"Boboiboy?" Kening Yaya berkerut setelah nama itu disebutkan, dan cowok didepannya ini mengangkat alis. Kemudian salah satu tangan Boboiboy mendorong bahunya perlahan agar jarak di antara mereka tidak sedekat ini.
"Iya. Kenapa? Nama gue aneh?" tanya Boboiboy, karena kebanyakan orang yang mengetahui namanya pertama kali pasti akan merasa aneh.
"Nggak," Dan gadis didepannya ini berkata tidak. "Nama kamu bagus, kok," Dia mengatakannya sambil tersenyum.
Boboiboy menunjukkan wajah tak percaya sebentar. Sebelum berkata, "Terserah," dan mengalihkan pandangannya ke atap ruangan ini.
Ah, ya. Tentang dimana dia sekarang, Boboiboy butuh penjelasan lebih banyak dari cewek -yang katanya menolongnya- ini.
"Ini gue dimana, sih?"
Yaya mendecak kesal kala pertanyaan itu kembali ditanyakan. Padahal sudah jelas-jelas ia memberi tahu tadi. "Di kamar aku, kan tadi aku udah bilang," Kenapa cowok ini jadi menyebalkan?
Boboiboy memutar matanya jengah. "Ya gue tau ini di kamar lo," Sepasang matanya menatap kedua mata belo cewek di depannya. "Maksudnya, ini dimana? Di daerah mana?"
Awalnya, Yaya mengira cowok ini akan marah-marah padanya karena dengan seenaknya ia membawanya ke sini. Sebenarnya, agak bahaya juga sih bawa cowok ke kamar, tidak dikenal pula. Tapi, melihat sikap cowok ini yang sepertinya baik -agak menyebalkan juga sebenarnya- membuat Yaya lega.
"Masih di Perumahan Wiarda. Nggak jauh dari tempat kamu pingsan di jalan," kata Yaya penuh informasi.
Boboiboy akhirnya mengerti. Ia merutuki dirinya sendiri karena dirinya harus kehilangan tenaganya dengan cara pingsan di tengah jalan setelah dikeroyok.
Tapi... masih ada yang belum jelas.
"Lo... lo yang bawa gue ke sini?"
"Iya,"
"Gimana bisa lo bawa cowok ke kamar?"
Yaya menggaruk tengkuknya. "Ya... aku diem-diem bawanya. Lagian aku juga gak tega liat kamu udah mau mati di jalanan kayak gitu,"
Ada sebersit rasa kagum di otak Boboiboy. Bisa dibayangkan olehnya, seorang cewek, menemukan dirinya yang tergeletak kayak gembel di tengah jalan malam hari, lalu membawanya ke sini hanya karena tidak tega membiarkannya di tengah jalan? Tunggu. Bagaimana membawanya?
"Aku mapah kamu kok sampai ke rumah. Nggak diseret," Seakan bisa membaca pikirannya, Yaya langsung menjelaskan. Dan Boboiboy tidak menanggapi kata terakhir yang nadanya terdengar ngeselin.
"Emang lo kuat?"
"Kalo nggak kuat nggak mungkin kamu ada di sini. Yang ada udah mati duluan di sana,"
Sialan juga nih cewek.
"Oh, ya. Kamu belum cerita," Gadis itu merubah posisinya yang tadinya duduk berlutut menjadi duduk bersila. Kedua tangan Yaya dilipat, ditaruh di atas kakinya seperti anak kecil yang sedang mendengar dongeng.
Boboiboy masih pada posisinya–duduk bersandar dengan tangan memegangi perut. Selain karena lukanya yang menahannya untuk sekedar menggerakkan tubuh, tubuhnya juga terasa sangat sakit dan nyeri.
"Kamu..."
"Yaya! Kamu ngapain aja, sih?! Turun terus makan!"
Suara ibunya yang tiba-tiba terdengar tepat di pintu kamarnya membuat mereka berdua tersentak. Yaya panik, Boboiboy kaget dengan menatap penuh tuntutan untuk menjelaskan apa yang terjadi lagi kali ini.
Lama-lama Boboiboy bisa jantungan dah.
"Itu siapa?" Boboiboy bertanya panik. Oke, dia bisa menerima cewek ini dapat membawanya yang hampir sekarat ke kamar karena mengira dia sendirian di rumah.
Namun saat mendengar jawaban Yaya...
"Ibu aku," ringisnya sambil menggigit bibir.
Boboiboy tidak bisa lagi mengerti jalan pikirannya.
Cewek ini benar-benar gila!
"Apa?! Lo waras apa kagak, sih?!" desis Boboiboy kesal, karena kini hidupnya dipertaruhkan.
Yaya memajukan tangannya, memberi gestur agar cowok di depannya tidak berisik. "Ssstt! Diem! Nanti ibu aku denger!" Mulut Boboiboy baru ingin mengeluarkan suara lagi, namun secepat itu juga Yaya membekapnya. Boboiboy membelakak tidak terima. Ia mencoba memberontak, akan tetapi tangan Yaya semakin menekan mulutnya sampai kepalanya mentok pada tembok di belakang–alias kejedot.
"Jangan ngomong! Kamu di sini, jangan kemana-mana. Kamu nggak bakal ketauan, jadi serahin semuanya ke aku, oke?" ucapan Yaya persis seperti seorang pahlawan yang ingin menyelamatkan dunia. Sangat dramatis, Boboiboy sampai cengo dibuatnya.
Yaya melepas bekapannya setelah dirasa Boboiboy tidak ngoceh lagi. Ia bangkit berdiri, lalu menghampiri pintu untuk menghadapi ibunya. Sedangkan Boboiboy hanya menatapnya dengan diam. Bingung kenapa dia bisa langsung menuruti perintah cewek absurd itu. Ia berniat untuk bangkit, namun terbatalkan sebab lagi-lagi nyeri di perutnya kembali terasa. Boboiboy meringis. Akhirnya pasrah dan membiarkan Yaya yang mengurus semuanya.
Sementara Yaya, ia membuka pintu sedikit untuk menemukan sosok ibunya tengah berkacak pinggang di sana. Sambil memperlihatkan cengiran di wajah, Yaya keluar dari kamarnya melewati celah kecil itu dan menutup pintu secepat mungkin.
"Iya, Bu... Hehe..."
"He-ha he-he he-ha he-he. Kamu denger nggak tadi ibu suruh apa?" tanya ibunya kesal, yang ditanya hanya menggaruk pipinya.
"Hm, iya, aku denger kok."
"Terus daritadi ngapain?" Ibunya menatapanya penuh intimidasi, yang membuat Yaya mengkerut seketika. "Kamu nyembunyiin sesuatu di kamar, ya?" kata ibunya telak tanpa jeda.
Yaya terkesiap. Kagum dengan kepekaan yang dimiliki ibunya sudah seperti cenayang.
"Eh? Nggak kok, apasih, Bu. Nggak mungkin lah, haha," jawab Yaya yang nadanya malah terdengar aneh. Yaya meringis dalam hati, mengumpat untuk dirinya sendiri yang sangat bodoh.
Melihat gelagat aneh dari putri satu-satunya, ibu Yaya menggelengkan kepalanya pelan. "Yaudah, cepetan turun. Makan, abis itu tidur." titahnya tak terbantahkan lalu beranjak meninggalkan Yaya.
Yaya bernapas lega. Lantas buru-buru masuk ke kamarnya lagi untuk bilang pada Boboiboy kalau dia akan makan malam dulu sebentar. Namun saat matanya tertuju pada tempat mereka mengobrol tadi, Boboiboy tidak ada di sana. Yaya menelusuri ruangan, kaget setelah menemukan cowok itu tengah membuka jendela balkon kamarnya.
"Eh! Kamu mau ngapain?!"
Yaya menghampirinya. Tangan kiri Boboiboy masih setia memegangi perut, sementara sebelah tangannya berusaha membuka jendela balkon. Beberapa kali cowok itu meringis tertahan akibat lukanya yang belum kering.
"Gue harus pergi," ucapnya tanpa menatap Yaya. Ia kembali mencoba membuka jendela balkon itu setelah nyeri di perutnya sedikit mereda.
Tadinya, Boboiboy memilih untuk pasrah saja dengan apa yang dihadapinya. Namun karena telinganya tak sengaja mendengar obrolan Yaya dan ibunya, Boboiboy jadi berubah pikiran. Lukanya memang masih sakit. Tapi Boboiboy juga tidak ingin merepotkan Yaya, apalagi menyeret Yaya ke dalam masalah karena dirinya. Lagipula, ia juga harus menyelesaikan urusannya malam ini.
Yaya diam di tempat. Memperhatikan cara Boboiboy mengangkat tubuhnya untuk melangkahi bingkai jendela dengan mudah. Kaki cowok itu sudah menapak pada semen, menghadapkan tubuhnya ke arah Yaya dan menatapnya penuh.
"Gue nggak akan berterima kasih," Boboiboy membasahi bibirnya sebentar. "Karena kalo makasihnya cuma lewat kata, itu belum cukup. Gue berutang budi sama lo," Yaya diam. Membiarkan angin malam menembus wajahnya, menatap intens wajah cowok di depannya yang diterangi cahaya bulan.
"Tapi... kamu mau ke mana? Kalo kamu dipukulin lagi gimana?" Yaya bertanya dengan nada khawatir. Ia juga tidak mengerti kenapa ia bisa sekhawatir ini pada cowok yang baru ia temui. Yang pasti setelah Boboiboy mengatakan dia kelas 11, alias sebaya dengan Yaya, Yaya jadi tidak berpikir yang macam-macam lagi. Sesederhana itu.
"Gue nggak papa." ujar Boboiboy.
"Kamu nggak mau jelasin gitu, kenapa bisa dipukulin?" Yaya bertanya dengan suara pelan. Karena yang ingin ia katakan tadi sebelum ibunya memanggil adalah pertanyaan tersebut. Yaya belum tahu mengapa Boboiboy bisa terdampar di pinggir jalan dengan muka babak belur.
Boboiboy menghela napas. "Kalo gue ceritain sekarang, itu bakal panjang. Dan gue nggak ada waktu lagi," ujar Boboiboy, kali ini melihat sekitar balkon Yaya untuk mencari cara turun dari sini. "Gue harus pergi malem ini,"
Menyadari itu, Yaya kontan terkejut. "Kamu mau loncat?!"
Anggukan kalem dari Boboiboy membuat Yaya semakin panik. "Yakali gue lewat pintu rumah lo, ketauan nanti,"
Iya juga sih, batin Yaya.
"Tapi kan luka kamu belum sembuh. Kalo tambah parah gimana?" Yaya kembali heboh.
Boboiboy terkekeh kecil melihatnya bersama ringisannya yang menahan rasa nyeri di selurug tubuh. Baru pertama kali dalam hidupnya, ia bertemu dengan cewek yang bentukannya macam Yaya. Nggak bisa ditebak dan unik. Dari membawanya ke sini–ke kemarnya, sampai khawatir padanya. Padahal belum genap dua jam mereka berkenalan, bagaimana bisa gadis pink ini mengkhawatirkannya?
"Lo nggak perlu khawatirin gue," ucap Boboiboy. Kedua tangannya menaikkan tudung jaketnya untuk menutupi kepalanya sehingga sebagian wajahnya tidak terlihat. "Khawatirinnya ntar aja, pas kita udah kenal satu sama lain," Senyum tipis terukir saat ia mengatakannya.
Boboiboy melangkah mendekati pagar pembatas balkon. Melangkahinya dengan mudah dan berpegangan pada pagar agar menahannya tidak jatuh. Yaya masih menatapnya, dan Boboiboy membalas tatapan itu sambil mengucapkan kata terakhir sebelum ia benar-benar loncat.
"See you again... Yaya..."
Dan sosoknya menghilang.
Yaya kembali mengulang perkataan Boboiboy di dalam hatinya. Khawatirinnya ntar aja, pas kita udah kenal satu sama lain.
Saat itu juga, hati Yaya mendadak dihampiri rasa hangat.
Kelas masih sepi saat Yaya sampai dan duduk di kursinya. Yaya menghela napas, meluruskan tangan kirinya di meja untuk dijadikan bantal. Masih 30 menit lagi sebelum bel masuk, sepertinya cukup untuk menambah waktu tidur.
Setelah bertemu cowok bernama Boboiboy tadi malam, Yaya jadi sulit untuk sekedar memejamkan mata. Pikirannya terus memikirkan tentang Boboiboy, Boboiboy, dan Boboiboy. Dimana dia sekarang? Apa dia baik-baik saja? Kapan dia akan menemui Yaya lagi?
Yaya sedikit menyesal karena tidak menanyakan berapa nomor teleponnya dan dimana rumahnya. Jika saja semalam ia menanyakan itu, pasti tidak sulit memikirkan untuk mencari Boboiboy.
Tunggu sebentar. Kenapa Yaya tidak bisa berhenti memikirkan cowok itu?
Mendengus keras, Yaya kemudian menenggelamkan wajahnya di antara kedua lengannya. Berusaha mengenyahkan segala pemikirannya tentang cowok semalam yang ia temui. Namun pikirannya belum berhenti memikirkan tentang Boboiboy dan segala perkataannya. Kesal, Yaya menarik kepalanya sehingga badannya kembali tegak. Mulut Yaya meniup ke atas, membuat kerudungannya yang sempat berantakan menjadi rapi dalam sekejap mata. Saat itu juga matanya menatap Ying yang entah sejak kapan datang.
"Lo ngapa dah?" Ying bertanya sambil berjalan ke meja di belakang Yaya disaat mendapati wajah Yaya yang kusut.
Ying duduk, menatap heran wajah Yaya yang tidak ada ekspresi sama sekali. Bukan Yaya banget karena gadis berkerudung itu selalu ceria atau bahkan kelewat ceria sampai membuat Ying eneg sendiri.
Tapi ada apa dengan gadis pink alay itu hari ini?
"So? Tell me, now... Tell me baby..." ucap Ying dengan nada sok diimutkan.
Yaya memanyunkan bibirnya. "Aku bingung mau ceritain gimana," ujar Yaya lesu sambil menyandarkan dirinya pada tembok di belakang.
Ying mencodongkan badannya agar lebih dekat. "Emang ada apaan, sih?"
Yaya menghela napas. Tangannya menarik gorden jendela di dekat kepalanya, memainkannya. Tak lama setelah itu, Fang datang dengan headphone bertengger di lehernya. Tangan cowok itu dimasukkan ke dalam saku celana, berjalan santai ke bangkunya yang satu meja dengan Ying.
Itulah alasan mengapa Yaya duduk sendiri. Karena Ying lebih memilih duduk bersama 'pacarnya' yang super duper ngeselin itu. Emang temen kampret.
"Pagi, honey!" sapa Ying ceria, ketika pacarnya itu mendorong kursi ke belakang untuk memudahkannya duduk.
"Pagi juga, Yang,"
Yaya yang sudah biasa jadi nyamuk mereka setiap hari–bahkan setiap saat–, hanya mendengus geli. Alay banget ya Allah sampai pengen muntah. Batin Yaya berteriak.
Fang dan Ying mengobrol, dan eksistensi Yaya tentu saja diabaikan. Tenang, Yaya udah biasa kok. Serius. Meski kadang Ying suka mengajaknya untk ikut nimbrung, Yaya tetap saja tidak enak. Apalagi pembicarannya terdengar seperti bentuk perhatian, kayak udah sarapan belum, atau udah ngerjain pr belum. Yaya mana bisa, sih, ikut dalam obrolan itu? Yang ada dia dicap PHO oleh teman-temannya.
Hampir lima menit Fang dan Ying mengobrol, setelah itu hening tiba-tiba. Yaya tidak tahu saja karena Fang menatap tanya pada Ying, mengenai sikap Yaya yang aneh dengan menutupi wajahnya dengan gorden. Ying yang memang belum mendapatkan jawabannya, mengendikkan bahu tidak tahu. Lalu Fang memilih untuk bermain PUBG dengan headphone-nya karena ia merasa ini urusan buat 'cewek'. Dan ia sama sekali tidak mau ikut campur.
"Yaya!" panggil Ying, beralih sepenuhnya pada Yaya. Gadis pink alay itu hanya bergumam malas, masih dengan wajah ditutupi dengan gorden. "Tadi mau cerita apaan?"
Yaya menyingkap gorden, menemukan Fang yang asyik bermain game online dengan headphone-nya. Sementara Ying, sudah mencodongkan badannya sigap. Sepertinya Yaya sudah bisa bercerita.
Yaya menghadapkan badannya pada Ying, melirik sekali lagi pada Fang yang tenggelam pada permainannya, barulah ia mulai menceritakan apa yang terjadi kemarin malam.
"Jadi... kemarin malem..."
Semuanya Yaya ceritakan. Dari dirinya yang di perjalanan pulang les bertemu dengan seorang cowok tergeletak penuh luka, sampai cowok yang ternyata bernama Boboiboy itu pergi dengan loncat melewati balkon kamarnya. Ying mendengarkan sampai selesai, meski beberapa kali Yaya menangkap respons Ying dalam bentuk eksoresi. Terkejut, bingung, tertawa, aneh, sedih, heboh, lama-lama gila dah tuh anak.
"Ya, jadi gitu..." tutup Yaya dengan suara pelan.
Ying mengangguk paham. Yaya yang di depannya meletakkan kepalanya di meja dan menatap Ying lesu. "Menurut kamu... gimana, Ying?"
Ying mengangkat alis. Menghela napas kemudian saat mengerti maksud Yaya. "Pertama, yang lo lakuin itu kurang tepat," tutur Ying membuat Yaya menegakkan tubuhnya kembali.
"Nih, gue tau lo baik banget bocahnya sampai gue bingung, lo tuh kelewat baik apa emang sifat lo kayak gitu?" Yaya cemberut mendengarnya, tapi ia tidak protes. "Tapi, Yaya, dia tuh orang asing. Apalagi cowok. Dengan lo bawa dia ke rumah–ke kamar lo–, itu sama aja lo bunuh diri. Kenapa lo nggak pulang ke rumah buat ngambil P3K, terus balik lagi buat ngobatin si Boboi- apaan?"
"Boboiboy," sela Yaya cepat.
"Iya, Boboiboy. Lo cuma ngobatin lukanya bentar, abis itu lo bangunin dia deh. Suruh balik kek, apa kek, yang penting jangan ngegembel disitu,"
Yaya diam. Ying melanjutkan ucapannya.
"Untung dia cowok baik, kalo nggak? Udah tewas kali lo di tangan dia di kamar lo sendiri," ucap Ying langsung menohok jantung Yaya.
Yaya menggigit bibirnya. Seluruh perkataan Ying seratus persen benar. Dan Yaya merasa sangat bodoh, kenapa ia tidak terpikirkan ucapan Ying? Kenapa dia bisa mengambil keputusan yang penuh resiko itu?
"Terus? Soal ucapan dia itu? Kata kamu aku harus gimana?" tanya Yaya pasrah.
Ying menghela napas gusar. "Ck! Lo jangan gampang percaya ucapan orang lain. Apalagi yang baru lo kenal. Lo harus ati-ati, jangan sampai lo kejebak sama ucapannya dia," Ying gregetan sendiri. Selain baik, Yaya itu juga polos. Lemot pula. Harus punya stok kesabaran jika berteman dengannya. Untung Ying kuat.
"Tapi dia kayak yakin banget ngomongnya, Ying..." kilah Yaya. Ia ingat, ingat sekali pada saat Boboiboy mengatakan dirinya akan berterima kasih nanti. Ingat saat Boboiboy bilang padanya untuk mengkhawitirkannya nanti saja, saat mereka saling mengenal satu sama lain.
"Bukan dia yang yakin ngucapinnya," Ying menatap Yaya serius. Yaya meneguk ludah mendapat tatapan seperti itu dari Ying. Karena kalau sudah seperti ini, pasti Ying akan mengucapkan sesuatu yang diluar dugaannya.
"Tapi karena lo udah tertarik sama dia, sampai lo bisa percaya sama semua omongannya,"
.
.
.
.
.
.
.
TBC
gatau kenapa gue suka banget cara Boboiboy ngomong ke Yaya. gemes yawla gemes.
tadinya gue pengen Yaya ngomong gue-elo juga. tapi kayaknya kurang sreg, karena gue lebih suka cewek yg lembut, alus, anggun, kalem, polos, lucu, cocok bet dah ama Boboiboy yg gtu. terus di serialnya juga kan Yaya emg alim, suaranya lembut, jadi semakin ga tega gue menodai dia :(
betewe, disini ada kisah Fang x Ying juga lho, ehe... pasti makin seru kan wkwk. abisan gua cinta bat anjai ama pair BoYa FaYi. rasanya pen nyulik mereka aja :*
OYA! gila seh anjai, gue kaget pas ada yang review chap kemaren. 6 apa 7 ya, lupa gue. Itu baru sehari aja udah ada 3-4 review. Ingin memeluk klean aja rasanya:***** bahkan viewnya aja udah ampe 80an, monang anjir monang, padahal ni cerita ga ada bagusnya samsek asdfghjkl-!
ampe sekarang, gue gtau ini bakal seterusnya lanjut pa kaga. kadang mood gua ilang2an, jadi susah gitu deh. doain aja sama dukung terus yak.
udah itu aja.
oke bay
