"walaupun setiap satu pengelana yang hadir, hingga setiap melodi yang di nyanyikan untuk mereka~.

Kenyataan bahwa mereka ada walau hanyut dalam waktu, hilang di telan legenda, bahkan menghilang karena takdir, tetapi kisah mereka akan tetap terukir dalam khurafat ini"

Sang pengelana bagaikan membatu ketika sang penyanyi itu menyentuh tangannya.

"Setiap satu dari pengelana yang hadir~"

"Setiap nama yang terukir di dalam dongeng yang telah di ceritakan"

"Setiap jutaan mereka yang datang dan pergi"

"Itu takkan merubah bahwa~ Aku tetap ada bersama dengan mereka"

"Di dalam kisah ini"

Kabut perlahan mulai menipis dan sosok sang penyanyi mulai terlihat tersenyum ketika sang penyanyi mencium tangan sang pengelana.

Lantunan syair yang lembut itu membuat setiap jiwa yang mendengarkan terdiam di tempat bagaikan kehilangan kata-kata akan nyanyian sang penyair tersebut

'Pengelana ke-9, hamba akan ...'

Sinar yang sangat terang membutakan mata mulai membuatnya terbangun dari mimpi itu dan mimpi itu terasa hingga ke jiwa terdalamnya

'Hah...hah...'

Dia terengah-engah bagaikan habis berlari dari sesuatu, pikirannya yang kacau membawanya ke dalam kebingungannya sendiri.

'Mimpi apa itu?'

Dia bertanya-tanya,

'Kenapa mimpi itu terasa sangat nyata?'

Dia tak tahu.

Pagi hari yang sangat damai itu perlahan membangunkannya dari angan yang aneh

Dia pun langsung bangkit dari tempat tidur dan bersiap tanpa memperdulikan mimpi yang dia alami.

-0-

Tak ada yang perlu aku khawatirkan.

Aku berusaha menyemangati diriku sendiri, hari ini adalah hari yang penting dan aku harus bisa membuat Shiraishi nee bangga!

"Fufufu... Kenapa kau sangat bersemangat, Naru? Apa karena Nee-san?"

Shiraishi Hideoshi, Putri sulung dari Takeo Hideoshi tersenyum menggoda kearahku dengan pakaian yang dilapisi apron. Oh, aku bisa mati dibuat keimutan dia!

Berusaha menahan agar ekspresi anehku tak ketahuan, aku menatapnya "Yah, hari ini adalah penugasan kami. Mana mungkin aku lesu! Aku ingin kau bangga padaku, Nee-san"

Ucapku dengan penuh kebanggaan.

"Ara~ Kalau begitu, Nee-san akan buatkan bekal yang kau suka untuk hari ini"

"Terimakasih"

Aku duduk dalam diam memperhatikan Shiraishi Nee yang memasakkan bekal untukku, dan melihatnya yang tersenyum gembira membuat jantungku berdegup kencang.

Dengan cepat aku memalingkan wajahku ketika beberapa pikiran kotorku mulai merusak pemandangan Shiraishi Nee yang sangat indah ini.

'... Pengawasan membangun jembatan?'

Tugas kali ini cukup aneh, Kakashi Hatake sebagai pemimpin Squad bilang pada kami kalau misi ini diberikan langsung dari Presiden sendiri dan kalau aku ingat dengan benar, bukankah tempat itu cukup berbahaya?

Angka kriminal yang terbilang cukup tinggi serta reputasi buruk dari pimpinan desa kecil itu membuat lokasi itu di cap merah oleh Konoha.

'Entah lah'

Tak lama Shiraishi Nee datang ke meja membawa bekal yang sudah siap ia masak, aku langsung mengambilnya dan melangkah keluar dari rumah.

Namun sebelum aku pamit pergi Shiraishi tersenyum sangat cerah kearahku.

"Naru... Berhati-hatilah di jalan"

"Tentu! Terima kasih Shiraishi Nee, aku berangkat!"

Aku berlari dengan penuh semangat berusaha untuk membuat Shiraishi Nee bangga. Aku yakin kali ini semua akan berjalan dengan baik tak peduli jika rintangan di depan mataku terasa berat sekalipun.

Seperginya dia dari rumah, Shiraishi masih berdiri di depan pintu keluar seolah ia masih merasakan kalau hawa sang remaja itu masih disana.

'Kami-sama, tolong jagalah dia'

Doa Shiraishi di dalam batinnya ketika memikirkan penugasan yang akan di terima oleh remaja yang sangat dia pedulikan.

'Hah...' Shiraishi menghela nafasnya ketika membaringkan wajah di meja.

'Belakangan ini Naru lebih ceria, apa mungkin karena rekannya itu perempuan yang dia sukai?'

'Guuuuu' Entah kenapa jauh di dalam hatinya ia terasa sangat sakit ketika membayangkan hal itu.

-0-

Cuaca yang sangat cerah seolah menjadi pengiring untuk manusia yang sedang menjalani aktivitas yang akan mereka jalani.

Di jalanan, sebuah gerobak yang di tarik oleh kuda, empat orang penumpangnya diam tak bersuara seolah-olah mereka tak memperdulikan satu sama lain.

Remaja berambut hitam duduk di sudut dengan wajah menunduk seolah sedang tertidur, remaja dengan rambut merah muda juga sepertinya memilih untuk tidak bersuara, ketua skuad juga diam membaca bukunya dan terakhir remaja pirang yang sejak tadi menatap keluar gerobak membiarkan pemandangan perjalanan mereka menjadi hiburan untuk pikirannya yang tak bisa tenang.

'Final Stand'

Dia menggumamkan kata itu setelah membaca sejarah yang tak ingin ia ketahui.

Sekarang pikirannya tak bisa tenang, kegelisahan membuatnya juga tak bisa tidur walau perjalanan masih ada 5 jam lagi.

Sudut matanya tertuju ke seorang pria dengan rambut perak mengenakan pakaian taktikal yang nampaknya mulai terlihat usang.

Seolah menjadi penanda bahwa itu adalah bukti pengabdiannya.

'Hah... inilah kenapa aku benci ide perang di dunia ini'

"..."

-0-

"My lord"

Seseorang dengan pakaian taktikal hijau masuk ke dalam ruangan Lord of Fire yang merupakan pemimpin negara api dengan penuh hormat.

"Baguslah kau sudah tiba, berdirilah ada yang ingin aku sampaikan"

"Yes, my lord"

Dia berdiri dari berlututnya dan mulai mengarahkan wajahnya menatap sang Lord.

"Jounin Satu, Issei Hyoudo, dari kesatuan 3rd Infantry Regiment. Saya punya tugas untuk anda"

"..."

"Saya ingin anda pergi ke lokasi pembangunan jembatan, anda di berikan izin untuk menyerang siapapun yang akan membahayakan nyawa para murid-murid yang tengah menjalankan misi mereka. Jadilah bayangan untuk mereka selama misi ini, apa kau mengerti?"

"Yes, My Lord"

"Bagus, kau di berikan ijin untuk pergi"

...

Jauh di Barat, saat gerobak telah sampai di tempat tujuan mereka, empat orang itu mulai melihat-lihat sekeliling.

Di depan mata mereka sebuah pintu masuk ke jembatan besr yang tengah di bangun terlihat tak jauh dari tempat mereka berada.

"Ayo, seseorang yang akan menjadi klien kita menunggu disana"

Ucap Kakashi sambil menuntun mereka menuju lokasi pertemuan.

'Semoga saja tak ada yang buruk terjadi' Pikir Kakashi ketika melihat suasana berkabut yang menyelimuti sekeliling mereka.

Desa yang terletak tak jauh dari lokasi jembatan ini sering di selimuti kabut karena lokasinya yang berdekatan dengan gunung api bawah laut.

Saat mereka sampai di depan pintu masuk jembatan, seorang pria tua yang sepertinya telah menunggu mereka sejak tadi datang menghampiri dengan senyuman lebar.

"Pasti kalian klien yang di kirim itu ya? Selamat datang disini!"

Ucapnya dengan penuh semangat

"ugh, orang tua aneh" Celoteh Sakura ketika melihat orang tua itu yang sepertinya membuatnya risih.

"Hei, kau tak sopan" Balas Naruto dengan retorika.

"Jadi? Kenapa pula kau yang harus menegurku!"

"..." Dia memilih tak menjawab karena dia tahu, membalas perkataannya hanya akan berujung perselisihan. Sejak awal dia juga sudah tahu kalau tim ini adalah susunan tim dengan sekumpulan orang pembuat onar.

'Sakura Haruno, tak ada yang tak kenal dengan si rambut merah muda dengan tingkat amarah yang tinggi itu'

"Salam kenal, Saya Satsuke Uchiha, kami datang atas permintaan dari Presiden Konohagakure"

"Oh, kau sangat sopan sekali untuk anak seusiamu!"

Kakashi hanya bisa tersenyum diam di balik maskernya ketika melihat si rambut hitam yang entah bagaimana bisa bersikap sopan seperti itu.

Dua lainnya hanya melirik ke Satsuke seolah-olah tak percaya kalau si pendiam itu bisa bersikap sopan.

"Saya Jounin Satu Kakashi Hatake, ketua dari Skuad ini. Jadi bisakah kita lanjutkan pembicaraan kita tentang status pembangunan ini di tempat lain?"

"Oh, tentu saja, maaf jika membuat kalian tidak nyaman dengan suasana ini"

Sambil menunjuk kearah banyak orang yang sedang mengerjakan Jembatan ini.

Mereka pun di bawa menuju rumah sang pria tua itu, namun sang remaja pirang memilih untuk melihat-lihat sekeliling yang menarik perhatiannya sejak tadi.

"Sebaiknya kau jangan membuat masalah, Naruto Uzumaki"

Dipanggil dengan nama lengkapnya membuat alis matanya berkedut sedikit seolah-olah Kakashi sudah tahu banyak soal Naruto adalah si pembuat onar nomor 1 selama masa sekolah

"Grrr"

Saat mereka pergi menuju rumah si pria tua itu, Naruto mulai berjalan kearah jembatan yang tengah di kerjakan ini.

'Siapa sangka kalau pengerjaanya akan sedetil ini'

ia memuji akan bahan konstruksi yang di gunakan, bahan yang di gunakan adalah semen berkualitas tinggi yang di semenkan ke besi sebagai pondasi dasar. Lalu dia melihat beberapa bahan yang jelas terbuat dari granit, bahan yang sangat jelas digunakan untuk membangun sesuatu yang dapat bertahan sangat lama dengan perawatan yang sangat minim.

'Hampir semua material ini sangat jelas datang dari Konohagakure'

Satu-satunya yang terlintas di pikirannya ketika melihat baja, semen hingga perlatan berat lainnya sudah jelas datang dari Konohagakure, hampir semua kecuali batu granit yang sangat jelas datang dari Kumogakure.

Metode konstruksi yang sangat modern seperti ini mulanya datang dari sang revolusioner Hokage ketiga Sarutobi Hiruzen yang merupakan ayah dari konstruksi itu sendiri

Berakhirnya perang dunia ketiga membuat banyak bangunan hancur harus di bangun ulang dengan cepat namun murah dan tahan lama. Menggunakan kayu sangatlah tak mungkin karena kayu mahal dan mengerjakannya memakan waktu lama karena kayu harus di tebang dan harus di produksi lagi sebelum dapat di gunakan, berbanding terbalik dengan metode semen, baja dan pasir yang dapat membuat bangunan menjadi permanen maupun semi-permanen.

"Apa kau tertarik dengan konstruksi, nak?"

Secara tiba-tiba seseorang berbicara dari belakanganya, dengan cepat dia berbalik badan dengan rasa kagetnya masih belum reda.

Saat ia berbalik badan, seseorang dengan wajah di balut masker menutup wajahnya terlihat.

"Uhm..."

"Kau mungkin takut dengan penampilan ku ya? Jangan takut nak, aku bukan orang jahat, aku cuma pekerja disini"

"B...Begitu"

"Hahaha... kau bukan yang pertama melihatku seperti itu"

Entah kenapa pria itu tertawa bangga ketika seseorang ketakutan melihatnya.

"Jadi? Apa yang kau lakukan disini nak? hmmm"

Dia mendekat kearahnya dengan tatapan mata memperhatikan dengan teliti.

"Dari headband kau datang dari Konohagakure, apa aku benar?"

Naruto mengangguk dengan refleks sebagai jawaban dari pertanyaannya.

"Sudah kuduga, hey bagaimana kau ikut dengan aku. Kita bisa melihat-lihat hasil pekerjaan kami!"

Untuk beberapa alasan yang tak dia ketahui, pria itu berbicara dengan nada bangga akan jembatan ini.

Sementara membiarkan dirinya di bawa oleh pria aneh ini, di lain sisi Kakashi Hatake dan pria tua itu mulai membicarakan sesuatu yang sepertinya sangat serius.

"Apa anda yakin mengenai itu?"

"Saya tidak salah lagi, besar kemungkinannya Gatou, sebagai ketua desa disini akan melakukan penyerangan ke jembatan dalam waktu dekat ini"

"Apa anda sudah melampirkan laporan akan situasi ini ke pihak militer?"

"Belum, saya takut kalau Gatou mengetahui ini nyawa saya dan keluarga saya akan terancam" Pria tua itu mulai terlihat ketakutan, dua orang yang sedang berbicara ini sekarang di selimuti suasana mencekam.

"Baiklah, saya mengerti situasinya sekarang. Saya akan melaporkan situasinya ke atasan saya dan kita hanya bisa berharap bala bantuan datang tepat waktu"

"Apa anda yakin soal itu?"

"Ku harap begitu" Balas Kakashi sambil melirik dua remaja yang tengah bermain dengan seorang anak yang berusia 2 tahun di dampingi ibu anak itu.

'Ternyata dugaan Mr. Hirohito (Sakagawa Hirohito) benar'

'Ini bisa bahaya jika ternyata lawan kami adalah musuh yang berbahaya'

Kakashi hanya bisa berharap sesaat dia melaporkan situasinya, bantuan dapat datang secepatnya.

"Untuk sementara saya sarankan anda dan keluarga anda bersikap seolah tak tahu apapun dan jangan sampai pembicaraan kita ketahuan oleh siapapun, apa saya jelas?"

"Sekali lagi terima kasih untuk bantuannya, Kakashi Hatake"

"Tidak masalah"

Saat pria tua itu melangkah pergi ke ruang tamu, Kakashi masih terdiam di tempatnya sambil memikirkan cara untuk melewati situasi rumit ini.

Diam-diam dia mengeluarkan intercom radio lalu menyambungkannya ke saluran utama.

"Disini Kakashi Hatake, Jounin Satu Resimen Infanteri 3, Spesial Identifikasi A-089, kepada Alpha Commander, apa kau mendengarku?"

(...)

"Alpha Commander, disini A-089 apa kau mendengarkan ku, over"

(...)

'Jamming?'

Tidak biasanya dia mendapatkan respon statis dari radio, apa itu ada kaitannya dengan kabut yang menyelimuti desa ini? Dia hanya bisa bertanya-tanya dalam diam

Sementara itu dari luar rumah, seseorang di balik bayangan dalam diam memperhatikan situasi tanpa ada yang mengetahui jika dia ada disana.

-0-

'uh'

"Jadi begitulah nak, apa kau mengerti betapa menakjubkannya hasil karyaku!"

Pria dengan masker yang dari perban itu mengatakan atau lebih tepatnya membanggakan hasil jembatan ini, dan dia telah berbicara seperti itu selama setengah jam penuh.

Singkat cerita, Zabuza adalah mantan Shinobi dari 4th Infanteri Mizugakure yang pensiun dini di usia 38 tahun dengan jabatan terakhir adalah Head Leader Seven Swordsman of the Mist.

Bosan karena pensiun, dia melanjutkan karirnya menjadi arsitek sekaligus perancang utama konstruksi tipe bangunan dan infrastruktur kelas berat.

Salah satunya adalah jembatan ini.

"Zabuza-sama, anda sepertinya terlalu bersemangat"

Sebuah suara baru berhasil mengalihkan perhatiannya. Saat Zabuza dan Naruto menoleh ke sumber suara, seorang gadis remaja? datang dengan membawakan teko berisikan teh hangat dan makanan ringan.

"Hei, ini sudah menjadi romansa laki-laki!"

Bantah Zabuza kepada pendatang baru itu

"uhm..."

Masih merasa tertinggalkan oleh topik pembicaraan yang meluas entah kemana, Naruto mulai menginterupsi mereka berdua.

Zabuza melihat ekspresi anak itu yang sepertinya kebingungan, mulai merubah ekspresinya.

"Oh, betapa bodohnya aku. Nak, kenalkan dia adalah anak muridku. Nama dia Haku, oh satu lagi, dia itu laki-laki"

"Ha?"

"Dia laki-laki"

"Eh... tunggu sebentar... dia (sembari menunjuk si gadis remaja yang tengah tersenyum halus kearahnya) laki-laki? mana mungkin!"

"Hei, kau sangat tak sopan nak! Dia itu sudah seperti putraku sendiri"

Masih tak percaya dengan klaim Zabuza, Naruto hanya bisa mengangguk terbodoh dengan apa yang dia lihat.

'Mana mungkin'

Di lain sisi

Suasana berkabut namun sangat tenang adalah pemandangan yang dapat terlihat di sepanjang mata memandang.

Hembusan angin lembut membawa pikirannya ke alam kedamaian yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

'Sudah berapa lama aku merasa damai?'

'Sejak insiden itu, aku tak pernah bisa merasa damai sedikitpun'

Si rambut hitam itu duduk di bawah pohon di atas tebing yang melihat langsung kearah pedesaan di bawahnya.

Insiden yang terjadi saat dia berusia 4 tahun adalah hal yang tak pernah ia lupakan dalam hidupnya.

Klan Uchiha terkenal sejak dulu sebagai klan yang memiliki kemampuan mata yang unik dengan sejarah panjang akan perang menyebabkan populasinya sangatlah tipis dibandingkan populasi klan yang lain.

Dan insiden naas dimana penduduk klan Uchiha secara tragis di bantai membuat posisi hidupnya terasa sangat tertekan.

Pihak kepolisian dan militer sudah mengkonfirmasi yang bertanggung jawab atas insiden itu adalah Sunagakure, namun sampai sekarang masih belum ada aksi apapun dari Konohagakure untuk menuntut balas atas kejadian itu

Kecewa dan merasa terkhianati adalah hal yang harus ia rasakan, terlebih lagi dia harus menyembunyikan siapa dirinya menambah beban mental untuknya.

"Okaa-san, Otou-san"

...

Kantor kepresidenan Konohagakure, Mr. Sakagawa Hirohito.

"Silahkan masuk"

Sakagawa mempersilahkan masuk seseorang yang mengetuk pintu ruangan kerjanya.

Saat pintu terbuka, seorang pria dengan setelah perwira militer lengkap dengan atribut masuk ke dalam ruangan membawa sebuah laporan.

"Apa yang bisa saya bantu, Jenderal?"

"Mr. Presiden, anda harus melihat ini"

Jenderal Ibiki Morino, yang sebelumnya menjabat sebagai Head of Intelligence Agency, sejak kenakaikan pangkat sebagai Jenderal di Resimen Infanteri dia yang banyak bekerja di balik layar dalam hal menjaga stabilitas keamanan wilayah absolut Negara Api.

"Apa ini sudah di konfirmasi oleh Divisi penyidik?"

"Sudah, Presiden. Kami sudah sepakat untuk segera menyiapkan beragam hal jika hal ini benar-benar terjadi"

"Baiklah, aku serahkan hal itu kepadamu. Juga panggil Kolonel Itachi Uchiha kemari"

"Dengan senang hati, Saya permisi"

Saat Ibiki Morino pergi dari ruangan Sakagawa sendirian dengan laporan mengenai potensi invasi militer yang akan terjadi dalam waktu dekat ini. Kemungkinan besar akan terjadi selama fase ujian chuunin, jika itu benar maka timeline yang akan terjadi kurang dari 5 bulan dari sekarang.

Tak lama Itachi Uchiha datang dengan pakaian taktikal militer lengkap, sepertinya dia baru selesai melatih para rekrut baru.

"Mr. Presiden, apa anda memerlukan saya?"

"Itachi Uchiha, 78th Regiment of Scout Ranger. Aku punya penugasan untukmu"

"Dengan senang hati saya akan mendengarkan "

Sakagawa kemudian mengeluarkan dokumen dan membiarkan Itachi mengambilnya dari meja. Saat Itachi telah mengambil dokumen itu, Sakagawa melanjutkan kata-katanya.

"Kau di tugaskan untuk melakukan pengintaian di sekitaran perbatasan Negara api dan Negara pasir, berikan laporan secara berkala selama 4x24 jam. Kau akan di tugaskan bersama dengan 7 Ranger lainnya yang bebas kau pilih sendiri. Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi?"

Itachi tidak menjawab selain mengangguk positif sebagai jawaban dia siap menerima misi ini.

"Baiklah, kau boleh pergi"

...

Special Operations and Commands, atau disingkat sebagai SOCOM adalah divisi terpisah dari struktural militer Konoha.

Jika militer bertanggung jawab dalam hal peperangan maka SOCOM lebih berperan sebagai bagian militer tersembunyi yang menjalankan misi berbahaya dan di latih secara khusus untuk segala macam medan.

Di SOCOM sendiri terdapat 3 cabang berbeda.

1. Intelligence Agency, yang berperan sebagai bagian mengumpulkan informasi di wilayah musuh ataupun potensi musuh. Tugas mereka banyak yang mencakup pembunuhan rahasia, penyamaran dan penyelundupan.

2. Ranger, seperti namanya, ranger adalah unit infanteri yang dilatih secara spesial untuk pertempuran tak masuk akal dimana mereka di tempatkan di posisi paling terdepan menghadapi banyak lawan dengan tujuan mendapatkan informasi dan mencegah potensi invasi skala besar sebisa mungkin. Banyak yang menyebut divisi ini adalah regu siap mati dan tak takut mati

3. SEAL Forces, (Sea Air and Land Forces) adalah unit yang mendapat julukan tim hantu, tim bayangan, tim angkasa dan banyak lagi. Keberadaan bahkan berapa jumlah mereka sangatlah rahasia dan hanya para petinggi dengan jabatan Mayor keatas yang dapat mengakses informasi mengenai mereka.

...

Satu hari berlalu dan tim Skuad 3 dibawah kepimpinan Kakashi Hatake kali ini melakukan latihan perdananya di desa ini.

"Baiklah kalian semua, demi meningkatkan kerja sama kalian dan kekompakan tim. Aku akan memberikan kalian satu latihan khusus dan itu adalah"

Dalam sekejap mata Kakashi menghilang dari lokasi mereka, mereka bertiga langsung terkejut namun apa yang lebih mengejutkan...

"Kyah"

"Sakura"

"Haruno-san"

Satsuke dan Naruto terkejut ketika Kakashi mendekap Sakura dengan pisau hanya beberapa centimeter dari leher rekan mereka .

"Jika kalian ingin segera menyingkirkan rasa egois kalian, maka sebaiknya kalian pikirkan cara untuk menyelamatkan rekan kalian. Temui aku di rumah itu"

Dalam sekejap Kakashi dan Sakura yang ketakutan langsung menghilang.

"..."

Mereka berdua hanya bisa jatuh dalam diam.

"Hey, ku rasa kau tahu maksudnya itu apa kan?"

Naruto melihat kearah Satsuke berusaha membuat si rambut hitam ini menyadari kalau tujuan Kakashi adalah membuat mereka berdua bekerja sama sebagai tim.

"Hmp, katakan apa rencanakan mu"

"Ha?"

"Kubilang, katakan apa rencanamu"

Tak ia sangka kalau si rambut hitam itu akan langsung ke poin dari latihan ini seolah-olah dia tak mempermasalahkan soal kerja tim kali ini.

'Siapa sangka kalau dia akan menjawab seperti itu'

"Baiklah rencananya..."

Naruto yang cukup bersemangat dengan sikap Satsuke yang bisa di ajak kerjasama itu mulai menjelaskan strategi untuk menyelamatkan Sakura Haruno yang di sandera oleh Kakashi Hatake.

Rencana yang dia susun sangatlah simpel namun efektif, karena lawan mereka hanya satu orang di dalam rumah kosong itu, maka lawan mereka sesungguhnya adalah kejutan ataupun perangkap yang mungkin akan di siapkan oleh Kakashi.

Metode yang digunakan Naruto untuk hal ini adalah teknik breach and clear. Taktik yang digunakan oleh kepolisian anti teror Konohagakure yang cocok untuk pertarungan jarak dekat.

Saat rencana telah tersusun keduanya mulai bergerak ke depan pintu masuk rumah dua lantai itu.

"Satsuke, ambil posisi"

Perintahnya, Satsuke dengan wajah datar mengangguk lalu bersiaga di sisi kiri pintu masuk. Dia yang berperan sebagai ketua skuad sementara mulai memasang kertas peledak yang di infus energi chakra di pintu masuk.

"Tiga"

"Dua"

"Satu"

Spontan pintu meledak dan dalam sepersekian detik Satsuke melemparkan bom asap.

Keduanya masuk dan menjaga kanan dan kiri memastikan tak ada satupun celah yang tak terjaga.

"Uzumaki, selanjutnya"

Panggil Satsuke, mengabaikan rasa kagetnya karena ini pertama kalinya dia di panggil dengan namanya. Dia langsung mengangguk dan kembali fokus.

"Satsuke, lindungi aku dari belakang. Siagakan kunai lemparmu, aku akan maju duluan"

"Ok"

Naruto mulai bergerak cepat namun perlahan menuju lantai dua dimana Satsuke menjaga bagian belakang tanpa menurunkan rasa waspadanya.

Tanpa keduanya tahu, Kakashi memperhatikan keduanya dengan menyamarkan diri menjadi dinding. Alis matanya terangkat sedikit ketika melihat cara mereka mendobrak masuk dan bergerak secara hati-hati, saat mereka akan menuju lantai dua, keduanya bahkan melakukan cek dua kali ke sekitar memastikan kondisi aman terkendali.

'Hm, menarik. Tapi bagaimana mereka bisa tahu taktik ini?'

Kakashi mulai penasaran dengan metode yang hanya di ketahui oleh kepolisian Konohagakure. Mulanya dia mengira mereka berdua akan masuk kedalam dengan ceroboh tapi dia sama sekali tidak mengira akan seperti ini jadinya.

Saat keduanya sampai di depan pintu masuk lokasi dimana Sakura di tahan, Satsuke berhenti seolah menunggu instruksi.

Sekali lagi Naruto dibuat keheranan dengan sikapnya yang patuh itu. Tak pernah ia tahu kalau rekan satu tim nya memiliki sikap loyalitas dan profesional yang sangat tinggi seperti ini.

"Dobrak dan amankan"

Instruksi singkat Naruto padanya, Satsuke langsung memahami itu dan mulai menempel peledak di depan pintu. Naruto menyiapkan bom asap disaat yang sama dan shuriken yang juga telah siap di lemparkan kapan saja.

Pintu di dobrak dengan ledakan di ikuti asap, keduanya dengan cepat masuk kedalam dan mengamankan situasi.

Hingga

(tepuk tangan)

Saat asap mulai mereda keduanya dapat melihat siapa sosok yang ada disitu. Dia adalah

"Selamat, kalian berhasil bekerja sebagai tim"

"Hah?"

Kakashi Hatake berdiri disana dengan wajah tersenyum di balik maskernya. Dia menepuk tangannya sebagai ucapan selamat kepada keduanya.

'Ini sepertinya menarik' Pikir Kakashi ketika melihat keduanya yang masih terbodoh disana tak tahu apa-apa.

...

"Jujur ku bilang, aku cukup terkesan dengan performa kalian berdua"

Puji Kakashi pada keduanya ketika mengulas hasil kerja tim keduanya.

"Kalian benar-benar hebat!"

Sakura ikut memuji keduanya yang telah menyelesaikan ini dengan nyaris sempurna.

"Satsuke -ch...erh Satsuke! kau justru yang paling keren!"

'hm? Apa aku salah dengar?' Naruto mulai bingung ketika untuk sesaat dia seolah-olah mendengar Sakura mengubah cara bicaranya untuk sepersekian detik.

"Hfm... Itu biasa saja" Balas Satsuke sombong dengan tangan terlipat di dadanya.

'Dia terlihat senang'

"Naruto, bisa kau ikut denganku sebentar, kalian berdua bisa pergi"

"Oke!~ Ayo kita pergi, Satsuke!"

Sakura dengan gembira menarik Satsuke pergi, sejak kapan keduanya akrab? errr kalau tidak salah mereka berdua memang sudah akrab sejak sekolah dulu, ya?

Kakashi dan Naruto yang ditinggal sendirian oleh keduanya mulai diam untuk beberapa saat.

"Apa ada yang kau perlukan dariku, Sensei?"

"hmmm Kalau dibilang mungkin aku sedikit penasaran saja"

"Tentang?"

"Tentang bagaimana kau bisa tahu tentang taktik kepolisian"

"Err"

'Apa itu seharusnya taktik rahasia?' Kali ini Naruto yang dibuat bingung.

"Jadi, bisa kau jelaskan padaku tentang itu, Naruto Uzumaki"

'Ini akan menyusahkan'

Pikirnya

...