"Ketua Koko Ci... anda benar-benar yakin mengirim Kaizo untuk meliput di Palestina?" tanya Nut.
Koko Ci, si ketua redaksi mengangguk. "Ya... aku tahu kondisi di sana berbahaya. Tapi mengingat Kaizo sudah pernah menghadapi yang lebih parah dari ini, jadi bukan masalah baginya."
"Tapi... Palestina dekat dengan aksi bom bunuh diri kan? Bagaimana–"
"Justru itu," kata Koko Ci. "Aku berharap liputannya kali ini dapat memulihkan hatinya yang hancur karena peristiwa itu. Nut, kau tahu kenapa Kaizo berani menghadapi mafia, suku kanibal, dan makhluk buas? Selain demi sepotong berita?"
Nut berpikir. "Hmm... aku mengira Kaizo hanya tertarik pada petualangan yang mendebarkan..."
"Bukan," kata Koko Ci. "Dia hanya mencari hal-hal yang lebih menyakitkan supaya dia bisa melupakan tragedi itu..."
.
.
.
"You don't need to be a moslem to stand up for Palestine. You just need to be human!" –Erdogan
FAITH AND FIGHTER
Summary: Di tempat di mana cinta terbunuh ini, Kaizo justru menemukan kembali hatinya [Rated M for Palestine!AU]
Disclaimer: BoBoiBoy © Monsta Studio. Tidak mengambil keuntungan apapun dalam pembuatan cerita ini.
Warning: Palestine!AU, Journaist!Kaizo, Typo(s), OOC akut, Palestine issues, sadist, dll.
.
.
.
Sai dan Shielda, dokter dan perawat relawan dari Malaysia. Kaizo baru mengenal mereka saat berada di kapal. Awalnya Kaizo hanya akan menganggap mereka sebagai orang yang kebetulan berasal dari negara yang sama. Tapi Kaizo tidak menyangka mereka menjadi salah satu kisah heroik yang bisa Kaizo bawa pulang nanti.
Aksi mereka bermula ketika kapal mereka tiba-tiba dihampiri sebuah speedboat yang berisikan tentara Israel. Mereka memeriksa kapal dengan wajah garang. Para relawan was-was, khawatir mereka akan mengulangi tragedi Mavi Marmara.
Saat itu para tentara mulai bersikap kasar bahkan mulai memukul salah satu relawan. Sai akhirnya memulai perlawanan dengan melempar sebuah wajan penggorengan bak cakram yang langsung membuat tentara pertama kehilangan gigi dan hidung patah. Shielda menerjang ke depan dengan menjadikan wajan sebagai perisai. Dengan bantuan pantat wajan, dia berhasil memukul tentara kedua dengan sangat keras hingga jatuh ke laut.
Perlawanan Sai dan Shielda membuat para prajurit itu mundur dan pergi dari kapal. Keberaniannya membuat mereka berdua dijuluki 'frying pan duo'. Sekilas julukan itu terdengar konyol, tapi tak mengapa. Yang penting tidak ada korban jiwa.
Kaizo membaca catatan itu dengan teliti. Sejak dia bercerita tentang kejadian ini pada Koko Ci, dia jadi tertarik dan menyuruhnya melakukan wawancara dengan mereka.
Jadilah Kaizo di sini, di sebuah rumah sakit di kota Gaza. Dia duduk sejenak, mengumpulkan tenaga setelah bertanya beberapa hal pada si kembar itu. Sesekali memerhatikan perawat dan dokter yang hilir-mudik, dan para pasien yang sedang dirawat.
"HOI! KAIZO!"
Kaizo menoleh. Seorang pemuda jepang berkaca mata hitam dam berambut pirang keriting menyapanya. Dari seragamnya terlihat dia adalah anggota relawan.
"Ramenman..." sapa Kaizo.
Ramenman langsung menjabat tangannya. "Apa kabar?! Terakhir kali kita bertemu saat kau dikejar-kejar yakuza di Jepang ya? Walau aku sampai terseret dalam masalahmu, itu benar-benar seru!"
Kaizo memutar matanya. "Sudah, itu tidak perlu diungkit lagi."
"Iya, iya... jadi, sekarang melakukan liputan ke Palestina ya? Apa kau akan menyelidiki tentang terowongan HAMAS atau rancangan nuklir Israel–"
"Hanya liputan biasa," jawab Kaizo. "Aku ditugaskan mewawancarai beberapa orang di Gaza. Wawancara biasa, kau tahu."
"Oh... menarik. Kau bisa bahasa arab, begitu? Asal kau tahu, tidak semua orang Palestina bisa bahasa inggris lho," kata Ramenman.
Kaizo memutar mata. Merasa sedikit kesal demgan Ramenman, tapi dia tahan.
"Tidak terlalu buruk, aku sempat belajar sedikit sebelum ke sini. Kalau ada yang tidak kupahami, aku tinggal rekam dan terjemahkan nanti," jelas Kaizo.
"Hmm... bagus. Tapi saranku, kau perlu semacam tour guide atau orang yang menemanimu. Karena... kau tahu, di Gaza banyak bahaya yang mengintai. Tapi aku tak bisa menemanimu sih..."
Memangnya yang minta bantuanmu siapa?
"Yah, itu bisa sangat membantu. Tapi kalau memang tidak ada, aku sendiri juga tidak apa-apa, sudah biasa–"
"Ah! Bagaimana dengan anak itu?"
Ramenman tiba-tiba menunjuk ke arah salah satu ranjang pasien. Ada seorang anak yang asyik mengobrol dengan anak lain yang sedang dirawat. Dari wajahnya sepertinya mereka kembar identik.
"Yang sedang berdiri itu namanya Taufan. Dia salah satu anak-anak Gaza yang bersekolah di sekolah relawan. Bahasa inggrisnya bagus, jadi dia bisa bicara denganmu." jelas Ramenman.
"Anaknya supel dan ramah, jadi dia akrab dengan banyak relawan. Belum lagi dia kenal dengan semua orang di Gaza. Dia juga tangguh, padahal beberapa hari yang lalu dia baru saja selamat dari reruntuhan sekolah, tapi tak lama kemudian dia memukuli seorang prajurit Israel. Bagaimana?"
Kaizo terdiam. Dia tidak terlalu suka bekerja bersama orang lain, tapi mendapat orang yang bisa membantunya sebagai penerjemah dan pemandu bukannya bagus?
"Assalamualaikum paman, jadi paman temannya Ramenman? Katanya paman perlu bantuanku."
Anak yang bernama Taufan itu tiba-tiba saja sudah berdiri di dekatnya. Ramenman berdiri di sampingnya, tertawa kecil.
Hei, aku bahkan belum menjawab!
"Panggil Kaizo saja. Aku masih terlalu muda untuk dipanggil paman," ujar Kaizo.
Kaizo menghela napas. Kalau dia menolaknya, Kaizo akan terkesan tidak sopan. Jadi Kaizo tidak punya pilihan.
"Baik, Kaizo... Kau wartawan kan? Jadi kau perlu mewawancarai siapa?" tanya Taufan antusias.
Hah? Dia mau langsung?
"Yah, ada beberapa orang. Dan kalau aku jelaskan sekarang bisa panjang..." kata Kaizo.
"Kalau begitu kita jelaskan sambil jalan saja! Ayo!" seru Taufan sambil menarik tangan Kaizo.
.
.
.
Sudah lima hari berlalu sejak pertemuan Kaizo dengan Taufan. Kaizo akui nama itu tergolong unik digunakan di Timur Tengah seperti Palestina. Belum lagi nama adik kembarnya yang bernama Gempa. Nama yang semakin aneh.
Tapi Ramenman benar. Taufan bisa menjadi sumber informasi dan penerjemah terbaik. Dia saat ini sudah menjelajahi seluruh Gaza bahkan mengunjungi kota-kota lain di Tepi Barat dan Kompleks Masjidil Aqsha di Jerussalem. Juga berkat Taufan Kaizo bisa bertemu dengan banyak narasumber yang dia cari. Mulai dari orang biasa seperti petani dan pedagang, pemuka agama, orang pemerintahan, bahkan anggota HAMAS. Kaizo dan Taufan beberapa kali sedikit berkonflik dengan pasukan Israel, tapi untungnya tidak parah.
Selama ini Kaizo mengira Gaza dan kota-kota lain di Palestina itu seperti kota mati yang dipenuhi puing-puing dan sepi. Ternyata dia keliru. Kegiatan ekonomi masih berjalan layaknya kehidupan biasa, meski puing-puing dan bangunan rusak masih ada bahkan masih digunakan. Hanya saja karena serangan dan blokade Israel membuat roda perekonomian tidak berjalan dengan semestinya.
Hal itu membuat sebagian besar warga Gaza hidup dalam kemiskinan bahkan bergantung pada bantuan kemanusiaan. Taufan pernah bercerita mereka makan daging setahun sekali, yaitu saat Idul Adha dengan hewan dari bantuan kemanusiaan atau seludupan dari Mesir.
Air juga jadi masalah. Lebih dari 90 persen sumber air di Gaza tercemar radiasi bom sehingga tidak layak pakai. Kaizo pernah memotret Taufan bersama warga Gaza lain mengantri untuk mengambil air, tentunya air dari bantuan kemanusiaan.
Hari mulai beranjak sore saat Kaizo selesai mewawancarai narasumbernya. Kaizo duduk di teras masjid, sementara Taufan sedang melaksanakan sholat ashar.
"Kaizo!" panggil Taufan. "Kau pasti lelah... ayo ke rumahku untuk istirahat sebentar!"
Kaizo hanya mengangguk. Dia dan Taufan biasanya berjanji bertemu di rumah sakit, karena Taufan menginap di sana menemani Gempa. Jadi Kaizo belum pernah melihat rumah mereka. Kaizo memang terbiasa jarang beristirahat karena pekerjaannya, tapi tak mengapa sekali-sekali.
"Ayo, lewat sini!"
Kaizo mengikuti langkah cepat Taufan. Dia tampak sangat gembira. Entah karena menerima tamu atau akhirnya kemvali ke rumahnya.
Sayang, senyum itu lenyap saat yang mereka temui bukanlah sebuah bangunan, melainkan puing-puing.
.
.
.
"Taufan, tidak perlu repot memasak air begitu..."
"Tak apa, Kaizo. Memuliakan tamu adalah yang utama..."
Kaizo kembali duduk, meski merasa tidak enak melihat Taufan berusaha menyalakan api di tumpukan kayu hanya untuk membuatkannya teh.
Sepertinya hari ini ada buldozer Israel yang meruntuhkan rumah Taufan tanpa permisi. Hal ini sering terjadi di Palestina, mengingat Israel sering membuat pemukiman untuk warganya yang secara hukum ilegal. Kaizo pernah dengar penggusuran semena-mena ini tidak mempedulikan orang yang berusaha menghalanginya. Sebut saja Rachel Corrie, seorang warga Amerika yang mati terlindas buldozer saat menghalangi raksasa besi itu menghancurkan rumah orang-orang Palestina. Jangan tanya berapa orang Palestina yang mati dengan cara yang sama.
Kaizo memerhatikan perabotan yang dikumpulkan Taufan dengan bantuannya. Kaaur tipis yang cukup untuk dua orang, beberapa peralatan dapur, potongan pakaian, lampu minyak, buku-buku, dan beberapa barang lainnya. Dari sedikitnya perabotan dan jumlah puing, Kaizo menduga 'rumah' yang Taufan tempati lebih mirip tempat istirahat pekerja bangunan di lokasi proyek. Sebuah kondisi yang menyedihkan.
"Tehnya sudah jadi, Kaizo."
Taufan menyodorkan sebuah gelas berisi teh hangat. Kaizo menerimanya sementara Taufan duduk di sampingnya dengan gelas kecil yang berisi gelas yang sama.
Kaizo sedang menyeruput tehnya saat Taufan berbicara.
"Maaf ya... kau jadi membantuku... harusnya aku membiarkanmu istirahat..."
Kaizo mengendikkan bahu. "Jadi setelah ini kau bagaimana?"
"Hmm aku mungkin akan mengamankan barang-barang dulu... lalu tetap tidur di rumah sakit hingga Gempa sembuh. Selanjutnya... pikirkan nanti saja ya?"
Taufan tersenyum, meski tidak serasi dengam matanya yang memancarkan kesedihan.
Mereka kembali meminum teh dalam diam. Mata Kaizo tiba-tiba tertuju pada bingkai foto yang ada di pangkuan Taufan. Meaki kacanya pecah, Kaizo masih bisa melihat isinya. Seorang pria paruh baya tengah merangkul tiga anak kecil berwajah identik.
Tiga?
"Kalian kembar tiga?"
Taufan agak tersentak, tapi dia mengangguk. Dia lalu mengangkat bingkai foto tersebut.
"Kakak kembar kami, Halilintar," jelasnya singkat.
Lagi-lagi nama yang aneh...
"Di mana dia?"
"...sudah di sisi Allah..."
Sudah kuduga, batin Kaizo. "Aku turut berduka."
Kaizo menduga Taufan akan menitikkan air mata atau setidaknya larut dalam kesedihan. Tapi sebuah senyum kebanggaan juatru terkembang di wajahnya.
"Kakakku, Halilintar syahid sebagai pembela tanah airnya dan bumi para nabi! Itu cita-cita tertinggi orang-orang Palestina! Dan Halilintar berhasil meraihnya!"
Mau tidak mau Kaizo tersenyum kecil melihat Taufan begitu bersemangat.
"Halilintar menjadi relawan aksi bom syahid yang berhasil meluluhlantakkan Israel!"
PRANG!
Gelas di tangan Kaizo terjatuh. Senyumnya menghilang. Matanya terbelalak. Tubuhnya gemetaran.
"Kaizo? Kau kenapa?" tanya Taufan.
Setelah semenit Kaizo seperti itu, Kaizo mulai bicara. Suaranya dipenuhi ketakutan dan kemarahan yang teramat sangat.
"Jadi... kakakmu teroris? Dia membunuh orang-orang tak bersalah dengan keji?"
Taufan sangat terkejut. Dia menggeleng keras.
"Halilintar tidak seperti itu! Dia waktu itu mengebom gudang senjata Israel! Yang terbunuh hanya tentara!"
"Kau tidak berpikir perasaan keluarga tentara yang terbunuh itu?!"
Taufan menaruh gelasnya. Dia berdiri. Matanya menampakkan kepedihan dengan nyata.
"Kaizo sendiri tidak memikirkan perasaanku dan Gempa saat ditinggal pergi oelh Halilintar?"
"Dia mungkin tidak perlu mati dengan cara konyol seperti itu–!"
"HALILINTAR BUKAN TERORIS! JANGAN SAMAKAN DIA DENGAN ORANG-ORANG SEPERTI ITU!"
Kaizo tidak menjawab. Kepalanya tak henti memutar ulang memori yang paling dia benci.
Kenapa sejauh apapun aku berlari, masa lalu itu selalu berhasil menangkapku?
TBC
Trivia:
-Tragedi Mavi Marmara: Mavi Marmara adalah kapal terbesar dari iringan 6 kapal pembawa barang-barang bantuan untuk Palestina dalam misi Gaza Freedom Flotilla. Relawan yang terlibat lebih dari 130 dan berasal dari 50 negara. Pada 31 Mei 2010, kapal ini diserang pihak Israel dari laut dan udara. 10 orang relawan tewas, kebanyakan orang Turki. Puluhan lainnya luka-luka.
-Rachel Corrie: Rachel Corrie adalah aktivis kemanusiaan. Beragama kristen dan berwarga negara Amerika. Pada 16 Maret 2003, Rachel Corrie tewas dilindas buldozer Israel. Pihak Israel mengklaim kejadian itu sebagai "kecelakaan". Keluarga Corrie pernah mengajukan tuntutan terhadap hal ini, tapi ditolak oleh hakim.
A/N: Halo! Ada yang menunggu fanfic ini? (Re: gak /author pundung)
Sampailah kita di chapter dua! Adakah yang bisa menebak apa masa lalu Kaizo itu? Klo bisa nebak berarti Aurhor gak jago jaga rahasia /plakk
See you in the next chapter!
REVIEW! REVIEW! REVIEW!
