"Waah! Kupu-kupu!"

"Kamu suka dengan kupu-kupu, Charlotte?"

"Suka, Mama!"

Charlotte kecil berputar-putar ala balerina, mewujudkan simfoni yang dinyanyikan para flora dan fauna dengan begitu bahagia. Sebagai hadiah atas prestasinya dalam memenangkan kompetisi piano, Charlotte diizinkan pergi ke taman belakang perpustakaan tempat ibunya bekerja dan diperbolehkan membolos latihan selama seminggu. Hadiah yang terdengar sepele, tapi tidak bagi Charlotte yang suka sekali dengan panorama alam dan kedamaian.

Seekor kupu-kupu hinggap di hidung Charlotte, sontak membuat gadis berusia tujuh tahun itu bersin. Di saat Charlotte sedang mengusap hidungnya yang gatal, kupu-kupu yang sempat terhempas tadi memilih hinggap di ujung kelingking Charlotte.

"Mama," panggil Charlotte sambil mendekatkan tangannya yang ditempeli sang kupu-kupu ke arah mama tercinta, "kupu-kupu makannya apa?"

"Nektar, Sayang," jawab sang mama dengan senyuman manis. "Kenapa Charlotte tidak mendekatkan kupu-kupu itu ke bunga-bunga di sana? Ada teman-temannya yang juga sedang makan, lho."

Charlotte mengangguk lucu. Tangan kirinya yang bebas menadah tangan kanannya yang masih membeku mempertahankan posisi dengan maksud agar si kupu-kupu tidak terbang meninggalkannya. "Ayo, turun ke tanganku yang ini, Tuan Kupu-Kupu!"

Seperti mengerti dengan bahasa manusia, kupu-kupu itu terbang menuju telapak tangan Charlotte. Di saat itulah, pandangan Charlotte mulai berdistorsi. Warna hitam dan merah yang menyakitkan mulai berebut menguasai dunia Charlotte. Bunga-bunga di taman terlihat menyeringai, kelopak-kelopak bertransformasi liar menjadi lidah api. Beberapa di antaranya bahkan tiba-tiba berubah menyerupai sulur-sulur yang mengerikan, berusaha menggapai Charlotte yang berjalan mundur ketakutan. Sementara itu, semua kupu-kupu di sana pergi mengangkasa, berusaha menyelamatkan diri walau pada akhirnya satu per satu jatuh dan melebur menjadi serpihan abu.

Charlotte berbalik mencari ibunya yang entah sejak kapan telah menghilang. Jalan bebatuan yang dilaluinya berubah menjadi tanah lembab yang dipenuhi genangan-genangan air berwarna kehitaman. Matahari berubah merah dengan garis tipis oranye yang menyakitkan mata walau hanya dilihat sekilas. Langit yang awalnya biru cerah, kini menjadi jingga bercampur warna dongker dengan ribuan mata merah melotot ke arah Charlotte.

Sekali lagi, Charlotte membalikkan badannya, menghadapi kupu-kupu temannya yang ternyata telah jatuh di atas tanah, tak bergerak. Panik, takut, cemas, semua berusaha menguasai Charlotte yang kini bersimpuh lemas di depan mayat kupu-kupu, pelan-pelan berusaha membawa serangga kecil itu kembali ke tangannya. Di antara semua hal, hanya kupu-kupu yang tidak lagi bernyawa itu yang masih terlihat normal untuk Charlotte.

Sosok manusia dengan kondisi tubuh berdarah-darah dan penuh sayatan tiba-tiba saja menggantikan posisi kupu-kupu putih, terbaring kaku dengan sebuah benda tajam yang menusuk dan menembus tepat di tengah dahinya. Kepala pria itu tergeletak di atas tangan kiri Charlotte dengan sepasang mata yang masih membuka dan menatap kosong ke arahnya, sukses memancing Charlotte yang segera berteriak histeris penuh kengerian,

"Tidak! TIDAAAAAAK!"

Sekilas, sesuatu jatuh tepat satu meter dari hadapan Charlotte. Darah berbau amis menciprat mata Charlotte, seketika membutakannya dan membuat tubuhnya limbung. Hal terakhir yang Charlotte ingat sebelum kegelapan merasukinya adalah, tanah basah yang menelan dirinya yang terjerembab hidup-hidup, membawanya ke dalam sebuah dunia yang berwarna hitam pekat.


Procyon β

Mr. Love: Queen's Choice © Papergames with Elex

Plot and nearly the whole idea © himmedelweiss

No commercial profit taken

AU!Cyberpunk; multi-chapters; semi-canon; OOC; MC-centric (with name "Charlotte"); T to M rated due to serious theme, implication, and scenes; fantasy genre with a hint of science-fiction; chara(s) death.

A fic from himmedelweiss for Mr. Love: Queen's Choice

Chapter 2 : A Love Letter from Nightmare


"Nona Putih, Nona Putih ...!"

Begitu terjaga, Charlotte langsung memasang posisi duduk dengan kondisi penuh peluh keringat. Warna putih sekilas mengelilingi tubuhnya, sebelum akhirnya menghilang saat Charlotte sudah berhasil mengumpulkan kesadaran sepenuhnya.

"Lu-Lucien ...?" Charlotte mengerjapkan matanya. "Apakah aku ... mengganggu waktu tidurmu?"

"Tidak sama sekali." Karena berada dalam wujud kupu-kupu, Charlotte tidak bisa melihat ekspresi Lucien sekarang. "Apa kamu ... sedang tidak baik-baik saja ..., Nona Putih?"

Charlotte menggeleng pelan, memberi negasi dan berusaha meyakinkan Lucien—juga dirinya—kalau dia baik-baik saja. Setiap detik, tempo gelengan itu semakin cepat. Sampai-sampai, air mata Charlotte memercik ke sisi kiri dan kanannya, berakhir dengan tangisan kencang yang menggaung ke seisi Hutan Gomeisa.

Tidak, dia tidak bisa merasa baik-baik saja.

Lucien segera mengubah wujudnya menjadi manusia, kemudian memeluk Charlotte dari belakang. Charlotte membalikkan badan, menenggelamkan wajahnya pada dada Lucien yang berdetak konstan dan terasa hangat. Pemuda itu membiarkan Charlotte menangis sepuasnya, setidaknya sampai sang gadis bisa kembali tenang.

"Lucien ... Lu-Lucieeeeeen …."

"Aku ada di sini," hibur Lucien. "Apakah kamu baru saja bermimpi buruk?"

Dari gerakan kepala Charlotte yang masih menumpu di atas dadanya, Lucien tahu Charlotte menjawab pertanyaannya dengan anggukan. Entah apa yang dimimpikan Charlotte, Lucien sama sekali tidak bisa menerka, tapi yang Lucien tahu adalah Charlotte sangat mudah terganggu dengan hal-hal menyedihkan dan mengerikan seperti mimpi buruk.

"Lucien, ka-kamu ... hiks ... kamu tidak akan pergi meninggalkan aku sendirian, 'kan ...?"

Lucien agak kaget mendengar pertanyaan itu. Sama sekali tak pernah terbayangkan kalau Charlotte akan memberinya pertanyaan yang Lucien tidak yakin bisa menjawabnya dengan kepastian. Apa Charlotte barusan memimpikan dirinya? Pertanyaan Charlotte itu sarat akan kesedihan dan keengganan mengenai sesuatu yang Lucien tidak tahu bagaimana harus mendeskripsikannya. Yang jelas, Lucien merasa dirinya harus memberikan jawaban yang terdengar netral dan bisa menenangkan Charlotte meski hanya sedikit.

"Tentu tidak, Nona Putih," jawab Lucien pada akhirnya, "setidaknya sampai kamu menjadi lebih kuat dari yang sekarang, aku tidak akan meninggalkanmu."

"Bisakah ... aku meminta sesuatu padamu, Lucien?"

"Selama bisa kupenuhi, apa pun akan kulakukan, Nona Putih."

"Apa pun yang terjadi," lirih Charlotte, "jangan ... jangan pernah berubah menjadi manusia lagi, Lucien."

Tanpa menunggu Lucien untuk memberikan tanggapan, Charlotte kembali menangis keras, mengakhiri malam pertamanya di Procyon dengan ratapan jiwanya yang menggelenyar elegi.

Charlotte tidak mau membunuh Lucien seperti apa yang terjadi di dalam mimpinya.


"K-Kamu ... sudah pernah mati, Lucien? Lu ... cien?"

"Kupu-kupu adalah simbol dari reinkarnasi, maka dari itu, aku terlahir kembali dengan wujud itu," terang Lucien lirih. "Maafkan aku jika itu membuatmu sedih."

Charlotte mencoba menahan tangisnya dengan air mata yang masih menggenang di pelupuk mata. Inisiatif, Lucien beralih mendekatkan diri seproksimal mungkin untuk mengusap sisa air mata Charlotte dengan ibu jarinya, kemudian menepuk-nepuk bahu gadis itu, berusaha menenangkannya. Charlotte merasa Lucien sedang bermaksud meyakinkannya kalau dia baik-baik saja, dan fakta yang terucap tidak lebih dari sekadar kata-kata pengakuan.

"Itu hanya masa lalu. Kamu tidak perlu memikirkannya. Selain tidak penting, itu hanya menghambat masa depanmu dan juga aku," ujar Lucien. "Sekarang yang terpenting adalah mengetahui apa yang harus kamu lakukan, tidakkah kamu berpikir begitu, Charlotte?"

Charlotte tidak mampu bersuara dan hanya bisa mengangguk lesu. Lucien memberi gestur kepada Charlotte untuk menempelkan tangannya pada permukaan batang Pohon Cefricisa. Begitu Charlotte melakukannya, gelombang cahaya Pohon Cefricisa langsung menyusup masuk ke dalam telapak tangannya, mengirim informasi kepada otak Charlotte yang belum sepenuhnya siap.

Di sebelah Charlotte, Lucien bisa melihat wajah dan tubuh Charlotte yang dipenuhi garis-garis ukiran yang bercahaya putih dengan bias hijau kebiruan. Dalam momen itu, Pohon Cefricisa sedang memberitahu Charlotte mengenai takdirnya di Procyon.

Sebenarnya, terlalu banyak hal baru yang terjadi padanya dalam satu waktu, yang berhasil menggoyahkan keyakinan dan ideologi Lucien selama ini. Pemuda itu juga ingin tahu, mengapa larangan atas dirinya telah berubah dan kini berkaitan dengan kematian Charlotte dan juga Gavin, saudara kembar Charlotte di Procyon, sekaligus orang yang selalu berusaha menyelamatkannya ... dulu.

Gavin yang Lucien kenal adalah orang yang sangat baik. Dulu Gavin merupakan mentor Lucien saat pertama kali memasuki Procyon, mengajarinya banyak hal yang kurang lebih sama seperti dengan apa yang Lucien lakukan pada Charlotte. Hanya saja, Gavin mulai menjauh sejak insiden pertarungan di hari terakhir di mana Lucien kalah, mati, lalu terlahir kembali. Gavin tahu soal Lucien yang telah bereinkarnasi menjadi seekor kupu-kupu, bahkan dialah yang mengetahuinya pertama kali, tapi Gavin menghindarinya tanpa sebab. Tidak tahu harus berbuat apa, Lucien memutuskan untuk tidur selamanya sampai Charlotte secara tidak sengaja datang ke sarangnya.

Energi yang Lucien kira adalah milik Gavin yang sedang berada di dekatnya, ternyata adalah Charlotte yang memiliki ciri khas energi yang sama dengan Gavin. Tidak mengherankan bila Charlotte ternyata memiliki koneksi dengan Gavin, dan untuk membalas kebaikan Gavin padanya, Lucien bertekad untuk melindungi diri Gavin yang lain ini. Jika Gavin adalah orang yang sangat baik, maka seharusnya Charlotte tidak jauh berbeda, dan Lucien meyakini itu.

Jikalau hari akhir Charlotte dan Gavin harus datang ... terus terang, Lucien masih belum tahu apa yang harus dilakukannya. Namun, Lucien tahu, kalau apapun hasil akhirnya, itu adalah yang terbaik dan harus diselesaikan sendiri oleh mereka berdua sebagai sepasang saudara kembar.

Lucien tersadar dari lamunannya begitu melihat ukiran cahaya yang menyelimuti Charlotte tiba-tiba berubah merah menyala. Ini sama sekali belum pernah terjadi, dan intuisi Lucien mengatakan bahwa situasi sekarang dapat membahayakan Charlotte atau malah seisi Procyon jika tidak segera dihentikan.

"Charlotte!" seru Lucien kalap. "Charlotte, apa kamu bisa mendengarku?!"

Tidak mendapat respons yang bisa menenangkan hatinya, Lucien segera menarik Charlotte menjauh dari Pohon Cefricisa. Akar gantung transparan yang ternyata sedari tadi mengikat leher dan kedua tangan Charlotte langsung melepaskan diri dan menghilang tanpa bekas.

Dalam pelukannya, Charlotte langsung jatuh pingsan dengan mata terpejam. Lucien menepuk pelan tangan dan pipi Charlotte, namun tampaknya gadis itu tidak akan segera terbangun dalam beberapa menit ke depan.

"Apa baru saja ... Pohon Cefricisa ingin membunuh Charlotte?" Lucien menerawang ke arah Pohon Cefricisa dengan ekspresi kebingungan. Tahu bahwa dia tak akan menemukan jawabannya dari pohon itu, Lucien memejamkan mata, bergumam, "Gavin, apa kamu melihat itu ...? Saudara kembarmu hampir saja mati …."


Lucien mengepakkan sayapnya dengan pelan dan lembut. Sesuai dengan permintaan Charlotte, Lucien kembali ke wujud asalnya dan tidak akan pernah bertransformasi menjadi manusia lagi. Membicarakan Charlotte, perempuan yang ditakdirkan bersaudara dengan Gavin itu sudah terlelap kembali, kali ini dengan wajah yang terlihat jauh lebih tenang.

Lucien tidak mau berbohong kalau dirinya khawatir pada mereka berdua. Lelaki itu merasa apa yang dilakukannya sejak terbangun sama sekali bukan dirinya, yang seharusnya bisa menekan empati dalam situasi apa pun. Justru, setelah bertemu dengan Charlotte, Lucien mau-mau saja mengikutinya, mendengar tawa dan tangisnya, serta melihat ketakutan yang entah mengapa bisa Lucien rasakan sendiri setelah sekian lama.

Keseimbangan Lucien goyah dan jatuh tepat di atas kening Charlotte. Satu hal lain yang aneh bagi Lucien adalah dirinya yang bisa menahan rasa sakit setiap kali menggunakan kemampuannya untuk menolong ataupun menghibur Charlotte. Jika biasanya rasa sakit itu datang setiap Lucien menggunakan sihirnya terlalu kuat atau terlalu lama, maka kali ini, pada detik ini, semua efek berkumpul menjadi satu seolah ingin membunuhnya, tetapi untuk suatu alasan, Lucien sama sekali tidak merasa konsekuensi atas kemampuannya itu menyiksanya.

Sebagai pendatang, dia tidak memiliki kekuatan yang besar, belum lagi didukung dengan kondisi fisiknya yang tergolong kurang bila dibandingkan dengan manusia pada umumnya. Ares, dirinya yang lain yang merupakan penduduk asli Procyon, jauh lebih superior dan bisa menggunakan kekuatan terbesarnya tanpa berimbas pada tubuhnya seperti yang Lucien alami. Sama sekali tidak mengherankan jika pada waktu itu, Lucien menjadi pendatang pertama yang mati di hari akhir.

"Nona Putih ... Charlotte …"

Apa maksud Charlotte melarangnya untuk berubah ... karena Charlotte mengetahui soal kekuatan dan reaksi pada tubuhnya? Bisa saja Pohon Cefricisa juga memberitahu soal itu pada Charlotte, tetapi rasanya agak kurang masuk akal kalau dipikirkan lebih jauh. Masih mencoba menahan rasa sakitnya, Lucien hanya bisa berspekulasi dengan menciptakan garis-garis hipotesis. Hingga pada akhirnya, sepasang sayapnya terbuka lemas, pertanda Lucien mulai membiarkan alam bawah sadarnya yang menanggung sisa penderitaannya.

"... aku sangat menyayangimu …."


Charlotte terbangun lagi, kali ini pagi—atau malah mulai menjelang siang—sudah menyinari seisi Procyon. Kepalanya terasa pening sehabis menangis semalaman, dengan wajah sedikit memerah dan sembab karena air mata. Tidurnya yang kedua sama sekali tak memberi mimpi apa-apa, dan Charlotte sangat mensyukurinya.

Ada kolam yang berlokasi tak jauh dari tempatnya tidur, yang langsung Charlotte manfaatkan untuk membasuh wajah dan melepas dahaga, sebelum akhirnya dia berhenti tatkala menyadari sesuatu.

"Bukankah di sini ... letak Pohon Cefricisa?" Charlotte tidak begitu ingat dengan jelas, tapi dia cukup yakin kalau dirinya sudah menghabiskan malam di bawah Pohon Cefricisa bersama Lucien. Bicara soal Lucien, Charlotte juga tidak melihat sang kupu-kupu ada dalam cakupan netranya. "Lucien ... di mana?"

Melihat ke kiri dan ke kanan, tidak ada siapa pun selain Charlotte di sini. Berbalik ke arah belakang, Hutan Gomeisa masih terlihat sama seperti yang tercetak dalam ingatannya, namun tetap saja Lucien tidak terlihat di mana pun.

"Lucien?" panggil Charlotte yang mulai panik. "Lucien?! Lucien!"

"Aku di sini, Nona Putih." Lucien ternyata sedang menempati anggrek biru imitasi yang menghiasi kepala Charlotte. "Selamat pagi."

Charlotte langsung mengembuskan napas lega. Bayang-bayang mimpi buruk semalam masih menggentayangi hatinya. "Setidaknya tolong sapa aku saat bangun tidur, dong, Lucien!"

"Haha, maafkan aku." Lucien spontan tertawa. "Kalau begitu, bagaimana kalau kamu tidur dan bangun lagi lima menit sesudahnya? Aku akan menyapamu seperti yang kamu mau. Selamat pagi, Nona Putih—"

"Lucien!

"Maaf, maaf. Aku hanya bercanda," ujar Lucien dengan nada ringan dan riang, seperti tak merasa berdosa sama sekali. "Oh ya, untuk menjawab kebingunganmu, Pohon Cefricisa akan berpindah tempat setiap tengah malam, berganti posisi dengan sebuah struktur alam secara acak. Jika sekarang yang ada di sini adalah Kolam Idoneus, maka Pohon Cefricisa sekarang berada di tengah-tengah Taman Horilva, tempat Kolam Idoneus seharusnya berada. Taman Horilva terletak tepat di tengah-tengah Hutan Gomeisa."

Kolam terletak nyaris mencium tepi tebing, Charlotte masih tidak bisa menyesuaikan dirinya dengan keanehan Procyon. Selain itu, kolam yang disebut Lucien sebagai Kolam Idoneus tampak tidak asing untuknya, terutama jembatan kayu yang melengkung di atas kolam itu.

"Lalu, apa yang terjadi di malam berikutnya?"

"Kolam Idoneus akan berpindah kembali ke Taman Horilva, sementara Pohon Cefricisa akan mencari sudut baru untuk ditempati sampai besoknya, bertukar dengan struktur yang menempati lokasi targetnya. Perpindahannya cukup acak dan tidak bisa diprediksi."

"Ah begitu. Terus, apakah Taman Horilva itu ... tempat yang banyak ditumbuhi anggrek biru, Lucien?"

"Hanya setiap bulan purnama, kamu bisa melihatnya. Di luar periode itu, Taman Horilva sebenarnya hanya padang rumput biasa," jawab Lucien. "Dari mana kamu mengetahui soal anggrek biru itu, Nona Putih?"

"Aku pernah melihatnya di mimpi. Ada seorang pemuda yang berdiri di sana." Charlotte menunjuk ke arah jembatan. "Banyak sekali anggrek biru di tempat itu, dan ada banyak kunang-kunang juga."

"Kebetulan, bulan purnama datang malam ini," ujar Lucien. "Nona Putih, apakah kamu punya keinginan untuk pergi ke sana?"

"Bagaimana dengan dirimu sendiri, Lucien?" tanya Charlotte.

"Aku belum pernah pergi ke Taman Horilva sebelumnya, jadi aku cukup tertarik. Ada banyak tempat yang belum pernah kukunjungi selama ini, yang hanya pernah kubaca informasinya di perpustakaan kota," tanggap Lucien. "Kenapa kamu bertanya?"

"Aku tidak tahu apakah aku ingin pergi atau tidak," Charlotte mengaku dengan ekspresi canggung. "Takdirku adalah menyelamatkan Procyon, setidaknya itu yang diberitahukan Pohon Cefricisa padaku kemarin. Aku bingung, apa sebenarnya aku masih punya waktu sebelum benar-benar menjalankan peranku di sini? Aku jadi tidak tahu apa yang ingin dan harus kulakukan."

Harus Lucien akui, dirinya sangat penasaran akan apa yang terjadi di antara Charlotte dan Pohon Cefricisa kemarin sore itu. Sebetulnya tidak akan terlalu penasaran kalau Lucien tidak melihat keanehan yang terjadi pada Charlotte. Tentunya, Lucien tidak bisa bertanya langsung pada Charlotte dan memilih menunggu gadis itu bercerita kepadanya terlebih dahulu. Namun, sepertinya Charlotte sendiri tidak terlalu paham dengan apa yang terjadi padanya.

Mengenai Taman Horilva, Lucien merasakan adanya keterkaitan antara fenomena unik taman itu sendiri dengan mimpi yang Charlotte ceritakan, dan tidak lupa juga hiasan kepala Charlotte yang tidak lain dan tidak bukan adalah spesies bunga yang tumbuh di sana. Di sisi lain, Charlotte entah mengapa sangat ingin pergi ke sana, seperti ada sesuatu—atau mungkin seseorang—yang telah memanggilnya untuk datang.

Melihat Charlotte yang masih kalut, Lucien berujar, "Apa pun yang terjadi, kamu harus percaya pada instingmu."

Charlotte menoleh ke arah Lucien yang kini terbang di sampingnya. Dengan satu anggukan, Charlotte berujar,

"Ayo kita pergi, Lucien, ke Taman Horilva!"


Charlotte dan Lucien kembali memasuki Hutan Gomeisa. Lucien sempat menjelaskan jika Hutan Gomeisa memiliki delapan titik sebagai ujung pembatas, sehingga Hutan Gomeisa merupakan hutan luas berbentuk segi delapan yang tidak simetris. Di setiap sudut dan tepat di tengah Hutan Gomeisa, terdapat sembilan struktur alam yang dua di antaranya adalah Pohon Cefricisa dan Kolam Idoneus. Oh, tidak lupa juga Lucien mengatakan bahwa Hutan Gomeisa sebenarnya merupakan pulau terapung. Charlotte sempat melongok ke bawah tebing sebelum pergi, dan yang bisa Charlotte lihat adalah gerombolan kabut keabuan yang cukup tebal.

"Di bawah sana, ada sebuah kota yang sangat luas bernama Luyten yang ditempati penduduk Procyon. Bisa dibilang, Hutan Gomeisa menjadi terapung karena sihir. Cefricisa tak ingin alam Procyon rusak sepenuhnya karena ulah ciptaan-Nya, jadi Dia menempatkan Hutan Gomeisa di atas Kota Luyten untuk menyelamatkan alam."

"Berarti ... cahaya matahari tidak sampai ke sana karena terhalang Hutan Gomeisa, ya," simpul Charlotte.

"Manusia di Procyon tidak terlalu membutuhkannya. Ada banyak sumber cahaya dan panas yang bisa dipakai untuk menggantikan fungsi matahari," jelas Lucien. "Walau begitu, semua makhluk hidup di Procyon tetap bisa ke sini setiap saat, menggunakan semacam elevator yang tersembunyi di balik struktur yang ada di setiap titik sudut Hutan Gomeisa, kecuali Pohon Cefricisa."

"Berarti Kolam Idoneus tadi …"

"Benar sekali. Jika seandainya kamu tadi memilih untuk pergi ke Luyten, tadinya kita akan masuk ke dalam Kolam Idoneus. Dengan memasukinya, kamu bisa segera mencapai Kota Luyten, tapi tenang saja, kamu tidak akan jatuh ke sudut kota, karena menurut legenda Procyon, dataran di bawah Hutan Gomeisa tidak memiliki ujung."

"Lalu, aku akan jatuh di mana?"

"Tentunya di salah satu titik di Kota Luyten. Salah satu titik yang kuketahui adalah markas Special Task Force, tempat yang akan kita tuju jika masuk ke dalam Kolam Idoneus." Charlotte melihat Lucien terbang berputar-putar mengelilinginya, seperti ada maksud yang Charlotte tidak mengerti. "Walau struktur di tiap sudut Hutan Gomeisa selalu berubah karena ciri khas Pohon Cefricisa, tapi tempat awal dan titik tempatmu tiba tidak akan berubah. Yang membedakan hanya cara masuknya saja. Maka dari itu, jika kita pergi ke Kota Luyten melalui Taman Horilva, kita akan jatuh di titik selain barak Special Task Force walau Kolam Idoneus sudah kembali ke posisinya semula."

Charlotte mengangguk, sedikit paham mengenai kondisi geografis Procyon. Manusia yang bisa naik ke langit ternyata bukan lagi sesuatu yang mustahil, Charlotte menyimpulkannya dalam hati.

"Sebenarnya, sihir di Procyon bernama Evol, dan penggunanya disebut sebagai Evolver. Maaf karena aku baru memberitahumu sekarang." Lucien memutuskan untuk membuka topik baru. "Kamu akan sering menemukan istilah ini nantinya, Nona Putih."

Setiap kali Lucien memanggilnya dengan sebutan Nona Putih, Charlotte menganggap Lucien sedang dalam suasana hati yang bagus dan santai, serta sifat jahil yang ikut terbit. Charlotte sedikit terkekeh, menganggap kebiasaan Lucien dalam memanggilnya cukup lucu. Kekesalan Charlotte yang sebelumnya muncul saat dipanggil demikian sudah lenyap. "Kenapa dirimu bisa sangat pintar, Lucien?"

"Aku tidak merasa begitu."

"Kamu merendah."

"Soalnya kalau aku mengiyakan, kamu malah jadi akan semakin kurang percaya diri. Aku tidak mau kamu merasa begitu."

Skakmat. Charlotte tidak bisa membalasnya sama sekali. "A-Ahaha, jangan terlalu blak-blakan seperti itu, dong! Omong-omong, aku ingin tahu bagaimana konsep Evol kupu-kupu milikmu, Lucien. Aku mengerti kalau Lucien bisa menghindar dengan mudah karena ukuran kupu-kupu yang kecil, lalu Lucien juga bisa mengatur berat sesuatu menjadi sangat ringan seperti bagaimana berat kupu-kupu, tapi bagaimana Lucien bisa memiliki kekuatan orang lain walau hanya sementara ...?"

Lucien tidak segera menjawab. Mereka kini sudah sampai ke area yang dipenuhi tanaman-tanaman buah, di mana Lucien memilih untuk mengistirahatkan diri di atas sebuah beri mini yang mengimitasi bentuk pisang. "Kurasa kita bisa beristirahat sejenak, bagaimana menurutmu?"

Ada satu hal baru yang Charlotte sadari, yaitu ketika Lucien sedang berbohong atau kurang menyukai topik yang dibicarakan, Lucien akan memilih hinggap di suatu tempat dan sayapnya akan mengepak lebih kencang walaupun sedang tidak mengudara. Bisa dibilang, tingkah laku Lucien dalam wujud kupu-kupu lumayan jujur dan ekspresif. Setelah menanggapi saran Lucien dengan anggukan, Charlotte bertanya, "Kamu ... tidak suka dengan pertanyaanku ya, Lucien? Aku ... benar-benar minta maaf."

"Kamu tidak perlu meminta maaf, Nona Putih. Aku tidak mempermasalahkan apa pun." Lucien mengakhiri kalimatnya dengan kekehan yang terdengar sangat dipaksakan. "Mari kita kembali pada pokok pembahasan kita. Aku ingin memberitahumu soal Assis, jika kamu tertarik."

"Assis?" ulang Charlotte. "Mengingatkanku dengan kata asisten ... apa itu, Lucien?"

"Kamu tidak salah. Assis memang merupakan suatu kemampuan untuk menyatukan dua Evol yang berbeda. Dalam beberapa kasus, bisa lebih dari itu," ungkap Lucien. "Assis dapat menciptakan kombinasi kekuatan yang sangat besar, biasanya terwujud berdasarkan Evol yang dimiliki penggunanya."

"Apakah aku bisa melakukannya dengan semua orang?"

"Tentu saja, selama kamu bisa memenuhi syarat yang diperlukan. Kelak kamu akan mengetahuinya sendiri. Aku hanya ingin memberitahumu supaya kamu tidak terlalu kaget nantinya."


Langit biru telah berganti hitam berhiaskan kartika, dan tinggal beberapa puluh meter lagi bagi Lucien dan Charlotte untuk mencapai Taman Horilva. Semak Tefufu yang berada di kiri-kanan jalan yang mereka lalui memicu nostalgia tumbuh di benak Charlotte. Entah bagaimana nasibnya jika Lucien tidak menolongnya, barangkali Charlotte sudah tinggal nama sekarang.

"Apakah kamu yakin ini jalan yang benar, Lucien?" tanya Charlotte, bermaksud memecah keheningan. "Kamu bilang sendiri kalau kamu belum pernah datang ke Taman Horilva, seingatku."

"Memang, tapi Taman Horilva yang berada di pusat hutan memiliki energi magnetisme yang kuat. Sebagai kupu-kupu, aku bisa menggunakan gelombang magnetisme untuk pergi ke tempat yang ingin kutuju," jawab Lucien. "Nona Putih, bisakah kamu menghindari Pohon Cefricisa saat kita tiba nanti?"

Belum sempat Charlotte menjawab, kakinya tak sengaja menginjak sesuatu sampai rata dengan tanah. Refleks mengucapkan kata maaf, Charlotte bisa melihat bunga biru malang yang masih berusaha bersinar menerangi langkahnya.

"Kita sudah sampai di Taman Horilva, Charlotte."

Puas meneliti lingkungan sekitarnya, Charlotte berdecak kagum. Semua nyaris persis seperti mimpinya, mulai dari padang rumput berhiaskan anggrek biru yang tumbuh secara acak, langit berbintang dengan bulan purnama yang selurus dengan arah wajah Charlotte, sampai semilir angin malam yang begitu menenangkan, semuanya seperti terealisasi dari mimpinya. Yang membedakan adalah tidak adanya Kolam Idoneus yang kini posisinya sedang digantikan oleh Pohon Cefricisa.

Charlotte mengerjapkan matanya. Taman Horilva ... terlihat seperti tempat Charlotte pertama kali terbangun, kemudian disapa oleh anjing pemburu, dikejar-kejar sampai mengelilingi Hutan Gomeisa, kemudian bertemu Lucien. Apa berarti ... dirinya kembali ke tempat semula?

"Nona Putih," panggil Lucien, "bagaimana menurutmu?"

"Ini indah sekali, Lucien!" Charlotte menjatuhkan dirinya di atas rerumputan, tentu setelah memastikan tidak adanya anggrek biru yang berpotensi menjadi korban selanjutnya. "Aku merasa ingin sekali berada di sini selamanya!"

"Sebentar lagi tengah malam, Nona Putih." Terus terang, mendengarnya dari Lucien membuat Charlotte syok. Karena tidak ada jam atau semacamnya, Charlotte jadi agak tidak sadar dengan waktu. "Apa kamu tidak mengantuk?"

"Um ... mungkin—"

"KALIAN DIAM DI SANA!"

Terperanjat, Charlotte segera berdiri dan membalikkan badan. Meski berhasil menyatu dengan kegelapan, tapi Charlotte tahu, pasukan Black Swan telah datang mengepungnya, bersiap untuk kembali mengulang perburuan yang sebelumnya gagal.

Tak jauh berbeda dengan Charlotte, Lucien juga sama kagetnya, tetapi untuk alasan yang berbeda. Wujud kupu-kupu berhasil menyembunyikan horor traumatis yang menyergap dirinya.

"A ... res ...?"


"Kalian semua bodoh! Lemah!"

Pasukan prajurit yang kembali ke markas Black Swan tampak membungkuk gemetar. Hades, duduk di atas kursi keagungannya, menghantamkan dwisula emasnya ke lantai dengan penuh rasa geram. Cerberus, anjing berkepala tiga yang sedang duduk di samping Hades, langsung menggeram, menggonggong, dan melolong hampir beriringan, seolah mengerti dengan amarah tuannya. Puas melampiaskan kekesalannya, Hades mengembuskan napas panjang yang terdengar kasar dan dipaksakan.

"Ke mana gadis itu sekarang? Apakah dia sudah bertemu dengan saudara kembarnya? Jawab aku!"

"Di-Dia menghilang! Orang yang telah membunuh Ketua juga tiba-tiba saja menghilang dari hadapan kami!" jawab salah satu prajurit yang semakin gentar.

"Kalian semua tidak berguna!" tanggap Hades bengis. "Kita, Black Swan, adalah organisasi tempat berkumpulnya para pemenang! Bagaimana kalian yang jumlahnya banyak bisa kalah dengan seorang pendatang baru dan seorang penipu?!"

Seluruh anggota pasukan jatuh lemas. Tungkai mereka sudah tak mampu menahan atmosfer mencekam yang menekan mereka. "M-Maafkan kami, Tuan Hades!"

Hades mendecih. "Apa di antara kalian ada yang tahu, siapa yang telah menyerang kalian semua?"

Pertanyaan itu dijawab dengan begitu cepat, kompak, dan meyakinkan. "Seseorang yang berwajah persis seperti Tuan Ares!"

Hades mengerling ke arah sudut ruangan. Berdiri dengan posisi tangan melipat di depan dada, Ares membalas tatapan licik Hades dengan delikan tajam. Ares sudah menyimak semua adegan picisan yang tersaji di depan matanya, bisa dibilang Ares sama sekali tidak tertarik dengan ramalan mengenai seorang gadis yang bisa menyelamatkan orang-orang yang terkurung di Procyon, atau bawahan Black Swan yang tidak kompeten dalam menyelesaikan misi mereka sendiri.

"Bagaimana, Ares? Aku pikir sekarang kau akan tertarik bekerja sama denganku," ujar Hades dengan seringai puas. "Lucien kembali mengancam nyawamu, aku yakin itu. Kami menerima siapa saja yang ingin diselamatkan, walau kau ... berbeda dari kami semua."


Tidak memberikan kesempatan bagi Charlotte dan Lucien, seluruh pasukan langsung melancarkan serangan begitu Ares—sosok yang menjiplak sempurna rupa Lucien—merentangkan tangan kanannya ke atas, memberi isyarat menyerang tanpa ragu.

Menyadari situasi, Lucien segera memasang dinding pelindung yang berhasil menahan serangan fisik maupun magis dari pasukan Black Swan, setidaknya untuk sekarang. Di belakang Lucien, Charlotte lagi-lagi merasa tidak berguna. Ini sama seperti ketika Charlotte masih berada di dalam kurungan besi, di mana dia hanya bisa diam menyaksikan Lucien yang berusaha menyelamatkannya.

Akan tetapi, kali ini jelas berbeda. Karena permintaan egoisnya, Lucien tidak bisa bertarung dengan maksimal dan hanya mampu menciptakan pelindung, suatu kekuatan yang baru Charlotte ketahui. Jika Lucien berkata bahwa sihirnya berkaitan dengan kupu-kupu, maka pastinya pelindung ini juga sama saja,

"Menggunakan energi kehidupanmu untuk melindungi gadis itu, apa kau sungguh ingin mati dua kali, Lucien?"

... 'kan?

Lucien tidak mau menanggapi kata-kata Ares yang sebenarnya tak lebih dari sekadar sarkasme retorik. Ares menurunkan tangannya, bersamaan dengan berhentinya tembakan serangan yang diluncurkan pasukan Black Swan.

"Serahkan dia, dan akan kubiarkan kau pergi," tawar Ares. "Jujur saja, kami semua tidak ingin berurusan denganmu. Black Swan akan mengampuni dosamu yang telah membunuh salah satu ketua prajurit kami yang berharga kalau kau menurut."

"M-Membunuh?" tanya Charlotte tanpa sadar.

"Oh, kupikir kau sama sekali tidak bisa bicara," tanggap Ares. "Benar sekali. Lucien telah membunuh seseorang yang pernah menjadi bagian dari kami. Kekuatan aslinya adalah meniru Evol orang lain, sama sepertiku. Setelah bereinkarnasi menjadi kupu-kupu, Lucien mendapatkan kemampuan baru. Apa itu mengejutkanmu?"

Orang di depannya ini memang mempunyai fisik yang sama persis dengan Lucien, tapi hawa yang mereka miliki jelas berbeda. Jika Charlotte tak salah ingat, diri Lucien yang lain ini bernama Ares, dan Charlotte bisa merasakan kekuatan dan ancaman yang besar darinya. Bila Lucien memberikan kesan yang menentramkan dan menenangkan, maka Ares terlihat seperti ingin menyiksa dan menghabisinya, bagi Charlotte.

"Maafkan aku, Charlotte. Kamu pasti sangat membenciku sekarang, bukan?" tanya Lucien dengan suara sedih. "Tidak hanya menjadi seorang pembunuh dan pembohong, kini aku juga menjadi seorang pengkhianat bagimu."

Sejurus kemudian, Lucien sudah mengubah wujudnya menjadi manusia, berdiri tegap membayangi Charlotte. Ribuan belati sudah tercipta di hadapan Lucien, membentuk tangga spiral yang dipijakinya satu per satu.

"Aku tidak akan menyerahkan Charlotte padamu, Ares!" Baru pertama kali Charlotte mendengar Lucien berseru dengan nada penuh amarah. "Bunuh aku sebelum kau mencoba membawanya pergi!"

"Tantangan diterima, Lucien."

Setelah menginjak belati yang menjadi anak tangga terakhirnya, Lucien menjatuhkan diri, siap menyerang Ares dengan sebuah belati yang digenggam kuat. Belati-belati yang telah dipijaki Lucien berubah menjadi pita-pita putih keunguan berduri perak yang berusaha menjerat Ares.

Panorama di perspektif Charlotte berubah mencekam dan mengerikan, persis seperti apa yang muncul di mimpinya kemarin malam; langit oranye-biru dongker dengan ribuan mata memelototinya

"Akh!"

Lucien sudah mengacungkan belatinya, sementara Ares sudah bersiap memasang posisi bertahan dan mencari titik tempatnya bisa melakukan serangan balik. Charlotte bisa mencium aroma amis dan sesuatu yang lengket terasa menempel di depan matanya. Meyakini adanya hal buruk yang akan menimpa mereka, Charlotte berhasil membebaskan diri dari pelindung yang Lucien ciptakan dan berlari mencapai pemuda itu.

"LUCIEN!"

Tersentak, Lucien segera memutar tubuhnya dan memilih membawa Charlotte menjauhi Ares. Kontradiksi dengan kata-katanya beberapa saat lalu, Lucien justru membawa Charlotte mendekati Pohon Cefricisa. Kerlingan matanya terarah pada bulan purnama yang hampir mencapai titik pusat di langit malam. Charlotte dalam pelukan Lucien bisa melihat sekelebat hitam yang memeluk Lucien dari belakang, namun Charlotte merasa kehilangan suaranya dan tidak mampu melempar tanya.

"Oh, aku tidak menyangka aku masih bisa merasakan apa yang kaurasakan," ujar Ares sinis. "Apa yang sedang kaurencanakan?"

"Bukankah seharusnya kau sudah bebas, Ares? Menggantikanku?" tanya Lucien, tak menjawab pertanyaan Ares.

"Cefricisa menipu kita semua."

"Apa maksudmu?"

"Procyon hanyalah sebuah tempat pembunuhan massal," jelas Ares. Tampaknya figur serba hitam itu tak mau memperjelas jawabannya lebih lanjut. "Gadis itu ... adalah kunci kebebasan bagi kita semua."

Tepat setelah Ares mengakhiri dialog, Pohon Cefricisa telah menghilang, berpindah posisi dengan Kolam Idoneus yang menyapa Charlotte pagi tadi. Teringat dengan penjelasan Lucien dalam perjalanan mereka, Charlotte berseru, "Lucien, Assis!"

Belum sempat Lucien menjawab, jalinan huruf-huruf tak teridentifikasi bercahaya merantai tangan Lucien dan Charlotte. Lucien, dengan kondisi tubuh bercahaya, otomatis menggumam pelan, "Lux spargens me ...,"

Ada tiga kondisi yang harus dipenuhi dalam melakukan Assis. Pertama, kedua penggunanya harus memiliki sihir Evol. Kedua, kedua penggunanya harus memercayai satu sama lain. Selanjutnya, yang ketiga dan yang terakhir adalah—

"... e somno surgere!"

—orang yang akan berperan sebagai pendonor sihir harus bisa merapalkan mantra identitas partner resipiennya.

Tanah di Taman Horilva bergetar hebat. Jutaan kupu-kupu bercahaya putih secara mendadak membebaskan diri dari tubuh Lucien, memasuki tanah kemudian membentuk anggrek biru yang sangat besar dan luas tepat di bawah pasukan Black Swan. Kelopak-kelopaknya mencuat keluar dari tanah, memerangkap kumpulan orang itu dalam selubung cahaya.

Tiga kondisi yang terpenuhi itu memberikan tiga kenyataan baru yang mengagetkan Lucien; Charlotte memiliki Evol, Charlotte memercayainya, dan Charlotte secara mengejutkan mengetahui juga mengingat mantra identitasnya entah dari mana.

Dalam sepersekian detik, Lucien bisa melihat sesuatu yang Lucien yakini sebagai gambaran masa depannya. Tanpa menunggu waktu panjang, Lucien segera mendorong Charlotte masuk ke dalam Kolam Idoneus, berteriak, "Pergi sejauh mungkin, Charlotte!"

"Lu ...! Lucie—!"

Banyak sekali yang ingin Lucien katakan dan tanyakan pada Charlotte. Besar sekali keinginan Lucien untuk terus selalu bersama Charlotte. Sayangnya, Lucien tahu kalau dia telah kehabisan waktu saat bunga cahaya—yang terbuat dari kekuatan miliknya dan Charlotte—meledak menjadi kunang-kunang yang sirna bersama harapan Lucien.


... Huh?

Mengapa Charlotte tak bisa mendengar apa pun lagi? Mengapa seluruh pandangannya berubah hitam, walau Charlotte masih sepenuhnya sadar? Mengapa Lucien mendorongnya masuk ke dalam kolam, dan tidak ikut masuk bersamanya? Mengapa rasanya sangat dingin berada di sini? Mengapa ... Lucien meninggalkannya?

Seberkas cahaya muncul di hadapan Charlotte, memperlihatkan Lucien dan Ares yang mulai beradu kekuatan. Lucien terlihat berada dalam kondisi tidak menguntungkan. Hanya itu yang bisa Charlotte lihat, sebelum latar hitam dan garis-garis biru membawanya jatuh semakin dalam, entah ke mana.

"Padahal aku sudah mencoba memberitahumu, lho, tapi kenapa kamu sama sekali tidak peka ...?"

Charlotte ingin memejamkan mata, namun untuk suatu alasan yang tak diketahui, kelopak matanya tak bisa diajak bekerja sama. Charlotte seperti dipaksa melihat sosok gadis yang terlihat menyerupai dirinya dengan perbedaan warna gaun yang mencolok, mengingatkannya dengan Lucien dan Ares.

"Lucien …."

"Heeei, percuma kalau kamu mau menangis. Keadaan tidak akan pernah berubah. Mau bagaimana pun kamu berusaha, masa depan tidak akan bisa kamu ubah sekarang. Kamu sudah sangat sangat sangat terlambat!"

"Sebenarnya ... kamu siapa?"

"Aku? Ah, biarkan aku menangkup wajahmu sambil menjawabnya. Melihat wajah putus asamu dari dekat sepertinya akan memuaskanku." Seringai si gadis sukses menciptakan tempat tersendiri di ruang memori Charlotte. "Perkenalkan, aku adalah mimpi burukmu. Selamat datang di Procyon, eheheh! Sekaraaaaang, apa kamu sudah memikirkan kematian terindahmu, Charlotte?"

Gavin, kudengar kamu adalah saudara kembarku. Bisakah ... aku memohon kepadamu untuk menyelamatkanku ...?


"Aku tak akan bisa melihatmu jika kamu mati di depan mataku, apalagi secepat ini, karena," Lucien sempat menggantungkan kalimatnya di udara, "keselamatan dan kebahagiaanmu adalah satu-satunya hal terpenting dalam hidupku sekarang."

Belati itu terhempas ke udara, lenyap tak berbekas.

"Waktuku bersamanya ... sekarang sudah berakhir."


Chapter 2 : A Love Letter from Nightmare

e n d


Lapak Curhat Penulis :

Aku sadar aku sepertinya terlalu banyak menumpahkan banyak informasi baru di sini. Kupikir juga alurnya kelihatan kepaksa dan terburu-buru banget, walau aku dari awal memang sudah berprinsip tidak mau membuat proyek Procyon ini terlalu panjang dan malah bertele-tele, hahaha.

Oh ya ... lupa nyapa.

Ahoynonya! Chapter ini langsung diakhiri dengan perpisahan Lucien dan Charlotte. Maaf sekali, perjalanan mereka harus kuakhiri di sini, ahahahaha. Aku harus mengakui juga kalo bagian mereka ketemu Ares itu gajelas banget. Enggak ada rencana mempertemukan mereka secepat ini, tapi tanganku kepleset hahaha. Kuharap karakterisasi mereka enggak terlalu OOC banget di sini, aku takut! X"D

Enggak banyak yang bisa kuketik di sini, jadi ... sampai jumpa lagi? Ketemu lagi di Chapter 3 : New Journey, New Me! Bye-bye~!

~himmedelweiss 17/12/2022