3. Someone Else

Ten tengah berada di ruang laundry rumahnya seraya bersenandung kecil. Hari ini adalah jadwalnya untuk mencuci pakaian, dengan teliti Ten memilah pakaian kotor miliknya dan Johnny. Aktivitas Ten terhenti sejenak, ia melepas airpods yang menempel di telinganya sejak tadi dan menatap lekat kemeja putih yang Johnny kenakan kemarin. Di ujung kemeja itu terdapat noda berwarna hijau. Ten menggesek pelan noda tersebut dengan kukunya, rasanya Ten tidak asing dengan teksturnya begitupun dengan aromanya. Seperti suatu hal yang tak asing, namun ia tak tahu apa.

Tak mau ambil pusing Ten memilih memasukkan kemeja Johnny ke mesin cuci. Ia mulai menjalankan mesin cuci tersebut dan melenggang pergi ke kamarnya. Disana Ten melihat Johnny yang baru saja mengakhiri panggilan teleponnya dengan seseorang. Ten mencuri dengar pembicaraan Johnny dengan seseorang yang ia tak tahu siapa, yang jelas Johnny terus menanyakan soal buah-buahan sejak tadi. Tapi untuk apa, pikir Ten.

"Bicara dengan siapa?" Tanya Ten saat baru saja memasuki kamar mereka.

"Ah tidak, tadi Dokyeom menghubungiku menanyakan buah apa yang harus disiapkan untuk rapat." Bohong Johnny.

"Ah begitu, kukira tadi siapa. Ngomong-ngomong Heejin bagaimana ya kabarnya? Dia benar-benar kembali ke Busan?" Tanya Ten, ia mengalihkan pandangannya dari iPad yang berada di tangannya dan menatap ke arah Johnny.

"Aku tidak tahu, sebulan yang lalu dia bilang akan kembali ke Busan karena harus merawat neneknya." Ucap Johnny, ia mulai mengecupi pipi Ten yang saat ini duduk di sampingnya.

"Kau bau Johnny…. Cepat mandi sana, tak baik jika harus mandi malam setiap hari." Ucap Ten sedikit terkekeh.

Akhir-akhir ini memang Johnny sering sekali pulang terlambat. Ia bilang ada banyak sekali klien yang harus ditemui, belum lagi menyiapkan semua persidangan yang harus ia ikuti. Ten percaya saja lagipula sejak awal pernikahan mereka Johnny kerap kali bersikap demikian.

"Mau mandi bersama boleh?" Ucap Johnny sedikit menggoda istri cantiknya itu.

"Aku sudah mandi, makannya jangan pulang terlambat terus." Ucap Ten seraya menjulurkan lidahnya.

"Maaf…. Aku sangat sibuk akhir-akhir ini." Johnny berucap dan sedikit memasang tampang bersalahnya.

"It's okay, aku paham…. Kau pasti tak ingin membuat abeoji kecewa." Ucap Ten sedikit terkekeh.

"Kau memang yang terbaik." Balas Johnny, ia mengecup bibir Ten sekilas sebelum melesat ke kamar mandi yang ada di kamar mereka.

Setelah Johnny selesai membersihkan diri Ten memutuskan untuk memasak ramyeon. Entah kenapa tiba-tiba saja ia ingin menikmati ramyeon dan Johnny bilang ia juga ingin makan bersamanya. Kepulan asap nampak menguap dari panci yang baru saja Ten letakkan di meja makan. Ten menyerahkan alat makan pada Johnny dan setelahnya mereka berdua mulai menyantap ramyeon yang terlihat begitu menggoda malam itu.

"Ah iya tadi saat mencuci baju aku lihat ada noda hijau di kemejamu." Ucap Ten di sela-sela kegiatan makannya.

Uhuk….

Johnny nampak tersedak, ia terlihat berbatuk karena rasa tak nyaman dari kuah ramyeon yang menyangkut di tenggorokannya. Dengan cepat Ten bangkit berdiri dan menyodorkan segelas air mineral pada suaminya, ia juga menepuk lembut punggung Johnny malam itu.

"Pelan-pelan saja makannya, ini panas dan pedas akan sangat bahaya jika tersedak." Ucap Ten setelah keadaan Johnny lebih baik, wanita itu sibuk mengelap bagian meja yang dihiasi dengan tumpahan kuah ramyeon diatasnya.

"Itu noda cat." Ucap Johnny setelah menghabiskan air mineral miliknya.

"Ah pantas saja aku merasa familiar." Jawab Ten.

Johnny sedikit tersenyum saat Ten tak lagi menanyakan soal noda hijau tersebut, pria itu jelas sedang menutupi sesuatu dari istri cantiknya mengingat bagaimana ia yang tak menatap netra indah Ten saat menjawab pertanyaan yang ia lontarkan.

Saat ini mereka berdua telah menikmati serial Netflix yang tersaji di hadapan mereka. Ten terlihat memeluk pinggang suaminya dan membenamkan wajah cantiknya ke dada bidang Johnny. Entah mengapa rasanya begitu aneh, tiba-tiba saja Ten amat merindukan waktu berdua bersama suaminya itu.

"Sepertinya aku harus keluar kota." Ucap Johnny tiba-tiba. Ten nampak terkejut, ia melepaskan pelukannya pada tubuh Johnny dan menatap pria itu dengan pandangan bertanya-tanya.

"Kenapa tiba-tiba, besok juga akhir pekan." Ucap Ten, ia mulai mencebikkan bibirnya seolah tak terima jika akan ditinggal suaminya pergi untuk sementara.

"Aku harus bertemu dengan klien di luar kota, mereka hanya punya waktu di akhir pekan." Ucap Johnny seraya mengelus lembut surai hitam Ten yang tergerai indah.

"Mau ikut…." Ucap Ten dengan bibir yang mencebik lucu.

"Kau kan sedang sibuk, katamu besok harus bertemu dengan editor dan ilustrator." Ucap Johnny, ia mulai mengelus lembut pipi Ten dan mencubitnya pelan.

Ten semakin mencebikkan bibirnya, jadwalnya memang sangat padat akhir-akhir ini sekalipun di akhir pekan. Dan sepertinya Ten benar-benar harus merelakan kepergian Johnny ke luar kota untuk sementara.

"Berapa hari?" Tanya Ten, ia terlihat tengah bersandar manja di bahu kokoh sang suami seraya memilin ujung baju yang Johnny kenakan.

"Dua hari, aku akan pulang di hari minggu." Ucap Johnny.

"Janji tidak lebih dari itu ya?" Ucap Ten, ia mulai menyodorkan jari kelingkingnya dan meminta Johnny berjanji padanya. Johnny nampak terkekeh, ia membalas uluran kelingking Ten dan menghujani wajah wanitanya itu dengan banyak ciuman.

"Iya sayang…. Aku akan kembali tepat waktu." Balas Johnny.

Ten bangun lebih pagi sekalipun ini hari sabtu, ia terlihat telah sibuk di dapur dan tengah menyiapkan sarapan. Pikirnya Johnny harus sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke luar kota. Ten menoleh kala mendengar suara gemuruh dari anak tangga. Disana Johnny nampak tengah menuruni anak tangga dengan tergesa, ia telah berpakaian rapi seperti biasanya. Johnny benar-benar tak melihat ke arah Ten ia berlalu begitu saja sampai Ten memutuskan untuk mengikuti langkah besar suaminya.

"John, kau akan pergi sekarang?" Tanya Ten. Johnny menoleh dan mendekati istrinya, ia memberikan pelukan pada tubuh ramping Ten dan mengecup keningnya.

"Maaf aku buru-buru. Baru saja mereka menghubungiku dan minta pertemuannya dimajukan." Ucap Johnny seraya membenahi dasinya.

"Setidaknya sarapan dulu, makanannya sudah matang." Ucap Ten, ia menarik tangan besar Johnny untuk kembali ke ruang makan.

"Tidak bisa aku harus pergi sekarang." Balas Johnny.

"Kalau begitu aku buatkan bekal ya, kau bisa makan saat senggang nanti." Tawar Ten.

"Tidak usah sayang, mereka mengajakku bertemu di restoran, maaf…." Ucap Johnny dengan nada menyesal yang keluar dari mulutnya.

Ten melepaskan genggamannya dari tangan Johnny, wanita itu sedikit tersenyum hambar sebelum menghela nafas panjang.

"Yasudah…. Hati-hati di jalan, jangan lupa menghubungiku." Ucap Ten singkat.

"Kau marah?" Tanya Johnny, ia jelas mendengar perbedaan dari nada suara istrinya.

"Tidak, sudah sana. Kau bilang pertemuannya dimajukan. Nanti terlambat, Seoul sering macet di akhir pekan." Ucap Ten, ia mendorong pelan tubuh Johnny sampai akhirnya mendekati pintu utama rumah mereka.

Ten memandang mobil hitam suaminya yang semakin menjauh dari rumah mereka. Lagi-lagi wanita itu menghela nafas, ia melangkahkan kakinya kembali ke dapur dan memandang sendu ke arah bulgogi yang baru saja ia buat. Netra indahnya nampak berkaca-kaca, setelah dua tahun pernikahan mereka ini pertama kalinya Johnny menolak makanan yang Ten buat, apa pria itu tidak tahu jika istrinya telah bangun pagi-pagi buta demi memasakkan makanan kesukaannya.

"Kenapa baru menghubungiku sekarang? Kenapa tidak bilang dari semalam jika perutmu kram." Ucap Johnny pada seseorang melalui ponselnya.

"Aku menghubungimu tapi kau tak mengangkatnya."

"Sebentar lagi aku sampai di apartemen, jangan kemana-mana." Ucap Johnny sebelum benar-benar mengakhiri panggilannya.

Johnny berlari di sepanjang koridor apartemen mewah yang ia tempati bersama Heejin. Saat membuka pintu apartemennya ia mendapati wanita itu tengah duduk seraya memegangi perutnya dengan wajah yang begitu pucat. Johnny meraba kening Heejin dengan telapak tangannya, wanita itu sedikit demam. Dengan cepat Johnny membantu Heejin berdiri dan membawanya ke rumah sakit sebelum terjadi hal buruk pada wanita tersebut.

Seorang pria yang mengenakan seragam biru khas rumah sakit dan snelli putihnya nampak menendang mesin minuman seraya sesekali menguap lebar. Dia baru saja menyelesaikan banyak operasi sejak kemarin, bersyukurlah pria itu tidak tertidur di ruang operasi dan mendapat amukan dari para dokter senior disana. Pria itu mengambil kopi kaleng yang baru saja keluar dari mesin minuman, ia berjalan di koridor rumah sakit dengan nyawa yang hampir menghilang. Para perawat dan dokter lain yang melewatinya nampak menyapanya, pria itu lantas membalas dengan senyuman teduh yang menenangkan.

Dokter tampan itu nampak mengernyitkan dahinya saat melihat siapa orang yang baru saja melihatnya, sepertinya ia tidak asing dengan pria bertubuh atletis tersebut. Netra kecoklatannya membulat saat mengingat dimana ia pernah bertemu dengan pria yang baru saja melintasinya. Ia lantas merogoh ponselnya dan bersiap menghubungi seseorang di seberang sana.

"Yeoboseyo, Jaehyun…. Johnny sudah menikah ya? Kukira dia masih betah melajang." Ucap dokter tampan itu seraya terkekeh pelan.

"Sudah hyung, ia bahkan sudah menikah sejak dua tahun yang lalu."

"Ah kurasa aku melihatnya di rumah sakit, mungkin sedang bersama istrinya. Tadinya ingin kusapa tapi ragu." Balas si dokter tampan.

"Kau menghubungiku hanya untuk menanyakan itu hyung?" Ucap Jaehyun sedikit kesal.

"Iya…. Maafkan aku adik kecilku." Ucap si dokter sebelum mengakhiri panggilannya.

Seorang wanita bersurai kecoklatan nampak tengah duduk di kursi yang ada di depan ruang dokter spesialis ortopedi, sesekali ia melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya. Ini sudah hampir dua puluh menit tapi orang yang ia tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.

"Eonni…." Ucap seorang perempuan muda yang baru saja tiba dengan gips di tangan kanannya.

"Lama sekali…. Apa masih separah itu." Tanya si wanita bersurai coklat.

"Tidak…. Tapi dokternya sangat tampan jadi aku sedikit mengulur waktu hehe…." Ucap si perempuan seraya menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi.

"Hati-hati Minhee-ya bisa saja yang berusaha kau goda itu pria beristri." Ucap si wanita.

"Eonni pikir aku semenggelikan itu."

"Eonni- kenapa berhenti?" Tanya Minhee saat melihat kakak sepupunya tiba-tiba berdiri mematung di belakangnya.

"Ah tidak bukan apa-apa, sepertinya aku lihat seseorang yang kukenal tadi." Ucap kakak sepupu Minhee.

"Mungkin hanya mirip, ayo…. Belikan aku kimbab, aku lapar." Ucap Minhee seraya menyeret sepupu cantiknya.

"Tadi itu Johnny kan? Kenapa dia mengantri di spesialis kandungan. Lalu siapa wanita itu." Monolognya dalam hati sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah sakit.