1. Something Never Change

Seorang wanita cantik melangkahkan kakinya yang berbalut high heels untuk memasuki sebuah gedung yang menjulang tinggi di hadapannya. Di lobby depan yang luas tertulis label "Suh and Park-Attorney & Law" salah satu firma hukum terpercaya di Korea dengan ratusan pengacara berbakat dengan klien kelas kakap yang tak perlu dihitung jumlahnya. Sesekali wanita cantik itu terlihat tersenyum saat menyapa beberapa pegawai yang bekerja di firma hukum milik suaminya, ya wanita itu merupakan istri si pria tampan yang kelak akan mewarisi gedung tinggi menjulang yang tengah ia jajaki siang itu.

"Annyeong Heejin-ssi, apa Johnny sedang sibuk?" Tanya Ten pada wanita cantik yang menjabat sebagai sekretaris suaminya.

"Aniyo nyonya, silahkan masuk. Tuan Johnny sudah menunggu kedatangan Anda." Ucap Heejin dengan senyuman ramah. Wanita cantik yang diketahui bernama Ten itu lantas ikut tersenyum dan kembali melangkahkan kakinya untuk memasuki ruangan sang suami yang berukuran cukup besar.

"Baru datang?" Ucap Johnny, ia bangkit dari kursi besarnya dan mendekati sang istri. Ten mengangguk semangat dan membalas pelukan Johnny yang mulai menghirup aroma tubuhnya.

"Apa banyak sekali klien hari ini?" Tanya Ten, pasalnya ia jelas melihat penampilan Johnny yang telah menanggalkan jasnya, dasi yang terikat di lehernya juga nampak dilonggarkan, dan jangan lupakan lengan kemeja putihnya yang sudah ia gulung sampai sebatas siku.

"Begitulah, ada klien baru. Masalah kasus korupsi." Ucap Johnny, ia masih sibuk memeluk tubuh istrinya dan membenamkan wajah tampannya ke ceruk leher Ten.

"Kalau begitu ayo kita makan. Aku sudah buatkan bulgogi kesukaanmu." Ucap Ten semangat. Ia mulai melepas pelukan Johnny dari tubuhnya dan menata kotak makan yang sejak tadi ia bawa.

Ten dan Johnny telah menikah sejak dua tahun yang lalu setelah sebelumnya menghabiskan waktu berkencan selama lima tahun saat mereka duduk di bangku kuliah strata satu. Selama dua tahun pernikahan mereka Ten dan Johnny masih sibuk menghabiskan waktu berdua, memanfaatkan waktu sebaik mungkin sebelum nantinya ada makhluk kecil yang menyambangi kehidupan mereka. Sejak awal pernikahan mereka memang kedua belah pihak sepakat agar menunda sementara untuk memiliki momongan. Hal itu bukan tanpa alasan. Johnny masih sibuk melanjutkan pendidikannya dengan karirnya sebagai pengacara yang cemerlang, sedangkan Ten, wanita itu disibukkan dengan karir kepenulisannya yang tak kalah cemerlangnya dari karir sang suami.

Ten bukanlah warga negara Korea, wanita itu berdarah asli Thailand. Ia datang ke Korea untuk menyelesaikan pendidikan strata satunya beberapa tahun lalu. Siapa yang sangka ternyata di negeri gingseng itu juga ia menemukan pendamping hidupnya, di Korea hanya Johnny yang Ten punya hingga sedikit banyak wanita itu cukup menggantungkan hidupnya pada sang suami yang dikenal tampan dan rupawan. Setelah banyak lika-liku yang menyambangi kehidupan kencan mereka pada akhirnya Ten dan Johnny berhasil bersanding di pelaminan bahkan rumah tangga mereka masih begitu damai sekalipun Ten cukup muak mendengar semua pertanyaan orang tentang momongan.

"Makan jamurnya tidak baik kalau kau hanya makan daging." Ucap Ten, ia sedikit kesal karena Johnny sejak tadi sibuk menggeser jamur-jamur kecil yang sengaja ia tambahkan ke bulgogi yang ia buat hari ini.

Sekalipun pekerjaan mereka berdua jauh berbeda, nyatanya sepasang suami istri itu kerap kali menghabiskan waktu untuk sekedar makan siang bersama. Entah Ten yang menyambangi Johnny seperti hari ini atau sebaliknya. Yang pasti mereka akan selalu menghabiskan waktu berdua. Saling bercerita dan mendengar keluh kesah satu sama lain setelah disibukkan dengan rutinitas pekerjaan mereka.

Ten dan Johnny baru saja menyelesaikan makan siang mereka, Ten terlihat kembali merapikan alat makan yang baru saja mereka gunakan sedangkan Johnny baru saja tiba di ruangannya setelah mengambil pesanan minuman yang baru tiba beberapa menit lalu. Ten tersenyum saat menerima segelas jus jeruk yang disodorkan oleh suaminya, tenggorokannya jelas perlu dibasahi setelah berceloteh tentang banyak hal siang ini.

"Jadi cerita yang semalam akan naik cetak?" Tanya Johnny pada istrinya yang terlihat tengah bersandar manja di bahu kokohnya.

"Hum, rencananya begitu. Aku tidak tahu jika sajangnim sangat menyukai cerita itu, apa aku tolak saja. Sepertinya aku akan semakin sibuk jika menerimanya." Ucap Ten, sebenarnya sejak tadi ia tengah kebingungan harus menerima keputusan itu atau tidak.

"Jangan begitu, terima saja. Sudah lama juga kan kau menunggu saat seperti ini." Ucap Johnny seraya mengelus lembur surai hitam sang istri.

"Begitukah?" Tanya Ten memastikan. Johnny mengangguk dan kembali sibuk menyesap Americano miliknya.

Ten kembali ke tempat kerjanya setelah menghabiskan waktu sekitar dua jam di firma hukum sang suami. Saat ini ia tengah bersiap untuk pergi dan merapikan beberapa barang bawaannya.

"Aku akan lembur malam ini, besok ada sidang penting yang harus ku ikuti. Nanti jangan menungguku ya kau harus langsung istirahat." Ucap Johnny seraya mengecup lembut kening Ten. Wanita itu hanya mengangguk, lagipula Johnny yang lembur bukanlah hal yang biasa untuknya dan sejauh ini Johnny selalu mengabarinya jika memang harus pulang terlambat.

"Kalau begitu aku pergi dulu, semangat bekerja sayang." Ucap Ten, ia menyambar bibir Johnny sebelum benar-benar menghilang dari ambang pintu ruang kerja sang suami.

Ten telah tiba di rumah sejak beberapa menit yang lalu, ia tengah bersantai setelah sedikit membersihkan penjuru rumah besar yang ia tempati bersama Johnny. Entah kenapa sejak berada di kantor tadi Ten sedikit tidak tenang, seolah ada hal yang mengganggu hatinya namun ia tak tahu apa. Sejak tadi juga Ten berniat menghubungi Johnny namun berkali-kali ia mengurungkan niatnya karena ia paham suaminya itu paling tidak bisa diganggu jika tengah menyiapkan persidangan yang harus ia ikuti.

Di sebuah gedung apartemen besar yang membelah langit malam Kota Seoul nampak sepasang pria dan wanita yang tengah berpelukan seraya menatap jendela besar yang menampilkan pemandangan malam yang indah. Si pria yang bertubuh jauh lebih tinggi sejak tadi sibuk membenamkan wajahnya di ceruk leher sang wanita yang dibalas kekehan geli dari sang pemilik surai panjang kecoklatan yang wangi stroberi.

"Tuan…. Bukankah ini salah? Bagaimana jika nyonya Ten mengetahui hubungan kita." Ucap si wanita, keragu-raguaan jelas terdengar dari nada suaranya yang sedikit bergetar.

"Berapa kali aku bilang jangan panggil aku begitu jika kita hanya berdua Heejin-ah." Johnny si pria tinggi lantas berucap menanggapi perkataan kekasih gelapnya itu.

"Aku mencintaimu." Ucap Johnny, ia mengecup lembut bibir plum Heejin yang terlihat menggoda malam itu.

"Aku juga Johnny-ssi." Ucap Heejin, ia lantas membalas kecupan yang Johnny berikan dan mulai mengimbangi tempo yang Johnny berikan.

Choi Heejin, wanita cantik lulusan program studi administrasi yang telah menjabat sebagai sekretaris pribadi Johnny sejak dua tahun lalu. Heejin jelas mengenal siapa Johnny, ia juga sudah mengerti jika atasannya itu telah memiliki istri cantik dengan senyuman teduh yang kerap kali ia lihat saat wanita itu menyambangi kantor suaminya. Mulanya hubungan Heejin dan Johnny hanya sebatas atasan dan bawahan yang saling membutuhkan, sampai akhirnya satu malam mengubah segala hal dalam hidupnya. Heejin yang malam itu tengah menemani Johnny lembur dan mengumpulkan bahan sidangnya malah terlarut dalam permainan kotor mereka. Sejak saat itu hubungan mereka benar-benar berubah, lebih dari sekedar atasan dan bawahan tapi berubah menjadi si pria tampan dan wanita simpanan. Jika dihitung hubungan mereka telah berjalan selama lima bulan lamanya.

Sandiwara mereka tersaji amat sempurna, tak ada satupun orang yang mengetahuinya. Johnny juga sangat berhasil mengelabui istri cantiknya yang begitu mencintainya selama ini. Johnny seolah tengah memainkan dua perannya, saat di rumah ia akan bertindak sebagai suami baik hati yang amat menyayangi istrinya dan saat malam hari ia kerap kali menghabiskan waktu di apartemen yang telah ia sewa untuk Heejin sejak lima bulan yang lalu. Ten yang begitu naif tak pernah curiga pada suaminya, ia jelas sangat mengingat jika suaminya itu amat mencintai karirnya sebagai pengacara. Jadi Ten sama sekali tak menaruh curiga pada setiap tingkah yang Johnny sajikan di hadapannya.

Ten bangun di pagi hari dan menyiapkan sarapan untuk ia nikmati bersama Johnny. Pria itu masih bergelung dalam selimut karena baru pulang ke rumah saat tengah malam. Setelah selesai menata makanan ia bergegas masuk kembali ke kamarnya, berusaha untuk membangunkan Johnny yang masih sibuk memejamkan mata.

"Ayo bangun sayang…. Kita harus sarapan." Ucap Ten seraya mengguncang pelan bahu kokoh suaminya. Perlahan netra tajam Johnny mengerjap dan ia tersenyum kala mendapati sang istri yang terlihat begitu cantik pagi itu.

"Lepaskan…." Kekeh Ten saat Johnny dengan sengaja menarik tubuhnya dan memeluknya erat-erat, itu juga salah satu kebiasaan yang kerap kali Johnny lakukan.

"Lima menit lagi ya, aku harus memelukmu." Ucap Johnny, ia mengeratkan pelukannya pada sang istri dan kembali memejamkan matanya. Ten hanya terkekeh ia sibuk memainkan surai hitam Johnny seraya sesekali memukul lengan kekar suami tampannya itu.

Setelah selesai sarapan Johnny membantu Ten membersihkan piring-piring kotor yang baru saja mereka gunakan. Pria tinggi itu juga sejak tadi sibuk menggoda istrinya, itu adalah kebiasaan Johnny yang tak pernah berubah. Pria tinggi itu kerap kali meledek istrinya bahkan sejak mereka masih berkencan. Ten sama sekali tak marah, ia malah kerap kali tertawa mendengar semua perkataan yang terlontar dari mulut Johnny.

Ten dan Johnny tengah duduk di sofa ruang keluarga seraya menikmati tontonan yang tersaji di hadapan mereka. Ten juga sesekali merevisi gambar untuk buku ceritanya, ia sibuk dengan iPad nya dan jangan lupakan kacamata yang bertengger di hidung bangirnya. Johnny bangkit berdiri saat tiba-tiba saja ponsel yang sejak tadi ia genggam di tangan kanannya bergetar, ada pesan masuk di sana.

Johnny-ssi aku hamil….

Johnny benar-benar membulatkan netra tajamnya, ia sama sekali tak salah membaca pesan yang tertera dari pop-up ponselnya. Johnny mengecup sekilas kening Ten saat wanita itu menarik tangannya yang berniat menyingkir dari ruang keluarga.

"Ada telepon dari klien, sebentar ya aku tinggal dulu." Ucap Johnny.

Johnny memainkan jemarinya dan bergegas menghubungi nomor ponsel Heejin, pria tinggi itu menutup rapat-rapat ruang kerjanya seolah tak membiarkan Ten mencuri dengar apa yang ia bicarakan. Ekspresi Johnny nampak berubah-ubah, sesekali ia tersenyum namun di beberapa kesempatan ia hanya terdiam saat menghubungi Heejin. Tak dipungkiri Johnny merasa ada sesuatu yang membuncah di hatinya, bukanlah itu artinya akan ada makhluk kecil yang menghiasi kehidupannya.

Dan pagi itu Johnny jelas amat bahagia, tanpa tahu jika istrinya akan menghadapi jalanan berliku yang penuh kerikil kedepannya. Semuanya terjadi secara tiba-tiba dan semua hal dalam hidup Ten akan berubah setelah panggilan telepon yang Johnny terima di minggu pagi yang cerah.