilang, merenggut keinginannya tetap hidup lalu sesuatu retak
"AYAAHHHHHH!"
Itu adalah hatinya.
...
...
...
Disclaimer : Masashi Kishimoto & Ichie Ishibumi.
...
...
...
Ia berlari. Mengabaikan tubuh yang perlu istirahat, melewati banyak pepohonan, ranting ranting pohon lebih kecil menggores banyak luka di kulit bayinya. Ia dalam kondisi menyedihkan, hanya seorang anak berusia 10 tahun, namun melalui banyak hal keji hanya dalam semalam.
Suatu saat ia hanya berlari dari kawanan Anjing neraka, dan satu saat kemudian, ia menemukan dirinya terikat di suatu tempat asing. Hanya bisikan di kepalanya lah yang benar benar membuatnya cukup beruntung, berlari dari kelompok penculik yang ia yakini bukan Manusia mengikuti intruksi orang asing.
Keberuntungan tidak selamanya dekat.
Dan gadis itu belajar dari pengalamannya.
Terjatuh tanpa sengaja dari sebuah tebing bukit. Hal terakhir ia ingat adalah rasa sakit ketika tulang tulangnya patah sebelum menyerah dengan hidupnya, andai keberuntungan tidak lagi memihaknya.
"M-Mama—"
Mungkin itu adalah kata kata terakhirnya.
.
Cuaakzz
.
