Disclaimer : All Characters belong to Masashi Kishimoto.

Author Notes: Maaf cuma mau posting cerita creepy romance tak berdasar. Hitung-hitung buat latihan menulis genre psikopet


My Universe, My Prey

Bagai bulan mengorbit pada bumi, aku akan selalu mengikutimu. Dirimu adalah semestaku. Cahaya menyilaukan, yang sanggup menyalakan kembali gairahku yang nyaris padam.

Menatap senyummu membuatku merasa senang. Setiap ekspresimu terabadikan dalam ingatanku, Mengingatmu memberikanku inspirasi dan seni, Tiap goresan yang tercipta di dari tanganku semuanya adalah gambaran dirimu.

Perasaan ini menakutkan, tapi terlalu menarik untuk tidak dipahami. Apakah ini yang namanya obsesi? Sebab aku merasa ingin mati jika tak melihatmu meski hanya satu hari.

Kali ini aku melihatmu bekerja, merangkai keindahan flora dan mengikatnya dengan pita. Di antara bunga-bunga yang mengelilingimu, Kau tetap yang terindah. Kekaguman ini berasal dari hati. Ingin aku memuji, tetapi bibirku terkunci.

Entah hari hujan mau pun terik, Aku selalu berusaha bersamamu. Mempelajari hal yang kau suka dan hal yang tidak kau suka. Terkadang dahimu berkerut ketika kau kesal dan kau juga memainkan ujung rambutmu ketika kau resah. Terpikir untuk mencium bibir merahmu yang mengerucut, tapi aku ragu kau akan menyukai kecupan dari lelaki yang menjijikkan seperti aku.

Hari sabtu aku sengaja datang lagi, memesan secangkir kopi hitam dan duduk di tempat yang sama. Tak jadi masalah bagiku meski kita tak bercengkerama. Aku merasa meski tak saling berkata kita bisa memahami. Sesekali aku melihatmu melempar pandangan padaku. Apakah kau mulai menyadari keberadaanku?

Temanku berkata aku gila, tapi mereka salah. Kau satu-satunya kewarasanku. Mengikutimu di setiap langkah dan waktu telah menjadi kebahagiaanku. Di suatu malam aku meninggalkan buket bunga di depan pintu apartemenmu. Di hari yang lain aku mengirimkan gaun yang kau inginkan.

Aku pikir itu akan membuatmu tersenyum, tetapi hatiku sakit melihat semua pemberianku terongok di tempat sampah. Benar, Kau tidak memerlukanku seperti aku membutuhkanmu.

Kau adalah tujuan hidupku. Sebuah inspirasi yang sanggup mendorongku melompat lebih tinggi. Dikala kerisauan melanda, tatapan dari matamu yang sewarna hijau laut membuatku tenang.

Perasaan ini tak bisa aku jelaskan, perasaan yang selalu mendorongku untuk bisa bersamamu. Menghirup udara yang sama, berdiri di tempat yang sama. Meski kenyataannya kau berdiri dalam terang dan aku bersembunyi dibalik bayangan.

Sepertinya kali ini kau sedang senang, berjalan dengan riang sembari berdendang, entah lagu apa yang kau nyanyikan. Aku tidak tahu. Senyummu mengembang semakin lebar meski tidak ditujukan padaku. Tanganmu menggandeng tangan lelaki itu.

Aku hanya bisa menatap meski aku resah dan merasa cemburu. Dalam hatiku aku merasa kau seharusnya menjadi milikku, tapi kau terlalu murni untuk terseret dalam kehidupanku yang kelam.

Aku tak meratapinya, karena aku tahu ini kesalahanku. Aku tak pernah pandai bicara. Cukup bagiku mengamatimu dan bahagia melihat bahagiamu, tetapi di lain waktu aku menemukanmu menangis tersedu dalam rangkaian gerbong kereta yang mulai sepi.

Mengumpulkan segenap keberanian, Aku berikan dirimu saputangan untuk menghapus sisa air mata yang tak terlihat pantas menghiasi parasmu.

Kau mendongak untuk menatapku untuk meraih saputangan itu. Hatiku berasa berguncang karena ini kali pertama kau mengucapkan terima kasih padaku.

Aku tahu alasan dibalik air matamu dan aku tentunya tak bisa tinggal diam, tanpa sepengetahuanmu aku menemukan lelaki itu dan memberinya sedikit pelajaran hingga ia tak mungkin membuatmu menangis lagi.

Aku tak membenarkan tindakan kriminalku, tapi menghajar lelaki itu memberikanku kepuasan. Aku berniat menjagamu dan melindungi dari para bedebah yang tak memiliki niat tulus padamu.

Aku mengenalmu lebih baik dari siapa pun sebab aku selalu mengamatimu, sejak hari baru dimulai hingga kau terbaring lelah di lantai.

Sepertinya kau menyadari keberadaanku. Saat kau berjalan dalam kerumunan kau akan menoleh ke belakang dengan rasa mawas yang tak bisa disembunyikan oleh ekspresimu.

Ino, Apa kau takut padaku?

Menyeberangi jalan yang sepi kau mulai berlari, tak mengidahkan hal di sekitarmu. Kau mencoba lari dariku, tetapi kau tak melihat mobil yang melaju ke arahmu.

Aku yang selalu membisu pada akhirnya memanggil namamu. Horor terbayang di mataku. Tubuh indahmu terkapar berlumuran darah. Adrenalin pun meninggi, Dengan refleks aku berlari lebih cepat mungkin. Aku yang tak percaya tuhan berdoa padanya agar aku tepat waktu.

Lebih baik aku yang celaka dari pada dirimu. Wahai semestaku.

Sekian detik terasa bak selamanya. Aku berhasil meraihmu.

"Bangsat, Kalian gila ya!" terdengar umpatan dari pengendara mobil yang berlalu.

Tubuhmu bergetar dalam pelukanku, darah mengalir dari lututmu yang mencium aspal. Maafkan aku bila mendekapmu terlalu erat, karena aku tak tahu kapan lagi bisa mencium aroma lavender dan vanila yang menguar dari tubuhmu sedekat ini.

Kau kembali menatapku dengan wajah tanpa rona yang mengalahkan piasku. Meski tak ingin melepaskan dekapanku, aku harus melakukannya karena aku adalah mimpi burukmu. Matamu menyiratkan seribu tanya, tapi bibirmu hanya sanggup melontarkan satu pertanyaan.

"Mengapa kau selalu mengikutiku?"

Mungkin Ino melihatku di cafe setiap Sabtu atau juga dia sadar terkadang kami menaiki gerbong kereta yang sama. Bisa jadi dia tanpa sengaja melihatku melintas di depan toko bunganya. Orang bodoh pun tahu sesuatu yang terjadi terlalu sering bukanlah kebetulan.

Pada akhirnya ia mengetahui sosokku yang mengintainya dari kejauhan. Apa alasanku mengikuti gadis ini? Karena aku mencintanya, tapi dari cara dia menatapku aku tahu perhatianku tidak dia butuhkah.

"Aku menyukaimu." Jawabku seadanya.

"Kau gila, Aku bahkan tak mengenalmu."

Aku mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri, tapi Ino menepisnya. Meski tertatih, Ia berusaha bangun. Air wajahnya menusuk ulu hatiku. Mengapa perasaan ini masih bisa terluka, Ino tak menyembunyikan kemarahannya yang ditujukan padaku.

"Hadiah-hadiah itu, Karangan bunga. Bahkan dana yang masuk ke rekeningku. Apa semua itu darimu? Siapa kau hingga bisa mengetahui data pribadiku? Oh, Jangan-jangan kau juga yang menabrak mantanku hingga dia cacat."

Aku hanya mampu terdiam menghadapi dia yang begitu marah.

"Aku tak bermaksud mengganggumu."

"Kalau memang niatmu begitu, Enyahlah dari hadapanku. Kau menakutkan. Jika aku melihatmu lagi aku akan memanggil polisi."

Aku tak mengejarnya lagi, tapi bukan berarti aku akan menyerah dan berhenti mengawasi. Suatu hari nanti aku yakin ia akan datang padaku.

Every breath you take, and every move you make.

Every bond you break, every step you take

I'll be watching you.

... song by The police...