Setelah insiden jaket, mereka berdua seakan lupa bagaimana berbicara. Suara angin yang menderu kencang menjadi satu-satunya pengisi keheningan. Sesekali mereka berdua terlihat mencari pengalihan agar tidak gugup. Entah meminum cola tiga tenggak berturut-turut, atau merubah posisi duduk berulang kali.

Karena saking sepinya tidak ada yang bersuara, suara denting hape bervolume kecil bisa mampu membuat Boboiboy maupun Yaya tersentak kaget. Sadar kalau hapenya yang berbunyi, Boboiboy mengambil benda itu di samping kakinya sementara Yaya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.

Sebuah pesan.

Dari Gopal.

Heh bujang. Sini turun, berduaan mulu di atas. Nanti khilaf tau rasa lo. Buru, gue mau ngomong something sama lo. Termasuk siapa cewek itu

Boboiboy hampir tersedak oleh ludahnya sendiri. Sialan. Ia berdeham, melirik-lirik Yaya dengan ujung matanya dan mendapati cewek itu tengah menggelindingi kaleng colanya yang sudah habis ke kanan dan ke kiri dengan tangan kanannya. Sementara tangannya yang lain dijadikan penopang pipinya, dengan sikunya bertumpu pada paha yang kakinya ia silangkan.

Lucu banget. Pikir Boboiboy tanpa sadar.

"Wei," panggil Boboiboy pelan. Ia sempat merutuki dirinya yang memilih kata itu untuk memanggil Yaya. Gak bagus banget, tau gak?

Boboiboy kira Yaya akan mengomentari panggilan anehnya barusan. Namun gadis itu hanya menoleh, menatap Boboiboy dengan ekspresi tanya.

"Pulang... yuk?" Entah itu ajakan atau pertanyaan, Boboiboy tidak tahu. Ia melihat Yaya mengerutkan dahi, seperti bingung dengan apa yang ia ucapkan. Boboiboy buru-buru membetulkan sebelum Yaya berpikiran macam-macam. "Maksudnya, lo mau pulang nggak? Biar gue anter,"

Yaya baru tersadar kini sudah jam 6 lewat, dimana waktu lesnya juga berakhir. Pasti ibunya sudah mencarinya, terbukti dengan rentetan pesan masuk ke handphone-nya yang berasal dari wanita itu.

"Udah dicariin, 'kan?" tanya Boboiboy, saat matanya mencuri-curi pandang layar handphone gadis itu.

Bibir Yaya mengeluarkan napas pasrah, menandakan bahwa ia tidak punya pilihan lain. Jika boleh jujur, Yaya sebenarnya ingin masih di sini. Memandang langit malam bersama cowok misterius di sampingnya sekaligus membicarakan hal-hal yang penting sampai yang ke tidak paling penting. Selain itu, ia juga ingin mengenal Boboiboy lebih dekat.

"Iya nih... aku udah disuruh pulang," ucap Yaya akhirnya.

"Ayo. Gue anter pulang,"

Dan Yaya merasa kakinya sangat berat untuk melangkah.


"Cewek tadi siapa? Temen lo? Ah, nggak percaya gue. Lo 'kan nggak pernah punya temen, apalagi cewek,"

Dengan memutar bola matanya malas, Boboiboy duduk di sofa single saat dirinya sudah sampai dan langsung disambut pertanyaan beruntun dari Gopal. Ia baru saja mengantar Yaya pulang.

"Apa jangan-jangan... dia cewek lo?" Sai menambahkan pendapatnya. Cowok berwajah tengil itu mengusap dagunya pura-pura berpikir. Menatap Boboiboy di serong kirinya yang tengah meminum cola di meja.

"Eh, nggak sih. Dia cewek baek-baek keliatannya. Mana mungkin mau sama lo yang bobrok," ejek Sai, diiringi dengan tawa mereka semua kecuali Kaizo yang hanya mengangkat alis.

"Ngaca, plis," balas Boboiboy dengan wajah tertekuk. Merasa tak adil bila dirinya yang hanya ber-image buruk. Padahal kenyataannya, semua manusia disini sama-sama bejat.

Dari ketuanya saja -Kaizo, udah bisa disebut cowok brengsek. Meskipun jarang ngomong dan punya aura dingin yang derajatnya setara dengan kutub utara, image Kaizo di kalangan para pemuda-kurang-menikmati-hidup sangatlah bebal. Tiap malam ke kelab hanya untuk mabok-mabokkan dan rayu cewek sana-sini. Ikutan racing hanya untuk memuaskan diri. Bahkan taruhan dengan preman lain.

Sai, Tarung, Koko Ci pun tak jauh beda. Yang masih mampu tahu batasan hanyalah dirinya dan Gopal. Itu pun karena Gopal tidak pernah bisa minum alkohol, karena langsung mencret ketika mencobanya saat mereka hang out bareng saat tahun baru. Semenjak itu, Gopal tidak berani lagi meminum minuman aneh tersebut. Masih cinta perut katanya.

"Ya terus? Sejak kapan lo punya kenalan cewek? Cewek alim pula,"

Boboiboy melirik Shielda yang duduk di atas lengan sofa panjang tempat Sai dan Tarung duduk. "Dia yang nolongin gue kemarin,"

"Hah?"

Sesaat mereka semua kompak menunjukkan wajah terkejut. Bahkan Kaizo sampai membalikkan badannya yang semula menghadap jendela.

"Maksud lo... dia nolongin lo yang hampir tewas dikeroyok dua hari lalu?" tanya Tarung. Boboiboy mendengus saat kata 'hampir tewas' diucapkan cowok berambut abu itu. "Iya, dia,"

"Wah..." Gopal ikut menunjukkan reaksinya. "Gimana bisa? Dia bawa lo ke rumah sakit gitu?"

Tanpa diduga Boboiboy tertawa pelan. Merasa gel mendengarnya. Mereka saling berpandangan, kecuali Kaizo yang masih tetap dengan wajah datarnya.

"Bukan ke rumah sakit, tapi ke kamarnya," jawab Boboiboy sambil menaikkan sebelah sudut bibirnya.

"HAH?!"

Boboiboy menikmati setiap ekspresi terkejut dari teman-temannya. Ia kembali terkekeh kecil, lagi-lagi merasa lucu setiap mengingat pertemuan awalnya dengan Yaya.

"Lo diajakin ena-ena sama dia?" Koko Ci, dengan otak liarnya bertanya tanpa ada dosa sama sekali. Satu toyoran mendarat ke belakang kepalanya membuat ia memekik kaget.

"Anjing! Kok gue ditampol?!"

"Biar otak lo bener dikit," balas Tarung enteng, setelah puas menepak kepala cowok pendek itu. Memang terkadang, Koko Ci tidak bisa memfilter mulutnya. Apa yang ada di otaknya keluar begitu saja tanpa dipikir terlebih dulu. Mereka semua sudah hafal kebiasaannya itu.

"Ya, 'kan, siapa tau gitu. Jarang-jarang 'kan Boboiboy 'main' sama cewek," ujar Koko Ci, kali ini dihadiahi dengan tatapan datar oleh rekan-rekannya. Sama sekali tidak memikirkan Shielda yang satu-satunya cewek di sana. "Lo liat dulu kale ceweknya kek gimana. Dari mukanya aja udah polos, gampang banget diculik," celetuk Sai memutar bola matanya malas.

"Iya sih, bener." timpal Gopal mengangguk-anggukan kepala setuju. Kemudian matanya beralih menatap Boboiboy yang hanya diam di tempatnya. "Eh curut! Lo belom jelasin ngapa tiba-tiba pindah sekolah. Ke SMA lama gue lagi. Diem-diem aja lo,"

Boboiboy menoleh hanya untuk mendapati tatapan sinis Gopal. "Ya emang kenapa?"

"Pake nanya balik lagi nih anak." dengus Gopal. Boboiboy menghela napas. Ia menatap yang lainnya yang juga tengah memandangnya penuh penasaran. "Menurut lo aja gimana," jawabnya akhirnya.

Untuk beberapa detik keheningan tercipta. Boboiboy menunggu salah satu dari mereka menyahut, ia tahu teman-temannya pasti sudah bisa menebak. Sampai akhirnya, suara langkah kaki Kaizo yang mendekat memecah keheningan dan terdengar suara beratnya setelah itu.

"Your father?" Boboiboy hanya tersenyum pahit. "You right."

"Berarti dia masih nuntut lo?" tanya Shielda, menatap wajah Boboiboy yang mulai terlihat muram. Cowok itu tidak menjawab. Dan Sheilda sudah tahu jawabannya.

"Udahlah, nggak usah dipikirin," ujar Tarung menenangkan suasana. "Anyway, cuma lo doang yang belum tau. Soal Adu Du."

Boboiboy mengangkat alis. "Kenapa lagi dia?" ucapnya dengan nada tidak suka. Ia sangat benci bila mendengar preman sialan itu berulah lagi untuk keribuan kalinya. Padahal sudah kalah-kalah berkali-kali, namun dia tetap tak menyerah menyulut emosinya.

"Dia ngajak fight lagi." jawab Kaizo, tatapan tajamnya lurus ke depan tanpa memedulikan pandangan dari yang lainnya. Karena hanya Boboiboy yang tidak mengerti, ia mengerutkan dahi heran. "Yaudah, terima aja."

"Gue belum selesai ngomong," balas Kaizo dingin. "Dia ngajak fight, satu lawan satu. Dan targetnya lo." lanjutnya sambil menatap Boboiboy datar.

Suara decakan terdengar dari mulut Boboiboy. "Terus? Problem-nya apa? Lawan tinggal lawan,"

"Lo lupa Adu Du itu licik? Bilangnya satu lawan satu, tapi nanti dia bakal bawa pasukannya,"

"Lah, kita juga bisa woi. Lo semua bisa ikut, impas berarti,"

"Bego, lo gak tau aja," sahut Tarung. Boboiboy mengalihkan pandangannya pada cowok itu. "Anak buahnya tuh udah seabrek. Dan lo tau siapa yang mukulin lo waktu malem itu?"

"Bawahannya Adu Du."

Perlahan, suasana di ruangan itu menjadi tegang.

Boboiboy terdiam. Sama sekali tidak menduganya. Ia mengira lima orang yang memukulinya pada saat itu hanya preman jalanan, namun ternyata komplotannya Adu Du. Kekuatan mereka pun tidak tanggung-tanggung. Sanggup mengalahkan dirinya yang biasanya selalu menang melawan banyak preman.

"Dugaan gue lo lagi diincer," tambah Kaizo. "Lo tau, 'kan, sedendam apa Adu Du sama lo? Ditambah lo udah termasuk bagian kita, makin benci dia pasti.

Gopal mengangguk setuju. "Kayaknya masalah ini nggak akan ada ujungnya,"

"Bukannya kita juga sama kuatnya?"

Semuanya menoleh pada Boboiboy yang terlihat yakin akan ucapannya. "Kalo mereka kuat, kita bisa lebih kuat dari mereka," lanjutnya tanpa beban.

"Nggak segampang itu. Emang lo tau, mereka ngerencanain apa aja? Kalo rencananya ampe sebesar itu, gimana?" tanya Koko Ci.

Shielda menghela napas. "Mendingan daripada debat kayak gini, kita rencanain penyerangan aja. Ini gak akan kelar kalo kita cuma disini,"

Tarung menatap Shielda dalam. "Lo jangan ikut campur masalah ini," Shielda menatapnya bingung. "Lebih baik lo diem aja," katanya sambil berlalu ke lantai atas.

Shielda menatap kepergian sosok itu dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca. Otaknya masih mencerna perkataan Tarung tadi, namun ia sama sekali tidak mengerti. Shielda menghela napas, memilih diam saja tanpa protes.

"Yaudah... lo jangan ikutan Shiel, bener kata dia tadi," kata Gopal setelah menatap punggung Tarung yang menjauh. "Bahaya banget soalnya, lo 'kan cewek," Gopal berkata seperti semata-mata untuk menenangkan Shielda. Biar bagaimanapun, Shielda tampak tak suka Tarung mengaturnya seperti itu.

"Santai, sist," ujar Sai, menepuk lengan Shielda di sebelahnya. Namun tepukan itu segera ditepis kasar olehnya. "Anjir, galak amat," cibir Sai sambil melihat Shielda bangkit dari duduknya.

"Gue balik." pamitnya dan langsung melengos meninggalkan ruangan tanpa menunggu reaksi dari mereka.

"Gue juga nih. Mau jaga warnet," Koko Ci menyusul pergi.

"Yah, kok pada pergi, sih," sungut Sai menyenderkan punggungnya malas. Emang kampret sih, dia yang dateng pertama, dia yang bakal pulang terakhir. Tak lama kemudian, matanya berbinar ketika menemukan suatu ide. "Gimana kalo kita ke kelab? Yuk, biar gak stres otak,"

"Kelab mulu pikiran lo. Gih sono, kalo mau sendiri mah," balas Gopal ogah-ogahan. Kaizo dan Boboiboy sama-sama diam.

"Ah elah gak seru amat lo." cemoohnya yang langsung dipelototi Gopal. "Kai, ikut yuk?" ajaknya pada Kaizo. Tanpa disuruh pun, Kaizo mengangguk setuju.

"Yaelah, sama aja lo berdua," cibir Gopal disusul kekehan kecil dari Boboiboy.

"Sirik ae lo! Bay, kita duluan!"

Saat kedua manusia itu pergi, ruangan mendadak menjadi hening. Tarung pasti sudah tidur di lantai tiga, karena cowok itu hanya akan melakukan kegiatan tidur bila ke atas. Tak peduli pagi, siang, atau malam sekalipun.

Waktu menunjukkan pukul setengah 8 malam. Biasanya, Gopal akan berada di restoran ayam Ayahnya untuk membantu melayani pelanggan. Namun saat ini restoran sedang libur, dan Gopal menggunakan waktu tersebut untuk mengobrol dengan Boboiboy, yang sudah dua minggu belakangan ini tidak terlihat karena terus-terusan berada di Pulau Rintis.

"So? Lo disuruh pindah kesini sama bokap lo?" tanya Gopal memulai interogasinya, sebab ia belum cukup puas mendengar penjelasan Boboiboy tadi tentang hal ini.

Boboiboy menatapnya dengan ujung mata. "Gue nggak bisa nolak,"

Mengenai keluarga Boboiboy, Gopal sudah tahu serumit apa masalahnya. Tapi ia tetap tidak mengerti bila tidak dijelaskan secara detail. Apalagi kali ini masalahnya berbeda.

"Dia mulai ngancem gue,"

"Ngancem gimana?"

Boboiboy mengendikkan bahu. "Dia bakal ngirim nyokap ke luar negeri, kalau gue nggak nurutin dia buat masuk TAPOPS,"

Saat mendengar itu Gopal menegakkan tubuh langsung. "Hah? Maksudnya bokap lo gimana?"

"Gue tentu gak akan langsung nurutin, makanya gue buat kesepakatan sama dia buat Mama ikut gue ke sini, dan gue juga laksanain perintah dia," Boboiboy menghela napas pelan. "Makanya... gue masuk TAPOPS itu terpaksa. Bukan kemauan gue,"

Sekarang Gopal mengerti. Kenapa temannya bisa masuk ke SMA lamanya, kenapa Boboiboy ada di sini.

"Gue nggak tau tujuan dia apa. Tapi kalo itu menyangkut Mama gue..." Boboiboy menatap ke depan dengan tatapan tajamnya. "...gue nggak bakal diem aja,"

Untuk yang satu itu Gopal tahu. Boboiboy sangat menyayangi ibunya yang mengalami kelumpuhan kaki. Dia tidak akan pernah membuat ibunya menderita lebih dari itu, apalagi oleh Ayahnya sendiri.

"Rumit banget ya idup gue?" tanya Boboiboy entah kepada siapa, tersenyum pahit sambil mengetukkan kakinya pada lantai.

"Ya... kalo gak rumit bukan idup namanya," sela Gopal, entah untuk menenangkan kekacauan Boboiboy atau hanya mengutarakan opininya. "Terus? Lo sama nyokap lo tinggal dimana?"

"Di rumah lama Tok Aba. Untungnya ada pelayan yang disuruh Tok Aba buat jagain Mama, jadi gue nggak perlu khawatir banget,"

"Lho? Bokap lo nggak ngurus juga?"

Boboiboy tersenyum masam sambil menggelengkan kepalanya. "Gak. Dia cuma sibuk ngurusin perusahaan 'kan, mana punya waktu buat keluarganya?"

Gopal menghela napas. Lalu memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan agar temannya itu semangat dikit. "Ke Cafe Kokotiam yok? Sambil nyari angin,"

Boboiboy mengubah posisi duduknya agar lebih sedikit nyaman. "Tarung? Dia lagi tidur, 'kan? Emangnya gapapa ditinggal?"

Tangan Gopal dikibaskan santai. "Udah biarin aja. Palingan dia tidur ampe besok pagi," ujar Gopal ringan. "Yok. Ntar keburu macet,"

Melihat Gopal sudah berjalan menuju tangga, membuat Boboiboy mau tak mau mengikuti. Yah, hitung-hitung buat fresh-in kepalanya yang banyak pikiran. Segelas ice chocolate sepertinya sangat cocok untuk diteguk.


Yaya memandang jaket hitam berukuran besar di depannya, tepat di atas bantal tidurnya, sementara dirinya duduk bersila di atas kasur.

Jaket Boboiboy.

"Oh iya, nih jaket kamu. Makasih ya,"

Kaca helm cowok itu dinaikkan ke atas, sehingga terlihat wajahnya meski hanya setengah. "Simpen aja. Balikinnya bisa kapan-kapan, 'kan?"

Yaya mengernyit heran. "Lho? Terus kamu gimana? Anginnya kenceng lho, dingin lagi,"

Mendengarnya Boboiboy terkekeh. "Ya namanya juga malem. Mana ada malem panas udaranya?"

"Oh iya ya, hahaha," Yaya menyengir bodoh. Sadar ucapannya barusan sangat tidak berfaedah.

"Yaudah, sana gih masuk. Gue pergi ya,"

Ya emang gitu aja.

Tapi kok Yaya deg-degan ya?

Yaya menggigiti kuku jari telunjuknya. Seumur hidup, ia tidak pernah dipinjami jaket, apalagi jaket itu milik seorang cowok. Bahkan Iwan yang masih mengejarnya sampai saat ini saja tidak pernah. Eh, apa pernah ya, terus Yaya tolak saat itu? Entahlah, tapi untuk saat ini, Yaya tidak tahu harus diapakan jaket ini.

Apa dicuci saja? Sebagai rasa terima kasih karena sudah dipinjami? Atau dibiarkan saja?

Yaya menyilangkan tangannya di depan dada. Kemudian sebelah tangannya mengambil jaket itu, menghirup aroma yang menguar dari bahan kain tebal itu. Indera penciumannya langsung merasakan wangi mint segar yang amat jelas. Tanpa sadar Yaya jadi menikmati wangi itu serta terus menciumnya sebelum tersentak karena hapenya berbunyi tiba-tiba.

"Astaghfirullah!" kaget Yaya, menatap layar hapenya dan menemukan nama Ying di sana. Ia mengambilnya dan menerima panggilan itu. "Ha? Kenapa, Ying?"

"Yayaaaaaa! Huhuhuuuu, gue sedih bangettt. Yayaaaa hueeeeee!"

Karena cemprengnya suara Ying yang melebihi suara bocah lagi nangis, Yaya sampai menjauhkan hapenya dari telinga karena tidak mau gendang telinganya rusak dan dirinya harus periksa ke THT. "Ngapa sih? Fang lagi?" Yaya menebaknya karena Ying hanya akan meneleponnya dengan suara merengek seperti ini disebabkan oleh cowok jabrik itu.

"Iyaaaaa huwaaaaa. Kok lo tau sih, huhuhu,"

Bener kan.

"Kenapa lagi si jabrik?"

"Iiiihhh jangan manggil dia jabriiikkk. Dia cool tauu rambutnya kayak gituuu!" Mungkin Ying satu-satunya cewek di dunia yang masih sempat memuji cowoknya saat sedang marah sekalipun. "Yayaya, terserah. Lo kenapa sama si 'cool' itu?" kata Yaya sedikit menekankan pada kata si cool agar Ying puas.

"Gak tauu tuuuhh. Dia susah banget dihubungiiinnn. Sekalinya bales WA gue cuma Y, Ap, oh, gpp, kan gue kesel jadinyaaaaa. Ini yang cewek sebenernya gue apa dia sih? Kayak perawan lagi ngambek tau gaaaak?!"

Yaya menghela napas. "Coba chat baik-baik, tanya dia kenapa, ada marah gak sama kamu-"

"Udaahhh, Yaaaa! Tapi dianya gituuuu. Gue telpon juga nggak diangkat, bilangnya sibuk basket lah, ono lah, banyak urusan lah, padahal gue juga harus diuruuuusss. Huweeeee,"

Yaya memijit pelipisnya. Ikut pusing dengan masalah hubungan dua temannya ini. Padahal yang punya masalah siapa, yang mumet siapa. "Ya mungkin dia beneran lagi sibuk kali? Basket kan mau turnamen, jadi banyak yang diurus. Kamu semangatin dia aja, pasti Fang seneng,"

Di seberang sana terdengar helaan napas panjang. "Iya, sih. Tapi gatau kenapa gue jadi takut dia boong gitu, tau-taunya lagi jalan sama cewek, selingkuhin gue. 'Kan sakit banget..."

"Katanya kamu percaya sama Fang? Jangan mikir yang nggak-nggak dong. Fang juga gak bakal kayak gitu, Ying." ucap Yaya menenangkan, walau ia juga tidak tahu pasti cowok itu bagaimana. Tapi untuk saat ini, Yaya hanya ingin sahabatnya itu tenang dan tidak negative thinking.

"Haaaahhh... iya deh..." Yaya sedikit lega Ying tidak merengek lagi dan menerima nasehatnya. "By the way, lo tadi pulang sama Boboiboy, 'kan? Gercep amat, kemana aja kalian berdua?"

Bangkit dari duduknya, Yaya berjalan menuju balkon jendelanya, tempat dirinya dan Boboiboy berbincang sebentar sebelum cowok itu loncat. Ia membiarkan dirinya duduk di pinggiran jendelanya sambil memandang langit gelap berhiaskan bintang di luar sana. "Cuma ke flyover sama atap gedung doang kok," katanya, sengaja tidak membicarakan mengenai teman-teman Boboiboy yang punya muka sangar itu.

"Hah? Demi apa? Dia ngajak lo ke tempat romantis itu?"

Yaya mengernyit heran ketika kata romantis disebutkan. "Romantis? Apanya yang romantis?"

"Ck! Gak peka banget sih lo!" Yaya cemberut mendengarnya. "Lo kesana buat liat langit sore 'kan sama dia? Terus nontonin sunset deh,"

Yaya membuka mulutnya sedikit. Kagum dengan Ying yang bisa menyimpulkan semua itu dengan benar. "Kok kamu tau-"

"Terus ngasih jaket deh. Biar katanya gak kedinginan. Padahal mah diri sendirinya juga kedinginan. Pas mau dibalikin jaketnya, bilangnya simpen aja dulu, balikinnya kapan-kapan aja, hahahaha! FTV banget deh," gurau Ying di seberang sana, tanpa pernah tahu raut muka Yaya sudah pucat karena penuturan Ying barusan 100% benar. Yaya menatap jaket hitam Boboiboy yang masih tergeletak di kasurnya, mengingat kembali dengan jelas peristiwa beberapa jam lalu.

"Yaya? Halo? Kok lo diem aja?"

Yaya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Woi! Lo masih disana 'kan?" Ying masih terus menyahut di telepon. Lalu suaranya berubah menjadi serius. "Yaya? Jangan bilang candaan gue tadi bener kejadian sama lo?"

Rasanya Yaya ingin berteriak saat ini juga. Ia menggigit bibirnya keras sembari menatap lamat-lamat jaket di tangannya, lalu melemparnya ke ujung kasur dengan frustasi. Ia menutup wajahnya dengan tangan sebelah karena malu. "Ying..."

Tidak ada suara dari hapenya, yang mengartikan sahabatnya itu menunggu ucapannya yang menggantung.

"...Kamu bener." cicitnya sambil membanting tubuhnya ke kasur dan bertelungkup di sana.

"WTF?! Jadi gue bener?!" teriak Ying heboh. Yaya mengangguk-angguk kepalanya seperti orang bodoh karena Ying tentu saja tidak bisa melihatnya. "Oh my god. Gue kaget sih, asli. Kisah cinta lo sepicisan ini? Hah...?"

"YIIINNGGG!"

Lalu terdengar tawa super meledek dari seberang sana. Yaya semakin cemberut. Menyesal karena membenarkan ucapan yang berupa candaan Ying tadi. Harusnya Yaya tahu tanggapan Ying akan seperti ini, menertawakan dirinya sampai puas, bukannya menanggapinya dengan baper-baperan yang dilakukan sepasang sahabat lainnya.

Emang sih. Sahabat terkampret.

"Ha.. Hahahaha... Hahaha..." Tawa Ying mulai mereda setelah lima menit terlewati, dan wajah Yaya sudah bete setengah mampus sekarang. Rasanya pengen nyumpahin Ying agar gak bisa mingkem lagi sehabis tertawa keras kayak tadi. "Udah? Puas ngetawain aku?" cerca Yaya dengan mulut dicebikkan.

"Hehehe,"

Yaya memutar matanya malas.

"Terus? Terus? Lo nggak kontekan gitu sama dia? Chat-an selayaknya orang PDKT?"

Yaya merubah posisinya menjadi terlentang. Otaknya baru memikirkan itu. Ia sadar bahwa sampai saat ini, Boboiboy maupun dirinya belum memiliki kontak masing-masing.

Tapi memangnya harus, ya?

Lagian, 'kan, mereka cuma teman. Baru tiga hari kenal.

"Nggak. Ih, emang aku sama dia PDKT apa? Orang cuma temenan doang kok," sela Yaya mengutarakan pendapatnya. Ying menyahut cepat dengan teriakan supernya. "TEMENAN DARI HONGKONG!" Lagi-lagi Yaya sampai harus menjauhkan telinganya karena tidak mau indera pendengerannya itu rusak hanya karena suara cempreng Ying. "Nih, ya, sahabatku tercinta yang sampai saat ini masih jomblo padahal banyak yang ngejar..."

Yaya mendengus kesal. "Tolong peka dikit ya sayangku. Kalo cowok udah nawarin balik bareng, ngajak ke suatu tempat, apalagi sampai minjemin jaket, itu tuh namanya modus biar bisa deket sama lo! Oke? Modus! Ayo dieja. M-O Mo D-U-S dus. MODUS!"

"Emang kalo yang kayak gitu harus orang yang suka apa? Temenan kan juga bisa," elak Yaya lagi membuat Ying sepaneng diujung sana.

"Hhhhhhhhhh! Yaya, lo kayaknya harus private masalah percintaan sama gue deh. Pengetahuan lo tentang cinta memprihatinkan banget tau gak?"

Yaya cemberut. "Ya terus aku harus gimana? Teriak-teriak ke Boboiboy gitu sambil nuduh dia suka sama aku?" tanya Yaya hampir menyerah. Ia tidak habis pikir dengan pola pemikiran Ying.

"Ih! Gak gitu juga, jubaedah! Maksud gue, lo respon tindakannya dia ke yang positif. Kayak lo juga nyaman aja gitu sama perlakuannya dia!" kata Ying gregetan.

Beberapa detik Yaya hanya diam dan menatap langit-langit kamarnya. Jaket Boboiboy yang tadi ia lempar masih tergeletak berantakan di ujung kasur, sama sekali tidak ia pedulikan karena pikiran dan hatinya sama-sama dipenuhi pemilik jaket tersebut.

"Lo jujur deh sama gue. Jujur sejujur-jujurnya." Ying masih mengoceh dengan semangat. Seolah masalahnya dengan Fang tadi hilang sekejap mata, dan beralih menjadi penasehat Yaya dadakan. "Lo suka 'kan sama Boboiboy?"

Harusnya Yaya bisa menjawab itu tanpa berpikir panjang. Karena mau bagaimanapun, dirinya dan Boboiboy belum cukup lama saling mengenal. Tentu saja rasa suka terhadap cowok itu sangat mustahil untuk saat ini.

Tapi kenyataannya, Yaya bimbang di sisi lain. Pikiran dan hatinya seperti tidak mau berkerja sama.

"Heh, kok diem?" Suara Ying yang menyentaknya masih tidak bisa membuat Yaya menjawab. Gadis itu menggigit bibirnya gelisah karena ragu dengan jawabannya. Apa ia suka dengan Boboiboy? "Oke, fix. Lo suka sama tuh cowok,"

Yaya kaget dengar penyimpulan Ying yang sangat cepat sampai ia langsung duduk tegak dan menggeleng kuat. "IH! ENGGAK!" Kesalahan besar karena ia malah menolaknya dengan teriakan spontan mirip orang terciduk.

"Justru lo teriak begitu tandanya iya, Yayaku sayang," Ying berucap sangat lembut, merasa puas tebakannya tepat sasaran.

"Tapi kan aku baru kenal sama dia, Ying. Mana mungkin aku suka sama dia?!" bantah Yaya frustasi.

"Ya kalo hati udah jawab suka, mau diapain lagi?" Yaya mendesah kesal karena lagi-lagi perkataan Ying memojokkannya. "Tapi keliatannya Boboiboy suka sama lo, tau. Terbukti, 'kan? Dia sampai nganter lo balik buat PDKT doang,"

"Tapi, Ying..."

"Udah dong, Yaya. Lo mau sampai kapan sih, jomblo? Iwan yang udah ngejar lo ampe tiga taun lo anggurin. Ya itu emang karna lo gak suka sih, paham gue. Tapi kalo ini, Boboiboy woi? Udah mana ganteng, baik, tajir pula! Beuuuhhhh, langsung cus gue mah jadi elo,"

"Fang mau kemanain, hah?!" hardik Yaya.

"Cielah cemburu, hahahaha! Tenang kok, gue masih sayang sama Fang, lagian masih gantengan dia kemana-mana,"

"Katanya lagi kesel, tapi masih muji dia," cibir Yaya.

Ying tergelak. "Udah nggak kok, hehe. Dia udah bales chat gue, cuma gue sengaja balesnya lama, biar tau rasa nunggu itu gaenak!" Yaya mendengus mendengarnya.

"Yaudah deh, gue tutup yak! Mau ladenin Fang, berisik banget sue."

"Gih sono. Jangan berantem lagi kalian," tegur Yaya walau ia tak yakin dua manusia itu akan berhenti berselisih.

"Iya iya. Oya, satu lagi. Jaket Boboiboy jangan dicuci. Biar wanginya dia gak ilang, terus lo bisa cium-ciumin sepuasnya deh. Hahahahaha! Good luck ya lo berdua,"

"Kampret."


Waktu menunjukkan pukul 22.49 malam. Motor Boboiboy dengan lihai terparkir di garasi rumahnya, kemudian ia berjalan memasuki sebuah rumah sederhana namun terlihat asri di salah satu jejeran rumah lainnya.

Seperti hari-hari sebelumnya, yang akan ia temukan saat membuka pintu utama adalah gelap. Boboiboy menghampiri saklar, menyalakan lampu ruang tamu yang tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Matanya dengan jelas melihat keseluruhan ruang tamu berkat penerangan, lalu menemukan ibunya tengah tertidur pulas di sofa dengan selimut menutupi tubuhnya.

Menghela napas, Boboiboy menghampiri wanita yang telah melahirkannya itu. Duduk di sisa sofa tepat di depan ibunya, memandangi dengan teliti wajah ibunya yang tampak damai tertidur. Sebelah tangannya mengusap surai hitam wanita cantik itu, bersamaan dengan terdengar suara langkah kaki keluar dari dapur.

"Den Boboiboy udah pulang? Mau bibi bikinin minum?" tawar Bi Risa, pembantu rumah suruhan Tok Aba, sekaligus yang mengurusi ibunya selama ia pergi.

"Nggak usah, Bi." tolak Boboiboy halus. "Mama tidur di sini dari kapan?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari wajah sang ibu.

"Udah dari jam sembilan, Den. Bibi padahal udah bujuk Nyonya tidur di kamar, tapi Nyonya kekeuh pengen di sini, sambil nunggu Den pulang katanya,"

Boboiboy jadi agak sedikit menyesal karena ia terlalu lama di Cafe Kokotiam bersama Gopal dan membuat ibunya menunggu. Harusnya ia tahu ibunya akan sekeraskepala itu. "Mama udah makan?"

"Udah Den, tapi sedikit banget tadi makannya," jawab Bi Risa sedikit sedih.

Boboiboy mengangguk mengerti. Ia kemudian bangkit, menyibak selimut lalu menyelipkan tangan kirinya ke belakang leher ibunya sementara tangan kanannya berada di bawah lutut sang ibu. Selanjutnya Boboiboy mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah.

"Aku bawa Mama ke kamar dulu. Bi Risa tidur aja," kata Boboiboy sebelum melangkahkan kakinya ke kamar yang terletak di samping dapur.

Bi Risa mengangguk patuh. "Kalo Den mau makan, ambil aja di kompor ya Den, udah bibi angetin,"

Boboiboy hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan pelan.

Sesampainya di kamar, Boboiboy membaringkan tubuh enteng ibunya ke kasur dengan sangat pelan, lalu menyelimutinya sampai ke dada. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi wajah ibunya lagi sebelum menghela napas pelan. Tangannya mengusap surai hitam lembut itu, membelainya dengan penuh kasih sayang. Sampai kelopak mata itu terbuka, mungkin karena terganggu dengan usapan lembutnya.

"Boboiboy udah pulang?" Suaranya serak, namun tetap terdengar merdu di telinga Boboiboy.

"Mama kenapa tidur di luar? Kan Boboiboy udah bilang, jangan keseringan tidur di luar, nanti Mama masuk angin,"

Ibunya tersenyum. "Mama tadi bosen, nungguin kamu pulang di sofa. Eh, gataunya ketiduran," ujar Mamanya sambil terkekeh kecil. Lalu mengusap wajah tampan anaknya dan mengernyit saat menyadari sesuatu. "Kok kamu cuma pake baju tipis? Jaket kamu mana?"

Boboiboy menggaruk pipinya yang tidak gatal. Ikut memperhatikan tubuhnya yang hanya ditutupi kaos hitam tipis. "Ketinggalan di rumah temen, Ma. Lupa tadi,"

"Kebiasaan deh. Kalo sakit gimana?"

"Nggak kok, Ma. Kan Boboiboy kuat," gurau Boboiboy tersenyum simpul. Sang ibu menyentil hidungnya gemas sambil menggeleng pelan.

"Dasar. Yaudah sana, kamu ganti baju. Terus tidur, udah malem lho,"

Boboiboy menurutinya. Setelah mencium pipi Mamanya, ia melangkah keluar kamar. Menutup pintu kamar sang ibu dengan pelan.

Suasana sepi kembali menguasai dirinya. Dipandanginya ruangan luas di depannya, sambil berkali-kali memejamkan mata dengan tangan masih memegangi kenop pintu dan tubuh bersender pada pintu di belakangnya. Pikirannya kembali mengulang semua hal yang terjadi belakangan ini. Membuat dirinya lagi-lagi dihantui rasa bersalah dan kebencian pada dua orang yang berbeda.

Kenapa rasanya sulit sekali untuk mengembalikan keadaan ini? Kenapa dirinya harus terjebak dalam situasi ini? Dan kenapa ibunya yang harus menjadi korban?

Sampai sekarang pun, Boboiboy tidak tahu apa jawabannya.
.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hehe, akhirnya bisa apdet.

Cukup berat ya konfliknya? wkwk. sorry ya gaez, kalo agak sedikit bikin puyeng

Maaf banget nih minggu kemaren gua ga apdet. banyak banget problem yang harus diurus dan mood gua lagi kacau banget, jadi sampe ga bisa nulis lagi. alhamdulillah sekarang dah mendingan. maaf ya sekali lagi udah buat kalian nunggu

kayak biasa, review tentang adegan apa yg lo pada suka dan jelasin alasannya kenapa. semangatin gua ya plis, wkwk, lagi butuh semangat nih

udah itu aja

oke bay