"Jadi, erhm..."
Aku yang ingin mengatakan sesuatu, langsung terhenti ketika melihat suasana aneh di sekitar kami atau lebih tepatnya hal yang cukup membuatku kebingungan sendiri bagaimana menjelaskannya.
Singkat cerita, sejak lulus dari akademi semua alumni akan di tempatkan ke sebuah grup berjumlah 3 atau 4 orang di bawah didikan seorang Jounin untuk menjadi calon chuunin hingga usia 16 tahun.
'Ku pikir aku bisa hidup tenang hanya dengan membiarkan mereka yang terus mengabaikan ku selama ini'
'Tapi nyatanya'
Protagonis ini bukannya merasa senang ketika berada satu tim yang cukup baik, justru mengeluh ketika melihat 2 rekannya yang akan bersama dengannya selama 3 tahun ke depan nanti.
'Sakura Haruno, gadis cerewet yang sangat menyusahkan'
'Erhm...? Siapa namanya lagi? yang selalu murung dan bergumam tidak jelas itu?'
Setelah mendengarkan pembagian timnya, dia memutuskan kembali berjalan ke apartemen kecil dimana dia menghabiskan sisa hidupnya yang menyedihkan atau setidaknya itu yang orang selalu lihat dari dirinya
Yatim-piatu sejak lahir dan tak ada satu panti pun yang mau menerimanya membuat hidupnya harus berusaha mandiri tanpa banyak bicara sejak ia mulai menyadari posisinya.
'Ku pikir dengan menjadi orang sampingan, bisa membuatku hidup jauh dari kata 'shinobi' tapi kenyataannya justru berbanding terbalik'
keluhnya lagi sambil melihat langit-langit kamar, 14 tahun dia hidup sebagai anak yang berjuang keras demi hidupnya sendiri mau tak mau membuatnya dewasa secara mental dan keras secara pikiran. Jadi singkatnya, dia sangat cringe melihat tingkah anak-anak di sekolah akademi yang terkadang membuatnya bertanya-tanya tentang pendidikan orang tua yang mereka terima selama ini.
So, singkat cerita aku saat ini sedang mengeluh di halaman sekolah akademi dimana banyak siswa/siswi yang telah lulus dari akademi (untungnya aku berhasil lulus dengan skor nyaris gagal) Shinobi yang dimana para lulusan di harapkan bisa menjadi Shinobi.
Shinobi sendiri secara singkat adalah alat perang, jujur aku masih penasaran kenapa mereka masih memerlukan anak-anak yang di didik menjadi prajurit ketimbang memperluas sektor ekonomi.
'Untuk apa pula aku stress memikirkan hal yang bukan tanggung jawab ku?'
Saat aku berjalan menyusuri jalanan desa yang di kelilingi tembok tinggi ini, aku, seperti biasanya di berikan tatapan sinis, untuk alasan yang aku tidak mengerti sejak aku kecil atau lebih tepatnya sejak aku bayi, semua orang tidak ada yang menyukaiku.
Yah, bukan artinya aku peduli dengan hal itu.
"Paman, aku masuk"
Ucapku saat memasuki sebuah warung makanan yang menjual ramen.
"Oh! Kau sudah sampai ya? Bagaimana dengan ujian kelulusan mu?"
Tanyanya dengan ramah dan penuh senyuman tulus. Jujur, jika aku bisa merubah takdir aku ingin sekali memiliki orang tua seperti dia.
Paman penjual ramen ini, hanya satu-satunya yang bersikap baik padaku sejak aku berusia 10 tahun.
"Yah, aku nyaris gagal tahun ini. Untungnya aku bisa lulus dengan nilai pas-pasan"
"Oh! Itu bagus! Sebagai penghargaan bagaimana kalau kau mencicipi menu baruku!"
"Tentu!" Jawabku dengan antusias. "Oh, ngomong-ngomong, dimana Shiraishi nee-san?"
Aku duduk sambil bertanya dimana putri bungsu paman ini, normalnya dia ada disini membantu ayahnya berjualan tapi entah kenapa aku tidak melihatnya sejak pagi tadi.
"Shi-chan lagi sakit"
"Ha!?" aku langsung membanting meja ketika mendengar hal itu. "Bagaimana dengan keadaannya!? Apa dia kena penyakit berbahaya!? Dimana dia!?" Hujan pertanyaan aku layangkan pada paman yang saat itu juga menatapku dengan tatapan geli
"Kau terlalu khawatir, nak. Dia baik-baik saja, oh! Bagaimana kalau kau menjenguknya? Ku yakin dia pasti akan senang kau mengunjunginya?"
"Err... Paman, apa kau sadar kalau aku laki-laki, kan?"
"Jadi?"
Anehnya si paman justru bertanya balik kearahku ketika aku mempertanyakan soal moral dimana wanita remaja sendirian di rumah dalam keadaan sakit dan anak laki-laki datang ke tempatnya.
"Lagipula, pengecut sepertimu mana mungkin bakalan berani menyentuh putriku!"
Balas paman dengan hinaan yang jelas menusuk jantungku.
"Hey!"
Protes ku langsung di berhentikan ketika paman menyodorkan makanan yang telah di bungkus, entah sejak kapan.
"Sudah, jangan banyak protes, sana pergi!"
Usirnya dengan seringai geli. Aku hanya bisa mendesah panjang, niatku untuk makan justru digantikan dengan misi aneh.
"Oh ya, aku lupa bilang nak"
Aku berbalik badan, si paman kemudian tersenyum bangga kearah ku menunjukkan sosok seorang figur ayah yang sangat aku inginkan.
"Kau membuatku bangga, selamat atas kelulusan mu"
Aku langsung berbalik badan dan berlari sekencang mungkin darisana, bukan karena aku marah, tapi, aku sangat senang.
'A...aku! Akhirnya aku berhasil! Yay!'
Berusaha berteriak namun aku redam sebisa mungkin dan alhasil aku hanya berlari secepat mungkin menuju rumah si paman berusaha menceritakan semua ini pada Shiraishi Nee
Saat sampai di sebuah rumah sederhana yang terletak di pinggiran desa, langkah kakiku membawaku masuk ke dalam dimana aku berusaha menceritakan segalanya pada sosok perempuan yang sangat berarti banyak bagiku.
"..."
Di dalam kamar, aku dapat melihat seseorang yang berbaring tidur dengan pulas namun wajahnya menunjukkan ekspresi kesakitan seolah menahan sakit yang luar biasa.
'Shiraishi...'
Telapak tangan ku menyentuh dahinya dan sejenak aku memejamkan mata, 'Lord of Mercy'
Sebuah energi berwarna putih tercipta di telapak tanganku dan seketika wajah Shiraishi yang pucat perlahan kembali ke warna normal.
'Ku harap kau baik-baik saja, Nee-san'
Teknik yang aku gunakan adalah hal yang sangat tidak wajar untuk para calon Shinobi, sejak aku mengetahui ketidak mampuan aku dalam mengendalikan chakra, hal aneh justru terjadi ketika sesuatu merasuki pikiranku seolah-olah sedang mengatakan kalau aku harus mengucapkan semacam kalimat tertentu untuk menggunakan kemampuan khusus itu.
Dan, sejak aku tahu kemampuan ini sangat aneh dan tidak ada satu catatan pun mengenai hal ini, yang bisa aku lakukan hanyalah diam tak bersuara sama sekali.
"u...h..."
Perlahan kedua mata Shiraishi terbuka, dan aku langsung menyambutnya dengan senyuman.
"Selamat pagi, apa tidurmu nyenyak?"
"Eh! N..."
"Sudah tidak usah memaksakan dirimu, Nee-san"
Aku berusaha membuatnya untuk tidak tergesa-gesa bangun dari tempat tidurnya, namun sifat Shiraishi nee yang keras kepala membuatku mengalah dan membiarkan dia bangkit dari tempat tidurnya
Hingga
"eh? Badanku, sudah sehat?"
"Benarkah?!"
Tanyaku dengan gembira
.
.
.
"Sheesh, Kamu seharusnya jangan nurut dengan kata Otou-san!"
Shiraishi nee yang telah aku ceritakan tentang kelulusanku dan bagaimana ayahnya yang menyuruhku untuk kemari nampaknya membuat mood nya agak rusak.
"Tapi, karena kau sudah disini, bagaimana kalau nee-san masakkan sesuatu yang kau suka?"
"Okey!"
Aku menjawab dengan antusias, nee-san yang telah membaik dari sakitnya langsung mengenakan apron dan mulai berjalan ke dapur dengan senyuman manis terpampang jelas di wajahnya.
Shiraishi nee-san yang sekarang berumur 15 tahun mulai terlihat dewasa setiap kali aku melihatnya, dia sangat berharga bagiku bukan hanya sebagai sosok saudara yang aku cintai, melainkan sebagai lawan jenis.
Jadi, singkat cerita. Dia adalah cinta pertamaku
Tubuhnya yang mungil, di tambah rambut hitam panjang yang sangat cocok dengan fitur wajahnya, membuatku harus memikirkan hal yang lain agar tidak termakan pesonanya.
"Jadi, apa yang akademi berikan padamu setelah lulus?"
"Tidak ada, sensei di sekolah bahkan acuh tak acuh saat aku lulus" Jawabku dengan santai sambil menikmati hidangan yang di buat Shiraishi nee.
"Oh"
Kami berdua duduk bersebrangan, hal yang kadang aku impikan ketika aku menikahinya suatu saat nanti.
Yah walau itu masih sekedar mimpi.
"Hei! Tidak sopan makan sambil melamun!"
Protes Shiraishi ketika aku ketahuan melamun sambil menatap wajahnya
"Apa jangan-jangan kau sedang melamunkan aku, ya?" Goda Shiraishi dengan nada main-main.
"Ya, aku memang melamun tentang betapa cantiknya kau, Nee-san" Ucapku secara tanpa sadar kalau aku sebenarnya tidak berniat mengatakan itu secara terbuka.
"Ara?~ kau membuatku tersipu"
Canda Nee-san sambil tersenyum manis kearahku, jujur saja entah kenapa setiap kali aku memujinya dia selalu menganggap kalau aku hanya sekedar bercanda. Dia adalah cinta pertamaku dan sebagai remaja di masa pertumbuhan sudah sewajarnya aku memuji wanita yang aku sukai.
'hah... yang semangat, oh diriku'
.
.
.
"Jadi, Naru. Kapan rencananya kau akan mengikuti pelatihan pertamamu sebagai tim?"
Tanya Shiraishi saat dia mencuci piring, aku yang duduk melamun menatap jendela mulai menjawab seadanya.
"Mungkin sore ini, atau mungkin besok"
"Oh? Apa perlu aku siapkan bekal untukmu?"
"HM... mungkin tidak, lagipula kami hanya melakukan pertemuan, perkenalan atau sejenisnya lah"
"Begitu ya... Jadi, artinya kau bisa makan malam bersama disini kan?"
"Oh? Apa Oji-san bakal pulang cepat malam ini, nee-san. Bukannya biasanya dia selalu pulang larut karena harus belanja lagi ya?"
Shiraishi kemudian tersenyum menggoda kearahku. "Hmmm~ Apa artinya kau tega membiarkan nee-san makan sendirian di rumah ya? Oh, betapa sedihnya nee-san, sendirian sampai pagi tanpa ada siapapun untuk makan bersama malam ini"
Shiraishi meletakkan telapak tangannya di wajah sambil membuat nada sedih yang sontak membuatku terkaget-kaget akibat jawaban yang di luar prediksi ku.
'Ehh! Apa artinya... d...dia mengajakku makan sebagai c...calon...'
Tanpa ku sadari Nee-san mendekatiku dan mulai membisikkan sesuatu yang membuatku nyaris terjatuh dari kursiku.
"Ara... Apa kau baru saja membayangkan sesuatu yang nakal?"
"Eeehhh!"
Lagi-lagi aku di permainkan oleh Nee-san bagaikan seorang anak-anak yang selalu di jahili oleh pembuli yang kejam, namun senyuman di wajahnya membuatku sedikit merasa kalau aku menyukai sikapnya yang sangat aneh itu.
...
[The President's Konohagakure Office, Sakagawa Hirohito]
"Tuan Hokage"
Di dalam kantor, seseorang dengan pakaian taktikal mulai masuk ke dalam ruangan.
"Apa yang bisa aku bantu, Jounin Satu Kakashi Hatake"
"Saya ingin melaporkan tentang pembentukan tim yang telah tersusun, mengenai susunan yang saya terima, saya tidak ada komplain sama sekali. Hanya saja apakah anda yakin mengenai keputusan anda tentang menempatkan anak itu ke tim ini?"
"Dengan anak itu yang kau maksud itu, pasti kau ingin membahas soal persoalan Naruto Uzumaki, benar bukan?"
Kakashi hanya diam mengangguk sebagai jawaban.
Pria berusia 48 tahun yang menjabat sebagai pimpinan tertinggi di wilayah absolut Konoha, mulai memegang dagunya.
"Memang benar jika keputusan menempatkan anak itu ke tim mu adalah hal yang cukup menyusahkan, namun kau harus ingat. Anak itu memiliki potensi jika kau didik dengan benar"
"Darimana keyakinan anda itu, Tuan Presiden?"
"Kau bisa bilang, instingku. Terlebih lagi situasi anak itu sebagai beast holder membuat kartu As kita setidaknya harus lebih mencolok, walau aku harus bilang, anak itu sedikit aneh untuk anak seusianya"
"Aneh?"
"Ya, anak itu sejak kecil tak pernah di terima di panti manapun, dan harus hidup sendirian sejak usia 5 tahun. (Hirohito kemudian mengambil berkas dari dalam lacinya dan menunjukkan ke Kakashi) Sejak berada di bawah asuhan keluarga Takeo Hideoshi, dia setidaknya menunjukkan sikap yang sedikit lebih dewasa, atau bisa ku bilang. Terlalu dewasa untuk anak seumurannya"
"Anda sepertinya sangat peduli tentang anak itu"
Sakagawa hanya mendesah ketika mendengar hal itu. "Bukan artinya aku pilih kasih, hanya saja aku sedikit khawatir soal dia, alasan lainnya aku menempatkan anak itu ke tim mu karena persoalan dari Satsuke Uchiha yang memiliki persoalan khusus yang harus kau jaga ketat, sebaiknya kau jangan sampai melupakan soal kalau si Uchiha itu adalah perempuan, JANGAN sampai siapapun itu tahu soal fakta itu. Apa kau mengerti"
Penekanan soal fakta tentang remaja bernama Satsuke itu sedikit membuat Kakashi terganggu, hal itu karena dia adalah Uchiha terakhir dari klannya dan jika Dewan Daerah Nasional mengetahui fakta ini, ini bisa membuat status Satsuke tak lebih selain "hewan" untuk di budi dayakan dengan segala cara apapun.
Dewan Daerah Nasional, terdiri dari 15 perwakilan dari 15 provinsi di Negara Api yang dipilih melalui cara langsung dan penunjukkan. Dari 15 perwakilan, 3 diantaranya di tunjuk langsung oleh pimpinan negara Api, 2 lainnya di tunjuk oleh Hokage dan sisanya melalui voting di setiap daerah. Hal ini di berlakukan demi mencegah terjadinya korupsi dan penyelewengan kekuasaan mengingat posisi Hokage nyaris setara dengan pimpinan negara api maka di butuhkan dewan absolute untuk menetapkan peraturan dan menegakkan hukum terhadap pemimpin yang semena-mena.
Hal ini di berlakukan sejak berakhirnya perang dunia 2 yang sempat tersulut akibat perebutan kekuasaan dan perlombaan senjata secara masif.
Saat ini Konohagakure, menetapkan sistem demokrasi dimana pimpinan di pilih secara elektoral.
"Jadi, kekhawatiran anda kalau Uchiha itu akan menjadi ternak dari dewan akan kenyataan, bukan begitu?"
"Kata-kata mu cukup tajam untuk seseorang yang menjabat sebagai Jounin Satu" Puji Hokage pada Kakashi yang jelas menunjukkan ketidaksukaannya pada Dewan.
"Yah, seperti itulah. Hokage"
"Sudahlah, ini bukan permasalahan yang harus kau pikirkan. Untuk sementara lakukan yang kau bisa dan tuntun mereka ke jalan yang baik, aku yakin kau pasti bisa"
"Darimana anda yakin?"
"... entahlah, mungkin firasatku"
Setelah pertemuan dengan Mr. Presiden, Kakashi kemudian berjalan menjauh menuju tempat pertemuan tim pertamanya, hal yang saat ini mengganggu pikirannya adalah bagaimana caranya mendidik mereka?
'Satu anak bermasalah dengan kelakuannya, dan satu anak yang super misterius'
'Ini mungkin akan menarik'
..
...
Struktural Militer di Negara Api, terdiri dari
Unit Regimen Infanteri yang berbasiskan prajurit darat dengan persenjataan Shinobi yang telah di patenkan
Unit Jounin, yang berbasiskan standar tempur Ninja dimana misi utama mereka adalah menjadi terdepan di pertempuran dengan kekuatan Chakra sebagai senjata utama.
Unit Intelijen, terdiri dari para Shinobi yang di khususkan dalam misi pengumpulan informasi menggunakan kemampuan khusus yang mayoritas dari para pengguna Byakugan dari klan Hyuuga, dan sebagian kecil dari klan lainnya.
Unit Long Bowman, adalah unit yang paling krusial dimana mereka bertugas sebagai pembantu garis depan dengan Ninjutsu jarak jauh sehingga pertempuran bisa menjadi lebih efektif.
Mechanized Regiment, adalah unit yang bekerja dalam menggunakan dan memobilisasi para Infantri ke garis terdepan dengan menggunakan inovasi seperti truk.
Research and Development Unit, seperti namanya, mereka berkhususkan dalam mengembangkan persenjataan dan perlengkapan untuk setiap prajurit.
Kakashi Hatake sendiri berada di posisi Jounin dengan status peringkat Jounin Satu dimana dia memiliki tanggung jawab untuk memimpin satu Batalyon Infanteri Khusus untuk bertugas dalam misi pengintaian.
Dengan prestasi misi yang mencapai 80 persen kesusksesan, dia di berkahi Golden Star sebagai penghargaan utama atas keberaniannya dalam melakukan misi kemanusiaan di Negara Hujan dimana dia berhasil menyelamatkan 2500 pengungsi dari invasi militer Negara Pasir.
Akibat melanggar hukum perang yang telah di tetapkan oleh 7 Negara, atas invasi sepihak yang di lakukan Negara Pasir, Konohagakure melakukan blokade Impor kepada mereka sebagai sanksi tegas terhadap aksi biadap tersebut.
Hingga kini layangan ultimatum dari Konohagakure no Sato masih belum di gubris oleh pimpinan Negara Pasir maupun dari Kage itu sendiri.
'Situasi yang merumitkan'
Pikir ku ketika melihat biodata dari calon guruku yang ternyata memiliki prestasi tersendiri di kesatuan tempur.
Yah, bukan artinya aku K.E.P.O (knowing every particular object) hanya saja aku sedikit heran dengan latar belakang misterius sensei ini.
Yap, saat ini aku sampai di tempat pertemuan namun karena aku terlalu cepat sampai jadinya aku harus menunggu sambil membaca buku ini selama satu jam berikutnya.
Apa yang menarik perhatianku adalah misi dimana Kakashi Hatake di tugaskan di wilayah terjauh dimana dia melakukan misi penyerangan terhadap markas Negara Besi dimana mereka secara sengaja menyerang wilayah Negara Batu. Pertarungan antara 400 Infanteri melawan 1700 Shinobi Negara batu membuahkan kemenangan dengan total korban jiwa dari Konoha/Negara Api hanya berkisar 13 orang dan 179 lainnya luka-luka.
'Man, Dia luar biasa'
Yah memang kemenangan itu pun karena Konoha membawa Unit Long Bowman sebagai pondasi awal penyerangan dibantu unit intelijen yang kuat menjadikan kemenangan mutlak pun sudah terlihat di depan mata.
"Sepertinya kau sangat tertarik membaca bio orang sambil menunggu lama, ya?"
Sebuah suara mengganggu imajinasiku, tepat saat aku menoleh seorang pria dengan pakaian taktikal terlihat duduk dengan santai di dahan pohon.
'Sejak kapan dia disini?'
Aku sama sekali tidak menyadari kalau dia ada disini.
"Jadi, apa sebegitu tertariknya kau dengan masa laluku, anak muda?"
Canda pria bertopeng dengan aura misterius menyelimuti dirinya. Cukup masuk akal kenapa dia disebut sebagai kabut/mist mengingat rambutnya yang berwarna perak dan bagaimana handalnya dia menghilangkan hawa keberadaan dirinya membuatku tak ragu akan kemampuan pria ini.
"Tidak ada, apa salah mengetahui sedikit tentang guru yang akan membimbing ku tiga tahun kedepan sebelum masuk ke pendidikan Shinobi lanjut?"
"Oh? Apa itu jawaban sebenarnya dari hatimu atau kau sekedar hanya mengatakan itu karena terdengar keren semata?"
Balas Sensei dengan nada main-main namun masih terdengar formal, apa mungkin dia menjawab ku seperti itu karena caraku berbicara kearahnya yang formal?
"... erhm... jadi, Apa itu artinya hanya kita berdua disini sampai yang lain sampai?"
"Tidak juga, lagian mungkin mereka sampai sebentar lagi"
Oh jadi benar kalau dia benar-benar mengikuti caraku berbicara kearahnya, apa dia melakukan itu biar aku terbiasa berbicara akrab dengannya?
Melihat tidak ada topik yang ingin aku bicarakan lagi, aku kembali terfokus ke beberapa artikel yang di terbitkan kemarin sambil menunggu dua lainnya sampai.
Dan yang benar saja, tak lama mereka berdua sampai.
"... Oh, akhirnya kalian sampai"
"Hey jaga mulutmu"
Jawaban kasar adalah hal pertama yang ku terima saat menyambut dua orang yang tiba, satunya adalah seorang gadis muda dengan rambut merah muda dan satunya lagi seorang laki-laki murung.
'erhm namanya siapa lagi?'
"Apa ada sesuatu di wajahku?"
Tanya si rambut hitam dengan tatapan sinis ketika aku ketahuan melihat kearahnya.
"Sudahlah, bisa kita mulai perkenalan ini dan kita akhiri pertemuan ini secepatnya?"
Jawab Kakashi dengan nada malas.
...
Hari ini berlalu dengan cukup normal, perkenalan dengan anggota member dari team 3, Sakura Haruno, Sasuke Uchiha, Naruto Uzumaki. Ketiganya resmi menjadi member team 3, penugasan tentang apa yang akan mereka lakukan akan di instruksikan besok, jadi untuk sekarang mereka bisa langsung pulang.
Namun berbeda cerita untuk remaja satu ini yang memilih untuk tidak pulang, karena siapa juga yang akan menunggunya di rumah kecil yang ia sudah tinggali selama lebih dari 7 tahun sejak keluar dari panti asuhan di usia 6 tahun?
Berjalan menyusuri jalanan kota Konohagakure yang perlahan mulai di sinari lampu jalanan mengingat sebentar lagi malam, dia melihat banyak keluarga yang berkumpul dan tertawa bahagia dengan anggota keluarganya masing-masing di rumah yang hangat, sebuah hal yang terkadang membuatnya iri namun bersyukur di saat yang sama, berkat situasinya yang tidak menyenangkan ini setidaknya dia bisa lebih dewasa ketimbang anak-anak lain pada umumnya.
Hingga
"Hem? Sedang apa dia disitu?"
Tepat saat dia akan belok ke persimpangan, sesosok remaja lain yang menjadi rekan member di team 3 terlihat di matanya
Dia adalah "laki-laki" dengan rambut hitam cukup panjang dengan fitur wajah sedikit "Handsome" dan "Cantik" ? disaat yang sama
Terkadang dia bertanya-tanya kenapa dia tak bisa memiliki wajah sepertinya, dan lagi itu bukanlah sesuatu yang ia pedulikan.
"Yo"
Sapa Naruto pada laki-laki yang tengah berdiri di sebuah toko pakaian, apa dia tertarik dengan baju yang ada di toko ini? pikirnya sambil melirik ke arah pandangan di dalam toko namun
"Tcih, dasar pengganggu"
Celoteh Sasuke dengan nada sinis ketika sebuah gangguan berhasil merusak suasana tenangnya.
"Ho? Apa kau tertarik dengan baju perempuan ya? Tak pernah aku tahu kalau kau dengan gaya baju seperti itu"
Candanya dengan ringan berusaha membuat si rambut hitam ini setidaknya jangan menghina dirinya namun candaan itu justru berbalik melawannya.
"Itu terserah ku, apa urusannya denganmu? Apa serangga sepertimu sebegitu rendahnya sampai-sampai harus mengurusi urusan orang lain?"
Kedutan mulai terlihat di dahinya ketika mendengar jawaban sangat sadis dari si laki-laki rambut hitam ini. 'Dasar sialan kau!' emosinya nyaris keluar dari mulutnya ketika melihat wajah datar si laki-laki bernama Sasuke ini.
"Apa salah kalau aku menyapa rekan satu tim?"
Balasnya dengan menahan marah.
"Apa aku terlihat peduli? Mau kita satu tim atau satu manusiapun, aku tak peduli dengan kalian semua. Jika serangga sepertimu tidak mau menyingkir dari mataku lebih baik kau cari kubangan lumpur lain sana"
(whops)
"Hey! Kau mulai tak sopan kawan!" Sambil menepuk bahunya Sasuke dengan kedua tangannya.
"Eep!"
"Kalau kau seperti itu terus, tak heran kau akan jadi penyendiri selamanya bodoh! Jadi jaga bicaramu kalau kau tak mau mendapatkan masalah! Dunia ini bukan sekedar dunia untukmu, apa kau mengerti!"
Naruto tak menyadari kalau wajah mereka berdua terlalu dekat dan cukup aneh untuk dia yang juga tak menyadari kalau wajah Sasuke mulai terlihat rona kemerahan ketika wajah keduanya sangatlah dekat satu sama lain.
"Hey! Jawab aku, apa kau bisa bicara hah!"
"E...I... menyingkir dariku!"
Sasuke langsung menyingkirkan atau lebih tepatnya mendorong tubuhnya menjauh dari dirinya.
"A...apa ..apaan kau ini! Apa kau tak punya malu!"
"Hah?! Apa maksudmu! Bukannya kau duluan yang mencari masalah!"
Bentak balik Naruto dengan nada cukup tinggi, keduanya saling adu tatapan marah satu sama lain untuk beberapa menit kemudia sampai,
"S...sudahlah jangan ganggu aku, dasar serangga!"
Sasuke menjauh darinya dengan berlari cepat bahkan tak sampai beberapa detik sosoknya hilang di keramaian meninggalkan Naruto yang masih cukup marah dengan sikapnya tadi
"Dia itu ... Dasar menyebalkan, kenapa sih aku harus satu partner dengan orang seperti dia"
...
"Hoho... Sepertinya ini akan menarik untuk sementara waktu"
"... Kakashi, wajahmu terlihat mencurigakan, bro"
"Yah, bukankah sudah wajar untukku menikmati situasi ini, bukan begitu?"
"Yah, terserah lah. Lagian kenapa pula kau memanggilku hanya untuk melihat dua bocah yang saling bertengkar?"
"Bukan itu alasan kenapa aku memanggil mu kesini, Obito"
"Lalu?"
"Lihat ini"
Kakashi mengambil sesuatu dari sakunya dan memberikan selembar kertas itu ke Obito.
Sontak mata Obito langsung terbuka lebar ketika melihat apa yang tertulis disana.
"Apa kau yakin soal ini?"
"Berdasarkan hasil observasi tim intelijen, ini sangat mungkin akan terjadi. Jadi aku minta padamu untuk siagakan Jounin Team 9 untuk garis terdepan, kita tak bisa membiarkan hal ini terjadi"
... Obito terdiam sejenak sambil menyimpan kertas itu ke dalam sakunya.
"Aku mengerti, kalau begitu aku siapkan tim dan jika ini terbukti benar aku akan laporkan balik situasinya"
"Aku mengandalkan mu kawan"
"Ok"
(Kediaman Takeo Hideoshi)
"Aku pulang" Ucap Naru ketika membuka pintu rumah, rumah paman pembuat ramen yang bernama Takeo itu sudah menjadi rumah keduanya sejak dia resmi di adopsi oleh pria cerai mati itu
"Ah? Selamat datang Naru~"
Sambutan hangat dari wanita yang sangat ia sukai sejak lama membuat rasa lelahnya hilang seketika.
"Shiraishi Nee, apa kau sudah sehat?"
"Hum... Itu mungkin berkat kau yang mengunjungi ku~"
Goda Shiraishi, Naruto hanya menggaruk rambut belakanganya tersipu malu karena senyuman dari Shiraishi terlalu menyilaukan untuk kesehatan jiwanya.
Yah jujur saja dia sendiri yang sudah hidup selama lebih dari 7 tahun bersama dengan Takeo Hideoshi dan Putrinya Shiraishi Hideoshi, tetap saja perasaan dimana dia melihat Shiraishi sebagai wanita bukan sebagai saudara kandung sangatlah mungkin terjadi.
"Uhm, Apa paman benar-benar pulang larut malam ini, Shiraishi Nee?"
"Iya~ Apa kau tidak senang bisa berduaan dengan nee-san?"
Goda Shiraishi lagi dengan nada main-main, Shiraishi mungkin melihatnya tak lebih sebagai saudara laki-laki kecil yang selalu di manja oleh kakak perempuannya,atau itulah yang sedang ia pikirkan saat ini ketika melihat betapa agresifnya Shiraishi menggodanya.
Saat Shiraishi mulai meletakkan makanan yang sudah selesai dia masak, Shiraishi mulai duduk dan membuka topik pembicaraan lain.
"Jadi, bagaimana dengan pertemuan tim barumu?"
Dia hanya mengangkat bahu dengan wajah pasrah ketika membahas soal tim yang akan bersama dengan dirinya selama 3 tahun berikutnya
"Tidak ada yang spesial, satu perempuan berisik dan satu laki-laki pemurung yang suka bicara dengan kasar"
"Oh?~ sepertinya tim mu menarik ya?"
"Apanya yang menarik, aku malah meringis malahan dibuat mereka berdua. Lagian kenapa juga aku di tempatkan di tim yang nampaknya akan membuat onar?"
"Eh?" Shiraishi melirik kearahnya dengan wajah sedikit terkejut. "Bukankah kamu juga pembuat onar ya, Naru~"
"..."
Kali ini Naruto yang dibuat malu ketika serangan itu tepat mengenainya, ya benar sekali, walau dia selama sekolah, dia jarang sekali berbuat masalah namun sekali membuat masalah satu sekolah di buat panik.
Seperti kejadian 3 tahun lalu dimana dia secara sengaja menarik pin kebakaran hanya karena bosan dengan pelajaran ninjutsu, melarikan diri saat pelajaran melempar shuriken, merubah boneka target dengan patung batu yang di tempelkan wajah Presiden Sakagawa Hirohito dengan alasan dia tidak suka dengan kebijakan dimana pendidikan sekolah terlalu fokus dengan hal yang tidak penting dan beberapa hal lagi yang nyaris membuatnya di keluarkan oleh pihak sekolah.
"L...lagian kenapa pula sekolah terlalu mendidik anak-anak untuk pelajaran bela diri! Begitu banyaknya permasalahan di desa ini bukannya lebih baik kalau Presiden justru memfokuskan pendidikan anak ke literasi, politik atau perekonomian!" Protesnya dengan kesal ketika mengingat kembali kejadian dimana dia mengganti boneka target dengan patung di tempelkan wajah Presiden.
"Ho? Apa artinya Naru sekarang peduli dengan keadaan desa ya?"
"... Tidak juga"
Sebuah elusan lembut terasa di kepalanya ketika dia menggumam kata-kata itu, saat ia menoleh Shiraishi menatapnya dengan tersenyum.
"Naru~ Ketimbang kamu memikirkan hal seperti itu sebaiknya kamu jadilah orang yang hebat agar bisa menjadi orang yang nee-san bisa banggakan suatu saat nanti"
"..."
'...aku ... cuma ingin bersama denganmu' itulah yang ingin di katakan olehnya namun tertahan seketika saat melihat wajah Shiraishi.
Keduanya kembali makan malam dalam damai hingga larut malam pun tiba, Naruto hanya terdiam menatap langit-langit kamar di rumah Paman Takeo Hideoshi.
Kata-kata Shiraishi kembali tergiang di kepalanya, 'Bagaimana caranya aku bisa membuatmu bangga denganku, Shiraishi Nee'
Sebuah kilasan masa lalu kembali tergiang lagi di ingatannya, hari dimana dia melihat Shiraishi menangis dan dia tak bisa berbuat apapun.
Hari dimana Ibu Shiraishi meninggal dan kala itu aku masih genap satu tahun di angkat oleh keluarga Hideoshi.
"Aku tak ingin melihatnya kecewa, tapi..."
Tidak memiliki bakat dalam Chakra bahkan dalam ilmu ninja, dia bisa di bilang di bawah rata-rata. Hal yang bisa ia banggakan hanyalah kekuatan misterius yang keluar saat dia mengucapkan kata-kata tertentu yang menyiratkan sebuah instruksi.
Tak ada penjelasan apapun tentang kekuatan ini, jadi ia hanya berasumsi kalau ini hanyalah sebuah kekuatan yang tercipta dari ketidakmampuan dirinya dalam membentuk energi chakra.
...
-0-
Seolah bagaikan berada di dalam kabut yang sangat tebal, seorang siluet manusia berjalan menyusuri jalanan hutan yang di sinari matahari.
Rawa yang terbentang di matanya menghipnotis sang pengelana dalam perjalanannya mencari jalan keluar dari hutan tanpa arah.
Mimpi,
itulah yang di katakan oleh sang pengelana tersebut ketika menyusuri hutan yang di tutupi kabut.
Di kejauhan dia mendengar sebuah nyanyian
Nanyian yang merdu nan sejuk membawa kakinya semakin mendekati sumber suara itu berada.
Nyanyian yang di bawa oleh hembusan angin lembut membuat sang pengelana merinding namun itu tak menghentikan sang pengelana menjelajahi hutan sembari mencari sumber nyanyian yang menggema di hutan itu
Terombang-ambing di daratan tanpa arah, mencari tujuan, mencari jati dirinya, sang pengelana terus berjalan hingga di kejauhan dia melihat sesuatu
Sesosok manusia berjenis kelamin wanita bernyanyi di bawah pohon, suaranya yang merdu itu membuat kabut terasa sangat dingin namun nyaman di saat yang sama.
Sang pengelana mendekati sang penyanyi itu sembari mencari tahu siapa dan dimana ini.
"Sang pengelana, ribuan hingga jutaan yang telah terlahir di dunia ini, walaupun setiap satu pengelana yang hadir, hingga setiap melodi yang di nyanyikan untuk mereka~.
Kenyataan bahwa mereka ada walau hanyut dalam waktu, hilang di telan legenda, bahkan menghilang karena takdir, tetapi kisah mereka akan tetap terukir dalam khurafat ini~"
Di akhir melodi itu, sang penyanyi menoleh kearah sang pengelana sembari tersenyum.
Sang penyanyi memiliki rambut sangat panjang berwarnakan perak yang mengingatkan sang pengelana akan seseorang yang ia kenal.
Wajahnya yang cantik bagaikan putri lengkap dengan pakaian khas bangsawan, melengkapi ciri dari putri di dalam sebuah kisah putri di sebuah kerajaan.
"Sercecah cahaya yang tertinggal, nan menawan di alam ini, membawakan ku pada perasaan yang telah ku genggam selama ini"
Bagaikan sebuah lantunan ayat suci yang telah mensucikan jiwanya, sang pengelana terdiam di tempatnya melihat dan mengagumi sang penyanyi itu
Sang penyanyi berdiri dan berjalan mendekat kearah sang pengelana.
"walaupun setiap satu pengelana yang hadir, hingga setiap melodi yang di nyanyikan untuk mereka~.
Kenyataan bahwa mereka ada walau hanyut dalam waktu, hilang di telan legenda, bahkan menghilang karena takdir, tetapi kisah mereka akan tetap terukir dalam khurafat ini"
Sang pengelana bagaikan membatu ketika sang penyanyi itu menyentuh tangannya.
"Setiap satu dari pengelana yang hadir~"
"Setiap nama yang terukir di dalam dongeng yang telah di ceritakan"
"Setiap jutaan mereka yang datang dan pergi"
"Itu takkan merubah bahwa~ Aku tetap ada bersama dengan mereka"
"Di dalam kisah ini"
Kabut perlahan mulai menipis dan sosok sang penyanyi mulai terlihat tersenyum ketika sang penyanyi mencium tangan sang pengelana.
'Aku kenal'
Itulah yang sang pengelana katakan dalam pikirannya.
'Aku pernah tahu kamu'
'...'
Mimpi itu menghanyutkan dirinya bersama dengan sang kabut hingga sinar matahari yang membutakan pun menyambangi keduanya.
"Kisah sang pengelana suci ke-9, hamba akan melayani dan menyanyikan lantunan lagu untuk mengenang anda, satu dari jutaan lainnya yang telah datang dan pergi"
Tak di ketahui kemana kisah sang pengelana akan membawanya, apakah dia akan terombang-ambing oleh takdir, ataukah dia akan merubah takdir itu, tak ada yang tahu.
Hanya sang pengelana yang mampu membawa dirinya menyusuri hutan yang di penuhi kabut itu.
-0-
