6. Birthday Gift
Ten baru saja turun dari taksi tepat di depan rumahnya, ia memilih pulang menggunakan taksi karena kepalanya terasa berdenyut sejak tadi. Terlebih pekerjaannya hari ini benar-benar menumpuk dan cukup menguras energinya. Ten memasuki kamarnya, disana ia melihat Johnny yang tengah duduk di tepian kasur mereka seraya memainkan ponselnya. Aura kecanggungan jelas menguar dari keduanya, terlebih setelah adanya insiden Johnny yang membentak Ten pagi tadi. Ten meletakkan tasnya dan ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, bahkan ia sudah tak berniat lagi menegur Johnny. Pikirnya biarlah pria itu menyadari semua kesalahannya sendiri.
Ten baru saja selesai mengganti pakaian, ia nampak mengenakan kaos putih yang dipadukan dengan celana panjang yang bermotif kotak-kotak. Johnny masih disana, pria itu masih duduk dengan posisi yang sama dengan aktivitas yang sama pula.
"Eomoni mengundang kita makan malam hari ini." Ucap Ten, setelahnya ia berlalu dari kamar mereka dan memilih untuk menepi ke ruang kerjanya. Mungkin melukis akan sedikit menghilangkan beban pikirannya.
Sepasang suami istri itu masih terdiam, mereka belum mau buka suara. Bahkan saat ini di mobil yang tengah Johnny kemudikan hanya ada suara musik yang mengalun lembut di tengah jalanan Seoul yang nampak lengang. Ten bergegas turun dari mobil Johnny dan melangkah masuk ke kediaman megah mertuanya. Rumah besar itu telah diisi dengan banyak orang. Ada ketiga kakak laki-laki Johnny beserta istri dan anak mereka, ada pula Sunny, saudara sepupu Johnny yang baru saja tiba dari Amerika.
"Ten…. Aku sangat merindukanmu." Ucap Sunny, ia berlari kecil dan menghampiri Ten yang terlihat tengah menggendong salah satu keponakan perempuannya.
"Aku juga merindukan eonni, kupikir eonni tidak jadi datang ke Korea." Ucap Ten sedikit terkekeh.
Ten terlihat mengobrol dengan Sunny dan saudara iparnya. Para wanita itu terlihat asyik dengan percakapan mereka. Johnny yang tengah berbincang dengan ayah dan kakak-kakaknya terlihat berdiri dan menuju ke salah satu ruangan yang berada di rumah besarnya. Pria itu mengetuk pintu bercat coklat yang berada di hadapannya, saat mendengar sahutan dari dalam pria tinggi itu bergegas masuk dan menemui orang yang menunggunya sejak tadi.
"Jadi sejak kapan?" Tanya nyonya Seo, ia yang tengah menatap ke arah jendela dengan secangkir teh di tangannya nampak menoleh menghadap sang anak.
"Eomma tidak pernah mengajarkanmu menjadi pria brengsek Youngho. Kau pikir apa kurangnya istrimu itu?" Ucap nyonya Seo seraya menghela nafas panjang. Jadi siang tadi setelah percakapan panjang antara ibu dan anak itu akhirnya nyonya Seo mengetahui jika putranya memiliki perempuan lain di belakang istrinya. Wanita paruh baya itu jelas terkejut bukan main ia tak pernah berfikir jika putra bungsunya itu akan mengkhianati istrinya jika mengingat bagaimana perlakuan manis yang selalu Johnny berikan pada Ten saat mereka berkencan dulu.
"Bereskan semuanya, kau mengerti hukum dengan baik kan? Secara hukum Ten adalah istrimu yang sah dan wanita asing itu bukan siapa-siapa. Jauhi dia mulai dari sekarang." Final nyonya Seo.
"Eomma…. Tapi Heejin sedang mengandung anakku." Ucap Johnny. Wanita paruh baya itu lantas membelalakkan matanya, demi Tuhan ia semakin tak mengerti dengan cara berfikir anaknya.
"Kau gila? Demi Tuhan Seo Youngho, kau sudah memiliki istri. Kenapa malah menitipkan sperma mu pada wanita lain. Eomma tak mengerti apa yang sebenarnya kau pikirkan." Geram nyonya Seo.
"Eomma tidak peduli, selesaikan semuanya. Kau tahu kan apa yang akan terjadi jika ayahmu sampai mendengar hal semacam ini."
"Selesaikan semuanya sebelum ayahmu mengetahuinya sendiri." Ucap Nyonya Seo. Ia lantas melenggang pergi dari ruangan tersebut meninggalkan putra bungsunya yang masih terpaku setelah mendengar jawaban tegas yang ia berikan. Johnny semakin frustasi, ia menjambak rambutnya. Entah bagaimana caranya mengakhiri hubungan rumitnya dengan Heejin di tengah kondisi wanita itu yang masih melemah.
Makan malam di rumah megah keluarga Seo berlangsung khidmat, beberapa anak kecil juga nampak antusias saat melihat menu yang ada di meja makan. Ten sendiri terlihat tengah menyuapi salah satu keponakannya, namanya Jaehee anak perempuan dari kakak Johnny. Anak perempuan itu baru berumur empat tahun dan ia begitu menempel dengan Ten, sampai membuat ibunya merasa tak enak hati. Ten sendiri sama sekali tidak masalah lagipula ia suka anak-anak.
Dari arah berlawanan nampak beberapa maid membawa kue ulang tahun dan mendekat ke sisi Ten, Ten yang terkejut lantas menoleh dan detik berikutnya semua orang disana nampak menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya. Wanita itu nampak terdiam dengan mata yang berkaca-kaca, bahkan ia sampai lupa jika hari ini adalah ulang tahunnya. Tak jauh beda dengan Ten, Johnny juga nampak terkejut, ia menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan cukup terkejut saat melihat tanggal dua puluh tujuh Februari yang tertera di sana.
"Selamat ulang tahun sayang…." Ucap nyonya Seo, ia bangkit dari duduknya dan memeluk menantunya erat-erat. Ten menerima pelukan tersebut dan mulai menangis terharu, ia seolah tak menyangka jika begitu banyak orang yang mencintainya.
"Saengil chukha hamnida imo…." Ucap Jaehee yang duduk di sebelah Ten, balita itu nampak menyodorkan paper bag yang hampir seukuran tubuhnya hingga membuat banyak orang disana tertawa melihat tingkah lucu cucu perempuan keluarga Seo tersebut.
Ten pulang dari rumah mertuanya dengan banyak barang bawaan, banyak orang yang memberikan hadiah kepadanya seperti Sunny, kedua mertuanya, serta para kakak iparnya. Bahkan bagasi mobil Johnny sampai penuh mengingat berapa banyak hadiah yang Ten dapatkan. Johnny baru saja memarkirkan mobilnya di rumah mereka, Ten bergegas turun dan membuka bagasi mobil tersebut.
"Biar aku yang bawa masuk ke dalam." Ucap Johnny yang entah sejak kapan tiba di samping Ten, wanita itu hanya mengangguk. Ia mengangkut beberapa paper bag yang masih bisa dibawa oleh tangannya sendiri dan berlalu meninggalkan Johnny begitu saja.
Semua hadiah milik Ten telah Johnny bawa masuk ke kamar mereka, Ten juga terlihat baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya. Wanita itu telah berganti pakaian dengan piyama dan memutuskan untuk berbaring di kasur dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Ia tidur membelakangi Johnny, pria itu nampak baru saja selesai berganti pakaian dan mulai berbaring di sebelah Ten. Johnny menatap ke arah atap kamar mereka yang didominasi warna putih, pria itu mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap Ten dan mulai mengajak istri cantiknya berbicara.
"Ten…." Ucap Johnny, akhirnya ia berucap setelah sekian lama terdiam.
"Hum…." Tak ada jawaban yang berarti, hanya gumaman yang Ten berikan atas perkataan suaminya malam itu.
"Maaf." Ucap Johnny singkat, ia mulai mendekati Ten dan memeluk tubuh ramping wanita itu dari belakang.
"Hiks…." Ten tak menjawab ia mulai menangis dengan air mata yang mengalir deras dari manik indahnya.
Johnny lantas melepaskan pelukannya pada tubuh ramping Ten, ia mengubah posisinya menjadi duduk dan mengelus lembut surai hitam Ten dengan sayang kemudian mengecupnya.
"Aku minta maaf, tidak seharusnya aku memarahimu seperti itu." Ucap Johnny.
Ten bangkit dari posisi berbaringnya, ia menatap Johnny dengan netra indahnya yang nampak memerah dan lelehan air mata yang nampak menghiasi pipinya. Sesekali wanita itu terlihat menyeka air matanya baru kemudian memulai pembicaraan dengan suaminya.
"Kau tahu berapa lama aku menunggumu untuk pulang? Kau tahu aku benar-benar mengkhawatirkanmu? Aku takut terjadi hal buruk padamu John, hanya itu. Aku hanya ingin tahu kabarmu, tapi apa? Kau malah tak menghiraukan semua panggilanku. Kau ini kenapa sebenarnya? Aku bingung. Kau bukan seperti Johnny yang ku kenal hiks…." Ucap Ten setelah bersusah payah menahan tangisnya.
Johnny membawa Ten dalam pelukannya, pria itu mengelus lembut punggung Ten seraya bergumam kata maaf berkali-kali. Ini pertama kalinya Ten menangis tersedu-sedu setelah pernikahan mereka, dan Johnny amat tak menyukai setiap air mata yang keluar dari manik indah istrinya.
"Kau juga lupa hari ulang tahunku hiks…. Kau jahat." Ucap Ten setelah pelukan mereka berdua terlepas.
"Maaf, aku benar-benar lupa. Tapi aku janji akan memberimu hadiah spesial." Ucap Johnny, ia mulai menghapus jejak air mata di pipi istrinya kemudian mengecup sekilas bibir tipis yang entah sejak kapan selalu menjadi favoritnya itu.
"Jadi…. Aku dimaafkan?" Tanya Johnny pada Ten yang tengah sibuk menyeka ingusnya dengan tisu.
"Hum..." Balas Ten, ia mengangguk-anggukan kepalanya seperti anak kecil yang berhasil membuat Johnny gemas.
Malam itu tak ada lagi perang dingin di antara mereka berdua, sepasang suami istri itu terlihat saling berpelukan dan bercerita tentang banyak hal sebelum menjelajah alam mimpi mereka.
Hari ini adalah akhir pekan dan ini merupakan jadwal bagi Ten untuk membersihkan rumah karena beberapa hari kebelakang jadwalnya begitu padat dan ia tak memiliki waktu hanya untuk sekedar mengelap debu-debu di rumahnya. Ten masuk ke ruang kerja Johnny, pria itu tengah membersihkan diri setelah menyelesaikan sarapannya beberapa menit lalu. Dengan telaten wanita itu mulai menata semua dokumen yang nampak berserakan di meja kerja suaminya, ia juga menyimpan beberapa berkas yang sudah Johnny singkirkan sembarangan ke rak yang berada tak jauh dari meja kerjanya.
Saat tengah mengelap meja kerja suaminya, tak sengaja netra indah Ten menatap ke arah monitor yang masih menyala. Ten menatap lekat ke arah monitor tersebut, disana terpampang dengan jelas website salah satu produsen mobil terkenal yang memang sudah lama Ten idam-idamkan. Bukankah jika memiliki mobil seperti itu akan membuatnya lebih bersemangat untuk mengejar lisensi mengemudi di Korea, pikirnya. Ten tersenyum sumringah, apa mungkin diam-diam Johnny tengah menyiapkan kejutan untuknya, mengingat pria itu belum memberikan hadiah ulang tahun padanya. Ten menggeleng pelan, ia tak mau terlalu berharap, tapi jika yang diharapkan menjadi kenyataan nantinya ia akan pura-pura tak tahu apapun tentang kejutan yang akan Johnny berikan.
Sore itu Ten tengah sendirian di rumah, beberapa jam yang lalu Johnny terlihat meninggalkan kediaman mereka dan pergi ke suatu tempat. Ten tengah merapikan ruang kerjanya. Kegiatannya terhenti saat tiba-tiba saja seseorang memeluknya dari belakang. Itu Johnny, pria itu datang dengan bouquet bunga di tangannya dan tak jauh dari sana ada beberapa paper bag yang Ten tak tahu apa isinya.
"Selamat ulang tahun. Maafkan suamimu yang bodoh dan melupakan ulang tahun istrinya ini." Ucap Johnny. Ten terkekeh, ia menerima bouquet pemberian Johnny dan mulai duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya. Johnny terlihat mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, pria itu menggenggam kotak cincin dan mulai mengeluarkan isinya. Ia memakaikan cincin berlian yang terlihat begitu indah ke jari manis sang istri, Ten tersenyum sumringah. Entahlah ini perhiasan keberapa yang Johnny berikan untuknya.
"Sekarang tutup matamu." Ucap Johnny.
"Kau mau menakutiku dengan buah?" Tanya Ten sedikit mengintip.
"Mana mungkin, harusnya sejak tadi aku melakukannya." Ucap Johnny sedikit bercanda.
"Jahatnya…." Ten mengerucutkan bibirnya seolah tak terima setelah mendengar jawaban dari suaminya itu.
"Sekarang buka matamu." Ten mulai membuka matanya dan mulutnya nampak melebar saat melihat apa yang tersaji di hadapannya. Disana ada drawing pad dari merek terkenal yang sudah lama ia idam-idamkan. Ada juga sebuah tas berwarna hitam yang terlihat begitu indah, dari kotaknya jelas Ten tahu jika itu salah satu merek terkenal yang harganya tidak bisa dibilang murah.
"Kau suka?" Tanya Johnny. Ten mengangguk semangat, ia mulai menjelajah tas dan drawing pad pemberian Johnny seperti anak kecil yang terlihat senang setelah dibelikan mobil mainan.
"Bagaimana kau tahu aku mau tas ini?" Tanya Ten penuh selidik, pasalnya tas yang Johnny berikan benar-benar persis seperti yang ia inginkan.
"Siapa yang tidak menutup halaman pencarian di iPad nya?" Ucap Johnny sedikit meledek Ten. Wanita itu mengerucutkan bibirnya kala mendengar jawaban Johnny, rasanya malu sekali setelah tingkah lakunya diketahui oleh suaminya.
"Aku kan sedang mengumpulkan uang untuk membelinya, ini sangat mahal tahu." Ucap Ten seraya mengelus lembut permukaan tas tersebut.
"Hei…. Ada ATM berjalanmu disini, kenapa tidak bilang sejak lama?" Tanya Johnny, ia mulai duduk di sebelah istrinya dan membiarkan Ten bersandar di pundaknya.
"Tetap saja rasanya seperti pemborosan setelah menghamburkan uang sebanyak itu." Ucap Ten dengan bibir yang menekuk ke bawah.
"Jadi mau dikembalikan saja?" Canda Johnny, ia mulai mengambil alih tas yang sejak tadi berada di pangkuan istrinya.
"Tidak boleh, tidak baik tahu menarik kembali hadiah ulang tahun untuk seseorang." Balas Ten.
"Siapa yang bilang begitu?" Tanya Johnny penuh selidik.
"Aku." Kekeh Ten.
"I love you…." Johnny memeluk Ten begitu erat sore itu hingga aroma vanilla yang manis dari tubuh Ten menyambangi indra penciumannya.
"I love you too." Balas Ten dengan senyuman yang belum luntur sejak tadi.
"Kukira aku akan diberikan mobil." Gumam Ten setelah mereka melepas pelukannya.
"Kau bicara sesuatu?" Tanya Johnny, ia seperti mendengar Ten berbicara namun tak begitu jelas.
"Ah tidak, kau mungkin salah dengar." Balas Ten dengan kekehan kecil yang keluar dari mulutnya.
Johnny tengah berjalan di lobby apartemen mewah yang ia belikan untuk Heejin beberapa bulan yang lalu. Hari ini ia harus segera bertemu dengan wanita hamil itu untuk membicarakan hal yang bisa dibilang cukup penting untuknya.
"Selamat datang, kenapa tidak menghubungiku dulu." Ucap Heejin, ia memeluk Johnny dan melayangkan kecupan di bibir pria yang ada di hadapannya itu. Johnny hanya tersenyum sekilas ia tak berniat membalas semua perlakuan manis yang Heejin berikan padanya hari itu.
Heejin telah pulang dari rumah sakit sejak beberapa hari yang lalu, dan wanita itu jelas dalam kondisi yang amat sehat dan mulai bisa beraktivitas dengan bebas. Wanita itu tengah bergelayut manja di lengan kekar Johnny, beberapa menit lalu setelah berbincang di apartemen mereka Johnny mengajaknya untuk pergi ke luar sebentar. Tentu saja Heejin amat senang, pasalnya selama ini ia selalu bersembunyi di apartemen miliknya. Ia hanya bisa keluar saat memeriksakan kandungannya atau pergi untuk belanja keperluan bulanan.
"Kenapa disana? Mobilmu kan yang ini." Tanya Heejin, ia hendak membuka pintu mobil Johnny namun pria itu malah memutar arah pada kendaraan lain yang ada di sebelahnya.
Akhirnya Heejin mengikuti langkah kaki Johnny, langkah pria itu terhenti di hadapan mobil berwarna silver yang terlihat begitu bersih seolah baru saja dibeli oleh seseorang. Johnny mengambil sebelah tangan Heejin dan menaruh sebuah benda di telapak tangan wanita itu.
"Ini apa?" Tanya Heejin, ia cukup terkejut pasalnya Johnny baru saja menaruh kunci mobil di telapak tangannya, bahkan ia jelas melihat jika mobil yang berada di hadapan mereka bukanlah mobil biasa, mobil itu adalah porsche panamera berwarna silver yang hanya dijual beberapa unit saja di Korea.
"Untukmu." Balas Johnny singkat. Heejin menutup mulutnya saking terkejutnya, ia seolah tak percaya dengan apa yang baru saja pria itu berikan. Wanita itu lantas memeluk Johnny begitu erat dan bergumam terima kasih padanya. Ia juga mencuri kesempatan untuk mengecup bibir Johnny hari itu.
Heejin masih memandangi kunci mobil yang ada di tangannya dengan netra yang berbinar cerah, ia begitu senang mendapatkan hadiah yang tiba-tiba saja Johnny berikan untuknya.
"Heejin-ah…. Ayo kita akhiri semuanya."
Seketika senyuman yang ada di wajah wanita itu memudar, ia menatap lekat netra tajam pria tinggi yang ada di hadapannya seolah mencoba mencari kebohongan dari kalimat yang baru saja ia dengar dengan telinganya.
