2. Everything Has Changed

Ten benar-benar sibuk selama tiga bulan terakhir, ceritanya yang berhasil naik cetak memaksanya untuk merevisi beberapa bagian untuk bukunya kelak, mulai dari gambar, warna hingga detail tulisan mengingat semua bukunya menargetkan anak-anak kecil sebagai pembaca. Sejalan dengan Ten yang semakin sibuk Johnny pun demikian, firma hukumnya cukup ramai akhir-akhir ini dan banyak klien yang meminta Johnny untuk langsung menjadi pengacaranya tanpa mempertimbangkan pengacara lain yang juga bernaung dibawah "Suh and Park". Selain itu Johnny juga sibuk mengurus wanitanya yang lain, Choi Heejin yang tengah mengandung benihnya.

Ten terlihat baru saja selesai menyiapkan sarapan, ia telah bersiap dengan blazer kerjanya dan rambut panjangnya terlihat diikat untuk memudahkan pergerakannya. Johnny baru saja keluar dari kamar mereka, pria itu lantas mengecup kening Ten dan membiarkan wanita yang berstatus sebagai istrinya itu memakaikan dasi untuknya seperti yang biasa ia lakukan.

"Aku minta maaf, sepertinya kita tak bisa makan siang bersama nanti." Ucap Ten di tengah kesibukannya memakaikan Johnny dasi.

"Bukan masalah, kau harus tetap makan sekalipun tak bersamaku. Jangan sampai jatuh sakit uri Ten Seo jakka-nim." Ucap Johnny dengan senyuman teduh yang menghiasi wajah tampannya.

"Nde Seo byeonhosa-nim." Ucap Ten sedikit terkekeh.

Mobil berwarna hitam milik Johnny barusaja menepi di tempat Ten bekerja, Ten tengah bersiap untuk turun setelah sebelumnya melayangkan kecupan di bibir suaminya.

"Jangan lupa makan bekalnya, hangatkan dua menit dengan microwave. Aku sudah catat di kotak bekalmu sebelum kau lupa." Ucap Ten, ia sedikit menunduk dan menelusupkan kepalanya ke jendela mobil sang suami.

"Iya aku ingat, kau selalu mengatakannya sejak tiga bulan lalu sayang." Kekeh Johnny.

"Bye…. Sampai jumpa lagi." Pamit Ten pada Johnny.

Johnny menunggu di mobilnya dan memastikan Ten benar-benar telah masuk ke dalam kantornya. Setelahnya Johnny kembali melajukan mobilnya, memutar arah berlawanan yang tak pernah Ten tahu jika Johnny rutin melewatinya selama tiga bulan kebelakang.

"Diantar suamimu lagi?" Ucap Doyoung, salah satu ilustrator yang bekerja di kantor Ten.

"Hum…. Johnny suka mengantarkanku kemari." Ucap Ten dengan wajah cantiknya yang tampak berbinar cerah.

"Masih saja seperti remaja kasmaran padahal sudah bertahun-tahun menikah." Ucap Doyoung sedikit meledek rekan kerjanya itu.

"Kau hanya akan tahu rasanya saat menikah nanti, cepat cari suami kau sudah semakin tua tahu." Balas Ten tak mau kalah, ia mulai mengelus lembut surai panjang Doyoung hingga membuat wanita tinggi itu mendengus sebal.

Johnny baru saja memarkirkan mobilnya di basement apartemen mewah yang sudah sering dikunjungi sejak lama. Tujuannya hanya satu, menjenguk Heejin yang sejak tadi mengeluh mengalami mual dan muntah seharian, maklum saja kehamilannya sudah memasuki bulan ketiga. Sejak kehamilannya memasuki bulan kedua Johnny meminta Heejin berhenti dari pekerjaannya, pria tinggi itu merasa tak tega saat melihat Heejin yang harus datang ke kantornya dengan wajah yang pucat. Bahkan Johnny dapat melihat dengan jelas jika nafsu makan Heejin benar-benar menghilang semenjak ia berbadan dua.

Johnny memijat pelan door lock apartemen yang ia tempati bersama Heejin, ya mereka menempatinya berdua. Beberapa kali Johnny menghabiskan akhir pekan bersama wanita itu dan beralasan harus lembur pada Ten yang menunggunya di rumah. Apartemen itu bukan apartemen yang sama seperti beberapa bulan lalu, kali ini Johnny membeli apartemen mewah yang cukup dikenal di Seoul karena harga dan segala fasilitas yang ada di dalamnya. Saat pintu terbuka Johnny mendapati Heejin yang tengah meringkuk di atas sofa mereka, wajahnya cukup pucat dan kantung mata nampak tercetak jelas di wajah cantiknya.

Perlahan Johnny mendekati Heejin dan membawah tubuh ramping wanita itu dalam dekapannya. Heejin begitu menikmati setiap sentuhan yang ia berikan. Memang sejak beberapa minggu yang lalu Heejin aka merasa jauh lebih tenang saat Johnny berada di sisinya. Heejin juga begitu menyukai aroma maskulin yang menguar dari tubuh tegap Johnny, ia tak tahu sejak kapan tapi yang jelas aroma itu selalu berhasil menjadi candu untuknya.

"Sudah makan?" Tanya Johnny, tangan besarnya sibuk mengelus lembut perut Heejin yang terlihat sedikit menonjol.

"Tadi belum lapar." Ucap Heejin seraya menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi. Johnny lantas bangkit dari duduknya ia bergegas memasuki dapur kecil mereka dan berinisiatif untuk membuatkan Heejin makanan.

Johnny membuka kulkas yang ada disana, isinya memang tak selengkap seperti yang ia dan Ten punya di rumah tapi beberapa hari lalu ia sempat mengisi kulkas di apartemen mereka sehingga tersedia berbagai bahan makanan disana. Heejin yang masih mengenakan piyama tidurnya nampak duduk di kursi meja makan dengan wajah yang berseri-seri, ia sibuk memperhatikan Johnny yang sejak tadi sibuk membuatkan makanan untuknya. Heejin sangat menyukai masakan yang Johnny buat, bahkan wanita itu tak pernah menyangka jika pria yang dulunya menjabat sebagai atasannya sangat pandai memasak.

Heejin menyantap masakan Johnny dengan semangat, ia juga tak tahu pergi kemana semua rasa mual yang menghinggapinya sejak pagi-pagi buta. Yang jelas Heejin sangat menikmati waktunya bersama Johnny hari itu, Heejin juga sangat suka saat Johnny menatapnya yang tengah menyantap makanan. Johnny menemani Heejin sampai siang menjelang, mereka banyak melakukan aktivitas bersama. Beberapa menit lalu bahkan mereka berdua baru saja selesai melukis bersama, memang gambar Heejin tak seindah gambar yang selalu Ten buat namun setidaknya Johnny berhasil mengisi kekosongan yang tengah dialami wanita hamil itu.

Heejin melepas kepergian Johnny di ambang pintu apartemen mereka, sebelum benar-benar pergi Johnny menyempatkan diri untuk mengecup mesra bibir dan perut wanita itu, tentu saja Johnny juga berpesan pada calon anak mereka supaya tetap tenang dan tak mengganggu sang ibu selama ia tak bersama mereka.

"Tidak bisa menginap ya?" Ucap Heejin dengan bibir yang menekuk ke bawah. Sejatinya ia masih tahu diri tentang statusnya yang hanya wanita simpanan, namun entah mengapa hatinya begitu egois seolah ingin memiliki Johnny sepenuhnya akhir-akhir ini.

"Akan aku usahakan akhir pekan ini. Aku akan bilang pada Ten jika harus menemui klien ke luar kota." Ucap Johnny seraya mengecup lembut kening Heejin yang balas anggukan kepala dari wanita itu.

Johnny telah masuk ke mobilnya, ia kembali menyalakan ponselnya yang sebelumnya ia matikan. Banyak pesan masuk dan panggilan dari orang yang sama, Ten istri cantiknya mengingat saat ini sudah memasuki jam makan siang. Ten paling tahu jika Johnny akan sangat terlarut dengan pekerjaannya bahkan bisa melupakan makan siangnya. Johnny menoleh ke kursi belakang, disana ada kotak bekal yang telah Ten siapkan saat di rumah. Tangan panjangnya terulur untuk menggapai kotak bekal berwarna abu-abu tersebut.

Hangatkan di microwave selama dua menit, selamat bekerja pengacara tampanku. Tolong kurangi sedikit Americano karena itu tak baik untuk kesehatanmu ('')

- Penulis cantikmu

Johnny tersenyum sekilas membaca pesan yang Ten tuliskan di kotak bekal miliknya, ia melipat kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam saku jas miliknya. Setelahnya ia kembali melajukan mobilnya menuju kantor untuk menyelesaikan semua pekerjaannya.

Di sudut café Ten tengah duduk berhadapan dengan Doyoung, sejak tadi Ten sibuk memeriksa ponselnya berharap akan ada balasan dari suaminya yang ia tunggu sejak tadi.

"Johnny bukan anak kecil, dia pasti akan menghabiskan makanannya." Ucap Doyong di tengah kegiatannya menyantap makan siang.

"Johnny itu pelupa, ia tak pernah ingat makan jika sudah sibuk mengurus persidangan. Tapi seingatku ia tak memiliki jadwal sidang minggu ini, atau ada klien yang tiba-tiba datang ya." Ucap Ten bermonolog sejak tadi. Doyoung memutar bola matanya malas, selama dua tahun mengenal wanita di hadapannya itu Doyoung jadi mengerti jika Ten benar-benar memperhatikan semua keperluan suaminya. Seolah Johnny adalah anak kecil yang tak bisa apa-apa jika tanpa dirinya.

"Sudah…. Nanti pasti dia menghubungimu. Makan dulu, lihat sudah dingin." Ucap Doyoung menunjuk makanan Ten yang telah mendingin.

Ten mengangguk dan mulai menyantap makanan nya, sekalipun gelisah karena menunggu kabar Johnny sejak tadi tak dipungkiri perutnya juga sudah memberontak untuk diisi.

Tring….

Sebuah pesan masuk ke ponsel Ten, dengan segera ia membuka notifikasi ponselnya dan tersenyum cerah setelah melihat siapa yang mengirimkan pesan.

From: Uri byeonhosa

Maaf aku mematikan ponselku karena harus berbincang dengan klien tadi, aku baru selesai makan siang. Terima kasih makanannya Seo jakka-nim

Johnny menoleh saat mendengar pintu ruangannya terketuk dari luar, perlahan pintu itu terbuka dan menampilkan seorang pria berkacamata yang tersenyum sopan ke arah Johnny.

"Terima kasih sajangnim, makanannya enak sekali." Ucap pria itu seraya menyodorkan kotak bekal Johnny kepada atasannya.

"Hum…. sama-sama Dokyeom-ssi." Ucap Johnny, tangannya terulur untuk menerima kotak bekal pemberian Dokyeom sekretaris barunya.

Nyatanya dibalik senyuman yang tengah Ten torehkan ada sebuah kebohongan besar yang lama-kelamaan akan membawa luka terdalam untuknya. Semuanya karena ulah suaminya yang benar-benar berubah.