Fanfiksi ini disponsori oleh NHFD 13 2022 (NaruHina Fluffy Day) - Prompt: Uzumaki Family / Marriage

Semua karakter adalah milik Paman Kishimoto.
Purely fiksi dan imajinasi Author.

Selamat membaca!


Beloved Mate

"Hey, bangun!"

Naruto menunggu dengan sabar. Tangannya mengusap lembut kepala sang wanita yang bersandar di sebelah bahu.

Angin mulai tak bersahabat. Padahal malam belum begitu larut. Masih pukul setengah sembilan, masih terbilang sore. Sebenarnya, sudah sejak setengah jam yang lalu angin berhembus cukup kuat. Maka dari itu, Naruto juga sempat mengajak pulang lebih awal beberapa waktu lalu. Hanya saja, Hinatanya ini yang bersikukuh ingin tetap tinggal. Masih ingin berlama-lama menikmati gemerlap kota dari atas bukit, tempat di mana mereka sekarang duduk berdua — sekaligus merupakan lokasi Monumen Hokage yang diabadikan sebagai simbol bahwa Sang Hokage akan selalu mengawasi kota. Bukit yang bisa menjangkau seluruh kota. Tidak tahunya, Hinata malah tertidur. Dasar, ia jadi ingin tersenyum. Gemas sendiri.

Omong-omong, ini adalah kencan. Kencan yang kesekian kali setelah tiga bulan pernikahan. Siapa bilang setelah menikah tidak bisa pacaran seperti pasangan muda di luaran sana. Asal tahu saja, bahkan setiap hari rasanya seperti berkencan, lho. Selain juga jauh lebih membahagiakan, kencan sehabis menikah jelas tak hanya sekadar mengejar romantis belaka. Ada ketulusan yang begitu erat. Ada pula perasaan yang kian hari makin menguat untuk saling menjaga serta mempertahankan hubungan. Jadi, jangan salah, menikah muda bukan berarti keduanya akan kehilangan momen-momen indah masa muda mereka. Melainkan, saling berbagi dalam segala hal untuk mereka lewati bersama-sama.

Manis, bukan? Makanya, cepat nyusul. Jangan takut menikah muda. Biar seperti Naruto dan Hinata. Kamu tahu? Mereka bahkan merasa seakan dunia ini hanya milik berdua.

Hinata membuka mata pelan. Malas-malasan mengangkat kepala hanya demi mempertemukan manik mutiaranya yang manatap sayu dengan iris biru langit yang berseri-seri.

Malihat wanitanya masih tampak linglung, alias masih mengais-ngais sisa kesadarannya di awang-awang, sudut bibir Naruto mengurva manis. Sementara satu tangannya masih tertahan di belakang kepala sang wanita, ia sekali lagi berucap lirih, "Kita pulang, ya. Sudah malam. Anginnya juga makin besar. Nggak bagus. Nanti sakit."

Hinata tak banyak memberikan respon yang berarti, ia hanya mengangguk.

Kemudian beralih menggenggam jemari wanitanya hangat, Naruto lantas beranjak. Akan tetapi, Hinata malah tiba-tiba menahannya. Genggaman tangan itu tertahan, sebab Hinata tak mau ikut berdiri rupanya. Ia menggeleng. Memiringkan kepalanya sejenak, Naruto jadi bertanya-tanya. Bukannya tadi mengangguk? Kok sekarang malah tidak mau?

Tak hanya itu, tiba-tiba Hinata juga malah menarik-narik tangannya untuk kembali duduk.

Maka kemudian cepat-cepat berlutut, Naruto mendadak khawatir. "Ada apa Hinata? Kamu sakit?"

Tetapi, bukannya tangannya bersambut di dahi — takut sang istri tiba-tiba demam — Hinata lekas menepis, dan justru melingkarkan kedua tangan di tengkuk leher memeluknya. Lagi-lagi kepalanya ia jatuhkan di atas bahu. Sayup-sayup terdengar suara kecilnya membalas serak, "Nggak sakit, cuma masih mengantuk."

Naruto mendengus, tersenyum lega. Ia kira ada hal genting apa, pikirnya. Tidak tahunya masih terbawa kantuk. Membuatnya khawatir saja.

"Iya, nanti tidur lagi kalau sudah sampai di rumah." Naruto menimpali.

"Tapi, nggak kuat jalan."

Hanya seper sekon saja Naruto sempat terdiam. Sebelum akhirnya lagi-lagi mendengus, tertawa pelan. "Terus?" Godanya.

Hinata hanya bergeming.

"Ooh minta gendong?" Godanya lagi. Berharap sang istri mengakui keinginannya, namun nihil. Tak ada anggukan kepala ataupun suara seraknya yang terdengar berbisik di telinga, wanitanya itu hanya makin mempererat pelukannya. Ia jadi tak kuasa menahan senyum. Gemas sekali. "Baiklah, bayi besarku. Pegangan yang kuat, ya."

Hinata tidak peduli ketika dibilang bayi besar oleh suaminya yang memang super jail ini. Tapi, andai saja ia tak sedang mager alias malas gerak atau malas melakukan apapun, sudah pasti ia akan memukuli bahunya saat itu juga. Jadi, lebih memilih diam, Naruto lantas mengangkat tubuh sang istri dengan hati-hati. Wanitanya itu kini jadi mirip sekali seperti anak Koala yang meringkuk nyaman pada induknya. Bedanya, Hinata lebih suka digendong dari depan sepertinya.

Angin masih tetap stabil menerpa keduanya selagi Naruto berjalan turun menyusuri jalan setapak di area perbukitan. Di antara suara gemuruh yang berisik memenuhi rungu, si pirang itu tiba-tiba kembali membuka obrolan.

"Bicara soal bayi, nanti kamu maunya punya anak berapa? Kalau aku sih terserah, tapi nanti kita bikin anak kembar juga ya. Penasaran, nanti aku bisa bedain mereka nggak yah?"

Hinata mendengus, ia yang awalnya betulan akan tidur jadi kembali terjaga. "Mana ada, masa ayahnya sendiri nggak bisa bedain. Kecuali kalau ayahnya memang nggak perhatian sama anak-anaknya."

"Pasti perhatian dong, sayang. Aku malah pengen cepat-cepat punya anak, lho. Jadi, bagaimana, mau ya anak kembar?"

"Memangnya hal seperti itu bisa direncanakan?"

"Nggak tahu. Nanti kita tanya Sakura. Atau, sekarang saja kita mampir ke rumahnya. Biar nanti pas sudah sampai rumah kita bisa langsung bikin — akh! Sakit, Hinata."

Hinata menggigit daun telinganya kuat-kuat. Sengaja. Ia juga tak segan-segan berbisik lantang bahwa prianya ini mesum, katanya.

Naruto langsung saja menyahut tak terima. "Lho, mesum dari mananya?"

"Sudah ah, Hina mau tidur. Jangan diajak bicara."

Naruto lantas tertawa. Puas sekali menggoda istrinya. Tapi, ia betulan tidak sedang bercanda soal anak kembar. Dan, ia juga memang berencana ingin langsung membuatnya sesampainya di rumah, tentu saja setelah berkonsultasi dengan Dokter Sakura. Tapi, kok malah dibilang mesum, sih?

.

.

"Tadai…" Membiarkan ucapannya menggantung di ujung lidah, tepat setelah membuka pintu rumah, Naruto sejenak terkesiap saat mendapati sepasang sepatu tua telah tertata rapi di sudut lantai dekat rak kayu. Sepatu yang sudah ia hafal betul siapa pemiliknya.

Lalu bergegas melepas sepatu milik sendiri, dan berniat hendak menyambut tamu — yang ternyata malah telah mendahuluinya masuk ke dalam rumah, entah sejak kapan. Namun, tidak disangka tamu tersebut tahu-tahu muncul dari balik pintu ruang tengah. Tersenyum hangat, lalu memberi isyarat agar ia tetap diam, tidak usah menyapa, katanya. Maka kembali menutup mulut rapat-rapat — saat sebelumnya sudah setengah terbuka hendak memberi salam — itu jadi tertunda. Mendadak ia merasa gugup. Mana lagi Hinata belum turun dari gendongannya. Awalnya ia tak mengerti, tapi, begitu melihat pria setengah baya di sana sekali lagi menyambut hangat, sepasang netra tertuju pada sang wanita, lalu mengangguk tipis tanda bahwa pria itu tak masalah dengan segala pemandangan berbau romansa — tapi, entah bagiamana jadi tampak lucu — di hadapannya, Naruto reflek saja tersenyum malu. Ia kini juga akhirnya bisa sedikit menarik napas lega. Tak lagi dibawa tekanan, sebab anggukan itu seolah berkata, "Tidak apa-apa. Biarkan saja anakku begitu. Sini, cepat masuk."

Sementara Si Pria Hyuuga, sosok setengah baya yang kini telah beralih status menjadi ayah mertuanya itu berjalan kembali ke ruang tengah, Naruto bersiap menyusul. Tak segera membangunkan Hinata, dalam diam ia lekas membantu melepaskan sepatu sang dara yang masih terlelap. Tetapi, ah, tiba-tiba saja wanitanya itu malah terbangun.

"Sudah sampai rumah, ya?" Tanya Hinata parau.

"Iya, sudah."

Tak seperti dugaannya, Hinata hanya mengangguk dari balik bahu. Eh, belum mau turun rupanya, batin Naruto tak percaya.

"Nggak turun?" Siapa tahu Hinata malas atau malu-malu minta diturunkan, jadi ia bertanya memastikan.

Hinata menggeleng. "Ayo masuk dulu."

Wah. Andai saja istrinya ini tahu ayahnya sedang berkunjung ke rumah. Kasih tahu tidak, ya?

Tentu, tidak. Bukan Naruto namanya kalau isi kepalanya bersih dari niatan-niatan ingin mengerjai, bahkan pada istri sendiri. Jadi, sambil melangkahkan kaki menyusul sang Ayah ke ruang tengah, diam-diam ia menyeringai, manik safirnya tanpa sadar ikut mengerling antusias.

"Kita sudah sampai di rumah, lho. Kok masih minta gendong. Tumben sekali kamu manja begini." Naruto berbisik pelan. Sebelah tangannya mengusap lembut punggung Hinata yang nampaknya masih betah menempel. Wanitanya itu seperti tak mau ambil pusing, dan malah melingkarkan kedua tangan serta kakinya senyaman mungkin.

Hinata lagi-lagi tidak peduli ketika dibilang manja. Jika biasanya, boleh jadi ia akan malu-malu kucing, salah tingkah, atau bisa sampai memekik jenaka tak terima. Tetapi, mungkin apa yang dikatakan Naruto itu sedikit benar, ia kemudian hanya bergumam, terdengar merengek.

"Anterin sampai ke kamar," katanya.

Naruto mendengus. "Ke kamar?" Sambil sesekali melirik sang Ayah yang masih dengan kesibukannya sendiri di sudut meja dapur sedang memeriksa isi kulkas, ia kembali berbisik pelan. "Aku sih mau saja. Tapi, kita sedang ada tamu, lho."

Hinata masih bersandar nyaman selagi ucapan sang suami melintas dalam benaknya. Sebentar, tamu, katanya? TAMU? Sontak saja ia terkesiap. Sisa-sisa kantuk yang tadinya masih tertinggal mendadak hilang dalam sekejap.

Hinata buru-buru menegakkan punggung. "Tamu?"

"Ehm." Naruto mengangguk tenang. Terlihat biasa saja, bahkan ketika bergerak memiringkan kepala demi melihat sang Ayah Mertua dari balik punggung dan berkata lagi, "Ayah, mau dibikinkan minum apa?"

Hah?

AYAH?!

"A-Ayah?"

Naruto sekali lagi mengangguk. Cara menatapnya pun tak ada yang berubah, menatap lembut seperti biasa. Sama sekali tak terlihat ada yang salah ataupun ada yang perlu dicemaskan. Kontras sekali dengan lawan bicaranya yang mengernyit tidak santai, memandanginya horor.

Naruto mati-matian menahan senyum saat merasakan jemari Hinata yang meremas kuat ujung bajunya di kedua bahu. Irisnya menukik tajam. Dan, ia jadi tak tega begitu mandapatinya buru-buru mengikuti arah pandangnya sambil menggigit bibir bawah.

Hinata seketika membulatkan kedua matanya. Sama seperti Naruto yang merasa tak ada yang salah, bisa-bisanya sang Ayah hanya berdiri di balik meja dapur, dan menyambutnya dengan senyum hangat — entahlah, rasanya agak seperti sedang menertawakannya sih sebenarnya.

Jelas saja Hinata malu bukan main. Merah padam sudah seluruh wajahnya. Secepat kilat kembali berbalik, Hinata bergerak rusuh dan meminta Naruto untuk segera menurunkan tubuhnya.

"Lho, kenapa? Tadi katanya minta anterin sampai ke kamar?"

"Kak, ih, ada Ayah. Cepat turunin." Jadi lebih liar, Hinata kini mulai memukul-mukul dada bidangnya.

"Iya, iya, sebentar." Naruto tak lagi bisa menahan tawanya. Ia terang-terangan terkekeh lebar. Lantas diturunkannya sang istri pelan-pelan, keduanya kemudian serempak membungkuk kecil memberi salam.

Diam-diam Hinata menyikut lengannya. "Jahat. Kenapa nggak bilang dari awal kalau ada Ayah?"

"Ayah sendiri yang minta buat jangan bilang-bilang ke kamu."

"Bohong."

"Hahaha." Tidak, bukan Naruto yang tertawa terbahak. Barusan itu adalah ayah mertuanya. Sembari berjalan menghampiri menantu dan juga anak sulungnya, di sela gelak tawa pria baya itu kemudian berujar jenaka. "Maafkan putriku yang selalu merepotkanmu, ya, Naruto."

Naruto tersenyum simpul. "Tidak merepotkan, kok, Yah. Malah saya senang kalau Hinata manja begini. Karena jarang sekali dia — akh! Sakit, sayang."

Kali ini Hinata menyikut perutnya. Isyarat untuk suaminya itu agar lebih baik diam dan tak melanjutkan kalimat asal-asalannya.

Lagi-lagi Hiashi tertawa lebar. Kedatangannya ke mari hari ini ternyata adalah keputusan yang tepat. Ia sungguh merasa terhibur. Memang tak ada yang perlu dikhawatirkan. Mereka berdua telah hidup bersama-sama dengan baik. Kendati masih terlalu dini untuk menilai, namun begitu ia ikut merasakan adanya ketulusan serta kehangatan yang melimpah ruah di antara keduanya, haruskah ia masih mencemaskan sulungnya takut-takut kalau Naruto menyakitinya? Mereka jelas saling mencintai. Saling membutuhkan. Dan, saling melengkapi. Tak perlu ada yang ditakutkan. Keduanya lebih tahu apa yang sepatutnya untuk dilakukan.

"A-Ayah ada perlu apa tiba-tiba berkunjung ke mari?" Tanya Hinata, sekaligus biar ia bisa segera mengusir panas di wajahnya.

"Tadinya cuma mau main saja. Tapi, nggak ada yang di rumah ternyata. Ya sudah, sekalian mengecek persediaan makanan. Kok ya masih banyak. Kalian ini jarang makan atau bagaimana?"

"Bukan begitu, Yah," jawab Hinata. "Dua hari yang lalu memang baru saja pergi belanja. Makanya masih banyak."

"Ooh.. kirain kamu yang nggak kasih makan suamimu, Hinata."

Naruto tertawa pelan, ikut menyahut. "Nggak, Yah. Hinata masak tiap hari kok. Bahkan habis misi atau pagi-pagi sebelum berangkat misi pun dia selalu menyempatkan bikin sesuatu untuk dimakan." Ia merangkul dengan sayang pundak sang istri di sebelahnya. "Padahal sudah berkali-kali saya memintanya untuk istirahat saja."

"Seperti itulah Hinata, Naruto." Hiashi berkata lembut. "Sebelum menikah denganmu, di rumahnya dulu dia sudah terbiasa dengan segala pekerjaan rumah yang banyak orang menyebutnya pekerjaan remeh temeh, katanya; padahal tidak se-remeh yang mereka pikirkan; karena kamu sendiri juga tahu kalau dia sudah ditinggal oleh ibunya sejak kecil. Dia seperti memikul tanggungjawab kami berdua, Ayah dan Hanabi." Ia berhenti sebentar, menyunggingkan senyum tulus pada Naruto. "Dia sangat mencintaimu. Jadi, tentu saja tadi itu Ayah hanya bercanda. Tidak mungkin dia akan memperlakukanmu dengan buruk. Iya, kan, Hinata?"

Hinata menunduk malu. "Ayah terlalu melebih-lebihkan."

Naruto merasakan dadanya perlahan menghangat. Sebuah perasaan dicintai seakan membuncah, meluap-luap. Kentara sekali dari pancaran kedua matanya yang menatap haru. "Enggak," sahutnya. Dipandanginya sang istri penuh cinta. "Ayah bicara apa adanya. Kamu memang seperti itu."

Sebenarnya, dalam sebuah pernikahan, tidak ada istilah yang menyebutkan siapa yang paling beruntung memiliki siapa. Yang benar itu, keduanya sama-sama beruntung karena saling memiliki satu sama lain. Tapi, kemudian Naruto pernah bilang, sekarang pun dia membatin. Berkali-kali ia sering berkata pada diri sendiri bahwa betapa beruntungnya ia bisa mendapatkan Hinata sebagai pasangan hidup. Hinata itu nyaris sempurna. Cantik dan manis itu nomor kesekian. Yang lebih utama adalah bagaimana cara dia memperlakukannya itu lebih dari sekedar perhatian. Bukan karena itu adalah sebuah konsekuensi sebab dia sudah menjadi seorang istri, tapi lebih kepada kasih sayang dan cintanya yang terlampau tulus. Jika ada kata yang lebih dari kata tulus, beritahu Naruto. Mungkin dia akan meletakkannya di sini.

Dan, Hinata pun sama. Sebenarnya, tidak perlu ditanya, sih. Kita semua tahu dari sejak Hinata kecil itu seperti apa. Hinata yang berusia tujuh belas tahun. Gadis yang bahkan lebih mementingkan si pirang itu daripada dirinya sendiri. Satu-satunya orang yang paling mengerti Naruto lebih dari yang lain. Yang selalu mendukungnya tanpa syarat. Maka dari itu, tak hanya merasa menjadi orang yang paling beruntung, barangkali hingga saat ini ia masih tak percaya bisa bersanding dengannya — sosok yang sampai beberapa tahun lalu masih seperti tak tergapai.

Melihat sepasang sejoli di depannya ini malah asyik saling menatap satu sama lain, dan sedang bertukar telepati barangkali, Hiashi dengan sengaja mengganggunya. Ia berdehem sebentar, sebelum membuyarkan lamunan keduanya.

"Ya sudah, Ayah pamit pulang, ya?"

Hinata mengerjap, buru-buru bertanya, "Eh? Sudah mau pulang? Ayah nggak duduk dulu? Biar Hinata buatkan minum."

"Nggak usah. Sudah malam juga. Besok-besok Ayah ke sini lagi." Sambil menepuk pelan bahu Naruto, ia berkata menambahkan, "Ayah percaya padamu, Nak. Jaga putriku baik-baik, ya."

Naruto mengangguk, tersenyum hangat. "Pasti, Yah."

Keduanya lantas berjalan pelan di belakang sang Ayah sampai di balik pintu, tengah mengenakan sepatu. Tapi, kemudian Naruto menawarkan, "Apa perlu saya antar sampai rumah, Yah?"

Naruto beranjak membukakan pintu.

"Nggak usah. Ayah pulang sendiri saja. Sehat-sehat ya kalian," pamitnya lagi.

Naruto dan Hinata mengangguk bersamaan. "Hati-hati, Yah."

Begitu sang Ayah tak terlihat dan mereka berdua beranjak kembali masuk ke dalam rumah, Naruto yang baru saja berbalik setelah menutup pintu, dikagetkan oleh sang istri yang tiba-tiba berkacak pinggang. Usahanya menatap tajam gagal, karena Naruto malah menganggapnya tampak menggemaskan.

"Sejak kapan Ayah datang?" tanyanya.

"Nggak tahu. Tiba-tiba Ayah sudah ada di dalam rumah saat kita pulang."

"Bohong."

"Beneran."

"Terus kenapa aku nggak dibangunkan?" Hinata memajukan bibirnya sebal. Membayangkannya saja masih selalu berhasil membuat kedua pipinya bersemu merah.

"Tadi mau aku bangunkan. Tapi, Ayah melarang," jawab Naruto jujur.

"Masa?" Hinata menatap curiga.

"Memangnya wajahku ini terlihat sekali seperti pembohong, ya?"

"Em."

"Enak saja, masa wajah setampan ini dibilang pembohong?"

"Hii!" Hinata pura-pura bergidik, percaya diri sekali seperti biasanya. Ia pun kemudian buru-buru berbalik hendak menuju ke ruang tengah.

Naruto lantas bergegas menyusul. "Sayang?"

"Apa?"

"Sini gendong."

Hinata sontak berhenti. Kepalanya berpalin, sepasang netranya meyipit waspada. "Buat apa?"

"Tadi katanya minta gendong sampai ke kamar?"

Diam-diam Hinata menyadari ada seringai di sudut bibir suaminya. Jadi, menatap takut, ia pun cepat-cepat menggeleng. Kembali bergegas melangkahkan kakinya tidak peduli.

"Kenapa jadi nggak mau?" Naruto tampak kecewa.

Kenapa, katanya? Dasar. Hinata jelas tahu suaminya ini sedang menggodanya. Pasti ada maunya juga. Akan tetapi, beberapa saat setelah tak digubris dan ditinggal pergi begitu saja, Naruto tahu-tahu mengangkat tubuhnya dari belakang. Sontak saja ia nyaris menjerit. Memberontak.

"Ini permintaan kamu sendiri, lho, sayang. Ya sudah, aku turutin."

Hinata ternganga, menatap tidak percaya. Hampir saja ia ingin menyerah karena tak ada gunanya juga ia tetap memberontak, Naruto tiba-tiba merendahkan wajahnya, lalu membisikkan sesuatu sampai-sampai membuat seluruh wajahnya memerah sempurna. "Hinata, kita jadi buat anak sekarang saja, ya. Aku sudah tidak ingin anak kembar. Kita kasih Ayah cucu Naruto Junior saja. Aku bahkan sudah menyiapkan nama. Boruto. Bagaimana menurutmu?"

.

.

Fin.

Semoga suka. Ily.