Knight Pride.

-0-

"My lord"

Issei Hyoudo sesaat sampai di ruang Lord Negara Api, langsung berlutut di depannya dengan penuh rasa hormat.

"Jounin, Issei Hyoudo. Katakan apa yang ingin kamu sampaikan, nak"

Ucap Lord dengan nada tenang.

"My Lord, tugas yang anda berikan sudah saya laksanakan. Gatou dan para pengikutnya yang menjadi ancaman untuk para pemula itu sudah di singkirkan tanpa ada pengecualian"

"Kerja bagus, saya bangga dengan kesetiaan mu. Apa ada lagi yang ingin kamu sampaikan?"

Issei kemudian merogoh sakunya dan menyerahkan sebuah dokumen gulung kepada Lord.

"Disana terdapat beberapa informasi yang telah saya kumpulkan dari mansion Gatou, barang bukti telah saya segel di kertas gulung di dalam saku saya jika anda berkenan untuk melihat bukti-bukti lain yang telah saya temukan"

Issei menyerahkan satu kertas gulung lagi pada Lord Negara Api, Lord membaca kertas gulungan pertama dimana tertulis banyak informasi yang telah Issei simpulkan dari apa yang ia temukan disana.

Banyak informasi yang tertulis disana membuat mata sang Lord menajam.

"..."

"Saya tahu jika anda mungkin tidak percaya dengan hal ini, tapi itu memang benar My Lord. Dari apa yang saya temukan ada kemungkinan bahwa Gatou memiliki koneksi dengan seorang pembelot dari Konohagakure, kemungkinan invasi ke negara api sangatlah tinggi dengan bukti yang saya temukan"

"Dan kamu menyimpulkan bahwa invasi akan datang ke Ibu Kota Negara Api?"

Issei terdiam tak menjawab pertanyaan sang Lord.

"Begitu ya, sepertinya memang benar kalau dampak dari perang dunia ketiga masih meninggalkan jejak dendam diantara Negara tetangga"

Lord meletakkan dokumen itu di mejanya sambil menatap jendela yang memperlihatkan suasana pegunungan yang indah.

"Katakan padaku, Issei. Apa yang akan kau lakukan jika saya memberikan perintah padamu untuk mengunci rapat apa yang kau ketahui saat ini"

...

Issei langsung menaikkan wajahnya dan melihat kearah lord dengan tatapan tak percaya dengan apa yang ia dengar.

"Issei Hyoudo, 77 tahun aku hidup di dunia ini. Progres akan teknologi tak pernah aku tahu akan bisa semaju ini hanya dalam waktu singkat, jika ada yang saya sesalkan dalam hidup saya maka saya hanya menyesal untuk tidak bisa melihat cucuku tumbuh besar"

"My Lord, jangan bilang kalau anda akan diam disini membiarkan mereka menyerang tempat ini!?"

"Seperti itulah rencananya"

"Dengan penuh hormat My Lord, saya tidak bisa"

Alis matanya terangkat sebelah ketika mendengar jawaban Issei.

"Kenapa kau melawan perintahku?"

"My Lord, maafkan kelancangan saya. Saya sejak di angkat menjadi Shinobi dan di sumpah untuk loyal kepada keluarga bangsawan Lord Negara Api, saya sudah siap untuk bertaruh nyawa saya untuk..."

"Sudah cukup"

Lord Negara api langsung menghentikan apa yang Issei ingin katakan.

"Issei Hyoudo, mungkin kau masih belum memahami apa yang terjadi"

Issei hanya diam tak menjawabnya.

"Dunia mengalami perubahan, dan setiap perubahan yang terjadi maka tradisi lama harus segera menyingkir sebagaimana mestinya"

Lord kembali menatap Issei dengan tatapan serius. "Jika itu terjadi, aku hanya bisa mempercayakan masa depan kepada seseorang yang aku percaya"

Senyumannya menunjukkan kepercayaan yang sangat besar, dari topik ini Issei menyimpulkan sesuatu.

"Dan seseorang yang anda percaya itu, adalah Sakagawa Hirohito. Benarkah?"

Lord mengangguk

-0-

"hm~hm~"

Shiraishi Nee bersenandung dalam senyuman, nampaknya dia sangat senang akan sesuatu.

Aku diam-diam memperhatikannya yang sedang memasak untukku dan paman Takeo.

"Nak, bagaimana menurutmu?"

"Kurasa dia sangat indah bagaikan malaikat"

Pertanyaan Takeo ku jawab tanpa sadar, Paman Takeo langsung menatapku dengan tatapan aneh sebelum ia tertawa lebar.

"Ahahaha! Kau terlalu fokus padanya nak, apa kau bahkan tau apa yang aku bicarakan"

Tawa lebar Paman membuatku tersadar dari dunia fantasiku, aku langsung menunduk meminta maaf ketika menyadari apa yang telah terjadi.

"Maaf, Tadi bicara apa?"

"Aku tadi mau bahas soal menu baru yang ingin aku sediakan dalam waktu dekat ini, mengingat ujian chuunin sudah dekat jadi aku berpikir membuat bonus untuk para calon chuunin. Jadi bagaimana menurutmu?"

Si paman kemudian memberikanku salinan data resep yang akan dibuatnya dan rencana tentang promosi itu. Dari apa yang aku lihat ini semua terlihat sangat bagus untuk kemajuan tempat kami, aku pun memberikannya jawaban positif tentang rencana yang akan di buatnya itu.

Berselang beberapa waktu, si paman pun berangkat ke tokonya bersiap membuka kedai, meninggalkan aku dan Shiraishi Nee berdua di rumah.

Karena hari ini tak ada jadwal pertemuan dengan tim, mungkin ini waktu yang tepat untukku bisa lebih dekat dengannya.

"Fumu?"

Shiraishi yang saat ini duduk bersebrangan denganku mulai memiringkan wajahnya ketika aku menatapnya dengan cukup serius.

'Argh! Kenapa pose seperti itu sangat imut!?'

Aku mengumpat di dalam pikiranku ketika melihat tingkat keimutan Shiraishi meningkat drastis.

"Ehehe~"

Kali ini Shiraishi tertawa kecil ketika tatapan kami kembali bertemu.

"Naru~ Kamu lucu kalau lagi bengong"

Senyumannya yang seperti itu membuatku bisa mati gugup, aku berusaha menenangkan diri sambil berusaha menjawabnya setenang mungkin.

"Y..yah, aku cuma kepikiran soal ujian chuunin"

"Oh? Apa Naru akan ikut partisipasi ujian juga?"

"Yah ... Karena ini adalah kewajiban dari Shinobi, aku rasa aku ikut ujian juga"

Entah kenapa ketika aku mengatakan kalau aku akan ikut ujian, ekspresi Shiraishi langsung berubah

"Bukankah itu berbahaya?"

Tanyanya dengan wajah penuh khawatir.

"... Yah, begitulah"

"Naru! Jangan bersikap seperti seolah-olah itu bukan masalah!"

"E...eh.. Shiraishi Nee?"

"Apa kamu tahu kalau ujian chuunin artinya ujian dimana ada potensi tingkat cedera hingga kematian yang lumayan tinggi!"

"Kenapa kau justru menganggap enteng hal itu!"

Aku tak bisa berkata-kata ketika melihat ekspresi marah dari Shiraishi, aku langsung tahu apa penyebabnya. Kalimat terluka, dan kematian adalah topik yang sangat sensitif baginya dan mengingat ujian chuunin adalah ujian dimana para calon bisa terluka bahkan mati pasti sangat mengganggu batin Shiraishi Nee.

"Shiraishi Nee, aku mungkin terlihat seperti ini, tapi jangan ragu aku lumayan kuat kok!"

Ucapku dengan bangga namun Shiraishi justru tak menerima jawabanku yang terlalu enteng.

yah inilah keseharian yang aku jalani dalam beberapa hari ini.

Sejak kepulangan kami dari tugas perdana tim, entah kenapa semua tim yang telah dibentuk tidak di perbolehkan untuk menjalani misi diluar dari radius pangkalan militer Konohagakure setempat.

Dengan kata lain, setiap tim yang telah di bentuk hanya di berikan ijin menjalani misi yang masih berjarak dari 24 kilometer dari Konoha dan setidaknya harus berjarak 5 kilometer dari instalasi militer Konoha jika bertugas dengan tingkat kesulitan C.

Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kondisi internal Konoha tapi aku hanya bisa menebak kalau sesuatu yang buruk sepertinya sedang terjadi di belakangnya.

yah lagipula aku tak beguitu peduli dengan hal seperti itu

-0-

Siang terasa sangat panas, apa karena dunia mulai menggila dengan semua hal yang akan terjadi sekaligus?

Yang ku maksud dengan "menggila" adalah situasi dimana jalanan desa mulai padat dengan beragam hal, banyak penduduk sepertinya sudah mempersiapkan beragam hal untuk menyambut para partisipan untuk ujian chuunin yang akan di gelar dalam waktu kurang dari dua Minggu dari sekarang.

Sementara itu

"Aku ga yakin kalau tim kami akan lulus"

Ucapku dengan gamblang ketika melihat lapangan pelatihan dimana, aku, Satsuke Uchiha, Sakura Haruno, dan ketua tim Kakashi Hatake semuanya terlihat saling sibuk dengan urusannya masing-masing.

'Sejak kapan mereka sangat akrab?'

Pemandangan si kepala merah muda dengan si hitam saling berbincang-bincang dengan sangat baik membuatku sedikit iri. Aku juga bagian dari tim ini tapi kenapa aku yang diasingkan sendiri?

Dan Sensei, kenapa kau malah sibuk dengan bukumu! Setidaknya bersikaplah sebagai ketua tim sesekali!

Ujian semakin dekat tapi kami sama sekali tidak memiliki kemajuan dalam hal kerja sama tim.

Apa perasaanku saja tapi kenapa Kakashi justru seolah-olah ingin kami gagal?

Apa sebegitu menyedihkannya kami sampai-sampai dia acuh-tak-acuh sama tim ini

"Sensei, apa kau tidak melatih kami?"

Aku mulai melemparkan pertanyaan padanya yang sejak tadi masih sibuk dengan bukunya.

"Oh? Kau sudah disini ya?"

"Aku sudah dari tadi sampai, Sensei!"

Dia benar-benar membenciku, apa sebegitu kelamnya kelakuan ku saat sekolah dulu sampai-sampai dia tak memperdulikan aku yang ada disini sejak dari tadi?

"Oh, begitu ya" Sensei mengeluarkan nada tidak suka ketika dia harus memberikan kami topik untuk di bahas hari ini.

'Man, dia benar-benar...'

"...(mendesah)... Baiklah, karena kalian semua sudah disini, mari kita mulai latihan hari ini"

"Hai~" Sakura Haruno menjawab dengan nada riang, dia dan Satsuke benar-benar akrab ya?

"Untuk hari ini, kita akan membicarakan soal taktik tiga sabit. Taktik ini adalah taktik yang paling umum di gunakan untuk setiap tim yang akan melakukan penyerangan ke posisi musuh yang tidak terorganisir"

Sensei mulai memberikan kami topik taktik untuk meningkatkan kerja sama tim.

Taktik Tiga Sabit, taktik ini dinamakan seperti ini karena dalam susunan taktik ini, dua dari tiga tim akan melakukan serangan frontal dari kanan dan kiri, tim ketiga akan melakukan serangan defensif menggunakan ninjutsu jarak jauh untuk menjadi pengalihan dari pasukan musuh. Karena taktik ini mengandalkan kecepatan serangan, maka elemen kejutan adalah hal yang paling krusial dalam metode ini.

Dinamakan sabit karena ketua tim yang berada di paling belakang bersama dengan tim ketiga, keduanya akan melakukan serangan tiba-tiba dengan menggunakan bom asap.

Susunan formasi pun langsung berubah menjadi formasi berlian dimana musuh pun terkepung dari beragam sudut.

Kakashi mempraktekkan taktik ini menggunakan ninjutsu klon bayangan sebagai objek latihan.

mulanya aku ragu kalau teknik ini akan bekerja secara efektif karena kami sama sekali tidak akrab, namun aku sangat salah ketika aku di tempatkan di posisi ketiga.

Sakura dan Satsuke entah kenapa keduanya saling sinkron satu sama lain dan mampu mempertahankan sudut kanan dan kiri tanpa masalah.

'Tunggu, bukankah ini artinya aku yang justru tidak cocok di tim ini!?'

Tepat sekali

-0-

Sunagakure

Ruangan Kepresidenan Kazekage, Kazekage Ke-4 Rása (羅砂)

"Tuan"

Seseorang mengetuk pintu ruangan kerjanya

"Silahkan masuk"

Saat pintu terbuka, seorang pria dengan setelan militer perwira dengan pangkat Jounin masuk ke ruangan dengan membawa dokumen di tangannya.

"Maaf jika saya mengganggu anda, tapi laporan ini tidak bisa menunggu lagi"

"Biarkan saya baca sebentar"

Kazekage setelah menerima dokumen yang di cap Top Secret, mulai membaca setiap lembar dokumen yang telah di susun oleh divisi intelijen.

"Jadi seperti itu situasinya"

Di dalam dokumen tertera tentang situasi politik antara Sunagakure dan Konohagakure yang mulai memanas sejak mereka meletakkan pasukan militer di garis perbatasan.

Sepertinya Konohagakure masih belum memahami situasi yang sebenarnya sedang terjadi kenapa dia harus melakukan tindakan ini.

Juga laporan lain mengatakan adanya potensi kebangkitan sang ratu iblis di wilayah Oni no Kuni, permintaan akan pengiriman pasukan di perlukan untuk mengantisipasi adanya tindakan agresif dari pemberontak yang ingin melakukan tindakan berbahaya seperti menghancurkan segel.

Laporan lain mengenai permasalahan domestik di bidang logistik wilayah serikat Rōran, Ratu di wilayah serikat Rōran, Seramu meminta ekstra logistik mengingat musim panas di kawasan gurun semakin terik membuat persediaan seperti air mulai menipis.

Untuk permasalahan di Rōran, Presiden Sunagakure Rása hanya bisa memikirkan cara untuk membangun saluran air baru yang akan di arahkan ke kawasan serikat Rōran.

Karena kawasan Rōran termaksud wilayah spesial yang berdekatan dengan Negara Air Terjun, maka pengiriman pasukan ekstra untuk menjaga wilayah itu tetap terkendali sangatlah di perlukan.

Permasalahan terus bertambah seiring berjalannya waktu, dan karena ujian chuunin semakin dekat maka di perlukan pasukan ekstra untuk menjaga wilayah absolut antara Konohagakure dan Sunagakure, tapi sepertinya Konohagakure menganggap tindakan ini adalah tindakan ofensif.

Yah, hal itu juga tak bisa di pungkiri karena status politik antara Sunagakure dan Konohagakure tak pernah bagus selama satu dekade terakhir.

'Sungguh merepotkan, apa mereka tidak tahu kalau kami pun punya banyak masalah di negara kami'

"Ini aneh" Gumamnya saat melihat laporan terakhir, laporan terakhir mengenai adanya tingkat aktivitas militer Konoha di ibu kota Negara Api.

Seolah-olah mereka sedang mempersiapkan sesuatu

"Jounin Satu, Surakawa. Katakan pada intelijen untuk segera menginvestigasi permasalahan ini"

"Dengan senang hati"

Saat Jounin itu pergi, Rása mulai memikirkan cara menyelesaikan kesalahpahaman antara Konohagakure dengan Sunagakure tentang penerjunan pasukan di perbatasan.

'Apa mungkin mereka masih dendam pada kami setelah insiden di Amegakure?'

Insiden dimana Sunagakure melakukan penyerangan di Amegakure bukanlah hal yang sepele. Alasan kenapa Kazekage terpaksa melakukan tindakan agresif karena meningkatnya kasus korupsi dan penindasan akan rakyat di wilayah itu, dengan alasan pengiriman logistik Sunagakure yang berjumlah lebih dari 3200 pasukan menyerbu Amegakure dan dengan cepat menggulingkan sang diktator namun tak ia sangka kalau Konohagakure justru ikut campur menyebabkan kontak militer pun tak terhindarkan.

Setidaknya ia bisa bernafas lega karena korban di sisi Sunagakure maupun Konohagakure tidak terlalu fatal, sehingga situasi itu bisa di selesaikan dengan cara diplomatik.

Hanya saja

'Kenapa semua ini seolah-olah ada yang menarik benang merahnya?'

...

Ketukan kembali terdengar.

"Uhm... Otou-san?"

Seseorang masuk ke ruangan, kali ini bukan penjabat yang masuk melainkan seorang anak laki-laki.

"Oh, Gaara. Ada apa nak?"

"uhm... Soal Ujian nanti"

"?"

"A...apa aku benar-benar tidak di ijinkan berpartisipasi?"

Rása mendesah mendengar apa yang putra sulungnya katakan itu.

"Nak, aku tahu kau mungkin sangat ingin ikut serta, tapi coba pahamilah ujian kali ini agak runyam untuk situasi kita"

"Runyam?"

"Iya, karena Konohagakure sepertinya sangat waspada dengan kita, aku takut mereka justru akan semakin waspada kalau kau ikut serta. Jangan lupa kalau kau itu anak dari Presiden Sunagakure, mereka pasti mengira kalau kita sedang merencanakan sesuatu, dan itu adalah hal yang tak boleh terjadi jika kita ingin berhubungan baik dengan Konohagakure. Maafkan ayah, tapi tolong mengertilah"

Gaara langsung menundukkan kepalanya dengan wajah murung terlihat jelas, melihat putra sulungnya seperti itu dia langsung berdiri dan mengusap kepalanya dengan lembut.

"Nak, maafkan aku, kalau semua masalah ini selesai mungkin kau bisa ikut partisipasi nanti"

"Baik"

Gaara dengan sedikit kecewa kemudian pergi dari ruangan kerja Presiden Sunagakure meninggalkannya sendirian dengan pikiran yang masih berantakan.

'Aku adalah ayah yang buruk'

Ia hanya bisa mendesah ketika mengingat wajah anaknya yang kecewa.

Sejak sepeninggal istrinya, Gaara hidup di bawah asuhan pelayan sangat sedikit waktu yang ia habiskan untuk putranya.

'Sebaiknya masalah ini harus selesai, aku tak ingin dia seperti itu hingga dewasa nanti'

Rása kemudian melanjutkan pekerjaannya, untuk sementara masalah yang harus ia selesaikan adalah mengenai kesalahpahaman antara Konohagakure dengan Sunagakure mengenai penerjunan pasukan di perbatasan serta penambahan logistik untuk Rōran.

-0-

Waktu ujian semakin dekat, dan sementara ini tim kami masih stagnan seperti biasanya. Keraguanku semakin bertambah besar karena aku yakin kalau kami akan tereliminasi sekejap mata.

Ditambah lagi aku yang tidak bisa menggunakan kemampuan chakra membuat situasi tim ini sangat rumit.

Satu-satunya kemampuan yang bisa aku andalkan adalah kekuatan misterius yang kumiliki, namun aku tidak bisa menggunakannya secara gamblang dimana semua orang bisa melihatku, kekuatan ini harus aku rahasiakan sebaik mungkin agar masalah tidak mengejarku.

"Hum~ hum~ hum~"

Shiraishi Nee seperti biasanya bersenandung ceria saat memasak sarapan pagi, melihatnya yang mengenakan apron membuat fantasiku mulai meliar kemana-mana.

Aku memejamkan kedua mataku sambil berpikir soal Shiraishi yang mulai terlihat sangat menawan.

"Kalau aku bisa jujur , Dia adalah seorang Dewi kecantikan yang nyata di mataku. Rambutnya yang panjang berwarna hitam, dengan bentuk tubuh yang sangat indah untuk gadis remaja seusianya, aku yakin dalam beberapa tahun kedepan dia akan tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.

Belum lagi fitur wajah yang sangat mendekati seperti onee-san, ahh aku tidak tahu lagi harus berkata apa."

(Dentingan)

Saat aku sedang sibuk bergumam dengan kepalaku, sebuah suara piring pecah mulai menghancurkan semua imajinasi yang sedang melayang-layang di kepalaku.

"Eh, ada apa Shiraishi Nee!?"

Aku di sambut Shiraishi Nee yang berdiri bagaikan patung menatapku dengan wajah memerah.

"E...eh... j...jadi..."

'Hm? Kenapa Shiraishi Nee melihatku seperti itu?'

"O...oh... begitu ya... umu...umu..."

Shiraishi Nee mulai tersipu-sipu, aku penasaran apa yang membuatnya seperti itu.

Betapa naifnya dia ketika tak menyadari kalau dia sejak tadi bergumam secara keras, jadi semua pujian akan kecantikan Shiraishi tanpa sadar dia katakan secara gamblang

"Mou, Naru. Kamu sangat pandai menggoda perempuan sekarang ya? Bagaimana kalau kamu kencan dengan ku?"

"Ha!?"

"E..eh... Apa yang ..."

"Kubilang, ayo kita kencan sekarang!"

Ehh!?

Aku tidak salah dengar, Shiraishi Nee mengajakku kencan.

"A...apa k..kau tidak mau?"

Shiraishi dengan wajah memerah bertanya padaku, nadanya yang malu-malu membuat jantungku berdegup kencang, aku yakin kalau wajahku sekarang ikut memerah.

'Apa ini artinya...' Aku yakin dalam pikiranku kalau flag Shiraishi telah berkibar dan ini adalah kesempatan ku, ya kan?

"B... baiklah"

Mendengar jawabanku Shiraishi Nee langsung tersenyum dengan kecantikannya yang bertambah 300 persen.

"Yatta! Kalau begitu kita jumpa di monumen jalan utama 1 jam lagi!"

Dengan penuh semangat Shiraishi Nee langsung berlari ke kamarnya, untuk apa kami bertemu di jalan utama kalau kami bisa keluar dari rumah bersamaan?

'wanita memang makhluk yang rumit'

-0-

Kantor Kepresidenan Konohagakure, Sakagawa Hirohito

"Jounin Sajou, status"

Di dalam ruangan, seorang pria dengan pakaian militer resmi pangkat Perwira Militer Jounin dengan pin SOCOM terpasang di dada kiri.

"Tuan, saat ini semuanya telah sesuai dengan rencana, SOCOM Tim 9 dan 10 sudah di posisi, kami siap menjalankan perintah anda"

"Bagus, laksanakan sesuai dengan rencana, eliminasi siapapun yang mencoba mengintervensi"

"Dengan senang hati"

Sajou kemudian pergi dari ruangan namun tak berselang lama seseorang dengan setelan jas hitam memiliki aura yang sangat berbeda dengan para Shinobi mulai masuk ke ruangan.

"Sakagawa Hirohito, kau sepertinya kelelahan ya?"

"Dewan Perwakilan Ichirou, apa ada yang ingin Anda sampaikan?"

Dewan Ichirou langsung duduk di depannya dengan wajah serius.

"Untuk kali ini, kami para dewan sepakat dengan apa yang kau lakukan, tapi ingat kami tidak akan mentolerir jika ada kebocoran informasi, ingatlah itu"

"Saya sangat paham mengenai itu, apa hanya itu saja yang ingin Anda sampaikan?"

"Hah... Baiklah, kami membuat keputusan mengenai ujian yang akan datang. Kami memutusakan untuk ujian chuunin tahun ini agar di lakukan sistem eliminasi berdasarkan nilai skor, tahun kemarin karena menggunakan sistem lama, total para calon chuunin yang terluka maupun meninggal terbilang cukup tinggi sekitar 30 persen, jadi kami memutuskan untuk menekan angka itu demi menaikkan nama baik Konohagakure di mata negara tentangga"

"Baik, saya mengerti situasinya. Apa detil mengenai sistem ini sudah di berikan ke pihak penyelenggara ujian?"

"Untuk saat ini kami baru menyerahkan pendetilan soal cara kerja dan operasional standarnya, namun untuk pengeksekusian masih belum"

"Baik, selebihnya saya percayakan pada kalian"

"Juga mengenai hal ini"

Dewan Ichirou kemudian memberikan amplop yang dia simpan di saku jas hitamnya. "Kami pihak dewan secara terbuka akan mengontrol penuh soal militer Konoha selama ujian berlangsung, anda tidak di perbolehkan untuk menginterupsi apa yang kami lakukan selama waktu itu. Apa anda memahaminya?"

"..."

Di dalam amplop itu tertulis mengenai adanya potensi ancaman militer yang terjadi, namun pihak dewan sepertinya tidak menganggap bahwa Sunagakure adalah pihak yang harus di curigai.

"Apa kalian tidak salah mengenai hal ini, bukankah Sunagakure jelas-jelas melakukan tindakan ofensif di perbatasan"

"Mengenai hal itu, kami kurang lebih memahami situasinya, dan kami setuju untuk tidak menganggap bahwa itu adalah ancaman. Perhatian kami lebih tertuju ke Sound Village, desa yang di kendalikan oleh Orochimaru. Kami tidak akan membiarkan satu celahpun terbuka untuk orang seperti dia, juga kami selaku dewan tidak akan membuat aksi apapun selama tidak ada insiden yang terjadi, sebaiknya anda ingat baik-baik mengenai itu. Baik, itu saja yang ingin saya sampaikan. Permisi"

Dewan Ichirou kemudian pergi dari ruangan membiarkan Sakagawa tenggelam dalam pikirannya

'Sepertinya mereka menyadari apa yang ingin aku lakukan tentang Sunagakure'

-0-

Jalan utama Konohagakure

Naruto Uzumaki remaja berusia 13 tahun blonde, kemampuan fisik: rata-rata, kemapuan ninjutsu: sangat lemah, kemampuan bela diri: rata-rata, Intelektual: masih dipertanyakan

Itulah pengenalan singkat tentang diriku yang saat ini tengah menunggu Shiraishi Nee.

Lagipula untuk apa aku mengingat tentang diriku yang terlalu biasa ini?

'Ugh... aku gugup sekali'

Aku tidak bohong, rasa gugupku membuatku datang ke tempat pertemuan setengah jam lebih cepat dari janji kami.

'K...kencan... kencan dengan Shiraishi Nee! Apa aku masih mimpi!?'

Tubuhku seperti mati rasa, rasa gugup yang menggangu ini masih saja berani membuatku kebingungan sendiri!

"Uhm... N...Naru"

Bagaikan terkena sambaran petir, aku langsung berbalik badan. "Y...Ya!"

Saat itu juga aku terpaku dengan apa yang ku lihat di depanku

'Malaikat'

Dia terlihat sangat cantik, pakaian one piece ditambah model rambut yang sepertinya baru saja dia tata dengan baik, untuk sebagian orang model rambutnya terlihat biasa saja karena dia biarkan lurus panjang tanpa ada 'style' apapun yang mencolok.

Tapi untuk aku yang telah tinggal dengan keluarga Paman Takeo, aku bisa tahu sekecil apapun yang beda dari Shiraishi Nee.

Rambut hitamnya yang terlihat berkilau di mataku sukses membuatku terpesona akan indahnya dirinya.

"A...Ano... Naru?"

"Y..ya!"

"A...apa kau baik-baik saja?"

"..."

Ku yakin kalau wajahku saat ini sangat merah! Tak mungkin aku bisa melihatnya dengan pesonanya yang sangat luar biasa.

"Sudah kuduga, aku tidak cocok dengan pakaian ini"

Saat mendengar kalimat itu, aku langsung menatapnya dengan protes aku mengatakan apa yang ku pikirkan saat ini juga.

"Shiraishi Nee, kau justru sangat cantik!"

"Fueh?"

"Tidak! Kau bukan hanya cantik, kau justru sangat indah! Kau seperti malaikat dari surga! Aku terpesona dengan keindahan mu!"

Aku mengatakan hal yang sangat memalukan, dengan pengecutnya aku langsung mengalihkan wajahku.

"J. . Jadi, jangan katakan kalau kau tidak ... errr..."

Aku tak tahu apa lagi yang harus ku katakan untuk menutupi rasa maluku, keheningan pun jatuh diantara kami berdua, aku tak tahu apa yang Shiraishi Nee pikirkan tapi ku harap dia tak menganggap aku menjijikkan