5. Lies
Ten memandang sendu ke arah percikan air hujan yang ada di hadapannya. Ia mengulurkan tangannya dan menampung lelehan air hujan yang mengguyur sisi halte tempatnya menunggu bus untuk pulang ke rumah. Wanita itu menghela nafas panjang, entah sudah keberapa kalinya ia melakukan hal tersebut hari ini. Suasana hatinya benar-benar kacau banyak hal yang terjadi dalam hidupnya akhir-akhir ini. Pekerjaannya benar-benar menyita waktu dan sialnya di rumah ia sama sekali tak mendapatkan ketenangan.
Johnny belum juga kembali, pria itu mengingkari janjinya untuk pertama kali sepanjang dua tahun pernikahan mereka. Mulanya pria itu mengatakan akan kembali ke rumah tepat di hari minggu, bahkan kemarin Ten sengaja pulang lebih cepat dan dihadiahi kekesalan Jungwoo karena ia begitu khawatir Johnny akan mencarinya saat tiba di rumah. Nyatanya pria itu tak menampakkan batang hidungnya bahkan mengabaikan semua panggilan yang Ten buat sejak kemarin, entah kemana perginya pria tinggi itu.
Dan hari ini tepat di hari senin sore saat waktunya Ten kembali ke rumah, Johnny belum juga menghubunginya. Ten benar-benar muak dengan kelakuan pria itu. Ten memasuki bus dan duduk di dekat jendela yang merupakan spot favoritnya, kaca jendela tampak berembun karena hujan yang turun dengan lebatnya sejak tadi. Perlahan Ten menggerakan jarinya dan menyentuh kaca jendela, ia menggambar sesuatu disana. Bulan dan bintang, Ten jadi teringat jika dulu Johnny pernah memberikannya hadiah kalung dengan liontin bulan dan bintang yang begitu indah sebagai hadiah di perayaan hari jadi pertama mereka saat masih berkencan dulu.
Ten tiba di rumah dan mendapati rumahnya yang masih begitu gelap, artinya Johnny belum tiba disana. Tak mau ambil pusing Ten bergegas membersihkan diri karena sempat terguyur hujan beberapa menit lalu. Setelahnya ia memasak makan malam dan menikmatinya seorang diri ditemani tontonan yang tersaji di televisi besar rumahnya. Ten terkejut saat mendengar ponselnya berdering, ia lantas menggapai ponselnya dengan sebelah tangannya yang bebas dan mulai melihat siapa yang menghubunginya malam-malam begini.
"Yeoboseyo eomoni…." Ucap Ten, itu ibu Johnny. Ten sedikit terkejut pasalnya tak biasanya wanita itu menghubunginya malam-malam begini.
"Ten…. Kau sedang apa?" Tanya nyonya Seo dengan suara lembutnya seperti biasa.
"Aku sedang makan malam, baru saja tiba di rumah beberapa menit lalu eomoni." Ucap Ten.
"Ah begitu rupanya, besok kau dan Johnny datang kemari ya. Sunny akan datang ke Korea besok."
"Wah…. Kukira Sunny eonni tidak jadi kemari." Ucap Ten antusias, pasalnya ia cukup dekat dengan kakak sepupu Johnny itu. Maklum saja semua saudara Johnny adalah laki-laki dan Sunny sang sepupu kerap kali berkunjung ke kediaman Johnny saat mereka masih berkencan dulu jadilah Ten cukup dekat dengan wanita mungil itu.
"Iya dia sudah di pesawat beberapa jam yang lalu. Ngomong-ngomong Johnny dimana? Eomma mau bicara."
"Eomoni, Johnny sedang pergi keluar kota sejak hari sabtu." Jawab Ten.
Nyonya Seo nampak terdiam, wanita tua itu terlihat mengernyitkan dahinya seolah tak mengerti apa yang menantunya ucapkan. Pasalnya sang anak selalu mengabarinya jika berangkat keluar kota sejak dulu.
"Tapi Johnny tak mengabari apapun pada eomma."
Ten terdiam, jelas itu bukan seperti yang biasa suaminya lakukan. Ten sangat hafal jika Johnny akan selalu mengabari ibunya jika hendak pergi ke luar kota.
"Johnny bilang dia menemui klien disana." Ucap Ten.
"Di akhir pekan?" Nyonya Seo berucap seolah tak percaya. Ia telah hidup sebagai istri pengacara selama bertahun-tahun lamanya dan selama ini suaminya sekaligus ayah Johnny tak pernah menemui klien di luar kota terlebih saat akhir pekan.
Ten tak menjawab, hatinya ikut bimbang kala mendengar pertanyaan yang ibu mertuanya lontarkan.
"Baiklah kalau begitu, nanti akan eomma hubungi Johnny. Kau jangan lupa istirahat Ten, akhir-akhir ini sering sekali hujan. Jaga kesehatan ya sayang." Ucap nyonya Seo sebelum menutup panggilan teleponnya.
"Nde eomoni." Ucap Ten. Panggilan telepon itu benar-benar berakhir. Ten terdiam cukup lama, ia bahkan tak peduli lagi dengan makan malamnya. Tak dipungkiri pertanyaan dari ibu mertuanya beberapa menit lalu cukup mengganggu hatinya, jika bukan untuk menemui klien lantas apa yang sebenarnya tengah Johnny lakukan.
Ten kembali memainkan ponselnya, mendial nomor Johnny dan berharap suaminya itu akan memberikan kabar padanya. Berkali-kali Ten mendial nomor ponsel pria tinggi itu namun tak ada jawaban dari sana. Ten benar-benar takut terjadi hal buruk pada suaminya, setidaknya ia akan sedikit lebih tenang saat Johnny memberinya kabar.
Ten terbangun di pagi hari karena suara alarm yang memekakkan telinga. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Tangannya terulur ke sisi lain kasurnya dan tersenyum miris saat lagi-lagi tak mendapati Johnny disana. Demi Tuhan ini sudah hari selasa, sebenarnya apa yang tengah suaminya itu lakukan.
Ten bergegas membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor, ia tengah membuat sandwich untuk ia nikmati sebagai menu sarapan. Tiba-tiba saja ada suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya, Ten menoleh. Itu Johnny, pria itu datang dengan penampilan yang berantakan dan wajah yang cukup lusuh seolah belum tertidur selama berhari-hari. Ten lantas mendekati suaminya, ia berniat bertanya kenapa pria itu baru tiba di rumah di hari selasa bukan di hari minggu seperti yang sebelumnya ia janjikan.
"John…. Kenapa baru datang?" Tanya Ten.
"Pertemuannya diperpanjang." Ucap Johnny singkat seraya menaiki tangga menuju kamar mereka.
"Kenapa tidak mengabariku? Kenapa juga kau tak menjawab teleponku atau membalas pesanku? Kau bahkan mematikan ponselmu kemarin." Ucap Ten panjang lebar.
"Ten! Kau bisa diam tidak, aku lelah." Ucap Johnny dengan suara yang meninggi. Ten jelas terkejut, Johnny tak pernah membentaknya selama ini dan pagi ini pria itu malah memarahinya.
"Kau kenapa sebenarnya? Aku khawatir John, ada apa kau bisa ceritakan padaku?" Tanya Ten, ia tak pantang menyerah dan ikut menyusul Johnny yang tengah menaiki anak tangga rumah mereka. Ten menggenggam tangan besar suaminya dan sedikit mengguncangnya pagi itu.
"Chittaphon! Kau bisa mendengarku dengan jelas kan? Aku ingin istirahat." Bentak Johnny seraya menghempaskan tangan Ten cukup keras.
"Johnny…." lirih Ten, netra indahnya tampak berkaca-kaca seolah tak percaya jika pria tinggi di hadapannya adalah suaminya.
Johnny kembali melanjutkan langkahnya, ia memasuki kamar yang ditempati bersama Ten dan membanting pintunya dengan cukup keras. Pintu tertutup bersamaan dengan air mata yang berhasil lolos dari netra indah Ten. Sebenarnya apa yang tengah terjadi dengan suaminya, pikir Ten.
Jungwoo tengah merentangkan kedua tangannya, ia merasa pegal karena harus duduk dan menunduk seharian. Ia menjelajah ruangan besar yang berisi beberapa meja di dalamnya, tak jauh dari tempatnya ada Ten yang tengah terdiam, wanita itu hanya menunduk seraya menatap kosong ke arah ponselnya.
"Ten…. Kau sakit?" Tanya Jungwoo. Ten hanya menggeleng dan menghapus dengan cepat jejak air matanya seolah tak ingin Jungwoo mengetahui jika ia baru saja menangis beberapa menit lalu.
"Tidak, hanya sedikit sakit perut. Aku ke toilet sebentar." Pamit Ten pada Jungwoo yang menatapnya dengan tatapan bingung.
Jungwoo memutuskan untuk menepi sejenak ke pantry, ia membutuhkan segelas kopi untuk membuatnya tetap terjaga. Disana ada Doyoung, wanita tinggi itu tengah duduk seraya menikmati segelas coklat hangat yang sangat pas dinikmati di tengah hujan yang mengguyur Seoul dengan lebatnya.
"Eonni…." Panggil Jungwoo seraya mengguncang lembut pundak Doyoung.
"Ada apa? Kau menggangguku yang sedang melamun sambil menikmati coklat panas." Kesal Doyoung.
"Aku ingin bertanya sesuatu." Ucap Jungwoo, ia kembali mendekat ke arah Doyoung setelah selesai mengaduk kopi miliknya.
"Tanyakan saja, tumben sekali kau memerlukan izin hanya untuk sekedar bertanya." Ucap Doyoung.
"Apa Ten pernah bercerita kepadamu soal suaminya?" Tanya Jungwoo sedikit berbisik.
"Hum seingatku kemarin Ten bilang jika Johnny sedang diluar kota." Jawab Doyoung seraya menganggukkan kepalanya karena ia tengah mengingat kembali semua perkataan Ten beberapa hari lalu.
"Jadi begini, hari sabtu kemarin aku menemani adik sepupuku memeriksakan cedera tangannya ke spesialis ortopedi."
"Lalu?" Tanya Doyoung.
"Saat aku dan Minhee melewati ruangan dokter kandungan, aku tak sengaja melihat seseorang yang mirip sekali dengan Johnny. Waktu itu ia sedang bersama wanita yang terlihat pucat dan tengah bersandar di dadanya." Ucap Jungwoo panjang lebar. Doyoung hampir saja tersedak minumannya kala mendengar perkataan juniornya itu.
"Tidak mungkin bodoh. Kau pasti salah orang." Ucap Doyoung.
"Aku serius eonni, bahkan aku menanyakan pada Ten pakaian apa yang Johnny kenakan saat keluar rumah. Dan ternyata sama persis dengan pria yang aku temui di rumah sakit." Ucap Jungwoo dengan netra indahnya yang membola.
"Kau membuatku teringat sesuatu." Ucap Doyoung buka suara.
"Apa?" Tanya Jungwoo.
"Kemarin Ten mengeluh padaku karena tak bisa menghubungi suaminya. Tapi tidak mungkin kan Johnny sejahat itu." Jungwoo hanya mengedikkan bahunya, nyatanya ia sama sekali tak tahu apa yang tengah menimpa kehidupan rumah tangga rekan kerjanya itu.
Johnny tengah berbaring di kasur besarnya lengkap dengan setelan jas yang masih ia kenakan seperti saat baru tiba di rumah. Ia mulai memijat pelipisnya, kepalanya terasa berdenyut sejak beberapa jam yang lalu pasalnya semalaman ia tak tidur demi menjaga Heejin yang telah dirawat selama tiga hari lamanya. Setelah mereka kembali ke apartemen beberapa hari lalu semuanya berjalan baik-baik saja. Namun keesokan harinya wanita itu mengalami pendarahan. Dokter kandungan yang mendampingi Heejin mengatakan jika janin yang dikandung wanita itu cukup lemah dan akan sangat beresiko terjadi pendarahan hebat kedepannya. Untungnya saat itu Johnny berhasil membawanya ke rumah sakit dengan cepat. Itulah kenapa ia mematikan ponselnya dan tak sempat mengabari istrinya jika akan pulang terlambat.
Pria tinggi itu mengubah posisinya menjadi duduk dan mengacak rambutnya. Ia bahkan semakin pusing setelah mengingat baru saja memarahi Ten sampai wanita itu berkaca-kaca. Rasanya semua beban Johnny benar-benar menumpuk bagai bom waktu yang siap meledak. Johnny menoleh kala mendengar ponselnya berdering nyaring, ia meraih benda persegi panjang tersebut dan bergegas mengangkat panggilan yang ia tahu dari ibunya.
"Yeoboseyo eomma…." Ucap Johnny membuka pembicaraan.
"Kau sudah pulang? Ten bilang kau sedang di luar kota sejak hari sabtu kemarin."
"N- nde eomma, aku sudah di rumah." Ucap Johnny sedikit terbata.
"Sepanjang karir ayahmu menjadi pengacara, ia tak pernah menemui kliennya di akhir pekan bahkan sampai ke luar kota. Jadi apa yang sebenarnya tengah kau sembunyikan."
Johnny terdiam, nyatanya ia benar-benar lupa. Dari sekian banyak orang di dunia ini ada satu orang yang tak pernah bisa ia lukai kepercayaannya, orang itu adalah ibunya, wanita yang sama yang telah mengandung dan melahirkannya.
