"Gue Iwan. Seneng kenalan sama lo,"
Menanggapi itu, Boboiboy hanya tersenyum tipis dan beralih menyedot es tehnya. Ketika melihat wajah Iwan, Boboiboy merasakan ada sesuatu yang aneh di sana. Sorot mata cowok itu seperti menunjukkan aura meremehkan, tapi juga misterius. Dan senyumnya. Boboiboy jelas mengetahui itu bukan senyuman tulus.
Namun Boboiboy buru-buru mengenyahkan pikiran buruknya tentang Iwan, karena ia tidak boleh menilai seseorang hanya dengan wajahnya.
"Lo sekolah di mana sebelumnya?" tanya Iwan setelahnya. Cowok itu menopang dagunya menggunakan satu tangan, sementara matanya menatap lurus Boboiboy.
Boboiboy menelan makanannya sebelum menjawab. "SMA Pulau Rintis," di depannya Iwan mengangkat alis.
"Pulau Rintis? Jadi keluarga lo pindah ke sini?"
"Nggak, Wan. Neneknya yang pindah," Fang yang malah menyahut dengan nada kesal.
Boboiboy tertawa.
Iwan hanya mencebikkan bibirnya cuek.
Kemudian, hening setelah itu. Tidak ada percakapan selain suara dentingan sendok yang membentur sisi mangkok. Boboiboy pun ikut menyantap makanannya, sampai terdengar suara Iwan yang menggebu-gebu menceritakan tentang perjalanannya ke puncak saat LDKO-nya kemarin bersamaan dengan getaran di saku celananya terasa.
Boboiboy hanya menyimak, sementara matanya menatap layar hapenya yang menampilkan deretan kata dari nomor tidak dikenal. Namun Boboiboy sangat tahu itu berasal dari siapa.
From : 08782xxxxx
Kita disuruh ngumpul hari ini, jam 5 sore. Gue harap lo dateng
Boboiboy menghela napasnya. Memilih untuk mengabaikan pesan itu dan beralih pada topik yang sedang dibicarakan.
"...gila gak tuh? Gue disuruh masuk hutan cuma bermodalkan senter, sendiri lagi. Untungnya gue bisa ngelewatinnya, mana ada jurang lagi di kanan gue,"
"Oh gitu? Kenapa lo nggak nyungsep sekalian aja ke jurangnya?" Fang menanggapinya dengan sindiran. Karena sedaritadi, Iwan terus mengoceh tentang keberhasilannya di acara perkemahan pramuka kemarin. Kan jatohnya kayak sombong. Bukannya mengapresiasi malah jadi sebel dengernya.
Makanya, Fang kadang pengen tenggelemin Iwan ke laut aja karena sifatnya itu. Ngomong sama dia juga Fang cuma bersikap seadanya, karena dia juga nggak mau macam-macam sama Ketua OSIS sekolahnya ini.
"Hahahaha, ya kali lo. Nanti kalo gue beneran masuk jurang, Yaya gak bisa liat gue lagi dong," kata Iwan dengan melirik Yaya sambil tersenyum nyebelin.
Yaya menatapnya horor.
"Pede gila, najis!" sembur Fang yang ditambahkan dengan wajah ingin muntah dari Ying.
Boboiboy hanya memperhatikannya. Menilik baik-baik empat orang yang sedang bersamanya ini. Terlihat sangat jelas cuma Iwan yang fine fine saja duduk di bangkunya, sementara yang lain sudah memasang wajah gumoh dan ingin Iwan cepat-cepat pergi dari sini.
"Oh, ya, buat lo," Perhatian Iwan kini beralih padanya. Boboiboy mengangkat alis, menunggu cowok itu bicara lagi. "Di sini ekskul diwajibin. Jadi semua anak harus milih ekskul, satu doang juga nggak papa, sih. Lo tertarik masuk apa? Kalo lo seneng berorganisasi, lo bisa masuk OSIS. Kebetulan kita lagi pengen ngadain acara pensi dan kekurangan panitia," kata Iwan mendadak promosi.
Boboiboy diam sebentar. Matanya menatap Yaya yang kini melihatnya sembari menyesap minumannya.
"Hm, gue belum tau."
Fang menepuk bahunya tiba-tiba. "Lo masuk basket aja. Bareng gue. Bisa basket, 'kan?"
Boboiboy mengangguk. "Lumayan. Tapi nanti gue pikir-pikir dulu deh,"
"Mikirnya jangan lama-lama, ya. Soalnya lo harus ngisi ekskul apa yang lo pengenin sampai seminggu ini. Dan ngasihnya ke gue aja, karena gue ketua OSIS," katanya dengan menampilkan wajah bangga.
"Hnngg, iya iya," cibir Fang.
Boboiboy terkekeh melihatnya.
Sedangkan Yaya, gadis itu memilih untuk lebih banyak diam. Satu-satunya objek yang membuat matanya tak berhenti menatap adalah sosok di hadapannya. Meski kadang Boboiboy tidak menyadari tatapannya, Yaya terus memperhatikannya. Bagaimana cowok itu memakan mie ayamnya, terkekeh mendengar candaan Fang, atau hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Iwan.
"Jangan diliatin mulu kali," Yaya cepat-cepat menoleh ketika bisikan Ying terdengar di telinganya. Cewek berkuncir kuda itu tersenyum meledek, terlihat puas menangkap basah dirinya yang terus-terusan menatap Boboiboy.
"Apasih," Yaya terlihat salah tingkah sekarang.
Ying merapatkan bangkunya untuk lebih dekat pada Yaya. "Kalo kemaren gue nggak setuju tentang lo sama dia, kayaknya mulai hari ini gue setuju," Ucapan yang membuat Yaya hampir menyemburkan minumannya.
Ying tertawa kecil, matanya mengecek situasi ketiga cowok itu yang masih mengobrol dan tidak menyadari percakapan dirinya dengan Yaya.
"Ying! Apaan sih, gak jelas banget," cecar Yaya dengan pelototan tajamnya. "Aku nggak suka sama dia, tau."
"Loh? Kenapa? Bukannya Boboiboy ganteng?" tanya Ying dengan tampang pura-pura polos. Perkataannya tadi bukan sekedar untuk meledek Yaya. Tapi Ying memang benar-benar mendukung mereka bersatu, karena dirinya juga sudah melihat orang seperti apa Boboiboy itu. Berbeda dengan dirinya yang kemarin saat belum mengetahui sosok cowok yang ditolong Yaya yang ternyata adalah si anak baru di depannya.
Yaya tidak menggubrisnya lagi. Lebih baik menghabiskan mie ayamnya yang tinggal setengah lagi ketimbang meladeni omongan Ying.
"Cie yang lagi falling in love,"
Yaya memejamkan matanya sebentar untuk meredakan emosinya. Andai di sini tidak ada Fang, Boboiboy, maupun Iwan, Yaya sudah menempeleng kepala Ying dengan tangannya.Tahan, Yaya, tahan, batinnya.
Sambil mengunyah, Yaya menopang pipinya dengan tangan kanan. Hal yang membuat Boboiboy menatapnya dan tersenyum geli.
"Eh, gue cabut duluan ya. Ada urusan di ruang OSIS," Iwan dengan gerasaknya bangkit setelah membaca pesan di handphone-nya, membuat mata mereka manatapnya langsung. "Gue cabut ya. Yaya, gue duluan,"
Pergi gih sana yang jauh. Kalo bisa jangan balik lagi. kata Yaya dalam hati ketika sosok Iwan sudah menghilang.
Fang dan Ying sama-sama membuang napas lega.
"Sumpah ya, gue benci banget sama tuh manusia," ujar Ying yang disetujui langsung oleh Fang.
"Iya, anjir, tebar pesona banget. Kesel aja gue liatnya," tambah Fang menggebu-gebu.
Boboiboy hanya diam mendengarkan, sesekali menatap Yaya yang kini menggigiti ujung sedotannya karena minumannya telah habis. Cewek itu diam sama sepertinya padahal dia yang direcoki Iwan sedari tadi. Anehnya, Yaya sama sekali nggak protes seperti Fang dan Ying. Kecuali wajahnya yang ketara sekali menunjukkan rasa risih bila di dekat Iwan. Selebihnya Yaya bungkam.
Beberapa menit terlewati, Fang dan Ying memutuskan untuk ke kelas duluan karena ada tugas yang belum dikerjakan. Di meja itu tersisa Boboiboy dan Yaya yang sama-sama bingung mencari bahan obrolan.
Setelah Yaya mengecek jam tangannya dan baru mengetahui waktu istirahat tersisa sepuluh menit lagi, ia memajukan badannya sedikit pada Boboiboy.
"Eum... masih sepuluh menit lagi bel masuk. Mau jalan-jalan?"
Tawaran Yaya diangguki oleh Boboiboy dengan senyum mengembang.
"Ini namanya lapangan serba guna. Bisa dipake buat latihan taekwondo, futsal, jam olahraga, bahkan bisa dipake buat acara sekolah kayak wisuda perpisahan,"
Penjelasan Yaya kembali terdengar saat kedua kaki mereka menempati lapangan indoor yang amat luas. Atapnya sangat tinggi, dan disana dipasang enam lampu gantung pajang. Di sisi kiri, ada beberapa bangku penonton dengan model yang panjang dan tanpa sandaran.
Boboiboy tidak menyangka SMA ini mempunyai lapangan indoor serba guna seluas ini.
"Jadi kalo pulang sekolah, lapangan ini bakal rame. Karena pasti ada yang latihan ekskul," jelas Yaya lagi. "Ngomong-ngomong soal ekskul, kamu jadinya mau masuk apa?"
Boboiboy menatapnya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Mereka berdua kini berdiri di dekat tembok pintu masuk. "Masih belum tau. Mungkin... basket?" Boboiboy menatap sekitarnya. "Kalo lo? Ekskul apa?"
Yaya yang ditanya begitu membasahi bibirnya sebentar. "KIR. Aku ekskul KIR,"
Boboiboy menatapnya dengan tatapan tertarik. "Kenapa ya, aktivitas lo hebat-hebat semua," puji Boboiboy berdasarkan pengetahuannya tentang Yaya yang sangat berbanding terbalik dengannya.
"Nggak sih, biasa aja," elak Yaya yang membuat Boboiboy tersenyum.
Yaya berjalan menuju bangku panjang dekat pintu masuk lapangan diikuti Boboiboy. Keduanya sama-sama memandangi keheningan lapangan di depan mereka.
"Aku nggak nyangka kamu bakal sekolah di sini," ujar Yaya menengok ke samping kirinya, tepat di mana Boboiboy yang sepertinya asyik menikmati semilir angin dari fentilasi lapangan.
"Gue juga." balas Boboiboy tak lama. "Semuanya terjadi gitu aja. Semenjak... gue tau kalo lo sekolah di sini juga," tatapannya langsung mengarah pada Yaya.
Yaya diam. Sibuk memandangi wajah Boboiboy yang masih terlihat luka lebam bekas kemarin meski samar-samar. "Kenapa?" Boboiboy mengernyit bingung ketika pertanyaan itu dilontarkan. "Kenapa kamu pindah ke sini?"
Untuk beberapa detik diisi dengan keheningan. Sampai terdengar suara hela napas dari Boboiboy, lalu disusul suara pelan cowok itu.
"Gue tadinya sekolah di Pulau Rintis, tinggal bareng kakek gue di sana," Boboiboy menjedanya sebentar. "Terus ada something yang mengharuskan gue pindah ke sini. Dan... it's just happened like that,"
Yaya diam. Menahan dirinya agar tidak meneruskan pertanyaannya dan berhenti sampai disitu. Karena sepertinya, Boboiboy tidak mau menceritakannya lebih. mk
"Oh ya,"
Yaya kembali menoleh saat suara berat itu terdengar.
"Pulang sekolah free gak?" Kedua alis Boboiboy tertarik ke atas. "Kalo free, gue mau ngajak lo jalan-jalan. Mau?"
Yaya sedikit terkejut mendengarnya. Tawaran barusan tidak pernah ia pikirkan sama sekali. Dan... bolehkah Yaya merasa senang?
Tidak mau buru-buru mengambil keputusan, Yaya beralih untuk bertanya. "Jalan-jalan ke mana?"
Kedua telapak tangan Boboiboy betumpu pada alas bangku, dan tangannya menjadi lurus sehingga urat-uratnya terlihat karena seragamnya yang digulung sampai siku. "Ke mana aja. Sekalian cari angin,"
"Tapi kalo lo nggak sibuk," Kepala cowok itu tertunduk sedikit. Nada bicaranya jadi pelan, juga sedikit... pasrah?
"Aku mau." kata Yaya setelah beberapa detik terlewati.
Boboiboy yang masih menundukkan kepalanya menengok ke arah Yaya, membuat gadis itu sedikit gugup karena dipandang dari bawah seperti itu.
"Beneran?" tanya Boboiboy memastikan, dan raut wajahnya sangat senang saat itu.
Tanpa sadar Yaya menarik senyum tipis. Anggukan kecil kepalanya semakin membuat Boboiboy tersenyum lebar.
Dan sore itu mereka benar-benar melakukannya.
Pada saat bel pulang sekolah berdering nyaring, Boboiboy dan Yaya berjalan beriringan menuju tempat parkir dimana motor Boboiboy berada. Fang serta Ying yang baru saja ingin sampai di lobi, mendadak berhenti kala melihat dua manusia itu melangkah ringan dengan tertawa kecil.
"Bahagia banget. Mau nge-date ya lo berdua?" tuding Fang langsung tanpa aba-aba. Matanya menatap curiga Yaya dan si anak baru.
Yaya maupun Boboiboy terpaksa menghentikan langkahnya.
"Dih, sok tau," Yaya membalasnya dengan wajah nyolot.
"Dih, kok nyolot?" kata Fang sengit.
Boboiboy menghentikannya sebelum mereka semakin menjadi. "Nggak, kok, kita nggak mau nge-date. Gue cuma mau nganter Yaya balik doang,"
"Khem, gasnya cepet juga,"
Yaya memelotot pada Ying yang dengan kalemnya bergumam meledeknya. Untung Boboiboy tidak mendengarnya.
Meski Yaya sedikit bersyukur -banget malah, karena Boboiboy seenggaknya tidak memberi tahu kalau mereka akan jalan-jalan berdua sebelum Boboiboy mengantarnya pulang.
"Cepet juga ya kalian deketnya," sindir Fang sambil menaruh lipatan kedua tangannya di dada.
Fang kira Boboiboy akan menanggapinya dengan elakan atau kata-kata penolakan, namun cowok itu hanya tertawa kecil. Seolah menganggap sindirannya barusan hanyalah sebuah candaan konyol.
"Hahahaha, bisa aja lo,"
Membuat Fang ikut-ikutan tertawa meski terdengar dipaksa. "Ha.. Haha..."
Yaya yang mengerti situasi itu menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, sementara matanya menatap takut-takut Ying yang saat ini menunjukkan wajah mengejeknya seperti siap meneror Yaya nanti malam dengan segala kebacotannya.
Tatapannya itu lho, kayak mengatakan. Siap-siap lo ntar malem. Gue interogasi ampe mampus.
Ngeselin gak sih?
"Yaudah, kita duluan ya," Yaya memilih untuk pamit, karena ia tidak bisa menahan diri dari tatapan tak mengenakkan dari Ying.
"Yodah gih! Jaga temen gue, ya!" kata Ying, sedikit ada penekanan di kalimat terakhirnya pada Boboiboy.
Boboiboy yang tidak menyadari itu hanya mengangguk, dan menyusul Yaya yang sudah melangkah duluan.
Sementara Fang dan Ying, menatap kepergian dua orang itu dengan tanda tanya besar.
"Kenapa mereka bisa cepet deketnya, ya?" Pertanyaan Fang untuk kesekian kalinya. Cowok itu menghadapkan tubuhnya pada sang pacar, mengusap dagunya sambil berpikir. "Kamu bilang, mereka ketemu dua hari yang lalu, 'kan? Pas Yaya nolongin Boboiboy?"
Ying mengangguk tanpa merubah posisinya sedikitpun.
Fang masih berpikir keras, sesekali matanya menatap pintu lobi yang baru saja dilewati Boboiboy dan Yaya. Kemudian, ekspresi Fang berubah mengerikan dan kedua tangannya menggoyang-goyangkan pundak Ying tiba-tiba.
"Ying! Gawat!"
Masih dalam posisi cengkraman tidak begitu kuat dari Fang, Ying menunjukkan wajah bertanya. "Apa?"
Goyangannya terhenti, namun Fang masih memegang bahu pacarnya itu dan merubah ekspresinya menjadi serius. "Jangan-jangan..."
Beberapa detik menjadi tegang. Ying dengan sabar menunggu lanjutannya dengan terus menatap wajah cowok di depannya yang semakin serius.
"Jangan-jangan..."
"Boboiboy sama Yaya pacaran?"
"HAH?!"
"Jadi kamu punya motor?"
"Emang kenapa?"
"Soalnya waktu itu aja pingsan di jalan terus kemarinnya jalan kaki. Kirain aku nggak punya,"
Boboiboy tertawa mendengarnya. Ia menaiki motornya, memakai helm fullface-nya dan menoleh pada Yaya yang masih berdiri di samping motornya.
"Gue nggak bawa helm lagi. Nggak pake helm dulu... nggak papa 'kan?"
Yaya mengangguk. "Santai aja, 'kan nggak ada polisi,"
"Yuk naik,"
Yaya diam sebentar. Memikirkan cara untuk naik ke motor ninja ini yang menurutnya sangat tinggi. Bagi Boboiboy itu sangatlah mudah, karena cowok itu tinggi. Naik ke pijakan kaki motor yang memudahkan untuk ke joknya saja susah bagi Yaya.
"Pegang bahu gue,"
Yaya menatap Boboiboy saat ucapan itu terlontar. Terlihat cowok itu yang menatapinya melalui kaca helm-nya. Sepertinya Boboiboy menyadari dirinya yang bingung bagaimana caranya naik.
"Terus kaki lo naik ke pijakan kaki. Ayo,"
Yaya menggigit bibirnya. Menatap sekali lagi Boboiboy yang memberinya anggukan untuk meyakinkannya. Akhirnya Yaya memegang bahu kiri Boboiboy dengan tangan kirinya, sedangkan kaki kirinya memijak pada pijakan kaki. Dan Yaya mengangkat tubuhnya sedikit untuk bisa duduk di jok dengan sempurna.
Tinggi banget woi, kata Yaya dalam hati saat posisinya sudah tepat di belakang Boboiboy.
"Udah siap?"
Yaya tersentak sebelum menganggukkan kepalanya pelan. Mesin motor sudah dinyalakan dan Yaya masih bingung berpegangan pada apa. Kalo pegangan pada Boboiboy, nggak enak. Kalo nggak pegangan, Yaya bisa kejungkal ke belakang.
Boboiboy yang menyadari kegelisahan Yaya lewat kaca spion terkekeh kecil. Kenapa cewek itu susah sekali bicara jujur padanya?
"Pegang jaket gue aja. Peluk perut gue juga boleh," katanya dengan sedikit godaan.
Walau suara Boboiboy agak terendam helm-nya, Yaya masih bisa mendengarnya dengan jelas. Dicubitnya pinggang cowok itu sekali untuk meluapkan kekesalannya.
"Aduh! Kok gue dicubit, sih!" ringis Boboiboy.
"Abisan kamu ngeselin!" dengus Yaya kesal.
"Kan gue ngasih tau,"
"Tau ah!"
Lagi-lagi Boboiboy tertawa melihat pantulan wajah bete Yaya di kaca spionnya.
"Yaudah, yaudah. Gue jalan nih, awas nanti jatoh,"
Yaya mengintip kaca spion dan mendapati Boboiboy sedang tersenyum meledek ke arahnya. Ia mencibir kesal, sebelum tangannya memegang erat ujung jaket cowok itu saat Boboiboy sudah mulai menjalankan motornya. Suara deru motornya pun seketika terdengar.
Baru sampai gerbang, keduanya sudah dihujani banyak pasang mata. Yaya sedikit mengutuk Boboiboy karena cowok itu tidak membawa helm lagi, mengakibatkan wajahnya terekspos langsung diketahui seluruh siswa yang ingin pulang. Berbeda dengan Boboiboy yang memakai helm fullface dan sedikit yang mengetahuinya walau samar-samar Yaya bisa mendengar adik kelas berseru heboh saat mereka lewat.
"Eh! Itu kak Boboiboy?!"
"Anjir ganteng banget!"
"Padahal make helm, tapi gantengnya masih keliatan!"
"Jadi pengen di posisi kak Yaya gue!"
Yaya menarik kerudungnya dan menjadikannya untuk menutupi sebagian wajahnya. Malu bercampur salting. Untungnya Boboiboy sedikit melajukan motornya dengan cepat, sehingga mereka hanya sebentar menjadi pusat perhatian secara mendadak.
Wajar aja, sih, jika para kaum hawa di sekolahnya tergila-gila dengan Boboiboy. TAPOPS lagi krisis cogan, malah hampir tidak ada. Cogan yang dimaksud adalah cowok ganteng, supel, ramah, punya jabatan penting dan kalo ke sekolah tuh bawanya ninja atau mobil. Termasuk Fang. Pacar Ying itu sudah tidak diragukan lagi famous-nya seperti apa. Saking terkenalnya, Ying berkali-kali kena imbasnya karena pemuja Fang yang sangat tidak budiman. Cewek itu hampir setiap hari di-bully dulunya, hingga Fang harus turun tangan karena Yaya saja tidak cukup. Untungnya, Yaya bisa sedikit lega karena pasangan itu satu kelas dan ia tidak perlu repot-repot mengawasi Ying terus karena sudah ada Fang sekarang.
"Bengong aja. Ntar ketiup angin lho,"
Yaya tersentak kaget mendengarnya. Menatap kaca spion dan mendapati Boboiboy tengah menatapnya di sana. Ternyata Yaya baru ngeh mereka sedang menunggu lampu merah perempatan dekat sekolah.
"Siapa yang bengong," elak Yaya.
Boboiboy mengangkat alisnya tidak percaya. "Yakin? Daritadi gue liatin muka lo pongo banget, kayak lagi mikirin sesuatu,"
Sontak Yaya melebarkan matanya, tepat saat kata pongo diucapkan cowok itu. "Boboiboy!"
"Iya, apa?"
"Ish!"
Boboiboy tergelak. Sementara Yaya merasakan seluruh wajahnya sudah memerah saking malunya.
"Bercanda doang gue, hahaha,"
Yaya mencebik kesal sebelum mendekatkan kepalanya pada Boboiboy. "Ini kita mau kemana sih?" tanyanya dengan suara sedikit dikeraskan.
Boboiboy kembali melajukan motornya. Membuat angin menerpa wajah putih Yaya dan kerudungnya berterbangan dengan tempo pelan.
"Nanti juga tau," sahut Boboiboy.
Yaya akhirnya pasrah dibawa Boboiboy entah kemana. Selama di perjalanan, Yaya menatap sekelilingnya dengan tatapan antusias. Deru motor Boboiboy yang terdengar semakin keras menandakan si pengemudi menjalankannya semakin cepat. Tanpa sadar Yaya memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang terus menghantam wajahnya dengan lembut.
Sudah lama sekali Yaya tidak jalan-jalan seperti ini. Terakhir kali bersama Ying, saat mereka ingin membeli buku di toko langganan mereka sebulan yang lalu. Suasana ibukota yang ramai karena jam pulang kerja, angin sore yang membelainya dengan manja, serta langit di atas sana yang mulai menampilkan semburat jingganya. Yaya sungguh menyukainya.
Yaya beralih memperhatikan Boboiboy mengemudi. Cowok itu membawa motornya cukup ngebut namun hati-hati. Menyalip kendaraan lain dengan lincah atau sekedar membelokkan stang ke jalan lain saat di pertigaan. Boboiboy juga tidak suka mengerem mendadak, dimana itu akan menciptakan suasana canggung karena yang dibonceng bakal mepet maju ke depan akibat rem mendadak itu.
Limabelas menit mereka berkendara, akhirnya Boboiboy memberhentikan motornya. Yaya melihat sekitar. Menyadari saat ini mereka sedang di jembatan layang.
"Kita mau ngapain?" tanya Yaya saat Boboiboy sudah melepaskan helmnya dan merapikan rambutnya yang berantakan.
"Istirahat dulu disini. Nggak papa, 'kan?"
Yaya sempat bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa Boboiboy selalu menanyakan pendapatnya saat cowok itu melakukan sesuatu?
"Aku baru tau kalo disini boleh berenti," ujar Yaya saat dirinya turun, mendapati banyak pengendara motor yang sama seperti mereka di pinggir jembatan layang.
"Karena disini suasananya enak. Adem, terus bisa liat pemandangan," sahut Boboiboy ketika dirinya sudah berdiri di samping Yaya.
Yaya melangkah mendekat pada beton pembatas jembatan. Ia memandangi apa yang di bawah sana. "Wah, bagus banget! Aku nggak pernah nyangka view-nya bakal sebagus ini," ucap Yaya saat matanya menemukan rel kereta di bawah sana dengan posisi vertikal, pepohonan, gedung-gedung, atau sekedar perumahan warga.
"Coba liat ke atas," kata Boboiboy sembari mengarahkan telunjuknya pada langit di atas sana.
Yaya mengikutinya. Lagi-lagit terpukau melihat langit sore yang sebentar lagi akan menampilkan matahari terbenam.
Melihat cewek di sebelahnya terkagum-kagum, Boboiboy tertawa. "Lo seneng banget kayaknya?"
Yaya mengangguk semangat seperti anak keci. "Banget! Aku jarang keluar rumah soalnya, jadi nggak tau suasana sore kayak gini,"
"Emangnya kenapa?"
Yaya menghela napas. "Nggak boleh sama ibu,"
"Seprotektif itu ibu lo?" tanya Boboiboy penasaran.
Yaya melipat bibirnya ke dalam mulut . "Hu'um. Ini aja harusnya aku les disuruh ibu. Tapi lagi nggak mood banget, yaudah aku bolos aja,"
"Yah, gara-gara gue ya?" Entah kenapa Boboiboy jadi merasa tidak enak. Ia seperti membawa Yaya ke jalan yang tidak benar.
Mendengar nada sesal itu, Yaya buru-buru menggelengkan kepalanya. "Nggak kok, itu bukan salah kamu. Emang akunya aja yang bandel. Eh pas kamu ngajak jalan-jalan, yaudah aku mau. Selagi ada kesempatan, nggak boleh disia-siain, 'kan?"
Boboiboy tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Terserah lo aja deh,"
Yaya tertawa dan kembali menatap keindahan di depannya. Boboiboy mengambil posisi di sisi kanan cewek itu, ikut mengamati seperti Yaya.
Mereka membiarkan beberapa detik diisi keheningan. Hanya suara deru kendaraan melaju dan kebisingan kota yang mengisi saat itu.
"Aku suka kasian deh sama burung," kata Yaya tiba-tiba. Boboiboy menolehkan kepalanya menunggu Yaya kembali berucap alih-alih bertanya kenapa. "Mereka 'kan terbang di udara, tapi udaranya aja kena polusi gara-gara manusia," kata Yaya dengan wajah lugunya.
Boboiboy menautkan alisnya. "Contohnya?" Posisinya ia rubah menjadi punggungnya bersandar pada beton. Menatap wajah cewek itu dari samping.
"Yaa... asap pabrik, rokok, kebakaran sampah, sama kendaraan itu contohnya. Kalo burung aja terbang di udara kotor kayak gitu, gimana makhluk hidup yang lainnya?"
"Berarti termasuk motor gue?"
"Iya."
"Berarti kita jalan kaki aja, gapapa nih?"
Yaya langsung menoleh bingung, membuat tawa Boboiboy kembali terdengar.
"Maksudnya gimana, sih?"
"Hahahaha. Lucu juga ya lo,"
Selama Yaya masih kebingungan dengan ucapannya, Boboiboy mengulum bibirnya geli dan menepuk puncak kepala Yaya sekali karena gemas.
"Udah, nggak usah dipikirin," kata Boboiboy akhirnya karena kasihan melihat Yaya masih berpikir keras. Ia segera mengalihkan topik agar Yaya berhenti memikirkannya. "Mau liat sunset?" tanyanya setelah beberapa detik.
Yaya terdiam sambil menatapnya. Tak lama, kepala gadis itu mengangguk. "Mau. Tapi... kenapa nggak disini aja? Kan juga bagus," saran Yaya karena ia malas pindah-pindah tempat lagi dan pastinya akan menyedot bensin motor Boboiboy juga.
"Emang sih, tapi ada tempat lain yang pas buat liat sunset,"
"Dimana?"
Boboiboy hanya tersenyum tipis.
Tanpa sadar, handphone-nya bergetar dan menampilkan sebuah pesan di sana.
From : 08782xxxxx
Lo dimana? Cepet ke markas.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Karena kemaren lagi ada beberapa problem, jadi gabisa update tepat waktu. Maaf yaa semuanyaaa:(( ini gua sempetin apdet karena gua gamau kalian nunggu
kok gua kayak ngerasa ni ff makin gaje, sih? iya gak? jadi aneh gitu gua pas nulis huhu. pendapat lo pada gimana? kayak sama gua gak?
kayaknya manis-manisnya diberentiin dulu ampe sini, karena chap depan kita balik lagi ke adegan misterinya hehe. kan kalo manis mulu gabagus, ntar diabetes. sekali-kali kasih yang pahit lah ya wkwk.
btw, gua paling suka kalo kalian ngungkapin perasaan kalian di review. kayak gua suka bagian ini karena blablabla. gua nggak suka bagian ini karena blablabla. itu bikin gua ngerasa, oh reader suka yang kayak gini, oh reader suka kalo gua bikin tokohnya gini. gua nggak maksa sih, terserah kalian mau review kayak gimana. cuma, gua tekenin lagi, gua lebih suka yang kayak gitu.
sama... review yang panjang. itu bikin gua semangat, seriusan deh. hehe. maaf ya kalo banyak mau, moodnya lagi down banget soalnya, butuh suntikan semangat.
udah kayaknya itu aja.
bye
