Banyak yang dapat Yaya ketahui setelah mengenal Boboiboy walau baru kurang dari satu hari.
Pertama, Boboiboy tampan.
Kedua, Boboiboy baik berimage nakal.
Ketiga, Boboiboy misterius.
Entah perasaan Yaya atau tidak, setiap pertemuan mereka pasti akan diakhiri ucapan Boboiboy yang membuatnya penasaran. Anehnya, Yaya percaya itu dan sangat menantikannya. Apa maksud ucapan cowok itu? Kapan mereka bertemu lagi? Bagaimana caranya?
Yaya kepo. Tapi ia juga tidak mengerti kenapa bisa sampai seingin tahu itu.
Sekarang, Yaya membiarkan tubuhnya berada di sekeliling bantal gulingnya. Menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Ia kembali mengingat kejadian hari ini -saat ia bertemu preman, lalu diganggu, Boboiboy menyelamatkannya secara tak terduga. Kemudian makan ketoprak bersama, dan terakhir diantar pulang cowok itu.
Yaya dari dulu tidak pernah merasakan hubungan asmara bersama laki-laki. Paling tidak hanya berteman. Seperti pacar Ying -Fang, contohnya, meski Yaya awal tahu Fang karena dikenalkan oleh sahabat kuningnya itu. Dekat hanya sebatas percakapan biasa, tidak lebih. Makanya, Yaya seakan merasa hal luar biasa baru setelah bertemu Boboiboy. Seperti ada gejolak dalam hatinya tiap kali ia menantikan pertemuan dengan Boboiboy lagi.
Tepat ia ingin melanjutkan memikirkan Boboiboy, handphone-nya bergetar di sampingnya.
Ying : p
Ying : gue sama Fang lagi di toko buku nih, lo mau nitip nggak?
Yaya menimbang-nimbang. Ia dan Ying memang pecinta berat buku maupun novel. Setiap salah satu dari mereka ke toko buku, pasti akan mengabari dan memberitahu ada novel baru atau sekedar menawarkan jastip.
Yaya : mau dong
Yaya : garis waktu karya Fiersa Besari
Yaya : ada, 'kan?
Ying : ada ada
Yaya : sip, tengkyu beb
Yaya : i love you
Ying : but i love Fang
Yaya : yeuuuu, bucin
Ying : :p
Yaya terkekeh sebentar. Sempat terpikirkan untuk menceritakan peristiwa tadi pada Ying. Tapi, Yaya ragu karena pacar Fang itu sempat menasehatinya untuk tidak terlalu percaya dengan orang yang baru dikenal. Jika Yaya bercerita sekarang, yang ada makian Ying bakal didengar oleh telinganya. Jadi... jangan dulu deh kayaknya. Lagian Ying juga lagi jalan sama Fang. Cukup di sekolah saja Yaya jadi nyamuknya.
Yaya beranjak dari kasurnya dan menuju meja belajar untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Memikirkan Boboiboy nanti saja, sebelum ia ke alam mimpi. Meski di hati terdalamnya, ia sangat berharap akan bertemu Boboiboy lagi.
"Yaya! Gue punya permen kesukaan lo nih, milkita. Enaaaaaaakkk banget. Dimakan dong!"
Iwan, cowok tinggi bertubuh kurus itu membujuk gadis berkerudung yang tengah membaca novel garis waktu yang dibeli Ying semalam di kursinya dengan tubuh bersender pada tembok. Yaya meliriknya sebentar, tidak terlalu tertarik mendengar tawaran itu. Ia hanya bergumam, menyuruh Iwan untuk meletakkan permen itu di meja.
"Yaaah, Yaya. Makan dong, gue udah capek-capek ke kantin buat beli nih permen sepuluh," keluh Iwan, yang ditanggapi ekspresi ingin muntah dari Ying di kursi belakang.
"Kan aku nggak nyuruh kamu beli, ya salah kamu sendiri lah," balas Yaya cuek. Karena ia paling tidak suka diganggu ketika sedang baca.
Iwan yang notabene-nya sudah mengejar-ngejar Yaya dari kelas sepuluh, mendesah panjang. Kehabisan ide untuk membuat Yaya luluh padanya.
Sementara Yaya, gadis itu sangat berharap agar cowok nyebelin di sampingnya ini enyah secepat mungkin. Bukannya Yaya jahat, tapi memang ia tidak menyukai sikap Iwan, cowok yang terang-terangan suka padanya. Meski sudah berkali-kali Yaya menolaknya lewat ucapan maupun perilakunya, Iwan seakan tidak menyerah dan terus mengejarnya.
"Paling nggak terima deh. Gue nggak maksa lo makan. Terserah lo mau apain tuh permen," ucap Iwan, yang lagi-lagi tidak ditanggapi oleh Yaya. "Yaudah gue ke kelas, ya,"
Dan akhirnya Iwan hilang dari pandangannya.
Yaya tanpa sadar menghela napas lega. Eksistensi Iwan memang selalu membuatnya risih dan tidak nyaman. Yaya juga tidak bisa memungkiri cowok itu sangat baik, karena Iwan tidak pernah berbuat jahat padanya. Tapi yang namanya tidak suka, tetap akan seperti itu selamanya. Yaya tidak bisa memaksakan perasaannya.
"Heran gue sama tuh cowok, tetep aja ngejar-ngejar lo yang jelas-jelas nggak suka," celetuk Ying di belakang. Sama, Yaya juga heran. Banget malah. Tapi ya mau gimana?
Yaya meliriknya sekilas, kemudian tangan kanannya melempar pelan permen milkita yang tergeletak di mejanya ke meja Ying. "Buat kamu aja tuh, Ying,"
Ying mencibir. Namun gadis berkacamata itu membuka bungkusan permen milkita pada akhirnya.
Sebenarnya Ying sangat bosan. Fang izin datang agak telat hari ini karena ada urusan rencana turnamen basketnya. Jika sudah mengenai basket, Fang akan sibuk parah dan susah dihubungi. Tadinya Ying ingin mengobrol dengan Yaya, tapi sialnya cewek pink itu malah asyik membaca novel yang ia beli kemarin bersama Fang. Seorang Yaya bila disatukan dengan buku, maka dunia seketika diabaikannya.
Makanya Ying daritadi cuma buka hape terus scroll instagram nggak jelas sambil nunggu Fang balas chat-nya. Kurang kerjaan? Banget. Untung sabar punya pacar kapten basket sama teman spesies Yaya. Kalau nggak mah, Ying udah meledak dari lama.
Baru saja Ying ingin menselonjorkan tangannya ke meja untuk dijadikan bantal, suara krasak-krusuk teman-teman sekelasnya terdengar sangat berisik. Lalu tak lama, akan ada suara lantang yang memberitahu ada guru masuk. Padahal gurunya masih di koridor ujung.
"WEH WEH! BU ZILA WOI! DUDUK DUDUK!"
Suara deritan meja yang digeser, derap langkah kaki yang terburu-buru, langsung terdengar seantero kelas saat itu juga. Kurang dari 10 detik, seluruh teman-temannya sudah duduk rapih menunggu kedatangan ibu guru sekaligus wali kelas mereka.
Yaya mendesah, menaruh novel barunya itu di meja dengan tampang malas. Wajahnya cemberut, nggak ada semangat yang terpancar di sana seperti biasanya. Karena yang Yaya inginkan hanya membaca novel karya Fiersa Besari itu.
Saat wanita muda dengan hak tinggi memasuki kelas, Yaya sudah bersiap di mejanya dengan sangat terpaksa. Karena jabatannya disini sebagai ketua kelas, ia harus memimpin teman-temannya untuk menyambut sang guru.
"Beri Salam!" seru Yaya lantang, kedua matanya menatap lurus ke depan.
"Selamat pagi buuuuuuuu!"
Setelah itu Yaya duduk dengan diikuti teman-temannya. Pandangannya sama sekali tidak ke depan, karena mata Yaya sibuk membaca novel yang ia pegang di atas pahanya. Tidak peduli dengan suasana kelasnya yang tiba-tiba berisik entah karena apa padahal sudah ada guru.
"Hari ini kelas kita kedatangan murid baru..."
Yaya tidak mendengarnya. Ying yang berada di belakangnya menunjukkan wajah kaget bercampur kagum, ketika kedua matanya melihat wajah si anak baru itu. Bahkan teman-teman cewek di barisan sampingnya sudah heboh sendiri.
"EH GILA GANTENG BANGET!"
"WOI NAMANYA SIAPA WOI!"
"ANAK MANA?! ANAK MANA?!"
"MASIH JOMBLO NGGAK MASNYA?!"
Ya, kurang lebih begitulah seruan para kaum hawa yang tergila-gila melihat wajah baru itu.
Ying, dengan gemas menghentak-hentakkan kursi Yaya menggunakan kakinya lewat kolong meja. Gadis berkerudung itu malah asyik membaca disaat kelas mereka kedatangan tamu mempesona. Yaya berdecak kesal, menengok ke belakang dengan niat mengomeli Ying.
"Apasih-!"
"Nama saya Boboiboy,"
Tepat setelah itu, seluruh dunia Yaya seperti berhenti bergerak.
Kepalanya yang menengok ke arah Ying, dengan cepat beralih menatap ke depan. Menemukan sesosok cowok tinggi berjaket hitam dengan resleting terbuka sehingga memperlihatkan jelas seragam putihnya.
Yaya terkejut bukan main. Kini matanya menatap lurus-lurus Boboiboy yang berdiri di depan sana, sementara bisikan heboh Ying ia abaikan begitu saja.
"Boboiboy? Cowok yang kemaren lo ceritain itu, kan?!" bisik Ying sambil mendekatkan wajahnya pada Yaya.
Pikiran Yaya didatangi banyak tanda tanya. Ketika pandangan Boboiboy jatuh ke arahnya, Yaya merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Wajah itu, benar-benar wajah cowok yang kemarin menolongnya. Wajah yang ia obati saat mereka tak sengaja bertemu di jalan pada malam hari. Boboiboy. Dan dengan entengnya, dia memberikan senyum tipis pada Yaya walau tak hanya sampai dua detik, yang tentu saja Yaya sadari.
"Boboiboy, kamu bisa duduk sama Yaya." Bu Zila menunjuk ke arahnya. Boboiboy mengangguk, melangkahkan kakinya menuju meja cewek yang sudah menopang dagunya dengan kedua tangan.
Boboiboy duduk. Menatap Yaya yang masih diam di tempat dengan ujung matanya. "Kenalin. Nama gue Boboiboy,"
Yaya memejamkan matanya. Sadar ucapan Boboiboy barusan adalah sebuah candaan. Ia melirik cowok itu malas, beralih menaruh tangannya di meja.
"Udah tau," balas Yaya malas dan mulai memperhatikan pelajaran. Sementara Boboiboy terkekeh geli sebelum mengambil buku tulis di tasnya dan menuliskan sesuatu di lembar terakhir buku itu. "Mau ngapain?" tanya Yaya penasaran.
"Ssstt. Jangan berisik," kata Boboiboy pelan, mulai melanjutkan menulisnya. Yaya akhirnya diam, tapi matanya terus mengawasi Boboiboy.
"Nih,"
Yaya menerima sodoran buku dari Boboiboy dan membaca kalimat yang cowok itu tuliskan.
Temenin anak baru ke kantin. Boleh?
Yaya tertawa kecil. Bukan karena kalimat di buku itu, melainkan cara Boboiboy menyampaikannya. Padahal masih bisa lewat ucapan, kenapa harus pakai perantara buku?
"Kamu aneh-aneh aja," ujar Yaya yang dibalas senyum tipis dari cowok itu. Boboiboy mengangkat alisnya meminta jawaban. "Iya, anak baru. Nanti ketua kelas temenin,"
Mereka berdua sama-sama tertawa tanpa suara. Nggak berlangsung lama, Yaya akhirnya kembali memperhatikan pelajaran yang diikuti Boboiboy. Duduk anteng manis tanpa memedulikan tatapan menyipit Ying dari belakang. Tatapan yang hampir mirip menyelidiki suatu kasus kejahatan. Tapi bedanya... kasusnya adalah kenapa mereka jadi sedekat itu?
Satu jam terlewati, Fang datang dengan jaket yang ia sampirkan di tangannya. Senyum lebar langsung merekah di wajah Ying. Ketika cowok basket itu melewati meja Yaya, ekspresinya penuh kebingungan dan menunjukkannya pada Ying.
"Anak baru?" bisik Fang, saat dirinya sudah duduk di samping Ying.
Ying memandang dua manusia di depannya yang asyik banget ngobrol lewat kertas. "Iya. Namanya Boboiboy,"
"Hah? Bobby?"
"Boboiboy, Fang. Bo-boi-boy,"
"Lah, susah amat namanya. Aneh lagi," komentar Fang macam kritikus. "Eh, tapi... kok akrab banget sama Yaya? Mereka udah kenal?"
Pertanyaan Fang mewakili apa yang ada di kepala Ying. Meskipun Ying lebih tahu tentang soal Boboiboy dan Yaya daripada Fang, ia juga masih belum mengerti kenapa dua orang itu menjadi akrab setelah pertemuan satu kali. Harusnya, kan... masih ada rasa canggung. Lah ini?
"Aku juga nggak tau," jawab Ying seadanya.
Fang ikut memperhatikan si anak baru dan Yaya. Di depannya, entah apa yang Boboiboy bicarakan sampai membuat Yaya tertawa kecil. Pelajaran Bu Zila benar-benar diabaikan oleh mereka. Nggak mereka juga, sih, anak barisan belakang juga samanya. Lebih memilih tidur atau main hape diam-diam.
Fang melirik Ying yang tengah sibuk mencatat apa yang ada di papan tulis. "Mereka udah kenal kali," ucap Fang tiba-tiba, membuat atensi Ying sepenuhnya beralih padanya. Ying sempat tidak mengerti, namun dua detik kemudian ia paham. "Mereka baru banget kenal,"
"Tau dari mana?"
Ying menyenderkan badannya ke tembok. "Kemarin Yaya cerita. Dia ketemu Boboiboy pas malem-malem. Ya... gitu deh,"
"Gitu gimana?" kepo Fang dengan mendekatkan wajahnya.
Ying berdecak. Lupa kalo pacarnya ini mempunyai kadar kepo yang sangat tinggi. "Ntar aku ceritain! Sekarang catet dulu tuh," Dagu Ying menunjuk papan tulis putih di depan yang dipenuhi tinta spidol karya Bu Zila.
"Nggak ah. Kan bisa nyalin ke kamu," kata Fang sambil menaruh kepalanya di atas meja dengan mata terus menatap cewek di sampingnya.
"Nyalin berarti bayar yaaa,"
"Bayarnya pake cinta, mau?"
"GELI!"
Fang tergelak. Menikmati ekpresi wajah menjijikan dari Ying. Cewek berkuncir kuda itu memang sangat anti digoda olehnya. Balasannya pasti cubitan, wajah jijik, atau mengucapkan 'geli' dengan nada lucu menurut Fang. Apalagi kalo udah nunjukkin muka datar, sambil ngomong 'Haha lucu lo'. Fang akan mengacak rambutnya gemas.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Terlihat di meja guru Bu Zila membereskan buku-bukunya. Ia berdiri, menatap ke Boboiboy yang di samping Yaya.
"Boboiboy, nanti ke perpus ambil buku pelajaran ya. Yaya, tolong anter dia. Sekalian kamu ajak keliling sekolah, biar tau ruang-ruangannya di mana,"
Yaya mengangguk mengerti. Setelah Bu Zila pergi, ia ingin bangkit namun panggilan dari Ying menahannya.
"Kenapa?"
Ying melirik-lirik Boboiboy yang tengah mencatat pelajaran. Yaya mengangkat alisnya, lalu mulutnya membentuk huruf O. Ia terkekeh sebentar.
"Oh ya, Boboiboy," panggilnya membuat cowok itu menoleh. "Nih, kenalin, Ying. Samping Ying itu Fang. Dia-"
"Pacarnya," potong Fang cepat sambil merangkul Ying seenak jidat. Seperti menegaskan 'Ini cewek gue. Ngga boleh direbut!'.
Boboiboy dan Yaya terkekeh. Sedangkan Ying mencubit-cubit pinggang Fang karena sudah merangkulnya seenak udel. Malu karena kini ia menjadi bahan tontotan anak-anak kelas dan tawa dari Boboiboy serta Yaya.
"Gue Boboiboy," kata Boboiboy memperkenalkan diri.
"Nama lo kok susah banget, sih," aku Fang kelewat jujur. "Gue panggil Iboy aja gimana? Kalo nggak Bobby?"
"Nama udah bagus-bagus kok diganti. Kampungan banget lagi," sahut Yaya. Ying mengangguk-angguk setuju.
"Hahaha. Iya dah, terserah lo mau manggil gimana," balas Boboiboy dengan kekehan.
"Oke sip! Mulai sekarang kita temenan, Bobby!"
"Udah udah! Aku mau anterin Boboiboy ke perpus. Ngobrol-ngobrolnya di-pause dulu," selak Yaya karena ia tahu Fang tidak berhenti menanyai Boboiboy macam-macam.
"Nanti lagi ya. Gue duluan," katanya langsung menyusul Yaya.
Fang dan Ying yang sama-sama menatap kepergian mereka, saling menyenggol satu sama lain. Sampai 10 detik, dua manusia itu diam dan berhadapan.
"Boboiboy ganteng ya," celetuk Ying tiba-tiba, membuat mata Fang melotot. Kedua tangan besar cowok itu memegang pipi Ying, ditekan cukup keras sampai bibir Ying monyong.
"Nggak nggak! Gantengan aku. Oke, Ying? Gantengan aku! Ayo bilang sekarang, kalo nggak aku cuci otak kamu nih!" kata Fang gemas, tangannya menggoyang-goyangkan kepala Ying ke kanan dan kiri.
"Iiiihh Faaaannggg! Iyaaa wooii bercanda doaaangg! Woi anjir pusiiinngg! FAAAANNGGGG!"
"Bilang dulu kalo aku lebih ganteng dari dia!"
"Iyaaa iyaaa! Hhhhhhh! Fang ganteng deh, cakep kasep beeuuuhh keceee bangeeett!"
"Nah gitu sayang!"
Fang melepas tangannya dari kepala Ying. Cewek itu cemberut, Fang membalasnya dengan juluran lidah dan langsung kabur secepat mungkin sebelum Ying ngamuk.
"FAANNGGGG!"
Dari jauh, Fang terkekeh geli. Kejadian ini memang tidak satu dua kali terjadi. Ying memang suka jujur jika menemukan cowok cakep lebih dari Fang. Yang Fang lakukan bukan marah. Melainkan membekap kepala gadis itu dan menyuruhnya mengatakan dirinya yang paling ganteng sampai ia puas. Karena ia tahu, Ying pasti akan melakukannya agar ia tidak marah.
"FANG!"
Dan mereka akan berakhir saling kejar-kejaran.
Selama berjalan menuju perpustakaan yang letaknya di bawah dan paling ujung gedung, Boboiboy tak henti-hentinya mendapat perhatian yang kebanyakan dari kaum hawa. Yaya yang berjalan di sampingnya sampai mumet sendiri, karena telinganya sudah panas mendengar berbagai macam pujian yang hanya ditujukan pada Boboiboy.
Seperti.
"Yaya! Itu anak baru, ya?"
Atau
"Kok ganteng banget sih woi!"
"Namanya siapa kak?"
Dan lebih parahnya sampai menghalangi jalan mereka untuk bertanya.
"Kak, boleh kenalan gak?"
"Kak, boleh minta nomor teleponnya?"
"Kakak masih jomblo gak?"
Sumpah ya, Yaya rasanya pengen ngamuk aja dan makan semua manusia kurang etika itu. Tapi yang ia lakukan hanya, "Misi ya, kakaknya lagi ada urusan. Kalo mau kenalan ntar aja. Oke?" dengan nada dipaksa selembut mungkin pastinya.
Yaya sampai nggak sadar udah mempercepat langkahnya agar tidak mendengar suara-suara setan itu. Nggak mikirin lagi gimana Boboiboy di belakang karena yang Yaya pengen cuma menyelesaikan tugasnya -mengantar Boboiboy dan makan mie ayam di kantin setelahnya.
Sadar kakinya sudah mencapai pintu perpus, Yaya diam di tempat. Membalikkan badannya dan terkejut menemukan tubuh seseorang di depannya -dadanya lebih tepatnya. Ia mendongak hanya untuk menemukan wajah cowok yang resmi menjadi chairmate-nya itu mulai hari ini.
"Aku kira kamu ketinggalan,"
"Jalannya buru-buru banget? Lo lagi dikejar musuh?"
Yaya cemberut. "Fans kamu tuh, banyak banget! Pusing aku ladeninnya, tau? Makanya aku jalannya cepet," Yaya mendengus kasar.
"Diemin aja, lagi. Nanti mereka juga capek sendiri,"
"Kamu nggak risih apa emangnya? Aku aja risih lho,"
"Nggak tuh. B aja,"
Yaya mencibir dan dibalas gelak tawa dari Boboiboy. Sesudahnya, mereka berdua masuk ke perpus. Yaya memimpin jalan menuju rak khusus buku pelajaran kelas sebelas setelah meminta izin pada penjaga perpus. Boboiboy yang berada di belakangnya menjelajahi ruangan ini dengan matanya. Perpustakaan SMA TAPOPS sangat besar ternyata, belasan rak buku terlihat berjejer di sepanjang ruangan. Di atas rak buku tersebut terdapat plang yang bertuliskan kategori bukunya. Jadi tidak sulit untuk mencari buku yang diinginkan.
Di sudut-sudut ruangan juga disediakan meja rendah tanpa kursi untuk membaca. Di bawah meja juga ada bantal, Boboiboy berasumsi itu untuk siswa yang cabut kelas dan memilih untuk tidur di sini dengan suasana sepi, adem, dan tenang. Sepertinya boleh dicoba.
"Lo sering ke perpus?" tanya Boboiboy, memperhatikan Yaya yang tengah mencari buku untuknya. Cewek itu hanya mengangguk sebagai balasan. "Suka baca buku dong berarti?"
"Ya... gitu deh," Yaya mengendikkan bahunya, menyerahkan lima buku yang sudah ia temukan pada Boboiboy. Boboiboy menerimanya menggunakan tangan kirinya dengan sangat mudah.
"Buku apa?" tanya Boboiboy masih pada topik yang sama.
Yaya berpikir sebentar dan mengambil buku di depannya yang kemudian di serahkan ke Boboiboy. "Hm, buku apa aja sih sebenernya. Tapi aku paling suka buku sejarah sama buku sastra,"
Boboiboy sedikit takjub mendengarnya. "Bacaan lo keren juga," puji Boboiboy apa adanya.
"Kalo kamu?"
"Gue? Gue cuma suka baca komik. Detectif Conan contohnya,"
Yaya terkekeh kecil. Kemudian ia berusaha mengambil buku fisika yang berada dua jengkal di atas kepalanya. Yaya sampai berjinjit, namun tangannya masih tidak bisa menggapai buku itu. Hingga Yaya merasakan tubuhnya menegang kala tubuh Boboiboy mendekat padanya karena inisiatif cowok itu untuk mengambil buku yang tidak dapat ia ambil. Posisinya Yaya seperti terkurung oleh tubuh Boboiboy yang tinggi dan tegap itu. Bahkan bau parfume maskulin yang dipakai cowok tercium jelas oleh hidungnya. Yaya sampai harus menahan napasnya karena jarak mereka yang sedekat ini.
"Kalo nggak nyampe tuh bilang," ujar Boboiboy sambil menjauhkan badannya lagi serta senyum tipis di wajahnya.
Yaya mengangguk kaku, sepertinya cuma dirinya yang merasakan ketegangan barusan. Ia kembali sibuk mencari buku lain, sambil terus-terusan menyuruh jantungnya agar tidak berdetak berlebihan. Fokusnya juga tiba-tiba buyar, karena matanya terus mengamati cowok di sampingnya yang tengah melihat-lihat buku.
Iya juga ya. Apa yang dikatakan fans Boboiboy tadi benar. Boboiboy ganteng. Meski dilihat dari samping, Yaya bisa menjelaskan semenarik apa wajah cowok itu. Garis rahangnya yang tegas, matanya yang tajam mengintimidasi namun ada sisi lembut di sana, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tidak terlalu tebal ataupun tipis dan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Yaya saja sampai kagum melihatnya.
"Yaya? Kok bengong?"
Yaya terkesiap dan seketika lamunannya buyar. Kesalahan yang amat besar jika melamuni orang yang jelas-jelas berada di sampingnya.
"Eh, nggak kok, aku nggak bengong. Cuma... laper doang tadi hehe," elak Yaya asal.
"Yaudah ke kantin yuk. Ini juga udah selesai kan?"
Yaya mengangguk pelan. Ucapannya tadi bukan sekedar alibi, tapi memang perut Yaya udah keroncongan dan butuh mie ayam kang Adi yang dijual di kantin. Untungnya Boboiboy langsung menyetujuinya.
Kemudian mereka keluar perpus untuk ke kantin setelah menaruh buku Boboiboy di kelas. Sama seperti tadi, eksistensi Boboiboy menjadi hal yang dielu-elukan para cewek. Namun kali ini Boboiboy dan Yaya tidak menanggapinya dan terus berjalan di koridor yang sangat ramai itu. Mereka sudah sepakat untuk mendiamkannya saja saat di perpus tadi.
Sembari berjalan, Yaya juga memberitahu nama ruangan yang mereka lewati. Dari koridor perpus, ada ruang OSIS di sebelahnya, dan jejeran ruang kelas 10 hingga tangga yang menghubungkan lantai satu dengan dua. Melewati tangga, ada toilet khusus perempuan dan belok ke kiri jika melewatinya. Akan ada beberapa ruang kelas 10 lagi hingga mencapai lorong yang menghubungkan ke kantin yang berada di belakang gedung.
Saat keduanya tiba di kantin, mereka langsung menuju stand mie ayam kang Adi. Kebetulan stand-nya sedang sepi, Yaya memesan dua porsi mie ayam yang langsung dibuatkan kang Adi dengan cepat.
"Kamu mau minum apa?"
"Samain aja," ujar Boboiboy, karena ia juga masih belum tahu minuman yang tersedia di kantin ini.
Kantin TAPOPS atau yang seringkali anak-anak sebut kanops, memiliki banyak stand makanan di pinggir ruang persegi yang lumayan luas ini, dengan 6 meja panjang serta bangku di tengah-tengan kantin. Kantinnya dibiarkan tanpa pintu dan jendela, sehingga udara luar sangat terasa di sini. Boboiboy bisa melihat ada taman tak jauh dari sini dengan pepohonan asri. Ada beberapa siswa TAPOPS makan di sana atau sekedar mengerjakan tugas.
"Nih, mau makan di mana?" Boboiboy menoleh ketika Yaya datang membawa nampan berisikan dua porsi mie ayam. Tanpa disuruh, Boboiboy segera mengambil alih nampan itu dari tangan Yaya.
"Aku bisa bawain kok," protes Yaya saat nampan itu diambil Boboiboy.
"Udah gue aja,"
Yaya akhirnya membiarkannya dan berinisiatif untuk membawakan minuman yang sudah ia pesan di stand samping mie ayam kang Adi. Matanya menjelajah seisi kantin yang ternyata cukup ramai. Yaya hampir menyerah mencari bangku kosong ketika ditemukannya dua bangku kosong tepat di samping Fang dan Ying yang sama-sama menikmati bakso urat dengan berhadap-hadapan.
"Itu Fang sama Ying! Mau makan sama mereka?" usul Yaya, namun wajahnya langsung berubah ketika mengingat sesuatu. "Eh, jangan deh. Nanti kita jadi nyamuk,"
"Kok gitu?"
Yaya cuma menggigit bibirnya.
"Lagian nggak ada bangku lagi. Sama mereka aja, ya?"
Baru Yaya ingin protes lagi, namun kaki Boboiboy sudah melangkah menuju dua makhluk gaje itu. Yaya meniup kerudungnya pasrah, kakinya mengikuti langkah Boboiboy tidak bersemangat. Karena menurutnya, bergabung dengan Fang dan Ying sama saja menerima dirinya jadi nyamuk pasangan itu. Tahu sendiri kan sealay apa pacaran versi mereka?
"Eh! Bobby, si anak baru! Sini-sini duduk!" seru Fang sok akrab dan mempersilahkan Boboiboy duduk di sampingnya.
"Boboiboy woi namanya," sahut Ying kesal, karena Fang tak henti-hentinya memanggil Boboiboy dengan sebutan Bobby.
"Ngapa sih? Orangnya juga kagak protes," dumel Fang yang dibalas cibiran dari Ying.
Yaya duduk di samping Ying, sementara Boboiboy tertawa atas gurauan Fang.
"Suka-suka lo deh, manggil gue gimana," ujar Boboiboy santai.
Fang mengangguk-angguk. "Eh iya, lo darimana dah? Kok bisa pindah?"
Ketika pertanyaan itu dilontarkan, Yaya menoleh ke Boboiboy. Menunggu jawaban dari cowok itu.
"Pulau Rintis,"
Jadi dia anak Pulau Rintis?
"Terus? Kenapa bisa pindah ke sini?"
Pertanyaan ini yang sedari tadi menyantol di kepala Yaya.
Boboiboy diam sebentar sebelum menyeruput es jeruknya lalu menjawab. "Disuruh bokap. Ya... gitu deh,"
Dan cukup di situ. Tidak ada lanjutannya.
Yaya mengira Fang akan kembali bertanya. Namun cowok itu cuma menanggapinya dengan anggukan paham lalu melanjutkan makannya. Membuat tanda tanya di kepala Yaya semakin bertambah, bukannya berkurang.
Disuruh Ayahnya?
Tapi kenapa?
"Yaya Yah!"
Suara yang sudah tak asing itu, tapi tetap saja terdengar menyebalkan, memunculkan diri dengan duduk di bangku kosong samping Yaya. Ia tidak perlu menoleh karena ia tahu siapa manusia itu.
Tentu saja Iwan.
"Nanti pulang bareng, mau gak?"
Yaya dengan cepat menggeleng.
"Yah ditolak mulu. Terima dong sesekali," keluh Iwan dengan tampang cemberut.
Ying menahan tawanya. "Ya kalo nggak mau tetep aja nggak mau. Gimana sih lo!"
Iwan mendengus kasar dan mengalihkan pandangannya. Matanya tak sengaja memandang seorang cowok yang tepat di depan Yaya. Ia memicingkan matanya, jelas berusaha mengenali siapa cowok tersebut.
"Siapa nih? Anak baru?" tanya Iwan. Yang disebut membalas tatapannya.
"Oh, iya, nih Wan! Kenalin, ada anak baru di kelas gue," ujar Fang. "Namanya Bobby,"
"Boboiboy, bego!" Ying dengan gemas meralatnya.
"Iya elah, salah dikit ini,"
"Banyak woi!"
Iwan tidak menanggapi pertengkaran kecil antara Fang dan Ying. Ia terus menatap lama Boboiboy yang juga melihatnya tanpa ekspresi. Sementara Yaya, gadis itu diam sambil memandangi bergantian dua cowok di dekatnya. Entah perasaannya atau memang benar karena tiba-tiba atmosfer di sini berubah menjadi tegang.
"Boboiboy ya?" ulang Iwan sekali lagi. Senyum terlihat aneh dan tidak biasa.
"Gue Iwan. Seneng bisa kenalan sama lo,"
.
.
.
.
.
.
TBC
Chap ini full yg manis manis ya wkwk.
Fang gua bikin agak kocak disini, emang sengaja karena gua juga udah mikirin, Fang sama Ying nanti dibuat jadi pencair suasana. tadinya mau Gopal, tapi nanti peran Gopal nggak kocak kocak banget sih hahaha.
buat yg masih ngira ini humor full (emg sebenernya ada humor sih), tp ini misteri kok serius. mungkin karna guanya gabisa serius serius amat, makanya jadi ada humornya dikit ya? wkwk. gapapa kan klo gua bikin misteri humor romance? biar ga tegang-tegang amat gais.
fyi, gua kalo apdet itu kalo ga jumat malem, sabtu, ama minggu. jadi selain hari itu, gua ga bakal apdet. kenapa? karena gua freenya emang hari itu aja. tugas gua banyak coi, karena gua masih pelajar ini wkwk. jadi maklumin aja ya gaes, dan tunggu aja.
makasih banyak yg udah review, sampe nagih-nagih mlu kapan apdet wkwk, gua terharu bat lho gais bacanya. jadi ada semangat buat nulis karna ada yg nungguin.
makasih juga yg udah fav follow. yg cuma baca doang makasih ya, karna uda baca ff gajelas ini.
udah kayaknya itu aja.
bye
