Waktu menunjukkan pukul 06.50 pagi, tinggal sepuluh menit lagi bel masik berbunyi, namun tak ada tanda-tanda kedatangan Boboiboy. Yaya bertopang dagu dengan mata menatap bangku kosong di sebelahnya itu. Di atas mejanya terdapat jaket Boboiboy yang dilipat rapi, Yaya berniat mengembalikannya hari ini meski Boboiboy bilang untuk disimpannya saja.
Biasanya Boboiboy akan datang tigapuluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Namun cowok itu sepertinya telat. Yaya dengan sabar menunggunya, sambil berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdebar keras hanya karena memikirkan Boboiboy.
"Yaya~"
Kedua mata Yaya terpejam kala mendengar suara menyebalkan itu. Ketika membuka mata lagi, Yaya sudah menemukan Iwan, berdiri di samping meja Boboiboy dengan ekspresi cerianya. Entah apa yang ingin dilakukannya kali ini, namun Yaya sama sekali tidak tertarik.
"Lo ngapain sih, Wan? Balik sono ke habitat lo!" Fang, yang sedari tadi bermain game online berseru tak suka. Ying yang juga berada di sana ikut memandang Iwan tak suka dengan kedua tangan menyilang di depan dada.
Melihat itu Yaya tersenyum geli. Duo kacamata itu selalu kompak jika menyangkut masalah dirinya dengan Iwan.
Iwan hanya memutar mata malas dan mengabaikan sepasang kekasih itu. Dengan seenak udel, Iwan duduk di kursi Boboiboy. Menghadapkan tubuhnya pada Yaya yang kini menatapnya jijik.
"Nanti pulang bareng yuk?"
"Nggak." tolak Yaya langsung tanpa basa-basi. Ia kemudian beralih pada bukunya agar terlihat sibuk, dan semoga membuat Iwan pergi dari sini.
"Please, sekali aja. Nanti aku traktir kamu makan di cafe. Mau, ya?" bujuk Iwan lagi tak kenal kata menyerah. Baginya, tidak akan ada satupun cewek yang menolaknya di sekolah ini. Hanya Yaya yang terkesan jual mahal, dan itu membuat dirinya tertantang.
Yaya menghela napas jengah. Masa' ia harus meracuni Iwan dulu agar cowok itu enyah dari pandangannya? Yaya benar-benar kesal sekarang.
"Oke? Aku bawa mobil kok, tenang aja."
"Kalo nggak mau jangan dipaksa."
Suara berat dan rendah itu menarik atensi Yaya. Ketika menoleh, Yaya sudah mendapati Boboiboy berdiri di samping mejanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Cowok itu memandang Iwan yang kini tampak terkejut karena kehadirannya yang tiba-tiba itu.
"Mampus lo diomelin ayangnya!" seru Fang heboh. Ying tergelak di tempatnya sambil menonton adegan di depan matanya.
Iwan mendecak. "Lo nggak berhak ikut campur!" Nada suaranya meninggi tanpa ia sadari. Di depannya Boboiboy terkekeh, tampak menganggap ucapannya tadi sebagai hal remeh.
"Ya nggak ada sih. Cuma gue kalo jadi lo bakal berenti, karena udah ditolak berkali-kali."
Ucapan Boboiboy membuat darah Iwan mendidih. Ia mengepalkan tangannya, tatapannya pada Boboiboy kini sudah setajam elang. Harga diri Iwan seolah dibawa jatuh hanya karena ucapan anak baru ini. Seharusnya Boboiboy tahu diri ia sedang berhadapan dengan siapa.
"Oke." Iwan tersenyum miring. "Gue nggak maksa Yaya lagi."
Boboiboy hanya mengangguk. "Baguslah. Lo bisa minggir? Gue mau duduk." kata Boboiboy penuh penekanan di kata terakhirnya.
Iwan hanya menunjukkan wajah tak sukanya, namun kemudian ia berdiri dan meninggalkan kelas mereka.
"HAH! AKHIRNYA PERGI JUGA TUH IBLIS!" Fang menggebrak mejanya penuh emosi, ia ingin menonjok wajah Iwan tadinya. Namun Fang teringat jabatan cowok itu di sekolahnya, dan Fang tidak mau membuat kuburannya sendiri hanya karena memukul Ketua OSIS.
"Gue rasanya mau tendang dia ke alam baka." tambah Ying menggertakan giginya kesal.
"Ayo kita tendang sama-sama!" kata Fang.
"Ayo!"
Yaya tertawa geli melihat kelakuan dua sahabat absurdnya itu. Ia kemudian beralih pada Boboiboy yang sudah duduk di bangkunya, dan sibuk dengan buku catatannya. Yaya mengamatinya dalam diam. Meski baru tiga hari bersekolah, Boboiboy tampak rajin mencatat dan membaca buku pelajarannya. Sepertinya cowok itu sangat serius menuntut ilmu. Dan mungkin kepintarannya akan melebihi Yaya.
"Boboiboy, jaket kamu." ucap Yaya sambil menggeser jaket hitam yang sedari tadi tergeletak di atas mejanya.
Boboiboy menoleh padanya dan tersenyum tipis. "Udah gue bilang simpan aja."
Yaya menggelengkan kepalanya. "Aku nggak enak. Kalo minjem barang itu harus dikembalikan cepat-cepat."
Boboiboy hanya terkekeh. Ia lalu menyampirkan jaketnya di bangku agar tidak memenuhi mejanya. Atensinya kembali pada buku catatannya, hanya untuk meredakan pikiran penuhnya. Sejak berangkat tadi, Boboiboy tidak bisa berhenti mengusir perkataan ibunya.
.
.
"Maafin Mama ya, Nak. Mama buat kamu ikut terseret ke dalam masalah Papa."
Boboiboy berhenti menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Ia menatap sang ibu di depannya intens, air muka wanita itu terlihat sendu. "Ma ... "
"Mama nggak papa kalo ditempatkan di luar negri. Itu lebih baik daripada merepotkan kamu yang terus-terusan diancam Papa." Isak tangis ibunya terdengar. Boboiboy berdiri dari kursinya untuk menghampiri sang ibu. Ia berlutut di depan wanita kesayangannya itu, menggenggam tangannya yang selalu terasa hangat.
"Boboiboy nggak akan ngelepas Mama. Apapun yang terjadi." ucap Boboiboy penuh keyakinan. Meski begitu, tangis sang ibu belum juga reda. Boboiboy berusaha tersenyum walau hatinya terasa nyeri. "Boboiboy nggak mau pisah dari Mama."
"Tapi, Nak ... "
"Ma," Boboiboy segera memotong ucapan ibunya. Dipandangnya mata ibunya yang teduh, persis seperti miliknya. "Boboiboy udah kehilangan sosok Papa yang dulu selalu Boboiboy banggain." Ibunya terdiam. Membiarkan dirinya bicara sampai selesai. "Dan Boboiboy bersyukur Mama nggak pernah berubah sampai detik ini."
Ibunya terisak. Boboiboy menjulurkan tangannya untuk mengusap air mata itu. "Jadi Boboiboy mohon ... jangan minta Boboiboy buat ngelepas Mama. Karena Boboiboy nggak akan sanggup ... "
Kedua tangan kecil itu memeluknya erat. Boboiboy membalasnya, memejamkan matanya untuk menikmati kehangatan yang ibunya berikan. Bagaimana bisa ia sanggup membiarkan ibunya pergi, kalau pelukannya ini mampu membuat Boboiboy tenang?
Ibunya adalah kekuatan sekaligus kelemahannya. Tepatnya sang ayah menggunakan ibunya untuk mengancam dirinya. Namun Boboiboy sanggup melakukan apa saja, selama ibunya terus di sisinya.
"Tapi kamu jangan sembunyikan apapun dari Mama, ya. Jangan mendam semuanya sendirian ... "
Ucapan ibunya membuat Boboiboy terdiam. "Iya Ma ..." katanya, meskipun Boboiboy sangat tidak yakin.
.
.
"Boboiboy!"
Boboiboy mengerjap ketika Yaya melambaikan tangan di depan wajahnya. Ia seketika teringat dimana ia berada.
"Lamunin apa?" tanya Yaya penasaran.
Boboiboy bingung menjawab apa. Namun ketika Yaya seperti ingin melontarkan pertanyaan lagi, Bu Zila sudah masuk kelas. Membuat Yaya terkejut dan segera menyiapkan kelas, sementara Boboiboy diam-diam menghela napas lega.
"Minta hape lo."
Yaya mengernyit bingung sambil memelankan langkahnya menuju kantin bersama Boboiboy. Fang dan Ying sudah ngibrit duluan ke kantin, meninggalkan mereka yang mengumpulkan tugas ke ruang guru dulu tadi setelah bel istirahat berbunyi.
"Buat apa?"
"Buat dijual."
"Heee?!"
Boboiboy tergelak karena ekspresi Yaya yang begitu kaget. "Ya nggak lah." Sebelah tangannya terjulur, meminta Yaya memberikan ponselnya. "Mana?"
Yaya cemberut namun tangannya bergerak merogoh sakunya. Ia memberikan benda itu pada Boboiboy, mengintip apa yang akan dilakukan cowok itu di ponselnya.
"Nomor kamu?" tanya Yaya setelah mendapati deretan nomor yang diketik di kontak ponselnya. Boboiboy mengangguk kecil mengiyakan pertanyaannya.
"Gue baru ngeh kita belom punya nomor masing-masing." ujar Boboiboy membuat Yaya mengulum senyum. Ia sejujurnya ingin meminta nomor Boboiboy, namun rasa gengsi mengalahkannya.
Setiba di kantin, Yaya mencari tempat duduk untuk mereka sementara Boboiboy menawarkan diri untuk memesan. Kedua mata Yaya tidak menemukan dua sejoli itu di seluruh penjuru kantin. Ia mengendikkan bahu, berpikir Fang dan Ying mungkin saja tengah mencari bapak Khong Guan. Tanpa memedulika mereka, Yaya duduk di bangku yang tersisa di ujung kantin. Ia membuka ponselnya, tepatnya pada kontak WhatsApp yang baru Boboiboy berikan tadi.
Foto profil cowok itu adalah sebuah gambar skateboard yang tengah dipijaki oleh kedua kaki, entah milik siapa. Namun setelah melihat baik-baik skateboard itu, Yaya langsung teringat bahwa skateboard itu sama dengan yang Boboiboy lempar tempo hari, saat menyelamatkannya. Seketika Yaya merasa bersalah karena dirinyalah, Boboiboy harus kehilangan skateboard-nya. Yaya berpikir akan menggantikannya, namun tiba-tiba Boboiboy sudah muncul dengan tangan membawa makan siang mereka.
Boboiboy duduk di hadapannya, menyodorkan semangkok soto ayam miliknya beserta jus strawberry padanya. Sementara cowok itu memesan bakso dan es kopi.
"Fang dan Ying nggak keliatan disini?" tanya Boboiboy karena menemukan Yaya duduk sendirian. Cowok itu mengaduk baksonya yang sudah dicampurkan dengan sambal dan kecap.
Yaya menggeleng. Menyeruput jusnya sebelum berbicara. "Kayaknya mereka lagi ke ujung dunia." kata Yaya asal.
Satu alis Boboiboy terangkat tidak mengerti.
"Nyari bapak Khong Guan." ucap Yaya lagi sebelum menyantap sotonya. Ia tidak menyadari Boboiboy menahan tawanya agar tidak tersembur karena ucapan asalnya itu.
Tidak memikirkan lebih lanjut sepasang kekasih itu, Boboiboy mengikuti Yaya untuk memakan makanannya. Sesekali ia melirik Yaya yang tampak tenang menghabiskan soto ayamnya. Meski mulutnya kecil, gadis itu melahap makanannya dengan semangat. Pipi Yaya menggembung kala mulutnya penuh. Dan cara gadis itu mengunyah makanannya sungguh membuat Boboiboy gemas.
Tunggu. Apa sekarang ia tertarik pada Yaya?
Tidak, tidak. Mustahil jika ia jatuh hati pada gadis itu. Selama ini, Boboiboy tidak pernah merasakan perasaan yang kerap kali para remaja rasakan. Bukannya ia terlahir tidak normal, namun Boboiboy belum menemukan gadis yang tepat saja. Yang mampu membuatnya luluh dan salah tingkah. Boboiboy belum pernah merasakannya satu detik pun.
Namun saat melihat Yaya ...
Boboiboy menggeleng. Apa yang otaknya pikirkan sih? Mengalihkan pikiran ngaco itu, Boboiboy kembali melanjutkan makannya. Sampai getaran dari handphone-nya sedikit mengejutkan dirinya.
Gopal
Kaizo nyuruh ngumpul. Katanya mau rencanain strategi buat nyerang Adu Du.
Kernyitan di dahi Boboiboy muncul. Ia langsung teringat soal masalahnya dengan Adu Du. Cowok itu menghela napas, membiarkan pesan Gopal terpampang di layar.
Boboiboy sudah memikirkannya kemarin. Keputusan bulatnya adalah ia tidak mau melibatkan teman-temannya lagi.
Boboiboy
Buat apa? Gue yang mereka incer, jadi lo pada gausah repot-repot bantuin gue
Gopal
Lo bego ya? Nyari mati?
Boboiboy menutup ponselnya tanpa membalas pesan Gopal lagi. Ia melanjutkan makannya dalam diam, namun pikirannya melanglang buana. Ia tahu keputusannya akan membahayakannya nanti. Tapi Boboiboy juga tidak mau teman-temannya ikut terseret dalam masalah ia dengan Adu Du. Boboiboy tidak mau merepotkan orang lain lagi. Ia harus bisa menanganinya sendiri.
"Kamu sore nanti ada acara nggak?"
Boboiboy mendongak mendengar pertanyaan dari Yaya. "Nggak ada sih, emang kenapa?"
"Kita ke timezone, yuk?" ajak Yaya dengan senyum manis di wajahnya.
Boboiboy mengangkat alisnya. "Bukannya lo ada les nanti sore?" tanyanya kemudian, mengingat tempo hari Yaya bolos les karena ingin ikut bersamanya.
Yaya menyengir kuda. "Aku nggak mood les hari ini." jawabnya jujur. Boboiboy menatapnya diam. Yaya yang merasa diintimidasi buru-buru melanjutkan ucapannya. "Besok aku les lagi kok, nggak bolos deh janji." katanya seraya mengangkat tangan kiri, seperti berikrar.
Boboiboy menggeleng. "Bukan itu." Ia menurunkan tangan kiri Yaya agar kembali di sisi tubuh gadis itu. "Nanti kalo ibu lo marah, gimana?" tanyanya, membuat Yaya menggigit bibirnya.
"Uh ... 'Kan ibu nggak bakal tahu aku bolos,"
"Kata siapa?" goda Boboiboy. Ia tersenyum geli melihat Yaya menggembungkan pipinya sebal. Terlihat tidak setuju dengan perkataannya, namun Boboiboy tahu Yaya sedang memikirkannya juga. "Kalo gini gimana? Lo tetep les, nanti gue anter pulangnya?" tawar Boboiboy memberikan solusi. Meskipun dalam hatinya ia ingin menyetujui ajakan Yaya, tapi ia juga tidak mau Yaya lalai dalam tugas belajarnya.
"Yah, berarti bentar banget dong sama kamunya," gumam Yaya pelan, namun bisa Boboiboy dengar dengan jelas.
Seperti ada sesuatu yang menggelitik perutnya, tapi Boboiboy tidak tahu apa. Ia tersenyum tipis, berusaha menetralkan debaran jantungnya di dalam sana.
"Tapi gapapa deh, kamu bener. Jangan telat ya jemputnya." kata Yaya, nada suaranya kembali riang.
Boboiboy hanya menganggukkan kepalanya. Ia diam-diam bernapas lega karena Yaya mau membatalkan ajakannya serta mengiakan tawarannya. Mereka berdua kemudian melanjutkan makanan dengan tenang, namun suara bising di sekitar mereka membuat keduanya kebingungan.
"Kebakaran! Kebakaran!"
Yaya langsung berdiri dari duduknya diikuti Boboiboy. Seluruh siswa di kantin itu berlari meninggalkan kantin, berteriak panik karena melihat asap tebal dari dapur salah satu stand. Situasi seketika ricuh. Yaya yang masih shock bergeming di tempat, kedua matanya menatap dapur yang sudah dikuasai asap tebal di ujung sana.
"Yaya!" Boboiboy berseru untuk menyadarkannya, namun Yaya tetap diam. Cowok itu segara mencengkram pergelangan tangan Yaya untuk ditariknya keluar kantin.
"Yaya, lo tunggu sini! Jangan kemana-mana, ngerti?" Boboiboy menggenggam bahu Yaya, yang dibalas anggukan kecil cewek itu.
Kepanikan langsung menyebar ke seantero sekolah. Boboiboy menatap sekitar mereka yang ramai dan terlihat aman. Ia kemudian menatap kembali kantin yang kini diselimuti asap perlahan.
"Gue nggak bakal lama."
"Eh?"
Tanpa mendengar Yaya lagi, Boboiboy kembali masuk ke kantin di saat seluruh siswa sibuk melarikan diri. Asap kebakaran seketika menyapanya, Boboiboy menutup hidungnya menggunakan lengan kanan sambil berusaha menemukan kunci kebakarannya. Ternyata asalnya berada di stand makanan sebelah kirinya. Dengan langkah mantap Boboiboy menuju ke sana, ia menyipitkan mata karena asap mengganggu penglihatannya. Sesekali ia terbatuk karena udara yang begitu menyesakkan, namun Boboiboy terus mencari sumber kebakaran tersebut.
Kedua mata Boboiboy menemukan sebuah kompor yang sudah terselimuti kobaran api. Ia ingin mendekati sumber api tersebut, namun suara decitan sepatu seseorang membuat ia menoleh. Matanya membelalak kaget mendapati Yaya berada di ambang pintu sambil menutup hidungnya.
"Yaya, keluar! Ini bahaya buat kamu!" seru Boboiboy sedikit marah, namun Yaya menggelengkan kepala. Boboiboy berusaha mendorong Yaya keluar, namun gadis itu mengelak dan tetap bersikeras berada di sini.
"Aku nggak mau keluar."
"Yaya!" Boboiboy agak meninggikan suaranya.
"Aku nggak bakal keluar tanpa kamu." ucap Yaya dengan tatapan matanya yang serius.
Tahu berdebat bukan hal yang tepat dilakukan sekarang, Boboiboy menyerah dan akhirnya membiarkan Yaya bersamanya. Ia menatap lembut Yaya, memegang bahu gadis itu.
"Jangan jauh-jauh dari aku, oke?" Yaya mengangguk. "Ambil taplak meja di sana, terus basahin pakai air." kata Boboiboy seraya menunjuk taplak meja di belakang Yaya.
Yaya segera menurutinya sementara Boboiboy melepas selang regulator dari tabung gas. Dengan mudah, Boboiboy mengangkat gas seberat 12 kilo itu lalu melemparkannya ke luar jendela dapur, ke taman samping sekolah yang cukup sepi.
"Boboiboy, ini."
Tangan Boboiboy mengambil taplak meja basah dari Yaya dan langsung melemparkannya ke kompor yang dikerubungi api itu. Yaya datang dengan taplak meja basah lainnya, lalu mengikuti tindakan Boboiboy tadi. Ia langsung ditarik ke belakang punggung cowok itu sementara Boboiboy meraih Apar dari dinding dan menyemprotkannya pada seluruh tempat yang terbakar.
Setelah tidak ada lagi api di sana, Boboiboy menjatuhkan Apar tersebut ke lantai dan langsung berbalik menghadap Yaya. Ia memegang lengan gadis itu dan memeriksa kondisinya.
"Kamu nggak papa?"
Yaya mengangguk seraya tersenyum kecil. Di pipinya terdapat noda hitam akibat asap tadi. Boboiboy bernapas lega karena gadis itu baik-baik saja.
"Kita keluar sekarang."
Boboiboy mengamit tangan Yaya untuk dibawanya keluar dari sana. Tepat mereka keluar dari dapur, rombongan petugas kebakaran yang dipanggil sekolah datang dengan alat kebakaran mereka.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya salah seorang dari mereka. Boboiboy dan Yaya mengangguk berbarengan. Mereka kemudian dibawa ke tempat aman dengan tangan yang masih bertaut.
Akibat kejadian tadi, seluruh siswa dipulangkan lebih cepat. Boboiboy dan Yaya mendapat pujian dari para petugas damkar karena keberanian mereka itu. Namun keduanya juga mendapat teguran dari pihak sekolah karena bertindak gegabah dan berbahaya. Kepala sekolah berterima kasih pada mereka, dan Boboiboy serta Yaya mendapat sanjungan dari para siswa ketika keluar dari ruang kepala sekolah.
Ah, tepatnya, Boboiboy yang mendapat lebih banyak pujian itu. Terutama dari para gadis. Yaya sampai harus menyingkir dari Boboiboy karena desakan para cewek haus perhatian itu. Ia dengan wajah cemberut menuju kelasnya, berniat mengambil tas lalu pulang ke rumah. Ketika berada di undakan tangga terakhir, Ying tiba-tiba muncul dengan wajah heboh.
"Yaya, ya ampun! Lo masih hidup!" Gadis penyuka warna kuning itu memeriksa tubuh Yaya dari kepala sampai ujung kaki. Tentu saja Ying mendengar dirinya masuk ke area kebakaran bersama Boboiboy. "Lo kenapa bego banget, sih? Udah tau bahaya, tetep aja masuk! Kalo lo gosong gimana?!"
Yaya memutar matanya malas. Ia kembali melanjutkan langkahnya ke kelas dengan Ying yang membuntutinya.
"Terus Boboiboy mana? Dia lindungin lo 'kan tadi?"
"Iyaa," jawab Yaya lesu.
Ying menyipitkan mata pada Yaya. Ia duduk di meja Yaya, memperhatikan gadis itu yang tengah sibuk merapikan barang-barangnya untuk dimasukkan ke dalam tas.
"Kenapa lo?" tanya Ying penasaran. Seharusnya Yaya bersikap ceria karena baru saja disanjung oleh para guru karena telah menghentikan kebakaran dengan Boboiboy. Tapi kenapa raut wajah gadis itu terlihat sebaliknya?
Baru saja Ying ingin membuka mulutnya lagi, suara dari kerumunan luar kelas mencuri perhatiannya. Ying menajamkan pendengarannya dan menangkap sahutan orang-orang yang berisi pujian untuk Boboiboy. Suara itu terdengar cempreng, dan Ying tahu betul kerumunan itu berasal dari para siswi. Seketika, otak Ying yang biasanya lemot mengerti penyebab Yaya badmood.
"Oohh, lagi cemburu toh." ledek Ying membuat Yaya mendengus sebal.
Beberapa detik setelahnya, suara langkah kaki seseorang terdengar dan tanpa menoleh pun keduanya tahu orang itu adalah Boboiboy.
"Selamat kembali Tuan Pahlawan!" seru Ying ketika Boboiboy tiba di dekat mereka. Ying sampai memeragakan hormat, membuat Boboiboy tertawa kecil. "Gue keluar duluan ya, ditungguin ayang beb. Selamat berduaan!" Tanpa menunggu balasan dari Boboiboy dan Yaya, Ying langsung ngacir keluar kelas.
"Aku cari ke mana-mana," Boboiboy membuka suara sambil menatap Yaya yang masih sibuk merapikan tasnya. "Ternyata di sini," lanjutnya seraya tersenyum.
Yaya berusaha mengabaikan Boboiboy dan menghindari tatapannya. Namun ketika pandangannya mengarah ke bawah, Yaya terkejut mendapati tangan Boboiboy yang terluka.
"Ini kenapa?" tanya Yaya sambil menarik tangan kiri Boboiboy ke hadapan mereka. Boboiboy meringis pelan karena perih menjalari telapak tangan kirinya itu. Ia baru merasakan sakitnya sekarang. "Kenapa kamu nggak bilang kalo kamu luka, sih?" omel Yaya, ia menatap ngeri luka bakar itu.
"Tadi mau ngomong." Boboiboy menatapi lukanya. "Tapi udah keduluan kamu." lanjutnya sambil menatap Yaya.
Yaya mendongak sehingga tatapan mereka bertemu. Seketika ia terperangkap dalam tatapan teduh itu. Kenapa cara bicara Boboiboy padanya tiba-tiba berubah? Yaya hampir tak bisa mengendalikan detak jantungnya. Dan hatinya benar-benar meleleh karena sikap cowok itu.
"Ikut aku." Yaya murni memerintah. Ia menarik lengan Boboiboy untuk menuju UKS. Boboiboy mengikutinya dengan bibir terlipat. Mereka melewati koridor yang dipenuhi oleh para siswi, yang terang-terangan menatap mereka penuh selidik dan tidak suka. Yaya berusaha mengabaikannya dan terus menyeret Boboiboy. Sementara cowok itu beberapa kali tersenyum tipis pada adik kelas yang menyapanya malu.
"Duduk."
Setibanya di UKS, Yaya langsung ke lemari obat-obatan. Boboiboy duduk di kasur sesuai perintah Yaya. Ia mengawasi gadis itu yang sibuk mencari peralatan untuk mengobati lukanya. Hening. Hanya ada suara air conditioner di sana. Boboiboy tak melepaskan pandangannya dari sosok Yaya. Gadis itu kini sudah berbalik padanya dengan tangan berisi kotak P3K. Yaya mengambil kursi di samping ranjang, lalu mendudukinya tepat di hadapan Boboiboy.
"Tangan kamu."
Boboiboy menjulurkan tangannya. Ia masih merapatkan bibirnya kala Yaya mulai menjajahi lukanya dengan kapas dilumuri alkohol. Boboiboy meringis. Namun ia kembali diam ketika Yaya menatapnya khawatir.
"Sakit banget, ya?"
"Nggak."
"Serius."
"Iya, aku serius."
Yaya menghela napas. Ia tahu cowok itu berbohong. Yaya yang melihatnya saja ikut merasakan perih, bagaimana Boboiboy? "Jujur, dari skala 1-10 di angka berapa sakitnya?" tanya Yaya serius.
"Hm ... mungkin 8?"
Yaya menatap tak percaya Boboiboy. "Kenapa nggak langsung diobatin, sih? Kalo infeksi gimana?" Yaya terus mengusap kulit menggembung itu dengan alkohol. Sesekali ia meniup luka Boboiboy agar tidak perih.
"Maunya diobatin sama kamu." jawab Boboiboy kalem.
Yaya berusaha menutupi rasa gugupnya. Ia mengambil jarum dan memperingatkan Boboiboy. "Ini bakal sakit."
Boboiboy hanya mengangguk dan tersenyum. Pelan tapi pasti, Yaya menusuk kulit menggembung itu dengan jarum dan membuat luka itu pecah. Yaya buru-buru menahannya dengan kapas dan meniup-niup pelan luka Boboiboy. Tanpa melihat pun, Yaya tahu Boboiboy sedang mengamatinya.
"Kamu mau pulang, ya?"
"Tadinya." Yaya berdeham. "Kenapa ngomongnya jadi aku-kamu?"
"Pengen aja." Boboiboy memberi isyarat untuknya agar mendongak. "Boleh, ya?"
Yaya menatapnya dan berdeham lagi. Ia mengangguk samar, dan kembali menunduk untuk membalut luka Boboiboy dengan bantalan kasa dan lilitan perban.
"Tadi kenapa kamu ikut aku ke dalam?"
Yaya selesai mengobati Boboiboy. "Aku mau nemenin kamu." ucapnya seraya membereskan kotak P3K.
"Walau tahu itu bahaya?" Boboiboy menatapnya intens.
"Aku nggak merasa bahaya," Boboiboy terdiam. Membiarkan dirinya tenggelam dalam tatapan Yaya yang begitu menenangkan. "Karena ada kamu."
Untuk sesaat Boboiboy tertegun. Jantungnya kembali berirama sangat cepat, dan seperti ada sesuatu di perutnya yang mana membuat Boboiboy merasa geli. Yaya berhasil membuatnya diam seribu bahasa hanya karena ucapan singkatnya. Udara AC seperti tidak terasa sama sekali, karena Boboiboy merasa sangat gerah. Sebenarnya apa yang terjadi padanya?
"Aku suka kamu."
Dan ucapan lugas itu membuat Boboiboy kehilangan fungsi tubuhnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
A/N
HUWAA KOK MAKIN GAJELAS Y
Tapi suwer dehh, ini gua ngetiknya bener-bener enjoy. mungkin karena dah nelantarin nih epep selama setahun lebih? (apa berapa ya gua lupa)
Gua minta maaf banget baru lanjutin sekarang ya guys. Makasih yang udah nungguin, i love u so much guys. Semoga cerita ini bisa diselesein dengan semestinya AAMIIN YA RABB
Udah ding segitu aja.
Yuk review yuk
