Hal yang Yaya selalu sesali adalah tidak melakukan sesuatu dengan benar.

Bertemu dengan orang asing dalam keadaan terluka, tentu membuatnya yang mempunyai hati selembut kapas merasa kasihan. Yaya yang saat itu sangat panik, sulit untuk berpikir panjang sampai akhirnya menemukan solusi yang tidak pernah ia duga sama sekali.

Membawa cowok ke rumah?

Yaya baru menyadarinya bahwa itu salah dari penuturan Ying. Yaya menyesalinya, sangat. Tapi ia tidak menyesali dirinya sendiri karena menolong orang. Justru, jika tidak menolongnya, Yaya akan menyesal. Hanya saja, seperti yang Ying bilang, caranya salah. Dan Yaya belajar dari situ.

Selama perjalanan pulang ke rumah, otak Yaya dipenuhi dengan banyak hal. Dari ia jalan kaki dari gerbang sekolah ke halte, menaiki bus, sampai di halte perumahan Wiarda, berjalan kaki lagi untuk tiba di rumahnya, Yaya terus melamun.

Bohong jika ia tidak memikirkan ucapan Ying paling terakhir sebelum guru masuk. Yaya berkali-kali menyangkalnya, tentang dirinya yang tertarik dengan Boboiboy seperti yang dikatakan Ying. Namun seakan ada yang menyerukan benar dalam sudut hatinya. Yaya benar-benar bimbang. Masa', sih , dirinya tertarik pada Boboiboy secepat itu?

Helaan napas pasrah keluar dari mulut Yaya. Gadis itu menendang kerikil di bawah kakinya sampai kerikil itu membentur tiang listrik dan mengeluarkan bunyi nyaring. Yaya tidak peduli. Kalaupun dirinya memang menyukai Boboiboy, apa salahnya? Lagian bukan ia sendiri yang memilihnya, tapi hatinya. Boboiboy juga cowok baik kok, ganteng pula. Jadi, tidak pa-pa, 'kan?

Ketika Yaya kembali berjalan menyusuri trotoar, kaki Yaya mendadak berhenti saat melihat gerombolan cowok di gang kecil yang akan ia lewati. Sebenarnya, Yaya sengaja untuk memilih gang itu agar ia bisa cepat sampai rumah. Tapi Yaya lupa gang itu sering sekali dijadikan tempat tongkorongan cowok-cowok gajelas bahkan sampai preman.

Yaya memutar badannya, berniat untuk kembali saja dan mencari jalan lain. Baru saja badannya berbalik dan kakinya siap melangkah, seruan yang sepertinya tertuju padanya terdengar.

"Woi!"

Oh, shit. Yaya meringis pelan dengan mata terpejam erat, rasanya ia ingin sekali memanggil Doraemon untuk meminjam pintu kemana saja.

"Heh! Dipanggil tuh nyaut, budeg lo, ya?!" Preman itu mulai sewot. Yaya diam di tempat, seketika keringat dingin saat dirasanya seluruh pasang mata menghujani punggungnya. Ada berapa tuh preman? Lima? Enam? Tujuh?

"Beneran budeg, ya?!"

Yaya mengigit bibirnya. Selain karena ada yang menahan kakinya untuk lari, ia juga memikirkan resiko jika dia kabur saat ini juga. Yaya bisa dikejar, dan kecepatan berlarinya benar-benar payah. Yang ada baru sepuluh langkah ia berlari, preman itu pasti sudah mencegatnya.

Tapi... mau sampai kapan ia diam saja?!

Yaya meneguk ludah saat mendengar langkah kaki salah satu preman di belakangnya dan menjadi berdiri di depannya. Kepala Yaya menunduk takut, benar-benar nggak berani liat wajahnya, karena Yaya yakin pasti itu akan membuatnya ngeri dan berakhir dirinya yang pipis di celana. Jadi Yaya hanya bisa melihat ke bawah, pada sepatu preman itu yang bermerk converse, serta celananya terdapat robek-robek sedikit di kedua lutut. Tuh, 'kan, liat kakinya aja Yaya udah pengen pingsan.

"Lo nggak tau siapa gue?" Preman yang tadi memanggilnya itu –karena suaranya sama– merendahkan kepalanya, sehingga sejajar dengan tingginya. Suaranya yang terdengar berat dan rendah seketika terdengar jelas di telinga Yaya.

"Heh, bocah," Preman seram itu mendorong bahu Yaya kasar, membuat Yaya sedikit terkejut karena tubuhnya sempat kehilangan keseimbangan. Untungnya Yaya masih bisa menahan dirinya agar tidak jatuh.

Siapapun tolongin aku kek! Yaya menjerit dalam hati.

Karena terus menunduk, Yaya tidak menyadari preman di depannya tersenyum sinis. Tiba-tiba saja kaki preman itu melangkah maju, membuat Yaya mau tak mau melangkah mundur. Yaya yang menyadari ia tengah dipojoki pasrah dan terus merapal doa dalam hati, dan kini badannya telah mentok pada tembok.

"Angkat kepala lo," Suara preman di depannya terdengar seperti Raja yang menyuruh pelayannya untuk mengambil minuman. Tubuh Yaya mulai gemetar. Saking gemetarnya Yaya sampai merasa hilang tenaga.

"Heh! Gue bilang angkat kepala lo!" Preman itu marah, satu tangannya menyentak tembok tepat di sebelah kanan kepala Yaya. Si gadis pink memejamkan matanya kuat, namun perlahan kepalanya diangkat karena tak mau membuat preman garang ini tambah murka dengan mata menatap takut-takut wajah preman galak ini.

"Galak amat, Jo," kata preman berambut acak-acakkan yang berada di belakang preman yang dipanggil Jo ini.

Serem banget, kata Yaya dalam hati. Wajah preman itu sangar bercampur tengil. Telinga preman itu ditindik. Di lehernya terdapat kalung khas preman yang Yaya nggak tahu cara deskripsiinnya. Dia memakai kaos hitam dengan gambar tengkorak. Dan rambutnya gondrong banget sampai Yaya berani mengomentari 'ni preman jelek amat' yang tentu saja ia ucapkan dalam hati. Saat mata Yaya kembali menatapnya, preman itu menyeringai. Kedua matanya seakan menilai wajah Yaya yang terkesan polos itu.

"Wiiih. Cantik juga nih cewek," goda preman di depannya disusul dengan siulan dari preman berambut acak-acakkan maupun temannya yang lain.

"Mana, mana?" heboh preman berambut warna merah ngejreng yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan Yaya di samping preman gondrong. "Weh! Cantik banget lah anjir. Mau kemana, Neng?" tanyanya dengan menyentuh pipi Yaya sok lembut.

Yaya sontak terkejut. Ia langsung menepis tangan kotor itu refleks. Tindakannya barusan mendapat derai tawa dari gerombolan preman yang tengah mengepungnya, dan Yaya cuma bisa diam dengan mata menyorot tajam dicampur ketakutan.

"Galak juga nih cewek," komentar si gondrong.

Yaya tidak bisa diam lagi. Meskipun dirinya takut setengah mati, ia harus bertindak atas keamanannya. "Lepasin aku," kata Yaya pelan, berusaha mengontrol dirinya agar tidak menangis.

Preman gondrong di depannya mengangkat alis. "Lepasin? Belum juga dipegang, udah minta lepasin aja," katanya jenaka disusul tawa dari teman-temannya.

"Mungkin dia udah nggak sabar kali, Jo. Langsung aja lah," sahut preman berambut merah.

Yaya mengernyit tidak mengerti. Saat kedua matanya menangkap si preman gondrong menyeringai dan mulai semakin memepetnya dengan tembok, Yaya tertegun. Kini posisinya benar-benar tersudutkan dan Yaya tidak tahu bagaimana caranya keluar dari situasi ini.

"Are you ready, honey?"

Bersamaan dengan itu, tangan preman gondrong mulai menuju kepalanya. Yaya membelakakkan mata, mulai menyadari apa yang akan dilakukan preman itu. Sebelum tangan yang dipenuhi cincin menyentuh kepalanya, Yaya menepisnya. Namun ia terkejut karena si preman dengan tangkas menangkap tangannya.

"Lo nggak bakal bisa ngapa-ngapain,"

Tangannya dicengkram amat kuat. Sekarang Yaya benar-benar ingin menangis, merasa dirinya sangat hina disini. Matanya terpejam kuat, saat dirinya merasakan sentuhan menjijikan di wajahnya. Untuk sesaat, Yaya ingin berteriak. Meminta pertolongan pada siapapun untuk mengenyahkan para lelaki brengsek ini darinya.

"Lo takut?"

Yaya masih bisa mendengar suara rendah dari preman yang dengan tidak tahu dirinya mengusap-usap pipinya. Ia menutup matanya rapat-rapat, satu bulir air mata mulai mengaliri pipinya.

Sadar cewek di depannya ini menangis, si preman gondrong mendecih. "Heh, denger ya. Gue sama sekali belum nyentuh apapun selain pipi lo yang nggak berharga itu," desisnya, karena menurutnya, wanita yang menangis sangat tidak seru diajaknya bermain. "Kalo lo nangis kayak gini, gue semakin menahan lo disini sampai lo siap main sama gu–"

BAAKK!

Sebuah skateboard tiba-tiba saja menghantam wajah preman gondrong secepat kejapan mata. Yaya yang mendengar jelas suara hantaman itu langsung membuka mata, tercengang mendapati si gondrong sudah terkapar di tanah dengan darah yang mengalir di hidung serta skateboard tak jauh darinya.

"WOI!" seru preman merah, meneriaki satu-satunya pelaku pelempar benda seluncur itu di arah kiri.

Sembari otaknya masih mencerna apa yang terjadi, Yaya mengikuti seluruh pandangan teman-teman si gondrong. Yaya menunjukkan wajah tidak percaya saat kedua matanya melihat sosok cowok tinggi berjaket hitam berdiri di sana, dengan eskpresi wajah yang terlalu santai untuk menghadapi preman mengerikan. Di bagian pipi Boboiboy masih tertempel plester untuk menutupi luka sayatannya, dan beberapa lebam biru di sudut bibir dan pinggirvmatanya.

Tunggu. Nih cowok ngapain di sini disaat harusnya dia istirahat karena lukanya?!

"Berani-beraninya lo!" Preman berambut melangkah maju, bersiap memberi begoman mentah pada Boboiboy. Tapi secepat itu juga Boboiboy menghindar, menahan tangan si preman merah dan memelintirnya sampai berteriak kesakitan.

Boboiboy kemudian menendangnya menggunakan kaki kanan, membuat si preman merah jatuh tersungkur ke tanah. Belum sampai disitu, teman si preman merah –yang berambut coklat– mulai menyerang Boboiboy dengan tonjokan serta tendangan. Karena belum siap, satu tendangan berhasil mengenai perutnya, sehingga membuat tubuhnya mundur beberapa langkah. Boboiboy meringis sebentar. Membalasnya dengan tendangan lagi sampai lawannya membentur tembok sebelum merosot ke tanah berdekatan dengan Yaya.

Yaya terkesiap. Ia akan mengira Boboiboy akan menyerang tiga preman yang tersisa, namun cowok itu tiba-tiba menarik pergelangan tangannya dan berlari. Sontak tiga preman yang masih dalam keadaan baik-baik saja berteriak marah, lalu mengejar mereka.

Langkah kaki Boboiboy begitu cepat dibandingkan dirinya. Tapi karena eratan tangan Boboiboy pada pergelangan tangannya, Yaya jadi bisa menyamakan langkah kaki cowok itu. Ia berusaha berlari secepat yang ia bisa, mengikuti Boboiboy yang memimpin jalan. Suara seruan dari preman yang mengejarnya masih terdengar ketika mereka berdua sudah menuju pinggir jalan raya besar. Banyak orang yang menatapi mereka bingung, tapi Yaya sama sekali tidak peduli dan terus berlari cepat. Sesekali Yaya menoleh ke belakang, hanya untuk memeriksa preman itu masih mengejar atau tidak.

"Jangan nengok ke belakang," tutur Boboiboy di tengah-tengah napasnya yang memburu. "Terus lari!"

Yaya menurutinya dengan terus berlari tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. Ia dan Boboiboy sampai pada lampu merah, menyelinap di antara para pejalan kaki yang ingin menyebrang. Boboiboy dengan gesit berlari melewati celah-celah kerumunan itu bersama Yaya. Suara-suara dari preman yang mengejar mereka mulai terdengar samar, lalu tenggelam dalam kebisingan suasana kota.

Meski begitu, Boboiboy tetap mempertahankan kecepatan larinya, jaga-jaga saja sampai ia menemukan tempat aman. Saat matanya melihat sebuah warung ketoprak yang ramai pelanggan, Boboiboy segera membawa Yaya ke sana untuk bersembunyi sementara. Selain karena banyaknya pelanggan yang menutupi keberadaan mereka, warung ini juga tidak dapat dicurigai preman yang mengejar mereka mengingat tempatnya agak tertutup.

"Hah... capek banget," Yaya mengatur napasnya pelan, ia duduk berhadapan dengan Boboiboy di meja khusus dua orang yang tersedia di sini.

Boboiboy sama capeknya. Napasnya masih ngos-ngosan sementara matanya tak lepas mengamati gadis di hadapannya. "Kita sembunyi dulu di sini sementara. Sampai tuh preman udah pergi," ujar Boboiboy pelan dan memanggil pelayan untuk memesan makanan.

Yaya hanya mengangguk setuju saja karena ia juga sangat kelelahan. Didengarnya suara Boboiboy yang membacakan pesanan, dan cowok itu menatap ke arahnya dengan sorot 'mau pesen apa'. Yaya menjawabnya dengan gerakan mulut 'samain aja' karena ia sudah tidak punya tenaga lagi.

Ketika pelayan sudah menjauhi meja mereka, Boboiboy terkekeh kecil melihat Yaya yang saat ini tengah menaruh kepalanya di atas meja. "Capek banget, ya?" katanya dengan badan dimajukan sedikit.

Yaya hanya membalasnya dengan gumaman tidak jelas.

"Sorry, tadi larinya kekencengan. Soalnya gue gabisa lawan mereka lagi, yaudah gue langsung bawa lo kabur aja," ucap Boboiboy penuh penjelasan.

Mendengar itu, Yaya langsung menegapkan tubuhnya. Boboiboy sampai kaget hingga harus memundurkan tubuhnya. Buset dah nih cewek, batin Boboiboy.

"Kamu! Kok kamu tiba-tiba bisa ada di sana?" tanya Yaya tanpa basa-basi. Capek di tubuhnya terkalahkan oleh rasa penasarannya tentang Boboiboy yang tiba-tiba muncul seperti hantu.

"Ya bisa lah," jawab Boboiboy santai. Cowok berjaket hitam itu menekuk jari-jemarinya satu sama lain sampai terdengar kletek di sana. Raut wajah gadis di depannya terlihat tidak puas membuat Boboiboy melanjutkan. "Gue tadi lagi jalan-jalan, eh tiba-tiba liat gerombolan preman di ujung gang Pak Senin Koboi. Pas gue liat siapa yang mereka kepungin, gue langsung lempar skateboard gue lah,"

Yaya meringis tidak enak. Mengingat skateboard yang dilempar Boboiboy untuk menghantam wajah preman gondrong ditinggalkan di sana. "Soal skateboard kamu... maaf ya,"

Boboiboy mengernyit bingung sebelum tersenyum tipis setelah menyadari maksud Yaya. "Elah, skateboard doang. Bisa dibeli lagi kapan-kapan," Tentu saja ia tidak menyalahkan Yaya. Justru memang itu perbuatannya untuk menolong Yaya dan karena tadi buru-buru Boboiboy sama sekali tidak sempat –nggak kepikiran malah– untuk mengambil skateboardnya lagi.

"Boboiboy," panggil Yaya pelan. "Kenapa tadi kamu nyelametin aku...?" Pertanyaan Yaya tiba-tiba membuat Boboiboy mengerutkan dahi nggak ngerti. "...Disaat kamu seharusnya bisa lewatin aku gitu aja,"

Yaya menanyakannya bukan karena dirinya yang tidak tahu terima kasih atau tidak ingin ditolongin. Yaya cuma... ingin memastikan sesuatu yang itu semua berasal dari hatinya.

"Hm... gue cuma mau balas kebaikan lo aja," jawab Boboiboy tenang. "Ya... kayak sama lo. Waktu lo nolongin gue semalem, lo juga bisa lewatin gue yang luka parah tanpa peduli sama sekali. Tapi lo malah bantuin gue dengan amat peduli. Lo dengan kepedulian lo, dan gue dengan rasa terima kasih gue. Makanya gue bisa nolongin lo kabur dari preman tadi,"

"Kalo aku nggak nolongin kamu semalem, apa kamu tetep nolongin aku dari preman jelek tadi?"

Boboiboy diam sebentar. "Itu bukan pertanyaan, Yaya. Karena gue bakal nolongin siapapun yang butuh bantuan. Nggak peduli dia udah nolongin gue atau nggak."

Yaya sedikit terkesiap mendengarnya. Sama sekali tidak menyangka Boboiboy akan menjawabnya penuh kebijakan.

"Oke, sip sip," balas Yaya akhirnya setelah tidak ada lagi yang harus dibahas. Cowok didepannya tersenyum kecil yang sama sekali tidak Yaya sadari karena matanya sibuk memandangi sekitar.

Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Dua porsi ketoprak lengkap dengan minuman berupa es teh manis. Yaya segera meminumnya sampai tandas karena tenggorokannya benar-benar kering sehabis lari tadi.

"Biasa aja kali mimumnya," canda Boboiboy dengan senyum tipis.

Yaya hanya menganggapnya angin lalu sebab ia masih fokus pada dehidrasinya. Cewek itu memesan satu gelas lagi yang ditanggapi Boboiboy dengan tawa kecil.

"Haus banget aku sumpah," ucap Yaya kelewat jujur. Wajahnya jauh lebih fresh dari yang sebelumnya.

Boboiboy menggelengkan kepalanya. "Lagian lo kenapa bisa, sih, lewat gang itu? Emang nggak tau kalo disitu banyak preman?" tanya Boboiboy. Heran saja bisa-bisanya Yaya lewat gang penuh kengerian itu disaat cewek itu pasti mengetahuinya, mengingat letak kediamannya tidak jauh dari sana.

"Tau," Yaya menyendokkan ketoprak ke dalam mulutnya. "Cumha khan akhu phenghennyha chephet samphe, eh akhu lhupha khalho ghang ithu seremh," (cuma kan aku pengennya cepet sampe, eh aku lupa kalo gang itu serem) jawab Yaya dengan mulut penuh.

Boboiboy tertawa dibuatnya. "Telen dulu woi. Nanti keselek," tegur Boboiboy.

Yaya menguyahnya lagi dan menelannya. Minumannya telah datang. Ia menyedotnya setengah dan memajukan badannya untuk lebih dekat dengan Boboiboy yang tengah memakan ketopraknya.

"Kamu belum cerita soal kemarin lho," tagih Yaya langsung. Cowok di depannya mengangkat alis tidak paham. "Yang kemarin, kenapa kamu bisa babak belur gitu?"

Boboiboy manggut-manggut. Tangan kanannya menyendokkan ketoprak yang hampir habis di piringnya, kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Mengunyah perlahan dan menelannya sebelum menjawab. "Kalo dilupain aja, bisa?" katanya.

Yaya memanyunkan bibirnya. "Kamu kan kemarin udah bilang bakal ceritain, ayo doong," rengek Yaya seperti anak kecil.

Boboiboy mengerjap. Bentar deh, kenapa sikap Yaya semakin lama semakin seperti sudah lama kenal dengannya? Padahal bila dihitung dari awal mereka bertemu, itu belum genap 24 jam.

"Lo kepo banget, ya?" balas Boboiboy, nadanya terdengar halus. Cewek di depannya mengangguk semangat. "Yaudah..." Boboiboy menghela napas. "Lo abisin dulu tuh ketopraknya, nanti sambil jalan gue ceritain," Sebenarnya, Boboiboy juga tidak tahu ia akan beneran menceritakannya atau tidak. Itu cara agar Yaya diam.

Dan itu ampuh. Cewek di depannya cuma mengangguk kecil dan melanjutkan makan ketopraknya yang masih banyak.

Warung ketoprak ini berangsur sepi setelah 30 menit mereka di sana. Yaya sudah selesai dengan makannya, kini Boboiboy beranjak ke si penjual untuk membayar makanan mereka. Setelah itu, Boboiboy kembali menghampiri Yaya. Mendapati wajah gadis itu yang tiba-tiba gelisah dengan mata menatap ponselnya.

"Kenapa?"

"Ibu aku nyariin," katanya pelan.

Boboiboy mengangkat alis. Mengecek arlojinya yang menunjukkan pukul setengah enam sore. Yaelah baru jam segini. Tapi Boboiboy juga tidak bisa menyalahkan keposesifan ibu Yaya terhadap anaknya. Wajar, emak-emak akan selalu khawatir bila putrinya pulang kesorean.

"Yaudah, yuk. Gue anter lo pulang,"

Mereka kemudian berjalan beriringan menuju rumah Yaya. Jalanan yang mereka lewati macet parah mengingat jam pulang kerja. Suara klakson terdengar nyaring berkali-kali, serta polusi debu yang semakin melengkapi situasi. Di atas sana burung-burung berterbangan dengan latar belakang langit senja, yang bila diabadikan dengan kamera pasti akan terlihat bagus.

Jika saat berlari tadi mereka bergandengan, kini hanya lengan mereka yang menempel. Trotoar juga sama padatnya. Semua orang jalan terburu-buru membuat tubuh Yaya yang memang kecil kesenggol-senggol hampir jatuh. Melihatnya, Boboiboy mengamit tangan Yaya agar tidak termakan arus orang-orang. Sementara Yaya menatapnya bingung, sebelum berusaha bersikap biasa saja di samping cowok itu.

Selama melewati jalan raya besar penuh rintangan, mereka hanya diam. Membiarkan kebisingan kota serta langkah kaki mereka menjadi satu-satunya suara yang tercipta. Yaya berkali-kali menunduk, hanya untuk memandangi tangan mereka yang saling tertaut di bawah sana. Ucapan Ying di sekolah tadi hilang begitu saja di kepalanya. Hati dan kepalanya seperti bekerja sama, bahwa saat ini dirinya senang entah sebab apa.

Perjalanan serasa sangat panjang. Entah memang warung ketopraknyanya jauh atau karena mereka yang berlari sampai sejauh itu. Yaya tidak yakin, karena kakinya sudah merasa pegal sekarang. Ia ingin mengajak Boboiboy mengobrol biar nggak sepi-sepi amat, tapi Yaya juga bingung apa yang ingin dibicarakan.

Tepat saat Boboiboy mengambil arah kiri di pertigaan, Yaya memajukan langkahnya sedikit agar melampaui langkah cowok itu. "Boboiboy,"

"Hm?" Boboiboy hanya meliriknya sembari terus berjalan.

"Katanya mau cerita tentang kamu yang dipukulin," ujar Yaya diantara keramaian jalanan. Namun suaranya masih terdengar jelas di telinga Boboiboy.

Boboiboy menoleh. "Kirain udah lupa," katanya yang dibalas gerutuan kesal dari Yaya. Boboiboy tersenyum kecil lalu kembali menatap ke depan. Yaya yang di sampingnya terus menatapnya ingin tahu. "Yaahh... kemarin gue dipukulin,"

"Kenapa?"

"Karena gue ngomong sesuatu dan bikin mereka marah," jawab Boboiboy jujur.

Yaya mengernyit heran. "Kayak gimana emang?"

"Hm, gatau. Gue lupa." kata Boboiboy ngeselin. Yaya memanyunkan bibirnya. "Gimana sih, kok bisa lupa,"

"Hehe."

"Terus, dipukulin sama siapa?"

"Oranglah. Yakali alien," gurau Boboiboy.

"Maksud aku namanya,"

"Kalo gue sebutin namanya, emang lo bakal kenal?"

Yaya mengendikkan bahu. "Mungkin nggak. Tapi, kan, setidaknya aku tahu siapa yang mukulin kamu," Boboiboy meliriknya. "Biar nanti kalo aku ketemu dia, aku bisa hajar balik deh!" kata Yaya sok-sokan.

Boboiboy mendecih dengan senyum lebar di wajahnya. Antara meremehkan Yaya dan gemas dengan sikap cewek itu. "Jangan sok-sokan. Ketemu preman cemen kayak tadi aja lo takut, gimana preman yang mukulin gue,"

Mendengarnya, Yaya langsung kicep. Malu dengan sikap percaya dirinya barusan. "Hm," balasnya dengan gumaman karena sudah terlanjur mati gaya.

"Coba tadi gue nggak lewat situ, udah di alam baka kali lo sekarang," ejek Boboiboy dengan seringai jenakanya.

Yaya mendelik kesal.

"Oh ya, gue pengen nanya," Boboiboy memelankan langkahnya, tangannya yang semula menggenggam Yaya menunjuk pada sebuah badge yang tertempel di lengan kiri gadis itu. "Lo anak TAPOPS?"

Yaya langsung melirik ke arah yang ditunjuk Boboiboy. Kerudungnya yang agak berterbangan sedikit karena angin membuat badge berlambang TAPOPS di lengannya agak terlihat. "Iya. Kamu tau SMA TAPOPS?"

"Tau. Siapa yang nggak kenal TAPOPS?"

Yaya mengangguk menyetujuinya. Sekolahnya memang menjadi sekolah terbaik di Kuala Lumpur. Setelahnya hening lagi. Dua manusia itu terus berjalan, sampai suara Yaya kembali terdengar diantara mereka.

"Kenapa tadi nanya gitu?"

Boboiboy berpikir sebentar. "Hmmm... nggak,"

Yaya menatapnya dengan satu alis terangkat.

"Cuma..."

"Kayaknya kita bakal ketemu terus."

.

.

.
.

TBC

Karna gua orang Indonesia, selamat HUT RI yang ke-74! MERDEKA!

dari yg gua baca di review2, kayanya seneng bgt gua nulis BoYa, terus Boboiboy yg gua bikin agak 'misterius' sama 'badboy' dikit, eheeee ini gua ga geer ya plis. Gua cuma mau nanya aja, emang kenapa sih, kok pada seneng gitu? ga maksa jawab kok wkwk.

cuma mau ngasi tau, kayanya gua uda bisa netepin kapan ff ini apdet. seminggu sekali... mungkin? kalo blm seminggu dah apdet, anggep aja bonus. kalo seminggu lebih belum apdet, berarti gua sibuk. oke, cinta-cintaku? iyuuh, jijik banget ya gaes wkwk.

udah itu aja. makasih yg udah review, fav, follow! i luv uuuuuu

oke bay