"Taufan, Gempa, apa kalian ridha kepadaku?" Halilintar menatap kedua adiknya lekat-lekat.
Bibir Taufan dan Gempa gemetar. Tapi akhirnya mulut Taufan berucap, "Iya... kami ridha... ini akan menjadi perjuangan terakhir Halilintar kan? Jangan khawatir, kami akan baik-baik saja..."
Gempa, meskipun bibirnya tetap bungkam, kepalanya mengangguk pelan. Seberapapun kerasnya dia berusaha, tetap saja air mata lolos dari pelupuk matanya.
"Jangan menangis..." Halilintar memeluk mereka erat. "Jika sudah waktunya, Allah akan mempertemukan kita lagi kan? Bersama ayah, ibu, dan Tok Aba..."
Kedua adiknya balas memeluk Halilintar erat-erat.
Sebuah isyarat diperlihatkan oleh seorang tentara berseragam serba hitam yang bahkan menutupi wajahnya. Satu-satunya yang tidak hitam adalah ikat kepalanya yang berwarna hijau bertuliskan 'Kataib Al-Qassam.'
Melihat isyarat itu, Halilintar melepas pelukannya. "Aku pergi dulu, Wasalamualaikum..."
Halilintar berbalik, lalu berjalan mengikuti tentara tersebut.
"HALILINTAR! BERJUANGLAH!" teriak Taufan. Bersamaan dengan itu bendungan air matanya pecah, begitu pula dengan Gempa. Matanya yang buram Taufan melihat tentara itu menuntun Halilintar setelah memakaikan sebuah jaket merah padanya.
Untuk menutupi sebuah bom yang terpasang di dadanya.
.
.
.
"Dengan berat hati, kau lepaskan dia. Saudaramu yang berani mati dengan peledak di dadanya." (8Ball - Palestina)
FAITH AND FIGHTER
Summary: Di tanah tempat di mana cinta terbunuh ini, Kaizo justru menemukan kembali hatinya. [Rated M for Palestine!AU]
Disclaimer: BoBoiBoy © Monsta Studio. Tidak mengambil keuntungan apapun dalam pembuatan cerita ini.
Warning: Palestine!AU, Journaist!Kaizo, Typo(s), OOC akut, Palestine issues, sadist, dll.
.
.
.
Taufan seketika bangun, dia memerhatikan sekelilingnya.
'Apa yang terjadi?' batinnya.
Dia sedang duduk di atas tandu. Ada seorang relawan yang Taufan kenal duduk di sampingnya, mengamati Taufan. Di hadapannya terlihat puing-puing bangunan dengam debu yang berterbangan.
"Taufan, kau tidak apa-apa?" tanya Ramenman, si relawan tersebut.
Taufan tidak menjawab. Kepalanya sibuk mengingat-ingat kejadian sebelumnya.
'Oh, iya... waktu itu aku dan Gempa sedang belajar di kelas... lalu aku izin ke toilet... lalu... yang kuingat hanyalah suara ledakan dan cahaya... apa serangan Israel lagi?'
Taufan menggertakkan gigi. Entah sudah berapa kali ini terjadi. Lagi-lagi pesawat jet Israel menyerang secara membabi-buta, tanpa peduli yang terkena serangan mereka adalah fasilitas yang harusnya dilarang diserang, termasuk sekolah.
Setidaknya kali ini Taufan beruntung. Dari lukanya yang hanya lecet dan memar, tampaknya bom yang mereka pakai bukan bom fosfor putih. Kalau iya, pasti tubuh Taufan sudah terbakar hingga tulang. Dan juga keajaiban Taufan selamat dari reruntuhan–
Taufan langsung ingat. Saudara kembarnya, Gempa!
"Ramenman..." panggil Taufan. "Kau melihat saudara kembarku, Gempa?"
Ramenman terdiam, lalu menggeleng.
"Maafkan aku, Taufan. Sewaktu kami mengeluarkan orang-orang dari reruntuhan, wajah mereka sulit dikenali. Dan sebagian besar dari mereka... sudah tewas."
Wajah Taufan memucat. "Jadi... Gempa, saudara kembarku, sudah meninggal?"
"Tunggu, Taufan! Tenang... kau harus ke rumah sakit–!"
Taufan langsung berdiri dari tandu, lalu berjalan pergi begitu saja.
.
.
.
Taufan berjalan tak tentu arah. Langkahnya terhuyung. Sinyal rasa sakit terus berdering di kepalanya. Sayang otaknya terlalu penuh untuk menanggapinya.
Gempa.
Taufan tidak menyangka, saudara kembarnya itu akan mati secepat itu. Padahal dia sudah berjanji untuk menjaganya. Apa yang harus dia katakan pada Halilintar kelak? Ya, dia tahu Gempa takkan menyalahkannya, tapi tetap saja Taufan merasa bersalah.
Padahal kita sudah berjanji untuk berjuang sampai akhir kan...
Mata Taufan tiba-tiba menangkap sosok seorang prajurit Israel yang kebetulan sedang berjalan sendirian. Entah kenapa melihatnya membuat emosi Taufan menggelegak.
Gara-gara orang seperti mereka... Ayah... Ibu... Tok Aba... Halilintar... Gempa...
BUAK!
"ZIONIS-ZIONIS TERKUTUK!"
Taufan langsung melancarkan pukulan tepat di wajah prajurit itu. Dia sempat terkejut, tapi dia langsung mendorong tubuh lemah Taufan hingga jatuh ke tanah.
Taufan berusaha berdiri, tapi prajurit itu telah bersiap dengan senapannya.
"Berhenti."
Seseorang tiba-tiba berdiri di antara Taufan dan prajurit itu. Taufan mengenalinya. Dia Tarung, mamntan veteran Amerika yang kini menjadi kepala relawan di seluruh Gaza. Wibawanya yang terbenruk setwlah bertahun-tahun berada di medan perang membuat dia disegani bahkan di kalangan Israel sekalipun.
"Aku tidak tahu apa urusan kalian, tapi kuberitahu. Dia Taufan, salah satu murid yang selamat dari serangan udara tadi. Mungkin pikirannya masih kacau, jadiaku minta kau lupakan ini dan pergi dari sini."
Prajurit itu tampak kesal, tapi menurut. Dia pun pergi sambil menggerutu dalam bahasa hebrew.
"Paman Tarung! Kenapa paman menghentikanku?!" protes Taufan.
Tarung diam. Dia tidak menjawab.
"Paman Tarung kan tahu dia jahat! Gara-gara dia... Gempa... Gempa!" suara Taufan mulai gemetar.
Tarung tiba-tiba memegang bahunya. "Gempa tidak mati."
Taufan mengerjab. "B-benarkah?"
"Tadi aku melihatnya dibawa ke rumah sakit. Lukanya sepertinya parah. Tapi dia hidup," kata Tarung.
Taufan menatapnya tak percaya. "Paman Tarung... tidak bohong kan?"
Tarung tersenyum. "Tentu saja tidak. Kau pernah bilang bohong itu dosa kan?"
Wajah Taufan menjadi cerah. Dia memeluk Tarung erat, lalu segera menuju rumah sakit.
.
.
.
"Hwah, panas banget!"
"Ya iyalah, namanya juga iklim Timur Tengah!"
"Hah... dijamin deh, kalau kita balik nanti Jakarta jadi kerasa sejuk!"
Sebuah kapal merapat di Pelabuhan Gaza. Puluhan orang dengan ras yang beragam turun. Beberapa di antaranya sibuk menurunkan muatan yang sebagian besar merupakan bahan pangan dan obat-obatan.
Ckrek!
Pemandangan orang-orang tersebut dengan latar belakang kapal dan Laut Merah sukses tertangkap lensa kamera Kaizo.
Liputannya telah dimulai.
TBC
Trivia:
-Kataib Al-Qassam: artinya Brigade Al-Qassam (Bahasa arab) mereka adalah sayap militer dari gerakan perlawanan Palestina Hamas
-Bom fosfor putih: Disebut juga sebagai WP (White Phosphorus) atau Willy Pete. Fosfor putih bisa menimbulkan layar asap kimia yang dapat membakar kulit hingga ke tulang. Penggunaannya dilarang oleh PBB. (sumber: aliteri)
A/N:
YA-HA! Akhirmya setelah sekian lama kesampaian juga bikin fic tentang Palestina XD
Sebenarnya ide awalnya aku mau ngerekap sejarah Palestina dari jaman Nabi Musa sampe sekarang buat fandom sebelah. Tapi karena bikin pusing, yaudah ini aja.
Kenapa aku gak bikin HaliTauGem manggil "Kak"? Karena aku nyesuain latar mereka yg di arab. Dalam bahasa arab gak ada panggilan "kak/dik" adanya "akhi/ukhti" (saudaraku/saudariku) itu pun buat formalitas atau yang belum kenal.
Kalau ada yang mau tanya2 boleh. Tapi maaf, tidak melayani jasa baku hantam uwu
Sampai jumpa di chapter selanjutnya!
REVIEW! REVIEW! REVIEW!
