"Ibu... Ibu... Pang mau es krim..."

"Fang... nanti saja es krimnya ya? Kita kan sedang menunggu bus..."

"Hwee... es krim!

Fang, adik Kaizo yang berusia 5 tahun tak hentinya merengek-rengek. Kaizo yang berusia 14 tahun maklum. Hari ini sangat panas. Teriknya matahari dan udara kota yang penuh polusi menjadi kombinasi yang pas agar penghuni halte bus menghasilkan keringat.

Tidak biasanya mereka menggunakan transpotasi umum. Mobil ayahnya yang biasa dioakai untuk berkendara sedang mogok. Jadilah mereka terdampar di sini.

Melihat Ibunya kewalahan menghadapi Fang, Kaizo mengusulkan sebuah ide.

"Ibu, di seberang jalan ada minimarket. Bagaimana jika Kaizo membelikan es krim untuk Fang?" tawarnya.

"Kaizo, jalanannya sangat ramai, berbahaya!" tolak Ibunya.

"Sudahlah, bu. Tidak apa-apa. Kaizo sudah cukup besar untuk tahu caranya menyebrang jalan. Daripada Fang merengek-rengek terus," ujar Ayahnya sambil menyerahkan beberapa lembar uang.

"Fang, Abang akan belikan es krim. Fang mau rasa apa? " tanya Kaizo sambil beralih ke Fang.

"Horee! Pang mau es krim Pebble Penguin!" serunya gembira.

"Kalau Ayah dan Ibu?"

"Rasa yang seperti biasanya saja, Kaizo," jawab Ayahnya.

"Baik, aku pergi dulu ya."

"Ya, Kaizo. Hati-hati!" pesan Ibunya.

Kaizo segera melangkah di trotoar, sedikit meminta maaf pada seorang pria yang membawa ransel besar karena menyenggolnya. Dia lalu dengan hati-hati menyebrang jalan dan menuju minimarket. Udara pendingin minimarket dan seorang penjaga kasir ramah menyambutnya.

Kaizo bergegas menuju boks es krim yang berada di pinggir minimarket. Boks itu bersandar pada dinding minimarket yang terbuat dari kaca sehingga dia bisa melihat halte bus dengan jelas.

Kaizo membuka boksnya. Dua es krim biasa, es krim matcha untuknya, dan es krim Pebble Penguin untuk Fang. Kaizo sempat memandang es krim berbentuk penguin itu dengan perasaan geli. Dia teringat bagaimana adiknya sangat menyukai karakter fiksi tersebut.

Es krim itu tiba-tiba tergelincir dari tangannya sehingga jatuh ke lantai. Kaizo buru-buru mengambilnya, khawatir bentuk es krim itu akan rusak–

DUARRRR!

Kaizo refleks menunduk ke lantai. Dia mendengar suara mengerikan yang memekakkan telinga, diiringi dengan embusan angin panas di kepalanya. Selanjutnya adalah gelap.

Saat Kaizo membuka matanya kembali, kepalanya terasa linglung. Telinganya berdenging, dia tak bisa mendengar apapun selain suara dengingan itu.

Perlahan dia bangkit. Minimarket yang tadinya rapi kini porak-poranda. Jajanan di etalase berterbaran ke segala arah. Beberapa di antaranya masih teguh di tempatnya, tapi itu karena banyak paku yang entah dari mana, menancap di bungkusnya.

Si penjaga kasir tidak terlihat, tapi Kaizo melihat ada cairan merah mengalir dari sela meja kasir.

Apa yang terjadi?

Dengan tangan memegang sisi boks es krim. Kaizo berdiri dan menatap ke luar.

Di antara dengingan yang memenuhi telinga dan bau hangus dan amis yang menusuk hidungnya, Kaizo melihat halte bus kini hancur berantakan, dengan tubuh-tubuh tak berbentuk bertebaran di sekelilingnya.

.

.

.

"Kemudian, zionis bergegas membuat kalimat teroris. Alasan para petinggi yang membuat intifada kian habis!" –8Ball-Palestina


FAITH AND FIGHTER

Summary: Di tanah tempat di mana cinta terbunuh ini, Kaizo justru menemukan kembali hatinya [Rated M for Palestine!AU]

Disclaimer: BoBoiBoy © Monsta Studio. Tidak mengambil keuntungan apapun dalam pembuatan cerita ini.

Warning: Palestine!AU, Journaist!Kaizo, Typo(s), OOC akut, Palestine issues, sadist, dll.

.

.

.

BRIGADE IZZUDIN AL QASSAM MEMANGGIL

Syarat bergabung:

1. Mendapat izin dari orang tua untuk syahid.

2. Mendapat izin ketua masjid sekitar tempat tinggal dengan pengesahan individu tidak meninggalkan sholat shubuh berjamaah selama tiga bulan.

3. Tidak melakukan maksiat atau menghisap rokok.

4. Memahami tafsir Al-Quran.

5. Membaca Al-Quran 1 juz sehari dan hafal Al-Quran minimal 15 juz.

6. Hafal 40 Hadist Arbain.

7. Rutin puasa sunnah dan bertahajud.

8. Taraf kecerdasan tinggi.

9. Kerap hadir di majelis ilmu.

10. Mengamalkan dzikir harian.

Kaizo membaca selebaran pamflet itu dengan teliti. Dia mendapat itu sewaktu dia dan Taufan menyaksikan parade kelompok HAMAS sambil melakukan konser lagu yang bertema perjuangan. Aslinya tulisan di pamflet tersebut ditulis dalam huruf arab, tapi Taufan sudah membantu menerjemahkannya ke bahasa inggris sehingga mudah dimengerti.

Bagi orang biasa mungkin persyaratan itu lebih terlihat seperti syarat menjadi ustadz daripada syarat menjadi tentara. Tapi Kaizo tidak berpikir begitu. HAMAS mengedepankan aspek religius bukan tanpa alasan. Lelaku yang ada dalam persyaratan itu pasti tidak mudah dipenuhi, sehingga hanya orang-orang yang bersungguh-sungguh yang dapat melakukannya. Lagipula kualitas prajuritnya terjamin, buktinya mereka mampu membuat tentara Israel yang unggul dalam segi persenjataan kewalahan.

Kaizo memijat keningnya. Pertengkarannya dengan Taufan kemarin membuat dia sulit fokus. Dia masih harus melakukan 1-2 wawancara lagi, tapi dia tidak bisa melakukannya jika memori mengerikan itu terus mengganggunya.

"Kenapa aku malah kesini?" gumam Kaizo heran saat bangunan rumah sakit ada di depannya.

Mungkin karena masih kalut, Kaizo tanpa sadar pergi ke rumah sakit tempat di mana dia dan Taufan sering bertemu. Dia seketika merasa seperti orang nyasar.

Kaizo menghela napas, lalu memutuskan untuk masuk ke dalam rumah sakit. Kebetulan dia punya rencana untuk menulis berita tentang rumah sakit ini, jadi sekalian untuk penjajakan awal.

Kaizo melihat banyak dokter dan perawat berlalu lalang diiringi pasien-pasien. Sesekali anggota relawan organisasi internasional juga terlihat. Apa dia akan bertemu Ramenman lagi?

"Kaizo?"

Yang disebut namanya menoleh. Sekilas dia mengira sosok itu Taufan. Tapi melihat tiang infus berdiri di sampingnya, Kaizo mengenalnya sebagai kembaran Taufan, yaitu Gempa.

Melihatnya membuat rasa sakit kembali menghantam Kaizo. Belum lagi sebuah fakta menyakitkan muncul di kepalanya.

Seandainya Fang masih hidup, dia pasti akan seumuran dengan mereka berdua...

Kaizo membuang muka, berusaha menghindari tatapannya. Kakinya mulai beranjak.

"Kaizo, tunggu!" Gempa tiba-tiba menarik ujung baju Kaizo.

"Ada apa?" tanya Kaizo dingin.

"Aku ingin mengobrol denganmu. Sebentar saja..." pintanya.

Kaizo ingin menolak. Dia merasa obrolannya akan akan mengungkit masalah kemarin. Tapi melihat mata Gempa yang tampak sendu, membuat Kaizo dengan enggan menurutinya.

Mereka berdua kini duduk di kursi kayu sederhana yang dipakai untuk pengunjung. Gempa sedikit memainkan jarinya sebelum bicara.

"Aku sudah dengar dari Taufan... tentang kemarin..."

Kaizo menggertakkan gigi, berusaha menjaga emosinya tidak meledak sepenuhnya.

"Baiklah, aku tahu bagi orang Palestina mati dengan cara bom bunuh diri dalah sebuah kemuliaan. Tapi bagiku itu mati konyol. Gara-gara orang seperti itu umat islam harus menderita karena dicap sebagai teroris. Itu belum menghitung orang bodoh yang meniru aksi kalian sehingga membuat banyak orang tak bersalah terbunuh. Paham?" cecar Kaizo.

Kaizo sempat mengira Gempa akan meneriakkan ketidakterimaannya sambil mengeluarkan argumentasinya. Tapi Gempa justru menunduk, matanya menatap ke lantai.

"Seandainya bisa... Halilintar pasti ingin terus hidup dan berjuang... membela tanah airnya... membela keluarganya... dan membela agama Allah..."

Lalu Gempa mulai bercerita.

"Halilintar menganggung beban paling berat di antara kami bertiga. Dia yang pertama mendengar kabar kalau Ayah meninggal dicabik anjing liar di penjara Israel... dia juga yang melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana buldozer Israel menghancurkan rumah kami, mengubur kakek kami di dalamnya..."

Kaizo diam. Meski awalnya kesal, tapi dia mulai tertarik dengan cerita Gempa. Sejujurnya dia sedikit tersentuh, tapi dia memutuskan tidak berkata apa-apa.

"Sejak saat itu, Halilintar bertekad bergabung dengan HAMAS. Dia mati-matian menghafal Al-Quran dan Hadist Arbain, bangun pagi buta agar bisa bisa sholat malam dan paling awal ada di masjid, dan berlatih melempar batu. Tapi bukan untuk balas dendam atau semacamnya. Halilintar bilang... dia ingin berjuang sebagai prajurit Allah untuk membela tanah ini... agar tidak ada lagi orang yang bernasib sama dengan Ayah atau Kakek..."

"Tapi suatu ketika terjadi kerusuhan antara warga Palestina dan tentara Israel. Banyak orang yang ditangkap, termasuk Halilintar. Aku dan Taufan berusaha keras mencari tahu kabarnya, tapi nihil. Akhirnya setelah beberapa bukan dia keluar dari penjara. Tapi... kondisinya sangat buruk. Tubuhnya kurus dan penuh dengan bekas luka. Dan tangannya... cacat. Jadi dia tidak bisa melempar batu lagi..."

Mau tidak mau Kaizo sedikit merinding. Dia pernah dengar kalau penjara Israel sering memperlakukan tahanannya dengan tidak manusiawi. Mereka hanya diberi makan sehari, itu pun makanannya jauh dari kata layak. Itu belum menghitung siksaan seperti dicambuk, dipukuli, disiram air panas, atau mulut digunting. Bahkan ada yang mengatakan kalau Israel mencecoki tahanannya dengan narkoba agar saat mereka keluar, mereka akan menjadi beban bagi masyarakat. Tidak heran banyak tahanan yang menjadi cacat saat keluar dari penjara.

Mengerikannya, Kaizo tahu bahwa semua itu baru puncak gunung es yang diketahui media. Bisa saja ada hal yang lebih mengerikan dari yang dia ketahui.

"Halilintar sangat putus asa, merasa dirinya tidak berguna lagi... lalu saat salah satu anggota HAMAS menawarkannya untuk melakukan aksi bom syahid... Halilintar menerimanya..."

Mata Gempa mulai tampak berkaca-kaca.

"Bukannya kami tak suka Halilintar melakukan itu... kami senang... Halilintar pergi sebagai pejuang pembela negeri ini... tapi sebenarnya... kami tetap memerlukan Halilintar di antara kami... kami berusaha ikhlas... Halilintar... hanya terpaksa mengorbankan diri... dia hanya ingin mencari ridha Allah..."

Kaizo mendengarkan perkataan Gempa dalam diam. Kepalanya tiba-tiba memutar sebuah memori

.

.

.

"Kafir dzimmi dan kafir harbi?"

"Ya, itu hukun islam yang baru aku pelajari kemarin," jelas Nut kepada Adu Du dan Probe.

Di jam makan siang ini, ketiga orang itu entah kenapa memutuskan untuk membicarakan topik berat seperti itu. Tidak ada yang menyadari bahwa di sebelah meja makan kantin tempat mereka duduk, Kaizo mendengarkan mereka sambil menyantap donat wortel.

Adu Du menatap Nut sangsi. "Kau aneh sekali mulai mencari tahu soal islam. Kau ingin masuk islam atau semacamnya?"

Nur tertawa. "Aku hanya ingin tahu saja. Orang yang mempelajari matematika bukan berarti dia harus mencintai matematika bukan?"

Probe mengangguk-angguk. "Jadi... apa maksud dari kafir-kafir ini?"

"Pertama-tama, kafir dzimmi. Dalam islam, mereka adalah kamu non-muslim yang hidup di tengah masyarakat muslim karena perjanjian atau semacamnya. Mereka bebas beribadah dan mendapat perlindungan dari orang muslim. Mereka dilarang dibunuh, bahkan dosanya sangat besar jika dilakukan," jelas Nut.

"Lalu kafir harbi?"

"Kafir harbi adalah kaum non-muslim yang memerangi orang islam dan menghalangi tersebarnya islam. Kalau kaum muslim tidak melawan balik, mereka akan ditindas bahkan dibunuh. Mereka boleh diperangi. Contohnya, seperti bangsa Israel yang menindas bangsa Palestina."

.

.

.

Suara langkah sepatu bot di lantai membuyarkan lamunan Kaizo. Terlihat sekelompok tentara Israel memasuki rumah sakit dengan senapan laras panjang tergenggam di tangan mereka.

"Apa yang mereka lakukan disini?!" geram Kaizo. Ini rumah sakit, harusnya tentara seperti mereka tidak boleh masuk!

Para tentara itu melihat sekelilingnya dengan wajah garang. Para dokter, perawat, bahkan pasien merengut kesal. Tapi itu bukan berarti mereka tidak cemas. Kaizo mengamati mereka dari tempatnya duduk. Salah satu mereka (sepertinya Komandan) bertanya beberapa hal pada salah satu dokter senior. Meski tampak bersitegang, mereka akhirnya memutuskan untuk pergi.

Tapi saat rombongan tentara itu melewati bangku tempat Kaizo dan Gempa duduk, tiba-tiba salah satu dari mereka berteriak sambil menunjuk Gempa.

"Hei! Bukankah kau anak kecil yang memukuliku beberapa hari yang lalu?!"

Kaizo tersentak. Dia teringat cerita Ramenman bahwa beberapa hari yang lalu Taufan memukuli salah satu tentara Israel untuk melampiaskan kemarahannya karena mengira Gempa sudah meninggal.

Orang ini mengira Gempa itu Taufan...

"Kebetulan sekali... kali ini tidak ada Tarung yang melindungimu! Aku akan memberimu pelajaran–!"

Kaizo tiba-tiba berdiri di antara Gempa dan tentara itu.

"Bukan dia," tegas Kaizo. "Dia sudah dirawat sejak hari penyerangan itu. Kau salah orang."

"Apa–!"

"Kukira tentara Israel yang digadang-gadangkan sangat hebat itu tahu cara membedakan orang sakit dan orang yang sanggup memukuli orang. Apa aku keliru?"

Kaizo tersenyum sinis saat melihat ekspresi kesal tentara itu tapi dia tampak mati kutu.

DUAK!

Tanpa aba-aba sebuah gagang senapan milik sang komandan menghantam kepala Kaizo. Hal itu membuat Kaizo kehilangan keseimbangan dan roboh.

"Kaizo!" jerit Gempa.

"Wartawan sepertimu jangan ikut campur!" seru sang komandan.

Kaizo mengerang, matanya mulai berkunang-kunang. Samar-samar dia melihat para tentara itu mencabut selang infus Gempa secara paksa lalu menyeretnya pergi.


TBC


A/N: Di sini gak ada yang perlu dijelasin kan? OwO

Author lagi gak pengen banyak omong, jadi langsung aja...

See you in the next chapter!

REVIEW! REVIEW! REVIEW!