4. Beautiful Lie
Ten tengah menunggu bus di halte yang berada di depan kantornya, banyak orang bertanya mengapa Ten lebih memilih untuk menggunakan bus saat pergi ke kantornya padahal ia memiliki banyak uang begitupun suaminya. Nyatanya tinggal sebagai perantau di negeri orang sedikit banyak cukup membuat Ten merasa kesulitan, karena Ten bukan warga negara Korea jadi ia dilarang mengemudikan kendaraannya sendiri. Sejak kuliah ia terbiasa pergi ke kampus menaiki kendaraan umum atau mungkin diantarkan oleh Johnny saat mereka berkencan dulu. Begitupun setelah menikah Ten akan pergi bersama Johnny kemanapun ia mau, Johnny akan mengantarkannya pergi bekerja terkadang juga pria itu menjemputnya jika tidak sedang lembur atau mengurus banyak persidangan.
Sebenarnya warga negara asing diizinkan untuk mengemudikan kendaraan di Korea, terlebih Ten tinggal di negeri gingseng itu dengan visa menetap untuk istri karena suaminya warga negara Korea asli, hanya saja terlalu banyak berkas yang harus disiapkan demi mendapatkan lisensi mengemudi di Korea. Jadilah Ten selalu mengurungkan niatnya karena pekerjaannya yang begitu padat.
Ten memasuki bus yang baru saja berhenti di hadapannya, ia duduk di dekat jendela dan menikmati pemandangan yang tersaji di sepanjang jalan raya Seoul yang terlihat dipenuhi kendaraan. Jika diingat kembali wanita cantik itu datang ke Korea sekitar delapan tahun lalu, sejak kecil Ten selalu ingin menginjakkan kakinya di negeri gingseng yang terkenal dengan industri hiburannya, namun Ten cukup tahu diri karena saat itu bisnis yang keluarganya jalankan tengah terpuruk dan tidak memungkinkan untuk ia pergi ke Korea begitu saja.
Sampai akhirnya Ten mengetahui informasi tentang program beasiswa yang diadakan oleh pemerintah Korea, Ten yang saat itu baru saja lulus dari sekolah menengah mencoba peruntungannya mengikuti program tersebut. Setiap hari ia berdoa demi hasil terbaik yang ia inginkan, dan usahanya seolah tak sia-sia Ten berhasil mendapatkan beasiswa penuh untuk program strata satunya. Awal kepergian Ten dari Thailand ia merasa cukup berat meninggalkan keluarganya, terlebih saat itu kondisi keuangan keluarganya sedang tidak baik-baik saja. Namun kedua orang tua Ten meyakinkan anaknya jika ia tetap harus pergi, bagaimanapun juga kesempatan tak akan datang dua kali. Dan Ten sangat pantas mendapatkan kesempatan tersebut.
Dua tahun pertama ia di Korea semuanya berjalan lancar, ia juga rutin mendapatkan kirimkan uang dari ayah dan ibunya. Namun semuanya berbalik di tahun ketiga, karena bisnis keluarganya kembali terpuruk seperti beberapa tahun lalu. Ten bahkan masih ingat dengan jelas jika ia benar-benar kesulitan hanya untuk membayar uang asrama. Ten juga ingat bagaimana ia harus melakukan banyak pekerjaan paruh waktu demi memenuhi biaya hidupnya di Korea. Namun itu tak bertahan lama sampai akhirnya ia bertemu dengan Johnny, pria tampan dari program studi hukum yang berada satu tingkat di atasnya. Sebenarnya Ten telah mengenal Johnny sejak tahun pertama ia berkuliah, namun pertemuan mereka saat itu hanya sebatas senior dan junior di universitas tak lebih dari itu.
Setelah beberapa bulan menjalin hubungan pertemanan akhirnya Ten dan Johnny memutuskan untuk berkencan. Johnny benar-benar memperlakukan Ten bagai seorang putri, bahkan saat masa kuliah Johnny berkali-kali mengundang Ten ke kediamannya yang mewah dan besar. Bak gayung bersambut, nyatanya kedua orang tua Johnny juga terlihat begitu menyukai Ten yang saat itu dikenalkan oleh anaknya sebagai kekasihnya.
Ten tersenyum saat mengingat kembali masa-masa indah itu, sekalipun perjalanannya di Korea tak selalu mudah namun ia bahagia karena ada Johnny di sisinya. Bicara soal Johnny, pria tinggi itu bahkan belum menghubungi Ten sejak berpamitan pergi ke luar kota tadi pagi, rasanya Ten benar-benar kesal dengan suaminya. Sudah tak menyantap makanannya lalu tidak menghubunginya, benar-benar pengacara menyebalkan, ucap Ten dalam hati.
Di salah satu kamar rawat yang ada di rumah sakit nampak seorang wanita tengah terbaring dengan infus yang menancap di tangannya. Sebelah tangannya yang bebas nampak memijat pelipisnya sejak tadi. Sedangkan di sebelah ranjang rawatnya nampak seorang pria tinggi yang terduduk dan mengelus lembut punggung tangan wanita itu yang tertancap infus.
"Kita disini dulu, setelah infusnya habis kita baru kembali ke apartemen." Ucap Johnny.
"Lalu kau akan kembali ke rumahmu?" Tanya wanita itu ketus.
"Tidak, aku akan pulang bersamamu." Balas Johnny.
"Aku lelah terus sembunyi seperti ini." Ucap Heejin dengan suara lirihnya. Johnny hanya terdiam, ia benar-benar tak tahu harus melakukan apa.
"Kau terus memintaku untuk menunggu tanpa aku tahu apa yang aku tunggu. Sekalipun aku tengah berbadan dua tetap saja Ten yang akan memenangkan pertempuran, semua orang begitu menyukainya." Heejin kembali berucap.
"Bisa bersabar sebentar lagi?" Tanya Johnny seraya mengecup punggung tangan Heejin.
"Sampai kapan? Demi Tuhan Seoul itu sempit Johnny, cepat atau lambat kita pasti akan ketahuan." Ucap Heejin dengan netra indahnya yang mulai mengeluarkan lelehan air mata.
Johnny benar-benar diam, semua yang Heejin ucapkan beberapa detik lalu adalah sebuah kebenaran karena sejatinya sepandai-pandainya seseorang menyimpan bangkai pasti lama-kelamaan akan tercium juga baunya.
Beberapa menit lalu Heejin baru saja diperiksa oleh dokter kandungan, katanya ia mengalami dehidrasi hingga terjadi kontraksi di perutnya. Oleh karena itu Heejin diberikan infus sampai kondisinya jauh lebih baik baru kemudian diizinkan pulang. Heejin cukup rutin memeriksakan kandungannya di rumah sakit tersebut, dan sejauh ini Johnny selalu menemaninya. Sekalipun Johnny tak bisa dua puluh empat jam bersamanya setidaknya ia masih sangat bersyukur karena pria itu masih mau mengurusi anak yang tengah dikandungnya, walaupun tak dipungkiri semakin bertambah usia kandungannya semakin ingin pula ia memiliki Johnny seutuhnya, menanti kelahiran buah hati mereka dan membentuk keluarga kecil yang bahagia.
Ten tengah duduk kursi meja makan, ia baru saja menghabiskan makan malamnya. Ten menumpu kepalanya dengan kedua tangannya dan menatap lekat ponselnya yang ia taruh di atas meja. Johnny belum juga menghubunginya, padahal Ten telah menghujaninya dengan puluhan pesan dan panggilan namun tak satupun yang pria itu hiraukan.
"Kau sedang apa sih? Apa sibuk sekali." Lirih Ten, pasalnya ia telah menghabiskan waktu hampir sepuluh menit memandangi ponselnya sejak tadi.
Karena sudah terlalu lelah menunggu Ten memutuskan untuk masuk ke kamarnya, ia baru saja membersihkan wajahnya dan mengaplikasikan skincare yang biasa digunakan. Ten menghela nafas panjang, bahkan ia telah melakukan banyak aktivitas malam ini tetap saja Johnny belum menghubunginya.
Ten tersenyum cerah saat mendengar nada dering dari ponselnya, dengan cepat ia mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang menghubunginya.
"Yeoboseyo…." Ucap Ten dengan nada suara yang begitu riang.
"Kau kenapa? Kau pikir aku ini siapa Ten?" Kekeh seseorang di seberang sana.
Ten melihat nama yang tertera di layar ponselnya, ia menghela nafas saat melihat nama Jungwoo yang tertera di sana, bukan Johnny seperti yang diharapkan.
"Ada apa Woo?" Ucap Ten.
"Ah jadi begini, sepertinya masih banyak gambar yang harus diperbaiki. Apa kau tak keberatan bila besok datang lagi ke kantor?" Ucap Jungwoo.
"Ah begitu ya, apa bisa selesai sebelum sore?" Tanya Ten lagi.
"Hum sepertinya bisa, memangnya ada apa?" Tanya Jungwoo penasaran.
"Sepertinya besok sore Johnny datang dari luar kota, aku merasa tak enak jika saat ia datang tapi aku tidak ada." Jelas Ten.
Diseberang sana Jungwoo nampak mengernyitkan keningnya. Luar kota katanya? Lalu siapa yang tadi ia dan Minhee lihat di rumah sakit, pikir wanita itu.
"Woo? Kau masih disana?" Ucap Ten karena tak kunjung mendapat balasan dari Jungwoo.
"Ah iya maaf sinyalku sedikit bermasalah. Ngomong-ngomong Johnny pergi sejak kapan?" Tanya Jungwoo mencoba mencari informasi dari rekan kerjanya tersebut.
"Tadi pagi-pagi sekali, seharusnya tidak sepagi itu. Tapi katanya kliennya meminta pertemuan mereka dimajukan." Jelas Ten panjang lebar.
Jungwoo semakin mengernyit heran, jika Ten bilang Johnny keluar dari rumah pagi-pagi sekali bisa saja yang ia lihat di depan ruangan dokter kandungan tadi pagi benar-benar Johnny.
"Kau ingat tidak Johnny mengenakan pakaian seperti apa?" Tanya Jungwoo sekali lagi. Diseberang sana Ten nampak tertawa seolah tak percaya dengan perkataan yang Jungwoo lontarkan, kenapa temannya itu begitu penasaran dengan pakaian yang suaminya kenakan.
"Seingatku jas dan celana warna biru lalu kemeja putih, semalam aku sendiri yang menyiapkan pakaian untuknya." Jelas Ten.
Jungwoo sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya dan menghela nafas panjang, ia seratus persen yakin jika pria tinggi yang tak sengaja ia lihat di rumah sakit itu adalah Johnny, bukan orang lain.
"Ah begitu ya." Ucap Jungwoo.
"Ya sudah besok jangan lupa datang ke kantor ya, kita bertemu disana. Selamat malam Ten." Ucap Jungwoo mengakhiri panggilan telepon mereka.
"Malam…." Balas Ten.
Ten terbangun tepat tengah malam karena tiba-tiba saja ia merasa kehausan. Ten mengubah posisinya menjadi duduk di tepi ranjang dan mengucek matanya. Tangannya menjangkau meja nakas dan mengecek ponselnya, tak ada notifikasi apapun di sana. Lagi-lagi Ten harus menelan kekecewaan. Apa benar Johnny sesibuk itu sampai tak memiliki waktu untuk menghubunginya.
Ten membawa ponselnya ikut bersamanya, ia tengah duduk di kursi meja makan seraya menikmati segelas air mineral. Jam yang tertera di ponsel Ten telah menunjukkan pukul dua dini hari. Ten tak peduli lagi, ia harus segera mendapatkan kabar tentang Johnny. Ia terlihat memainkan jemari lentiknya dan mendial nomor Johnny, tanpa menunggu lama suara berat Johnny nampak mengalun di telinganya.
"Kau sudah lupa jika memiliki istri yang perlu kau kabari." Ucap Ten saat Johnny mengangkat panggilan teleponnya.
"Maaf, aku baru selesai mandi." Balas Johnny.
"Kau sudah makan? Apa semuanya berjalan lancar?" Tanya Ten, ia seolah tak ingin memperkeruh keadaan mengingat nada suara Johnny yang terdengar begitu lelah dari seberang sana.
"Hum sudah beberapa jam yang lalu. Ya begitulah tidak bisa dibilang mulus tapi tidak bisa dibilang sulit, sejauh ini baik-baik saja." Balas Johnny.
"Ah begitu, jangan lewatkan makanmu. Apa disana hujan? Siang tadi disini hujan deras. Seingatku aku pernah menyimpan payung di bagasi mobilmu, kau bisa gunakan itu. Jangan coba-coba menerobos hujan tuan Seo." Ucap Ten panjang lebar.
"Baik nyonya Seo…." Ucap Johnny seraya terkekeh.
"Johnny…." Lirih Ten.
"Iya ada apa?"
"Aku merindukanmu, cepat kembali." Ucap Ten.
"Aku juga merindukanmu."
"Apa boleh facetime?" Tanya Ten sedikit ragu.
"Maaf sayang tapi kurasa sinyal disini kurang baik untuk facetime, tunggu ya besok aku sudah di rumah."
"Ah begitu rupanya. Ya sudah kau harus istirahat, selamat malam John, aku mencintaimu…." Ucap Ten dengan senyuman cerah yang terukir di wajah cantiknya.
"I love you too honey…."
Panggilan itu berakhir dengan senyuman indah yang merekah di wajah cantik Ten. Hatinya seolah begitu lega setelah berhasil berbincang dengan Johnny sekalipun hanya beberapa menit. Ten kembali melanjutkan tidurnya, matanya butuh istirahat yang cukup sebelum besok kembali bertempur dengan beberapa revisi yang harus ia kerjakan.
"Kenapa belum tidur?" Ucap Heejin yang tengah berbaring seraya memeluk erat tubuh tegap Johnny, tidur indahnya nampak terusik karena suara yang Johnny buat beberapa menit lalu.
"Ah maaf membuatmu terbangun, ayo tidur lagi. Nanti kepalamu sakit." Ucap Johnny, ia mengecup pucuk kepala Heejin hingga aroma shampoo yang dikenakan wanita itu menyapa hidung bangirnya. Heejin mengangguk dan tersenyum sekilas, ia kembali memejamkan matanya seraya menikmati sentuhan lembut yang johnny berikan di perutnya.
Lagi-lagi malam itu Johnny menciptakan sebuah kebohongan tanpa tahu ada orang yang akan tersakiti karenanya. Johnny telah menghancurkan kepercayaan yang Ten berikan. Kepercayaan yang serupa dengan kaca yang saat rusak masih bisa diperbaiki tapi tak akan bisa menghilangkan retakan yang tertinggal disana.
