Seorang pemuda, berkulit putih pucat dengan wajah sangar yang selalu disegani banyak orang, berdiri di depan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan ramainya ibukota. Iris tajam mengintimidasi itu menatap lurus ke depan bersama dengan pikirannya yang penuh. Kedua lengan terbalut jaket kulit hitamnya tersilang di depan dada, dan tangan kanannya menggenggam hape.
Sepuluh menit ia membiarkan hening menguasai ruangan, sampai terdengar suara langkah kaki seseorang. Sontak, kepalanya menoleh sehingga rambut biru gelap acak-acakkannya ikut bergoyang.
"Lah, cuma baru lo doang, Kai? Gue kira udah rame," Cowok tinggi berjaket hijau army itu berjalan menghampiri sofa yang berada satu meter di belakang Kaizo, mendudukinya dengan kepalanya bersandar santai pada sandaran sofa.
Kaizo mengacuhkannya dan kembali menatap jendela besar. Membiarkan cowok yang sudah lama ia kenal itu duduk di sana dan berbuat sekenanya.
"Ini udah jam setengah enam woi? Pada kemana dah?" katanya tidak sabar setelah melihat jam tangannya dan menegakkan tubuhnya. Ia memandang Kaizo di sana, menunggu cowok itu membalas. "Lo udah ngasih tau mereka, 'kan? Termasuk Boboiboy?"
Kaizo hanya diam. Membuatnya menghela napas gusar dan memilih memainkan hapenya. Sai sudah hapal di luar kepala bahwa Kaizo mempunyai sifat dingin dan cuek terhadap semua orang bahkan pada teman-temannya.
Maka dari itu, Sai menyalakan hapenya dan menghubungi yang lain agar cepat-cepat ke sini -markas mereka. Satu ruangan dengan Kaizo merupakan hal yang selalu membuat Sai gondok, karena sama saja ia berhadapan dengan tembok. Meski ia sudah berteman dengan Kaizo selama lima tahun lebih, tapi tetap saja Sai merasa dianggap debu oleh cowok dingin itu apabila sedang bersamanya.
Ketika Sai selesai mengirimkan pesan untuk yang lainnya, langkah kaki seseorang terdengar bergema di telinganya karena ruangan yang ia tempati kosong -hanya ada sofa yang ia duduki dan meja di depannya.
Sai menoleh, mendapati figur cewek berwajah jutek dengan rambutnya yang diombre di dekat tangga. Kaki jenjangnya ditutupi oleh celana levis hitam, dan atasannya jaket kulit berwarna sama. "Weh, dateng juga lo, Shiel," sapanya, dan tidak digubris sama sekali. Sai hanya mendengus dan kembali memainkan hapenya. Bersabar menghadapi dua manusia kulkas ini.
Cewek itu -Shielda, duduk di samping Sai, melipat tangannya di depan dada sambil menatap Kaizo di depan sana dengan matanya yang setajam silet namun menarik itu. Kaki kanannya ditaruh di atas kaki kiri, sehingga membuat dirinya terlihat anggun meskin wajahnya sangar.
"Yang lain pada ke mana?" tanyanya datar pada Sai yang amat serius memainkan game online-nya. Walau begitu, Sai tetap menjawab, "Gak tau. Pada ngaret kali,"
Shielda mengangguk kecil, beralih mengeluarkan hapenya dari saku celananya. Jari jemari lentik itu menari di atas keyboard hapenya. Dia tidak menyadari Sai sedikit mengintip apa yang dilakukannya, sampai ia menoleh karena Sai tertawa tiba-tiba.
"Kenapa lo?"
Sai sedikit meredakan tawanya sambil mem-pause game-nya. "Lo lucu tau, gak? Ngirim pesen ke Tarung doang ampe segitu formalnya. Tarung bukan atasan lo kali," ejeknya dan tertawa lagi.
Sontak Shielda tertegun. Menatap layar hapenya lagi yang menampilkan sederet pesan di sana lalu kembali menatap Sai dengan tatapan maut. "Lo ngintip ya?!"
Bukannya takut, Sai malah tertawa semakin keras.
Shielda menggeram kesal, menjambak rambut jabrik cowok itu kencang sampai rasa kesalnya hilang.
"Anjir, anjir! Sakit, Shiel! Woi, woi, ampuuun!" ringis Sai kesakitan. Namun itu tidak membuat Shielda menghentikan jambakannya. Cewek itu dengan kejam menarik paksa rambutnya dengan kedua tangan, tanpa ada rasa kasihan sedikit pun.
Lagian, siapa suruh mengintip apa yang dia lakukan di hape tadi?
Karena merasa Shielda tidak berhenti juga, Sai bangkit berdiri dan cepat-cepat menjauh dari cewek sadis itu.
"Sini gak?!" perintah Shielda cukup menyiksa Sai atas yang cowok itu lakukan.
"Lama-lama gue botak, anjir! Lo mah kalo nyiksa sadis!"
"Siapa suruh ngintip-ngintip?!"
"Nggak ada," balas Sai kalem.
"SAI!"
Sai hanya memeletkan lidahnya, membuat wajah Shielda memerah menahan amarah. Tapi setelah itu, Shielda memilih untuk diam membuang mukanya dan menganggap Sai makhluk astral.
Jika saja Kaizo tidak menyuruh mereka berkumpul, Shielda tidak akan mau ke markas dan kembali terlibat dengan mereka semua yang tidak mengenal lelah dalam hal mencari ribut dengan komplotan lain. Kebaikan Kaizo saat menyelamatkan dirinya yang hampir diperkosa cowok tak dikenal membuat Shielda tak enak menolak perintahnya. Semenjak itu juga dirinya ditarik masuk oleh Kaizo untuk bergabung dengan komplotan ini hingga sekarang.
Satu tahun menjadi anggota, Shielda menemukan banyak hal baru. Salah satunya mengenal mereka. Meski dia cewek sendiri di sini, namun Sheilda merasa nyaman di dekat mereka. Kaizo maupun yang lain memperlakukannya dengan baik, tidak seperti cowok-cowok lain yang sekali melihat bentuk fisiknya pasti akan berbuat macam-macam. Itu yang membuat dirinya merasa dilindungi.
"Ini mah jam tujuh baru mulai," kata Sai entah berbicara kepada siapa. Cowok itu duduk lesehan di bawah yang beralaskan spiteng dengan punggung bersandar pada meja. Posisinya tepat di depan Shielda yang duduk di sofa.
"Tarung sama Koko Ci lagi on the way," Kaizo tiba-tiba berujar setelah lama ia diam. Dia mengambil sekotak rokok di saku celananya, menyalakan satu dan menyelipkannya di antara bibir.
"Boboiboy? Gopal? Mereka ke mana?" tanya Sai sambil mengernyitkan dahi karena ketuanya itu tidak menyebutkan dua manusia lainnya.
Kaizo menanggapinya dengan mengendikkan bahu, menghempaskan asap rokok yang sudah mengumpul di dalam mulutnya dengan sangat cuek.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari Kaizo, Sai membalikkan tubuhnya dan menghadap Shielda yang menatapnya sinis dan tajam. Sai meneguk ludahnya.
"Hubungin mereka Shiel," pinta Sai dengan menatap takut-takut cewek jutek itu.
"Gak."
Sai mengerecutkan bibirnya mendengar penolakan itu. "Pulsa gue tinggal dikit, Shiel,"
Sai tahu cewek judes itu masih marah padanya. Wajar sih, kalo Shielda marah. Karena cewek itu paling tidak suka privasinya diganggu. Apalagi Shielda sedang mengirim pesan pada Tarung, yang notabene-nya adalah kakak sepupu cewek itu sendiri. Sai tidak terlalu tahu dengan tepat, ia hanya mengetahui hubungan keluarga Shielda agak rumit, dan itu juga berkaitan dengan Tarung. Makanya, Shielda selalu segan dengan Tarung dan membuatnya harus terus bersikap formal pada cowok itu, yang sama sekali tidak Sai pahami.
Tanpa ia duga sebelumnya, sebuah handphone dilempar ke meja dengan indah tepat di depannya. Sai terkejut sebentar, sebelum menyadari pelaku pelempar itu adalah Shielda sendiri.
Sambil mengambil benda itu Sai mencibir. "Hape dilempar-lempar. Anak sultan emang,"
Shielda tidak mempedulikannya.
DrrrrrtttttDrrrrttttt.
Boboiboy baru akan menaiki motornya saat ia merasakan getaran panjang di saku celana. Tangannya merogoh handphone-nya yang berada di sana, mendapati sebuah nomor tidak dikenal tertera di layarnya.
"Siapa?" tanya Yaya saat matanya tak sengaja melihat layar. Sedetik kemudian, ia membatin. Kok aku kepo?
Boboiboy memberi isyarat pada cewek itu agar menunggu sebentar, kemudian dirinya kembali mendekati beton pembatas jembatan bersamaan dengan jempolnya mengusap tombol hijau.
"Halo?"
"Halo? Boboiboy! Lodimanaege?!"
Boboiboy mengernyit. Menatap layar hapenya sekali lagi untuk memastikan itu adalah nomor Shielda. Walau ia tidak menyimpannya, Boboiboy tahu ini nomor cewek itu. Tapi kenapa yang menjawab suara cowok?
"Eum... ini nomor Shielda, 'kan?" tanyanya ragu. Takut kalau cewek itu ternyata diculik dan orang yang mengangkat telepon ini akan menjebaknya.
"Iya, inigue Sai woi. Lo lupa suarague?"
Mendengarnya, Boboiboy tertawa pelan. Merutuki praduga konyolnya barusan. Yaya yang di belakangnya menatap penasaran. "Suara lo beda, sih, jadi gue nggak ngeh,"
"Anjir." umpat Sai di seberang sana membuat Boboiboy lagi-lagi terkekeh.
"Kenapa nelpon?"
"Kaizosuruh kita ngumpul. Emanglonggakdapet sms dia?"
Boboiboy langsung menepuk dahinya pelan, baru mengingat pesan dari Kaizo yang ia dapat saat di kantin tadi. Boboiboy benar-benar lupa akan hal itu.
"Dapet, tapi gue lupa,"
"Yaudahcepetankesini. Tarung sama Koko Cilagi otw, tinggallo sama Gopaldoang yang kagakjelas."
Boboiboy menggigit bawah bibirnya. Menimang sebentar sebelum akhirnya menjawab. "Gue nggak bisa, Sai." katanya sambil melirik Yaya yang tengah menatapnya penuh tanya. Tentu Boboiboy tidak bisa meninggalkan Yaya begitu saja.
"Kenapa?"
"Gue mau nganterin temen balik. Jadi kayanya gue gabisa,"
"Ah lomah. Bentardoangelah. Ajak aja temenlokesini,"
Boboiboy diam merenung. Ditatapnya Yaya sekali lagi yang makin penasaran dengan isi pembicaraan mereka. "Tapi Sai–"
"Udahgausahbanyakbacot. Cepetanlokesini, guetunggu."
Dan panggilan diputus sepihak oleh Sai.
Boboiboy mendengus kasar, mematikan hapenya dan memasukkannya kembali ke dalam saku celana. Ia menghampiri Yaya yang sudah menunggunya.
"Tadi kenapa temen kamu?" tanya Yaya langsung pada intinya. Gadis itu tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi karena selama menelepon, Boboiboy terus meliriknya dengan gelisah.
"Nggak papa. Gue disuruh nemuin dia. Tapi kan gue lagi sama lo, jadi gabisa," balas Boboiboy sambil mengambil helm yang digantung di kaca spion motor dan memakainya.
Yaya mengernyit heran. "Yaudah, kamu ke temen kamu aja." katanya seolah tanpa beban. Karena Yaya merasa telah menghambat Boboiboy sampai cowok itu membatalkan pertemuannya dengan temannya.
"Terus lo?" Boboiboy balik bertanya, dan cewek di depannya itu diam. "Nggak mungkin gue tinggalin lo gitu aja. Gue yang ngajak lo pergi, jadi gue juga yang harus nganter lo pulang," tutur Boboiboy.
Yaya tertegun hanya untuk merasakan detak jantungnya yang berpacu tidak normal. "Aku bisa kok pulang sendiri," kata Yaya menahan kegugupannya.
Boboiboy menggeleng tegas. "Gak. Lo harus pulang sama gue,"
Yaya merasa jantungnya semakin berdebar. Dilihatnya Boboiboy yang mulai menaiki motornya dan menaikkan standar. "Terus temen kamu gimana?"
"Dia nggak penting," balas Boboiboy.
Yaya semakin tak enak dengannya. Yaya jelas mengetahui telepon barusan adalah suatu hal yang penting, karena ia juga mendengar suara serius dari sana walau hanya samar-samar. Namun Boboiboy seperti tidak mempedulikannya, dan Yaya takut ia telah menghambat Boboiboy untuk menemui temannya.
"Yaya? Lo ngapain? Ayo naik," ujar Boboiboy karena Yaya tak kunjung bergerak dari tempatnya berdiri. Gadis itu menoleh, menatap dirinya dengan tatapan bersalah. Boboiboy menghela napasnya. "Lo nggak perlu ngerasa bersalah, Yaya. 'Kan ini kemauan gue,"
Yaya menggeleng pelan. "Bukan gitu, aku takutnya temen kamu itu ada urusan penting sama kamu. Kamu ke temen kamu aja, ya?"
Boboiboy menghadapkan tubuhnya pada Yaya. "Kalo gue ke sana, terus lo gima–"
"Aku bisa pulang sendiri," tegas Yaya sekali lagi. Boboiboy menatapnya ragu. "Serius!" ucap Yaya penuh keyakinan.
Boboiboy kembali menstandar motornya dan melepas helm agar bisa leluasa menatap Yaya. "Nggak. Gini aja. Lo ikut gue ke temen gue, abis itu gue anter lo pulang. Gue janji nggak akan lama,"
Yaya ingin membuka suaranya saat Boboiboy dengan cepat bersuara lagi.
"Lo nggak bakal ganggu. Lo jangan ngerasa nggak enak. Itu 'kan yang pengen lo ucapin?" ujar Boboiboy membuat Yaya merengutkan wajahnya karena cowok itu benar tentang apa yang ingin ia katakan.
Yaya menghela napas. Ia menyerah. "Yaudah. Tapi aku tunggu di luar," ucapnya tak terbantahkan.
Boboiboy mengangguk mengiyakan.
Setelah perdebatan itu, Yaya akhirnya menaiki jok belakang motor Boboiboy sementara cowok itu memakai helmnya lagi. Boboiboy menstarter motornya sebentar sebelum melajukan motornya ke markas teman-temannya yang hanya memakan waktu lima menit dari sini.
Boboiboy membawa motornya agak kencang karena hari sudah semakin sore. Ia terpaksa memutuskan untuk membatalkan melihat sunset bersama Yaya karena waktunya tidak memungkinkan. Sesudah dirinya bertemu dengan teman-temannya, Boboiboy akan langsung mengantar cewek ini pulang ke rumahnya.
Laju motor Boboiboy melambat di ujung jalan dan akhirnya berhenti di depan sebuah gedung bertingkat tiga yang sudah tidak terpakai. Boboiboy menstandar motornya, turun dan melepas helm. Yaya mengikutinya turun dan menatap gedung tua tak terurus yang terlihat seram di depannya.
"Ini tempatnya?" tanya Yaya ragu.
Boboiboy mengangguk kecil dan membiarkan Yaya memperhatikan baik-baik gedung yang menjadi markas teman-temannya tersebut.
"Lo tunggu di sini. Kalo ada apa-apa, masuk aja terus cari gue, oke?" ucap Boboiboy dan langsung diiyakan oleh Yaya.
Setelah itu Boboiboy berbalik melangkah masuk ke dalam. Yaya terus menatap punggung tegap cowok itu sampai tak terlihat lagi di pandangannya. Ia berharap Boboiboy cepat kembali karena hawa gedung ini sangat tidak mengenakkan.
Yaya berjalan dua langkah, hanya untuk memperjelas penglihatannya pada apa yang ada di gedung ini. Dimulai dari halamannya yang dikotori dengan dedaunan kering dari pohon besar samping gedung. Halaman gedung itu juga terdapat tiga motor ninja berbeda warna menghadap teras yang sepertinya milik teman Boboiboy. Cat dinding bangunan berwarna putih itu beberapa ada yang terkelupas, malah ada yang sudah kusam karena dimakan waktu. Pintunya tidak terlalu lebar, cukup dimuat tiga orang dengan dua daun pintu seperti pintu toko kebanyakan. Ada dua jendela panjang di sisi kanan kiri pintu, yang kacanya sudah pecah dan menyisakan bingkai saja.
Suasananya bisa Yaya rasakan suram dan menyeramkan. Gelap juga karena faktor langit yang sudah mulai menenggelamkan matahari. Yaya sampai lupa rencana dia dan Boboiboy yang ingin melihat sunset, tapi ia memilih untuk tidak mempermasalahkannya karena waktunya yang tidak memungkinkan. Lagipula, sunset terjadi setiap hari, jadi bisa dilihat lain waktu.
Yaya mengusap lengan kirinya saat angin kencang menusuk kulitnya. Ia hanya memakai seragam tipis sekolahnya dan sedikit menyesal karena tidak membawa jaket. Hari sudah mulai menggelap, dan udara jadi semakin dingin. Yaya menatap langit yang terbentang luas di atas sana, tepatnya pada semburat jingga senja yang terlihat semakin indah.
Saat semilir angin sore menyapa wajahnya, Yaya memejamkan matanya. Membukanya lagi setelah lima detik terlewati. Namun kedua mata bulatnya melebar seketika saat ditemukannya sosok cowok gemuk yang entah darimana tiba-tiba muncul.
"ASTAGA!" pekik Yaya terkejut, mengusap dadanya pelan saat meyakinkan dirinya bahwa sosok itu bukan makhluk halus.
"Lo... ngapain di sini?" Suaranya yang berat bertanya, menatap heran cewek di depannya yang masih sibuk menenangkan diri. Selama ini, ia tidak pernah bertemu dengan perempuan di tempat ini selain Shielda, jadi cewek ini siapa?
Yaya menggigit bibir bawahnya, menatap wajah cowok gemuk itu yang sebenarnya tidak menakutkan. Tadi Yaya hanya kaget karena kemunculannya yang seperti setan.
"Lho? Boboiboy udah dateng?" Cowok itu berbicara entah kepada siapa, saat iris cokelatnya mendapati motor merah di dekat Yaya. Kemudian, tatapannya kembali pada Yaya membuat Yaya bingung harus berkata apa. "Lo... jangan-jangan temennya Boboiboy?" tanyanya dengan telunjuk mengarah pada Yaya.
Yaya awalnya diam, sampai kepalanya mengangguk pelan, mulai memberanikan dirinya untuk menanggapi cowok itu. "I-iya.."
Cowok berkulit sawo matang itu memicingkan mata, membuat Yaya was-was karena tatapannya yang sangat intens. Mau ngapain nih cowok?
"Lo anak TAPOPS, ya?"
Pertanyaan yang membuat Yaya bingung bercampur lega. Bingung kenapa dia bisa tahu dirinya anak TAPOPS, lega karena cowok itu tidak melakukan hal negatif yang sempat yang ia takutkan barusan.
Mengerti tatapan Yaya yang seolah mengatakan 'dari mana dia tau' membuat senyum tipisnya terlihat. "Badge seragam lo. Itu 'kan lambang TAPOPS. Lagian gue juga alumni sana kok,"
Yaya terkejut mendengarnya. Sama sekali tidak menyangka cowok tak dikenal ini adalah mantan kakak kelasnya.
"Kenalin," Cowok itu menjulurkan tangannya. "Gue Gopal. Baru lulus dari TAPOPS dua tahun yang lalu," Berarti tiga tahun lebih tua darinya?
Yaya dengan canggung menyambut uluran tangan itu. "Ehm... Yaya,"
Cowok itu, Gopal, mengangguk mengerti dan memasukkan kedua tangannya ke saku jaketnya. Dia menatap wajah polos Yaya yang terlihat lugu. "Lo kenapa berdiri di sini?" tanyanya kembali pada pertanyaan awal.
"Aku nunggu... Boboiboy,"
Gopal sedikit tersenyum geli saat menyadari gaya bicara cewek ini menggunakan 'aku-kamu'.
"Kenal Boboiboy dari mana?"
"Dia... anak baru di TAPOPS," kata Yaya jujur. Tentu saja ia tak akan mengatakan awal pertemuannya yang sebenarnya dengan Boboiboy.
Pada saat itu, mata Gopal membulat kaget. "HAH?! DIA PINDAH KE TAPOPS?!"
Yaya terkesiap mendengar suara menggelegar itu. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, menatap heran Gopal yang seperti mendapat kabar tak terduga. Atau memang seperti itu kenyataannya?
"Dia dari kapan pindah ke sana?" tanya Gopal masih dalam keterkejutannya.
"B-baru hari ini," jawab Yaya gugup.
"Wah, parah. Dia nggak bilang-bilang," Gopal bermonolog kesal dengan menatap tajam ke depan. Yaya meneguk ludah tanpa sadar. Ia bingung harus bersikap seperti apa di depan teman Boboiboy ini.
"Yaudah, masuk yok. Ngapain berdiri di sini? Banyak nyamuk tau," kata Gopal, kembali dengan sikap ramahnya.
Untuk sesaat Yaya kagum dengan perubahan ekspresi Gopal dari menakutkan menjadi ramah yang hanya terhitung beberapa detik.
"Eh? Aku disini aja, kamu masuk aja gapapa,"
Suaranyalembutbanget. Kayak lagi solawatan tau gak? Batin Gopal ketika beberapa kata itu keluar dari mulut Yaya.
"Pamali lho cewek berdiri di luar pas mau maghrib," ujar Gopal yang dibenarkan Yaya dalam hati. "Masuk aja, gaada yang gigit kok,"
"Tapi–"
"Ayo udah masuk,"
Yaya terkejut saat Gopal menarik tangannya paksa, tapi tidak terlalu keras. Ia ingin memberontak namun tak enak hati karena ia tahu maksud Gopal adalah baik. Dengan pasrah, ia mengikuti langkah cowok gemuk itu memasuki gedung. Gopal yang sadar tak ada penolakan dari Yaya, mulai melepaskan tarikan tangannya. Ia tersenyum tipis karena cewek itu tidak banyak bertanya ketika kaki mereka sudah memasuki gedung. Gopal berjalan memimpin di depan dengan Yaya di belakangnya.
Sembari berjalan, Yaya menatap keseluruhan lantai dasar gedung ini yang bisa dibilang tidak terlalu buruk. Berbeda dengan luarnya yang sangat tak terurus, ruangan ini bersih walau temboknya ada yang hancur dan catnya yang mulai pudar. Alasnya hanya berupa semen, namun tidak ada lubang atau retakan di sana. Di sini sangat kosong, tidak ada apapun yang dapat disebut dengan benda dan hanya ada tangga di pojokkan.
Gopal melangkah ke tangga itu, dan Yaya mengikutinya dalam diam. Setelah sekitar sepuluh anak tangga yang Yaya langkahi, akhirnya Yaya menemukan ruangan baru, lantai dua gedung ini. Yaya mengira ruangannya akan kosong sama seperti tadi, namun ternyata dugaannya salah.
Ada enam orang berkumpul di sana, dengan posisi membelakangi dirinya dan Gopal. Yaya sedikit bersyukur karena posisi mereka tidak menghadap ke arahnya, membuat kehadirannya tidak diketahui oleh orang-orang itu. Sampai suara Gopal terdengar seantero ruangan dan Yaya rasanya ingin hilang saja dari bumi.
"Samlekom!" seru Gopal, dan seketika semua pasang mata menatap ke arah mereka. Tatapannya sama, bingung dan terkejut ketika mendapati sosok asing berdiri di samping Gopal.
Yaya menggigit bibirnya, tidak tahu harus melakukan apa. Ditatapnya satu per satu wajah-wajah itu takut-takut, sampai dirinya menemukan Boboiboy yang melebarkan matanya terkejut. Yaya rasanya ingin menangis.
Salah satu dari mereka melangkah mendekat, menatap Yaya dari atas sampai bawah seperti sedang menilai. "Siapa nih?" katanya dengan suara rendah. Auranya sangat menyeramkan dan tatapannya tajam mengintimidasi. Yaya sampai menahan napas saat berhadapan dengan wajah dingin itu.
"Yaya. Temennya Boboiboy," Gopal yang menjawab. Sontak, seluruh pandangan berganti menatap Boboiboy dengan raut penasaran.
"Your friend? Seriously?" tanya Sai tidak percaya. Awalnya Sai mengira teman yang Boboiboy bilang saat di telepon tadi adalah laki-laki, namun ternyata perempuan. Sangat tidak terduga.
Boboiboy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia rasanya sangat ingin memaki Gopal karena sudah membawa Yaya masuk ke dalam.
"Baru kali ini lo bawa temen ke markas. Cewek lagi," komentar Shielda, menatap Boboiboy dengan tatapan datar.
Boboiboy tidak membalasnya, seluruh atensinya jatuh pada Yaya yang terlihat tidak nyaman dengan tatapan teman-temannya.
"Hmm, cantik. Manis juga. Tapi kayaknya dia anak baik-baik?" Tarung yang duduk di sofa bersama Sai, berpendapat dari apa yang ia lihat. Gadis asing itu tampak polos dan lugu sekali. Sangat tidak cocok untuk berada di sini, di tengah-tengah mereka.
Yaya lagi-lagi diam. Bergerak sedikit saja rasanya ia tidak mampu. Pikirannya sudah mulai dipenuhi dugaan-dugaan tak terhitung jumlahnya.
"Ya, 'kan? Gimana kalo Yaya gabung sama kita? Biar Shielda gak sendiri lagi?" usul Gopal, ia memikirkan itu sedari tadi. Shielda yang disebut namanya memutar bola matanya malas, tidak terlalu peduli dengan usulan itu.
Gabung? Gabung apa? tanya Yaya dalam hati.
Kaizo menggeleng tidak setuju. Ditatapnya Boboiboy yang saat ini masih memandang Yaya tanpa berkedip. "Boboiboy. Lo tau 'kan kita nggak boleh ngajak orang luar masuk ke sini?"
Tidak ada jawaban. Suara rendah Kaizo seperti mengundang hening agar menyelimuti mereka. Semuanya diam, menunggu satu-satunya orang yang diajak Kaizo bicara mengeluarkan suaranya. Karena status cowok itu lebih tinggi dari mereka, maka tidak ada yang berani menginterupsi apapun yang Kaizo lakukan.
Yaya meneguk ludahnya dengan susah payah. Itu berarti... tempat ini terlarang baginya? Lalu sekarang bagaimanaM Dia tidak bisa melakukan apa-apa, tidak tahu tepatnya. Yang ia lakukan sejak menginjakkan kaki di ruangan ini adalah menatap Boboiboy, memberi isyarat mata agar cowok itu cepat-cepat membawanya pergi dari sini karena hanya Boboiboy harapannya.
Sementara Gopal, menggigit bibirnya saat menyadari ini semua adalah kesalahannya yang telah mengajak Yaya untuk masuk.
"Kai, udahlah. Lagian Boboiboy–"
"Gue nggak ngomong sama lo,"
Koko Ci langsung menutup mulutnya kala suara dingin itu menyentaknya. Padahal ia mengatakan bahwa masalah ini tidak perlu dibesarkan, karena cewek yang dibawa Gopal itu sepertinya tidak akan macam-macam terhadap mereka semua.
Beberapa menit terlewati, dan tidak ada yang berbicara satu pun. Sampai terdengar helaan napas dari Boboiboy, dan tatapan matanya langsung mengunci Kaizo.
"Sorry," kata Boboiboy langsung mengalihkan pandangannya. Tidak mempedulikan reaksi yang lain, Boboiboy melangkahkan kakinya menuju Yaya yang masih mematung di tempat.
Kaizo yang dilewati Boboiboy begitu saja mengangkat alis, bertanya-tanya apa yang akan dilakukan cowok itu. Ia sudah mengepalkan tangannya dengan rahangnya dikatup rapat-rapat.
Ketika Boboiboy sampai di depannya, Yaya membuka mulutnya. Ingin mengatakan sesuatu namun terbatalkan karena cowok itu meraih tangannya cepat dan menariknya agar ikut bersamanya. Yaya terkesiap. Tidak bisa memberontak karena genggaman Boboiboy yang sangat kuat.
"Boboiboy! Lo mau ke mana?" Sai berdiri, menyentak Boboiboy dengan ucapannya barusan. Tapi seakan angin lalu, Boboiboy mengabaikannya dan terus menarik Yaya menjauh dari mereka.
Sementara Yaya menundukkan kepalanya, pasrah dibawa Boboiboy entah kemana. Ia menatap kedua tangan mereka yang saling tertaut, membuat Yaya melipat bibirnya ke dalam karena lagi-lagi perasaannya aneh. Jantungnya berdebar tidak keruan tanpa alasan dengan sendirinya. Membuat Yaya bertanya-tanya. Kenapa ia seringkali seperti ini jika di dekat Boboiboy?
Yaya sadar dirinya sedang menaiki anak tangga, itu artinya Boboiboy membawanya ke atas. Tak lama, mereka sampai di ruangan yang diterangi lampu remang-remang. Yaya mendongak, mengernyit heran ketika matanya menemukan ruangan ini berbeda dari ruangan sebelumnya.
Boboiboy melepaskan genggamannya, menyuruhnya untuk menunggu sebentar. Cowok itu menghampiri kulkas kecil di samping televisi yang terletak di tengah ruangan, dimana di belakang tv itu langsung mentok pada tembok. Depan tv, ada meja dan sofa layaknya ruang tamu di rumah. Terdapat beberapa bungkus makanan di atas meja, dengan minuman soft drink dan juga kotak rokok beserta pemantiknya.
"Ini... tempat tinggal?" tanya Yaya, memperhatikan Boboiboy yang mengambil dua cola dari dalam kulkas kecil tersebut.
"Hm. Bisa dibilang begitu," kata Boboiboy sambil membawa beberapa cemilan dan minuman di tangannya. "Ikut gue," Boboiboy menggerakkan kepalanya sebagai isyarat, lalu berjalan mendahului Yaya ke sebuah pintu kecil setinggi dada Boboiboy. Mereka harus menundukkan kepala dulu agar bisa melewatinya, dan selanjutnya Yaya mendapati tangga selebar dua langkah kaki yang sepertinya jalan untuk menuju ke atap.
Dan benar saja, ketika Yaya menaiki semua undakan tangga tersebut, rooftop terlihat jelas di matanya.
Boboiboy membalikkan badannya sebentar untuk memastikan Yaya benar-benar di belakangnya. Setelah itu, ia kembali memimpin jalan dan duduk di dekat tepi atap dan berjarak satu meter dari tempatnya duduk. Yaya mengikutinya. Menatap pada langit sore sementara cowok di sampingnya menaruh makanan.
Boboiboy kemudian memberikan sekaleng cola pada Yaya, yang diterima cewek itu dengan kikuk dan senyum tipis.
"Maaf buat yang tadi,"
Yaya mengangkat alisnya tidak mengerti. Dipandanginya wajah cowok itu yang tidak menunjukkan ekspresi apapun. Seperti datar atau Yaya yang memang tidak bisa menebaknya?
"Temen-temen gue. Bikin lo nggak nyaman." jelas Boboiboy. Kali ini kedua netranya menatap Yaya dalam.
Yaya awalnya terkejut, namun kemudian mengangguk mengerti apa maksud Boboiboy. "Nggak papa. Temen-temen kamu baik, kok." balas Yaya tersenyum simpul. Ia tidak berbohong. Teman-teman Boboiboy memang baik, hanya saja Yaya bingung bagaimana menanggapinya dan dirinya berakhir tidak nyaman.
"Tetep aja. Mereka buat lo risih," kata Boboiboy yang membuat Yaya diam. Namun tak lama, Yaya menggeleng tanpa keberatan.
"Aku nggak papa," ujar Yaya sekali lagi.
Melihat itu, Boboiboy bisa bernapas lega. Ia sempat merasa tidak enak dengan Yaya karena komentar teman-temannya yang sangat frontal dan lugas. Boboiboy tadinya ingin memarahi mereka, namun ada Yaya di sana. Makanya ia langsung membawa cewek itu ke atas agar terhindar dari komentar teman-temannya yang memiliki pergaulan bebas.
"Hm, Boboiboy," panggil Yaya setelah beberapa saat mereka terdiam. Awalnya Yaya sempat ragu untuk menanyakan ini, namun saat kedua mata Boboiboy membalas tatapan matanya, Yaya tidak bisa mengelak lagi. "Mereka tadi... siapa?"
Boboiboy paham maksud pertanyaan itu. Yaya bukan sekedar memastikan Kaizo dan yang lain adalah temannya, melainkan 'siapa' mereka sebenarnya. "Yah... gue juga nggak tau nyebut mereka apa." ujar Boboiboy tak yakin. "Tapi yang gue tahu betul, mereka nggak jahat. Dan mereka nggak seburuk keliatannya,"
Yaya mencerna kalimat itu baik-baik. Mulanya, Yaya mencap mereka dengan hal yang negatif karena dilihat dari segi penampilan, image mereka seperti preman. Namun, Yaya tahu apa yang terlihat tidak selalu tepat dengan yang sebenarnya. Oleh karenanya, ucapan Boboiboy tadi seperti menyentilnya agar jangan langsung mencap jelek seseorang hanya dengan penampilan.
Lagian, jika pikirannya yang buruk tadi sesuai kenyataan, Gopal tidak mungkin memperlakukannya dengan ramah. Ya, 'kan?
"Gue nggak maksa lo buat percaya sama omongan gue. Terserah lo mau nyebut mereka preman apa nggak, gue nggak ngelarang," kata Boboiboy terdengar lembut, ia menselonjorkan kakinya sementara kedua tangannya menopang tubuh. Berbeda dengan Yaya yang masih dalam posisi bersilanya.
Yaya mengangguk mengerti. Ia menenggak colanya sekali sebelum kembali mengeluarkan suara. "Kamu kenal mereka dari mana?"
Sambil menatap matahari yang mulai tenggelam, Boboiboy menjawab. "Sekitar... dua tahun yang lalu?" Mereka berdua sama-sama menatap langit, membiarkan percakapan mengalir bersama detik-detik terbenamnya sang raja langit. "Waktu itu, gue masih kelas tiga SMP. Nggak sengaja liat mereka lagi berantem sama geng Adu Du di deket sekolah,"
"Adu Du?"
"Iya, preman yang jadi musuh abadi temen-temen gue." jelas Boboiboy. "Pas itu, gue nggak sengaja liat Adu Du pengen nusuk Kaizo. Gue langsung refleks lempar skateboard gue ke mukanya Adu Du. Semenjak itu, gue diakuin sebagai bagian dari mereka dan Adu Du jadi nganggep gue musuh dia juga,"
Mendengarnya, Yaya tanpa sadar tersenyum kecil. Senang karena Boboiboy akhirnya ingin berbagi cerita dengannya.
"Kamu berarti tinggal sama mereka?" tanya Yaya lagi, mengingat lantai tiga gedung ini diisi dengan perabotan ruang tamu layaknya rumah.
"Bisa dibilang gitu. Tapi kadang gue cuma sebentar nginep di sini sebelum pulang ke rumah," jawab Boboiboy. Yaya mengernyitkan dahi kala nada suara cowok itu terdengar sendu di akhir kalimatnya. Namun Yaya memutuskan untuk tidak menanyakannya.
"Emangnya kenapa kalian tinggal disinu?"
Boboiboy menggeleng kecil mendengar Yaya yang terus bertanya. Gadis itu sangat penasaran sepertinya. Dan Boboiboy tidak menjawabnya karena ia sadar ini sudah telalu jauh.
Mengerti Boboiboy tidak mau menjawabnya, Yaya meringis pelan. "Aku terlalu kepo ya?"
Boboiboy tersenyum tipis. "Iya," katanya tanpa ada nada marah di sana. Ekspresi wajah Yaya selanjutnya merasa bersalah, kepala cewek itu ditundukkan membuat Boboiboy tertawa kecil.
"Santai aja, manusia 'kan emang kepo. Tapi buat pertanyaan itu, gue masih belum bisa jawab. Gapapa, 'kan?"
Yaya mengangguk pelan, sangat pelan. Ia mencoba mengerti keputusan Boboiboy. Tapi kenapa hatinya sedikit kecewa?
"Oh ya. Tadi lo dipaksa masuk sama Gopal, ya?" Boboiboy mengalihkan topik. Ia sudah menduganya saat Gopal datang dengan membawa Yaya. Mustahil jika cewek itu masuk dengan keinginannya sendiri.
Yaya menegakkan kepalanya dan mengangguk. "Iya. Kamu kenal dia?"
"Udah dari lama. Malah gue udah nganggep dia kakak gue," aku Boboiboy, menggali ingatannya lagi saat dirinya bertemu dengan Gopal 12 tahun yang lalu. Saat itu mereka berteman karena rumah mereka bersebelahan. Jarak usia mereka yang tiga tahun membuat Boboiboy menganggap Gopal sebagai kakak. "Kalo lo ngerasa nggak nyaman sama sikap dia yang maksa lo tadi, gue minta maaf. Gopal sebenernya baik kok, cuma ya... annoying aja anaknya,"
Yaya terkekeh. "Nggak kok. Dia baik banget. Aku aja masih nggak nyangka kalo dia anak TAPOPS juga,"
Boboiboy mengangguk menyetujui. Ia mengambil sebatang nabati dan memakannya. Untuk sesaat, ia baru ingat belum memberitahu Gopal perihal sekolahnya yang kini di TAPOPS. Akan sengamuk apa Gopal nanti, Boboiboy membayangkannya dan terkekeh. Sebab amarah cowok gemuk itu sama sekali tidak menakutkan untuknya.
Menit ke depannya hanya diisi dengan keheningan dan mereka sama-sama memandang langit yang perlahan mulai menggelap. Angin semakin dingin dan kencang menusuk kulit. Boboiboy meneguk colanya, sedikit melirik Yaya yang kebetulan tengah mengusap lengan kiri kecilnya itu yang hanya terbalut seragam tipis.
Disitulah Boboiboy tidak mengerti dengan dirinya yang melepaskan jaket hitamnya untuk disampirkan ke bahu kecil Yaya. Dan tepat saat itu, Yaya tertegun dengan menatap dirinya bingung.
"Pake aja. Biar gak kedinginan," ucapnya sebelum Yaya mengeluarkan suara.
Yaya mengangguk kaku setelah itu, kebingungan masih menyelimuti dirinya sejak jaket hangat Boboiboy membungkus tubuhnya. Ia menatap ke depan, membiarkan degupan jantungnya kembali berdetak tidak normal.
Tanpa Yaya pernah sadari, cowok di sampingnya juga merasakan hal yang sama, sejak kejadian menyampirkan jaketnya pada tubuh kecil itu.
Pertanyaan mereka sama di dalam hati.
Kok jadi gini?
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Iya ya, ngapa jadi gini?
Ehehe, akhirnya gua bisa apdet juga. Lagi bahagia nih, soalnya wkwkkw
Masih ada romance-nya ya, misterinya nyempil nyempil dikit. Udah ada yang ngerasa? Tos dulu dong
Welcome to para teman Boboiboy, Kaizo dkk. Gua buat Gopal disini sebagai orang yang paling deket sama Boboiboy. Kedepannya, gua bakal jelasin ini siapa, itu siapa, apa hubungannya dengan cerita ini. Konflik juga udah mulai kecium, walaupun cuma dikit banget.
Fang Ying nya di pause dlu di chap ini. Chap depan mungkin ada lagi, ditunggu aja ya
Ayo dong, ceritain lagi bagian mana yang paling favorit menurut kalian. Karena gua seneng banget baca-baca review kalean semua! Itu bikin gua semangat gaes, serius.
Mungkin itu aja.
Bye
