Kaizo memegang sebuah kunci tua tembaga sambil memandang makam Gempa, yang berdampingan dengan makam Taufan.

Dia mulanya ingin kunci ini dikubur Gempa, tapi orang-orang yang mengurus jasad Gempa melarangnya. Katanya, islam tidak memperbolehkan hal seperti itu.

Kunci yang dia pegang adalah kunci milik kakek mereka berdua, Aba. Kaizo ingat waktu itu dia bersama berkunjung ke Jerusalem. Selesai melihat-lihat Masjidil Aqsha, Kaizo melihat Taufan berhenti di depan sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari tempat suci tersebut.

Rumah itu berarsitektur lama yang menambah kesan klasik padanya. Di rumah itu terlihat sebuah keluarga Yahudi kecil yang tampak bersenang-senang layaknya orang normal. Taufan menatap mereka sambil menggenggam erat kunci tua yang ada di lehernya.

"Dulu itu rumah kakek kami... sebelum dia diusir di Hari Nakba..."

Kaizo lalu dengan diam-diam mencoba bertanya singkat kepada keluarga Yahudi itu. Mereka menjawab dengan santai, seolah mereka sudah tinggal di sana selama berabad-abad. Meski merasakan gejolak amarah, tapi dia mengurungkan niat untuk bertanya lebih jauh.

Kaizo ingat banyak karikatur Palestina yang memggambarkan kunci. Konon itu melambangkan kunci-kunci rumah mereka dulu sebelum terjadi konflik Israel-Palestina. Mereka menyimpan kunci itu dan mewariskannya dari generasi ke generasi, sebagai pengingat bahwa mereka pasti akan kembali ke rumah.

Dengan berat hati Kaizo mengubur kunci itu di depan makam Gempa. Dia tak punya pilihan lain, karena dia tak tahu sebaiknya kunci ini dia apakan.

Satu generasi sudah putus... Apa keluarga Yahudi waktu itu akan selamanya tinggal di rumah itu? Tanpa tahu kalau ahli waris rumah itu telah meninggal dengan cara tragis?

"Kau Kaizo si wartawan ya?" sebuah suara tiba-tiba menyapanya. "Yang sempat membuat heboh karena tertembak pasukan Israel?"

Kaizo menoleh. Rupanya Laksamana Tarung, pemimpin organisasi relawan. Dia tersenyum ramah kepadanya.

Tarung lalu berdiri di samping Kaizo, lalu tampak berdoa di depan makam Taufan dan Gempa. Dia lalu beralih ke Kaizo.

"Setelah kau selesai, apa kau mau berjalan-jalan bersamaku?"

.

.

.


FAITH AND FIGHTER

Summary: Di tanah tempat cinta terbunuh ini, Kaizo justru menemukan kembali hatinya. [Warning: Palestine!AU]

Disclaimer: BoBoiBoy © Monsta Studio. Terisnpirasi dari seri komik "Para Pencari Syahid" karya Fatharani_yasmin. Tidak mengambil keuntungan apapun dari pembuatan cerita ini.

Warning: Palestine!AU, Journalist!Kaizo, Typo(s), OOC akut, sadist, dll.


.

.

.

"Kapan kau akan kembali ke Malaysia, Kaizo?"

"Saya... tugas saya sudah selesai di sini, Laksamana... saya tinggal menunggu kapal selanjutnya yang akan bertolak ke Mesir, lalu naik pesawat ke Malaysia..."

Kaizo menjawab pertanyaan Tarung sejujurnya. Walau dia pernah mewawancarai orang ini, tetap saja ada sedikit kecanggungan di dalam dirinya.

Kaizo dan Tarung berjalan menyusuri gang-gang perumahan di Gaza. Tarung sesekali menyapa warga Palestina yang berpapasan dengannya.

Setelah beberapa lama, Tarung tiba-tiba kembali bertanya.

"Menurutmu bagaimana sebenarnya konflik ini?"

Kaizo terdiam. Dia sama sekali tak paham maksud dari pertanyaan tersebut.

"Maksudku, menurutmu ini konflik apa? Perebutan tanah? Konflik agama? Perang saudara? Atau penjajahan?"

Kaizo yang kini memahami pertanyaan itu berpikir sejenak. Dia teringat berbagai perdebatan tentang Israel-Palestina baik di dunia maya maupun nyata. Lalu ke ingatannya tentang hasil wawancaranya selama ini. Dan terakhir, wajah Gempa dan Taufan melintas di benaknya.

"Entahlah..." kata Kaizo pada akhirnya. "Seandainya kondisi dan kekuatan Palestina dan Israel setara, aku mungkin akan mengatakan ini hanya konflik tanah belaka yang ditambah bumbu agama. Tapi melihat kota Gaza dan segala keterbatasannya... dan semuanya... rasanya seperti melihat penjajahan..."

Tarung mengangguk-angguk. "Kau tahu? Aku pernah bertemu dengan Ayah dari Taufan dan Gempa."

Telinga Kaizo berdiri. Informasi itu membuat dia tertarik.

"Dia adalah salah satu teknisi dan pembuat senjata terbaik yang pernah dimiliki HAMAS. Sebagian besar senjata yang dibuat HAMAS saat ini adalah hasil rancangannya. Sebelum... yah, kurasa Taufan atau Gempa sudah menceritakan apa yang terjadi padanya..."

Kaizo mengangguk. Wajah pria yang merupakan Ayah mereka kembali terbayang di benaknya.

"Kami berdua pernah mengobrol sambil meminum kopi bersama layaknya teman lama. Padahal aku tahu kepalanya dihargai dua juta dolar oleh Pemerintah Israel. Waktu itu aku bergurau kepadanya, 'Kenapa Tuhan tidak memusnahkan Israel seperti bangsa terkutuk lain dalam kitab suci, sehingga kalian tak perlu menderita seperti ini?' kau tahu dia menjawab apa?"

"Dia menjawab, 'Lantas apa yang akan kami perjuangkan agar bisa syahid di jalan-Nya?'"

Kaizo mengangkat alis. Dia awalnya mengira dia akan mengiyakan sambil memaki-maki Israel. Tapi apa maksud dari jawaban itu?

"Aku juga awalnya bingung apa maksudnya. Tapi lambat laun akhirnya aku paham. Maksudnya adalah Tuhan menyisakan Israel dan segala kekejamannya agar menjadi ladang perjuangan umat Islam untuk menolong agamanya. Sehingga keberadaannya sebagai sebagai musuh menjadikan mereka punya alasan untuk terus berjuang dan bertarung... kau lihat sendiri kan dunia islam sudah menjadikan Israel musuh bersama untuk dihadapi?" jelas Tarung.

"Itu terdengar seperti pemikiran radikal yang penuh kebencian..." lirih Kaizo.

Tarung tertawa renyah. "Terserah kau menganggapnya apa. Tapi alasan itulah yang membuat orang-orang Palestina memutuskan untuk terus hidup di tanah ini, meninggalkan janji kehidupan sejahtera di negara lain. Bagiku, mereka tak ada bedanya dengan para pejuang kemerdekaan yang melawan penjajah demi tanah air mereka."

Setelah mengatakan itu, Tarung menghela napas.

"Bertahun-tahun berada di dalam perang ini membuatku berhenti berkhayal utopis di mana semua akan hidup damai bersama tanpa kebencian. Luka yang ditorehkan masing-masing pihak sudah terlalu dalam. Entahlah apakah ini akan berakhir dengan berdamainya dua pihak, atau satu akan binasa di tangan yang lain..."

"Binasa di tangan yang lain?" ulang Kaizo tak mengerti.

Alih-alih menjawab, Tarung justru menunjuk kerumunan pepohonan yang ada tak jauh dari mereka.

"Kau lihat pohon itu? Itu adalah Pohon Gordhob. Pohon yang sekarang digalakkan penanamannya oleh Israel dengan dalih penghijauan," jelas Tarung.

"Ada hadist dalam islam yang meramalkan akan ada hari di mana terjadi perang besar antara umat Islam dan Yahudi. Di hari itu, semua pohon dan batu akan memberitahu orang-orang Islam tentang keberadaan Yahudi di baliknya, dan memintanya untuk membunuhnya. Kecuali satu pohon yang akan tetap diam, dan itulah Pohon Gordhob. Menurutmu kenapa Yahudi yang notabene membenci Islam, menanam pohon yang disebut dalam hadist tersebut?" katanya.

Kaizo meneguk ludah. Merasa sedikit merinding mendengar perkataan Tarung.

"...mereka percaya hari itu akan datang?" jawab Kaizo pelan.

Tarung mengangguk. "Ada sekte Yahudi yang menganggap kalau pohon-pohon itu kelak akan melindungi mereka. Melihat isi hadist itu, keduanya berhubungan kan? Yah, kita tidak tahu apakah kita masih hidup saat hari itu tiba. Dan kalaupun iya, kita tidak tahu apakah kita akan ikut terlibat atau hanya menjadi penonton..."

Kaizo tiba-tiba berhenti berjalan. Tangannya mengepal keras.

"Kalau semua ini akan terus berlanjut hingga hari itu tiba... berapa banyak orang yang harus bernasib sama dengan Taufan dan Gempa? Mereka yang mati dengan sia-sia...?" gumamnya geram.

Tarung menepuk bahu Kaizo. "Kaizo, bangunan yang hancur bisa dibangun kembali, jiwa yang pergi pun akan berganti. Selama semangat perjuangan masih ada di dalam jantung orang Palestina, selama itulah perjuangan mereka yang pergi tidak sia-sia..."

Kaizo menunduk. "Jiwa yang pergi memang akan berganti. Tapi yang pergi... tetap pergi kan?"

Tarung tersenyum kecil. "Yang pergi memang akan pergi, Kaizo. Tapi izinkan aku memberitahu sebuah ayat dalam Al-Qur'an yang menjadi pelipur lara bagi yang ditinggalkan, dan kabar gembira bagi yang pergi..."

.

.

.

"Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya."

[QS 2: 154]


TAMAT


Nakba: Nakba dalam bahasa arab berarti "malapetaka". Hari itu jatuh pada tanggal 15 Mei 1948, sehari setelah prokamasi pendirian negara Israel. Disebut sebagai malapetaka karena di hari itu terjadi pengusiran besar-besaran bangsa Palestina dari rumah mereka sehingga terpaksa mengungsi di negara-negara tetangga seperti Yordania, Mesir, dan Suriah.

.

A/N: Akhirnya... setelah ketunda selama hampir setahun, akhirnya fic ini berhasil ditamatkan. Hweeee aku terharuuu TAT

Btw saya tahu ini telat banget... TAPI GAK NYANGKA BANGET INI FIC SEMPET MASUK TAHAP POLLING IFA 2020! BEST RESEARCH LAGI! Walau gak menang, tapi saya seneng banget! Jadi semangat buat berkarya lagi! \(^0^)/

Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para para pembaca atas semua review, fav, dan follownya. Termasuk juga para siders yang juga menyumbangkan views. Tanpa kalian semua, fanfic ini hanyalah catatan gaje di buku tulis saya. Semoga kalian bisa memetik pelajaran di fic ini. Amin...

Sampai jumpa di karya saya yang selanjutnya!

REVIEW! REVIEW! REVIEW!

.

.

.

.

"Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezeki."

"Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati."

[QS 3:169-170]